CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Forex /
Memahami Analisis Sentimen Dengan Filsafat
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef98e7982d4953e9852cbb2/memahami-analisis-sentimen-dengan-filsafat

Memahami Analisis Sentimen Dengan Filsafat

Memahami Analisis Sentimen Dengan Filsafat


Sebelum membahas Memahami Analisis Sentimen Dengan Filsafat saya mau kasih rekomendasi broker forex terbaik di Asia. simak disini.

Cacat Analisa
Saya meyakini bahwasanya pada level apa saja. sebuah analisa pasti bercacat. Tak peduli siapapun orangnya serta seberapa lama. seberapa tidak sedikit dana yg dikelola ataupun seberapa ahli dia di pasar keuangan pastilah analisanya bercacat. Ada beberapa sudut pandang untuk meneerangkan mengapa setiap analisa yg kita lakukan mempunyai cacat.Komposisi variabel fundamental yg di lakukan oleh seorang analis tak memberi jaminan dia sudah memilih rangkaian yg tepat untuk meneerangkan pristiwa dari peristiwa pergerakan harga mata uang.Katakanlah Kamu telah mengumpulkan seluruh data dengan lengkap. tapi lengkap nya itu sendiri menjadi sebuah pertanyaan yg berlanjut Hingga mana batas kelengkapan yang telah di sebutkan? Apakah standar mutlak ataupun memanglah standar kita sendiri?Biasanya. yg terakhirlah yg tidak sedikit dipilih. entah itu penyebabnya yaitu oleh elemen waktu untuk mengambil keputusan secepatnya maupun orientasi uang yg membentuk standar kita sendiri. Namun kalo dipikir-pikir sebetulnya kita pula masih mempunyai keraguan dengan standar mutlak yang telah di sebutkan. Tapi realitanya. standar mutlak yang telah di sebutkan runtuh sepenuhnya dengan keberadaan hukum dialektika. di mana tak ada satu kebenaran yg absolut. Akibatnya. self standard kita sendiri hancur dengan hukum ketidakpastian kita-kita. Menjadikan bisa disimpulkan bahwasanya lengkap ataupun tidaknya berita. tak akan memberi jaminan hasil berhasil seseorang. Kita mampu sukses dengan data yg lengkap serta sebaliknya kita pula mampu sukses dengan data yg tak lengkap.Serta ini mampu dibuktikan oleh fenomena di sekeliling kita di mana ada kinerja dana yg sukses dgn teknikal tanpa tau apa itu bank central ataupun tanpa tahu seluk beluk fundamental sekali-pun.Tapi disini saya terasa tertarik ingin membahas dari segi realitas pasar keuangan saya akan memakai filsafat untuk ini. berikut pemaparannya.

Absolute VS Self
Absolute ataupun kita sebut selaku standar mutlak ialah harga yg digerakkan oleh selain standar buatan kita sendiri. Segala hal yg digerakkan oleh hasrat memeroleh uang bukanlah standar mutlak berhubung harga mutlak semestinya bergerak berhubung faktor fundamental bukan berhubung campur tangan kita-kita di bidang keuangan.

Jadi mampu di katakan. harga mata uang telah semestinya merepresentasikan bidang usaha yg mana menjadi fundamentalnya namun pada kenyataannya kondisi ini tak barangkali tercapai berhubung meski bagaimanapun. bidang keuangan mempunyai pemain yg berisi kita-kita di dalamnya. Harga digerakkan oleh kita-kita sedangkan kita-kita mempunyai kepentingan untuk menghasilkan uang. Bisa di simpulkan bahwasanya standar mutlak memainkan peranan yg kecil ataupun malah kasarnya kita meniadakan kondisi mutlak yang telah di sebutkan.Sedangkan standar self ataupun dgn kata lain ialah standar yg kita buat sendiri. adalah esensi terpenting untuk mengetahui mengapa harga mata uang bervolatilitas. Standar self adalah standar keputusan yg kita buat dengan mempertimbangkan banyak sekali hal. walaupun yg paling Suka berlangsung ialah keinginan untuk mencetak laba. Tak ada yg lebih secara umum dikuasai dibanding keinginan akan uang serta keinginan ini mendorong partisipan pasar untuk mengaktifkan mekanisme. Ekspektasi serta kekhawatirannya menjadikan hargapun bervolatilitas meskipun pada tatkala berita di lapangan dibatasi.

