CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerita Mini SFTH ~ Di Balik Semerbak Bunga
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f0b0ba109b5ca3d9f178d72/kumpulan-cerita-mini-sfth--di-balik-semerbak-bunga

Kumpulan Cerita Mini SFTH ~ Di Balik Semerbak Bunga

Kumpulan Cerita Mini SFTH ~ Di Balik Semerbak Bunga


Di Balik Semerbak Bunga

Hasrat untuk membuat mie instan muncul, ketika suara merdu seorang wanita memanggil manja dari teras rumah. Namun, tak kuhirau. 

“Yang … Ayang.” Akhirnya ia masuk menghampiriku yang sedang berleha-leha di kasur lantai. Terdengar seolah ia dikejar sesuatu.

“Ada apa?” tanyaku lembut, kuusap pipi mulusnya saat ia sudah di sisi.

“Di depan kok tetiba bau harum, ya. Kek bau bunga gitu,” ujarnya, “semalam juga, sama. waktu aku terbangun mau pipis. Serem, ih ....” Ia bergidik. Entah apa yang ada dalam benaknya.

“Ah, itu kan cuma khayalanmu aja,” selaku, “lagian kalo ada setan, tuh setan berarti lagi apes.” 

“Loh, kok bisa?” tanyanya heran seraya bergelayut manja.

“Iya lah. Apes ketemu kamu. Ha ha ha ....” Ia mencubit perut buncitku mesra. Wajahnya berubah warna, hijau, kuning, merah. Bibir mungil itu mengerucut seperti tutut. Lucu.

Lantas sebuah suara  yang 'tak biasa terdengar begitu sumbang. Seketika tatapnya mengarah padaku. Tatap penuh tanya. Ah, apa daya? Aku hanya bisa tersenyum manis saat ini. 

“Aku pingin makan mie instan, bikinin, ya!” rajukku 'tak kalah manja dengannya tadi.

Ia mencebik tapi hanya sesaat. Karena setelahnya senyum menghiasi bibir mungil nan ranum. 

“Ada syaratnya,” ucapnya pasti. Kugaruk kepala plontos ini mendengar celoteh kekanakannya. Cukup memasang wajah melas, ia pun mengerti.

“Ayang, hari ini masih shift malam, kan? Emh … kalau aku …,” ucapnya ragu. Sekian detik terhenti, hanya nafasnya yang terdengar, seakan pasrah.

“Kalau aku nginap di rumah Mami boleh, gak? Dua malam, sampai Ayang dapat shift pagi lagi.” Aku tergelak mendengar permintaan konyolnya. Seperti biasa, ia mendengus kesal saat aku tertawa lepas. Ia 'tak suka. Seolah mengejek, katanya. 

“Baiklah,” ucapku yakin. Pelukan manja  seketika mendarat, disertai kecupan mesra di kedua pipiku.

Ya, bagaimana mungkin aku menolak permintaannya. Wanita cantik anak seorang konglomerat di kota ini, rebutan para lelaki saat aku dan dia sama-sama berstatus mahasiswa. Namun keberuntungan jatuh padaku. 

Satu tahun bersama dalam sebuah ikatan suci. Bahagia tentunya. Namun ada rasa yang kurang dan 'tak kudapat darinya.  Atau belum ketemu saja, entahlah? Hingga pada akhirnya, sesuatu yang kurang itu kudapatkan di luar sana sejak dua bulan terakhir, kepuasan.

'Maaf sayang, harum bunga itu aku yang cipta. Aku ingin menikmati beberapa malam dengannya, di istana kita ini,’ batinku seraya kubelai lembut rambut hitamnya.

Ternyata 'tak semua orang menyukai harum bunga, contohnya istriku. Atau, karena harum yang tercipta tadi, seperti yang selalu menguar dari tanah pekuburan? Ah, otakku memang selalu dapat diandalkan.

