CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kutunggu Jandamu, Dik Romlah!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f0440fb68cc95362f6c8c38/kutunggu-jandamu-dik-romlah

Kutunggu Jandamu, Dik Romlah!

Spoiler for :




Part 1 : Romlah Si Gadis Desa
Spoiler for arjuna dan banuwati:

Gadis tigabelas tahun itu berlari lari kecil memasuki rumahnya, melempar tas sekolahnya ke atas sofa di ruang tamu, lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Sambil bernyanyi nyanyi kecil ia mengganti seragam putih birunya dengan celana sebatas lutut dan kaos bergambar tokoh kartun mickey mouse.

Suara kambing mengembik membuat gadis itu berlari keluar rumah, lalu duduk di bangku teras, pura pura membaca komik detective conan yang dibawanya. Hanya pura pura, karena ekor matanya justru tertuju ke jalanan tanah di depan rumahnya.

Dadanya sedikit berdebar, saat suara kambing itu semakin mendekat. Bukan. Bukan kambing kambing itu yang ia tunggu untuk lewat di depan rumahnya. Tapi si empunya kambing.

Tak lama, yang ditunggu tunggu datang juga. Gadis itu memperbaiki posisi duduknya, sambil matanya terus mengintip dari balik buku yang ia pegang.

Gerombolan kambing mulai nampak berbaris lewat di jalan itu. Sesekali mengembik, sesekali menyambar dedaunan semak di pinggir jalan lalu mengunyahnya. Seorang anak laki laki menggiring kambing kambing itu, dengan cangkul tersangkut di bahu.

"Hey, kliwon, jangan kesitu!" seru anak itu saat salah seekor kambingnya berbelok ke halaman rumah si gadis, lalu dengan lahapnya merenggut dan mengunyah daun singkong yang tumbuh subur di halaman itu.

"Dasar nakal," anak itu menghalau kambingnya agar kembali ke jalan. "Maaf ya, kambingku memakan tanaman singkongmu."

"Eh, i.....iya, ndak papa kok," gugup gadis itu menjawab, lalu berlari masuk ke dalam rumah. "Dia menyapaku", seru gadis itu dalam hati. Wajahnya memerah, matanya terpejam dengan tangan menakup di depan dada. Bunga bunga indah bermekaran di hatinya.

"Romlah!" sebuah seruan membuyarkan lamunan gadis itu.

"Eh, iya mak," gadis itu menyahut gugup.

"Ngapain di situ? Pulang sekolah bukannya cepat cepat makan malah melamun," seru sang ibu lagi.

"Iya, sebentar mak," gadis itu mengintip lewat kaca jendela rumahnya. Ah, sayang, anak itu sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya. Hanya suara kambingnya yang terdengar semakin menjauh.

"Hey, ngapain sih?" kembali gadis itu terkejut saat tiba tiba Mak Yatmi telah berdiri di belakangnya.

"Eh, enggak mak," gadis itu tersipu, lalu bergegas melangkah menuju meja makan, menghindari pandangan emaknya yang masih berdiri sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

"Mak, habis makan boleh nggak aku main ke sawah?" gadis manis berambut panjang sepinggang itu berkata, sambil mengunyah makan siangnya.

"Ngapain? Main kok ke sawah." sahut Mak Yatmi sambil sibuk membereskan dapur.

"Eh, ini mak, mau....." gadis itu berpikir sejenak, mencari alasan yang tepat. "Mau nyari belalang. Iya, belalang, buat tugas sekolah."

"Kenapa harus jauh jauh ke sawah?" Mak Yatmi menarik kursi dan duduk di depan anak sulungnya itu. "Di kebun depan rumah itu kan banyak belalang. Nggak usah jauh jauh ke sawah. Lagian panas begini, nanti kulitmu jadi hitam lho."

"Nanti Romlah pake topi deh, sama baju lengan panjang juga, biar nggak hitam." rayu gadis itu lagi.

"Hmmm, ya sudah, terserah kamu deh," sahut Mak Yatmi. "Tapi jangan pergi sendiri. Ajak adikmu. Dan jangan main main dekat sungai. Bahaya, nanti kamu bisa diculik wewe gombel."

Bla bla bla, masih banyak lagi yang diucapkan perempuan itu kepada anak kesayangannya. Romlah tersenyum. Sudah biasa ia mendengarnya. Yang terpenting, ia sudah mendapat ijin untuk main ke sawah, meski harus sedikit berbohong. Karena sebenarnya tak ada tugas dari sekolah untuk mengumpulkan belalang.

