CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f05344a68cc9508be63991f/menjadi-jomo

Menjadi Jomo

Menjadi Jomo

amazing cover by gemintangkejora


Menjadi Jomo


Sinopsis


Kisah keluh kesah antara anak dan orang tua yang sangat sulit berinteraksi. Seperti ada tembok besar yang menghadang ketika berkumpul, padahal ada di satu ruangan yang sama.

Karena kesibukan anaknya yang tidak kenal waktu, menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya hanya untuk mengikuti trend jaman now, memperbanyak teman online, dan mengikuti konser idolanya. Padahal, dia juga memiliki seorang sahabat yang jauh lebih mengerti keadaannya.

Apa yang sedang dialami Netta? Bisa berubah Netta? Lalu bagaimana sahabat lelakinya? Dan apa itu jomo?


Note: cerita ini juga diposting di Wattpad. Jadi, jangan khawatir untuk yang ingin membaca gratis dan offline.


Quote:


Bersambung👇

PART 1


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Halaman 1 dari 3
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ismilaila dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Apakah ada yang mengalami hal seperti di atas?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ismilaila dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
ini nice juga.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
riwidy dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ada sih teman ane seperti ini. Keren ceritanya, Sis.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
riwidy dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Thanks god. Akhirnya saya temukan cerita sfth yang nggak ngebahas hantu recehan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
riwidy dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

[MJ] Part 1



Ting... ting... ting...

Dering ponsel terdengar nyaring memenuhi sudut kamar, jam menunjukkan pukul dua malam. Masih tiga jam lagi menuju pagi. Netta tampak tidak menghiraukan kebisingan ponselnya. Matanya terpejam dua puluh menit yang lalu. Padahal, hari ini ada ujian masuk PTN jam setengah sembilan.

Di luar sana orang sibuk menata masa depan; memperdalam kemampuan dan menyiapkan mental untuk tes ini. Sedangkan, Netta sibuk merangkai mimpi. Dalam pikirannya terdoktrin sebuah kalimat yaitu rejeki tidak akan ke mana.

Jam dinding menunjukkan pukul lima pagi, jemaah di masjid kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan aktivitas. Tapi tidak dengan Netta, dia mengeratkan selimutnya. Dingin menusuk kulitnya, menjalar ke seluruh tubuh. Tidak hanya Netta, tetapi sebagian lapisan umat mager melakukan hal sama.

“Netta! Bangun! Sholat subuh!” teriak seorang pria paruh baya di luar kamar, tetapi tidak membuat Netta terbangun dari alam mimpinya.

Tok... tok... tok...

Pria itu gemas, mengetuk pintu tak sabaran membuat mimpi Netta terhenti, dan terpaksa membuka mata. Tidur hanya tiga jam membuat tubuhnya terasa lemas. “Iya, aku udah bangun.” Duduk termenung, badan membungkuk, mata kembali menutup sempurna. Alam mimpi kembali mengajak Netta bersenang-senang.

Netta tidak tahu jika ada keributan antara mama dan papanya.

“Mama jangan memanjakan dia dong! Dia tuh udah gede! Kalau gitu, Papa masukan saja ke pondok pesantren milik Pak De di Tebuireng. Susah sekali diajak sholat,” omel Miftah—Papa Netta—seraya mengenakan seragam kerja, bersiap berangkat. Istrinya tersenyum, dengan sabar memberi pengertian kepada suaminya.

“Pa, kepada anak kita tidak boleh kasar. Iya, mama tahu dia udah gede tapi bagi mama dia masih menjadi bayi yang perlu kelembutan agar dia menjadi pribadi yang baik. Lagian tidak baik, Pa, memarahi anak terus menerus, itu akan berdampak kepada mentalnya.”

Miftah hanya terdiam mendengar nasihat istrinya. Ada benarnya juga, tapi kalau anak sulung tidak diberi didikan keras maka dia akan menjadi pribadi yang lemah lembut. Bagaimana nanti kalau sudah memiliki rumah tangga? Kalau tidak dididik keras sudah pasti dia akan menjadi wanita rumahan yang mengandalkan suami saja. Itulah yang ada dipikiran Miftah.

Lamunan Miftah buyar oleh ucapan Maryam. “Pa, sudah jam enam. Pulang jam berapa nanti?” Maryam tersenyum menatap Miftah.

“Nanti balik agak malam. Mau ke acara nikahannya si Tejo, Ma.” Miftah menjelaskan sambil memasang sepatu.

“Iya, Pa. Gapapa, nih tasnya. Bekalnya juga masuk, maskernya juga, dan vitaminnya. Jangan lupa dimakan ya, Pa.” Miftah mengangguk. Menjulurkan tangannya.

“Papa berangkat dulu, jangan lupa nanti kabarin kalau Netta udah mau berangkat tes. Papa doakan semoga dia lulus, Ma.” Maryam mengangguk, dan mencium tangan suaminya. Mengantar di depan teras, dan masuk rumah.

Berjalan perlahan menaiki anak tangga dengan penuh kesabaran. Kesabaran itu keturunan dari sang Ibu, yang teramat sabar menghadapi segala situasi dan kondisi yang rumit sekalipun. Saat kehilangan almarhum ayahnya, sang Ibu sangat sabar dan ikhlas menerima semua itu, dan yakin, cinta tak akan hilang walau maut memisahkan. Indahnya kesabaran dalam cinta.

Maryam berharap, dia juga bisa sabar dalam mendidik anaknya yang membutuhkan banyak kasih sayang. Dia yakin saat menginjak remaja, pasti seorang anak akan membutuhkan curahan kasih sayang dari orang tua. Ajang pencarian jati diri membutuhkan arahan yang benar, agar tidak salah jalan.

“Netta, bangun, Nak,” ucapnya lembut seraya menyibak selimut yang menutupi wajah anaknya. “Nak, bangun yuk udah jam enam.”

Tak ada pergerakan dari Netta, dia masih terbuai untuk menyelesaikan mimpi indah. Usapan lembut tangan Maryam di pipinya mengusik mimpi indahnya. “Enggghhh.”

Netta membuka matanya perlahan, menangkap seorang wanita berkerudung sedang duduk di kasurnya. Alam bawah sadarnya mengatakan jika itu mamanya. Sontak saja tubuhnya terbangun. “Mama ngapain di sini? Kan, Netta udah bilang, mama gak perlu naik tangga untuk bangunin aku. Mama cukup telepon saja. Netta juga udah bisa bangun sendiri. ”

Maryam tersenyum tipis. “Anak mama yang cantik udah besar ya sekarang, tapi kamu masih anak mama yang masih bayi. Sarapannya udah siap.”

Maryam beranjak turun ke bawah untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat roti. Netta hanya mengangguk pelan menanggapi pernyataan Maryam. Dia malas bangun, rasa kantuk menyerang meski matanya sudah terbuka lebar. Duduk termenung, selimut masih membungkus kakinya. Sesekali menguap lebar. Mengumpulkan kesadaran.

Kesadaran sudah penuh, Netta segera melipat selimut, merapikan tempat tidur, dan mengambil handuk di balkon. Saat membuka tirai dan pintu balkon, suasana sejuk sangat terasa. Bau tanah basah yang khas setelah diguyur hujan, Netta terpejam dan menghirupnya pelan. Menenangkan memang, untuk pecinta aroma bau tanah basah. Netta segera mengambil handuk dan masuk kamar mandi.

Maryam berkutat dengan roti buatannya, dia mempunyai hobi membuat roti untuk anaknya. Itu bakat turunan dari Ibunya. Kalimat Ibunya yang masih melekat sampai saat ini adalah ‘bekerjalah untuk memuaskan hatimu meskipun itu pekerjaan yang berat’. Maryam menerapkan dalam kehidupannya.

“Ma, sarapan sama apa?” celetuk Netta membuyarkan lamunan Maryam.

“Makan soto daging. Nih, mama buat roti kesukaanmu,” balas Maryam tersenyum. Mata Netta berbinar melihat adonan roti, berjalan mendekat dan mencolek adonannya sedikit kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.

“Enak, Ma. Manis,” komentar Netta kemudian berjalan menuju rak piring, mengambil piring dan sendok. Saat hendak duduk, terdengar keras notifikasi ponselnya. Dia mengurungkan duduk dan berlari menuju kamarnya.

Maryam menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya, dia meletakkan mixer dan mengambil secentong nasi di piring beserta telur rebus, bawang goreng, dan jeruk nipis yang diletakkan di atas nasi. Sengaja tidak menuangkan kuah agar nasinya tidak mengembang.

Netta tersenyum lebar, ternyata drama favoritnya sudah di Youtube. Tidak memedulikan notifikasi grup kelas. Netta tersneyum, menekan tombol bagikan, salin link, dan membuka laman chrome untuk mendownload film tersebut di Savefrom.

Sambil menunggu selesai, Netta berjalan menuju dapur untuk melanjutkan makan yang tertunda. Sampai di dapur dia melihat Mamanya sedang memasukkan roti ke dalam kukusan. “Buat yang kukus, Ma?”

“Iya, kamu kan suka yang kukusan.” Maryam kembali melanjutkan aktivitasnya. Netta menyandarkan ponselnya pada gelas berisi air, melihat piringnya tadi sudah terisi nasi beserta lauknya tanpa menunggu lama dia menyendokkan kuah ke dalam piringnya.

Menyuapkan nasi sembari mata fokus ke layar ponsel di depannya. Selalu seperti ini. Netta tak pernah lepas dari layar ponsel. Memiliki dua ponsel membuatnya semakin bahagia.

Orangtuanya memang tidak melarang Netta bermain ponsel, apalagi Maryam. Dia hanya diam, dan memikirkan cara agar anaknya tidak fokus dengan dirinya sendiri. Jika bersama suaminya, dia selalu debat perihal itu. Lagi dan lagi, Maryam selalu mengingatkan Miftah untuk selalu bersabar. Semua itu butuh proses yang panjang, tidak selalu instan. Membimbing anak bukan perkara mudah. Kuncinya bersabar dan istiqomah.



Menjadi Jomo

Cr: pinterest & PicsArt


Bersambung 👇👇

[MJ] PART 2


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Anna471 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan

[MJ] PART 2

Tes berjalan lambat. Netta di bangku belakang, menunduk memegangi perutnya yang melilit secara tiba-tiba. Padahal tadi dia sehat-sehat saja. Bisa haha hihi bareng temennya di lobi. Dia membolak-balikkan kertas tes dengan perasaan gelisah, menjawab ngawur yang penting selesai. Pikirannya fokus pada perutnya. Seisi ruangan seolah tak peduli yang dia rasakan, dan fokus pada tes di tangan masing-masing.

Netta memutuskan tidur sebentar, rasa kantuk menjalar. Tangannya menelungkup di atas meja, dan merebahkan kepalanya. Perlahan matanya terpejam, alam mimpi kembali menyambutnya riang.

Di luar ruangan Maryam sedang berbincang dengan teman lamanya, yang katanya sekarang menjadi dosen di universitas ini. Duduk sembari nostalgia masa SMA yang menyenangkan. Apalagi, Maryam tergolong murid mencolok di kelas karena otak pintarnya. Sesekali pria itu menyanjung masa lalu Maryam, hanya ditanggapi senyum teduh.

“Sedang mengantar anakmu tes SBMPTN?” tanya pria itu mencoba mencari topik.

Maryam mengangguk. “Iya, di gedung Megawati. Kamu sudah punya anak?”

“Oh, itu gedung aku ngajar biasanya... Aku? Bahkan menikah saja belum.” Maryam terdiam, seolah tidak percaya.

“Hubungan kamu sama Nuri? Yang katanya akan hidup bersama?” tukas Maryam memastikan. Pria itu sudah menduga dengan respon Maryam.

Dengan santai menjawab. “Dijodohkan.”

Suasana lengang. Maryam mengangguk paham. “Kamu tahu Ratih sahabatku? Dia sedang mencari seseorang. Kamu boleh mendekatinya, aku mengizinkanmu karena kamu itu tidak seperti lelaki di luar sana.” Pria itu menoleh. Matanya berbinar.

“Bener?!” sahut pria itu antusias, dan meminta nomor Ratih.

Maryam tersenyum, pria itu pergi sambil melambaikan tangan. “Semoga kalian berjodoh.”

Kemudian, dia beranjak dari kursi dan berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat dhuha. Dilihat jam yang melingkar di pergelangannya menunjukkan pukul sepuluh tepat.

**


Di ruang tes, semua peserta sudah selesai mengerjakan seraya menanti waktu selesai ada yang mengecek kembali jawabannya, mencoret kertas tes, dan lebih memilih merebahkan kepala. Waktu berjalan sangat lambat.

Netta masih setia memejamkan mata dan melanglang buana di alam mimpi. Dia tidak ingin segera beranjak dari dunia mimpi. Tetapi, kesemutan di tangan mengusik tidurnya. Beruntung kali ini dia tidak ngiler.

Aduh pake belekan lagi! batin Netta seraya menunduk membersihkan beleknya.

Gadis di sebelah Netta hanya menggeleng melihat kelakuan Netta. Meskipun tidak kenal, dia bisa menebak jika gadis di sebelahnya ini tukang tidur bak koala. Ada julukan yang pas untuk Netta dari Netta, pelor. Nempel langsung molor. Hahaha. Julukan itu sangat pas.

Tak sengaja tatapan mereka bertabrakan, sontak Netta tersenyum sungkan.

Daritadi aku diperhatiin dia dong? Anjir, malu banget! Untung dia cewek.

Netta tersenyum kikuk. Gadis itu mengerti jika Netta sedang malu, lebih memilih memeriksa jawaban.

Ujung matanya melirik ke arah gadis di sebelahnya, ternyata dia sudah sibuk memeriksa jawabannya. Netta bernapas lega. Dia sudah tidak diperhatikan lagi. Kemudian dia memeriksa lagi jawabannya, memastikan semua soal terjawab dengan pasti. Pasti ngawurnya. Hahaha. Netta menertawakan dinya sendiri.

Netta sadar dirinya membuang-buang uang untuk membayar tes ini. Tapi, uang hasil dari tabungan sendiri membuat dia tidak memiliki rasa sesal. Salah satu alasan Netta tidak serius mengerjakan soal, dan beberapa alasan lain.

Pengawas memberitahukan jika soal dan jawaban sudah boleh dikumpulkan. Beberapa sudah mengumpulkan dengan langkah mantap. Penuh percaya diri meletakkan kertas tes di meja pengawas. Netta menebak pasti dalam hatinya merapalkan doa agar diterima.

