CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Bukan Korban Perceraian Biasa
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efe7aa22525c3458a0ce9be/bukan-korban-perceraian-biasa

Bukan Korban Perceraian Biasa

Based on True Story


Bukan Korban Perceraian Biasa


Deskripsi: 
Sebuah cerita dari seorang anak yang orangtuanya berpisah alias bercerai karena ketidakcocokan antara satu dengan yang lain.

Anak ini meyakini bahwa dirinya bukanlah korban perceraian dari orangtuanya tersebut. Walaupun pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri bahwa Ia adalah korban, maka terciptalah sebuah istilah yang dibuatnya sendiri mengenai statusnya sebagai 'Bukan Korban Perceraian Biasa'. 


Part #1
Pindah dari Balikpapan ke Samarinda


Lumayan sulit untuk menentukan awal mula dari cerita ini, namun mungkin pertama-tama Aku harus memperkenalkan diri dulu ya.

Kalian bisa memanggilku dengan nama Tama (bukan nama sebenarnya), usiaku saat ini sebentar lagi genap 30 tahun.

Aku sudah menikah dengan dua orang anak yang menghiasi kehidupan kami. Sekarang, Aku tinggal di Bekasi bersama dengan keluarga kecilku.

*Sampai sini dulu ya perkenalannya, mari kita kembali ke topik cerita

Sudah cukup lama Aku ingin membagikan cerita kehidupanku sebagai anak yang memiliki orangtua telah bercerai.

Kali ini Aku akan membawa kalian untuk pergi ke masa kecilku di Kalimantan Timur, tepatnya di Balikpapan-Samarinda dengan latar waktu berkisar antara tahun 1996-2005.

Aku lahir di Balikpapan pada tanggal 11 September 1990 dengan kondisi keluarga yang sangat berbahagia, maklum saja Aku adalah anak pertama.

Kenapa Aku cukup yakin bahwa orangtua ku masih berbahagia, rasanya kita semua tahu bila ada pasangan yang baru menikah, mereka akan harmonis hingga menantikan kehadiran anak pertamanya.

Benar bukan?

Ibuku merupakan seorang guru di Balikpapan, sedangkan Ayahku bekerja di salah satu perusahaan kayu cukup terkenal di sana.

Kenapa Aku menggunakan kata 'sana' karena kebetulan Aku tidak terlalu mengetahui apakah dulu Ayahku bekerja di Balikpapan atau Samarinda, namun yang pasti, pada waktu usiaku sekitar 5 tahun, kami semua pindah ke Samarinda. Sebuah Kota yang berjarak ratusan kilometer dari Balikpapan.

Mohon maaf karena Aku juga tak tahu kenapa, ingatan tentang kehidupan ku di Balikpapan sama sekali hilang dalam pikiranku.

Jadi Aku benar-benar tidak bisa menceritakan tentang bagaimana kehidupan Aku di Balikpapan sebelum pindah ke Samarinda.

Padahal menurut Aku kehidupan di Balikpapan menjadi sangat penting karena andai saja bisa mengingatnya, Aku bisa membandingkan bagaimana kehidupan di Balikpapan dan Samarinda.

Lanjutan cerita:
#2 Bukan Kota, tapi Desa |
#3 Sekolah di Desa |
#4 Sekolah di Kota -1 |
#5 Sekolah di Kota - 2 |
#6 Beda Sekolah Desa dan Kota - 1 |
#7 Beda Sekolah Desa dan Kota - 2 |
#8 Beda Sekolah Desa dan Kota - 3 |
#9 Bukan Bodoh |
#10 Manfaat Bersekolah |
#11 Tugas Prakarya |
#12 Hujan = Libur |
#13 Lamunan Pulang Sekolah |
#14 Dijemput Ayah - 1 |
#15 Anak Pertama - Kakak Tertua (Part 1) |
#15 Anak Pertama - Kakak Tertua (Part 2) |
profile-picture
profile-picture
profile-picture
vi4ola dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jorghymub61
Halaman 1 dari 2
#2 Bukan Kota, tapi Desa


Oh ya, Aku lupa menjelaskan bahwa kepindahan kami ke Samarinda, bukanlah untuk tinggal di daerah Kota, melainkan ke sebuah desa yang kalau Aku bisa bilang, cukup terpelosok, yaitu Desa MN.

