CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerpen: Layung Ciremai
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f0be4e78d9b177d9f31bf4f/cerpen-layung-ciremai

Kumpulan Cerpen (Slice Of Life): Rine Nopianti

profile-picture
profile-picture
profile-picture
kickers1919 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rinnopiant
bagus.
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
rinnopiant memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Wawww kkeren banget yaaa gunungnyaa gann,sangat indah
profile-picture
rinnopiant memberi reputasi
Lihat 1 balasan
"Bapak,"

Walau sepatah kata tapi Ending yang menyentuh gan

emoticon-Mewek
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan rinnopiant memberi reputasi
Lihat 2 balasan
kata peninggalan dari mbah kuwu sangakan adalah jagalah gunung ciremai
profile-picture
rinnopiant memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Layung cermaii kerenn abisss dahhh pemandanganyaa juga keren
profile-picture
rinnopiant memberi reputasi
1. Layung Ciremai
Oleh: Rine Nopianti


Halimun Ciremai jelma sutra Sang Dewi. Menyelendangi kita saat kembang rumpai ungu kauselipkan di antara legam helai rambutku. Senja ketika perlahan kabut menyentuh tanah, kerap memaksa kita pulang bersama rindu yang tak kenal kata sudah.

Disaksikan kerling biji-biji padi yang menguning, bahagia kita sehijau hamparan pegagan di pematang sawah. Menanti tangis sibiran tulang lahir ke dunia, hendak kauberi nama Pelita.

Namun, seketika tatapmu sedingin Ciremai di waktu subuh. Akulah hitam serpihan jerami kering yang terbakar, oleh marahmu yang tiada kepalang. Saat kenyataan pelik yang kukubur di ceruk hati terdalam, hanya kaupandang sebagai pengkhianatan yang tak terampunkan. Mengusirku dengan janin besar yang mendesak ingin segera keluar. Tangis pertamanya, redam oleh raunganku kehilangan kita.

Pada hari-hari sunyi menuju senja, hiruk pikuk kota pelarian selalu membuatku rindu bau tanah desa. Saat bocah-bocah riang menerbangkan layangan di padang ilalang, di depan pintu aku selalu menunggumu pulang dari ladang.

Pelitaku tumbuh dewasa. Bukan sekali waktu ia bertanya kau di mana? Kujawab kau ada. Begitu dekat, serupa detak jantungnya.

Pelitaku terus memanggilmu bapak, walau kenyataan bukan dari darah dagingmu ia tercipta. Namun, ia ada karena sejatinya cinta.

Cintaku berkalang dosa, yang pernah sedia melakukan segalanya asal kau bahagia.

Salam
Sulastri.


“Kau, bolak-balik menggedor pintu rumahku selama seminggu, hanya agar aku membaca tulisan ini?” tanyanya dengan nada sinis. Lekat ia masih menatap secarik kertas usang di tangannya yang gemetar.

“Bukan sekadar tulisan. Itu kata hati istri Anda,” jawabku.

“Mantan istri,” tepisnya.

“Apa yang Anda dapatkan dengan keras hati seperti ini? Kesepian di masa tua—“

“Jangan lancang! Kau tidak tahu apa-apa. Kita tak saling mengenal.”

Sebuah kalimat yang membuatku menyadari jarak yang ada, kendatipun ia telah di depan mata. Bukankah semestinya rinduku berbalas? Seumur hidup aku terus menyebutnya bapak, hari ini ia menegaskan bahwa aku memang bukan bagian dari dirinya.

“Kenapa bukan ibumu yang menemuiku? Dia malah mengutus anak ingusan yang sok tahu.”

Dahiku mengerut. “Anda sungguh berharap perempuan yang datang lebih dulu? Bukan mencari atau mencemaskan dia di luar sana setelah terusir dari rumah?”

Lelaki tua itu memalingkan wajah.

“Ibu saya sudah meninggal,” lirihku.

Ia tergemap, seperti tak menyangka atas apa yang baru saja didengar. Bisa kulihat lapisan bening menyelimuti matanya kemudian, tak dapat ia sembunyikan. Aku yakin, jauh di dasar hati ada nyeri yang diingkari benci.

