CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f01df0768cc950f4e3fb202/jic-ke-depan-harus-jadi-pusat-perubahan-islam-dunia

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia

RADAR NONSTOP - Jakarta Islamic Centre (JIC) ke depan harus menjadi pusat perubahan Islam di ibu kota, nasional hingga internasional. Sebagai lembaga dakwah, JIC juga harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Islam.

Hal ini dikatakan ulama Jakarta yang juga Ketua Majlis Taklim AR-Rasyid Jakarta, Kyai Salim Thohir kepada wartawan di Jakarta. Menurutnya, JIC ke depan tidak lagi dikelola oleh orang yang hanya sekedar paham agama tapi harus memiliki jaringan luas dan mampu membawa perubahan.

Majlis Taklim AR-Rasyid Jakarta berdiri oleh Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) DKI Jakarta. Pengajian perdana digelar di rumah dinas Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan di Jalan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.

Ar Rasyid digunakan bukan semata-mata merupakan nama tengah Anies, namun juga karena nama ini termasuk Asmahul Husna, dan memiliki arti yang sangat bagus yakni Rasyid artinya cerdik.

"Jaringan secara nasional hingga internasional. Denyut dan nafas Islam di ibu kota harus menggema ke dunia internasional dan bukan acara-acara seremonial saja," ungkap Kyai Saltho sapaan akrab Salim Thohir, Rabu (1/7).

JIC menurutnya, harus mampu menjadi pusat pengembangan sumberdaya muslim, pengkajian data dan informasi serta budaya Islam di ibu kota yang bertarap internasional.

"Bukan lagi bicara sebatas hal kecil. Mampu mewujudkan pusat pengembangan lslam Jakarta sebagai landmark dengan sosok fisik yang monumental bernuansa lslami di mana masjid sebagai sentrum-nya," tukasnya.

Diketahui, dalam waktu dekat kepengurusan atau komisioner JIC baru akan dilakukan penetapan. Berdasarkan peraturan daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2014 tentang pusat pengkajian dan pengembangan Islam Jakarta, JIC  merupakan Lembaga Pemerintah Daerah yang terdiri dari unsur Pemerintah Daerah dan masyarakat (merupakan pelaksana Pengelola JIC sebagai Badan Manajemen dan di bantu oleh Sekretariat merupakan bagian dari perangkat daerah/PNS).

AR-Rasyid Jakarta menurut Kyai Saltho juga sudah mengirim surat resmi kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan agar sosok seorang ketua dan pengurus (komisioner) JIC ke depan harus punya komitmen teguh dalam bekerja secara propesional dan seluruh aktivitas-nya selalu berada dalam koridor syari'ah lslam, amanah dan bertanggungjawab.

"Memiliki kapabilitas, integritas dan kredibilitas yg baik secara akademik dan wawasan keislaman serta ahlakul karimah. Harus full time afresiatif, integritas dan kredbilitas yang kuat dan propesional,solid dan handal. Lalu, berwawasan ke-islaman dan memiliki keahlian akademik serta pengembangan ekonomi umat," tambahnya.

Kyai Saltho juga meminta kepada semua pihak tidak memaksakan kehendak dan memberikan kesempatan kepada figur yang mampu menjadikan JIC sebagai motor pergerakan Islam dalam membangkitkan ekonomi ummat.

"Karena ini bukan lembaga politik, kita ingin Islam di Jakarta maju dan dikenal di dunia internasional. Dan tidak ada lagi yang hanya sekedar bikin acara seremonial. Ini wewenang gubernur dan tidak ada yang bisa menekan," tambahnya.

JIC terletak di Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara atau bekasi lokalisasi Kramat Tunggak yang digusur oleh mantan Gubernur Sutiyoso. Istilah yang populer pada saat itu yakni mengubah imej 'Haram Jadah Menjadi Sejadah'

Pada tahun 2001 Sutiyoso melakukan sebuah Forum Curah Gagasan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengetahui sejauh mana dukungan masyarakat terhadap sebuah perubahan yang telah dicanangkan.

Pada 24 Mei 2001 dukungan itu semakin menguat, dan gagasan untuk membangun Jakarta Islamic Centre (JIC) dikemukakan Sutiyoso kepada Prof Azzumardi Azra yang menjabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah di New York di sela-sela kunjungannya ke PBB pada tanggal 11-18 April 2001 dan mendapatkan respon yang sangat positif.