Setelah dipikir lagi, sepertinya Aku harus merahasiakan nama desa tempat ku tinggal karena hampir seluruh penduduk mengenal Aku dan orangtuaku.

Bukan karena keluargaku terpandang di sana, namun yang namanya kehidupan di desa, mereka akan mengenal satu sama lainnya.

Hal ini jauh berbeda dengan kehidupan di Kota yang bahkan tetangga sebelah rumah saja belum tentu saling mengenal.

Kalau Kamu tinggal di desa pasti mengetahuinya, bahkan warga desa sebelah yang jaraknya puluhan kilometer pun bisa saja saling mengenal.

Mengenai alasan kepindahan yang Aku tahu antara dua, yaitu Ayahku yang bekerja di perusahaan kayu Samarinda atau Ibuku yang dimutasi ke sekolah pelosok desa di Samarinda.

Pokoknya, saat itu, Ibuku tetap menjadi guru dan Ayahku tetap bekerja di perusahaan kayu.

Dulu Kami pindah dengan kondisi rumah belum selesai dibangun, jadi Kami sempat mengontrak di sebuah rumah di dekat lokasi rumah yang sedang diselesaikan.

Rumah tersebut cukup unik menurut Aku, berdiri di atas danau kecil bersama dengan 2 atau 3 rumah di sebelahnya, Aku lupa pastinya.

Untuk masuk ke teras rumah, Aku harus melewati jembatan kayu ulin yang hanya cukup dilewati oleh sepeda motor.

Enak dong? BIsa berenang di danau kecil? Oh tidak bisa!

Karena tinggi air di danau itu hanya sebatas lutut dan banyak rumput serta tumbuhan lain.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 3 lainnya memberi reputasi
ditunggu kelanjutannya emoticon-Toast
#3 Sekolah di Desa

Pada waktu di Balikpapan, Aku sudah masuk sekolah TK namun setelah pindah ke Desa MN, Aku tidak dipindahkan ke TK namun langsung dimasukkan ke SD.

Walaupun usia ku saat itu belum cukup, tapi Ibuku mengatakan ke pihak sekolah untuk membiarkan ku masuk sebagai siswa titipan.

Aku pun mulai bersekolah di SD itu, sekolahnya lumayan baik bila dilihat dari bangunan, ada juga lapangan besar di depan gedungnya.

Untuk ukuran sekolah di sebuah desa, Aku rasa cukup bagus.

Walau Aku tak mengingat dengan baik kehidupan ku di Balikpapan, tapi sepertinya kehidupan di Desa MN tak sama seperti di Balikpapan.

Ada banyak gaya bermain anak-anak di desa tersebut yang sepertinya membuat ku kebingungan pada awalnya.

Aku belum pernah memainkannya di Balikpapan. Nampaknya itu juga bukan semua permainan.

Misalnya, bermain kelereng, gambar, lompat tali, itu semua merupakan sebuah permainan yang familiar buat Aku.

Tapi teman-teman di Desa MN juga mempunyai permainan lain yang kalau Aku rasa bukan sekedar permainan namun terdapat unsur survival atau petualangannya.

Contohnya, menangkap burung dengan menggunakan jebakan, memancing di sungai menggunakan sampan atau perahu kecil, mengambil buah dengan cara memanjat ke atas pohon, dan hal lain yang Aku yakin belum pernah ku lakukan saat berada di Balikpapan.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
disya1628 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jorghymub61
#4 Sekolah di Kota -1


Oke singkat cerita, karena Ibuku merasa bahwa sekolah di desa itu masih kurang begitu bagus menurutnya.

Aku pun dipindahkan ke sekolah di Kota Samarinda, tepatnya di SDN 004. Jl Lumba-lumba.

Aku tidak ingat nama jalannya tapi karena kecanggihan teknologi, Aku bisa googling.

