CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Pilkada /
Bahaya Politik Konvensional Dalam Pilkada Manggarai
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efa08a47e3a723f082c2613/bahaya-politik-konvensional-dalam-pilkada-manggarai

Bahaya Politik Konvensional Dalam Pilkada Manggarai

Bahaya Politik Konvensional Dalam Pilkada Manggarai
Opini. Oleh Ven Darung. Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Flores Ende Periode 2018/2019.

Bahaya Politik Konvensional Dalam Pilkada Manggarai.
ketika saya menyodorkan judul tulisan ini, mungkin banyak pembaca yang menolak dan bahkan membencinya. Bagaimana tidak, konvensi dalam berpolitik sudah menjadi budaya dalam berdemokrasi. Namun, selama ini kita tidak sadar akan bahayanya. Tulisan ini merupakan sebuah refleksi saya melalui pengamatan empiris pesta demokrasi pada Pemilihan Umum ( PEMILU) yang rutinitas kita laksanakan setiap lima tahun sekali.
Seringkali pesta demokrasi diwarnai dengan konflik - konflik, baik itu vertikal maupun horisontal. Tidak jarang juga, pesta demokrasi menelorkan perpecahan, perusakan, penghilangan orang dan sebagainya, atau singkatnya saya menyebutnya dengan Patologi Demokrasi.
Yang menjadi Ketakutan kita juga dalam pesta demokrasi adalah bahaya Politik Konvensional. Mungkin pembaca melihat bahwa konvensi dalam berpolitik tidak menjadi masalah. Namun, ketika kita kritis melihat hal itu, politik konvensional adalah akar dari permasalahan pasca pemilu. Politik konvesional lazim dijalankan, namun tanpa kita sadari politik ini sangat berbahaya.
Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat sebentar lagi akan melaksanakan pesta demokrasi yaitu Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA). PILKADA itu rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember mendatang. Bahaya politik konvensional menyiang – nyiang di telinga.
Mungkin pembaca yang berbudiman bertanya, apa itu Politik Konvensional dan mengapa ia berbahaya terhadap PILKADA.
Konvensional dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan dengan kemufakatan dan kesepakatan. Jadi politik konvesional dalam arti sempit adalah Politik Kesepakatan. Namun, sebenarnya apa yang membuat Politik Konvesional berbahaya?
Politik Konvensional menjadi masalah bagi PILKDA Manggarai dan Manggarai Barat. Bahaya politik ini akan kita rasakan pasca pemilu. Sebut saja Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme atau yang akrab disebut dengan KKN merupakan dampak dari politik konvensional. Kebanyakan pilkada menjadi ruang bagi para elit politik dan para pengusaha kaya untuk bersilahturahmi. Dari Silahturahmi itulah muncul konvensi – konvensi. Konvensi – konvensi itu kerap menguntungkan diri sendiri atau komunitas tertentu danmerugikan orang lain. Konvensi yang dilakukan oleh para calon kepala daerah juga tidak hanya dengan para pengusaha kaya, tetapi juga dengan partai politik.
Konvensi yang dilakukan oleh para calon dengan pengusaha kaya adalah janji janji proyek. Tidak segan – segan para pengusaha akan mengeluarkan kekayaannya, dengan catatan pasca pemilu ia bisa memegang sebagian proyek dan secara otomatis ia selalu menang tender. Pada prakteknya si pengusaha akan dengan bebas menggunakan anggaran, sehingga tidaklah heran ketika banyak proyek yang dibangun begitu saja, tidak berkualitas dan tanpa memperhatikan keefektifan proyek tersebut.
Bahaya Politik konvensional tidak hanya kita rasakan pada pembangunan, ia meluas ke korupsi kolusi dan nepotisme. Sebagian tim sukses pasti akan diangkat menjadi pegawai kantor pasca pemilu, ketika sang calon menang. Yang menjadi bahayanya adalah pengangkatan itu tidak melihat kualitas para pegawai.
Dibeberapa kantor, kita temukan para pegawai yang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni di bidang itu.
Akibat politik konvensional akan dirasakan oleh masyarakat yang nota bene pada saat pemilu bukan pendukung pemenang. Dalam hal ini saya menyebut mereka dengan istilah Korban Politik. Politik konvensional sangat membahayakan PILKADA. Apabila politik seperti ini terus kita lakukan maka yang terjadi adalah tidak meratanya pembangunan dan kebiasaan ini terus mengintai kemajuan berdemokrasi kita.
Pada jangka panjang Politik konvensional membawa kita kepada politik identitas. Mengidentifikasi masyarakat pemenang pemilu pada tahun A dengan masyarakat yang kalah pada tahun A. Sehingga bayangan itu akan selalu terbawa pada pemilu selanjutnya. Lalu yang menjadi pertanyaan reflektif buat kita adalah Sampai kapan demokrasi kita seperti itu?
Politik secara teorinya sangat baik. Dengan berpolitik kita dapat menentukan arah pembangunan bangsa ini kedepan. Sayangnya pada prakteknya, politik dijadikan alat untuk mencari kekayaan.
Saya mengajak pembaca yang berbudiman untuk sama – sama kita menganggalkan politik konvensional dalam pilkada kita yang sebentar lagi akan kita laksanakan. Politik konvensional sangat berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi kita.



Diubah oleh vendaroeng


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di