****

"Ngapain sih Mbak main main disini, panas tahu," Zaenab memonyongkan bibirnya, sambil mengikuti langkah sang kakak menyusuri pematang sawah. "Mending juga di rumah, main congklak atau bola bekel!"

"Sudah, jangan banyak protes," sahut Romlah yang berjalan di depan. "Nanti tak traktir baksonya Kang Pardi deh, asal kamu nggak banyak protes."

"Beneran ya," mata Zaenab berbinar membayangkan lezatnya bakso Kang Pardi yang mangkal di ujung kampung.

"Iya," jawab Romlah. "Nanti malam, habis sholat isya' kita jajan bakso."

"Asyiiiikkkk.....!!!" seru Zainab.

Kedua kakak beradik itu sampai di bawah pohon trembesi yang rindang. Romlah duduk di atas batu besar yang ada di bawah pohon itu, diikuti sang adik.

"Ngapain kita disini Mbak?" tanya Zainab. "Katanya mau nyari belalang?"

"Nanti saja nyari belalangnya, masih panas," mata Romlah tertuju pada seorang anak yang sibuk mencangkul di tengah sawah tak jauh dari tempat itu. Anak yang tadi lewat depan rumahnya sambil menggiring kambing. Anak yang tadi menyapanya di depan rumah.

"Tapi nggak disini juga kali berteduhnya," Zainab, anak bawel itu masih saja protes. "Bau kambing tau!"

"Bawel kamu," sungut Romlah. "Nanti nggak jadi aku traktir bakso kalau masih kebanyakan protes."

"Iya deh," Zainab diam, lalu asyik memperhatikan kambing kambing yang asyik merumput di sekitar situ. Romlah juga diam, memperhatikan anak yang sibuk bergelut dengan lumpur di tengah sawah. Sampai sore menjelang, dan matahari hampir tenggelam, hanya itu yang mereka lakukan. Sampai akhirnya...

"Eh, ngapain kalian disini?" seruan anak laki laki itu mengagetkan Romlah. Wajahnya memerah, lalu tertunduk, tak berani membalas tatapan anak laki laki itu.

"Mas Joko, dapat belut banyak yaa..." Zaenab menatap serenteng belut yang dipegang anak laki laki itu.

"Yach, lumayanlah," Joko, anak laki laki itu mengulurkan belut yang ditentengnya. "Kamu mau?"

"Eh," mata Zainab berbinar. "Beneran buat aku?"

"Iya, nih, ambil saja kalau mau. Aku masih punya banyak di rumah,"

"Asyiiikkkk, makasih mas," Zainab menerima belut yang diberikan oleh Joko. Lumayan, ada sekitar sepuluh ekor, dan besar besar pula. Bisa dibuat sambal atau digoreng untuk makan malam nanti.

"Iya, sama sama," sahut Joko sambil berlalu. Hari susah sore. Sudah waktunya untuk pulang.

"Eh, tunggu," seru Romlah, membuat Joko menghentikan langkahnya.

"Iya, kenapa?" Joko menoleh, membuat Romlah kembali tertunduk malu.

"Boleh kami..... pulang bareng kamu?" akhirnya Romlah memberanikan diri untuk bicara, meski dengan suara gemetar.

"Ayolah," sahut Joko singkat. Merekapun pulang bersama. Joko berjalan di depan sambi menggiring kambing kambingnya. Sedang Romlah dan Zaenab mengikuti dari belakang. Mereka berjalan dalam diam. Romlah si gadis pemalu, dan Joko si anak pendiam. Hanya suara nyanyian kecil Zainab yang memecah kebisuan. Sampai mereka berpisah di persimpangan jalan.

****

Zainab menarik tangan Romlah keluar dari musholla. Sholat isya' baru saja selesai, tapi anak itu sudah tak sabar ingin menagih janji kakaknya siang tadi.

"Apaan sih Nab?!" sungut Romlah.

"Bakso mbak, kan tadi dah janji mau beliin bakso." jawab Zainab.

"Ya ampuuuunnn, kamu kan tadi sudah makan sebelum berangkat ke musholla." seru Romlah.

"Iya, tapi sudah lapar lagi," Zainab tertawa kecil. "Lagipula kan Mbak Romlah sudah janji tadi. Ingat, janji adalah hutang. Kalau nggak ditepati dosa loh Mbak."