Jarak yang harus Aku tempuh setiap hari untuk pergi ke sekolah, yaitu sekitar 30 menit perjalanan naik motor dengan melewati jalanan aspal naik turun bukit dan gunung.

Dulu Aku berpikir kalau itu merupakan keegoisan orangtua ku hingga membuat Aku harus menempuh jarak yang begitu jauhnya.

Namun setelah dewasa, Aku baru menyadari bahwa ternyata yang lebih merasakan lelahnya adalah Ibuku karena saat Ibu mengantarkan Aku, Ibu harus kembali pulang ke Desa MN lantaran sekolah tempat Ibu mengajar ada di sana.

Jadi, Ibuku mengantarkan Aku, kemudian kembali lagi ke desa untuk mengajar di sekolah.

Mengenai Ayahku, Aku sudah mencoba untuk mengingat tentang apakah dulu Ayah sering mengantarkan Aku ke sekolah, Aku tidak bisa mengingatnya.

Namun pada waktu Aku sudah beranjak ke kelas 5-6 SD, Aku ingat kalau Ayahku mulai antar-jemput Aku di sekolah.

Selain itu, bila orangtua ku tidak bisa mengantar atau menjemput, Aku harus menggunakan angkot yang entah kenapa justru tarifnya masih Aku ingat sampai sekarang, yaitu Rp1.800 untuk anak sekolah.

Jadi, selama masa sekolah di SDN 004, Aku mempunyai beberapa cara yang tidak tentu saat pergi dan pulang sekolah.

profile-picture
profile-picture
disya1628 dan eja2112 memberi reputasi
#5 Sekolah di Kota - 2

Ketika Aku berangkat sekolah dengan menggunakan kendaraan angkot, Aku harus menunggu di pinggir jalan pada pukul setengah 5 subuh bersamaan dengan pedagang sayur yang hendak berjualan ke pasar.

Saat itu hanya ada 1-2 angkot yang bersedia untuk beroperasi sejak subuh.

Kalau saja Aku telat maka sudah hampir dipastikan, Aku tidak akan berangkat sekolah karena waktu beroperasi angkot di sana sekitar jam 7 pagi.

Itupun mereka akan lewat sekitar 30 menit satu kali, namun Aku patut bersyukur karena Aku cukup jarang berangkat ke sekolah menggunakan angkot, hanya pada momen tertentu saja.

Saat pulang sekolah dengan menggunakan angkot, Aku harus berjalan kaki sekitar 5 menit dari sekolah ke tempat angkot itu menunggu penumpang.

Orang di Samarinda biasa menyebut tempat itu dengan istilah 'Tepian', yaitu sebuah tempat di pinggir sungai Mahakam.

Setelah sampai di sana, Aku tidak akan langsung berangkat menggunakan angkot tersebut, melainkan harus menunggu sekitar 30 menit - 1 jam hingga penumpang benar-benar penuh.

Bila dihitung, pada bagian depan di isi oleh 2 orang (belum termasuk supir), di bagian tengah ada kursi kayu yang bisa diisi sekitar 4 orang, belakangnya diisi 3 orang, dan yang paling belakang diisi oleh 4 orang.

Bila ditotal, maka penumpang akan dinyatakan penuh bila sudah terisi sekitar 13 orang.

Dengan kondisi seperti itu, Aku masih bisa tidur di dalam angkot tersebut, para penumpang lainnya pun juga sama.

Mungkin karena aktivitas yang melelahkan, kondisi sempit seperti itu pun bukan lagi menjadi halangan untuk tidur mengistirahatkan badan.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
#6 Beda Sekolah Desa dan Kota - 1

Mungkin untuk diketahui saja bahwa pada saat itu, sepertinya kondisi rumah tangga orangtua ku masih baik-baik saja.

Walau tidak terlalu harmonis, namun belum banyak muncul masalah-masalah yang meruncing.

Usai menjalani waktu dengan bersekolah di Kota, Aku meraskaan cukup banyak perbedaan mulai dari lingkungan, gaya bermain, serta cara berteman.

