CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Pilkada /
Penjaringan Caleg di Masa Pandemi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef848fb68cc95505c0100d4/penjaringan-caleg-di-masa-pandemi

Penjaringan Caleg di Masa Pandemi

WFH memang membuat semua bisa dikerjakan di rumah namun ketetapan untuk Social Distancing menjadikan kita seperti tahanan rumah. Tidak seseram itu sih. Mirip-mirip sepertinya, karena kan memang bebar-benar hanya di rumahq saja.
Tidak lagi bisa dengan bebas mengunjungi teman dan saudara. Mungkin bisa sih namun karena keterbatasan biaya maka harus memutuskan untuk di rumah saja. Mobil pribadi tidak punya. Memang transportasi masal seperti kereta api sudah bisa digunakan dengan biaya tiket normal, namun syaratnya yang membikin kita duduk lagi tidak jadi beranjak. Setiap penumpang harus membawa hasil RAPID TEST.
Wow, ringan di ongkos berat di syarat. Rapid teas di Pasuruan harganya bervariasi antara 300 sd 450 rb. Nah, jika perginya satu keluarga kan jadinya BESAR SEKALI.
Jadilah aku tidak kemana-mana. Bahkan ketika ada berita duka dari para sahabat kunjungan duka tidak bisa dilakukan.
Ketika tiba-tiba mendapat telepon video dari seorang sahabat. Say hello dan berkirim kabar sehat dan selamat berlanjut sebuah tawaran mengagetkan dan mengejutkan. Dia menawari akh untuk menjadi Calon Anggota Legislatif dari sebuah partai yang memang kuidolakan dan selalu kupilih ketika pemilu. Mendengar tawarannya aku terbahak. Dia menyanggah ungkapanku tentang biaya mahar yang selama ini kudengar. Penjelasan itu berlanjut dengan harapan bahwa pemikiranku bisa mewakili kelompok minoritas yang memang kusandang.
Masih dalam senyum dikulum, aku berpikir. Memang menjadi anggota dewan adalah salah satu panggilan untuk diperjuangkan. Memperjuangkan hal hal yang selama ini aku pahami bisa dilakukan dari sana. Lantas terbayang mimpi-mimpi kecilku tentang budaya bangsa, tentang segala yang berbau tradisional yang telah kalah dan dikalahkan. Bahkan terkesan disingkirkan. Bahasa-bahasa daerah memang dipelajari di sekolah tapi keberadaan penggunaannya semakin dikalahkan oleh bahasa-bahasa asing, semisal inggris, mandarin bahkan kini Korea.
Bicara bahasa jawa saja. Semakin banyak orang jawa yang tidak menggunakannya dalam keseharian. Padahal di Suriname bahasa itu masih digunakan.
Bahkan di beberapa konten yutube ada bule Jerman dan Australia sangat bangga dengan bahasa jawa yang mereka kuasai. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita bangga menjadi bagian dari Indonesia dengan segalakeunikannya?
Keinginan itu bisa disuarakan dan di perjuangkan salah satunya dengan menjadi anggota dewan. Namun ketika cerita itu sampai ke teling anak keduaku. Hanya satu tanggapannya, "Ibu jawab apa? Jangan mau. Sudah jadi guru saja, Bu.'
Aku hanya tersenyum. Sejujurnya dalam otak dan hatiku mulai terbayang hadir dalam sidang dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Bersemangat, menebarkan ajakan untuk mempengaruhi yang lain. Menjadi ingat jaman mahasiswa, ketika bergulat dalam organisasi pergerakan. Dinamis, kadang sedikit arogan. Hmm, tawaran itu akhirnya memberi warna di hati dan otakku. Terima kaaih kawan. Akhir pekan yang manis.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di