"Iya iya, tapi pelan pelan dong jalannya, jangan pecicilan gitu. Kamu itu anak perempuan lho." Romlah mengingatkan. Zainab hanya tertawa kecil. Anak itu tingkahnya memang seperti anak laki laki. Lincah, energic, dan periang. Berbeda dengan sang kakak yang pemalu dan pendiam.

"Eh, Nab, kakak janji bakalan beliin kamu bakso, kalau kamu berhasil mengajak Joko ikut makan bakso bersama kita," bisik Romlah saat ia melihat ada Joko di tengah tengah gerombolan anak laki laki yang berjalan di depan mereka.

"Eh, kenapa juga harus mengajak mas Joko? Jangan jangan......." mata Zainab melebar, "mbak Romlah naksir yaaaaa sama mas Joko."

"Hush, sembarangan kalau ngomong," sentak Romlah dengan pipi memerah. "Kan tadi dia sudah ngasih belut ke kamu. Jadi nggak salah kan kalau gantian kita yang ngajak dia makan bakso."

"Oh, begitu toh," sahut Zainab. "Oke lah kalau begitu."

"Eh, tunggu," Romlah menahan Zainab yang sudah siap siap untuk menghampiri Joko. "Tapi jangan bilang bilang kalau aku yang menyuruhmu yaaa,"

"Emmmmmm.......," Zainab berpikir sejenak, lalu, "Siiiiipppp dech," anak itu lalu berlari lari kecil menghampiri gerombolan anak laki laki yang berjalan di depan mereka.

"Mas Joko," seru Zainab.

"Ya," Joko menoleh.

"Ikut kita makan bakso yuk," tanpa basa basi Zainab langsung menarik tangan Joko, disambut oleh seruan ciee ciee dari teman temannya.

"Eh, tapi.....,"

"Ayolah," Zainab memotong ucapan Joko. "Tadi kan mas Joko sudah ngasih aku belut. Sekarang gantian kita yang nraktir Mas makan bakso. Tenang saja, Mbak Romlah kok yang nraktir."

"Eeeeee, tapi......," Joko garuk garuk kepala saat sudah tiba dihadapan Romlah. "Aku nggak bisa. Lain kali saja ya, aku banyak PR hari ini."

Joko melepaskan tangan Zainab yang memegang lengannya, lalu melangkah menjauh. Namun baru beberapa tindak, langkah Joko terhenti saat mendengar suara Romlah memanggilnya.

"Joko," pelan suara Romlah, nyaris tak terdengar. "Kamu bohong kan?"

"Eh....," Joko menoleh.

"Iya, kamu bohong," kata Romlah. "Aku tahu hari ini nggak ada PR."

"Emmmm....., iya, maksudku...." Joko garuk garuk kepala. Memang nggak ada PR hari ini. Ia menolak, karena ia memang tak memiliki uang sepeserpun di kantongnya. Nggak lucu kalau makan bakso harus dibayari sama Romlah.

"Ya sudah kalau nggak mau nggak papa kok," kata Romlah lagi. "Yuk Nab, kita makan berdua saja."

Zainab mengikuti langkah sang kakak. Sedang Joko masih berdiri mematung di tempatnya. Sekilas tadi ia melihat gurat kekecewaan di wajah Romlah. Kembali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu berbalik melangkah pulang.*****


INDEKS:

Part 1 :Romlah Si Gadis Desa

Part 2 :Kisah Semangkok Bakso

Part 3 :Aku, Kamu, Bintang, dan Rembulan

Part 4 :Sekotak Nasi Bekal

Part 5 :Skorsing

Part 6 :Kuch Kuch Hota Hai

Part 7 :Happy B'day Romlah!

Part 8 :Kado Terindah Untuk Romlah

Part 9 :Hari Kelulusan

Part 10 :Haruskah Kita Berpisah?

Part 11 :Sebuah Perpisahan, Sesakit Inikah Rasanya?

Part 12 :Welcome To Jakarta!

Part 13 :Sepucuk Surat Pelepas Rindu

Part 14 :Mbak Lilis

Part 15 :Bimo

Part 16 :Lilis Aja, Nggak Usah Pakai Mbak!

