CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Menyingkap Drama Sujud dan Tangis Risma, Cueknya Khofifah,Ujungnya Rakyat Jadi Korban
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efaba1dc342bb31941fcf77/menyingkap-drama-sujud-dan-tangis-risma-cueknya-khofifahujungnya-rakyat-jadi-korban

Menyingkap Drama Sujud dan Tangis Risma, Cueknya Khofifah,Ujungnya Rakyat Jadi Korban

SURABAYA, NETRALNEWS.COM - Walikota Surabaya Tri Rismaharini mendadak jadi pusat perhatian seluruh Indonesia. Ia bersujud di depan para dokter sambil terisak menangis merasa bersalah. Risma bahkan mencatut dirinya dengan kata goblok.

Tidak ada orang Surabaya meragukan kapasitas seorang Risma. Risma adalah ratu kesayangan. Ia dicintai dan disayang warga Surabaya. Ia bekerja sungguh-sungguh. Penuh totalitas dan kerja keras. Surabaya yang bersih, nyaman, hijau dan maju terwujud karena tangan dingin Risma.

BACA JUGA

Peta Sebaran COVID-19 Surabaya 30 Juni 2020: Pasien Positif 5.605, Sembuh 2.314 Orang
Pasien Positif COVID-19 di Jatim 11.795; Sembuh 3.870 Orang, Ketua Gugus: Ini Juara Nasional

Model leadership Risma memimpin anak buahnya keras dan ngotot. Ia bekerja detail. Devil is in detail.

Kebijakan yang dibuatnya secara detail diurainya dengan runut. Controlling dan evaluasi progres di lapangan rutin disidaknya.

Tidak heran banyak anak buahnya kelabakan saat disidak Risma. Risma tidak segan memuntahkan kemarahannya saat sidak. Suaranya kencang. Amarahnya lama. Apalagi jika menyangkut kepentingan warganya. Risma tidak kenal kompromi. Risma tidak segan tongkrongin lokasi sampai masalah selesai.

Saya termasuk orang luar Surabaya yang kesengsem sama Risma. Siapa sih yang gak kesengsem sama tangan dinginnya.

Ia mampu mengubah kota yang tadinya macet, kumuh, jorok jadi kinclong, hijau, bersih dan nyaman.

Belum lagi sentuhan humanisnya saat kotanya diserang teroris. Beberapa gereja dibom sekitar Mei 2018. Puluhan jatuh korban. Dalam hitungan jam Risma turun ke lapangan. Ia memeluk satu persatu keluarga korban. Ikut meratap. Ikut menangis. Korban bom merasa tenang dalam pelukan ibu mereka.

Sayangnya, dalam kondisi extra ordinary  pandemi Covid-19 tangan dingin Risma seperti kehilangan magicnya.

Setidaknya data dan kurva kasus Covid-19 menunjukkan itu. Surabaya masih zona hitam. Kasus baru harian mencapai 3 digit terus naik . CFR Case Fatality Rate sekitar 7.3 persen. Lebih tinggi dari angka CFR nasional sekitar 5.2 persen.

Apa yang terjadi di Surabaya atau Jatim sesungguhnya?

Pasti tak banyak yang tahu apa sesungguhnya yang terjadi di Surabaya. Publik malah menangkap pesan ada drama yang terjadi. Risma nangis-nangis bersujud di depan para dokter. Inti persoalan malahan hilang ditelan video drama sujud Risma.

Seorang teman pengajar di Surabaya cerita. Suatu hari di bulan Maret ibunya teman saya itu mendadak drop. Mereka langsung membawa ke rumah sakit.

Kamar rumah sakit semuanya penuh. Padahal ibunya perlu ditangani segera. Ibunya harus menunggu di lobby cukup lama. Untung akhirnya dapat kamar. Itu kejadian di bulan Maret. Kondisinya sudah megap-megap.

Pokok persoalan utama di Surabaya sejak awal adalah faskes yang kewalahan menampung pasien. Daya tampung rumah sakit tidak cukup.  Tenaga kesehatan  akhirnya kelimpungan.

Nakes di hilir pontang panting menangani banjir pasien dari hulu yang terus meningkat kasusnya. Banyak juga nakes menjadi korban. Meninggal dunia.

Kemarin, para dokter bertemu Walikota Surabaya di Balai Kota.

Dokter Sudarsono memaparkan kondisi rumah sakit rujukan di Surabaya yang disebut telah kelebihan kapasitas atau overload. Kondisi itu membuat banyaknya pasien meninggal dunia.

