CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Forex /
Penggabungan Beberapa Indikator
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef78f359a972e4be9437bcd/penggabungan-beberapa-indikator

Penggabungan Beberapa Indikator

Penggabungan Beberapa Indikator

Sebelum membahas Penggabungan Beberapa Indikator saya mau kasih rekomendasi broker forex terbaik di Asia. simak disini.

Dalam menapaki dunia trading forex. bukan tak barangkali andaikan Kamu perlu siap bertemu dengan beragam model analisa. Ada yg lebih menyukai analisa fundamental. namun tidak jarang juga yg menyukai analisa teknikal melalui penggabungan beberapa indikator. Walaupun sekilas mumet tur njelimet. bukan mempunyai arti seluruh indikator itu sulit. Semisal gabungan indikator forex yg akan di bahas pada tulisan atau artikel di artikel ini ialah beberapa jenis indikator yang gampang untuk diaplikasikan. baik oleh trader berpengalaman ataupun trader pemula sekali-pun.


1. Bollinger Bands Serta Stochastic
Gabungan indikator forex antara Bollinger Bands dengan Stochastic bisa Kamu jadikan opsi pertama. Di lihat dari fungsinya. Bollinger Bands bermanfaat untuk mengetahui arah pergerakan tren. sementara Stochastics bisa memberi-kan prediksi mengenai kekuatan tren.
Bolehkah memakai Bollinger Bands saja? Trading cuma dengan memakai satu indikator sebetulnya boleh-boleh saja. namun tak benar benar disarankan demikian. Andai melihat dari sifat indikator Bollinger Bands yg lagging (lambat) ikuti pola candlestick. maka sinyal yg di tunjuk oleh indikator ini butuh di waspadai. Ini dia alasan kenapa butuh dipakai gabungan indikator forex lain. guna mengkonfirmasi arah sinyal yg di tunjuk oleh indikator BB. umpamanya indikator Stochastic.
Selaku indikator momentum yg bersifat Oscillator. Stochastic umumnya akan menunjukan saat-saat dimana pergerakan harga sudah mencapai keadaan overbought (jenuh beli) ataupun oversold (jenuh jual). Selain itu. Stochastic pula bisa menunjukan sinyal entry yg tepat andaikan berlangsung perpotongan (crossing) antara garis %D dengan %K.


Dengan berpedoman pada gabungan indikator forex Bollinger Bands serta Stochastic. maka entry posisi bisa dibuka andaikan:

Candle bergerak sampai-sampai ditutup diatas Upper Band ataupun Lower Band. Andai harga ditutup diatas Upper Band. maka kondisi ini menunjukan Uptrend. Sebaliknya. Downtrend bisa di ketahui andaikan candle ditutup di bawah Lower Band.
Terbentuk crossing antara garis %D serta %K pada indikator Stochastic. Crossing dari bawah ke atas menunjukan Bullish Reversal (entry BUY). sementara crossing dari atas ke bawah menunjukan Bearish Reversal (entry SELL). Sinyal paling baik dari indikator Stochastic ini bisa diambil andaikan berlangsung crossing tepat diatas level 80 (overbought) ataupun di bawah level 20 (oversold). Andai harga telah mencapai level overbought. maka entry yg tepat untuk diambil ialah SELL. begitupun sebaliknya.

Telaah semisal chart yang akan di sajikan kali ini:

Pada semisal chart EUR/USD diatas. pergerakan EUR/USD menurun sampai-sampai ditutup di luar pita bawah BB (Lower Band). Pada tatkala yg percis. Stochastic menyentuh area oversold. malah berlangsung crossing. Pada kondisi ini. harga mempunyai keseringan untuk berbalik arah ke atas. berhubung sebelumnya sudah terbentuk dalam serangkaian tren menurun yg cukup panjang. Kamu bisa mempergunakan serta memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil posisi BUY.

2. RSI Serta MACD
Gabungan indikator forex lain yg mampu Kamu terapkan ialah RSI dengan MACD. Indikator MACD berfungsi untuk menunjukan arah tren serta momentum pasar. sementara indikator RSI berfungsi untuk memberi-kan sinyal entry melalui level-level oversold dan overbought.
Dalam memakai indikator MACD. kondisi Uptrend ataupun Downtrend bisa di lihat dari posisi bar (OSMA)-nya. apakah berada pada area negatif ataupun positif. Bar pada area positif mengisyaratkan kondisi Uptrend tengah berjalan. sementara bar pada area negatif menunjukan kondisi Downtrend. Di samping itu. indikator MACD pula bisa menunjukan sinyal entry dari perpotongan garis EMA-12 dengan EMA-26 yg terbentuk. Crossing EMA-12 dengan EMA-26 dari bawah ke atas cenderung menunjukan entry BUY. Sebaliknya. crossing EMA-12 dengan EMA-26 dari atas ke bawah bisa dipakai untuk entry posisi SELL.