Tamat.
🌾🌾🌾

Pict: pixabay.com
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rirandara
Diubah oleh rirandara
Tempat penitipan jejak.
loh, kok tamat sih??
profile-picture
rirandara memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Numpang neduh gan...smbl nunggu angkot lewatemoticon-Blue Guy Smile (S)
profile-picture
rirandara memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Air Mata di Sudut Sepatu


Ada rasa bahagia membuncah, manakala Paman beserta anak juga cucunya mengajakku ke toko sepatu. Sudah bisa ditebak, pasti beliau ingin membelikan sepatu, pikirku.

Dan, entah sejak umur berapa aku mulai tinggal dengan mereka. Yang kutahu saat ini, aku memanggil Paman dengan sebutan papa. Juga pada Tante, kupanggil mama.
Mereka hanya memiliki satu anak, Kak Nila. Sudah menikah, dan memiliki satu orang anak balita, Kenzi. 

Sebelum jalan, kulirik sepatu lusuh dengan sol sepatu depan mangap alias sudah robek, teronggok di sudut garasi, di rak tempat sepatu dan sandal berada. Miris. Aku tertawa sendiri mendapatinya.

Tempat tujuan tidaklah jauh, karena kediaman Paman terletak di lingkungan yang dekat dengan pusat keramaian kota. Kami cukup berjalan kaki ke depan gang sekitar sepuluh menit. Selama perjalanan itu pun, berbagai bayangan model sepatu memenuhi benakku. Hitam polos dengan aksen tali. Tergambar jelas sepatu yang menjadi impianku. Impian seorang anak sekolah, berumur tiga belas tahun.

Masuklah kami ke salah satu toko yang didominasi kaca sebagai dindingnya, membuat isi di dalam terlihat meski kita berdiri di luar. Paman, Kak Nila beserta Kenzi menuju ke etalase di mana berjajar cantik jenis-jenis sepatu wanita dan sandal anak-anak. 

Melihat mereka sudah asyik dengan buruannya,  kaki ini pun melangkah ke etalase yang memajang beragam sepatu anak sekolah.

Satu persatu kuamati. Tak lupa kulirik harga yang tertera, mencari sepatu sesuai dengan keinginan juga ukuran, namun dengan harga yang masih terjangkau. Walau aku tahu Paman  mampu membeli sepatu dengan harga tinggi sekalipun. Akhirnya, pilihanku jatuh pada sneakers warna hitam polos. Sesuai dengan yang kuidamkan. Kemudian, kucoba pasangkan di kaki. Pas. Setelahnya, aku melepas kembali dan membawa sepatu impian ini mendekati meja kasir. Dekat dengan posisi Kak Nila.

Di sudut yang berbeda, Paman terlihat sedang  memilihkan sandal untuk Kenzi yang masih Tk. Sementara Kak Nila masih sibuk memilah berbagai jenis 'heels' sesekali dicobanya. Lalu ia pun berlenggak-lenggok di depan kaca. Pemandangan yang lucu menurutku. Sambil memegang sepatu pilihan, aku berjongkok. Menungguinya. Hingga salah satu pelayan toko menyodorkan kursi plastik, "Duduk sini, Dek!"

Tanpa banyak bicara aku menuruti perintahnya.
Pelayan itu kembali ke posisi semula. Duduk di belakang meja kerja, sebagai kasir.

Akhirnya, Kak Nila menjatuhkan pilihan pada sepatu warna maroon dengan heels yang tak terlalu tinggi. Menurut dari percakapan yang kudengar antara Kak Nila dan pelayan toko, itu jenis sepatu 'kitten heels'. Cocok untuk wanita kantoran. 

Tak berapa lama, Paman menghampiri kami. Ia memandang heran padaku. Mendapat tatapan semacam itu aku sadar lalu aku memperlihatkan sepatu dalam dekapan.

"Aku pilih sepatu yang ini, Pa."
Senyum kukembangkan. Senang. 

