CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Khodam jin/Khodam Malaikat, perbedaan dan ciri-cirinya.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef5945bfacb95719064b213/khodam-jin-khodam-malaikat-perbedaan-dan-ciri-cirinya

Khodam jin/Khodam Malaikat, perbedaan dan ciri-cirinya.

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرحْمَنِ الرحِيْمِ


“Sebenarnya apa saja keilmuan yang bersandarnya pada selain Allah itu merugikan, misal ilmu yang memakai khodam jin.”

“Maksudnya memakai khodam jin pak? Soale saya pernah mengikuti gemblengan, kata gurunya itu khodamnya malaikat.”

“Ya memakai tidak khodam jin bisa dilihat dari bentuk menjalaninya.”

“Ada berbagai ilmu, ilmu itu ada yang dipelajari ada juga yang diberikan langsung oleh Allah, ilmu yang dipelajari itu berasal dari hasil laku manusia atau warisan dari bangsa jin, segala ilmu yang dipelajari untuk memperoleh kelebihan atau kesaktian terntentu itu semua berkhodam jin, entah ilmu hikmah, ilmu kejawen, ilmu karuhun, aji-aji kesaktian…”

“Lhoh masak begitu to pak kyai? Apa ndak khodamnya malaikat juga ada? Misal saya itu berdzikir dari asma Allah apa saya juga dapatnya khodam jin, bukan malaikat?”

“Nah itulah yang perlu dipahami dan dimengerti, bisa jadi malah syaitan yang masuk menjadi khodam kita tanpa kita sendiri tau dan memahaminya, malah mengira syaitan itu adalah pertolongan Allah, “Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”.”

Setan jin menguasai manusia dengan cara mengendarai nafsu syahwatnya. Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati, hal itu bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia. Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal manusia dilarang membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk menjalankan ibadah.

Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah. Jadi mujahadah adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun dzikir. Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan. Allah s.w.t berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka berdzikir kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat”. (QS.al-A’raaf.7/201)

Yang dimaksud dengan lafad “Tadzakkaruu” ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah melihat. Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati manusia menjadi tajam dan tembus pandang.

Jadi, berdzikir kepada Allah s.w.t yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah. Selanjutnya, ketika manusia telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya Jin akan kembali berganti menjadi golongan malaikat.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (30) Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31)

Firman Allah s.w.t : “Kami adalah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”, itu menunjukkan bahwa malaikat-malaikat yang diturunkan Allah s.w.t kepada orang yang istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam-khodam baginya.

Jadi, bagi pengembara-pengembara di jalan Allah, kalau pengembaraan yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan mendapatkan khodam-khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat itu disebut wali, maka mereka adalah waliyullah. Adapun pengembara yang pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka akan mendapatkan khodam Jin. Apabila khodam jin itu ternyata setan maka pengembara itu dinamakan walinya setan. Jadi Wali itu ada dua (1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali-walinya Allah), dan (2) Auliyaausy-Syayaathiin (Walinya setan). Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya:

“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS.al-Baqoroh.2/257)

“Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak percaya.“ (QS. Al-A’raaf; 7/27)

Seorang pengembara di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah lelaku, kadang-kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu khodam-khodam yang diingini. Khodam-khodam tersebut dicari dari rahasia ayat-ayat yang dibaca. Semisal mereka membaca ayat kursi sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut mereka berharap mendapatkan khodamnya ayat kursi.

Sebagai pemburu khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat-tempat yang terpencil, di kuburan-kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah hutan belantara. Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin. Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka, akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya.

Sesaji-sesaji itu diberikan sesuai yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa saja sesuai yang diminta oleh khodam-khodam tersebut, bahkan dengan melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal. Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti saat itu manusia telah berbuat syirik kepada Allah s.w.t. Kita berlindung kepada Allah s.w.t dari godaan setan yang terkutuk.

Memang yang dimaksud khodam adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawamkan manusia. Namun, apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam, maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah s.w.t dengan proses yang diatur oleh-Nya. Khodam itu didatangkan dengan izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan khodam.

