CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef6251daf7e933df95af9e2/dari-karl-drais-hingga-pandemi-pasang-surut-popularitas-sepeda

Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda

Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda

Salah satu alat transportasi yang sedang digemari hari ini adalah sepeda. Menyoal sepeda, alat transportasi ini pertama kali ditemukan oleh Baron Karl Drais. Berangkat dari keinginan untuk memudahkan pekerjaannya sebagai pengawas hutan, ia pun berinovasi untuk menciptakan alat transportasi yang kiranya membantu mobilitasnya. 

Dilansir dari berbagai sumber, cikal bakal sepeda yang pertama kali dibuat pada saat itu adalah sepeda beroda tiga tanpa pedal, bernama velocipede.

Kehadiran velocipede yang terus dikembangkan dari waktu ke waktu menjadi jawaban bagi kondisi sosial di berbagai daerah dulunya. Misalnya, pada saat bencana alam letusan Gunung Tambora di tahun 1815, velocipede menjadi alternatif selain kendaraan yang mengandalkan kuda pada zaman itu.

Velocipede ataupun sepeda pernah sangat populer. Namun seiring berjalannya waktu, popularitas peran dan fungsi sepeda mulai digeser oleh kendaraan bermotor. Meski pamornya sempat terus menurun, namun di tahun 1970an sepeda kembali mendapat perhatian dari berbagai pihak.


Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda

Penelitian Cycling, Modernity, and National Culture memaparkan bahwa era “kebangkitan kembali” sepeda di kalangan masyarakat barat ditandai dengan kembali meningkatnya minat penggunaan sepeda di berbagai tempat dalam skala yang besar. Era kebangkitan ini juga dapat dilacak pada berbagai karya sejarah yang diterbitkan di tahun 1970-an dan 1980-an yang memunculkan sepeda sebagai bagian dari budaya tandingan dan aktivisme lingkungan kala itu.

Di abad ke -20, negara seperti Belanda dan Denmark telah menjadikan sepeda sebagai bagian dari rutinitas harian sejak kanak-kanak dan terus berlanjut bahkan hingga usia tua. Di Negara ini, bersepeda hampir tidak ada kaitannya dengan gaya hidup tertentu ataupun sudut pandang politis lainnya. Selain itu, bersepeda adalah aktivitas yang terlindungi oleh kebijakan dan juga aman di Negara ini.

Sedangkan di Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada dan Australia, di mana jumlah mobil sangat tinggi, sepeda hanya digunakan untuk keperluan rekreasi dan olahraga. Kebijakan politis untuk melindungi para pesepeda tidak begitu kelihatan di Negara ini. Akhirnya, bersepeda tidak jarang hanyalah bagian dari memori masa kecil banyak orang.

Selain itu, bersepeda seringkali dilekatkan dengan pandangan negatif. Seperti tidak normal (karena berbeda dengan pilihan transportasi kebanyakan orang), eksentrik, inferior, tidak aman, tidak nyaman, juga dikaitkan dengan kemiskinan dan status sosial yang rendah.

Sepeda di Indonesia

Di Indonesia, sepeda pertama kali muncul pada zaman kolonial Belanda. Orang-orang Belanda lah yang membawa turut serta sepeda sebagai alat transportasi yang dapat mereka gunakan di Indonesia. Pada zaman kolonial, tentu ada relasi kuasa yang sangat timpang antara orang-orang Belanda dengan masyarakat Indonesia.

Hal ini juga terlihat pada kepemilikan sepeda. Sepeda adalah barang mewah yang awalnya hanya dimiliki oleh para bangsawan. Cukup populer, namun sama halnya dengan yang terjadi di Negara-negara barat, popularitas sepeda semakin surut seiring berkembangnya alat transportasi yang lain. Sepeda pun akhirnya dimiliki oleh banyak masyarakat Indonesia.


Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda

Kepemilikan sepeda yang mulai masif di Indonesia, tidak serta merta mendobrak “kelas” yang dulunya dimunculkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Di jalan-jalan besar di banyak daerah di Indonesia, sepeda tetap saja didiskrimanasi dalam banyak bentuk. Misalnya, ketiadaan jalur sepeda, atau jalan yang berlubang di jalur sepeda yang tersedia, hingga motor dan mobil yang justru menerobos masuk ke jalur sepeda.