Walaupun keputusan trading didasari indikator MACD sebetulnya telah mampu diambil. namun tidak ada salahnya andai Kamu memakai indikator lain selaku petunjuk sinyal entry supaya analisa makin akurat. Satu dari sekian banyaknya indikator pelengkap MACD ialah indikator RSI (Relative Strength Index).
Tidak jauh tidak sama dengan Stochastic. indikator RSI pula bermanfaat untuk mengetahui kondisi overbought (jenuh beli). oversold (jenuh jual). dan posisi entry yg tepat. Secara visual. perbedaan antara Stochastic dengan RSI ialah pada jumlah garis indikatornya. yg mana RSI cuma terdiri atas satu garis.
Dengan demikian. entry posisi yg bisa diambil didasari gabungan indikator forex yang telah di sebutkan perlu memenuhi kondisi berikut:

Ketahui kondisi Uptrend serta Downtrend dari posisi bar MACD. Andaikan OSMA berada di area positif. maka kondisi yang telah di sebutkan ialah Uptrend. begitupun sebaliknya.
Berlangsung crossing antara EMA-12 dengan EMA-26. Crossing dari bawah ke atas mengisyaratkan terjadinya Bullish Reversal (sinyal entry BUY). sementara crossing antara EMA-12 dengan EMA-26 dari atas ke bawah mengindikasikan Bearish Reversal (entry SELL).
Garis RSI menyentuh level overbought ataupun oversold. Mengenai level overbought serta oversold ini taklah mutlak. Ada trader yg memakai level 30-70. ada juga yg memakai level 20-80. Andai garis menyentuh batas oversold (20 ataupun 30). maka entry yg diambil ialah BUY. Sementara entry SELL bisa diambil andaikan harga menyentuh level overbought (70 ataupun 80).

Semisal gabungan indikator forex antara RSI dengan MACD bisa di lihat pada chart berikut:

Disaat RSI mencapai daerah oversold serta memberi-kan sinyal BUY. MACD pula memberi-kan konfirmasi yg setara dengan adanya crossing antara EMA-12 dengan EMA-26 dari bawah ke atas. Crossing yg dibentuk dari dua garis EMA ini pula menyatakan sinyal entry BUY. Berhubung telah di tunjukkan oleh gabungan indikator forex yg saling mengkonfirmasi. maka entry BUY bisa segera di lakukan.

Antara RSI Serta Stochastic. Mana Gabungan Indikator Forex Yg Lebih Baik?
Didasari uraian diatas. ada dua indikator dengan fungsi yg percis. yakni RSI serta Stochastic. Walaupun keduanya sama-sama digunakan untuk mengidentifikasi keadaan overbought serta oversold. namun aplikasinya butuh disesuaikan dengan keadaan pasar.
Range nilai RSI ialah 0 sampai-sampai 100. RSI dengan level diatas 70 menandai keadaan overbought. sementara RSI di bawah level 30 diasumsikan oversold. Tapi. secara praktis bukan mempunyai arti harga akan berbalik arah andai nilai RSI berada pada 2 nilai ekstrim yang telah di sebutkan. Dalam RSI. ada batas interpretasi secara umum yg biasa dijadikan acuan kondisi tren. yaitu pada level 50. Andaikan RSI berada50-70. maka harga akan bergerak dengan tren positif (Uptrend). Sebaliknya. andai harga masih berada30-50. harga akan bergerak dengan tren negatif (Downtrend).
Di sisi lain. indikator Stochastics bisa memberi-kan identifikasi reversal secara lebih tepat. Percis-sama mempunyai range nilai antara 0-100 semacam RSI. namun Stochastic memakai acuan level 20-80. Pada biasanya. nilai Stochastic diatas level 80 mengisyaratkan overbought. menjadikan ada keseringan harga mengalami reversal Bearish. Demikian pula bila harga berada di bawah level 20. ataupun di sebut selaku level oversold. maka harga umumnya akan berbalik ke atas (Bullish Reversal). Tapi. nilai Stochastic mampu tetap berada pada area ekstremnya (overbought ataupun oversold) disaat pasar tengah trending. Hal ini berhubung harga akan selalu ditutup dekat dengan level tertingginya (untuk Uptrend). ataupun level terendahnya (untuk Downtrend).
Perbedaan antara kedua indikator diatas bisa bisa di lihat pada chart yang akan di sajikan kali ini:

Dari penjelasan diatas. mampu disimpulkan bahwasanya RSI akan lebih akurat andai diaplikasikan pada kondisi pasar yg tengah trending dibanding Stochastic. dengan syarat. Kamu cuma memakai level 50 selaku pendeteksi arah tren. serta mengabaikan fungsi level-level overbought serta oversold. Sedangkan Stochastic akan lebih akurat untuk kondisi pasar yg sideways ataupun ranging.
RSI Suka dipakai pada time frame rendah untuk mengetahui kecepatan perubahan harga serta keseringan tren dalam jangka pendek. sementara Stochastic biasanya dipakai oleh swing trader untuk mengidentifikasi momentum pada jangka menengah-panjang.

Selain RSI serta Stochastic. ada juga satu indikator lain yg mampu Kamu genakan untuk mengetahui level oversold ataupun overbought. Bedanya. penggunaan indikator ini perlu selalu dikombinasikan dengan indikator lain semacam Moving Average. guna menghindari terjadinya false signal. Bagaimanakah tips trading dengan memakai indikator ini? Ketahui analisis selengkapnya di rubrik indikator berjudul Trading Dengan Overbought Serta Oversold Indikator CCI.

Quote:



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di