"Sepatu yang biasa kamu pakai kenapa?"[I/] tanya Paman penuh selidik.

[I]"Sobek depannya. Kalau dipakai saat pelajaran olahraga, gak nyaman. Lagian aku juga malu. Sobeknya sudah lebar."
Dengan suara bergetar kuceritakan apa yang mengganjal di hati. Pandangan tajam itu berpaling. Jeda sekejap. Saat ini, hanya nafas yang dibuang kasar terdengar olehku. Kurasa Paman tak suka.

"Besok saja ke sini lagi, sama Mama," pungkas Paman. Ia pun berlalu ke meja kasir diikuti kak Nila beserta Kenzi. Menenteng tiga kardus sepatu dan sandal. Sedangkan aku masih terpaku mendekap sepatu impian. Mata ini memanas. Kurasa air di dalamnya mendidih dan hendak tumpah. 

"Pita..., ayo!" panggil Kak Nila. Tanpa kutahu, mereka sudah di ambang pintu, hendak keluar. Sementara aku masih terpaku. Saat kesadaran menampar, kulangkahkan kaki menuju etalase di mana tadi aku mengambil sneakers hitam ini. Tepat di tempat semula, kuletakkan dengan perasaan sedih. Kuusap rinai kecewa pada sudut mata, sebelum aku menyusul mereka keluar. Seharusnya aku tak berharap lebih. Dan, sadar bahwa aku hanya saudara yang kebetulan tinggal satu atap dengan mereka. 
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
Paman jahaatt.... emoticon-Mewek
profile-picture
rirandara memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Setangkup Rasa Tanpa Jeda


 Perlahan Bang Irsyad menepikan mobil pick-up yang dikemudikannya, mendekati sekumpulan anak-anak berseragam. Sontak aku kaget. Hendak bertanya, namun Bang Irsyad lebih dulu menjawab pertanyaanku yang belum sempat terlontar.

"Mau nawarin tumpangan."

Mobil pun berhenti tepat dekat dengan posisi tiga anak remaja putri berseragam coklat muda dan tua. "Rumahnya kan terlewati juga ma kita," paparnya lanjut.

Aku hanya pasrah. Toh, yang bawa mobil dia, penumpang wajib taat. Di sana, kulihat para gadis itu tengah asyik menyeruput es sirup dalam plastik. Cuaca siang ini memang begitu panas. Pantas kalau es menjadi pilihan untuk menghilangkan dahaga. Tanpa sadar aku pun menelan ludah sendiri. Turut merasakan kesegaran.

Di antara ketiganya, aku belum tahu mana yang hendak ditawarkan tumpangan oleh Bang Irsyad.

Dari balik kemudi, Bang Irsyad mengajak berbincang salah satu anak. Ketika aku mengikuti arah pandang Bang Irsyad, aku tertegun. Terasa ada hantaman halus pada dinding ruang hati. Mataku tertumbuk pada senyuman salah seorang. Satu di antara tiga gadis di luar sana. Desir lembut menjalar tanpa bisa kucegah. Belum dapat kuraba pasti, kiranya apa yang tengah melanda.

Lalu dalam kediamanku, gadis itu pun terlihat mendekat dan masuk ke dalam mobil. Duduk tepat di sebelahku. Ia yang sekian detik lalu membuat debar, kini hanya berjarak beberapa centimeter saja. Tuhan! Semoga debar ini tak terendus oleh kedua orang yang mengapitku sekarang.

Beberapa saat sebelum mobil melaju, aku masih melihat gadis di sebelahku berbincang tak jelas dengan kedua temannya. Lalu melambaikan tangan. Entah apa yang mereka sepakati. Sekarang ia tersenyum lebih lebar dari yang kulihat sebelumnya. Ekor mata ini kupaksa untuk tidak menyelinap dan mencuri pandang padanya. Tapi, gagal.

"Itu yang dua tadi, temennya Neng? rumahnya di mana?" Bang Irsyad memecah kebekuan suasana.