Maryam sangat mendukung dia untuk masuk perguruan tinggi negeri. Dalam lingkungan keluarga dari kedua orangtuanya tidak ada yang lulusan perguruan tinggi, membuat Maryam bahagia ketika sang anak mengatakan ingin melanjutkan kuliah.

Di samping itu ada alasan utama Netta memilih kuliah, yaitu Miftah akan mejodohkan dengan teman atau kerabatnya. Otomatis dia memilih lanjut kuliah. Menikah hasil perjodohan? Ini bukan lagi zamannya Siti Nurbaya. Netta dengan tegas langsung menjawab kuliah, bahkan Miftah belum menyelesaikan ucapannya. Sebagai ayah dia sangat mengerti, ini adalah sifatnya yang menurun kepada anaknya.

“Mama, mana browniesnya?” ucap Netta seraya mengobrak-abrik isi tas mamanya. Matanya berbinar saat tangannya menemukan benda kotak yang isinya roti kesukaannya.

“Netta, temen kamu gak ada yang tes hari ini?” Netta menganggukan kepala, mulutnya penuh roti. Maryam hanya menggelengkan kepala seraya mengelus kepala anaknya dengan sayang.

Dalam hati, Maryam selalu berdo’a yang terbaik untuk anaknya. Senakal dan sebandel apapun yang dilakukan anaknya, tak pernah sekalipun jengkel terhadap anaknya. Dia selalu mengingat ucapan Eyangnya dulu, “Nduk, kalau kamu punya anak jangan pernah mendoakan yang jelek sekalipun dia membangkang. Ucapan seorang Ibu itu dikabulkan oleh Allah. Jangan sampai kamu menyesal mendoakan yang buruk kepada anakmu. Dia tidak tahu apa-apa, bimbing pelan-pelan.”

Dari kejauhan, seorang anak memerhatikan kemesraan antara Maryam dan Netta. Sungguh dia ingin seperti itu, bisa memiliki seorang ibu yang amat sayang kepada anaknya. Sedangkan dia, kebalikan dari kehidupan dari temannya itu. Ibunya tidak pernah bersikap baik, selalu saja memarahinya walaupun bukan murni kesalahannya.

Ibunya juga tidak pernah mengapresiasi prestasi yang dimiliki, selalu membandingkan dengan anak tetangga yang bisa sekolah gratis dan mendapat beasiswa. Padahal, dia juga mendapat beasiswa. Namun, seperti tak berarti apa-apa di mata ibunya.

Tetapi dia selalu bersyukur karena masih memiliki seorang ibu yang masih mau merawat dia dengan baik. Jika saja ibunya tak mau merawatnya, sudah pasti hidupnya tak akan seindah ini. Meskipun, banyak sekali rintangan yang harus dilaluinya. Karena inilah hidup, jika tidak ada rintangan berarti kita mati.

“Astagfirullah, sudah seharusnya aku bersyukur tidak boleh iri dengan temanku.” Sadar akan pikirannya, gadis itu mengucapkan istigfar. Tidak seharusnya dia memiliki pemikiran seperti tadi; iri kepada temannya. Yang harus dilakukannya adalah harus selalu beryukur atas apa yang diberikan oleh Allah agar tak ada rasa iri.

Dalam kehidupan sudah seharusnya kita memandang ke bawah agar senantiasa bersyukur atas yang diberikan oleh Allah, jika kita terus memandang ke atas justru semakin menyakiti diri sendiri. Jangan pernah menyakiti diri sendiri hanya ingin seperti orang lain, cukuplah jadi diri sendiri.



👣👣


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih

Part 3


Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
uliyatis dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 8 balasan

[MJ] PART 3

Menjadi Jomo

cr: pinterest


⚠️GAMBAR DI ATAS ADALAH PARA SUAMI NETTA⚠️

Maaf telat, seharusnya kemarin berhubung kuota habis dan baru isi sekarang. Aku update dua part, bonus foto suami Netta. 5555.

Hari berlalu begitu cepat, sekarang hari minggu. Banyak kekhawatiran yang bersarang di kepala Netta. Menimbang beberapa keputusan agar tak salah jalan, membuatnya kerap tidak tidur malam. Sering bergadang.

Meskipun begitu, dia juga tak melupakan para suaminya yang di Thailand. Haha, halunya seorang fans. Ada berita update tentang drama Thailand baru, apalagi para pemainnya cogan-cogan.

Jika ada drama Thailand terbaru, grupnya pasti akan ramai membahas. Bahkan, terkadang melakukan panggilan video untuk gibahin pemainnya. Tidak perlu menunggu rilis episode satu. Netta langsung stalker Instagram sang artis untuk bahan gibah bersama teman-teman dunia mayanya.

Kehidupan para fans selalu seperti itu. ada yang ganteng dikit, stalker instagramnya kalau perlu seluk beluk kisah asmaranya, tidak lupa membuat akun khusus untuk stalker. Hahaha.

Namun, kali ini Netta ingin rehat dari dunia perstalkeran. Dia melakukan kegiatan rutinnya di hari minggu yang cerah ini, olahraga yoga. Tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, dia olahraga pagi.

Ada perasaan malu jika ketahuan olahraga, karena keluarga besarnya memberinya julukan ratu tidur.
Sebuah julukan yang menjadi doktrin kepada diri sendiri, memaksa diri harus menjadi seperti yang dikatakan oleh orang banyak. Perkataan terkadang jauh lebih menyakitkan dari sebilah pisau tajam.

Kejam memang, tapi mau bagaimana lagi?
Tangannya gencar mencari salah satu channel youtube langganannya yang selalu posting video yoga beserta menjelaskan manfaat dari gerakan yang dilakukan. “Nah! Ketemu!”

Beruntung dia streaming di laptop jadi tak perlu repot-repot melototkan mata dengan ekstra menatap layar ponsel yang hanya enam inchi. Kini nasib kedua ponselnya sedang diisi daya. Mengisi amunisi setelah semalam dipakai menonton drama Thailand dan stalker suaminya.

“Halo temen-temen! Hari ini kita pilates dance, tentu saja dancenya gak susah-susah," ucap sang pemandu mulai melakukan gerakan pertama mengangkat boneka dan kaki ke belakang, gerakannya pelan.

Netta mengikuti gerakannya dengan perlahan, mengangkat boneka panda miliknya ke atas dan kakinya ke belakang. Pelan. Ini terlihat gampang, tapi jika dilakukan dengan benar seluruh lemak di dalam tubuh pasti terbakar, kata sang pemandu.

Masih baru dua gerakan, dia sudah terengah-engah. Menghentikan sebentar videonya dan menetralkan napasnya seraya minum air. Kemudian melanjutkan gerakan selanjutnya dengan antusias dan penuh semangat. Badannya terasa sangat panas sekali, ditambah sinar mentari mulai muncul. Keringat mengucur deras di punggung Netta.

Sebelas menit terlaksana dengan baik. “Huh, gilak nih gerakan simpel tapi kontraksi ototnya bikin geleng kepala,”  ucap Netta seraya mengelap keringatnya dengan handuk kecil berwarna pink. Napasnya terengah-engah.

Netta melakukan investasi yang baik untuk dia sendiri, karena baginya investasi yang baik adalah investasi kesehatan. Dengan olahraga rutin. Entah, inspirasi dari mana dia punya pikiran seperti itu. Yang jelas, jika kedua orangtuanya mendengar ini pasti sangat senang. Tetapi, Netta tidak berani menampakkannya.

Dilirik jam tangannya, sudah pukul enam tepat. Biasanya jam segini Neno datang untuk mengajaknya ke pasar minggu untuk jogging. Tetapi itu hanya sebatas judul, nyatanya mereka justru pergi kuliner. Pulang perut kekeyangan dan tak lupa membawa buah tangan untuk keluarga masing-masing.

Sesuai jadwal, terdengar suara motor bebek milik Neno memasuki pelataran rumah. Terlihat seorang lelaki memakai celana training hitam, kaos hitam, jaket levis hitam, dan sepatu sport warna abu-abu.

“Heh! Mau takziah?” teriak Netta dari balkon membuat sang empu membuka helm dan mendongakkan kepala.

“Bukannya disambut, malah dikatain. Dosa lu, Neng!” balas Neno seraya memarkir motornya, melepas helm dan meletakkan di atas jok sepeda. Tanpa berniat melanjutkan pembicaraan, Neno justru menghilang dari pelataran. Dia masuk dan menyalami kedua orangtua Netta yang ada di dapur. Sedang memasak berdua.

“Wah, om dan tante buat mata jomblo semakin iri,” kelakar Neno seraya menyalami tangan kedua orangtua yang tertawa renyah.

“Eh, Neno. Gedor kamar sahabat kamu, dia mungkin sedang bermimpi indah,” perintah Miftah. Sebenarnya itu pengusiran dalam bentuk halus.

Akal-akalannya Miftah saja agar bisa lebih leluasa membantu istrinya memasak. Bukan membantu, tetapi merecoki. Itu yang lebih tepat. Sedari tadi disuruh oleh sang istri memarut kelapa tak kunjung selesai.

Neno dengan sigap menaiki tangga, meski dalam pikirannya ada pertanyaan. Emang Netta belum turun?


👣👣


Menjadi Jomo

Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih

Lanjutan👇👇
Part 4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rainydwi dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

[MJ] Part 4

Tok... tok... tok...

“Masuk aja Nen!” teriak Netta seraya melihat kedua ponselnya yang diisi daya di dekat meja belajar. Pintu terbuka lebar menampakkan lelaki berpakaian serba hitam kecuali warna sepatu.

Kakinya langsung berjalan menuju balkon, karena dia tak nyaman jika berbicara di dalam kamar apalagi kamar perempuan. Dia saja tidak pernah masuk kamar adik perempuannya, bukan tak pernah masuk tapi diusir oleh sang adik.

Pernah sekali dia masuk ke kamar adiknya, baru dua langkah masuk ke dalam kamar, kabel charger laptop sudah melilit kakinya dan membuat dia terjatuh. Sudah cukup sekali dia masuk disambut dengan kabel charger berserakan, karena kebetulan adiknya belum selesai mengerjakan tugasnya.

Namun, terasa berbeda saat memasuki kamar sahabat perempuannya ini. Sangat rapi. Haha, dia merasa jahat kepada adiknya karena membandingkan adik dengan sahabatnya. Setiap orang itu jelas berbeda kepribadiannya.

“Net, aku kemarin diajak kencan sama temen SMA kamu tapi aku tolak,” ucap Neno memulai pembicaraan. Melahap camilan di atas meja.

“Dia tergila-gila sama kamu. Dia gila banget kalo cinta sama cowok,” balas Netta seraya meletakkan ponsel dan mendekati sahabatnya.

Netta dan Neno membuat sebuah janji, jika sedang berdua tidak boleh bermain ponsel. Netta lebih memilih menjauh dari ponselnya dengan mendekati sahabatnya. Simple, tapi itulah cara menghargai orang di sekitar kita. Kata Neno, tapi Netta tidak peduli yang penting saat bersama sahabatnya dia meletakkan ponsel.

“Iya, kayak kamu, yang tergila-gila sama suamimu yang di Thailand,” timpal Neno berusaha memberi perumpamaan yang pas.

“Wkwkwk, suka bener deh anaknya Mami,” kelakar Netta dan tersenyum mendengarnya. Memang benar adanya.

“Jadi joging apa nggak nih? Aku pengen keliling pasar nih, nyari beberapa kebutuhan.”

Netta menganggukan kepala, dan bergegas mengambil tas selempang di rak tas. Kemudian mereka berdua turun ke bawah, dan sarapan bersama. Selama sarapan tak ada pembicaraan hanya suara sendok beradu dengan piring. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kalian joging hanya berdua?” tanya Miftah selepas makan.

“Iya, Om” jawab Neno.
Netta menganggukkan kepala.

Kemudian mereka berdua pamit berangkat joging. Netta mengenakan celana training senada dengan milik Neno, kaos panjang berwarna abu-abu sebenarnya itu milik Neno, Netta suka dan diambil, kerudung abu-abu, dan sepatu sport hitam putih. Outfit yang tidak mencolok. Mereka berdua memiliki kesamaan dalam warna, suka warna yang netral.

Bisa dilihat isi lemari milik Netta, baju, kaos, celana, kemeja, kerudung, dan gamis polos. Warnanya juga tidak jauh dari warna biru dongker, hitam, coklat susu, merah maroon, dan warna pastel. Itupun yang mendominasi warna biru dongker dan hitam. Jadi, tak heran jika Netta selalu memakai warna baju yang sama, meskipun model bajunya berbeda.

Sama halnya dengan Neno, dia memiliki banyak kaos dalam lemarinya dengan warna yang sama. Warna dominan hijau tua, hitam, coklat susu, dan biru dongker. Tak heran jika dia sedang ada kumpul bersama temannya dan mengajak Netta, selalu mendapat komentar janjian warna baju.

Mereka saja yang belum tahu isi lemari Netta dan Neno. Hal sekecil itupun terkadang membuat fans Neno iri kepada Netta, beberapa dari mereka ada yang mendukung dan ada yang tidak suka. Tetapi, Neno tidak peduli akan hal tersebut. Bodo amat, yang penting sahabatnya bisa tersenyum dia ikut bahagia.

“Eh, No. Kamu inget gak orang yang neror aku?” tanya Netta seraya memajukan badannya—agar Neno mendengar suaranya yang imut.

“Ha?” Netta berdecak sebal, padahal dia sudah berusaha berbicara sekeras mungkin agar Neno bisa mendengar.
“Kamu inget gak orang yang neror aku?” teriak Netta membuat orang di pinggir jalan menatap heran, Netta tersenyum sungkan dan menganggukkan kepala sebagai pertanda menyapa.

Neno sama sekali tidak menggubris sahabatnya berteriak, dia menahan tawa melihat kelakuan sahabatnya. Netta merasa malu. Pasalnya dia di mata tetangganya terkenal anak pendiam. Berbeda, jika bertemu Neno, jiwa bar-barnya meledak.

Netta ingat sesuatu. Setiap berangkat sekolah selalu bersama. Salah satu alasan yang membuat fans Neno bertambah. Apalagi saat menjemput dia yang sedang sakit, fansnya sudah stay di depan UKS untuk menantinya. Padahal, kata Netta dia tidak jauh beda dengan lelaki lainnya. Ah, sahabat memang seperti itu tidak pernah mengakui kelebihan sahabatnya sendiri, wkwkwk.

Selama perjalanan menuju pasar besar, mereka hanya terdiam membisu. Neno diam. Fokus mengendarai motor, sedangkan Netta fokus stalker instagram para suaminya yang di Thailand. Kabar terbaru, salah satu suaminya yang di Thailand akan menikah bulan depan dengan rekan sesama artis. Hal itu membuat Netta sedikit geram, kenapa tidak nunggu aku lulus kuliah si?