Setelah adanya konsultasi terus menerus antara masyarakat, ulama, praktisi baik skala lokal maupun regional bahkan international akhirnya diwujudkan dalam sebuah master plan pembangunan JIC pada tahun 2002. Kemudian dalam rangka memperkuat ide dan gagasan pembangunan JIC, pada Agustus 2002 dilakukan Studi Komparasi ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Prancis.
radarnonstop

usul diatas itu bagus, kenapa indonesia tidak menciptakan islam sendiri
yg bisa dicontoh oleh dunia
gini bray, indonesia punya ISLAM nusantara kan
kenapa itu tdk dikembangkan, kalo perlu kita buat quran sendiri (qiraat yang sdh ada kita pilih mana yg paling bagus)

negara umat islam terbesar dunia, masa' kalah sama morocco yg punya quran sendiri
ada 10 qiraat di dunia ini bray ada riwayat alduri, alsoosi, albazzi, alruh, warsh, hafs, dll
dan ada 3 yg sudah terkenal

Quran (riwayat warsh) Ini quran punya morocco

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia



Quran (riwayat Hamza)

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia



Quran (riwayat Hafs)

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia


gimana bray, drpd ribut terus kufar kafir kufar kafir
mending duduk bareng, kita musyawarah
buat sendiri quran versi indonesia mengikut 10 qiraat yg ada
jd tidak ada lagi perbedaan, waktu sholat ied
dan kadrun bisa ditumpas habis

jd yg beranggapan quran itu terjaga hingga huruf-hurufx itu salah besar
yg terjaga itu maknax, bukan kata per kata di dalam quran
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 3 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Syabir Ally sendiri mengakui perbedaan quran di seluruh dunia


bagi faqir quota coba langsung pilih menit ke 6:50 youtube
profile-picture
jin.goa.hiro memberi reputasi
Diubah oleh jonitamvan
apakah ini awto-kefir?

mari tanya salafi wahabby pujaan indonistan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Proloque dan 5 lainnya memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh KS06
Lihat 2 balasan
pindahkan kotak ajaib ke JIC emoticon-Ultah
profile-picture
profile-picture
pheeroni dan jonitamvan memberi reputasi
Gelombang Transformasi Muslim di Dunia Barat


Dunia Islam, di masa kejayaannya, sebenarnya sudah sangat modern. Kemodernan ini relatif sebanding dengan segala aspek peradaban yang diraih oleh Eropa
Oleh: Hasnan Bachtiar

Realitas kehidupan Muslim di negara-negara dunia pertama saat ini, sebenarnya tidak terlepas dari pencapaian peradaban Barat. Tentu saja kehidupan mereka tidak semuanya tampak baik. Barangkali, hal ini sejalan dengan upaya meraih cita-cita ideal kemodernan (terutama Eropa dan Amerika), yang tidak dapat sepenuhnya dikatakan berhasil.

Di tengah ketidaksempurnaan itulah, komunitas Muslim terbangun. Menurut Saïd Amir Arjomand (2004) faktor terpenting yang memungkinkan hal itu adalah adanya globalisasi. Secara historis, globalisasi tidak hanya mengalir dari Barat ke dunia Muslim melalui gelombang kolonisasi yang dimulai sejak abad ke-18, namun juga dari dunia Muslim menuju pelbagai belahan dunia lainnya sejak abad ke-8.

Secara lebih detil, dalam “Spacetime and the Muslim journey West: industrial communications in the making of the Muslim World” (2014), Nile Green mengamati adanya pusatpusat komunitas Muslim di negara-negara Barat. Para musafir Muslim bermigrasi dari tanah kelahirannya, dan tentu saja bertransformasi.

Terdapat nilai penting yang dapat digali dari transformasi tersebut. Yakni, adanya refleksi intelektual yang luar biasa mengenai dua hal: spirit pembaruan Barat dan universalitas Islam. Mereka tidak kembali ke tanah kelahirannya, oleh karena tinggal, menetap, membangun komunitas di antara para musafir lainnya dari Timur Tengah, Afrika dan Asia, dengan pelbagai akar tradisi kebudayaan yang kaya.