Mungkin pada waktu inilah karakter ku yang terkesan menutup diri, pendiam, susah bergaul, dan bisa dibilang cukup anti-sosial terbentuk.

Aku merasa berbeda dengan anak-anak lain yang memang mereka berdomisili di Kota Samarinda, sedangkan Aku adalah seorang anak yang tinggal di desa.

Di SDN 004, Aku hanya mempunyai satu teman dekat, yaitu Apung Riyanto (bukan nama sebenarnya).

Jika Aku tidak salah mengingat, Apung merupakan anak dari seorang angkatan yang mempunyai kehidupan berdisiplin tinggi.

Itu pun juga tidak sedekat seperti seorang sahabat, Aku dan Apung menjadi teman dekat hanya karena Aku duduk satu meja dengan Apung.

Aku beberapa kali bermain ke rumah Apung, namun di sana tidak memiliki apapun yang asik untuk dimainkan.

Kalau Aku datang ke rumahnya, Aku hanya akan mengobrol saja, lalu pulang.

Perasaan ku yang selalu merasa minder bertambah karena untuk kebutuhan sekolah ku tidak tercukupi dengan baik.

Aku tidak menyalahkan orangtua ku akan hal ini, namun inilah yang sebenarnya terjadi.

Peralatan sekolah mulai dari baju yang kusam, kaus kaki longgar, sepatu lusuh hingga alat tulis yang tidak lengkap.

Di kelas, hampir dipastikan dalam satu hari Aku pasti akan meminjam sesuatu ke Apung atau teman sekelas, misalnya penghapus, penggaris, rautan, pulpen, pensil, dan lainnya.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
#7 Beda Sekolah Desa dan Kota - 2

Bahkan, untuk buku cetak dan LKS, tak jarang Aku berbagi dengan Apung karena Aku tidak memilikinya.

Untuk masalah ini, Aku tidak mengetahui apakah ini kesalahan orangtua ku yang tidak memenuhi kebutuhan tersebut, mereka tidak mampu untuk membelikannya, atau Aku yang kurang peka untuk memberitahukan tentang kebutuhan ku kepada mereka.

Pada waktu bersekolah di desa, Aku tidak merasakan ada jarak dengan teman-teman mungkin karena memang lingkungannya yang sama dan setara.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan apa yang Aku rasakan saat bersekolah di Kota.

Ketika sedang berbicara kepada teman-teman atau hanya sekedar mendengarkan mereka berbincang, terdapat banyak hal yang tidak Aku pahami.

Adapun maksud dari kenapa Aku tidak memahami apa yang dibicarakan oleh mereka lantaran perbedaan yang cukup jauh antara desa ku dengan Kota.

Mulai dari kebiasaan, sumber daya hingga teknologi.

Televisi di rumah ku hanya menggunakan antena seadanya yang seingatku tidak mendapatkan semua channel stasiun tv nasional.

Bahkan layar televisi di rumah ku sudah tidak asing dengan semut-semut yang menghiasinya.

Sedangkan, teman-teman ku di sekolah mayoritas sudah menggunakan tv kabel, walaupun mereka menggunakan antena biasa, jangkauan untuk stasiun tv nasional bisa didapatkan semua dengan gambar yang jernih.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
#8 Beda Sekolah Desa dan Kota - 3

Kebiasaan bermain mereka pun juga sangat jauh berbeda, kalau Aku di desa seperti yang sudah ku jelaskan sebelumnya, lebih banyak bermain dengan alam.

Sedangkan mereka bermain dengan kecanggihan teknologi yang ada.

Mengenai posisi ku di sekolah, sebenarnya Aku bukanlah siswa yang menjadi korban bully oleh teman-temanku.

Namun, Aku merupakan sosok seorang siswa yang merasa terkucilkan atau bahkan memang dikucilkan.

Oleh karena tak mempunyai banyak teman di sekolah, Aku pun mulai mengalihkannya dengan berinteraksi dengan orang dewasa, misalnya ibu pedagang di kantin, abang-abang yang berjualan di gerbang sekolah, hingga penjaga sekolah.