Apabila khodam-khodam itu diburu, kemudian orang mendapatkan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang diridlai Allah s.w.t, walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab, tanda-tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah, di samping datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian itu juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia. Demikianlah yang dinyatakan Allah s.w.t:

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah. Allah akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak terduga.” (QS. ath-Tholaq; 65/2-3)

Khodam-khodam tersebut didatangkan Allah s.w.t sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya. Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya. Hanya saja, ketika Allah sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Di luar itu, orang-orang yang dengan sengaja menjalani laku untuk memperoleh keilmuan itu sudah dipastikan akan mendapat khodam jin, orang yang menjalankan laku dengan keikhlasan menjalani saja masih akan didatangi jin, untuk sekedar ingin menjadi khodam, apalagi yang menjalankan lelaku yang ada kehendak maksud tujuan pada selain Allah, yaitu kesaktian, kelebihan dalam hal tertentu, pasti jin sudah akan mendatangi, cuma orang yang menjalankan lelaku secara ikhlas, ketika dirinya didatangi jin untuk menolong membantunya, lantas dia tidak perduli, maka dirinya akan naik ke tingkatan level yang lebih tinggi, lantas para malaikat akan didatangkan Allah untuk menjadi khodamnya, dengan menjalankan apa yang menjadi kehendak dan keperluan orang itu, ketika orang itu tidak perduli, maka dia akan naik ke level yang lebih tinggi lagi sampai dirinya itu diijabah langsung oleh Allah tanpa harus dengan perantara atau sebab yang menjadikan hal itu terjadi.

“Jadi walau misal saya menjalankan wirid atau menjalankan laku dzikir itu tetap saja khodamnya adalah dari jin?”

“Ya itulah proses yang sudah ku sebutkan.”

“Lalu bagaimana mengetahui khodam itu jin atau bukan?”

“Kalau jin itu jelas, mudah diketahui, sebab jin itu juga punya nafsu, kehendak dan kepentingan, sekalipun dia itu adalah jin muslim.”

“Bagaimana cara mengetahuinya?”

“Ya kan kalau amalan itu memakai ada kemenyan, kembang, sesajen, penyediaan minyak wangi atau ugo rampe persyaratan, jelas itu tak bisa dipungkiri itu adalah unsur khodam jin.” jelasku.

“Lalu apa menulis rajah rajah, itu juga sama?”

“Ya sama itu juga jin, cuma bukan jin penghuni bumi ini, tapi dari jin penghuni tuju bintang.”

“Jadi bukan malaikat?”

“Bukan…, malaikat itu hanya tunduk kepada Allah, tidak tunduk kepada manusia manapun, jadi khodam malaikat misal punya itu dari yang Allah anugerahkan, bukan dari belajar ilmu tertentu, dan yang jelas malaikat itu tak doyan makan, juga tak doyan sesembahan, atau sesajen apapun, la kalau malaikat itu doyan makan, akan terjadi cerita aneh, karena ada malaikat maut yang nongkrong di warung bakso, ketika mau mencabut nyawa seseorang yang rumahnya dekat warung bakso, karena mencium bau bakso jadi ngiler, dan ingin mencicipi, ndak pernah kan mendengar cerita seperti itu?”

“Wah kyai bisa saja…”

“Lalu bagaimana dengan orang yang mengamalkan hizib? dan dzikir yang macem-macem, apa juga khodamnya khodam jin?”

“Ya itu tadi, awalnya seseorang itu akan tetap didatangi khodam jin, sekalipun orang tarekat juga sama, yang menjalankan amaliyah thoreqoh, juga akan didatangi khodam jin, ya pertama untuk menjadi khodam kita, nah kita di saat itu kepincut tidak?”

“Wah kalau begitu ya harus hati-hati, dan sulit juga membedakan mana yang khodam malaikat atau khodam jin.”