"Pasien yang meninggal itu ada dua. Pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan yang optimal, sudah ventilator macem-macam, tapi karena orangnya sudah tua, komorbid-nya banyak, dia meninggal," kata Sudarsono di halaman Balai Kota Surabaya, Senin (29/6).

Sedangkan yang kedua, adalah pasien yang tak bisa dirawat dengan optimal, karena kondisi rumah sakit yang overload. Hal itu membuat rumah sakit tak mampu lagi menampung pasien. Akibatnya sejumlah pasien pun meninggal dunia.

Sudarsono mengatakan kondisi overload itu berdasarkan laporan beberapa dokter jaga, di rumah sakit rujukan lain di Surabaya.

Sejumlah pasien yang sudah kritis, katanya, tak bisa mendapatkan perawatan.

"Saya itu tiap malam dikonsultasi dokter-dokter jaga di rumah sakit, 'dok mohon maaf saya konsul nggeh, kayak gini bagaimana', ini PDP masuk dirawat,

"Enggak ada tempat Dok, rujuk enggak ada tempat', Itu RS seperti itu, pasien mati sia-sia, karena memang overload," katanya

Sudarsono mengatakan selain terjun langsung di IGD, Poli dan ruang isolasi untuk merawat pasien Covid-19, ia juga seringkali mendapatkan permintaan konsultasi dari dokter rumah sakit rujukan lain.

"Saya tahu, tidak langsung di Soetomo, tapi saya di WhatsApp karena mereka [dokter] itu mantan-mantan murid saya," katanya.

Ia juga bercerita bahwa dirinya sempat menangis saat dimintai tolong oleh pasien yang membutuhkan ruang perawatan. Namun karena kapasitas yang penuh, ia mengaku tak bisa berbuat apa-apa.

Selain itu, Sudarsono juga seringkali tak bisa menahan air matanya ketika melihat sejumlah rekannya, baik dokter maupun perawat, yang meninggal dunia saat bertugas.

"Saya nangis, di poli ada pasien nangis-nangis minta dicarikan tempat, saya nangis, gimana ya gak ada tempat. Saya juga nangis melihat teman-teman saya berguguran, melihat perawat juga melihat masyarakat yang seperti ini," ujarnya.

Ia pun mempertanyakan persoalan yang di hulu, sehingga pasien corona terus membludak dan membanjiri hilir, atau rumah sakit.

"Kita itu yang di hilir (rumah sakit) dikasih (mendapatkan banyak pasien) terus saban hari, berarti yang di hulu (masyarakat) ini ada apa," ujarnya.

Sudarsono mengakui Risma telah gencar mengingatkan masyarakat Surabaya untuk tertib protokol kesehatan.

Namun, nyatanya masih banyak warga yang tak perduli. Hal itu dilihat oleh mata kepalanya sendiri.

"Usaha Bu Risma sudah sangat bagus, cuma saya melihat, di daerah itu, di jalan-jalan kecil itu masih ada warung kopi, anak-anak muda [ramai]," katanya.

Dengan kondisi itu, Sudarsono pun meminta agar Pemkot Surabaya menjalin koordinasi dengan para rumah sakit rujukan di Surabaya, hal itu tersebut dilakukan agar permasalahan ini bisa segera teratasi.

"Mohon nanti ada koordinasi, konsolidasi, saya ingin ketemu Bu Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita dengan stafnya, karena saya merasa kurang koordinasi," ucapnya.

Mendengar pernyataan-pernyataan Sudarsono, Risma menjawab, "Mohon maaf Pak Sudarsono, saya memang goblok, nggak pantas saya jadi Wali Kota Surabaya," ujar Risma.

Usai mengatakan itu, mendadak Risma sujud di lantai. Menangis. Kontan para dokter kikuk. Serba salah. Bingung. Walhasil episode curhat nakes berakhir dengan tontonan drama yang bikin haru.

Belum hilang ingatan kita drama marah-marah Risma saat dua mobil labotarium PCR dibelokkan ke Tulung Agung oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Risma mencak-mencak. Ia merasa disabotase. Risma yang minta labotarium mobile itu ke Doni Monardo, mengapa malah dibelokkan Khofifah ke daerah lain ? Apakah Khofifah tidak mengerti prioritas? Kenapa Surabaya yang seharusnya prioritas utama karena jadi pusat wabah tidak diperhatikan Khofifah, mengingat Surabaya dengan segala keterbatasan anggaran dan rumah sakit.

Dari kejadian itu akhirnya publik tahu ada masalah besar antara gubernur dan walikota. Mereka tidak kompak. Berseteru. Saling memunggungi.

