CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Forex /
Frekuensi Trading Dalam Forex
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef982a9dbf76438da24337d/frekuensi-trading-dalam-forex

Frekuensi Trading Dalam Forex

Frekuensi Trading Dalam Forex


Sebelum membahas Frekuensi Trading Dalam Forex saya mau kasih rekomendasi broker forex terbaik di Asia. simak disini.

Tidak sedikit trader forex yg mengira bahwasanya dengan banyaknya frekuensi trading akan memberi-kan kesempatan profit yg lebih besar. Pada kenyataannya tak demikian. tidak sedikit trader yg stress ataupun malah frustasi dengan seringnya mereka-mereka masuk pasar dengan probabilitas profit yg rendah.
Beberapa bukti menunjukan bahwasanya para scalper (yg Suka keluar masuk pasar dengan time frame rendah) serta day trader (yg sehari-hari masuk pasar dengan frekuensi lebih dari sekali) hasil tradingnya secara rata-rata masih dibawah mereka-mereka yg frekuensi tradingnya lebih rendah. Yg di maksud frekuensi trading dalam tulisan atau artikel ini ialah bagi para manual trader. bukan bagi trader yg menerapkan software trading ataupun robot yg mampu beberapa kali keluar masuk pasar dengan otomatis.
Ialah sifat alami seorang trader andai makin Suka memonitor pergerakan harga maka akan gampang tergoda untuk membuka posisi trading. Umumnya berlangsung pada trader yg mengacu pada time frame rendah contohnya 15 menit. 5 menit ataupun malah 1 menit. berhubung dengan demikian mereka-mereka cenderung untuk menaruh prediksi yg berlebihan pada pergerakan harga pasar menjadikan berpotensi untuk melakukan kesalahan yg berakibat pada resiko yg cukup besar.
Kita sudah tahu bahwasanya lebih tidak sedikit trader yg gagal dibanding yg berhasil. Andai kita tahu bahwasanya umumya yg gagal yang telah di sebutkan frekuensi tradingnya tinggi. maka akan lebih bijak andai kita berbuat sebaliknya dengan tak Suka masuk pasar semacam yg pada biasanya mereka-mereka lakukan. Ya. bukti menunjukan bahwasanya trader yg berbasis cuma pada daily chart dengan frekuensi trading yg relatif rendah. dalam jangka yang lama hasil nya akan jauh lebih konsisten.
Andai kita trading lebih jarang. maka resiko kita akan lebih kecil dibanding trader yg frekuensi masuk pasarnya lebih besar. Ambil semisal. dengan balance yg percis seorang trader dalam sebulan buka posisi sebanyk 30 kali. tengah trader yg lain 3 kali. Position size per trade pada trader pertama tentu tak akan sebesar trader yg cuma 3 kali sebulan masuk pasar.
Selain itu waktu yg dibutuhkan serta barangkali rasa stress yg dialami trader pertama lebih tinggi dari yg yang terakhir. Andai kita menaikan kualitas trading dengan jarang masuk pasar. potensi risk/reward ratio kita pula akan meningkat. Kita akan masuk pasar andai kondisinya memanglah sudah sesuai dengan metode taktik atau strategi trading yg kita terapkan. Hal ini akan membuat besar probabilitas profit kita selain mengurangi waktu dalam memonitor pergerakan harga pasar. Barangkali berlawanan dengan profesi yg lain dimana makin tidak sedikit waktu kita kerja akan makin menghasilkan uang. dalam kenyataannya profesi trader forex taklah demikian. kita bahkan perlu menghindari over-trading ataupun frekuensi trading yg berlebihan.
Semisal trading dengan frekuensi rendah serta frekuensi tinggiBerikut semisal yg menunjukan bahwasanya frekuensi trading yg tinggi tak mempunyai arti akan menghasilkan keseluruhan profit yg tinggi pula. Dalam semisal ini di tunjukkan hasil final seorang trader yg memakai time frame 4-hour serta trader yg menerapkan time frame daily dalam waktu satu bulan. R ialah Return ataupun reward (profit) yg sudah ditentukan serta dihitung dalam dollar. Risk/reward ratio dalam semisal ini = 1:1. Jadi andai resiko per trade = $100. maka reward per trade-nya pula $100. andai kita profit $500 dalam sebulan. maka hasi akhir-nya = 5R. Diluar dugaan hasil final kedua trader pada bulan yang telah di sebutkan percis. yakni 3R. akan tetapi trader yg pertama dengan time frame 4-hour sudah masuk pasar sebanyk 15 kali dibanding trader kedua dengan time frame daily yg dalam sebulan cuma masuk pasar sebanyk 4 kali saja.
Pada semisal ini win rate trader pertama ialah sebesar 6 (frekuensi profit/winner) / 15 (total frekuensi trading) = 40%. tengah trader kedua sebesar 2/4 ataupun 50%. Dalam hal keterkaitan emosi. stress ataupun barangkali rasa frustasi. trader kedua tentu lebih baik. serta berakhir dengan hasil yg setara dengan trader pertama. Andai barangkali frekuensi trading kita lebih dari 15 kali dalam sebulan. namun toh hasil akhir-nya masih loss. mampu berupaya untuk mengawali dengan frekuensi trading yg rendah ataupun tak Suka masuk pasar.