“Makanya sebaiknya menjalankan lelaku mendekatkan diri kepada Allah itu butuh guru pembimbing, sebagaimana orang mau ke Jakarta naik bus butuh sopir bus yang sudah tau jalannya, sehingga orang tak salah jalan, dan kesasar kemana-mana, seorang sopir itu tak harus orang hebat, asal dia sudah hafal jalannya karena sudah biasa melewatinya, sekalipun seorang penumpang lebih pintar menyetir malah sebagai pilot pesawat, kalau dia tak tau jalan yang dituju, ya harus tetap jadi penumpang, ndak usah ngeyel jadi sopir, karena merasa pinter nyetir, jika naik bus juga harus mau dibawa belok kanan atau ke kiri oleh sopir, jangan komplain, karena bus dibelokkan ke kanan, atau bus dibelokkan ke kiri. Seorang guru pembimbing spiritual itu tak perlu orang hebat atau sakti mandraguna, asal orang itu sudah hafal jalan dan biasa melewatinya, maka sudah pantas dijadikan sopir.”

#SangKyai
profile-picture
profile-picture
doaku.untukmu dan rozi234 memberi reputasi
Diubah oleh AddIgonjbg
setiap kejadian, kejadian kejadian, sebaik baiknya kejadian itu adalah ketika kita bisa mengambil pelajaran, banyak kejadian yang kita alami tapi kita sama sekali tak bisa mengambil pelajaran, maka kejadian itu seakan terjadi menjadi sia sia belaka, gak ada manfaatnya sama sekali, maka sebaik baiknya kejadian, sekecil apapun atau seremeh apapun kejadian, tapi kita bisa petik pelajaran di dalamnya.

maksud pelajaran itu, adalah kejadian itu bisa jadi ingatan kita, mengetuk sanubari kita agar kita sadar dan eling, ingat sehingga kejadian yang kita alami atau di alami oleh orang lain itu bisa memicu semangat kita melakukan amal perbuatan kita mendekatkan diri pada Allah dan juga menjadikan kita intropeksi diri, menjauhi yang di larang oleh Allah, sehingga ujungnya kita terkekang kendali dari jatuh ke dalam neraka, dan terpicu semangat menuju surga, dan mendapatkan ridhonya Allah, bersemangat menjalankan laku amaliyah yang membuat Allah ridho dan meninggalkan amaliyah yang menjadikan Allah benci.

ini salah satu cerita, dari sekian banyak cerita yang terjadi tiap hari di majlisku, hari itu datang orang tua, dengan rombongan 2 mobil, membawa anaknya yang idiot dan lemah, ku tarik apa yang menyebabkan anak itu lemah dan idiot, ternyata dia adalah siluman.
bukan masalah siluman atau jin yang menjadi masalah dari kejadian ini, tapi coba di cermati dialog ini.

dia menggereng gereng, ketika ku masukkan medium.

" kamu siapa? bangsa apa?"
" saya bangsa siluman...." jawabnya,

perlu di ketahui, Allah itu tidak menciptakan siluman, jadi siluman itu bukan salah satu ciptaan Allah dr asal penciptaan seperti golongan jin dan manusia, malaikat.

jadi siluman itu suatu bentuk kejadian, dari manusia masuk ke alam gaib, turun dari derajad kemanusiaannya,jadi menjadi wujud siluman namanya, jadi manusia masuk alam gaib, menjadi serupa hewan, ada yang macan, buaya, ular dll, bentuk perwujudan mereka itu karena turun dari derajad kemanusiaan, orang menjadi siluman itu ada banyak sebab musababnya, ada yang karena bertapa, lalu muksa, ada yang mengamalkan ilmu yang bersekutu dengan iblis, lalu ketika mati dia jadi pengikut iblis, menjadi siluman, dan ada juga karena di persembahkan oleh orang lain . jadi banyak sebab terjadinya.

" lalu kenapa kamu ada di anak itu?" tanyaku.
" saya mau mengambil ruh dan sukmanya."
" kenapa kamu mau mengambilnya?"
" karena dia sudah di persembahkan padaku."
" oleh siapa?"
" oleh kakeknya."

pembaca yang budiman, perlu di ketahui, perjanjian dengan iblis itu terjadi, bukan hanya orang itu mencari pesugihan, ini perlu di pahami, jadi bukan hanya orang mengambil pesugihan agar kaya saja terjadinya perjanjian dengan iblis, entah sadar atau tidak, kita sendiri kalau mengambil ilmu dari iblis entah sadar, entah tidak, kita juga sudah melakukan perjanjian dengan mereka. kita kadang tidak sadar, menerima ilmu atau pengisian dari seseorang, dengan punya ilmu itu kita menjadi kebal bacok, menjadi ampuh, punya wibawa, punya kekuatan dll. tapi tanpa kita sadari itu adalah dari iblis.