Halu gadis itu sudah tingkat tinggi, tidak jarang mendapat ejekan dari Neno. Netta menghela napas kasar, dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Duh, bete banget tau gak! Suamiku mau menikah bulan depan,” omel Netta memanyunkan bibirnya. Sahabatnya hanya tersenyum melihat wajah sebalnya dari kaca spion.

Tanpa permisi tangan Netta melingkar di pinggang sahabatnya. Bukan untuk memeluk, melainkan mencari ponsel. Kebiasaan, jika sedang tidak mood pelariannya pasti meminjam ponsel Neno. Neno juga sudah paham, dan memang tidak melarang memegang ponselnya.
Neno tersenyum tipis. “Ada apa sih, Neng? Galau yak?”

Netta melotot garang. “Udah diem, aku mau buat fans kamu berteriak.”

Neno menghela napas panjang. Netta membuka instagram menggeser tombol kamera dan memilih filter yang aesthethic. Setelah menemukan filter yang cocok, sedikit memajukan badannya dan menyandarkan kepala di bahu Neno. Tak lupa memvideo kegiatannya itu, tersenyum ke kamera dan mengarahkan kepada Neno yang sedang fokus menyetir.

Hasilnya bagus. Sekali take langsung jadi. Biasanya Netta harus take berkali-kali untuk hasil yang bagus menurutnya.
Selesai. Netta memundurkan badannya ke belakang. Melihat hasil videonya sudah bagus, tak lupa tag dia sendiri dan langsung post.

“Terimakasih, Neno. Selamat berbahagia abis ini notifikasi kamu rame.” Netta tertawa puas, entah mengapa ada kepuasan tersendiri melihat sahabatnya diserbu oleh fansnya. Tangan kiri lelaki itu sontak memegang dadanya, memasang muka melas.

Sabar punya, sahabat sarap, batinnya nelangsa.

👣👣


Halo agan sista! Gimana🤭greget gak punya sahabat macam Netta?

Oiyah, cerita ini akan aku revisi ketika sudah selesai. Jadi, harap maklum jika masih ada typo dan huruf italic yang belum aku benerin–yang kemungkinan besar bikin mata sepet.


Lanjutan👇
Part 5

Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih

Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan miniadila memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20

[MJ] Part 5

Matahari hampir tenggelam, hampir separuh makhluk bumi menyelesaikan pekerjaannya untuk segera bertemu keluarganya dan bahkan ada yang baru saja memulai segala aktivitasnya.

Kehidupan selalu berubah mengikuti arus jaman yang ada. Kerikil masalah pun tiada henti menerpa setiap elemen kehidupan makhluk, tidak pandang bulu; kaya, miskin, pejabat, pengemis, dan ustad.
Begitupun Miftah, satu dari sekian juta makhluk di dunia yang memiliki masalah tentang anak. Apa dia salah mendidik? Atau terlalu memberi kebebasan kepada anaknya? Dia pun tidak tahu akar masalahnya.

Setiap pagi mencoba berinteraksi baik, tetapi anaknya terlalu fokus dengan dunianya. Rumah ini seperti mempunyai dua dunia. Satu kehidupannya bersama Maryam. Dan satunya dunia anaknya yang tidak pernah dia jamah.

Perbedaan atmosfer saat berkumpul selalu terjadi. Ketika dia sedang menonton televisi bersama Maryam, tak luput camilan di atas meja yang selalu disediakan oleh istrinya. Menonton, dibarengi bercanda dengan istrinya membuat atmosfer ruangan menjadi hangat. Gelak tawa renyah mengisi seisi ruangan. Semua seakan terhenti ketika istrinya memanggil anaknya.

Berjalan dengan wajah datar tak berekspresi, ponsel ada di tangannya, dan pandangan lurus ke depan. Rasanya ingin memarahi anaknya, karena bersikap tidak sopan kepada orangtua. Tetapi, Maryam menahan dengan menampilkan senyumnya.

Helaan napas panjang menandakan dia sudah tidak ingin buang tenaga memarahi anaknya. Ya, sudahlah. Lalu, dia memilih kembali fokus melihat televisi.

Anaknya selalu seperti itu, tak berekspresi tetapi kalau ada Neno atau sedang memegang gawai dia bisa cekikikan sendiri. Dia sudah tidak tahu lagi mendidik anaknya seperti apa. Dengan cara keras semakin membuat anaknya tidak keluar kamar, dengan cara halus pun masih sama tidak ada perubahan.

Sesekali melirik anaknya yang fokus dengan ponselnya, dia tersenyum. Senyumnya sama persis dengan Maryam, meneduhkan siapapun yang melihat. Tetapi, senyumnya jarang terbit dihadapannya.

“Papa, ini kopinya.” Suara lembut sang istri membuat Miftah tersadar dari lamunannya.

“Terimakasih.”

Kemudian Maryam bergabung duduk di sebelah suaminya. Dipandangi wajah suaminya, guratan-guratan halus kian semakin jelas. Umurnya sudah hampir menginjak kepala lima, menimang cucu menjadi harapannya dalam setiap doanya. Tetapi, masih belum saatnya. Bahkan, anaknya masih baru saja lulus dari SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Apa yang mengganjal pikiran, Papa?” tanya Maryam, dia sudah tidak tahan dengan keheningan di bawah sunset yang kian menampakkan pesonanya.

“Papa terlalu keras sehingga anak kita selalu bersikap seperti itu?” ucapnya dengan purau, putus asa.

“Anak umur segitu memang rentan, Pa, dengan kata-kata yang sedikit kasar. Dia masih mengedepankan egonya, meskipun sebenarnya dia yang salah. Sebagai orangtua memanglah sulit menghadapi anak remaja, kita harus pintar-pintar mendapatkan hatinya, mencoba terbuka dengan mereka anggaplah seperti sahabat kecil ketika bersamanya.” Miftah kembali merenungi yang dilakukan selama ini kepada anaknya. Dia terlalu kasar, tidak sabaran, dan tidak mencoba mendekati anaknya. Beda dengan istrinya yang selalu sabar menghadapi anaknya, mencoba dekat dengan anaknya, dan berkata lembut.

“Anggaplah Netta itu reinkarnasi kehidupan remaja kita, Pa. Jika kita ingin flashback kelakuan masa SMA, lihat saja anak kita. Sebagian sifat kita melekat dalam dia, seperti kata pepatah ‘Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya’.”
Maryam tersenyum melihat wajah suaminya yang perlahan menerbitkan senyum di bibirnya.

Senyum istrinya seperti magnet yang membuatnya ikut tersenyum juga. Butuh kesabaran untuk menyadarkan orang betapa pentingnya saling mengerti agar tidak terjadi miskomunikasi.

Miftah menyesap kopinya yang hampir tandas. Diskusi yang mengesankan baginya, karena dia hanya terdiam meskipun sesekali menimpali ucapan sang istri. Memang yang dikatakan oleh Maryam semuanya benar, tak ada yang salah. Sebuah usapan lembut di pundaknya membuat diskusi senja kali ini lebih tenang.

“Diskusi senja.”

“Seperti judul lagu favoritnya Netta, Pa,” timpal Maryam seraya mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya.

“Memang benar. Seperti yang mama katakan tadi, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Aku dan Netta satu frekuensi yaitu, cinta kopi, suka band yang sama,” ucap Miftah dengan bangga.

Meskipun ada tembok besar yang menghalangi kedua anak dan seorang ayah, tetapi mereka mempunyai satu selera; kemungkinan yang akan membuat mereka kembali hangat seperti dulu. Sebelum senja benar-benar menjejalkan dia ke bumi, Miftah berharap dalam hati bisa kembali hangat bersama anaknya, seperti teman-temannya di kantor yang selalu menceritakan tentang kehangatan dengan anaknya.

👣👣


Oiyah, cerita ini akan aku revisi ketika sudah selesai. Jadi, harap maklum jika masih ada typo dan huruf italic yang belum aku benerin–yang kemungkinan besar bikin mata sepet.

Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih.emoticon-Cendol Ganemoticon-Toast

Lanjut👇
Part 6

Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Lihat 19 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 19 balasan

[MJ] Part 6

Menjadi Jomo

sumber: pinterest


⚠️Jangan gagal fokus sama gambar di atas. Baca dulu, nanti kalian akan paham, hihi⚠️


Tangan kanan Netta mencengkeram bahu Neno, dia sudah tidak tahan lagi menahan sakit perutnya. “Nen, sekarang tanggal berapa?”

Netta memegangi perutnya yang seperti diperas-peras tanpa ampun, kakinya sudah tidak kuat lagi berjalan. Neno meringis melihat wajah sahabatnya yang tersiksa seraya melihat tanggal di ponselnya. “Sekarang tanggal satu. Kan udah jadwalnya kamu awal bulan, gimana sih kok bisa lupa,” omel Neno seraya membopong Netta berjalan menuju parkiran.

Beruntung mereka sudah berbelanja seharian keliling pasar, dan sekarang mereka sedang di toko buku karena Netta ingin menambah koleksi novel Tere Liye  yang belum lengkap.

“Aduh jangan ngomel sekarang, beliin pembalut sama makanan pokoknya. Bakso presiden juga gapapa sekalian, hehehehe,” pinta Netta memelas.

“Kamu memang selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Yaudah aku beli pembalut dulu, seperti biasa?” Netta hanya mengangguk dan duduk di jok sepeda sambil main ponselnya. Dia menanti kabar update dari suaminya.

Untuk kesekian kalinya Netta bersyukur memiliki sahabat seperti Neno yang sangat perhatian, dan sangat siaga jika dia sakit. Bahkan, dia hapal tanggal menstruasi Netta. Katanya, “biar tidak kena amuk macan betina bunting yang galaknya minta ampun.”

Sikap siaga terhadap Netta membuat orang yang melihat dia itu lelaki yang peka, padahal seorang lelaki susah di kode. Itu semua karena Netta selalu mengatakan apa yang sedang diinginkan. Di situ Neno jadi paham dan mengerti kebutuhan Netta, apa yang tidak disukai, dan yang disukai.

Di sisi lain juga Netta paham jika lelaki sulit di kode, dia inisiatif untuk mengatakan semua yang diinginkan kepada sahabatnya. “Kalo sama cowok itu bilang aja, cowok itu lebih peka kode komputer daripada kode cewek.” Itulah kalimat andalan Netta jika ditanya resep dibalik sifat Neno yang super peka.

Tidak lama kemudian Neno balik sembari menenteng plastik hitam di tangannya. Jangan tanya lagi isinya apa, yang pasti pembalut. “Nih, ganti di mana?”

“Di toko buku ada toileynya.”

Tanpa menunggu lama, Netta mengambil plastik hitam dari tangan Neno dan berlari kecil masuk ke dalam toko buku diikuti Neno di belakangnya.

Netta celingak-celinguk mencari papan tulisan toilet. Neno di belakangnya menghela napas, tanpa babibu menarik tangan sahabatnya karena bercak darahnya sudah terlihat sedikit. Meskipun memakai celana hitam, tetap saja terlihat seperti orang ngompol di celana. Sebelum semua orang melihatnya lebih baik menyeret sahabatnya.

Umpatan keluar dari mulut suci Netta, dia mengabsen seluruh binatang. Tanpa ada sebab dia diseret, dikira keranjang apa diseret seenaknya jidat.

“Cepet masuk, udah tembus dikit.” Neno mendorong sahabatnya masuk toilet cewek. Netta terkejut, berjalan sesekali melihat ke belakang untuk melihat seberapa banyak tembusnya.

Sepuluh menit kemudian Netta berjalan dengan santai dan menghampiri Neno yang sedang bersandari di tembok seraya membaca buku. Dasar kutu buku.

Tanpa menoleh Neno menyerahkan jaketnya, belum sempat bertanya dengan cepat menjelaskan. “Tutupin tuh bagian belakang, meski kamu pake hitam tetep keliatan.”

Netta mangut-manggut seraya mengaitkan lengan jaketnya di depan perutnya. “Makasih, sayang.” Neno hanya tersenyum manis.

“HUAA-MMPH.” Teriakan seorang gadis berujung mencicit seperti tikus yang terjepit karena mulutnya ditutup oleh lelaki di sebelahnya.

“Jangan teriak, nanti ketahuan,” bisik lelaki itu geram. Adiknya selalu seperti itu jika melihat idolanya tersenyum. Ya, kalian sudah bisa menebak, siapa lagi kalau bukan Neno.

“Duhh, ganteng banget. Eh, Kak mereka keluar, ayo ikutin mereka.” Tanpa menunggu sang kakak, Netta berlari mengikuti langkah Neno dan Netta. Lelaki itu hanya menghela napas kesal, kalau saja tidak ada Netta lebih baik tidur di rumah saja lebih nikmat.

Sudah lama sekali dia menyukai gadis manis itu, sejak kelas sepuluh SMA. Bayangkan, tiga tahun menyukai seorang gadis yang biasa saja.

Sang adik memarahi kakaknya yang sangat lemot kalau jalan. Dia mengomel panjang lebar yang sama sekali tidak digubris. Tanpa menunggu lama lelaki itu memasangkan helm di kepala adiknya yang masih saja mengomel karena Netta dan Neno sudah keluar dari parkiran.

Brummm!

“KAK BIMO!” teriak gadis itu kaget seraya menahan badannya terhuyung ke belakang, beruntung tangannya pegangan jaket kakaknya. Kalau tidak begitu, sudah tidak tahu lagi bagaimana nasibnya.

Teriakan adiknya membuat Bimo—kakak gadis itu—semakin menambah kecepatannya untuk mengejar motor Neno. Sebenarnya, dia sudah tahu ke mana arah tujuan mereka berdua. Hanya saja merahasiakan dari adiknya agar tidak mengikuti mereka berdua, tapi kenyataan berkata sebaliknya.

Jalanan Malang sore ini padat merayap, karena hari minggu banyak orang yang keluar untuk sekadar mencari angin sore atau jajanan pinggir jalan. Beruntung dia tadi memilih jalan di bundaran patung Panglima Sudirman, di sana tidak terlalu macet. Jalanan kota Malang memang tidak pernah sepi, apalagi sedikit bergerak ke arah selatan di bawah jembatan ada sebuah kampung yang pernah dibuat syuting filmnya Bayu Skak.

Kampung warna-warni atau kampung 3D, tetapi orang Malang lebih mengenal Jodipan.