(Catatan: semisal di atas bukan hasil trading yg sebetulnya. di buat cuma untuk memberikan gambaran)
Andai kita trading dengan metode price action. barangkali dalam sebulan cuma ada beberapa setup yg valid. jadi kita tak Suka masuk pasar. Kita mesti cukup sabar mengamati kondisi pasar pada time frame daily sampai-sampai pergerakan harganya memberi-kan sinyal yg benar benar valid untuk entry.
Mengapa trader Suka masuk pasarDari survey serta penelitian. trader sering-sering masuk pasar berhubung mereka-mereka terlalu meyakini diri sesudah sukses mencetak profit besar ataupun profit yg berturut-turut. lebih-lebih bagi mereka-mereka yg tak menerapkan trading plan. Penelitian yg pernah di lakukan oleh Terrance Odean and his colleagues memberikan kesimpulan bahwasanya kebanykan para investor lebih menitik beratkan pada keuntungan dalam kalkulasi tradingnya. semacam yg tertulis dalam makalahnya berjudul Do Day Traders Rationally Learn About Their Ability.
Odean and company pula meneliti mengapa hasil trading para day trader ataupun para trader yg masuk pasar lebih dari sekali dalam sehari selalu negatif. serta menggaris bawahi bahwasanya rata-rata mereka-mereka kecanduan trading dengan time frame rendah serta frekuensi tinggi. Rekomendasi yg di berikan ialah hindari menitik beratkan pada profit dalam trading plan. jangan menerapkan leverage yg terlalu tinggi pada account trading serta jangan over-trade.
Trader lelaki serta trader wanitaDari tulisan atau artikel yg pernah dimuat pada situs web The New York Times. trader lelaki cenderung untuk trading dengan frekuensi yg lebih besar dari trader wanita. Dari hasil survey. trader lelaki cenderung berpikir bahwasanya mereka-mereka tahu apa yg akan berlangsung di pasar sementara trader wanita lebih mendapatkan fakta bahwasanya mereka-mereka tak tahu dengan pasti apa yg akan berlangsung di pasar.
Dalam kenyataannya trader wanitalah yg benar. berhubung tidak seorangpun tahu apa yg akan berlangsung pada pasar kecuali ada berita illegal dari insider trader yg tidak barangkali berlangsung dalam pasar forex (dalam pasar saham barangkali saja berlangsung). Berhubung trading ialah wacana probabilitas. maka ada baiknya dihindari untuk masuk pasar dengan probabilitas yg rendah. kecuali andai menerapkan metode trading yg mampu memberi-kan sinyal setup trading yg valid.

Sumber: Nial Fuller - www.learntotradethemarket.com

Quote:



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di