“Almarhumah tutup usia seratus hari yang lalu. Saya tahu beliau sudah sebatang kara sejak masa kecilnya. Terbiasa berjuang sendiri untuk hidup dan meraih cita-cita, tapi tanpa Anda hidup ibu pincang. Kesepian terus menggerogotinya dari dalam.” Suaraku tersendat-sendat isak yang tertahan. Mengenang sosok wanita murah senyum yang ternyata menyembunyikan kelam dalam diamnya yang panjang.

Ringkih, lelaki itu beringsut duduk pada dipan bambu di teras rumahnya yang nyenyat. Dinding lapuk berlumut, ubin retak-retak, dan ujung-ujung reng yang terbuka ditinggalkan gentingnya. Sekilas jika dilihat dari luar, akan tampak seperti bangunan tak berpenghuni.

“Saya datang hanya untuk menyampaikan maaf yang tak sempat terucap olehnya.”

“Sebaiknya kau pulang,” ucapnya serak.

“Tidak, sebelum Anda dengarkan semua yang mau saya katakan.”

“Baik, bicaralah dan cepat pergi.”

Aku menghela napas panjang yang terasa berat. “Ibuku tidak pernah mengkhianati Anda.”

“Jadi kau adalah bayi yang diantarkan oleh burung pelikan lewat cerobong asap?” Lelaki itu tergelak. “Duhai, selamat datang di negeri dongeng.”

Rambut dan janggutnya yang panjang tak terawat, sebagian besar telah berubah warna menjadi putih. Sudah berlalu ribuan senja, tetapi amarahnya berpuluh tahun silam masih tetap sama. Seperti yang ibu gambarkan lewat tulisannya.

“Saya menemukan buku harian ibu,” beberku. “Di sana tertulis begitu banyak hal. Termasuk saat beliau sengaja menyembunyikan lembaran tes kesehatan kalian, setelah membaca hasil yang menyatakan bahwa Anda … tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.”

“Oh, aku tahu. Kau datang untuk mengejekku?” tuding lelaki itu.

“Bisakah Anda dengarkan dulu sampai saya selesai?” tegasku.

“Terserah,” rutuknya.

Aku tahu bicara dengan lelaki itu tidak akan mudah. Terbukti dengan penolakannya sejak hari pertama aku tiba. Terlebih saat ia mengetahui namaku, Pelita.

“Kalian sudah lama ingin punya anak. Ibu tak sampai hati mengatakan keadaan yang sebenarnya, karena tidak mau Anda terluka.” Mendadak bola mataku terasa panas.

“Mengandung janin dari laki-laki lain, itu yang kausebut dia tak mau aku terluka?” sergahnya.

Aku memejamkan mata. “Jika saja bisa memilih, saya tidak berharap dilahirkan.”

Suara gemerincing lonceng pengusir burung liar di sawah yang tertiup angin, mengisi hening di antara kami.

“Tidak dari ibu yang selalu berbohong. Katanya Anda sangat merindukan kehadiran saya. Suatu hari kita akan berkumpul sebagai keluarga yang sempurna. Kenyataan yang ada, Anda seakan jijik melihat manusia ini ….” Aku menepuk keras dadaku sendiri. “Buah perselingkuhan istrinya dengan entah siapa.”

Ia membisu, menatap rimbun ilalang yang bergetar dalam terpaan angin sore kaki Gunung Ciremai.

“Pernahkah membayangkan, bagaimana seorang perempuan yang sedang hamil tua terusir dari rumahnya? Terlunta-lunta menahan nyeri yang luar biasa, bertaruh nyawa melahirkan sendirian. Anda ada di mana? Di sini, bersama marah yang tak berkesudahan?”

Sekian waktu mematung dalam sedu sedan seorang diri, aku menyerah. Sampai kapan pun mungkin memang tidak akan pernah bisa memanggilnya ayah. Setidaknya sudah sejauh ini langkahku menyusuri jejak mendiang ibu, hanya untuk berusaha memperbaiki jalinan-jalinan yang kusut oleh kesumat masa lalu.

“Tunggu,” katanya dengan suara pelan, tetapi masih bisa dengan jelas kudengar.

Aku menghentikan langkah, dengan tanpa menoleh ke arahnya.

“Jangan merubah sedikit pun baktimu terhadapnya, hanya karena aku,” lirihnya. “Apa yang patut dibanggakan … dari manusia yang merubah dirinya menjadi batu, tetapi begitu pengecut untuk mengakui rindu.”

