CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef9f7915cf6c451f87456fe/restu-untuk-raina

Restu untuk Raina

Restu untuk Raina


Restu untuk Raina
Oleh: Rifa Da



Restu untuk Raina



---Prolog---


Terkadang, semesta berlaku tidak adil. Ia membuat satu manusianya memulai sebuah kisah, lalu pergi tanpa memberi tahu bagaimana alur kisahnya harus berjalan. Siapa tokohnya. Di mana ia seharusnya berada. Bagaimana ia menghadapinya. Juga ... mengapa semua ini terjadi pada dirinya?

Semua pertanyaan hanya menjadi asap putih di antara pekatnya kabut nestapa. Mengangkasa tanpa ada yang peduli padanya. Ia bertanya pada hampa. Tak ada jawaban. Tak ada hirauan.

Pada awan, ia bertanya tentang kekuatan. Untuk bertahan tanpa sebuah titian. Dan bagaimana ia tetap kembali, meski hujan telah meninggalkan.

Pada senja, ia bertanya tentang arti sebuah penantian. Ketika raga telah rapuh oleh kejamnya waktu, dan jiwa yang semakin meragu, hanya untuk sebuah kepastian yang lama semu.

Pada malam, ia terdiam. Terbungkam oleh hitamnya kekejaman.

Terlintas di ingatannya sebuah memori, saat takdir menggiringnya untuk menepi. Seorang pria bersetelan lengkap, hitam, menghampirinya yang teringsut di sudut ruang. Kalimat panjang, juga aksen tegas yang mengisyaratkan bahwa tak ada yang bisa membantah, masih diingatnya dengan jelas.

“Saya paham. Restu tidak akan bersedia meninggalkan Anda, saudari Raina. Jadi, saya berharap Anda mengerti situasi ini.”

”Ya.” Sangat berat bagi Raina untuk sekadar berucap. ”Saya yang harus pergi.”

Apa yang diucapkan sejalan dengan langkah kakinya yang bergegas, meninggalkan ruang mewah beraroma kopi. Ia memilih untuk pergi. Meninggalkan kisah dan segala alurnya dengan Restu Bumi Adipati. Ia menyerah. Tidak dijumpainya jalan selain pasrah.

Ia adalah Raina, bersama sejuta cerita tentang nestapa.

_____RR_____


“Kamu bosan jadi orang baik, Rain?”

“Eh?”

Kedua alis Raina terangkat. Keterkejutannya dikalahkan oleh wajah Aldi yang menegang karena Rain menoleh tiba-tiba. Jarak di antara mereka hanya satu jengkal.

Rain berbalik. Diselipkannya anak rambut ke belakang telinga, untuk meredam gejolak rasa. “Aku ngga pernah baik, Di.”

Aldi membisu, layaknya awan di atas mereka. Senja di kaki langit menelan kehangatan yang sebelumnya ada. Menyisakan canggung bersama dua hati yang didera nestapa.

Bulan mulai berani menduduki singgasananya. Cahaya jingga mulai temaram. Puncak Bukit Atma sunyi. Binatang-binatang malam bersiap dengan nyanyiannya.

“Raina.” Suara Aldi lirih, hampir terbawa angin malam. “Yang kamu lakukan tadi akan menyakiti Restu.”

“Aku ngga bisa pergi tanpa mencipta sebuah luka.”

_____RR_____



To be continued




Banyumas, 29 Juni 2020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rifada23

Indeks Link

profile-picture
nadilarizka123 memberi reputasi
Diubah oleh rifada23

Restu untuk Raina

[#Bab 1]

Restu untuk Raina


Awan-awan beriringan di atas Bukit Atma, membawa satu-satu kenangan, lalu hinggap di benak Raina. Gadis sendu itu mulai terbuai dalam memori. Di atas sebuah batu besar yang datar, Raina terpejam. Angin kecil yang meniup lembut tidak mengusiknya.

Ia teringat saat pertama kali takdir mempertemukannya dengan Restu, kekasihnya.

Quote:


Quote:


Quote:


Kini, awan Cumulonimbus tengah berarak, tepat di atas Raina. Sayangnya, ia membawa kenangan yang kelabu.

Quote:



_____RR_____


Restu untuk Raina


“Rain, apa aku mengganggu semedimu?”

Raina membuka kedua matanya. Seraya menetralkan keterkejutan, ia mengusap batu duduk di sebelah kanannya, menyilakan pria yang baru datang itu untuk duduk.

“Aldi, kau tahu kenapa bukit ini kusebut Bukit Atma?”

Aldi menggeleng. Ditatapnya Raina, sahabatnya itu, dengan rasa kasih. Kesejukan Bukit Atma berbaur dengan suasana damai yang perlahan tercipta bersama mereka.

“Karena setiap datang ke sini, aku seperti menemukan kembali jiwaku yang hilang.” Lidahnya kelu kemudian. Ia getir, mengulang kalimat yang pernah diucapkannya kepada Restu dulu.

“Atma ... jiwa?”

“Ya.” Raina menjawab tanpa mengalihkan pandangan pada Aldi. Ia menghadap depan, pada pegunungan di seberang, juga awan-awan. Perlahan, matanya terpejam lagi. Ia menggapai ketenangan.

Perasaan Raina mulai tertata. Hatinya pun perlahan menerima. Cinta dan takdirnya.

“Kau tahu? Sangat menyakitkan untukku mengakui bahwa kesalahan terbesarku adalah menerima kehadirannya.” Raina menghela napas sebelum melanjutkan. “Namun, yang lebih menyakitkan adalah saat mendengarnya mengatakan bahwa dia menyesal telah mengungkapkan perasaannya padaku.”

Dan awan-awan kini menumpahkan apa yang telah lama ditanggungnya. Gerimis membasahi pucuk-pucuk pohon pinus. Dua bersahabat itu membiarkan tubuhnya menyambut salam semesta melalui hujan.

“Aldi, jika bertahan adalah kesalahan, haruskah aku pergi untuk mengakhiri?"


_____RR_____


To be continued.


Banyumas, 8 Juli 2020.
profile-picture
nadilarizka123 memberi reputasi
Diubah oleh rifada23
Nice word gan !!!
Keep it up !!!emoticon-thumbsup
profile-picture
rifada23 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
lanjuttt
profile-picture
rifada23 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Ohhhh wowww keep up the good workkk dan menghibur para pembacaaa
profile-picture
rifada23 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Untuk Bab 2 akan update segera, gan. Terima kasih sudah berkenan membaca 🤩
Diubah oleh rifada23


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di