Seiring berjalannya waktu, Aku pun justru lebih dekat dengan mereka jika dibandingkan dengan teman-teman ku di kelas.

Mungkin dari sini juga lah kedewasaan ku terbentuk tanpa Aku sadari sebelumnya.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi

Anu gan

Anu gan, dibikin index supaya gampang nyari ceritanya
Ceritain menarik
Ane bangun apartemen dulu nunggu lanjutan cerita ente
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
#9 Bukan Bodoh

Bersekolah merupakan sebuah kegiatan yang cukup melelahkan bagi sebagian besar anak karena harus bangun pagi, bersiap-siap, kemudian belajar hingga siang atau sore hari.

Belum lagi ditambah jam istirahat yang sepertinya jarang digunakan untuk beristirahat, melainkan untuk bermain di lapangan atau sekedar berbelanja ke kantin sekolah.

Di kelas, Aku bukanlah siswa yang bodoh.

Mungkin bisa dikatakan Aku sebagai siswa yang pintar namun tidak menonjol.

Bila dihitung berdasarkan ranking dengan jumlah siswa dalam satu kelas 32 orang, Aku biasanya berada di urutan 7-12.

Namun sayang sekali karena potensi untuk Aku bisa meningkatkan performa belajar ku sangatlah buruk lantaran seperti yang sudah ku jelaskan sebelumnya, kebutuhan ku tidak terpenuhi, baik dari segi peralatan hingga pengarahan.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
#10 Manfaat Bersekolah

Di rumah, Aku sangat jarang sekali atau bahkan tidak pernah ditanya mengenai bagaimana tentang kegiatan belajar di sekolah, apakah ada pekerjaan rumah atau tidak, orangtua ku tidak mempertanyakannya.

Aku pun saat itu juga tidak mengetahui apa manfaat dari belajar di sekolah selain mendapatkan ilmu pengetahuan.

Seringkali Aku merasa iri saat bermain ke rumah Apung, bila orangtuanya berkata seperti ini, "Maaf ya Tama, Apungnya mau kerjain PR-nya dulu, mainnya lanjut nanti lagi ya".

Walaupun pernyataan itu merupakan pengusiran secara halus, tapi Aku sama sekali tidak tersinggung, Aku justru spontan berbicara dalam hati, "Kenapa orangtua ku tidak seperti itu ya?".

Aku juga tak mengetahui bahwa setelah menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar (SD), nilai yang didapatkan akan menentukan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mana yang bisa ku tempuh.

Aku tidak mengetahui bahwa ada standar tersendiri untuk bisa memasuki sekolah unggulan.

Bahkan mungkin saat itu Aku masih belum mengetahui kalau ada sekolah unggulan.

Saat itu hal yang ada di dalam pikiran ku tentang bersekolah, yaitu mendengarkan guru, menulis catatan, mengerjakan tugas, menyelesaikan ujian, menjawab pertanyaan guru, dan seterusnya.

Aku dulu merupakan siswa yang cukup senang saat guru mengadakan kuis, Aku pasti akan dengan semangat untuk menjawabnya.

Bagiku, terdapat sebuah kebanggaan tersendiri saat bisa menjawab pertanyaan kuis tersebut dengan benar.

"Tam, Kamu sudah belajar pelajaran matematika?," tanya Apung.

"Memangnya hari ini ujian matematika, Pung?," Aku balik bertanya.

"Iya, Kamu sih lupa terus!," jawab Apung menyindir.

"Haha, ya sudah lah, belajar dulu Aku sebentar," ucapku.

Percakapan seperti ini cukup sering terjadi antara Aku dan Apung karena memang Aku selalu lupa saat ada ujian, mengumpulkan PR, kegiatan prakarya, dan sejenisnya.

Aku sangat sering mengerjakan PR di kelas sebelum pelajaran dimulai.

Aku bahkan masih bisa merasakan hingga saat ini tentang bagaimana perasaan saat lupa mengerjakan sebuah prakarya atau tugas membawa sesuatu.

