CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Rizal Ramli Salah Lagi, Menakar Utang Jangka Panjang PLN Rp695 triliun
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efaee53e83c723a740a618b/rizal-ramli-salah-lagi-menakar-utang-jangka-panjang-pln-rp695-triliun

Rizal Ramli Salah Lagi, Menakar Utang Jangka Panjang PLN Rp695 triliun

Rizal Ramli Salah Lagi, Menakar Utang Jangka Panjang PLN Rp695 triliun

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI pada Kamis (25/6/2020), Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengungkapkan bahwa utang PLN untuk membiayai proyek infrastruktur listrik 35.000 MW hingga pertengahan 2020 sudah mencapai di atas Rp 600 triliun dalam laporan keuangan. Walaupun demikian, rata-rata masa jatuh tempo pembayaran utang adalah jangka panjang.

Dalam laporan keuangan PLN kuartal I/2020 total utang PLN mencapai Rp 694,79 triliun yang terdiri dari utang jangka panjang sebesar Rp 537 triliun dimana kurs dollar stabil sesuai kesepakatan dan utang jangka pendek Rp 157,79 triliun dimana kurs dollar berpengaruh.

Sepanjang 2015-2019 Pemerintahan Joko Widodo mencanangkan program listrik 35.000 MW dengan dua tujuan utama. Pertama menyediakan infrastruktur dasar di bidang kelistrikan untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai sebesar 7 persen per tahun.

Kedua, menyediakan listrik untuk warga yang selama ini mengalami defisit pasokan dan yang belum pernah menikmati listrik sama sekali, dengan target 100 persen rasio elektrifikasi.
Hasilnya memang terasa terutama pada pencapaian tujuan kedua. Listrik dapat dihadirkan sampai ke titik-titik tersulit, wilayah Tertinggal, Terluar, Terpencil (3T), dengan rasio elektrifikasi mencapai 98,6 persen. Sementara wilayah yang tadinya mengalami defisit juga telah teratasi dengan makin turunnya angka pemadaman atau gangguan secara signifikan.

Pemerintah menugaskan PLN untuk mengerjakan proyek listrik 35.000 MW itu dengan skema pembiayaan Non-APBN. Dengan skema tersebut, PLN tidak punya pilihan lain kecuali menggandeng swasta dalam negeri dan asing dengan skema Independent Power Producer (IPP).

Untuk pembangunan proyek listrik 35.000 MW, proporsi IPP sebesar 70 persen, sedangkan proporsi PLN sebesar 30 persen.

Untuk membiayai pembangunan pembangkit listrik, transmisi, dan distribusi di titik-titik yang diskenariokan akan menjadi basis pertumbuhan ekonomi baru, PLN menggunakan sumber internal dan sumber eksternal, baik dari utang perbankan dalam negeri, maupun global bond dari pasar uang internasional.

Penggunaan utang itu terlihat dalam laporan keuangan tahunan PLN sepanjang 2015-2019 yang menujukkan utang PLN meningkat sebesar Rp 220 triliun dari posisi utang 2014 sebesar Rp 234 triliun naik menjadi Rp 455 triliun pada akhir 2019.

Apakah utang sebesar itu salah? Tentu saja tidak. Pasalnya, tambahan utang sebesar Rp. 220 triliun tersebut juga disertai dengan peningkatan nilai investasi lebih Rp 419 triliun.
Dengan demikian, tidak seluruh pengeluaran investasi (capital expenditure/capex) dan pengeluaran operasi (operational expenditure/opex) PLN dibiayai 100 persen dari utang, tetapi sekitar 48 persen, lebih besar daripada persyaratan minimum 30 persen, sesungguhnya bersumber dari dana internal, yang dibentuk dari hasil usaha PLN.


Pengajuan utang untuk membiayai Capex dan Opex suatu korporasi, baik kepada perbankan di dalam negeri maupun investor internasional, sudah pasti mensyaratkan adanya modal sendiri dari korporasi tersebut.

Utang sebesar Rp 100 triliun misalnya, mensyaratkan adanya modal sendiri sebesar minimal 30 persen, sehingga utang yang diberikan pemberi kredit maksimal sebesar Rp 70 triliun. Kalau bank nasional memaksakan memberikan utang kepada PLN dengan mengabaikan prinsip kehati-hatian, bank tersebut pastilah akan mendapatkan peringatan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang justru membahayakan bagi bisnis perbankan itu sendiri.

Dalam konteks utang yang didapatkan oleh PLN mencapai sekitar Rp 500 triliun dalam 5 tahun terakhir telah digunakan untuk membiayai Capex dan Opex. PLN sebenarnya juga menggunakan sumber internal dari kas PLN sendiri.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan PLN yang dikonsolidasikan dalam 5 tahun menunjukkan pembiayaan Capex dan Opex dari sumber utang sebesar Rp219 triliun, sedangkan penggunaan sumber internal dari kas PLN sebesar Rp 220 triliun.

Dengan demikian, tidak benar bahwa seluruh Capex dan Opex PLN 100 persen dibiayai dari utang. Dengan proporsi antara sumber dana internal dan eksternal, struktur keuangan PLN dikategorikan sehat dan layak diberikan utang sesuai dengan prinsip prudential banking. Apalagi, PLN selama ini sudah terbukti mampu membayar kewajiban utang jangka pendek dan jangka Panjang tepat waktu.

Dalam kondisi tersebut tidak mengherankan kalau PLN masih sangat dipercaya baik oleh perbankan nasional, maupun pasar uang international. Selama ini, bank nasional selalu mengucurkan utang sesuai yang diajuka PLN.