Gabungan Absolute Serta Self
Lantas Kita berupaya mencari tips dari kondisi-kondisi yang telah di sebutkan dengan menggabungkan kedua faktor yakni standard mutlak serta self yg membawa kita pada kesimpulan bahwasanya harga mata uang sejatinya terbentuk dari fundamental yg melatarinya selaku standar mutlak lantas ada campur tangan kita-kita selaku self standard. Lantas di kala ini dia kita mengenal apa yg di sebut analisis fundamental serta sentimen.Sebetulnya ini dia yg menjadi masalah. berhubung dua hal yang telah di sebutkan sepenuhnya mempunyai keberadaan yg berbeda. Oleh karena itu. keberadaan ini menjadi sentimen yg Amat mendominasi dalam pasar keuangan serta akan makin kuat lagi dominasinya dengan keberadaan mekanisme pasar bebas di mana uang sesukanya terbang ke mana pun dia mau.Tidak sedikit yg mengira sebelumnya kalo saya ialah seorang fundamentalis. Betul sekali berhubung saya mempertimbangkan faktor fundamental namun itu tidak lebih tepat berhubung saya selalu bersusah-susah untuk merumuskan nilai sentimen yg menggerakan mata uang. Saya pula berkeyakinan bahwasanya para hedge fund- semacam first state indoequity yg mengelola dana (thn 2009) sekitar $134 Milyar-juga melakukan hal yg percis dgn saya yakni mempergunakan serta memanfaatkan harga tak wajar akibat sentimen dari orang-orang yg mempunyai orientasi jangka pendek dalam pengelolaannya.Tapi tentunya. saya tak tahu berapa tidak sedikit dana yg dikelolanya dalam risk appetite. Saya terasa butuh memberikan ini berhubung falsafah hedge funds yang telah di sebutkan sejalan dengan pedoman trading saya sendiri. Serta yg pasti saya bukanlah fundamentalis serta saya tak tengah menganalisis fundamental meskipun tampak luar kelihatan semacam itu.

Filsafat
Disini. saya tak mengajak Kamu untuk menghasilkan profit. melainkan lebih ke bagaimana memahami realitas. saya akan berupaya mengajak kamu untuk memahami realitas bukan dengan logika biasa yg Suka kita pakai sehari-hari.Dasarnya memang pasar adalah akumulasi dari berita yg tak sempurna menjadikan hargapun mampu di katakan tak valid. Tapi mengapa pasar cacat? Apa yg memicu harga cacat? Serta bagaimana berpikir dgn logika yg tak biasa? Berikut pemaparannya.