“Kak, itu Mas Neno nyebrang!” teriak adiknya girang. Bimo memutar bola matanya malas, andai adiknya tidak segirang ini dia sudah pasti akan menemani setiap waktu membuntuti Netta dan Neno.

Sayangnya, Bella—adiknya Bimo—terlalu ekspresif dan mulutnya kayak toak masjid, membuat dia selalu drama ketiduran.

Hati Bimo sedikit tercubit melihat Netta dan Neno seperti pasangan serasi sejak dulu. Meskipun mereka hanya bersahabat, tetapi banyak juga fans Neno yang mendukung hubungan mereka berdua.

Sesampai di tempat tujuan, Bimo langsung memesan bakso dua porsi sedangkan Bella sudah duduk tepat di belakang bangku Netta dan Neno.

Duh, kok tepat di belakangnya mereka sih, dumelnya seraya memakai masker agar tidak ketahuan. Dia memang takut ketahuan oleh mereka berdua, entah apa alasannya yang pasti dia tidak ingin semua orang tahu jika menyukai Netta kecuali adiknya.

“Pesen apa, Kak?” tanya Bella antusias seraya menggeser badanya karena sang kakak memberi isyarat mengibaskan tangannya ke kanan.

“Bakso bakar, bakso lengkap pokoknya,” balas Bimo kesal.

“Kok pake masker, Kak?”

“Udah diem,” ucap Bimo sambil melotot kesal ke arah adiknya yang super nyebelin. Kemudian Bella memutar badannya untuk melihat punggung lebar Neno yang tepat dua meter di depannya.

Kebetulan sekali Netta sedang mendongak ke arah Bella, dia sudah curiga sedari tadi dengan gadis itu. ternyata, benar dugaannya dia adik kelas yang menyukai Neno.

“Hai, Bell!” sapa Netta membuat gadis yang dipanggil kaget sontak menegakkan punggungnya dan tersenyum.

“Eh, hai, Kak Netta.”

Bimo merutuki kebodohan adiknya, ditepuk jidatnya dan mengumpat kesal dalam hati. Kok bisa sampe ketahuan sih!

“Kamu sendirian?” tanya Netta yang membuat Neno memutar badannya melihat gadis yang diajak ngobrol oleh sahabatnya.

“Nggak, ini sama Kakak.”

Sumpah pingin ngubur diri woe! Semoga Neno gak inget aku, rutuk Bimo kesal.

“Kak,” sapa Bella kepada Neno yang hanya dibalas anggukan kecil seraya tangannya menepuk paha sang kakak mengisyaratkan untuk balik badan juga. Bimo mengepalkan tangan geram, menghela napas panjang, dan berbalik badan.

“Hai Net, Nen,” sapanya tanpa melepaskan masker. Mereka tersenyum membalas sapaan Bimo.

“Eh, sini dong gabung daripada pisah,” ajak Netta kemudian dia pindah duduk di sebelah Neno.

“Eh, tidak apa-apa, Kak? Tidak ganggu, kan?” tanya Bella sungkan.

“Udah sini gabung, Bim ayo gabung sini,” paksa Netta seraya menarik Bella yang terlihat malu-malu. Bimo pun dengan terpaksa duduk di depan Neno.

Mereka berbincang seputar dunia perkuliahan, kecuali Bella dia hanya menyimak sesekali bertanya jika tidak paham. Tak lama kemudian pesanan mereka datang secara bersamaan. Meja dipenuhi oleh mangkok berisi bakso pesanan mereka.

Dalam diam mereka menikmati bakso di temani suara klakson kereta api dari kejauhan yang terdengar nyaring, memang lokasi bakso ini di pinggir rel kereta api.

Lokasinya yang di pinggiran rel kereta tak membuat para penikmatnya urung beli bakso. Justru ada kenikmatan tersendiri. Tak jarang artis jika datang ke Malang mereka juga membeli bakso di sini. Terbukti foto para artis ibukota banyak terpajang di sepanjang dinding warung ini.

Suara tawa renyah pengunjung menambah kenikmatan makan bakso sore ini. Pengunjung datang silih berganti.

👣👣

Siapa yang pengen sahabat seperti Neno? Ane juga pengen gansis

Untuk kalian pasti udah gak asing lagi sama bakso khas Malang itu, kan? Meskipun, aku orang Malang tapi belum pernah mampir🙈

Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih

Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

[MJ] Part 7

Hari bergulir dengan cepat, selama menanti pengumuman tes beberapa hari yang lalu kegiatan Netta di rumah hanya mengurung diri di kamar. Dia keluar hanya untuk makan dan menonton televisi jika papanya berangkat kerja.

"Netta, bantuin mama yuk buat kue kesukaanmu. Katanya Neno mau ke sini? Jam berapa?" tanya Maryam seraya menyapu rumah sedangkan Netta sedang menonton televisi.

"Iya, selesai Netta mandi pasti bantuin," ucap Netta, "katanya jam sepuluh, soalnya orangtuanya mau pergi ke luar negeri selama beberapa hari. Kemungkinan besar dia akan sering main ke sini atau aku bakalan dijemput."

"Iya gapapa, kamu temenin dia. Mama udah anggap dia seperti anak sendiri."
"Seperti Malika dong," kelakar Netta kemudian tertawa renyah. Maryam tersenyum, kemudian melanjutkan kegiatannya.

Maryam memang tidak pernah meminta anaknya membantu pekerjaan rumah, kecuali jika membuat kue atau masak. Dia merasa kasihan kepada anaknya yang sudah susah payah belajar di dalam kamar lalu membantu pekerjaannya yang berat.

Dia berdebat dengan suaminya karena terlalu memanjakan anaknya.
Sang suami tidak terima jika dia bekerja setiap hari sedangkan anaknya hanya leha-leha di kamar. Beberapa kali suaminya memergoki Netta menonton film sedangkan buku di depannya berserakan. Anaknya dimarahi habis-habisan berujung Netta tidak keluar dari kamarnya sama sekali.

Di dapur dirinya kembali berkutat dengan bahan kue favorit anaknya. Setelah menyiapkan semua bahan, kemudian terdengar suara motor memasuki pelataran. Kakinya berjalan ke ruang tamu melihat anaknya sudah tidak ada di tempat, mungkin di kamarnya sedang mandi.

"Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam. Eh, Neno? Ayo masuk dulu, Netta sedang mandi."

"Hehe iya, Tante."

"Tante lanjutin masak dulu ya."

"Masak apa, Tan? Boleh ikut bantuin?"

"Kamu cowok udah diem aja."

"Banyak di luar sana chef cowok, Te. Kali aja habis bantuin tante, aku bisa jago masak dan buka restoran, hahaha."

"Ada-ada aja kamu ini."

Tanpa menunggu lama Maryam memasukkan semua bahan ke dalam mangkuk besar. Neno sudah siap mencampur semua bahan dengan mixer di tangannya.

Maryam bahagia jika Neno menyempatkan mampir ke rumahnya, anak itu selalu membantunya jika sedang melakukan kegiatan; memasak, berkebun, dan semua yang dilakukannya.
Dia memang sangat mengharapkan seorang anak lelaki. Dulu, saat hamil Netta sangat berharap anaknya yang lahir seorang lelaki.

Ternyata, takdir berkata lain. Maryam pada saat itu tersenyum, meski harapannya tidak tercapai.

"Eh Tante, Netta ke mana? Kok belum selesai juga mandinya?" tanya Neno membuyarkan lamunan wanita paruh baya itu.

"Ketiduran mungkin, coba kamu samperin ke kamarnya. Biar tante aja yang lanjutin." Neno menuruti perintah Maryam seraya memberikan mixer ke wanita paruh baya itu.

Berjalan dengan langkah lebar.
Sesampai di depan kamar sahabatnya, lelaki itu mengetuk pintu pelan. Tak ada sahutan dari sang empu kamar. Tanpa menunggu lama, dia langsung membuka pintu tak sabaran.

Terpampang jelas dari kejauhan seorang gadis sedang fokus main ponsel di tangannya sesekali tertawa. Kedatangan lelaki itu sama sekali tidak digubris oleh Netta, masih fokus dengan ponselnya.

Nih anak udah kecanduan banget, kasihan mamanya batin Neno nelangsa.

"Halo cerewet!" teriak Neno seraya membuka pintu balkon dan duduk di sana. Seperti biasa, dia tidak bisa berlama-lama di dalam kamar seorang gadis sekalipun itu sahabatnya sendiri.

"Eh, kapan kamu dateng Nem?"

"Jangan panggil Nemo, ih," gumam Neno.

"Neno. Kamu, kan lucu kayak ikan, apalagi nih pipi napa gimbul banget sih padahal kamu gak gendut," ucap Netta seraya meletakkan ponselnya dan mendekati sahabatnya. Tidak lupa, mencubit pipi sahabatnya yang sangat lucu baginya.

"Ish, sakit tau. Terserah kamu deh, kalo kata Bang Rizal Armada, asalkan kau bahagia," ujar Neno seraya mengibas-ngibaskan tangan di udara.

Netta hanya tertawa melihat kedatangan sahabatnya. "Eh, udah daritadi kamu?"

"Iyalah, bantuin mama kamu buat kue terus udah kelar tinggal ngukus doang. Kamu gak bantuin?"

"OIYA LUPA! YA AMPUN PADAHAL TADI AKU BILANG MAU BANTUIN."

"Kurangi intensitas main ponselnya. Dunia ini lebih indah kalau kamu mau mengeksplor."

"Mulai deh, seperti Papa. Iya-iya cerewet banget si. Eh, Nem inget Bimo?"

"Dia suka sama kamu, makanya dia kayak salting gitu kalo ketemu kamu. Mau aku list siapa saja yang suka sama kamu?"

"Hahaha, jangan ah nanti aku kegeeran jadinya. Kok bisa sih suka sama aku ya? Padahal, aku biasa aja loh. Tidak ada yang spesial dalam diriku."

"Kalau cowok melihat fisik mereka akan cepat ninggal, kalau cowok suka karena kepribadian kamu dia akan bertahan sampai waktu tak tertentu. Termasuk semua yang suka sama kamu itu, mereka suka karena kepribadian kamu. Buktinya hampir sebagian dari mereka masih bertahan sampai detik ini. Termasuk, Bimo salah satunya."

Netta manggut-manggut paham, tetapi dia merasa tidak ada yang suka. Jika saja dia tidak bertanya kepada Neno sudah pasti tidak tahu jika ternyata banyak yang suka kepadanya.

"Terlalu sibuk sih sama duniamu sendiri, padahal di luar sana banyak orang yang menyayangimu."

Netta terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu, hatinya tercubit, pipinya seperti ditampar keras oleh kalimat tersebut.



👣👣


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih


Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miftakhana dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20

[MJ] Part 8

Lagu yang diputar dan disenandungkan oleh Netta

Setelah Maryam pergi suasana rumah kembali sepi, seperti tadi pagi. Netta menyalakan musik favoritnya. Suara indah Gungun artis Thailand mulai menyanyikan lagu miliknya, dengan iringan gitar yang menenangkan membuat Netta sesekali bersenandung ria. Meskipun tidak mengerti liriknya, teapi lagu itu membuat siapapun yang mendengarkan jatuh cinta.

Petikan gitar yang mengalun indah, membuat siapapun yang mendengarkan akan merasa tenang. Seperti halnya Netta, dia bersenandung seraya merapikan jejeran novelnya yang masih berjumlah sepuluh.

“Na na, nana nana na, nana nana nana, nana aa, nanana,” gumam Netta seraya mengangguk-anggukkan kepalanya menikmati alunan lagunya.

Inilah salah satu cara Netta untuk melupakan masalah yang dihadapinya, meskipun tidak menyelesaikan setidaknya dia tidak terlarut dalam kesedihan.

Tangannya menelusuri setiap judul novel yang dimilikinya. Tidak terlalu banyak memang novelnya, karena dia terlalu sibuk main ponsel sehingga tidak sempat membaca buku. Tetapi, semua buku sudah dibaca. Genre yang sangat disukai Netta aksi, romantis, spiritual, dan buku tentang sejarah.

“Aku jadi pingin beli buku, tapi gak tahu buku apa. Em... tanya di twitter aja, ah. Kali aja ada yang rekomendasiin buku yang bagus.”

Kemudian Netta melemparkan badannya di atas kasur, tangannya meraba di bawah bantal mencari ponsel karena disitulah tempat bersemayam ponselnya. Menarik tangannya dan membuka aplikasi bergambar burung putih background biru. Dan mengetikkan sesuatu di sana, berisi:

Eh, guys kalian ada rekomendasi buku/novel tentang sejarah gitu gak?

Post!

Tak lama kemudian banyak balasan dari pengikutnya hampir semuanya merekomendasikan bukunya Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Novel 1998, Laut Bercerita, dsb. Seketika mata Netta berbinar, karena mendapatkan banyak rekomendasi buku sejarah.

Sebenarnya dia memang sangat tertarik dengan dunia sejarah, tetapi mengapa dulu saat pelajaran sejarah selalu tidur ya? Giliran disuruh baca novel sejarah santai aja, justru ingin menghabiskan waktu untuk membaca dan kalau bisa berakhir dengan indah.

Netta terkikik geli ketika mengingat saat pelajaran selalu ketiduran, bukan ketiduran, niat tidur lebih tepatnya. Beruntung guru sejarahnya sabar semua. Tidak terlalu mengindahkan murid yang tidur.

Tok... tok... tok

“Masuk aja, gak dikunci,” teriak Netta seraya memainkan ponselnya membalas komentar mutualnya di Twitter, sesekali terkikik geli membaca komentar yang menurutnya lucu.

“Nih, mie bledeg, aku jauh-jauh ke Kepanjen untuk beli untukmu. Duh, kenapa sih tuh warung gak buka cabang di Kota Malang aja,” omel Neno seraya berjalan menuju balkon dan meletakkan empat bungkus mie kesukaan sahabatnya.

“WHAT? KAMU KE KEPANJEN?” teriak Netta tak percaya seraya meletakkan ponselnya dan berjalan menuju balkon dengan wajah tidak percaya.

“Gak perlu masang wajah kayak gitu, ambilin minum cepet,” perintah lelaki itu seraya mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Netta mengambilkan yang diminta. Kakinya berselonjor, menetralkan napasnya yang ngos-ngosan, melepaskan case ponselnya dan dibuat kipasan.

Suhu Malang siang ini memang sangat panas, terik matahari membuat siapapun malas berkeliaran di jalanan kecuali orang-orang yang sedang bekerja keras mengais rejeki dan sedang berjuang menghibur sahabatnya seperti Neno. Dia rela panas-panasan dan menempuh jarak satu jam dari rumah sahabatnya, demi beli empat bungkus mie.