Keislaman mereka, tentu saja berbeda dengan apa yang dimiliki oleh nenek moyangnya di kampung. Secara garis besar, ciri khas yang membedakannya adalah pandangan hidup Muslim yang reformistik, yang peka terhadap perubahan zaman dan pentingnya kontekstualisasi ajaran agama. Proses transformasi Muslim ini terjadi di kisaran akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Pada masa-masa ini, gelombang kolonialisme Barat sedang mendapatkan tempatnya. Hal ini terjadi kurang lebih berbarengan dengan jatuhnya kejayaan pelbagai imperium besar di dunia Islam seperti Dinasti Safawi (Dud mân e Safavi) pada pertengahan abad ke-18, Dinasti Mughal (Mughliyah Salthanat) pada pertengahan abad ke-19 dan Dinasti Turki Utsmani (Devlet-i ‘Alîye-i ‘Oshmânîye) pada awal abad ke-20. Tentu konteks historis ini menjadi faktor yang signifikan terhadap lahirnya pemikiran mengenai pembaruan.

Dunia Islam, di masa kejayaannya, sebenarnya sudah sangat modern. Kemodernan ini relatif sebanding dengan segala aspek peradaban yang diraih oleh Eropa. Setidaknya, jika dilihat dari sudut pandang tata negara, sistem hukum, pertumbuhan ruang publik, mobilitas sosial yang massif, praktik kebebasan berpikir dan berkeyakinan yang kosmopolitan, kuatnya peran institusi keagamaan dalam persoalan kemaslahatan publik dan gaya hidup, bangkitnya kapitalisme dan seterusnya (John Voll 2008, Green 2012, Evstatiev 2013 & Salvatore 2016). Nilainilai unggul di balik hal-hal ini, menjadi imajinasi yang mengakar kuat bagi para musafir tersebut.

Tatkala mereka membandingkan dan melakukan refleksi kritis mengenai dua arus kemodernan, maka hal yang paling menonjol adalah persoalan ruang dan waktu. Mereka menyadari bahwa sedang menjalani kehidupan dengan ruang dan waktu yang berbeda. Menurut Wolfgang Kaschuba, dalam karyanya “Die Überwindung der Distanz” (2004) menyatakan bahwa konsepsi mereka mengenai kekinian dan kedisinian (Zeit und Raum) turut dibangun oleh konteks industrialisasi Eropa abad ke-19.

Mereka sejatinya memiliki ruang memori (Gedächtnisraum) yang “baru” sebagai Muslim yang mendeteritorialisasi lokusnya yang semula. Artinya, mereka tidak lagi tinggal di wilayah Arab, Turki, Persia atau India. Jadi, Barat menurut mereka, juga adalah dunia Muslim. Refleksi ini sesungguhnya, menghasilkan penempatan ulang akan makna sebagai Muslim, dalam level pemikiran yang lebih abstrak. Proses ini terus bergulir hingga abad ke-21.

Dengan mempertimbangkan pelbagai kompleksitas sosiokultural, politik dan ekonomi, terutama yang dibawa oleh gelombang globalisasi, maka saat ini, fenomena Muslim Barat semakin popular. Terbitnya buku “To be a European Muslim” (1998) yang dikarang oleh Tariq Ramadan, menjadi bukti yang paling otentik tentang adanya transformasi Muslim yang telah didiskusikan. Sebenarnya ada banyak judul buku mengenai hal ini, yang ditulis dengan pelbagai perspektif. Para sarjana seperti Jocelyne Cesari, Samir Amghar, Amel Boubekeur, Michael Emerson, Mark Sedgwick, Paul Weller, Ihsan Yilmaz dan yang lainnya, mendedikasikan dirinya untuk mengamati fenomena penting ini.