Keduanya tidak bisa bekerja bersama dan tidak bisa bekerja sama.

Tidak heran, akhirnya publik Surabaya yang jadi korban. Secara umum Indonesia juga terkena. Angka yang tinggi di Jatim menyumbang cukup signifikan pada kurva angka nasional.

Dalam teori kepemimpinan hanya ada dua kemungkinan.

Meminjam kutipan Eldridge Cleaver. 

'There is no more neutrality in the world. You either have to be part of the solution, or you're going to be part of the problem.'

Atau lebih sederhananya If you are not part of the solution, you must be part of the problem.

Saya kira, gubernur Khofifah dan Walikota Risma jika tidak bisa kerja sama dan bekerja bersama pokok persoalan di Jatim tidak akan selesai.

Dalam kasus Pandemi Covid-19 ini kedua belah pihak gubernur dan walikota bukan bagian dari solusi tapi bagian dari masalah. Ujung-ujungnya rakyat Jatim dan Nakes yang jadi korban.

Brigaldo Sinaga

https://www.netralnews.com/opini/rea...at-jadi-korban
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh joko.win
Halaman 1 dari 2
Kebanyakan akting
Dulu marah2
Skg nangis2 sujud
Bsk gantung diri

emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
raditz1983 dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
kofifah jg kena dampaknya gara² sby,sidoarjo,gresik melonjak mempengaruhi hasil jatim

dan kofifah terlempar dari bursa capres dan bisa² ga dipilih lagi di pilgub berikutnya

gara² dianggap gagal menangani covid..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bingsunyata dan 5 lainnya memberi reputasi
terkesan khofi memang sengaja ngejegal risma karena risma yg lebih digadang gadang.

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
buzzerp dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Dari awal sekali dulu kan Surabaya sdh di warning bahaya..tapi malah di buat guyonan,tdk serius menangani..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jfun790 dan 2 lainnya memberi reputasi

Kalau soal kerjaan, ane lebih percaya Risma ketimbang Khofifah emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
pheeroni dan masih.abu.abu memberi reputasi
Terus knp ts pasang pict masjid jd penyebar covid itu apa maksudnya

Oe cok jancok goblokmu koyok taek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
keranjang.baju8 dan 6 lainnya memberi reputasi
Prasangka jelek saya, Khofifah pengen Risma dan Kota Surabaya “gagal” menangani wabah corona. Kasus mobil PCR yang paling kentara.
profile-picture
qavir memberi reputasi
Kalu ane salahkan pemimpinya. Itu pemikiran yg paling logis. Cuman.. siapa sih pemimpin di negeri ini (yg sebenarnya)
Lihat 2 balasan
baik kofifah dan risma sama² kena dampaknya yg rugi mereka berdua
walkot gubernurnya dianggap gagal
masyarakatnya boleh ga disebut bebal??

hmm, ntahlah..
ane pengen ada opini dari warga surabaya tentang covid di jatim ini
profile-picture
qavir memberi reputasi
kofifah lagi ngumpet kali yak kayak
hampir tidak ada pemberitaan dia mengkoordinasikan penanganan pandemi covid di jatim
profile-picture
bukan_hp_nokia memberi reputasi
Lihat 1 balasan
siapa yg govlok?

Udah jelas itu sumber berita ada di segmen opini, kok masih dijadikan berita di BP..

Taruh di lounge sana, dilarang sumber opini disini untuk berita
profile-picture
profile-picture
pheeroni dan janurhijau memberi reputasi
Masih mau ditipu dengan pencitraan? Terbukti yang udah2 mengecewakan.

Menyingkap Drama Sujud dan Tangis Risma, Cueknya Khofifah,Ujungnya Rakyat Jadi Korban
profile-picture
buzzerp memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


jawabnya ada di list judul diantara isi beritanya..

China Kembali Temukan 19 Kasus Baru Covid-19 Ini Hasil Penelitian Flu Babi Baru yang Berpotensi Jadi Pandemi

namanya jg entitas pandemi.. sebelom entitas mereka diusir keluar dari sini bakal banyak virus2 dari mereka yg bakal datang dimari..
Diubah oleh zinaitudosa
Dengan drama nangis2 gitu emang risma jadi bagian masalah, bukan solusi.
khofifah dan risma emang duet paling konyol yg dipilih saudara2 kita dari timur jawa emoticon-Ngakak

Yg 1 banyak bacot yg 1 banyak acting

emoticon-I Love Indonesia
opini pribadi ah, malas baca sampai selesai
auk ah gelap
selanjutnya gimana, tergantung warganya sih
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di