Rasanya itu hanya bisa pasrah karena tak ada yang bisa diperbuat lagi.

Kini Aku menyadari bahwa alasan kenapa Aku mempunyai kebiasaan seperti itu karena tidak ada yang memberitahu tentang apa yang seharusnya dilakukan, apa akibatnya, serta dampak yang akan terjadi di masa depan.

Pendidikan karakter merupakan salah satu aspek yang tidak Aku miliki saat itu.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
#11 Tugas Prakarya

Sebenarnya Aku agak kurang suka dengan guru yang memberikan tugas untuk membuat prakarya, membawa atau membeli sesuatu karena nantinya akan merepotkan orangtua ku.

Bukan selalu mengenai uang, namun saat Aku memberitahukan kepada orangtua ku tentang tugas dari sekolah, mereka akan menjadi sangat repot.

Misalnya saat Aku diberikan tugas untuk membawa tanaman di dalam pot, sedangkan di desa tidak ada yang menjualnya sehingga orangtua ku harus membelinya di Kota Samarinda.

Lokasinya yang cukup jauh itu membuat orangtua ku akan merasa cukup repot bila harus membelinya.

Oleh karena itu, biasanya tugas membawa tanaman dalam pot itu tidak bisa Aku penuhi.

Bila Aku mendesak mereka, jawaban yang ku dapat biasanya dalam beberapa bentuk namun dengan inti yang sama, yaitu tidak dibelikan.

Lama kelamaan, Aku pun mulai acuh dan muncul sebuah penyakit bernama lupa.

Oleh karena orangtua ku seakan tidak terlalu mementingkan kebutuhan sekolah, maka Aku yang masih sangat muda itu pun juga berpikir bahwa sekolah bukanlah sesuatu yang penting.

Tentu saja saat itu Aku sepertinya belum memikirkan tentang manfaat sekolah untuk kepentingan syarat bekerja.

Aku hanya berpikir untuk menyelesaikan SD, kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA.

Bahkan, dulu Aku tidak mengetahui bahwa ada yang namanya Universitas atau Kuliah.

Kesalahan yang sudah pernah ku lakukan tentang mengabaikan betapa pentingnya pendidikan membuat Aku bisa memberikan pengarahan yang lebih baik kepada anak-anakku.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
#12 Hujan = Libur

Hujan deras yang terjadi sebelum matahari terbit merupakan salah satu kesukaan ku saat itu karena hampir bisa dipastikan kalau Aku tidak akan berangkat sekolah.

Jarak yang cukup jauh antara rumah dengan sekolah membuat orangtua segan untuk mengantar ku.

Sebenarnya bisa saja menggunakan jas hujan, namun itu belum cukup untuk mengatasi masalahnya.

Mulai dari sepatu yang harus dibungkus atau dimasukkan ke dalam tas, air dari jalanan yang bermuncratan saat motor melaju (motor yang Kami gunakan saat itu bukan jenis matic), dan paling menyebalkannya saat sudah sampai ke sekolah tidak bisa berhenti di tempat yang teduh.

Kebetulan di SDN 004 Samarinda tidak mempunyai atap di bagian depannya, hanya lapangan yang terhampar luas.

Ketika Aku sampai di sekolah, Aku harus mengambil ancang-ancang untuk berlari agar bisa menghindari air hujan yang mengguyur lewat atap sekolah.

Walau mungkin hanya 2-3 meter jaraknya, namun tetap saja air hujan itu mampu membuat ku basah seketika.

Usaha ku dari rumah selama perjalanan pun akan menjadi sia-sia.

"Tam, bangun, sekolah! Sudah jam berapa ini!," teriak Ibu membangunkanku.

"Hmm..," jawab ku dengan nada masih mengantuk.

"Bangun!," teriak Ibu sambil menarik selimut dan membangunkan tubuh ku hingga duduk.

"Iya, iya," jawab ku lagi dengan mata yang masih tertutup walau kondisi tubuh sudah duduk.

Tidak lama setelah itu, Aku pun bangun, mandi lalu bersiap-siap untuk bersekolah.