Tidak hanya itu, para pekerja yang memilih menggunakan sepeda untuk berangkat kerja pun, banyak yang mengalami kesulitan mendapatkan tempat parkir sepeda yang aman.

Bersepeda di Tengah Pandemi

Hari ini, di tengah pandemi corona, banyak masyarakat di berbagai Negara kembali beralih menggunakan sepeda. Banyak hal yang mendasari, diantaranya arahan untuk meminimalisir penggunaan transportasi umum guna menghindari penyebaran virus corona, juga upaya untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sambil ingin berolahraga.


Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda

Hal ini juga yang terjadi di Indonesia. Bahkan salah satu distributor dan pengecer resmi berbagai merk sepeda di Indonesia, baru saja mengumumkan bahwa semua tokonya ditutup sementara waktu. Mereka hanya melayani pembelian melalui website. Melalui platform media sosial, mereka pun menyampaikan bahwa pelonjakan pembelian telah terjadi di gerai mereka. Meskipun bukan hanya di Indonesia, lonjakan pembelian sepeda juga terjadi di banyak Negara lain.

Hingga hari ini, sepeda adalah pilihan transportasi yang lebih fleksibel, tidak berpolusi, dan tentu sangat bisa diandalkan dalam keadaan macet. Selain itu, ia menjadi alternatif untuk tetap produktif dan berolahraga di tengah pandemi seperti hari ini.


Bersepeda memang dipandang memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh. Dilansir dari Harvard Health Publishing, beberapa manfaat yang dimaksud diantaranya adalah:

Bagus untuk persendian. Hal ini dikarenakan, ketika duduk di atas sepeda, beban tubuh diletakkan di panggul yang berbeda saat kita berjalan, dimana berat badan tertumpu di kaki. Sehingga, bersepeda baik bagi penderita nyeri pada sendi yang disebabkan oleh faktor alamiah umur.

Memberikan latihan aerobik. Latihan ini nampak pada aktivitas mendorong pedal. Aktivitas ini akan memberikan efek positif untuk jantung, otak, dan pembuluh darah. Selain itu, bersepeda juga dapat memicu pelepasan endorphin yang memberi efek bahagia.

Bersepeda dapat menggerakkan banyak otot. Pada saat mengayuh, kita menggunakan otot gluteus di bokong dan otot gastrocnemius serta otot soleus di betis. Otot lain yang dilatih adalah otot perut, juga otot lengan dan bahu ketika memegang setang dan mengarahkannya.

Dapat mengoptimalkan kondisi fisik kita sehari-hari. Dengan bersepeda dapat meningkatkan kondisi fisik tubuh. Sehingga secara langsung dapat membantu fisik kita pada saat menjalankan aktivitas sehari-hari.

Dengan mengayuh dapat membentuk tulang. Pada saat mengayuh atau mendorong pedal sepeda, otot menarik tulang. Sehingga dapat meningkatkan kepadatan tulang.

Bersepeda memang dapat memberikan efek positif pada kesehatan. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar efek keselamatan dan kesehatan dapat diterima oleh tubuh secara optimal terutama di tengah pandemi seperti hari ini. Diantaranya adalah penggunaan helm, pakaian bersepeda yang tepat, jenis sepeda, dan bentuk sadel (dudukan sepeda).


Sumber: Cultura.ID
profile-picture
profile-picture
berbohong dan pixeljunkie memberi reputasi
Diubah oleh culturamagz
Dari Karl Drais hingga Pandemi: Pasang Surut Popularitas Sepeda
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berbohong dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Ini masalah selera.. Tapi ane lebih senang bersepeda dibanding jogging. emoticon-Peace

BATA ane gan. emoticon-Big Grin
profile-picture
Onotao memberi reputasi
Sepeda itu trendnya emang selalu naik turun ya, dulu terakhir kali booming ya fixie, sekarang sepeda lipat sama roadbike, tapi ya beberapa bulan pasti akan surut sih
profile-picture
jlamp memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di