Mengapa Pasar Cacat ?
Mengapa pasar cacat? Hal itu sehubungan oleh keputusan yg kita ambil berpijak pada ekspektasi masa depan. sedangkan masa depan sendiri ialah hal yg tak pasti. Jadi bisa di katakan bahwasanya keputusan ini salah. berhubung harga yg berlangsung pun ialah hasil dari kesalahan ini.Tatkala keputusan yg kita ambil berpijak pada masa depan. maka keputusan ini akan mengaktifkan mekanisme Ekspektasi ataupun ke-khawatiran diri seseorang dengan kata lain anda tak mengambil keputusan berdasar berita serta tentunya hal ini mampu menuai kesalahan di masa depan saat-saat di mana ekspektasi tak sesuai harapan lagi. Jadi kita mampu tarik kesimpulan bahwasanya harga mata uang digerakan oleh ekspektasi partisipan serta ekspektasi mampu salah menjadikan harga mata uang sejatinya perwakilan dari berita yg salah.Tapi kalo kita mengambil keputusan berdasar berita apakah harga mampu di katakan benar. Tentunya harga mampu di katakan benar andai keputusan yg partisipan ambil berpedoman pada berita. Tapi kondisi ini dia yg tak barangkali berhubung meski bagaimanapun partisipan akan selalu secara umum dikuasai utk mengambil keputusan berdasar ekspektasi ataupun sekedar kekhawatirannya.Lantas mengapa partisipan memakai ekspektasi bukan bahkan berita. Tak ada jawaban yg pasti berhubung pasar tentu memakai keduanya untuk masuk maupun keluar pasar tapi jawaban mampu di berikan dengan pendekatan uang. Tatkala segala hal berhubungan dengan uang maka ada rasa emosional di mana kita kadang ketakutan mengenai hal-hal yg barangkali berlangsung di masa yg akan datang apakah uang kita akan bertumbuh ataupun bahkan lenyap.Disaat seseorang ingin mengetahui masa depan maka sejatinya tak akan ada berita untuk tahu bagaimana masa depan itu maka di kala ini dia proses peramalanpun di mulai. Serta di sekarang ini pula kita mampu mengklaim bahwasanya harga adalah hasil kesalahan di mana harga bergerak dengan ekspektasi-ekspektasi yg sebetulnya semu. Tapi ekspektasi ini menjadi realita di kala berita mengkonfirmasi ekspektasi yang telah di sebutkan namun semisalnya ekspektasi yang telah di sebutkan bertolak belakang dengan ekspektasi maka konsekuensinya harga akan jatuh lagi.Kita tak mampu menyatakan harga pasar ialah benar berhubung kadang harga tak mencerminkan berita yg ada serta hal ini Amat jauh dari kebenaran. Pasar adalah gabungan dari kebenaran ataupun kesalahan. Tapi yg menjadi fokus utama ialah seberapa secara umum dikuasai keduanya.Andai kuantitas kebenaran lebih besar dari kesalahan maka harga akan bergerak menuju kebenaran yang telah di sebutkan menjadikan kesalahan akan ikut dengan tren yang telah di sebutkan. Tapi sebaliknya andai kuantitas kesalahan lebih besar dari kebenaran maka kebenaran akan ikut kepada kesalahan yang telah di sebutkan. Jadi meskipun pasar salah dia mampu memvalidasi ataupun mensahkan di rinya sendiri dengan paham dominannya di kala ini dia kita mengenal apa yg namanya satu model market 'True market model' ataupun kumpulan banyak sekali kesalahan serta kebenaran akan menjadi satu model tak peduli benar ataupun salah.Hal ini tampaknya menarik perhatian kita untuk menjumpai model yang telah di sebutkan. Mari kita identifikasi 'True market model' pasar bergerak dengan paham sentimen bukan paham fundamental berhubung di alah yg paling secara umum dikuasai di pasar keuangan. Andai kita mau melihat sejarah krisis semenjak Great depression 1929 sampai-sampai krisis yg baru-baru ini . model true market ialah yg paling cocok untuk menggabarkan kriteria sifat pasar keuangan. Selaku semisal pada periode 1982 hingga 1985 amerika defisit yg pastinya memperlemah mata uang tapi ekspektasi pasar terhadap terpilihnya Ronald Reagan menjadi presiden amerika ke -40 malahan membuat dolar makin meroket.Itulah mengapa pasar keuangan ini mempunyai deskripsi dengan perumpamaan hewan. Semacam kita tahu bull yg mempunyai arti banteng. bear yg mempunyai arti beruang serta heard instinct ataupun kerumulan hewan di mana orang lain akan ikut melakukan andai yg lain-lainnya pula melakukan. Pasar keuangan menetapkan sentimen menjadi paham secara umum dikuasai.Selesai.

KONTRIBUTOR :
Nama : Ardhy Solomon
Email : assuperhuman88@gmail.com

Quote:



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di