Jika sahabatnya itu sedang mood sudah pasti lelaki itu akan membawa langsung ke warungnya, sekalian mampir ke rumah neneknya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari warung tersebut. Sayangnya, sahabatnya sedang tidak mood.

“Kok nggak ke tempatnya aja? Liat tangan kamu? Ish, gelap. Bentar aku ambilin sunscreen punyamu,” omel Netta seraya meletakkan air minum di atas meja, dan memegang tangan putih sahabatnya yang terlihat menghitam.

“Ud-“ ucapannya terpotong karena Netta segera menyerobot.

“Diem! Sstt, kulit kamu gak boleh gelap.” Netta melotot ke arah Neno seraya masuk ke dalam kamar dan mengambil sunscreen yang terletak di meja belajarnya. Hampir semua skincare yang ada disitu milik Neno, milik Netta hanya masker coklat dan kuas saja.

“Nih, pake sendiri,” ucap Netta seraya menyerahkan sunscreen dan diterima oleh lelaki itu.

Keduanya terdiam, hanya suara motor berlalu lalang yang menjadi alunan lagu. Neno sibuk mengoles krim di tangannya, sedangkan Netta sibuk mengkhayal jika suaminya yang di Thailand mengunjungi rumahnya dan mengajaknya liburan ke suatu tempat yang romantis.

Neno mengerutkan kening melihat sahabatnya tersenyum-senyum sendiri.
“Udah makan itu mie-nya, keburu gak enak.” Netta terlonjak kaget.

“Lagi ngelamun ya?” Belum sempat protes, secepatnya Neno berbicara.

“Lagi liburan sama suamiku, indah banget tau gak,” ucap Neta seraya membuka bungkus mie untuk dia dan Neno. Selalu seperti ini, Neno tidak pernah mau jika membuka bungkus apapun itu; bungkus permen, bungkus jajan, dan semua yang memiliki bungkus.

Kemudian mereka berdua menikmati mie di siang hari yang panas ini, Netta menertawakan wajah Neno yang memerah karena pedas. Level mie ini tidak ada yang original, semuanya pedas, namanya juga mie bledeg.

“Hahaha, padahal punyamu gak pedes loh.”

“Pedes banget, sshhh. Aku makan mienya aja ya, ini ayamnya makan kamu aja.”
Neno menyendokkan ayamnya seraya meletakkan di atas mie milik Netta.

“Cup, cup, emang sumber pedesnya tuh di ayamnya. Siniin semua deh,” ucap Netta seraya mengelus-elus kepala sahabatnya yang tidak terlalu suka pedas. Berbeda dengan dia yang sangat suka yang berbau pedas terutama mie.

Tanpa Netta sadari, dia lupa dengan kesedihannya. Sangat mudah memang mengalihkan kesedihan Netta. Hanya perihal gampang bagi Neno. Tetapi, kesedihan Netta bisa reda jika sudah meluapkan di suatu tempat bersama sahabatnya. Hanya Neno.

Air mata lelaki itu keluar tanpa disadari, keringat mengucur deras di pelipis. Mulutnya sangat panas, seperti terbakar api. “Buatin teh anget.” Netta berlari menuju dapur dan membuatkan teh hangat.

Beruntung di rumahnya dispensernya ada air hangat. Jadi, sahabatnya tidak perlu menunggu lama. Di bawakan satu gelas tupperware agar dia tidak bolak-balik ke dapur.

Terdengar desahan Neno yang menikmati rasa pedas mie. Di balkon Neno menahan pedas yang membakar mulutnya, dia mencoba menetralkan napasnya. Netta tertawa kecil seraya membuka pintu kamar dan memberikan gelas ke tangan sahabatnya.

Tak menunggu lama teh hangat membanjiri mulutnya, terasa semakin panas. Tetapi, setelah air teh masuk ke dalam kerongkongan dan turun ke bawah. Rasa panas dalam mulut mulai mereda, air mata yang sedari tadi mengucur tanpa henti kian menyusut. Tergantikan oleh senyum bahagia.

“Alhamdulillah. Mulut berasa dibakar,” ucap Neno seraya menyantap kembali mienya. Netta hanya tersenyum melihat sahabatnya yang tidak pernah kapok beli mie bledeg padahal dia tidak terlalu suka pedas.

“Kamu ini loh, sudah tahu gak suka pedas, masih aja dibeli,” omel Netta seraya menutup bungkus dan membuka lagi bungkus mie. Karena jatahnya memang selalu dua bungkus jika beli mie favoritnya.

“Tenang aja, selagi kamu siap buatin teh hangat aku akan tetap beli mie bledeg,” ucapnya dengan dengan santai seraya membuka lagi bungkus mienya. Netta hanya mengacungkan jempol, mulutnya penuh oleh mie.

Kedua sejoli itu memang memiliki makanan favorit yang sama, yaitu mie bledeg. Jika makan di tempatnya langsung, mereka selalu bungkus satu atau dua porsi.

Betapa bahagianya memiliki hubungan persahabatan seperti mereka berdua. Saling mendukung, saling membantu, dan saling membahagiakan. Sehingga membuat kedua orangtua Netta terkadang iri dengan kedekatan Neno, karena mereka keluarga kandungnya terasa jauh.

Meskipun, begitu orangtua Netta juga berharap agar Neno selalu ada di saat anaknya suka maupun duka.

Neno pun sudah bersumpah kepada dia sendiri jika akan selalu menjaga sahabatnya sampai menemukan lelaki yang pantas menjadi pendampingnya.



👣👣


Maaf minggu kemarin aku sedang sibuk ngurus nikahan sepupu, gak update;(

Tapi, aku bakal update dua part hari ini😉

Terimakasih yang sudh setia menanti cerita ini❤️

Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miftakhana dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Lihat 27 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 27 balasan

[MJ] Part 9

“Kakak masih kuat? Ayo ke rumah sakit aja! Kebetulan aku bawa mobil,” paksa Maryam kepada Romlah yang kesakitan menahan kram perutnya.

“Huh, huh, Yam, kumohon nanti kamu jaga bayiku, rawatlah dia, semua tabunganku akan cukup membiayai dia sampai kuliah, jika sudah berumur tujuh belas tahun pertemukan dengan ayahnya yang ada di Malaysia,” ucap wanita paruh baya itu seraya menggigit bibirnya tak kuasa menahan sakit kram peutnya.

Maryam hanya mengangguk, kemudian membopong kakaknya meski tertatih dia sekuat tenaga membawa kakaknya ke rumah sakit. Dalam pikirannya berusaha segera mungkin sampai di rumah sakit.

Beruntung rumah kakaknya di kawasan dekat pusat kota, jadi tidak perlu menunggu lama menuju rumah sakit. Jalanan sekitar pisang kipas sepi, dia menambah kecepatan sampai di pertigaan pizza hut belok kiri karena jalan sekitar soekarno hatta satu arah, beruntung rumah sakit rujukannya tepat di pinggir jalan dekat sini, beberapa meter kemudian

Maryam menyalakan lampu sein ke kiri. Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit, dan meminta beberapa tenaga medis untuk membawakan brankar, semua petugas medis berlarian menuju ke dalam dan keluar dengan brankar.

Keringat Romlah mengucur deras di pelipisnya, napasnya terengah-engah. Petugas medis mendorng brankar menuju ruang operasi. Maryam duduk, jantungnya berdegup kencang. Dalam hati dia berdoa agar kakak dan bayinya selamat.

Ddrrrtt

Ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk, terpampang sebuah nama kontak ‘Zauji’ tanpa menunggu lama langsung digeser ke atas.

“Assalamualaikum, Pa.”

“Wa’alaimukumussalam, udah di rumah?”

“Kakak lahiran, Pa. Tadi lupa mau ngabarin, maaf.”

“Hati-hati, setelah ini aku ke sana sama Netta.”

“Nggeh, Papa juga hati-hati. Oh iya, Neno mau menginap beberapa hari orangtuanya lagi pergi ke luar negeri.”

“Iya, tadi udah telepon Papa. Yaudah, aku mau siap-siap dulu. Jangan lupa sholat. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Maryam membanting punggungnya di kursi. Bagaimana dia mengatakan kepada saudaranya jika kakaknya melahirkan, sedangkan mereka sudah tidak peduli dengan keadaan kakaknya karena kimpoi dengan bule. Dan sekarang suaminya sedang bekerja di Malaysia. Bahkan, dia tidak mempunyai kontak kakak iparnya itu.

Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, adzan ashar sudah berkumandang setengah jam yang lalu. Maryam bergegas menuju musholla di rumah sakit ini. Menyusuri lorong rumah sakit seraya mencari musholla.

Setelah berjalan menyusuri rumah sakit, ternyata mushollanya terletak di dekat taman. Kemudian, dia melepaskan sepatunya seraya meletakkan di rak sepatu. Masuk ke toilet untuk mengambil wudhu. Lalu, melaksanakan sholat berjamaah dengan pengunjung yang lain.

Sepuluh menit kemudian Maryam kembali ke ruang operasi. Semoga kekhawatirannya tidak terjadi kepada kakanya, dalam hatinya selalu berdoa agar kakak dan bayinya selamat. Meski sedari awal hamil, kakaknya tidak yakin bisa merawat bayi itu karena penyakitnya yang sangat rentang saat melahirkan.

Sesampai di ruang operasi, ruangan masih belum terbuka Maryam memutuskan untuk menelepon suaminya.

“Assalamualaikum, Papa udah di mana?”

“Masih di rumah, tadi Neno berangkat duluan ke sana. Papa, bareng Netta.”

“Oh, iya ini dia baru saja ngirim pesan ke mama, dia udah di parkiran, yaudah ya, Pa. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Setelah membalas pesan dari Neno, tak lama kemudian muncul seorang lelaki berpakaian casual di tangannya membawa sebuah tas besar dan rantang berisi makanan.

Sahabat anaknya ini memang sangat pengertian, wajahnya sangat manis sekali ditambah gingsulnya membuat semua wanita suka kepadanya. Tidak heran jika dia memiliki fans, karena Netta sering menceritakan fans yang ada di sekolahnya sering meminta nomor sahabatnya.

“Assalamulaikum, Tante,” ucapnya seraya menyalami tangan Maryam dan meletakkan tas beserta rantang.

“Wa’alaikumussalam. Jadi, ngerepoin Neno,” ucap Maryam sungkan.

“Ish, Tante kayak sama siapa aja. Tante udah aku anggep mama sendiri, hehe.”

“Tadi, bagaimana berhasil ngerayu Netta?”

“Berhasil dong, ini hasilnya aku dipaksa pake sunscreen dan bibir merah. Hahaha.”

“Cuma kamu yang bisa merayu Netta, tante mohon jaga dia, ya.”

Neno hanya mengangguk pelan, dia sangat paham yang diucapkan oleh mama sahabatnya.

Di dalam keluarga Netta dia memiliki peran untuk menghibur Netta. Kurangnya interaksi membuat Netta terkadang merasa kesepian. Meskipun begitu, mamanya sudah mencoba berinteraksi dengan Netta, begitupun papanya selalu mencoba berinteraksi tetapi dengan membentaknya atau memarahi karena kesalahannya membuat Netta malas keluar kamar dan mengurung diri untuk menghibur diri dengan menonton film Thailand.

**

“Netta! Ayo cepet!” teriak Miftah di atas motor seraya memanaskan motor.

“Bentar!” teriak Netta tak kalah keras. Dia sangat malas jika harus berangkat bersama papanya, seharusnya tadi bareng Neno saja. Pasti dia akan banyak diceramahi.

Tak lama kemudian Netta keluar seraya membawa tas kecil berisi charger, headset, ponsel, dan dompet. Dia memang tidak terlalu suka menginap di rumah sakit.

“Hanya membawa itu saja? Tidak mau membantu mamamu di sana?”

Netta memutar bola matanya malas, selalu saja salah yang semua dilakukan. “Yang ngurus rumah siapa?”

“Yaudah, cepet naik.” Miftah selalu mengalihkan pembicaraan jika anaknya menjawab dengan benar. Memang benar, jika semua yang di rumah sakit siapa yang mengurus rumah? Sedangkan dia juga bekerja.

Selama perjalanan Miftah memikirkan agar bisa berbicara dengan anaknya. Tidak ada topik memang, tetapi dia sednag berusaha mencari topik agar anaknya bisa berbicara panjang lebar.

“Nanti kamu ngurus rumah sama Neno?”

“Hm.”

“Kalau butuh apa-apa nanti uangnya sudah Papa siapin di atas kulkas.”

“Hm.”

“Jangan lupa beli kopi dilangganan, Papa. Persediaan hampir habis.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Gapapa.”

Kemudian keduanya terdiam, Miftah kembali fokus mengendarai motor dan Netta kembali scroll up and down twitternya. Bagi Netta, tempat sambat terenak memang di twitter.

Di samping itu Netta memiliki banyak mutual di twitternya, mutual dalam artian follower. Tetapi, bukan akun pribadi hanya untuk akun sambat dan mencari teman sesama pecinta drama Thailand.

Tidak terlalu banyak memang yang penikmat drama Thailand, dan juga mereka tidak terlalu tampak. Hanya beberapa saja yang benar-benar addicted seperti Netta.

Berbeda dengan Miftah, hatinya nelangsa. Saat sudah berusaha berbicara dengan anaknya, tetapi jawabannya hanya singkat. Apakah memang dirinya terlalu keras dengan anaknya? Apa memang benar kata istrinya waktu itu? Jika memang benar akan segera dia usahakan untuk berubah.

👣


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih

Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20

[MJ] Part 10

Sesampai di rumah sakit, Netta dan Miftah segera merapat di depan ruang operasi. Info dari Neno, operasinya masih belum selesai. Kedua anak dan bapak tersebut berjalan cepat, tidak peduli dilihat orang-orang yang sedang berkunjung dengan tatapan heran.

Di depan ruang operasi terlihat Neno sedang berusaha menenangkan Maryam yang sedari tadi khawatir dengan keadaan kakaknya. Kakaknya sudah lima puluh menit di ruang operasi, dan tak kunjung keluar. Firasat Maryam sudah tidak enak.
Miftah datang, Neno bergeser.

Biar suaminya saja yang menenangkan istrinya, dan bergerak mendekat ke arah Netta yang sedang duduk di ujung kursi.

“Sayang.”

“Ndiasmu!”

“Hahaha, kenapa cemberut gitu?”

“Biasa. Nanti, kalau sudah selesai anterin aku ke tempat kopi langganan.”

“Oke!”

Kemudian Neno mengeluarkan sebuah buku yang dibawa dari rumah. Baginya buku ini menjadi sebuah charger ketika sedang bosan atau saat merasa hampa.