Aku berbalik. Lelaki tua itu tengah mengusap matanya yang basah, dengan sarung usang yang ia selempangkan di bahu.

“Dulu, terlalu remuk saat menemukan sobekan hasil pemeriksaan, yang menyatakan aku mandul. Kami bertengkar hebat. Sulastri enggan mengakui siapa yang menghamili, aku juga tak mau tahu apa pun lagi,” sambungnya.

“Saya tidak membenarkan apa yang ibu lakukan, juga tidak akan memihak pada amarah Anda. Kalian sudah menerima hukuman masing-masing, di dalam kesendirian,” jawabku.

“Aku ini bodoh, tidak tahu apa-apa. Termasuk bagaimana caranya meminta maaf,” isaknya. “Maukah kau … mengajari orang tua ini. Aku ingin meminta maaf.”

Bahu kurusnya terguncang-guncang dalam sedu sedan. Lelaki itu meremas lembar surat dari wanita tercintanya di dada, seakan hendak meleburkan ke dalam jantung yang kian payah berdetak di usia senja.

Aku melangkah menghampiri. Ragu-ragu tanganku hendak menyentuh, hingga lalu mendarat tepat di pundaknya yang terbalut baju lusuh.

“Bapak,” lirihku.

Seketika di benakku ada bunyi serupa tetes hujan pertama, yang membasuh tanah gersang musim kemarau. Sejuk. Hari mulai gelap, matahari sudah hendak undur diri di balik gagah Ciremai. Pada mega yang menyemburat warna jingga, seakan ada wajah Ibu tersenyum di atas sana.

Selesai.
2. Yang Hilang Di Rantau
Oleh: Rine Nopianti.


Kaki-kaki kecilku telanjang berlari di atas hamparan pasir putih. Air mata deras mengalir di kedua pipi. Isak tangisku ditelan debur ombak yang gelisah. Apa yang mereka katakan selalu kejam.

Sementara hingga jingga menyemburat di ujung cakrawala, wanita itu masih berdiri mematung di bibir laut. Ibu memandang tajam ombak yang bergulung-gulung dan bersimpuh di kakinya.

“Bu, mereka bilang Anto nggak punya bapak,” rengekku seraya menarik-narik ujung bajunya yang lusuh. Mengadu.

Ibu memalingkan matanya dari laut kelabu yang begitu senang ia pandangi dengan penuh harap, menatapku seraya tersenyum lalu membungkukkan badan mengimbangi tinggiku yang saat itu baru sejajar dengan pinggangnya yang ramping.

Kedua tangan halus dan hangat Ibu mengusap wajahku yang basah. “Mereka cuma bercanda, Nak. Tidak
ada anak yang terlahir tanpa bapak.”

“Tapi bapak Anto di mana, Bu? Kenapa bapak nggak pernah ada di rumah?” Ibu kembali melempar pandangan pada samudra telentang. “Bapak pergi kerja, jauh-jauh cari uang buat kita. Nanti, ada kapal yang akan membawa bapak pulang. Kita tunggu ya.”

Tak selembar surat pun pernah kami terima. Bapak buta aksara. Hanya itung-itungan harga ikan di pelelangan yang beliau bisa. Namun, kabar angin yang sampai di telinga kami selalu kencang berembus dari musim ke musim. Mereka bilang Bapak sudah mati, sebagian menerka-nerka di seberang beliau menikah lagi. Lupa tanah lahir, lupa pada kami.

Hampir tak secuil pun ingatan tentang beliau kupunya. Aku adalah bayi merah dalam gendongan Ibu saat untuk terakhir kalinya Bapak melambaikan tangan dari atas dek kapal, perlahan menjauh, lalu hilang. Selembar foto tidak berwarna pun tak ada, untuk sekadar meredam rindu akan hadirnya, atau meyakinkan batinku bahwa memang beliau ada.