Yang terpenting adalah, kaum Muslim Barat mempertahankan akar mereka sebagai Muslim, memperkayanya dengan cara refleksi dan kontekstualisasi, menemukan relevansinya di hadapan zaman dan turut memberikan kontribusi terhadap modernisasi Barat yang masih terus berlangsung. Di samping itu, mereka memiliki makna baru mengenai “pulang ke rumah”. Tentu saja bukan kembali ke tanah kelahiran atau kampung halaman, tetapi lokus yang menjadi rumah baru bagi mereka: Barat. Bersambung

Hasnan Bachtiar, dosen UMM, menekuni hukum perang dan hubungan internasional, alumnus the Centre for Arab and Islamic Studies (CAIS), the Australian National University (ANU)

Sumber: Majalah SM Edisi 13 Tahun 2017
muhammadiyah

yo bray, negara barat sudah mulai berubah,
Masa' kita kalah
malu bray negara mayoritas muslim terbesar dunia tapi kalah
emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan pheeroni memberi reputasi
Ar Rasyid digunakan bukan semata-mata merupakan nama tengah Anies, namun juga karena nama ini termasuk Asmahul Husna, dan memiliki arti yang sangat bagus yakni Rasyid artinya cerdik

https://kbbi.web.id/cerdik.html

cer·dik a 1 cepat mengerti (tentang situasi dan sebagainya) dan pandai mencari pemecahannya dan sebagainya; panjang akal: jika jadi pedagang, selain harus pandai berdagang, harus -- pula; 2 banyak akalnya (tipu muslihatnya); licik; licin: dia seorang penipu yang -- , lima kali berhasil lolos dari penangkapan polisi;
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aldonistic dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Maroko sj berani buat quran sendiri untk lwn WAHABI


King Mohammed VI’s ‘Moroccanized’ Qur’an to Counter Wahhabism


King Mohammed VI launched a project on the “Moroccanization” and “Malikization” of the Qur’an in 2010 to counter Wahhabism among Moroccans.
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia

Rabat – Almost a decade has passed since Morocco’s Mohammed VI Foundation for the Publication of the Holy Qur’an began preparing a new version of the Qur’an. The new Qur’an is written in a special font and recited in such a manner as is best suited to the Moroccan context and the Maliki school of Islam, which Morocco follows.

The King ordered the Moroccan version, which came to be called the “Mushaf Mohammadi,” in 2010 purportedly to counter Wahhabism, the conservative interpretation of Islam many Saudis follow.

Different methods of recitation

How would the Mushaf Mohammadi have an impact? Morocco World News consulted several Rabat imams after the director of the Mohammed VI Foundation, Hamid Hammani, claimed in 2017 that Morocco needs to combat Wahhabism because students who pursue their Islamic studies in Saudi Arabia come back home transformed into “bombs.”

Hammani made his remark to an ethnographer at the Jacque Berque Center in Rabat, Anouk Cohen, who examined the implementation of the project in a 2017 article titled, “Seeing and Hearing the Book. A Moroccan Edition of the Quran.”

Local imams did not have clear answers as to how the Mushaf Mohammedi is consolidating the Maliki school of thought or confront Wahhabism in Morocco.

“By teaching the oriental recitation of the Quran,” argued Hamid Hamani, “children will end up distanced from the Maliki school.”

The leading imam at the Hassan Mosque in Rabat told MWN how Saudi and Moroccan readings of the Qur’an differ, saying, “With regard to Qur’anic recitation, Morocco adopts the Warsh ‘an Nafi’ canonical method, unlike Saudi Arabia, which adopts Hafs ‘an ‘Asim. These readings differ in recitation, utterances, and sometimes in meaning.”

The changes resulting from the different readings are relatively small and have little to no bearing on the unanimous understandings of the Qur’an among Sunnis.

“Adhering to this reading [Warsh] will clear up the confusion Moroccans have in this regard,” asserted the imam.

The recitations do not differ on “contentious verses” pertaining to jihad or martyrdom. They also do not differ on verses relating to the five pillars of Islam: The statement of faith, pilgrimage, prayer, charity, and fasting.

Despite the differences, the Hassan Mosque imam, like others MWN spoke to, did not expound on how the different readings can prevent Moroccan pupils from embracing the Wahhabi-inspired thought.

The primary objective, Hamani said, is “not to propagate the Mushaf Mohammadi. It’s about politics, that is, extremism.”

Hamani argued that pointing children toward what he believes is the proper way of reciting the Qur’an will have an influence beyond recitation: “It’s a dogma without being a dogma.”

Hamani explained that almost all Qur’anic schools (called msids) in Morocco currently teach Oriental recitations. “These schools attract orphans who end up absorbing the Wahhabi version of Islam.”