" kek, maaf sebelumnya, apa pernah kakek ini belajar ilmu kesaktian?" tanyaku pada orang tua di depanku.
" ah tidak,saya tidak pernah...'"
" ya kalau kakek ini tidak mau jujur pada saya, ya saya tidak bisa membantu." jelasku " apa kakek ini ndak sayang sama cucunya?"
" dia kamu beri ilmu apa?" tanyaku pada siluman.
" dia ku beri ilmu kebal, saya khodam ilmu kebal, dia kebal senjata, karena kekuatan yang ku berikan, jadi saya ambil sukma dan ruhnya cucunya sampai 7 turunan nanti."
" nah bagaimana kek, ya silahkan saja kalau memang kakek gak mau mengaku."
" ya ya... saya mengaku, saya punya ilmu kebal...."
" nah begitu lebih baik...., apa kakek ini tega menyerahkan 7 turunan cucunya menjadi idiot semua?, ingat kek, kakek sendiri nanti akan masuk ke alam gaib, menjadi hambanya iblis, menjadi khodam ilmu kebal itu, seperti siluman ini...he siluman, kamu dulu manusia bukan?"tanyaku pada siluman.
" ya saya manusia."
" kamu dulu hidup di jaman siapa?"
" saya hidup di jaman majapahit."
" anak buah siapa?"
" ronggolawe"
" kenapa kamu masuk ke alam gaib jadi siluman itu, dan jadi khodam ilmu itu, dan apa wujudmu?"
" saya tak tau, ketika saya mati, saya masuk ke alam gaib, dan berwujud begini, menjadi macan., dan menjadi khodam ilmu ini..."
" nah itu bapak dengar sendiri, itu bukan saya yang mengatakan tapi siluman itu, jadi nanti bapak mati, akan masuk ke alam gaib, menjadi wujud macan, dan menjadi khodam ilmu kebal, bapak akan menjadi hamba iblis, nanti bapak di mahsar akan jadi ikut benderanya iblis, apa bapak siap?"
" ah tidak tidak, iya iya saya punya ilmu itu, saya tak tau kalau akibatnya akan seperti ini, saya ingin ilmu ini di ambil saja.... saya gak butuh, saya punya ilmu ini dulu di isi oleh seorang kyai di daerah saya, dan saya memang kebal senjata, tolong di bersihkan saja ilmu ini."
" ya saya terserah bapak saja, itu kan hak bapak, jika memilih jadi pengikut iblis ya monggo saja, jika ingin di ambil ilmunya ya silahkan saja."
" tapi saya tak mau memberika ruh dan sukma anak ini...ini sudah hak saya." kata siliman.
" hehehe kamu tau siapa saya?"
" ampuuun ampuuun kyai, saya jangan di apa apakan...ampuuun..."
" la kamu untuk apa mengambil ruh dan sukma anak itu..."
" agar saya sakti....makin sakti."
" kamu sudah sakti?"
" ya..."
" mau mencoba adu kesaktian denganku?"
" ah tak berani, ampuuun tak berani."
" ada berapa silman khodam ilmu itu?"
" ada 16 belas."
" bagaimana kalau adu sakti denganku, aku kalian keroyok 16 siluman, kakau perlu panggil semua siluman yang kamu kenal, nah keroyok aku."
" ampuun ampuun kami tak berani..."
" kalau tak berani, di kembalikan sana ruh dan sukmanya."
" ya ya akan saya kembalikan.
lalu dia kembalikan ruh dan sukma yang di tawan.
" nah bagaimana pak, masih mau mempertahankan ilmu kesaktian yang di miliki?"
" tidak, saya rela semua di ambil...."
nah itu sedikit cerita saya, semoga bisa di jadikan pelajaran..

#Kyai


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di