Banyak sekali buku Neno, bahkan di rumahnya dia memiliki perpustakaan. Sebagian besar bukunya bergenre action, thriller, bukunya Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, dan novel bertema tentang sejarah.

Lelaki itu suka sekali dengan novel yang berbau masa lalu. Namun, dia benci masa lalunya. Bahkan, kalau bisa dia tidak ingin kembali mengulang masa lalu itu taupun mengingat. Secuil kisah pun dia tidak ingin mendengarkan jika keluarganya kembali membahas.

Semua orang memang tidak ingin mengulang masa lalu yang kelam. Hanya orang-orang kuat dan memiliki hati setegar karanglah yang bisa mendengar masa lalunya di kuak.

“Keluarga dari Nyonya Romlah?” ucap seorang dokter muda membuyarkan lamunan Neno. Semua sontak berdiri untuk melihat keadaan Romlah dan bayinya.

“Saya adiknya, Dok.”

“Mari ikut saya ke ruangan.”

“Dok, bayinya mana?” celetuk Netta membuat semua orang sontak menoleh ke arahnya.

“Bayinya sehat, berjenis kelamin laki-laki. Sekarang sudah bisa dilihat di ruangan bayi, ikuti suster ini ya. Mari, Bu ikuti saya.” Maryam dan suaminya mengikuti dokter muda itu menuju ruangannya, sedangkan Neno dan Netta mengikuti suster menuju ruang bayi.

Sesampai di ruangan bayi, suster memberi tahu jika bayinya terletak di pojok kanan. Ada nama ibunya di papan. Netta segera menghampiri keponakannya yang lucu. Dia memang sangat sayang kepada bayi.

“Sus, bayinya belum diadzani?” tanya Neno seraya memerhatikan Netta yang menghampiri bayi dari budenya.

“Sudah tadi sama seorang lelaki bule, katanya bapak dari bayi itu. Baik, saya permisi dulu.”

Neno mengeryitkan dahi, lalu mengangguk pelan dan berjalan mendekati Netta seraya tersenyum melihat keromantisan antara tante dan keponakan.

Momen ini sangat langka bagi Neno, pasalnya dia tidak pernah melihat betapa bahagianya Netta berinteraksi dengan anak kecil. Mengajak bayi itu berbicara meskipun bayi itu terlelap sesekali menggerakkan tangan dan kakinya.

Lelaki itu mencoba mendekat untuk melihat bayi mungil itu seraya tangannya merangkul bahu Netta.

“Ganteng ya, ini pasti gedenya kayak aku, ganteng dan banyak fansnya,” ucap Neno dengan bangga kemudian dihadiahi cubitan kecil diperutnya oleh Netta.

“Jangan besar kepala, nanti kalo pake helm takutnya kaga muat,” balas Netta sengit. Lelaki itu hanya tertawa kecil seraya mencubit hidung pesek gadis dirangkulannya.

“Yaudah yuk, pindah ke depan biar dia tidur,” ajak Netta kemudian mereka menutup pintu ruangan tersebut.

Mereka berdua berjalan menuju depan ruang operasi tadi, karena barangnya masih di sana. Tiba-tiba Netta merasa ada yang tidak beres, kemana Budenya?

Seharusnya tadi dia langsung menemui Bude dan bayinya di ruang operasi, tetapi kenapa bayinya sudah ada di ruang bayi?
Pertanyaan Netta akan terjawab ketika melihat Mamanya pingsan dikerubungi oleh beberapa perawat yang sedang membantu agar segera siuman. Sontak saja Neno berlari diikuti Netta di belakangnya dengan perasaan kalut.

“Budenya Netta ke mana, Om?” tanya Neno seraya melihat Netta berusaha menyadarkan mamanya yang pingsan.

“Budenya meninggal.”

Napas Netta tercekat air matanya menetes.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” ucap Neno turut berbela sungkawa.

Di dunia ini memang tidak ada yang abadi. Hati Neno terenyuh melihat semua ini, dia benar-benar kasihan kepada bayi lelaki tadi. Baru saja bisa melihat dunia, dunianya sudah hancur. Kehilangan seorang Ibu sudah seperti kehilangan dunia dan seisinya.

Dari sini dia mulai paham semua kata-kata neneknya yang selalu menuntut untuk patuh kepada mamanya meskipun sibuk bekerja, karena dunia akan benar-benar hilang ketika seorang ibu tiada. Hatinya sesak mengingat kalimat yang diucapkan neneknya, air matanya jatuh di lantai namun segera ditepis dengan punggung tangan sebelum deras.

Netta melihat air mata sahabatnya jatuh, dia benar-benar paham apa yang dirasakan olehnya. Jangankan merasakan apa yang dialami sahabatnya, semua ini seperti menjadi pengingat kepada dia agar selalu mencintai orang yang selama ini merawatnya.

Sudah cukup dia kehilangan budenya yang selalu mendengarkan curhatannya, beliau sudah menjadi ibu kedua yang sangat dekat dengannya. Terkadang membuat iri kedua orangtuanya karena kedekatannya.
Hatinya seperti dicubit, otaknya seperti disentil agar mengingat betapa kerasnya kedua orangtuanya berusaha dekat dengannya.

Berusaha berinteraksi dengan dia yang hanya fokus dengan dunia imaji. Apakah dia bisa memperbaiki itu? Apakah dia mampu mengalahkan egonya?
Semua keputusan ada di tangannya. Jujur di dalam diri Netta dia sudah muak seperti ini terus. Capek yang selalu dikalahkan oleh ego.

Telinganya sudah bosan diceramahi sang papa karena selalu melakukan kesalahan. Hatinya sudah lelah setiap hari harus iri kepada teman-temannya yang memiliki keluarga yang harmonis. Tetapi, logikanya selalu mengatakan hal yang fakta jika dia sudah bahagia dengan gadgetnya. Dia sudah dibahagiakan oleh semua foto para suaminya yang ada di instagram.

Dia benar-benar kecanduan akan gadget. Seringkali Netta merasa hampa, tetapi entah apa itu dia juga tidak tahu. Dia merasa kesepian padahal followernya banyak. Hampir semua akun media sosialnya memiliki pengikut lebih dari satu juta. Bahkan terkadanng mereka berinteraksi lewat DM atau WA jika sudah benar-benar merasa dekat.

Sahabat online Netta sangat banyak. Dari berbagai daerah, hampir semua derah di Indonesia ada. Tetapi, mereka tidak pernah bertemu secara langsung, hanya via online.

Merekalah yang menghibur ketika Netta tidak berani mengatakan sebuah masalah kepada Neno. Mereka juga yang menghibur kala sedih yang tidak bisa diungkapkan dan hanya tangis sebagai pertanda jika sudah tidak kuat menahan.

“Netta, mama kamu sudah siuman,” ucap Neno membuat lamunan Netta buyar.

“Iya.”

Tangis Maryam kembali pecah, Netta pun tidak kuasa menahan air matanya lagi. Kedua anak dan ibu itu menangis saling berpelukan.

Miftah sedang mengurus jenazah kakak iparnya, semua kerabat saudara sudah dihubungi. Hati mereka terbuka, satu jam lagi mereka sampai di rumah Romlah. Dalam hati, Miftah bersyukur karena keluarga istrinya masih peduli dengan Romlah. Karena beberapa masalah yang membuat mereka benci dan tidak mau mengakui Romlah sebagai anggota keluarganya.

Kakinya berjalan menuju depan ruang operasi, terlihat anak dan istrinya sedang menangis. Dia harus segera mengabarkan berita bahagia ini kepada Maryam, agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.

“Ma, tadi anggota keluarga sudah aku hubungi. Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Romlah.”

Maryam tersenyum dan tangisnya semakin deras mendengar berita itu.




👣👣


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih

Menjadi Jomo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

[MJ] Part 11

Pemakaman sudah selesai, semua berjalan dengan lancar. Tamu mulai berdatangan, rekan kerja, tetangga, dan sahabat Romlah. Mereka semua hadir, dan turut mengucapkan bela sungkawa. Maryam beserta kerabatnya menerima tamu yang datang silih berganti.

Banyak karangan bunga di depan rumah dari kantor dan rekan CEO dari pihak suami Romlah.

Tanpa mereka ketahui seorang yang seharusnya menjadi tuan rumah turut hadir di antara tamu undangan. Hanya Miftah yang mengetahui kehadiran sang tuan rumah tersebut, karena Miftahlah yang masih peduli dengan kakak iparnya tersebut.

“Aku kehilangan banget, Mif,” rintih lelaki itu seraya menundukkan kepala. Banyak penyesalan dalam dia, tetapi penyesalan hanya sebuah sesal yang tidak akan bisa diubah semuanya sudah terjadi.

“Mas ke sini tidak ada yang tahu, kan?”

“Meskipun, aku menampakkan wajah mereka tidak tahu siapa aku.” Miftah terkejut dengan penuturuan kakak iparnya. “Mereka tidak mau melihat wajahku, hanya Ibu dan Maryam saja yang tahu waktu itu.”

Miftah mengangguk paham. Dia sangat paham rasanya tidak dianggap oleh keluarga sendiri. Sedih, kecewa, semuanya menjadi satu. Kasihan kakak iparnya.

“Kemarin aku memeluk istri untuk terakhir kalinya, saat selesai operasi semenit sebelum dia mengembuskan napas terakhir. Aku sudah berjanji akan menemaninya saat melahirkan. Kemarin, sebelum Maryam datang ke rumah kita teleponan tawanya sangat renyah sekali. Tetapi, itu tawa terakhir yang aku dengar.”

Kemudian lelaki itu terdiam, menepis air matanya yang kian deras. “Saat masuk ke ruang operasi dia menyempatkan tersenyum, dan mengatakan jika anak kita dititipkan kepada Maryam. Dia bahkan sudah menyiapkan semuanya, seakan-akan kematian ini yang dia tunggu. Warisan, rumah untuk anak kita, dan biaya untuk anak kita dia sudah menyiapkan. Semua uang yang kukirim tidak pernah dipakai sepersenpun. Dia membiayai hidup dengan gajinya sendiri.”

Miftah hanya diam mendengarkan dengan seksama semua yang diucapkan lelaki di sebelahnya. Suasana kuburan kian sepi, pelayat sudah kembali bergerak ke rumah masing-masing dan sebagian kembali ke rumah Romlah untuk membantu menerima tamu di rumah.

Lelaki itu menghela napas pelan seraya memegangi pualam mendiang istrinya. Usia penikahan mereka bahkan masih seumur biji jagung, tetapi batu terjal datang tiada henti. Mereka bertahan dengan modal keyakinan dan percaya bisa menghadapi.

“Kamu tidak perlu cari uang untuk membiayai hidup anakku. Semuanya sudah ada di rekening istriku, kemungkinan besar bisa mencukupi kebutuhannya hingga kuliah karena selain itu aku akan tetap transfer setiap bulan. Tolong jaga dan rawat anakku, aku ingin dia mempunyai keluarga yang lengkap dan harmonis. Nanti, saat dia umur tujuh belas tahun tolong pertemukan kita, jika aku masih ada.”

Dalam hati Miftah berkata, apa iya keluargaku terlihat harmonis di mata orang? Jika memang iya, aku akan berusaha untuk itu.

“InsyaAllah aku siap untuk merawat bayi itu. Istriku selama ini sudah sangat menginginkan anak lelaki.”

“Alhamdulillah. Baiklah kalau begitu, aku kembali ke Malaysia terlebih dahulu. Salam untuk keluargamu. Terimakasih. Assalamualaikum.” Kemudian lelaki itu beranjak seraya menyalami adik iparnya, dan berjalan menuju mobil yang terparkir di bahu jalan.

Kini tinggal Miftah sendirian, dia memutuskan untuk kembali ke rumah kakak iparnya. Selama perjalanan lelaki paruh baya itu sibuk memikirkan semua hal yang berhubungan dengan keharmonisan di dalam keluarganya.

Dia sungguh ingin memperbaiki semua, tetapi ada saja yang menghalangi. Dinding egois antara dia dan anaknya terlalu kuat. Sangat sulit untuk diruntuhkan. Dia ingin bayi itu merasakan keharmonisan keluarga seperti yang diharapkan sang ayahnya.

“Pak Miftah!” teriak seseorang membuat lelaki paruh baya itu tersentak dan menoleh mencari orang yang memanggil.

“Eh, ada apa, Pak?”

“Di rumah ada keributan, lebih baik bapak cepat balik,” ucap orang itu seraya menetralkan napasnya karena berlari.

Pikiran Miftah tidak karuan, kacau, ditambah keributan apa ini? Apa urusan warisan? Tanpa memedulikan orang yang memanggilnya, lelaki itu segera berlari menuju rumah yang tinggal beberapa meter lagi.

Dan benar saja, teriakan yang sangat dikenalnya terdengar hingga keluar rumah. Apakah pantas saat suasana sedang berkabung ada keributan? Miftah mempercepat langkahnya dan terhenti di depan pintu rumah. Matanya tidak percaya melihat keributan di depan matanya, adik istrinya memegang sertifikat rumah Romlah diacungkan ke atas.

“Ini menjadi milikku!” teriaknya kalap.

“Kamu membenci semasa hidupnya, dan kini seenaknya mengambil seluruh harta kakakmu? Tega kamu ya! Dia memiliki bayi yang akan menempati rumah ini!” teriak Maryam tidak kalah kalap.

“Apa itu urusanku? Kamulah yang merawat! Apa uangmu tidak cukup membiayai anak haram itu?”

“JAGA UCAPANMU MILA!” Miftah kalap, sungguh anak itu tidak tahu diri. Semua keluarga juga hanya diam menyaksikan ini.

“Kamu bukan keluarga kita, gak perlu ikut campur!” sindir Kamila bengis.

“Maaf sebelumnya, tapi seluruh surat penting rumah ini sudah diamankan. Kamu bawa saja itu sertifikat, sebelum kamu benar-benar malu silahkan pergi dari rumah. Pintu masih terbuka lebar,” ucap Miftah seraya tangannya mengarahkan keluar rumah.

Napas Kamila memburu, wajahnya memerah malu, dengan cepat dia menutup wajahnya dengan kerudung dan keluar dari rumah. Seluruh pelayat melihat kejadian ini hanya beristigfar dan terharu. Badan Maryam luruh, kakinya sangat lemas setelah menghadapi adiknya yang selalu ingin merebut yang dimiliki kakaknya.

Setelah itu semua kembali ke aktivitas masing-masing, beberapa menghampiri Maryam untuk menenangkan agar tidak terlalu memikirkan sifat adiknya. Keluarga besar sudah paham dengan sifat Kamila yang tamak akan kekayaan tetapi dia tidak mau bekerja.

