CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Female / Sista /
Agni, Potret Lemahnya Penanganan Kekerasan Seksual di dalam Birokrasi Kampus
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f0b48be82d4953429374e1e/agni-potret-lemahnya-penanganan-kekerasan-seksual-di-dalam-birokrasi-kampus

Agni, Potret Lemahnya Penanganan Kekerasan Seksual di dalam Birokrasi Kampus

Agni, Potret Lemahnya Penanganan Kekerasan Seksual di dalam Birokrasi Kampus
google pict


Ingat dengan kasus Agni? Atau mungkin saja ‘Agni’ baru muncul saat membaca artikel ini? Agni adalah salah satu korban pelecehan seksual saat melaksanakan kuliah kerja nyata. Mahasiswi yang berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) terus mengalami jalan panjang untuk memperjuangkan haknya sebagai korban.

Pembelaan terus dilakukan seperti pelaku merasa tidak melakukan kekerasan seksual karena belum sampai memasukkan alat kelamin. Selain itu pelaku juga merasa korban menyetujui tindakan pelecehan tersebut karena tidak melakukan perlawanan. Sebuah stigma klasik yang sering terjadi pada korban.

Kasus Agni yang awalnya terkubur namun kembali naik setelah ada pemberitaan dari pers mahasiswa. Beberapa aktivis dan lembaga bantuan hukum bahu membahu mendukung kasus ini dibawa ke ranah hukum. Namun sayangnya kasus ini berakhir dengan kata ‘damai’.

Kata damai tidak menyenangkan lagi ketika berurusan dengan kasus kekerasan seksual. Damai, punya artian besar kalau kasus tidak akan ditindaklajuti dan pelaku bebas dari tuntutan. Karena sudah diselesaikan dengan cara musyawarah dan kekeluargaan. Tidak peduli bagaimana dampak dari kekerasan seskual yang telah dilakukan pada korban. Pelaku terus diberi panggung sehingga terus terimpunitas.

Kekebalan pelaku terhadap hukum menyebabkan kekerasan seksual terus melonjak. Kasus ini terus meningkat namun tidak pernah terbaca oleh publik. Sudah seperti gunung es, hanya terlihat seperti daratan kecil permukaan laut. Namun di bawahnya telah membengkak sebesar gunung.

Quote:


Saat ini hukum di Indonesia belum mencantumkan defenisi kekerasa seksual secara lengkap. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KHUP) hanya ada defenisi pencabulan yang memiliki arti yang sama dengan pemerkosaan. Alhasil banyak kerancuan dan kebingungan untuk menyelesaikan kasus yang tidak tercantum di dalam acuan hukum.

Ya, kita memang masih menunggu kejelasan dari perkembangan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Namun di saat kita terus menunggu, korban kekerasan seksual terus bermunculan tanpa adanya penanganan.

Baru-baru ini, seorang alumni dari kampus Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta muncul di khalayak publik, yaitu Ibrahim Malik. Jika dilihat dari kasat mata, tidak ada yang aneh dari pelaku. Saat menjadi mahasiswa, ia terkenal sebagai mahasiswa religius dan mempunyai segudang prestasi.

Namun, belakangan kasusnya terkuat. Setidaknya ada 30 aduan kasus kekerasan seksual yang telah ia lakukan. Semua aduan itu diterima oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta dan sudah terjadi sejak tahun 2016 sampai 2020.

Rata-rata korban juga merupakan alumni dari kampus yang sama. Di dalam siaran pers yang telah tersebar di beberapa media, pelecehan seksual dilakukan lewat jejaring sosial hingga fisik. Pelbagai modus pelaku lakukan seperti korban yang ingin menanyakan informasi terkait perkuliahan, namun diarahkan ke pembicaraan yang berbau seksual.

Agni, Potret Lemahnya Penanganan Kekerasan Seksual di dalam Birokrasi Kampus
google pict


Beberapa korban juga harus mendapatkan pil pahit ketika menerima pesan atau video call dari pelaku. Saat mengangkat panggilan atau membuka pesan dari pelaku, maka korban akan mendapatkan foto atau video pelaku sedang melakukan tindakan tidak senonoh. Seperti memamerkan alat kelamin miliknya sendiri. Dan masih banyak lagi.

Quote:


Kasus Agni dbeserta 30 korban di atas merupakan satu dari ribuan buih di lautan. Sampai sekarang, belum ada kabar yang pasti bagaimana penyelesaian kasus yang tuntas secara hukum. Lantas, kenapa kasus kekerasan seksual di lembaga akademik terkesan lamban?

Tidak ada yang tahu. Namun rata-rata, hampir semua kasus pelecehan seksual yang berada di bawah birokrasi kampus seakan dilindungi dengan penyelesaian secara kekeluargaan.