Pada waktu sarapan pakai lauk nasi, telor dadar dan kecap, tiba-tiba bunyi rintik hujan terdengar dari atap rumah.

"Ma, hujan nih," teriak ku.

"Ya tunggu sebentar, mudah-mudahan gak lama," kata Ibuku.

"Ma, udah setengah 7 ini," kata ku setelah menunggu.

"Ya sudah ganti baju sana," jawab Ibuku.

Begitulah kira-kira bagaimana percakapan yang terjadi saat hujan datang di saat Aku hendak berangkat ke sekolah.

Hampir bisa dipastikan Aku tidak jadi berangkat ke sekolah karena hujan.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
#13 Lamunan Pulang Sekolah

Ketika hujan datang di perjalanan setelah Aku pulang sekolah, biasanya Aku tidak akan terlalu memperdulikan bila tas ku basah.

Yang ada di dalam pikiran ku, ketika air masuk ke dalam tas lalu membasahi buku-buku, Aku akan mengeluarkan lalu mengeringkannya di rumah.

Aku akan lebih memilih untuk membiarkannya basah daripada harus berteduh atau menggunakan jas hujan.

Kalau mengingat itu, Aku merasa sangat bodoh sekali ya.

Aku masih belum membahas tentang bagaimana kehidupan orangtua ku hingga bisa berpisah karena sepertinya Aku juga harus memberitahukan tentang bagaimana kehidupan ku sebelum mereka memutuskan untuk berpisah.

Angkot...

Sebuah kendaraan yang paling banyak membuat Aku termenung dalam kesendirian.

Selama beberapa tahun menggunakannya, Aku tidak mempunyai satu pun kenalan di sana.

Tak tahu alasannya, namun Aku lebih senang termenung sambil memandangi ombak sungai Mahakam yang terbentur ke dinding Tepian.

Oleh karena sering terlena dengan lamunan itu, Aku beberapa kali ketinggalan angkot yang telah penuh.

Terpaksa, Aku harus menunggu angkot selanjutnya untuk penuh kembali. Aku pun melanjutkan lamunan ku.

Apa yang Aku lamunkan?

Entahlah, seingatku hanya hal-hal yang tidak begitu penting tentang kehidupan di sekolah dan permainan di desa.

Seiring dengan kenaikkan kelas, Aku menjadi lebih sering pulang menggunakan angkot.

Entah kenapa, saat itu Aku merasa tidak terlalu ingin untuk pulang ke rumah.

Setelah jam pelajaran selesai, mungkin sekitar pukul 1 siang. Aku akan bermain dengan teman-teman, walau tak terlalu dekat, namun Aku masih suka bermain bola, kasti (menggunakan bola tenis) dan sejumlah permainan lainnya.

Aku akan bermain sepuasnya sampai semua teman-teman di sekolah ku pulang.

Setelah sepi, Aku masih melanjutkannya bermain sendiri berkeliling sekolah, memasuki kelas-kelas yang sudah kosong, hingga penjaga kantin di sekolah pun pulang.

Kemudian, Aku baru akan pergi menuju ke Tepian untuk menunggu angkot.

Di perjalanan menuju Tepian pun, Aku juga masih akan menyempatkan diri untuk bermain.

Di sebelah sekolah ku, ada gedung Bank yang memiliki pohon cherry.

Sebelum ke Tepian, Aku biasanya akan memanjat tembok pagar gedung Bank tersebut, kemudian mengambil buah cherry yang terlihat merah begitu segar untuk disantap.

profile-picture
eja2112 memberi reputasi
Salam kenal,gan. Ikut gabung ya!
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nice story gan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut gaannn
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Jejak, Gan. kasian juga kalau ada anak yang seperti itu, maka dari itu kita sebagai ortu harus bisa membuat anak nyaman dalam lingkungam keluarga.
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Bukan korban perceraian biasa artinya luar biasa!
emoticon-Sundulemoticon-sudahkudugaemoticon-Keep Posting Gan
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Kayak baca cerita waktu gue masih kecil. Omygod! Please go on.
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di