CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Pandangan Hukum Tentang Larangan Berjilbab di Sebuah Perusahaan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efb2c167e3a7256077de3cd/pandangan-hukum-tentang-larangan-berjilbab-di-sebuah-perusahaan

Pandangan Hukum Tentang Larangan Berjilbab di Sebuah Perusahaan

Pandangan Hukum Tentang Larangan Berjilbab di Sebuah Perusahaan
Sumber gambar: hukumonline.com


Mili: Ada loker gak di perusahaan lo?
Gue: belom ada nih, kenapa emang yg sekarang?
Mili: Gak dibolehin pake jilbab, jadi gue kalo di kantor copot jilbab

Begitu kurang lebih percakapan gue dengan temen mengalsmi situasi dilarang berjilbab ketika kerja.

Di benak gue langsung muncul banyak pertanyaan
Emang boleh ya perusahaan melarang karyawatinya untuk berjilbab?
Bukannya ini masuk diskriminasi dalam hal agama?
Kok masih ada ya perusahaan yang menerapkan aturan ini?
Bukannya ini malah bisa jadi bumerang buat citra perusahaannya ya?


Akhirnya gue mulai mencari-cari, gimana pandangan hukumnya dalam kasus seperti ini.

Pandangan Hukum Tentang Larangan Berjilbab di Sebuah Perusahaan
Sumber gambar: kompasiana.com


Setelah ditelusuri, jika sebuah perusahaan menerapkan larangang berjilbab untuk karyawati maka perusahaan tersebut telah melanggar Pasal 5 dan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”) berbunyi:
 
Pasal 5
Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. 

Penjelasan:
Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan, termasuk perlakuan yang sama terhadap para penyandang cacat.
 
Pasal 6
Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.

Penjelasan:
Pengusaha harus memberikan hak dan kewajiban pekerja/buruh tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, warna kulit, dan aliran politik.
 
Ketentuan dalam Pasal 5 dan Pasal 6 UU Ketenagakerjaan di atas menegaskan bahwa pengusaha dilarang melakukan diskriminasi terhadap pekerjanya maupun calon pekerja yang ingin bekerja di perusahaannya karena pada dasarnya tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan, baik itu berdasarkan agama, kelamin, suku, ras maupun aliran politik.
 
Jika pengusaha melanggar Pasal 5 dan Pasal 6 UU Ketenagakerjaan, menteri atau pejabat yang ditunjuk dapat mengenakan sanksi administratif kepada pengusaha sesuai Pasal 190 ayat (1) dan (2) UU Ketenagakerjaan berupa:
a.    teguran;
b.    peringatan tertulis;
c.    pembatasan kegiatan usaha;
d.    pembekuan kegiatan usaha;
e.    pembatalan persetujuan;
f.     pembatalan pendaftaran;
g.    penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi;
h.    pencabutan ijin.
 
Masih berkaitan dengan diskriminasi di tempat kerja, pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: SE.60/MEN/SJ-HK/II/2006 Panduan Kesempatan Dan Perlakuan Yang Sama Dalam Pekerjaan Di Indonesia (Equal Employment Opportunity). Dalam sebuah pemaparan mengenai panduan yang bisa diakses di laman resmi International Labour Organization dikatakan bahwa kesempatan dan perlakuan yang sama dalam pekerjaan yang selanjutnya dapat disebut Equal Employment Opportunity (EEO) mencakup segala kebijakan termasuk pelaksanaannya yang bertujuan untuk penghapusan diskriminasi di dunia kerja. Ini artinya, kebijakan soal larangan berjilbab bagi pekerja wanita juga termasuk kategori diskriminasi pekerjaan.
 
Pada dasarnya, dalam hal terjadi perselisihan dalam hubungan kerja, wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat [Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (“UU 2/2004”)]. Artinya, pekerja yang berkeberatan atas perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh pengusaha wajib merundingkannya secara damai antara pekerja dengan pengusaha.
 
Setelah menerima pencatatan dari salah satu atau para pihak, instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat wajib menawarkan kepada para pihak untuk menyepakati memilih penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi. Dalam hal penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi tidak mencapai kesepakatan, maka salah satu pihak dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Hubungan Industrial (Pasal 5 UU No. 2/2004).
 
Selain melanggar undang-undang terkait diskriminasi, larangan penggunaan jilbab untuk pekerja wanita juga perbuatan melanggar HAM.
 
Pandangan Hukum Tentang Larangan Berjilbab di Sebuah Perusahaan
Sumber gambar: ayosemarang.com

Mengenakan jilbab merupakan bentuk pelaksanaan ibadah yang merupakan bagian dari hak asasi manusia dalam beragama. Hak beragama itu sendiri telah termaktub dalam Pasal 28E ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar 1945 (“UUD 1945”):
 
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan,menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
 
Ketentuan ini dipertegas kembali dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”) yang berbunyi:
 
(1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
(2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
 
Hak beragama tersebut berdasarkan Pasal 4 UU HAM merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun, termasuk pengusaha yang melarang pekerjanya untuk mengenakan jilbab sebagai syarat dalam penerimaan pekerja. Ini artinya, mengenakan jilbab sepenuhnya merupakan hak asasi yang pekerja miliki dan tidak bisa dilarang oleh pengusaha.
 
Sebagai pihak yang direnggut haknya, pekerja dapat mengambil langkah hukum dengan melakukan pengaduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Pengaduan pada Komnas HAM ini dapat kita temukan pengaturannya dalam Pasal 90 ayat (1) UU HAM:
 
Setiap orang dan atau sekelompok orang yang memiliki alasan kuat bahwa hak asasinya telah dilanggar dapat mengajukan laporan dan pengaduan lisan atau tertulis pada Komnas HAM.”


Kalau menurut pandangan Gan-Sis gimana nih terhadap perusahaan-persusahaan yang masih melarang karyawatinya untuk berjilbab?

Sumber: hukumonline.com
profile-picture
fan.kui memberi reputasi
Kalo udah peraturan perusahaan ya diikuti...

Ga suka dengan kebijakan perusahaan ya keluar cari yg sesuai dengan keinginan...

profile-picture
sprinter memberi reputasi
tapi ane juga sering liat loker yg kualifikasinya harus berhijab bagi perempuan dll itu termasuk diskriminasi juga?
profile-picture
sprinter memberi reputasi
Diubah oleh blackvelvet23
loker g smua pro non hijab, ad yg wajib hijab contohnya kantor gw dlu bahkan cwoknya wajib pake baju koko. Risih sih, tp klo udh ktntuan ya kita yg adaptif atau pergi. Jgn berharap perusahaan org hrus ikutin mau kita. Lah kebalik malih 😄
profile-picture
sprinter memberi reputasi
Lihat 2 balasan
sah2 aja sih, kalo yg tetep mau hijab kan udah tau. gak perlu daftar masuk ke perusahaan itu
Simpel sih
emoticon-Bingung emoticon-Bingung
ada yg ngelarang..

ada juga yg maksa (karena bagian dari seragam)..

tak bisakah kita rusuh saja.. emoticon-Embarrassment
biasanya kalau ga mau ikutin peraturan perusahaan di suruh keluar
Simple bertahan atau mundur.
Karyawati pabrik RTMM biasanya banyak yang pake oenutup kepala.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di