Seperti Indonesia yang belum punya aturan yang jelas terkait pelecehan seksual (bahkan belum ada defenisi pelecehan seksual di dalam KHUP) kampus pun punya permasalahan yang sama. Belum punya regulasi yang jelas dalam menanggulangi kasus kekerasan seksual. Selain itu pihak kampus juga belum memiliki badan atau organisasi internal semacam lembaga penerimaan aduan untuk tindak kasus kekerasan seksual. Begitu pula dengan pendampingan psikologi bagi korbannya

Quote:


Padahal, ketimbang nama baik yang selalu diagung-agungnkan itu, kondisi psikologi korban justru lebih penting. Pelecehan seksual bisa memengaruhi masa depan korban bahkan dapat menorehkan trauma seumur hidupnya. Padahal sebagai lembaga pendidik, kampus mempunyai kewajiban untuk melindungi mahasiswanya. Bukan malah membiarkan pelaku menjadi terimpunitas dan bebas berkeliaran tanpa sanksi hukum.

Sudah saatnya semua elemen akademisi mulai melakukan pembenahan dalam penanganan kasus kekerasan seksual. Mari mengubah pandangan baru jika menjadi korban bukan lagi menjadi aib. Justru yang harusnya menjadi aib adalah mereka yang punya kuasa. Namun lamban menangani kasus kekerasan seksual bahkan terkesan menutup-nutupi.


Sumber: Tirto.id, komnasperempuan.go.id
profile-picture
profile-picture
profile-picture
topantrengginas dan 29 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 3
Diubah oleh wariar17
Lihat 1 balasan
sadlyyy, kampus2 tuh kaya nganggep enteng aja, banyak yg dosennya udh ketauan kaya gitu tp ttp dibiarin, gila gilaa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panadolhitam dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 8 balasan
UUD nya kayak apapun, Klo masih ada kesempatan ya tetep terulang lagi

Tpi kenapa pelecehan sperti itu sering terjadi diScol dan KKN ya..?
profile-picture
profile-picture
bnoorraini dan murayh0 memberi reputasi
Kalo hukum tidak bisa berdiri, lebih baik membela diri sendiri.

Bawa pistol merica, stun gun, atau apalah yg muat di tas.

Kalo bisa masuk UKM bela diri.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
sangat disayangkan di universitas yang terkenal ada aja kelakuan yg bejat ini maah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
BRESLIN dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Banyak ayam kampus karena tuntutan ada juga emang sudah jalan ninjanya, tidak dapat dipungkiri orang-orang dengan segala karakteristik dan sifatnya apapun bisa terjadi, maka dari itu perlu hukum yg tegas untuk mengatur semua itu emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
jangan menjelekan perilaku sesamanya.....
jangan memblow up keburukan orang lain....
salahkan wanita nya.....

selama tiga itu masih di pegang., jangan harap korban bisa dapat keadilan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eriksa dan 7 lainnya memberi reputasi
Wah kasus Agni, siapa berani bongkar? emoticon-Leh Uga
profile-picture
republic.nusa memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Baru denger kasusnya.. apa mungkin kurang bukti kali yah?..
sangat disayangkan kasus ini
Enak juga ya pembelaan si kelamin, "belum masuk" jadi bukan pelecehan. Padahal dah grepe2 gesek2 emoticon-Ngakak (S) emoticon-Genit
profile-picture
sumpu memberi reputasi
Santet saja si pemerkosa, urusan dosa nanti sama Yang Maha Kuasa
profile-picture
profile-picture
rahmankholilur dan davidcormac memberi reputasi
Kenapa harus ada kata PELBAGAI sih? Memang apa bedanya dengan BERBAGAI? Wkwk maaf, ane agak giman gitu dengan pelbagai...


Ane belum pernah kuliah di kampus besar, tapi memang sepertinya ditiap kampus ada.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rahmankholilur dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh gentongb
Lihat 3 balasan
Ngeri banget, kenapa masih bisa terjadi lagi dan lagi, ya?
profile-picture
natchios memberi reputasi
Ini berita lama kan ...
Bukannya udah ada keputusan yaaa

Tsnya kursng referensi bahhkan telat hampir setahun
profile-picture
rahmankholilur memberi reputasi
Bahkan di tingkat perguruan tinggi, keadilan msh dipecundangi oleh permainan politik lokal, nepotisme dan korupsi.
memang jd kliatan ga tegas kampusnya. investigasinya jg sm LBH.
profile-picture
shadamgifari memberi reputasi
udah jadi rahasia umum
Kampus ane aja masih ada kasus yang tak terselesaikan krn minimnya pencegahan.
Ane paling kesel ama orang kalau dikampus ane dulu yang sok blagu blagu, suka bully bully, apalagi sampe pelecehan seperti diatas. Ke KAMPUS itu nyari ilmu bukan nyari MUKA atau PERHATIAN
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di