Part 17 :Kisah Lilis

Part 18 :Pulang Kampung

Part 19 :Mengenang Sebuah Kenangan

Part 20 :Waduk Gajah Mungkur

Part 21 :Cemburu

Part 22 :Dilema

Part 23 :Kamu Terlambat, Romlah!

Part 24 :Dik, Mas Kembali Demi Adik!

Part 25 :Semalam di Rumah Romlah

Part 26 :Seruni

Part 27 :Kisah Seruni

Part 28 :Malam Minggu di Toko Hadi

Part 29 :Tiga Hati Satu Rasa

Part 30 :Surprise Buat Romlah

Part 31 :Nasehat Romlah

Part 32 :Sakit Atau ....

Part 33 :Pengakuan Romlah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adityasatriaji dan 24 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Halaman 1 dari 12
Hai gansist, jumpa lagi dengan thread ane yang ke 5. kali ini ane coba hadirkan sebuah cerita yang sedikit berbau bau romance gitu. moga saja bisa update sampai tamat. buat yang suka horror, di pending dulu ya horrornya. terutama yang request buat unlock dan memperpanjang thread "TEGAL SALAHAN", jangan khawatir, sambil menyelesaikan thread ane, ane akan coba lagi buat ngumpulin data buat ngelanjutin thread tersebut. jadi ditunggu saja yaaaaa.....
but, selamat menikmati cerita sederhana ini, semoga berkenan di hati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
husnamutia dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Joko selalu sama Romlah yaa om?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bgssusanto88 dan 4 lainnya memberi reputasi
Quote:


Penasaran yaaaaa, lkuti saja kisahnya, balada cinta joko dan romlahemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Richy211 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Wuihh.. Genree romance nih..
Lanjut..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Siap mbah, baru mulai nih
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Mbahjoyo911 memberi reputasi
Quote:


Kalau dilihat dari judulnya sih...........

Ada kata "janda"nya soalnya
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Richy211 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Joko(perjaka) ketemu janda kayaknyaemoticon-Ngakak
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Tegal salahan , sekuelnya po'o mas'e?
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan indrag057 memberi reputasi
Quote:


Ditunggu ya gan, insya Allah nanti abis thread ini selesai ane update. Ini masih ngumpulin bahan2nya dulu
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Lihat 1 balasan
bagus.
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan indrag057 memberi reputasi
Lanjuuuttt.....ikut nunggu jandanya Romlah...
Sambil nunggu gedhenya Zainab.....:goyang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Tar ya gan, ane usahain, kalau ada yang cocok ane kasih mulustrasinya
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan pulaukapok memberi reputasi
Quote:


Makasih ganemoticon-Nyepi
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Wkwkwkwk, agan mo poligamiemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan beqichot memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Takdir yang ga bisa ditolak ya ganemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan beqichot memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Part 2 : Kisah Semangkok Bakso

Spoiler for mulustrasi Romlah remaja:


Hari masih pagi. Ruang kelas masih sepi. Romlah duduk termenung di bangkunya, saat anak itu masuk ke dalam kelas. Melangkah begitu saja melewatinya. Tanpa melirik atau menegur sama sekali.

Romlah semakin dongkol. Bibir mungilnya cemberut. Sampai tak sadar saat teman sebangkunya datang dan duduk di sebelahnya.

"Woy! Pagi pagi udah ngelamun!" sentak Suci sambil menepuk bahu Romlah, membuat gadis itu terlonjak kaget.

"Uci! Bikin kaget saja kamu!" Romlah melotot, membuat gadis tomboy di sampingnya tergelak.

"Lagian, pagi pagi udah ngelamun aja. Mikirin apa sih nek?" Suci, atau yang biasa dipanggil Uci, membuka bungkus permen bergagang berbentuk kaki kesukaannya, lalu mengulumnya dengan rakus.

"Tuh!" masih dengan muka masam Romlah menelengkan kepalanya ke arah Joko yang duduk di belakang. Selisih dua bangku dari tempat kedua gadis itu duduk.

"Eh, kenapa dengan anak itu?" Uci mengernyitkan dahinya. "Jangan bilang kalau kamu......"

"Ssssttttt...." Romlah segera membekap mulut Uci. "Kita ke kantin yuk."

"Siiippp deh," Uci tanggap dengan isyarat yang diberikan Romlah. "Kamu yang traktir yaa,"

"Beres," kedua gadis remaja itu segera bangkit dan berlalu meninggalkan ruangan kelas 2 E.