“Sabar ya, Yam. Kamila sifatnya seperti itu memang. Sabar ya,” gumam Ella--adik Ibunya Maryam—seraya merangkul keponakannya.

“Makasih ya, Bulek. Mau datang, maafin kalau kakakku ada salah,” ucap Maryam lirih. Wanita tua itu mengelus-elus pundak keponakannya dengan salah.

“Justru, Bulek yang mau minta maaf. Selama ini sudah tidak menganggap keadaan kakakmu. Kita semua menyesal telah menyia-nyiakan mendiang Romlah, dia baik sekali. Kita semua terpengaruhi oleh ucapan Kamila.”

Seluruh keluarga baru menyadari jika ternyata Kamila adalah dalang di balik ini semua. Mereka dihasut untuk membenci Romlah yang menikah dengan bule, alasannya katanya bule itu bukan orang islam, suka mabuk, dan semua keburukan ditimpakan kepada suami Romlah. Sebagai orang awam yang tidak pernah bertemu bule, mereka terhasul dan membenci Romlah.

Setiap Romlah memberikan jajan oleh-oleh selalu disita oleh Kamila dengan alasan mengandung babi. Padahal, semua oleh-oleh itu ujungnya akan di makan oleh Kamila di kamar. Sungguh licik sekali Netta.

“Andai Ibu melihat tingkah Romlah, sudah pasti Ibu kecewa,” lirih Maryam mengingat mendiang Ibunya.

“Sudah, Nduk, ikhlaskan saja. Ayo masuk dulu, kamu butuh istirahat.” Kemudian wanita tua itu membopong Maryam kemudian diambil alih oleh Miftah menuju kamar khusus Maryam jika sedang menginap.

Miftah mengambil alih istrinya karena ingin mengatakan jika dia bertemu dengan suami kakaknya, tetapi sepertinya suasana sedang mendukung. Lelaki paruh baya itu mengurungkan niatnya, dan membantu istrinya merebahkan tubuhnya di atas kasur.

“Pa, nanti telepon Netta untuk segera ke sini.” Miftah hanya mengangguk seraya menutup sebagian tubuh istrinya dengan selimut.

“Setelah ini aku telepon.”

Kemudian Miftah merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, kemudian mengetikkan nama anaknya dan menekan tombol telepon. Berdering, kemudian terdengar suara lelaki yang menerima telepon.

“Assalamualaikum, Om. Ada apa?”


👣👣


Akan direvisi setelah selesai.

Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih

Menjadi Jomo

Cr: PicsArt & pinterest
profile-picture
profile-picture
miniadila dan gustiarny memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20

[MJ] Part 12

“Assalamualaikum, Om. Ada apa?” ucap lelaki di seberang telepon.

“Wa’alaikumussalam, Neno kalau sudah selesai ke sini ya.”

“Iya, Om.”

“Yaudah, assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussaalam.”

Sepulang dari rumah sakit tadi, Netta dan Neno bertugas mengurus bayi budenya. Netta memang sudah terampil mengurus bayi, jika mudik ke rumah neneknya dia mengurus bayi sepupunya.

Di samping itu ada bentuk paksaan dari sang nenek katanya biar gak kaget kalau sudah punya anak. Dan ternyata itu bermanfaat sekarang, dia mengurus keponakannya yang lucu dan ganteng.

“Netta, barusan papa kamu telepon, disuruh segera ke sana.”

“Yaudah. Eh, tadi semua sertifikatnya Bude Romlah udah disimpen di kamar Mama?” tanya Netta seraya menimang keponakannya yang masih belum punya nama.

“Sudah, kan kamu yang nyimpen bukan aku. Tugasku tadi menggendong bayi mungil yang ganteng ini,” ucap Neno seraya mencubit pipi gembul bayi itu.

“Oh, iya sih. Kalau saja sertifikat itu tidak segera diamankan, mungkin adik Mama akan gila harta.”

“Eh? Adik Mama kamu yang Tante Kamila itu, kan?”

“Iya, dia terlihat baik. Tapi, ya gitu busuk banget. Meskipun, aku pendiam kalo ada acara keluarga, diam-diam aku memerhatikan dia. Hampir semua rencananya aku tahu, karena dia sempat ngajak kerjasama untuk ngambil sertifikat Bude waktu aku masih SMP. Dikira aku anak bego kali ya, aku gak mau lalu dia kayak benci gitu sama aku. Habis, itu aku ceritain ke Mama.”

“Ya Allah. Yaudah yuk, kok jadi gibah. Papa kamu udah nungguin.”

“Hehehe, yaudah yok. Semuanya udah dibawa?” Neno hanya mengangguk seraya menyuruh Netta segera keluar karena dia akan mengunci pintu.

Setelah mengunci pintu rumah, Neno berlari kecil seraya membukakan pintu mobil untuk Netta. Kemudian dihadiahi senyuman teduh oleh Netta.

Neno tersenyum seraya menutup pintu, lalu berlari kecil memutari mobil dan membuka pintu mobil. “Yok kita berangkat bayi kecil.” Gadis di sebelahnya hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya.

Selama perjalanan hanya terdengar suara musik yang menenangkan dari radio. Netta senantiasa menimang keponakannya yang masih tertidur pulas.

Bayi itu sangat nyaman di pelukan seorang gadis belia, dia sesekali menggeliat kemudian tertidur kembali.

“Nyaman banget ya dia,” sahut Neno.

“Tidur mulu dia, kayak aku.” Tangan kiri Neno mencubit hidung gadis di sebelahnya dengan gemas. Netta merintih sakit, dan mencubit perut lelaki itu. Mereka sama-sama merintih kesakitan dibarengi gelak tawa yang tertahan karenaada bayi sedang tidur.

Tak lama kemudian mereka sudah sampai di kediaman bude Netta. Mobil masuk ke dalam pelataran rumah, dan masuk garasi. Membuat seluruh tamu dan keluarga melihat dengan tatapan tanda tanya. Netta dan Neno keluar secara bersamaan.

Kehadiran mereka berdua sontak membuat seisi rumah menatap heran terutama keluarga besar Netta. Mereka menyeruak dari dalam rumah untuk melihat Netta dan Neno yang menggendong bayi.

Mereka berdua memang sudah terkenal jika bersahabat dalam keluarga Netta, begitupun sebaliknya.

“Netta? Ya ampun! Tante gak nyangka!” sindir seorang wanita paruh baya seraya menghampiri Netta dan mengambil alih bayinya.

“Kenapa Tante?” tanya Netta tidak paham dan memberikan bayi kecil itu dipelukan tantenya.

“Ini anak kamu?” bisik wanita itu serius.

“Ya ampun, ini anak alm. Bude Romlah. Tadi, mama dan papa sibuk ngurusin Bude Romlah.”
“Eh, maaf. Tante kira ini anak kalian berdua, habisnya serasi.” Netta dan Neno cengo mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Hubungan mereka hanya seatas sahabat, tidak lebih dari itu.

Saat akan masuk Netta mendengar jika dia sedang dibicarakan oleh para sepupunya. Dia tersenyum licik, perlahan memundurkan langkahnya. Tapi, ada tangan yang sedang menahan tubuhnya agar tidak mundur.

“Udah gak perlu diurusin, cepet gih ambil si ganteng,” ucap Neno seraya mendorong tubuh sahabatnya maju. Dia sudah paham bagaimana otak sahabatnya bekerja jika sedang digosipin.

Netta mengerucutkan bibir, semua rencananya gagal total. Kemudian berjalan sambil menghentakkan kakinya dengan kesal. Masuk rumah menyalami satu-persatu anggota keluarganya, diikuti Neno di belakangnya. Hampir semua anggota keluarganya suka akan kehadiran.

“Nak, Neno semakin ganteng aja,” puji wanita tua itu seraya mengelus-elus rambut lelaki yang sedang berjongkok menyalami tangannya.

“Hehe, nenek sehat?” tanya Neno.

“Alhamdulillah, gimana sama Netta? Udah mau nikah?”

👣👣


DOR! Gimana rasanya untuk kalian yang pernah ditanya kapan nikah?!

Ceritakan di kolom komentar 😂


Menjadi Jomo

Cr: PicsArt & pinterest
profile-picture
profile-picture
miniadila dan gustiarny memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20

[MJ] Part 13

“Ini anak kamu?” bisik wanita itu serius.

“Ya ampun, ini anak alm. Bude Romlah. Tadi, mama dan papa sibuk ngurusin Bude Romlah.”

“Eh, maaf. Tante kira ini anak kalian berdua, habisnya serasi.” Netta dan Neno cengo mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Hubungan mereka hanya seatas sahabat, tidak lebih dari itu.

Saat akan masuk Netta mendengar jika dia sedang dibicarakan oleh para sepupunya. Dia tersenyum licik, perlahan memundurkan langkahnya. Tapi, ada tangan yang sedang menahan tubuhnya agar tidak mundur.

“Udah gak perlu diurusin, cepet gih ambil si ganteng,” ucap Neno seraya mendorong tubuh sahabatnya maju. Dia sudah paham bagaimana otak sahabatnya bekerja jika sedang digosipin.

Netta mengerucutkan bibir, semua rencananya gagal total. Kemudian berjalan sambil menghentakkan kakinya dengan kesal. Masuk rumah menyalami satu-persatu anggota keluarganya, diikuti Neno di belakangnya.

Hampir semua anggota keluarganya suka akan kehadiran.

“Nak, Neno semakin ganteng aja,” puji wanita tua itu seraya mengelus-elus rambut lelaki yang sedang berjongkok menyalami tangannya.

“Hehe, nenek sehat?” tanya Neno.

“Alhamdulillah, gimana sama Netta? Udah mau nikah?”

“Belum, Nek. Kita mau kuliah dulu.” Netta segera mendekati Neno dan mencubitnya kesal, lelaki itu menunduk merintih kesakitan. Memang keluarganya sangat setuju jika dia menikah dengan Neno tetapi mereka hanya sebatas sahabat yang tidak ada rasa cinta.

“Nek, Neno udah punya pacar, jangan gitu ah,” timpal Netta dengan kesal.

“Loh, kalau jodoh kan gak ada yang tahu. Gini loh, Nduk arek ayu. Jodoh itu yang ngatur Tuhan, kita sebagai manusia hanya bisa mencari mana yang pas. Untuk urusan sehidup semati itu urusan Tuhan. Jodoh bisa saja orang terdekat kamu, atau orang yang sangat kamu benci. Gak ada yang tahu loh,” jelas wanita tua itu seraya tersneyum kepada cucunya yang selalu mengelak jika dipasangkan dengan Neno.

Neno dan Netta terdiam, mereka meresapi  kalimat yang diucapkan dari bibir tua itu. Memang benar ucapan neneknya itu, jodoh tidak ada yang tahu. Kita di dunia hanyalah sebagai wayang Tuhan.

“Netta, bayi ini anak kamu sama Neno?” tanya wanita paruh baya itu seraya menimang bayinya.

“Ini anaknya almarhum Bude Romlah, Tante. Bukan, anakku,” tandas Netta kesal. Seluruh pertanyaan yang dilontarkan benar-benar membuatnya kesal hari ini, yang dijodohin sama sahabatnyalah, yang anaknyalah, yang itu, yang ini, hade pusing banget.

“Titip sama Tante. Kalau nangis aku ada di kamar atas, mau istirahat, capek,” sindir Netta kemudian berjalan penuh kekesalan menuju lantai dua, kamarnya. Memang rumah ini seperti rumah kedua bagi Netta, pasalnya dia sering ke sini jika di rumah merasa kesepian dan bosan.

Neno tahu sahabatnya sudah muak dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa tantenya. Selalu membahas hubungan mereka yang hanya sebatas sahabat.

“Tante, kita ini hanya sebatas sahabat, kalaupun jodoh kita juga tidak tahu. Adeknya aku bawa ya, Tan?” jelas Neno seraya mengambil alih bayi itu ke dalam pelukannya. Sedari tadi bayi itu tidur meskipun sudah beralih dari tangan satu ke tangan yang lain.

“Hehehe, kelihatannya kalian seperti ada hubungan, yaudah tante lanjut dulu ke belakang,” balas wanita itu kemudian berjalan menuju dapur untuk melanjutkan kegiatannya.

Suasana siang ini semakin ramai, karena yang datang untuk takziah sangat banyak. Miftah beserta saudara dari istrinya menemui tamu yang berdatangan. Di dalam rumah terasa sesak. Akhirnya, Neno memutuskan untuk membawa bayi ke lantai dua—kamar Netta.

Tangannya sedari tadi tiada henti menoel-noel pipi bayi itu, sesekali menggeliatkan badan dan kembali tertidur dengan pulas.

“Ini sifat turunan dari Tante Netta ya? Hobby tidur bagaimanapun keadaannya,” ucap Neno terkekeh seraya menatap wajah damai bayi itu.

Sesampai di lantai dua Neno berjalan menuju kamar yang ada di pojok. Pintunya sedikit terbuka, dari celah lelaki itu bisa melihat seorang gadis sedang rebahan tangannya memegang ponsel. Sesekali cekikikan.

Lelaki itu hanya menggelengkan kepala, tangannya masih setia menimang bayi yang baru lahir beberapa jam yang lalu.
Kakinya melangkah pelan, dan mendorong pintu dengan lengannya.

Netta tidak sadar jika sahabatnya datang, dia masih terkikik meliha video di ponselnya.

“Ekhem! Si ganteng mau bobo.” Sontak Netta terperanjat kaget, dan menjatuhkan ponselnya di kasur.

“Ih! Neno!” teriak Netta dan melototkan mata kepada lelaki itu.

“Kondisi kayak gini, bantuin apa gitu, jangan main ponsel mulu ih.”

“Hm. Abisnya aku diomongin mulu. Males banget! Kayak gak ada topik lain aja.”

“Yaudah nih daripada main ponsel mending kamu urusin si ganteng, aku mau bantu di depan.” Lelaki itu meletakkan bayi itu di atas kasur, sesekali menoel pipi dengan gemas.

Kemudian berjalan mundur sambil tersenyum dan menutup pintu. Netta hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya yang dibatas waras.

“Sarap tuh anak.”

Di antara hari yang lain, hari ini yang amat melelahkan bagi Netta. Tubuhnya serasa akan lepas dari kerangkanya kalau saja tidak segera rebahan.

👣👣

HALO GANSIS!