Keberhasilan PLN menerbitkan Global Bond untuk kesekian kalinya juga membuktikan bahwa investor global mempercayai pengelolaan keuangan PLN yang senantiasa dikelola secara prudent, tetapi juga mempercayai kemampuan PLN dalam membayar utang tersebut.

Dalam membangun proyek listrik 35.000 MW, PLN memang harus berutang, baik dari perbankan nasional, maupun pasar uang Interntional dengan menerbitkan global bond. Selama proyek pembangkit dapat dioperasikan, yang akan mencetak pendapatan untuk mengangsur utang jangka pendek dan jangka Panjang, utang PLN sesungguhnya tidak perlu dipersoalkan.

Ketimbang menyoal utang, barangkali akan lebih baik jika PLN dapat bekerja lebih keras untuk memulihkan permintaan daya listrik, yang sempat turun akibat dihajar oleh Pandemi Covid-19.
Selain itu, PLN perlu melakukan penataan dan pemetaan ulang dengan mempertimbangkan progress pembangunan proyek 35.000 MW agar tidak terjadi kekurangan dan kelebihan pasokan daya listrik.

Penataan dan pemetaan ulang itu sebaiknya dituangkan ke dalam dokumen RUPTL 2020 sebagai acuan pengusahaan kelistrikan di tanah air.

Sumur
https://www.google.com/amp/s/m.bisni...-rp695-triliun

Lagi lagi Rijal guru ekonominya kadrun gagal crott..
Selama jadi menteri bnyak bacod, hasil kaga ada karena penakut..

Dipungut jokowi biar buktikan bacod, eh bikin gaduh.. udh tamat lo jal ga ada yg percaya lagi.

emoticon-Ngakak

Rizal Ramli Salah Lagi, Menakar Utang Jangka Panjang PLN Rp695 triliun

Anak sd juga tau 500 perusahaan2 raksasa dunia yg masuk top fortune itu pada hancur2an akibat wabah jal oalah jal jal.. mending dirumah aja lo udah tua kena covid lo..

Rizal Ramli Salah Lagi, Menakar Utang Jangka Panjang PLN Rp695 triliun
profile-picture
profile-picture
profile-picture
delia.adel dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ikardus
ngarep cocokmology gak cocok cocok miss terus Rizal Ramli Salah Lagi, Menakar Utang Jangka Panjang PLN Rp695 triliun
profile-picture
gabener.edan memberi reputasi
Kalo ngitung ratusan trilliun gw gak ngerti dah, seenggaknya gw msh bs ngitung Kwh, beli 100rb dapet brp, gak kayak si rijal
profile-picture
gabener.edan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
njirrr jaman sekarang bumn isinya utang semua
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan lupis.manis. memberi reputasi
Lihat 5 balasan
udeh kekepin non sarah aje di rumah sambil miara burung gacor jal emoticon-Big Grin
profile-picture
gabener.edan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Hmm salahnya dimana.. Hutangnya belum dibayarkan?
profile-picture
gabener.edan memberi reputasi
nih orang sama aja kayak penjinak kadal wan aibon
teori doang jago, disuruh praktekin di lapangan malah impotenemoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
essholl dan gabener.edan memberi reputasi
Lihat 2 balasan

Menteri pecatan yg cuman pinter ngomongnya tapi nggak pinter menjalankan, setali tiga uang sama pecatan menteri satunya yg di Balai Kota. emoticon-Embarrassment

Padahal sama2 sudah pernah dikasih kesempatan jadi menteri, noh sana jalankan ente punya pemikiran. Ehhh.... malah gatot ternyata.
emoticon-Cape d...
profile-picture
gabener.edan memberi reputasi
Diubah oleh qavir
Quote:


Serius nanya, internal PLN beneran membiayai 30% atau 48% dari proyek ini? Bukannya sebelum memulai proyek ini aja kondisi keuangan PLN udh minus?
mohon pencerahan....

https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20200625191856-85-517592/dirut-pln-mengaku-kelola-utang-tak-sehat-senilai-rp500-t

Disitu dirutnya sendiri yg bilang duit PLN 0 dan seratus persen proyek dibiayai dari utang
profile-picture
gabener.edan memberi reputasi
Diubah oleh boringman2
Lihat 2 balasan
bang RR cita cita mulia hampir mau jadi menteri lagi.......


ayo usaha sedikit lagi bang....prihatin, puasa senin kemis.....
G percaya gue, tender gue sampe hari ini blm cair, dan bukan gue aja, vendor lain uda mulai rontok
kadrun kapan sadar nya sih kalo ni ekonom udah gak relevan lagi , di bidang nya sendiri aja gak kompeten emoticon-Cape d...
Ia dong PLN jelas Mampu byr utang kan monopoli dri dlu.. n pasti yg ngasih utang ngantri emoticon-Big Grin

Coba membahas jual beli listrik antar PLN, Perusahaan IPP n Konsumen listrik.. bih rame tu emoticon-Big Grin
Diubah oleh ruuuruuu
cebi emang idiot maslah angka emang gak pasti tp warning RR sering kejadian loe malah nyari pembenaran terus😑👎
profile-picture
gojira48 memberi reputasi
pantaslah dipecat terus....

emoticon-Traveller
Rizal Ramli Salah Lagi, Menakar Utang Jangka Panjang PLN Rp695 triliun
satu lagi gobloker pecatan bikin blunder😂😂


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di