Cohen’s article noted that calligraphers and clerics would have to decide on the details of the writing style and letter shapes, balancing between highlighting the text through a typically “Moroccan script” and the necessity of clarity and justice to the recitation.

State controls on Qur’anic distribution
The Mohammed VI Foundation said it would limit the distribution of other versions of the Qur’an, subjecting them to strict printing laws. The foundation would also impose import restrictions on all Qur’ans except those produced in Egypt and Lebanon, where companies are capable of designing “unique models.”

According to Minister of Endowment and Islamic Affairs Ahmed Taoufik, there were approximately 14,000 Qur’anic schools in Morocco in 2017. The schools had more than 450,000 pupils, of whom 40 percent were women.

The foundation publishes nearly 1 million copies of the Qur’an every year to supply mosques and to export to countries adopting the warsh method of reading, especially African countries.

One way Islam in Morocco differs from Saudi Arabia is through the collective recitation of “hizb,” one out of 60 sections of the Qur’an, specially divided for ease of learning and memorization. Historically rooted in Morocco, reciting hizb in mosques is rarely practiced in the Middle East where orthodox Muslims regard it as “bid’a,” a novelty disapproved of by a large number of scholars.

Some imams in Morocco even refuse the recitation of the hizb in their mosques, even though it is part of a specific program put in place by Morocco’s Islamic ministry.

However, Morocco is determined to push for its “Moroccanization” policy. The state has dedicated television and radio channels to teaching the proper recitation of the Muhammadi Qur’an and introduced literacy courses on Islamic studies in Qur’anic schools and in kindergartens.

With an overwhelming number of Qur’anic seats of learning, authorities want to make sure the policy is well-implemented. If organizations fail to adhere to the policy regulations, the state cuts its public subsidies for them.

In coordination with the Ministry of Endowment and Islamic Affairs, the foundation initiated the printing of 51,160 copies of the Qur’an in the English language, 3,000 copies in Braille, and 2,335 for near-sighted people as well as overseeing a Qur’an teaching and memorization program and organizing Qur’anic recitation competitions in prisons.
morocco

Indonesia takut buat quran sendiri untk lawan Kadrun
emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
profile-picture
areszzjay memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh KS06
mantap, kalo perlu besok imam mahdi beserta kuda2nya wajib berasal dari indonesia emoticon-Wkwkwk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
winehsuka dan 4 lainnya memberi reputasi
Kenyataan yg berbanding terbalik dengan delusi emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Terakhir kita ngebahas quran yg katanya bnyk versi, itu menghasilkan lebih dr 100 komen dr berbagai akun kaskuser

Masak mau dimulai dr awal lagi?
Lihat 46 balasan
itu yg ga sengaja kemakan kambing
kambingnye masuk neraka ape syurga bre ?

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
pheeroni dan anak.soleh.papa memberi reputasi
Lihat 3 balasan
yang baca masih quran salah aja diangkat jadi ulama
bisa ancur dah
profile-picture
areszzjay memberi reputasi
Lihat 1 balasan
yo bray jgn berdebat, kalian bukan orang arab
hanya mengandalkan syekh google dan kyai youtube

itu memang benar bray, quran tiap mashab berbeda
contoh aja ini bray, gw copas dari FB
Quote:


mengenai quran tidak lengkap itu jg benar, jd jgn diputar2 lagi
perang yamama, banyak pelafal quran mati bukan cuman 1 atau 2 orng
mau versi sahih, gw punya jg
Quote:
Lihat 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh KS06
kan dah tak bilang di postingan ane kemaren, nih bahasa emang multi tafsir kalo udah mode RAW. Jadi kudu ijtima' berkali2 dan cari penghafalnya yang bener2 kuat dan akurat nih.

auto belajar bahasa arob dah ane emoticon-Traveller
profile-picture
anak.soleh.papa memberi reputasi
gua percaya tuhan, tapi gak percaya agama itu sebaiknya belajar kitab apa
profile-picture
profile-picture
anak.soleh.papa dan areszzjay memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bedain syiah dan ahmadiyah aja mereka gak bisa

Apalagi bedain qiroat emoticon-Wkwkwk
profile-picture
profile-picture
anak.soleh.papa dan areszzjay memberi reputasi
Ini agama aisyah
profile-picture
anak.soleh.papa memberi reputasi
Ya udah ane gembok aja sekalian
emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di