NUNGGUIN YA?🤭


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih



Menjadi Jomo

cr: pinterest & PicsArt
profile-picture
profile-picture
miniadila dan gustiarny memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20

[MJ] Part 14

Hari pertama sampai hari ketujuh kematian sang Bude, Netta tidak mau tidur di sana dengan alasan malas menanggapi semua ucapan saudaranya. Bagi dia semua keluarganya semakin toxic kalau ditanggapi terus menerus dan berujung gibah. Saling membanggakan yang dimiliki, tidak mau mendengarkan, dan menutup telinga ketika orang berbicara.

Netta sangat tidak suka hal itu, apalagi julukannya sebagai ratu tidur masih melekat sampai sekarang. Memang dia gampang banget tidurnya, tetapi janganlah jadikan label.

Awalnya memang tidak terlalu peduli, tetapi semakin ke sini membuatnya risih dan malas bertemu. Semua sepupu memanggilnya ratu tidur, bahkan umur mereka masih di bawahnya.

Apa itu sopan?

“Daripada pusing mikir hal yang gak penting, mending stalker suami saja lebih baik.” Netta turun dari atas ranjang berjalan menuju meja belajarnya mengambil ponsel yang sedang di isi daya. Sebelum mencabut, dihidupkan terlebih dahulu melihat daya baterainya.

“Udah full.” Dengan riang Netta mencabut kabel isi daya dan berselancar di dunia maya. Semua orang rumah sedang pergi ke rumah almarhum Bude Romlah sejak tadi pagi termasuk Neno, dia sedang ditugasi mengurus rumah.

Setelah semuanya pergi Netta  langsung beraksi beres-beres rumah sambil mendengarkan musik, semuanya berjalan lancar tanpa ada komentar dari Papanya.

Pada dasarnya jika saja Papanya tidak menyuruhnya untuk mengerjakan ini itu sudah pasti dia akan melakukan dengan senang hati, yang membuat malas adalah ketika sudah akan mengambil sapu justru baru disuruh. Awalnya bersemangat, berubah jadi malas.

Asyik berselancar di dunia maya tiba-tiba sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk. Pesannya berisi:

+6285555045321
Assalamualaikum Anneth!

Gimana kabarnya?

Netta mengerutkan keningnya, menatap layar ponselnya heran. “Ini nomor siapa sih?” ucapnya bertanya-tanya. Tetiba ide gila muncul di kepalanya, mengetikkan pesan seraya tersenyum smirk.

Istri orang Thailand

Maaf ini Mamanya

Kalau memang suka sama anakku silahkan ke rumah

Itu menunjukkan cowok yang gentle

+6285555045321

Baik, Tante

Saya dalam perjalanan ke rumah Tante

Netta melemparkan ponselnya membaca balasan dari lelaki tersebut. Senjata makan tuan ini namanya, bego. Jantungnya berdegup kencang, tangannya bergetar, perasaan takut menghantui. Apakah benar lelaki itu akan datang? Atau hanya sekadar basa-basi?

Tanpa berniat membalas pesan tersebut, Netta menuruni tangga dengan perasaan campur aduk dan merutuki kebodohannya. Kakinya gemetar, tangannya memegang kuat teralis besi pinggiran tangga. Matanya memandang kosong.

“Bego, bego, bego,” rutuk Netta seraya menuruni tangga perlahan. Kemudian tangan kirinya menepuk pipi kirinya untuk menyadarkan dia, dan berjalan cepat menuju dapur untuk minum.

Mengambil minum saja hampir sepuluh menit, biasanya hanya dua menit sudah sampai dapur. Membuka kulkas dan mengambil botol air minum. Tidak ada niatan untuk minum pikirannya masih berkecamuk memikirkan lelaki yang baru saja mengiriminya pesan.

Apakah dia benar-benar datang? Sekadar guyonan? Bahkan aku tidak tahu siapa dia.
Baru kali ini Netta menanggapi pesan dari nomor yang tidak dikenal, biasanya yang membalas sahabatnya. setiap seminggu sekali sahabatnya menghapus pesan dari nomor yang tidak dikenal atau jika jiwa usil Neno muncul maka akan membalasnya satu persatu.

Bahkan, Neno juga mendapat pesan dari pengagum rahasianya. Justru, lebih banyak pesan yang Neno terima. Ada saja isinya; minta nomor telepon Netta, alamat rumah, baju kesukaan, nomor sepatu, dan masih banyak lagi. Lelaki itu juga tidak risih, karena Netta pun begitu dia dicecar secara langsung oleh para fansnya.

Dua sejoli bersahabat itu memiliki fans yang banyak, bedanya jika Netta tidak pernah ada yang mengatakan secara langsung hanya sebatas pengagum rahasia. Jika Neno banyak yang berterus terang di depannya jika mereka ngefans.

Neno masih merespon, tetapi Netta tidak mau merespon. Bahkan, terkadang menyuruh sahabatnya itu memegang kendali whatsappnya. Jika ada tugas tinggal telepon, jika tidak paham materi akan bertanya kepada Neno lewat video call.

Suara motor di pekarangan rumah menyadarkan lamunan Netta, dia terlonjak kaget dan segera berlari naik ke kamar untuk melihat siapa yang datang. Jantungnya kembali berdegup kencang. Matanya menatap awas sekelilingnya. Sesampai di balkon dia membungkukkan badannya, mata tajamnya menelisik siapa yang datang. Napas berderu, masih berusaha menormalkan degub jantungnya.

Dari sela-sela pagar balkon, terlihat seorang lelaki tidak dikenal sedang merapikan rambutnya dengan jari. Badannya tegap, memakai pakaian casual. Lelaki itu seperti tidak asing di matanya. Otaknya mencoba mengingat, tetapi tidak berhasil. Tangannya memukul pelan kepalanya agar segera mengingat siapa yang tengah berjalan menuju pintu rumahnya.

Belum sempat mengingat, terdengar ketukan pintu di depan rumah. Netta melototkan mata, beruntung dia berpakaian tertutup tidak lupa memakai kerudung. Menuruni tangga dengan perasaan was-was.

Sebelum membuka pintu Netta menghirup udara lewat hidung dan mengeluarkan lewat mulut. Setelah benar-benar normal degup jantungnya, Netta membuka pelan pintunya. Pintu belum sepenuhnya terbuka, pandangan Netta terpaku kepada seorang yang sedang berdiri di depan pintu.

“Assalamualaikum.”

👣👣

DOR! SIAPATUH YANG DATANG? NENO ATAU COWOK TADI?

⚠️DIREVISI KETIKA SUDAH COMPLETED ⚠️


Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih




Menjadi Jomo

cr: pinterest & PicsArt


#BBB
profile-picture
profile-picture
miniadila dan gustiarny memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20

[MJ] Part 15

"Assalamualaikum," ucap lelaki itu menyadarkan lamunan gadis di depannya.

"Wa-wa'alaikumusslam, maaf ini siapa?" tanya Netta dengan suara bergetar.

"Yang tadi ngirim pesan, katanya disuruh ke sini?"

Secepat mungkin Netta menutup pintu. Netta menyandarkan punggungnya di pintu, tangannya masih setia memegang gagang pintu. Jantungnya kembali berdegup kencang. Sungguh ini di luar dugaan.

"Netta? Aku suka sama kamu, makanya aku ke sini, tadi mama kamu sendiri yang bilang," cerocos lelaki itu seraya mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban. Netta membisu. Dia sendiri tidak berani menemui seorang lelaki kecuali kalau bersama sahabatnya, dan sekarang keadaannya dia sendirian di rumah.

Otaknya memberi perintah untuk mengusir lelaki itu, hatinya memberi perintah untuk menemui lelaki itu. Terjadi perang batin selama lima menit, Netta sungguh tidak tahu harus bagaimana.

"Yaudah kalau kamu gak mau keluar. Aku seorang Arvin yang pernah menyukaimu, kamu juga sayang aku, kan? Aku tahu dari teman sekelas." Lelaki itu kemudian terdiam menghela napas pelan, sebenarnya sudah lama sekali dia ingin mengatakan ini tetapi selalu saja ada halangan. Inilah saatnya menyatakan perasaan agar dia lega.

"Sebenarnya aku pingin menyatakan semua ini sejak lama, tetapi ada saja halangannya. Aku pergi tanpa pamit, ya? Maaf, aku tidak sempat meminta nomormu saat itu. Di pondok juga tidak boleh pegang ponsel, saat pulang aku ingin menghubungimu tetapi tidak punya nomormu. Tanya teman-teman juga tidak ada yang tahu, kamu ganti nomor. Sampai suatu hari, aku membuat akun sosial media dan mencoba mencarimu, tetapi akunmu tidak pernah aktif, dan aku diberitahu nomormu oleh salah satu teman kita. Satu bulan aku mencoba mengumpulkan niat, baru tadi pagi aku berani mengirimimu pesan."

Di dalam Netta terisak, menangis sesegukan. Dia masih tidak percaya dengan yang di dengarnya, semua seperti terjadi begitu saja. Dadanya terasa sesak.

"Jangan menangis, maaf aku selalu saja membuatmu menang-"

"Cukup, kamu pulang aja, aku masih ingin hatiku sehat dengan tidak membenci kamu."

"Baik, kalau itu maumu. Terimakasih sudah mau mendengarkan semuanya."
Lelaki itu beranjak pergi menuju garasi, langkahnya terasa berat meninggalkan teras rumah ini.

Setengah hatinya masih tertinggal di dalam rumah ini. Tetapi hatinya terasa lega telah mengucapkan yang selama ini mengganjal di dalam hatinya, yang telah membuat hari-harinya terasa berat dan ingin segera keluar pondok.

Lelaki itu menghela napas lega. "Ya Allah, jika memang dia jodohku kumohon lembutkanlah hati kita, berilah kemudahan kita untuk menuju jalan yang Engkau ridhoi. Jika bukan jodoh tabahkanlah hati kita berdua."

Setiap hari dia merapalkan do'a tersebut.
Sebuah kalimat mutiara yang selalu lelaki itu ingat, yaitu 'sejauh apapun jarak, jika nama kita tertulis dalam lauhul mahfudz sudah pasti akan bersatu'.

***

"Pa, aku berdo'a semoga anak ini menjadi pemernyatu keluarga kita. Netta menyayangi bayi ini," ucap Maryam seraya menimang bayi yang sampai saat ini belum diberi nama, namun dia memanggil bayi itu Rey. Sejak dulu memang sudah menyiapkan nama untu anak lelakinya yaitu Reyvanza Fernanda.

"Semoga saja, Ma. Aku harap dia bisa bercerita banyak hal layaknya anak teman-temanku yang bisa dekat sekali seperti seorang sahabat."

"Iya, Pa. Aku terkadang iri sama Papa yang bisa membahas tentang kopi dengan Netta, meskipun dia menjawab seperlunya. Aku tidak memiliki bahan pembicaraan dengan anak kita."

"Kita memiliki masalah yang sama, Ma. Kelebihanku ada topik dengan Netta, sedangkan Mama setiap hari di rumah jadi kemungkinan besar dia bisa lebih dekat denganmu."

"Benar juga, Papa."

"Siapa dulu dong," ucap Miftah seraya menaik turunkan alisnya dan memasang wajah genit.

"Iya, Abang Miftah."

Keinginan lelaki paruh baya itu hanya satu; bisa dekat dengan anaknya layaknya seorang sahabat. Tetapi, jika sedang berkumpul seperti ada tembok besar yang menghalangi.

Entah, itu karena egois keduanya atau anaknya yang terlalu fokus dengan dunianya; bermain ponsel. Setiap hari dia mencoba mengikis egois di dalam diri, meskipun semuanya sulit. Lelah, sudah pasti. Tetapi, kedekatan dengan anaknya yang sangat di impikan.

Maryam sebagai istri juga berusaha keras agar bisa meluluhkan sifat anaknya yang keras seperti suaminya. Mereka memiliki sifat yang sama, keras. Jadi, untuk menyatukan mereka masih sangat sulit.

Namun, itu semua tidak menyurutkan niat hati seorang istri yang ingin menyatukan kehangatan antara ayah dengan anaknya. Kebahagiaannya sederhana, melihat suami dan anaknya tersenyum sudah cukup.

Terlahir dari keluarga sederhana membuat Maryam selalu mensyukuri nikmat yang dimilikinya. Tidak pernah mengeluh menjalani hidup yang sederhana, itulah letak keistimewaannya yang membuat suaminya semakin cinta. Senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya, meskipun berbagai cobaan hidup harus dihadapi.

Mungkin itu menjadi salah satu resep awet muda. Semua wanita iri dengan kecantikan wajah Maryam yang masih tampak muda walau usianya sudah menginjak tiga puluh sembilan. Tidak jarang jika sedang mengambil rapot anaknya, semua Ibu teman sekelasnya selalu menanyakan resep awet muda. Dengan sabar Maryam menjawab satu-persatu.

Meski ada saja yang tidak percaya atau kurang puas dengan jawaban Maryam, dia tidak peduli akan hal itu yang terpenting dia mengatakan yang sebenarnya tanpa menutup-nutupi.

Semasa SMA dia juga menjadi cewek most wanted di sekolahnya, tetapi justru membuat dia malu keluar kelas. Bukan hanya wajah cantik saja, tetapi otaknya juga sangat cerdas. Masa SMAnya dihabiskan untuk ikut lomba sana-sini, sebenarnya dia tidak mau tetapi guru memaksanya untuk ikutan. Tidak heran jika di kamarnya terpajang jejeran piala di lemari kaca, sertifikat lomba juga baik region atau nasional.

Dia memiliki pasangan jika ikut lomba yang menjadi sahabatnya sampai saat ini. Mereka berdua keluar masuk ke sekolah untuk mewakili.

Jika mengingat masa itu, Maryam sadar jika dia sangat ambisius meskipun ada unsur paksaan dari guru, dia selalu melakukan dengan senang hati dan tidak pernah merasa terpaksa.

"Ma, aku kerja sudah seperti biasa, bisa mengurus Rey sendiri?" celetuk Miftah membuyarkan lamunan istrinya.

"Iya, Pa. Aku bisa mengurus kok, kan ada Netta dan Neno."

"Mereka berdua benar-benar bersahabat?"

👣👣👣

Jeng jeng jeng! Kira-kira sahabatan nggak ya? Atau ada rasa?🙈

Nantikan di part selanjutnya 😘

⚠️AKAN DIREVISI SETELAH COMPLETED⚠️

Jangan lupa cendol segar, rate dan bagikan. Belajar Bersama Bisa dan Terimakasih




Menjadi Jomo

cr: pinterest & PicsArt
profile-picture
profile-picture
miniadila dan gustiarny memberi reputasi
Diubah oleh raaaaud20
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di