CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Harimau Sumatera mati di perkebunan masyarakat Aceh akibat 'keracunan'
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efbfda782d495417023e996/harimau-sumatera-mati-di-perkebunan-masyarakat-aceh-akibat-keracunan

Harimau Sumatera mati di perkebunan masyarakat Aceh akibat 'keracunan'

Harimau Sumatera mati di perkebunan masyarakat Aceh akibat 'keracunan'
Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil pembedahan terhadap bangkai harimau.

"Kesimpulan dari hasil nekropsi (bedah bangkai) yang dilakukan oleh tim medis secara makroskopis diketahui bahwa kematian harimau tersebut diduga karena toxicosis/keracunan," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Agus Arianto, sebagaimana dikutip Detik.com , Selasa (30/6).

Nekropsi atau pembedahan terhadap bangkai harimau dilakukan oleh tim dokter hewan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, FKL, PKSL-FKH Unsyiah, WCS-IP.

Berdasarkan pemeriksaan tersebut, kata Agus, ditemukan perdarahan dari lubang nasal/hidung dan bulu gampang rontok.

Kemudian jaringan di bawah kulit harimau berjenis kelamin betina berumur antara 2-3 tahun itu sebagian mengalami memar.

Pada bagian perut harimau terdapat luka diduga akibat kawat duri. Selain itu, dinding saluran pencernaan, trakea dan lambung harimau mengalami pendarahan.

"Adanya luka toreh/vulnus incisum diduga akibat kawat duri pada bagian perut. Kondisi lidah sebagian mengalami sianosis, diduga akibat racun insektisida," kata dia, seperti dikutip Kompas.com.

Menurut Agus, zat yang diduga racun insektisida yang ditemukan di lidah bangkai harimau itu berwarna keunguan.

Tim dokter juga menemukan zat diduga racun pada bangkai kambing yang dimangsa harimau.

"Zat yang diduga racun insektisida (zat berwarna keunguan yang diduga bahan racun pertanian) ditemukan pada kulit kambing yang dimakan harimau," ujar Agus.

"Sebelum ditemukan bangkai harimau, di sekitar lokasi itu petugas menemukan enam ekor bangkai kambing dalam kondisi tak utuh," imbuhnya.
Harimau Sumatera mati di perkebunan masyarakat Aceh akibat 'keracunan'

Agus mengatakan, sampel hispatologi rencananya bakal diuji di laboratorium PSSP Bogor dan Lab Patologi FKH Unsyiah untuk mengetahui penyebab pasti kematian harimau. Sedangkan sampel toksikologi akan diuji di laboratorium Puslabfor Mabes Polri.

"Kami mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian harimau sumatera dengan cara tidak merusak hutan, serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian harimau," ujar Agus.

Harimau Sumatera ( Panthera tigris sumatrae ) tersebut ditemukan mati pada Senin (29/06) di perkebunan masyarakat di Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh.

Bangkai harimau tersebut ditemukan setelah petugas Seksi Konservasi Wilayah 2 dan Resor Konservasi Wilayah 16 Trumon, Aceh Selatan mendapat laporan adanya hewan ternak masyarakat dimangsa harimau.
Harimau Sumatera mati di perkebunan masyarakat Aceh akibat 'keracunan'
Atas laporan tersebut, kata Agus, petugas konservasi bersama mitra dan kepolisian mengecek lokasi ternak masyarakat dimangsa harimau.

Di lokasi, ditemukan tapak kaki harimau dan enam bangkai kambing dalam kondisi tidak utuh.

Petugas bersama mitra kemudian memasang sejumlah kamera untuk melihat pergerakan harimau.
Harimau Sumatera mati di perkebunan masyarakat Aceh akibat 'keracunan'
Image copyright Antara Foto

Agus menambahkan, keberadaan harimau yang masuk ke lokasi perkebunan lantaran adanya perubahan kawasan hutan alam menjadi area hutan produksi atau Area Penggunaan Lain (APL). Harimau pun kehilangan habitatnya dan daerah pelintasan.

"Kami mengimbau semua lapisan masyarakat untuk tidak melakukan penanganan konflik satwa liar dan manusia dengan cara-cara yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku," jelasnya.

BKSDA Aceh telah mencatat delapan kasus konflik harimau dan manusia dalam periode waktu kurang dari tiga bulan sejak Januari sampai Maret 2020. Angka ini dianggap tinggi, mengingat sepanjang tahun 2019 badan tersebut mencatat sembilan kasus.

Data dari Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA), menyebutkan rata-rata 1.200 ha hutan di Aceh rusak setiap bulannya. Secara akumulatif, dalam tahun 2019 tercatat seluas 15.140 ha hutan beralih fungsi menjadi kelapa sawit dan lainnya.

Pada 2018, Dokumen Strategi Rencana Aksi Konservasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyebut populasi harimau Sumatera hanya tersisa sekitar 600 ekor.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara berkala, lembaga konservasi lingkungan hidup World Wildlife Fund, WWF, memprediksi jumlah harimau Sumatera terus menurun.

sumber :https://www.bbc.com/indonesia/amp/majalah-53230187
profile-picture
profile-picture
rizaldi.sarpin dan nomorelies memberi reputasi
Ksian... maungnya..
Teman ane itu si Maung emoticon-Turut Berduka
tentara/polri gak berani nangkap pelakunya, krn itu perkebunan dijaga orang GAM

jgn heran kalo besok berita kayak gini masih ada di dekat lokasi itu juga
bangkainya akan 'lenyap' ga berbekas emoticon-Leh Uga
btw sdh ada penangkarannya kan? jgn sampai anak cucu nanti tdk bisa melihat hewan ini lagi.
ayok kita ganti buru orang yg masang jebakannya..
lain kali kita punahin aja orngnya bukan macannya
Lihat 1 balasan
Jumlah penduduk Sumatera berapa ya ? Kok sepertinya kekurangan lahan banget, 'gitu ..., sampai-sampai kawasan hutan alami harus dibabati ... Atau semata karena ingin kaya ?

...
Hewan dan tumbuhan di Indonesia sini, bukanlah semata budak manusia. Diperbudak, dimana kehadiran mereka semata demi kepentingan manusia. Sehingga bila dirasa tidak ada manfaatnya kemudian bisa dihilangkan dimuka bumi ini.

Dalam ranah alam lingkungan ... "Apa yang tak bermanfaat bagimu, belumlah tentu tak bermanfaat bagi lainnya."

Dalam ranah kenegaraan ..., mereka (flora dan fauna dan lainnya) itu termasuk warga negara Indonesia. Mereka adalah saudara-saudari setanah air .. walau memang tidak sebangsa. ===> Mereka bangsa hewan, tumbuhan, mikroorganisme.
Lihat 3 balasan
emoticon-Turut Berduka


Aing maung



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di