****

Jam istirahat pertama.
Romlah asyik menikmati segelas es jeruk di kantin, saat anak itu datang dan duduk di sebelahnya.

"Aku minta maaf," kata anak itu tanpa basa basi.

"Eh," Romlah menoleh ke arah anak itu. "Maaf untuk apa?"

"Soal yang semalam," anak itu memanggil pemilik kantin dan memesan semangkok bakso.

"Yang semalam?" kembali Romlah menoleh. Wajahnya menyiratkan ketidakmengertian.

"Tawaran buat makan bakso," anak itu menerima semangkok bakso pesanannya, lalu menyodorkannya ke depan Romlah. "Uci sudah cerita semuanya kepadaku. Nih, makanlah. Aku yang traktir."

"Cuma satu?" gadis itu semakin bingung.

"Uangku hanya cukup untuk semangkok, upah memetik kelapa di kebun wak Ahmad kemaren." kata anak itu datar. "Nggak papa kan? Yang penting masih bisa makan bakso bareng."

"Emmm, iya sih, tapi...." Romlah masih kebingungan. "Biar kupesan satu lagi untukmu. Aku yang bayar."

"Nggak usah," kata anak itu. "Aku masih kenyang kok."

Masih kenyang katanya, Romlah tau itu bohong. Ia tahu betul kondisi anak itu. Belum tentu seminggu sekali ia bisa sarapan sebelum berangkat sekolah. Nggak setiap hari juga ia punya uang jajan di kantongnya, karena Romlah tahu, untuk mendapatkan uang jajan anak itu harus berusaha sendiri. Dan, seumur umur baru kali ini ia lihat anak itu datang ke kantin.

"Ya sudah kalau begitu," Romlah mengambil dua pasang sendok dan garpu. "Ini kita makan berdua saja."

"Eh," kini anak laki laki itu yang terheran heran.

"Kenapa?" tanya Romlah. "Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak mau makan bakso ini. Dan aku juga nggak mau memaafkan kamu!"

"Emmm, baiklah kalau begitu," kata anak itu menerima sendok dan garpu yang disodorkan Romlah. Jadilah semangkok bakso itu mereka makan berdua. Sisa es jeruk di gelas Romlah juga mereka minum berdua. Agak canggung awalnya, apalagi mulai terdengar kasak kusuk dari siswa siswi lain yang ada di kantin itu.

Romlah merasa tak enak mendengar kasak kusuk itu. Tapi Joko nampak biasa saja, bahkan terkesan tak peduli.

"Kamu nggak marah?" tanya Romlah setelah isi mangkok mereka berpindah ke perut.

"Marah kenapa?" tanya Joko heran.

"Mereka selalu mengejek dan menghinamu," Romlah sedikit berbisik sambil melirik anak anak yang ada di kantin itu.

"Kenapa harus marah?"

"Mereka selalu mengata ngataimu."

"Tak ada alasan untuk marah kan? Toh apa yang mereka bilang itu benar. Dibilang miskin, aku memang miskin. Dibilang kuper, aku memang....."

"Sssstttt....," Romlah menempelkan telunjuknya di depan bibir Joko. "Jangan pernah katakan itu di depanku."

"Kenapa?" tanya Joko.

"Nggak papa," Romlah mengelap bibirnya dengan sehelai tissue. "Kita kembali ke kelas yuk, waktu istirahat udah hampir habis"

Joko membayar bakso pesanannya, lalu berjalan beriringan menuju kelas. Entah disengaja atau tidak, Romlah menggandeng tangan Joko, membuat anak itu menghentikan langkahnya.

"Kenapa berhenti?" tanya Romlah heran. Joko tak menjawab, hanya menatap ke arah tangan Romlah yang menggandengnya. Seketika wajah Romlah memerah, melepaskan pegangan tangannya dan berlari menuju kelas, meninggalkan Joko yang masih terpaku dan menggeleng gelengkan kepalanya. Tak habis mengerti dengan tingkah gadis itu.****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
qoni77 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Lihat 4 balasan
Quote:


Ane juga mau sih, tapi......


Banyak tapinyaemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan beqichot memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Baca ini jadi inget masa masa muda lagi.

Lanjutkan gan.....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbahramil dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Siap gan. Makasih singgahannya yaaaemoticon-Nyepi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bgssusanto88 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Wkwkwkwk, sama ternyata ya
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Halaman 1 dari 12


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di