Hanya lewat penuturan Ibu, aku menggambarkan bagaimana sosok Bapak di dalam benakku. Ibu bilang
kami seiras. Perawakan dan wajahku seakan sengaja Tuhan ciptakan persis, untuk menjadi pelipur lara setelah keputusan beliau untuk mangkat mengadu nasib ke tanah seberang. Meninggalkan mata pencahariannya semula sebagai nelayan. Saat itu ikan-ikan di laut menjadi semakin sulit didapat. Belum lagi jala dan kailnya yang butut mesti bersaing dengan peralatan canggih yang tak terbeli. Bapak meninggalkan kami.

Akan tetapi, tak ada satu praduga pun yang menyiutkan asa di wajah Ibu yang lamat-lamat menua. Sekali waktu seorang tengkulak ikan datang ke gubuk kami yang sederhana, hendak meminang Ibu untuk menjadi istri yang kedua. Tak kurang-kurang, petak tanah, rumah megah, dan kehidupan yang wah ditawarkannya. Santun Ibu menolak, meski seperti pinangan-pinangan lainnya yang harus berakhir dengan caci maki dan sumpah serapah yang
kami terima. Belum lagi tudingan dan fitnah yang silih berganti datang. Batinnya yang gontai, apik tersembunyi di dalam senyuman. Hidup kami tak ubahnya kapal tanpa nahkoda, layar terbentang, tetapi tak menentu arah mana jadi tujuan.

Ibu tetap percaya Bapak akan kembali, entah pada nyaring terompet kapal mana yang berlabuh di dermaga kami.

“Anto, ada kapal bersandar. Cepat lihat! Mungkin bapakmu pulang,” teriak Ibu lantang.

Sementara saat itu di balik pintu kamar aku tengah duduk memeluk lutut. Bahuku terguncang-guncang dalam sedu sedan yang panjang. Kiranya hati anak mana yang tak akan teriris, mesti membiarkan ibunya terikat kaki dan tangan di atas pembaringan.
Sesal terus membayang di pelupuk mata, harusnya aku tak membiarkan Ibu berlama-lama terdiam di selasar sambil memandang kosong ke arah lautan. Harusnya aku menyadari saat Ibu mulai tak banyak bicara, ada bom waktu yang terus berhitung mundur di dalam sunyinya. Hingga suatu ketika entah sebab apa tiba-tiba saja Ibu histeris, berteriak memanggil nama Bapak seraya berlari menuju laut lepas. Beruntung beberapa orang berhasil
menariknya dari gulungan ombak.

Gemetar kakiku melangkah menggendong tubuhnya yang kuyup dan kian susut digerogoti usia dan hampa. Aku terus berucap syukur, Ibu masih bernapas.

Kejadian itu terus berulang. Ada yang mengatakan bahwa jiwa Ibu telah dicuri oleh roh jahat di lauatan, akibat dari kebiasaan beliau yang kerap melamun di pantai. Sebagian lain saling berbisik bahwa ibuku sudah hilang akal. Gila menanti suaminya yang tak kunjung pulang. Maka demi keselematan beliau, saat datang rezeki dari Tuhan aku memutuskan untuk pindah, meninggalkan rumah sarat kenangan dengan berat langkah.

“Memang macam jarum di tumpukkan jerami, To.” Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunan, membawaku kembali pada kenyataan ada di antara hiruk-pikuknya suasana pelabuhan. “Sangat sulit mencari keberadaan bapakmu, apalagi masa sudah berlalu berpuluh-puluh tahun. Banyak hal sudah berubah. Entah juga
bapakmu sudah ….”

Aku mendengkus. “Setidaknya aku sudah berusaha, Mang. Terima kasih atas semua bantuannya selama ini.”

Lelaki tua yang biasa dipanggil Mang Dayat itu duduk di sampingku. Beliau yang telah memberiku jalan, hampir satu tahun sudah aku di perantauan. Pekerjaan yang Mang Dayat berikan menjadi kendaraan mencari keberadaan Bapak yang hingga detik ini masih kupertanyakan.

Ada gurat kesedihan tergambar di garis-garis keriput wajahnya. “Sejujurnya, rasa bersalah masih
menghantuiku sampai saat ini, To. Dulu aku dan bapakmu pergi merantau ke sini bersama-sama, tetapi lalu karena
sesuatu hal aku harus pulang lebih dulu. Saat aku kembali ke sini, bapakmu entah berpindah ke mana. Kita semua kehilangan dia.”

“Jangan merasa begitu, Mang. Bukan salah Mang Dayat. Mungkin sudah suratan.”