" Itu ..., Mang!” jawab gadis itu santai, menunjuk sebuah gang di depan saat mobil berjalan.

"Deket. Lah, kok gak pada buru-buru pulang?" tanya Bang Irsyad lagi. Aku masih sebagai penyimak saja.

"Hehehe ... nungguin aku sampe dapat angkutan." 
Kulihat Bang Irsyad hanya mengangguk. Ia kembali konsentrasi pada jalanan. Lalu aku, beku dalam teriknya matahari yang terperangkap di atap mobil.

"Hei ...." Suara lembut gadis itu tiba-tiba menyergap. Disertai tepukan tangannya pada lenganku. Aku menoleh. Tersenyum tipis.

"Temanku yang dua tadi itu, titip salam buatmu," ucapnya datar dan jelas, dengan senyum yang memesona.

"Oh ... emhhh ... iya, ya?" jawabku sedikit gugup. Nyatanya memang aku gugup tingkat dewa. Bukan karena ‘titipan salam’. Akan tetapi, karena sosok yang menyampaikan salam tersebut. Kurasa aku mulai jatuh hati padanya. Batinku meronta.

Di tengah deburan rasa tanpa jeda, Bang Irsyad menghentikan mobil. Gadis itu pun turun sesaat setelah mengucap terima kasih.
Aku tak percaya, waktu tiga puluh menit untuk perjalanan dari terminal sampai desa di mana ia turun, terasa lebih cepat dari biasanya.

"Hania. Cantik, ya?" Nada menggoda terasa dari intonasi bicara Bang Irsyad saat kami telah berdua.

Aku hanya tersenyum. Takut salah ucap. Ah, apa Bang Irsyad bisa menangkap debaran ini? Kalau tidak, mana mungkin dia bicara seperti barusan. Akhirnya terungkap sudah nama gadis manis itu. Hania.

*
Sejak kejadian Jumat siang itu, aku mulai sering mencari tahu tentang Hania. Seringkali kita dipertemukan tanpa sebab musabab. Suatu kemujuran bagiku.

Seperti halnya malam ini. Selepas bertamu ke rumah seorang ustadz yang  kebetulan letaknya bersebelahan dengan masjid, mata ini menangkap sosok Hania dalam ramainya para remaja yang sedang mengaji. Sepertinya dia belum menyadari ada yang sedang mengawasi.

Hening. Aku masih berdiri dengan senyum utuh. Tak lama, terlihat ia melihat ke arahku berdiri. Kurasa ia mulai menyadari sesuatu. Pandangan kami bertemu meski terhalang kaca, jua kelamnya malam. Kutangkap seulas senyum yang dilemparnya.

"Man, buruan! Udah malem nih." Dedi menepuk bahuku tiba-tiba. Aku tergagap. Ah, anak ini. Dasar tukang rusak lamunan.

***

"Kau tak salah menyukainya bahkan lebih dari itu. Tapi saran Abang, bukan pada Hania," ucap Bang Irsyad membuka keheningan antara kami.

"Maksudnya, Bang?" tanyaku parau. Berharap ada penjelasan untuk mendinginkan gejolak protes yang melanda.

"Mereka belumlah resmi. Tapi sebagai lelaki kita harus menjunjung harga diri dan jaga perasaan, dengan tidak mendekat bahkan merampas sekuntum bunga, di mana ada insan lain yang tengah menjaganya."

Setelah berucap, Bang Irsyad beranjak ke dalam rumah. Aku? Sendiri dalam senja yang seolah tengah sengaja mengajak tawa.

Rasa itu telah sempurna untuk satu nama, Hania. Bila kini belum sempat terhantar padanya, kutunggu. Aku bodoh? Bukan! Tepatnya aku sukar untuk melayukan rasa yang tengah merekah indah. Ini pilihan dan semoga terkabul
Diubah oleh rirandara


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di