“Ya, andai dulu seperti sekarang. Alat komunikasi sudah seperti cendawan di musim hujan. Kecanggihan teknologi semakin memudahkan orang untuk berkabar.”

Nyaring suara terompet kapal menggaung di dermaga, memberi pertanda.

“Mungkin saja, bapak sudah bersama dengan ibuku lagi … di surga,” lirihku.

Qodarullah. Kapalmu sudah akan berangkat, To?”

“Iya, Mang. Rasanya aku terus mendengar suara putriku memanggil-manggil di telinga. Aku sangat merindukan dia.”

“Iyalah, pulanglah. Sampaikan salamku pada anak dan istrimu di sana.”

Kepada ia yang hilang di rantau. Mungkin Tuhan saja yang bisa mengabarkan, adalah aku yang kerap
merasa begitu dekat dengan harapan. Sesamar apa pun jejaknya kuikuti, demi menemukannya hidup atau mati. Kini pusara Ibu pun sudah mengering. Mungkin atmanya telah lebih dulu tiba, menemukan belahan jiwanya entah di
mana. Atau mungkin, mereka sudah kembali bersama. Saling menebus rindu yang tergadai sekian lama. Aku harus pulang. Sebagai seorang anak yang mengerti getir hidup tanpa kehadiran ayah di dalam hidupnya, sebagai seorang ayah yang sekarat merindu buah hatinya.

Selesai.
Diubah oleh rinnopiant
RIWAYAT PENGEMIS BUTA
Oleh: Rine Nopianti.

Langit pagi masih gelap. Temaram warna jingga di ufuk timur, arah fajar bakal semburat. Beriringan kami melangkah di atas jalan bebatuan dengan kaki telanjang. Sabit dan karung di tangan, cangkul dipikul, bertudungkan topi caping dari bambu yang dianyam.

Di antara kicau burung gereja yang menari di atas dahan-dahan mahoni, lamat-lamat terdengar suara deru mesin. Dari ujung jalan perlahan sebuah mobil SUV hitam bergerak pelan. Ketika mendekati kami, sang empunya membunyikan klakson seraya membuka kaca
mobilnya yang gelap.

“Pergi ke ladang bapak-bapak?” sapa Mizwar dari belakang kemudi, tersenyum santun ia kepada kami.

“Iya. Pagi buta udah mau ngantor, War?” timpalku.

“Iya, takut rezeki dipatuk ayam duluan,” selorohnya. “Ya sudah, aku duluan ya
semuanya. Mari!”

“Sombong!” celetuk Hamdan ketika mobil itu kembali berjalan.

“Kenapa kau, Hamdan?” tanyaku heran.

"Pamer mobil baru itu si Mizwar. Melintas seenaknya di antara orang lalu-lalang,
nggak sopan,” cerocos pria tambun itu tak keruan.

Aku menggelengkan kepala. Bukan kali ini saja dia bersikap sinis pada mantan rekan kerjanya.

“Nggak sopan gimana, Dan? Si Mizwar kan udah ngasih klakson tadi, itu saja
sudah cukup sebagai bentuk permisi. Malah dia sempatkan berhenti dan menyapa kita di sini.”

“Alah! Memang dasarnya pandai cari muka dia. Kalian tidak tahu saja bagaimana sepak-terjangnya. Aku didepak dari perusahaan pun gara-gara dia. Lihat aku sekarang?
Melarat karena ulahnya.”

Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar Hamdan terus mengoceh. Terkadang mulutnya sama tajam, dengan ibu-ibu yang kerap bergunjing dalam kerumunan tukang sayur
di pagi hari. Topiknya tetap sama. Dendam menyala-nyala di sorot matanya saat berbicara.

Hamdan masih tak terima. Dulu, Mizwar adalah karyawan baru di tempat ia bekerja. Sementara dirinya saat itu sudah menjabat kepala bagian, posisi yang terbilang penting dengan panghasilan lumayan.

Menurut warta yang kudengar dari orang yang bekerja pada perusahaan yang sama, Hamdan sering lalai dalam tugas. Berbanding terbalik dengan Mizwar
yang punya loyalitas. Berkat kegigihannya, pada tahun pertama ia bekerja Mizwar telah mendapat promosi. Duda satu anak itu naik pangkat, menggantikan Hamdan yang pada
akhirnya dipecat.
Dari sanalah dengki mengakar di hati Hamdan. Ia yang tak punya banyak keahlian, pontang-panting, gali tutup lubang menghidupi keluarganya setelah menjadi pengangguran. Hingga pada akhirnya ia tak punya pilihan, menjadi petani seperti kami jadi satu-satunya jalan.

Roda kehidupan berputar. Kemewahan dan kemilau hidup yang sebelumnya
digenggaman, hilang begitu saja dalam Kun Fayakun Tuhan.
Sementara diam-diam ternyata sesal menggelayuti benak Mizwar. Walau bukan
karena salahnya, ia kerap iba melihat kehidupan Hamdan dan keluarganya setelah tragedi pemecatan. Anak-anak mereka sering terdengar menangis kelaparan. Tak jarang percekcokan
pun terjadi antara Hamdan dan sang istri, karena tak terpenuhinya kebutuhan.
Pernah aku memergoki Mizwar, tengah mengendap-endap menaruh bungkusan besar berisi makanan di depan pintu rumah Hamdan. Alih-alih berterimakasih, keesokan harinya Hamdan justru angkuh berkoar ke seluruh tetangga, bahwa ia masih sanggup membelikan keluarganya makanan enak
nan mahal.

Sekali waktu, dalam obrolan kami di sepanjang perjalanan pulang dari masjid pada suatu malam.

“Jangan-jangan, selama ini kau juga yang mengirim makanan dan bantuan pada si Hamdan?” selidikku.

"Jangan keras-keras,” bisik Mizwar. “Ini antara kau dan aku saja. Aku sungkan,
Hamdan mungkin akan salah paham jika tahu semua itu dariku.”

“Tapi kau tahu bagaimana sikapnya selama ini padamu, War?”

“Ah, biar saja. Secara moral aku hanya merasa bertanggungjawab pada keadaannya sekarang, sebagai tetangga, sebagai sesama manusia. Lagipula aku ini juga seorang bapak. Tak sampai hati mendengar anak-anak Hamdan kesulitan,” ungkapnya.

Sejak hari itu aku tahu, setiap kali datang kiriman dalam bentuk apa pun yang
ditujukan pada Hamdan adalah uluran tangan Mizwar yang dirahasiakan. Namun, pagi tadi sebuah kabar duka yang menggemparkan kudengar. Mizwar yang malang, dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan. Meninggalkan seorang putri yang kini menjadi
yatim piatu, setelah kedua orang tuanya wafat dalam kurun waktu yang tak lama.

Saat ramai orang berbondong-bondong melayat ke rumah duka, kulihat Hamdan justru tengah ongkang-ongkang di teras rumahnya. Kuputuskan untuk menghampiri. Barangkali ia belum mendengar kabar pilu yang tersiar pagi tadi.

“Hamdan, kau tak pergi takziah? Mizwar meninggal,” kataku.

“Setiap perbuatan itu pasti ada balasannya.” Hamdan menjawab sambil mengepulkan asap rokoknya.

Aku mengernyit. “Maksud kau?”

“Tewasnya si Mizwar itu azab. Dia sudah mematikan rezeki orang lain. Bisa jadi
mobilnya itu juga hasil korupsi, makanya bisa sampai kecelakaan,” celotehnya.

Beristigfar aku sambil mengelus dada. Seandainya saja Hamdan tahu, jasa besar orang yang selalu ia hinakan di dalam hidupnya.

“Dengar, Hamdan, aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu,” ucapku.

Kedua alis Hamdan bertaut. “Kisah? Kisah apa?”

“Aku pernah mendengar cerita tentang seorang pengemis Yahudi yang buta. Ia
berdiam di salah satu sudut pasar Kota Madinah. Pengemis buta itu selalu menghina
Rasulullah Muhammad SAW. Dia sering mengumpat bahwa Nabi Muhammad adalah tukang sihir, orang yang tak waras dan sebutan-sebutan keji lainnya. Di sana ada seseorang yang
selalu menemani pengemis buta itu. Dia dengan penuh kasih sayang menyuapi pengemis yang tidak pernah berhenti mencaci maki Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, orang tersebut
hanya diam saja.” Aku memberi jeda. Hamdan terlihat bingung mendengarkan apa yang kuceritakan.

“Pada suatu hari, orang yang biasa menemani pengemis Yahudi itu tidak hadir. Kemudian datanglah Abu Bakar Ash Shiddiq, berinisiatif untuk menggantikannya. Walau geram, Abu Bakar berusaha menahan diri saat mendengar pengemis itu tak hentinya menghina Rasulullah. Akan tetapi, bukan rasa terima kasih yang di dapatkannya
kemudian. Justru hardikan dan penolakan keras karena pengemis itu menyadari, dia bukan orang yang biasa menemaninya selama ini. Singkat cerita, Abu Bakar pada akhirnya memberitahu pengemis itu, bahwa yang selama ini menemani dirinya tak lain adalah Nabi
Muhammad yang selalu ia fitnah dan hina.”

Hamdan bergeming.

“Kau bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya. Betapa malunya pengemis itu.
Tubuhnya yang renta gemetar, air matanya berlinang, dia sangat menyesal.”

“Sudah?” tanya Hamdan.

“Iya, sudah.”

“Kau menceritakan kisah yang bagus.”

“Kau adalah pengemis di dalam kisah itu,” tegasku.

“Apa maksudmu?”

“Iya. Kau adalah pengemis di dalam kisah itu, yang tanpa sadar terus berlaku zalim pada orang yang telah banyak berjasa dalam hidupmu.”

“Kau ini sedang membicarakan apa? Maksudmu aku menzalimi si Mizwar?” Hamdan tertawa terbahak-bahak. “Sudah disogok apa memangnya kau sama dia? Segitunya membela orang itu, heran aku.”

“Aku tidak pernah menerima apa pun, tapi kau. Kau dan keluargamu yang sudah menerima banyak hal dari Mizwar.”

Hamdan bertolak pinggang. “Apa? Apa jasa dia? Coba sebutkan satu saja.”

“Memangnya siapa yang selalu mengirimkan makanan enak ke rumahmu saat anak dan istrimu kelaparan? Siapa yang memberikan bingkisan misterius tanpa nama, berisikan baju bagus, alat-alat sekolah, kebutuhan rumah tangga dan lain-lain? Yang lalu dengan angkuh kau
pamerkan pada semua orang, bahwa semua itu kau yang beli. Belum lagi amplop-amplop berisikan uang yang rutin datang menyambung hidupmu selama ini. Memangnya dari siapa
semua itu—“

“Ya, memangnya dari siapa semua itu?” Dengan suara tinggi Hamdan memotong pembicaraanku. Laki-laki itu tampak geram.

“Mizwar. Semua yang kau terima itu pemberian Mizwar. Aku dan Tuhan saksinya,” pungkasku, kemudian berlalu meninggalkan Hamdan yang berdiri kaku. Mungkin sedang sekarat ia menanggung malu.

Jasad Mizwar telah rampung dikebumikan. Gundukan makamnya bertabur bunga segar. Pilu batinku menyaksikan putri sematang wayangnya memeluk nisan. Entah apa yang sedang gadis belia itu pikirkan. Sebatang kara ia kini. Tak ada sanak keluarga tempatnya menitip diri. Kami para tetangganya hanya bisa mengibai. Bergantian mendekap, menenangkan hati, dan mengusap wajahnya yang basah.

Kemudian yang tak terduga, Hamdan datang bersama anak dan istrinya. Raut wajah laki-laki itu berubah. Sayu matanya tampak basah. Beberapa orang saling berbisik. Kehadiran Hamdan di sana seperti kemustahilan yang terpatahkan.

“Maafkan aku,” isak Hamdan.

Tak lama kemudian sang istri melangkah, mendekati putri mendiang Mizwar. Dipeluknya erat gadis itu, tak henti berucap terima kasih sambil tersedu.

“Aku ini manusia tidak tahu diri,” sesal Hamdan, duduk termenung di sisi makam.
“Izinkan aku merawat putrimu seperti anakku sendiri, walaupun mungkin tidak akan pernah cukup
untuk membalas segala budi baikmu kepada kami, Mizwar.”

Serentak kami pun berucap syukur. Seiring embus angin menjatuhkan tangkai-tangkai bunga kamboja kuning, terhampar di atas rumput yang mengering.

Selesai.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di