CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef576570577a932804f5c15/cinta-dan-keabadian

Cinta dan Keabadian

Bagian Satu.
 

Hari ini genap tujuh tahun Ara pergi meninggalkan gw. Tujuh tahun jugalah gw merasakan dingin dan kerasnya dunia ini tanpanya. Berat, gw tahu itu, tapi gw tetap harus berjalan. Seperti yang sudah gw katakan di kisah gw yang lalu, hidup harus tetap berjalan, dengan atau tanpanya. Hingga kini, Ara masih menjadi alasan bagi gw untuk tetap bertahan.

 

Bagi kalian yang belum mengetahuinya, Amanda Soraya atau Ara, atau biasa gw panggil Acha, adalah teman sekampus, teman satu kos, sekaligus teman hidup gw. Dari perkenalan singkat gw dengannya pada tahun 2006, hingga saat dia menutup mata pada tahun 2011. Dalam kurun waktu itu, dia berubah dari seseorang asing bagi gw, menjadi seseorang yang gw cintai menembus batas-batas keabadian.

 

Hari itu adalah beberapa hari setelah Idul Fitri, gw memutuskan untuk menengok makam istri gw yang sudah beberapa bulan ini nggak gw kunjungi. Segera setelah mendarat di Surabaya, gw langsung menaiki taksi dan menuju ke komplek pemakaman Ara. Sebelumnya gw mampir dulu ke toko bunga, untuk membelikannya beberapa jenis bunga yang menurut gw indah. Semoga Ara suka dengan pilihan bunga gw ini. Gw tersenyum sendiri ketika memilih bunga itu, mengingat momen-momen dimana Ara terkadang ngomel-ngomel ketika gw berikan dia sesuatu yang bukan kesukaannya. Semoga pilihan gw ini benar ya, Sayang.

 

Sambil memeluk seikat besar bunga di lengan, gw melangkah masuk ke dalam komplek pemakaman itu. Nggak lama kemudian tampaklah sebuah makam yang telah dinisan dengan indah, dan bersih. Makam itu berwarna abu-abu tua, dengan pahatan tulisan berwarna putih gading. Selama beberapa saat gw membisu di depan makam itu, dan memori gw melayang ke masa lalu ketika dia masih hadir di samping gw.

 

“selamat pagi, sayang….” kata gw dengan senyum kelu. “apa kabar? Maaf gw baru bisa nengok sekarang….” Gw berjongkok di samping makam itu.

 

Tangan gw mencabut beberapa rumput liar yang tumbuh di sekitar kaki gw, dan gw menyapu permukaan pahatan nama yang agak berdebu itu dengan tangan.

 

“gw bawain bunga buat lo nih, semoga lo suka ya pilihan gw…” gw meletakkan seikat bunga diatas pusaranya, dan merapikan beberapa batangnya.

 

Gw menghela napas, dan kemudian memejamkan mata untuk mulai berdoa. Gw lantunkan doa-doa terbaik yang bisa gw panjatkan kepada-Nya, berharap lantunan doa gw ini menggema di istana yang sang Pencipta buatkan untuk Ara di surga sana.

 

Sambil mengelus pahatan nama Ara dihadapan, gw memperhatikan kerutan jemari gw. “Gw disini tambah tua, Cha…” gw tertawa pelan, “lo enak ya, disana ga tambah tua…”

 

“pingin rasanya gw lihat betapa cantiknya lo sekarang….”

 

“tapi gw bersyukur lo disana ga merasakan sakit lagi, bahkan lo jadi semakin cantik, Cha….”

 

Gw menikmati setiap detiknya saat gw berada disitu. Panas matahari nggak gw hiraukan lagi, dan kebetulan di sisi area makam Ara itu cukup teduh. Gw hanya ingin sendirian disitu, tanpa ada yang mengganggu kenangan gw dengannya.

 

“Beberapa waktu lalu gw memimpikan lo….” kata gw pelan. “sepertinya disitu ada sesosok anak kecil, barangkali itu anak kita” gw tertawa.

 

“anak kita seperti apa yah?”

 

Gw menghela napas.

 

“Sayang, gw nulis cerita tentang kita di forum Kaskus. Dulu gw udah pernah cerita ini kan ya ke lo. Alhamdulillah gw bisa menyelesaikan ceritanya sampe ke bagian terakhir yang menurut gw bisa diceritakan ke orang….”

 

“Alhamdulillah banyak pembaca yang mendoakan lo, semoga itu jadi hadiah buat lo disana ya, Sayang….” gw menepuk-nepuk satu sisi nisan.

 

Kaki gw mulai terasa pegal, dan gw beranjak berdiri sambil sesekali merenggangkan otot-otot yang kaku. Gw memperhatikan sekeliling. Pemakaman itu sepi, nyaris nggak ada orang yang berjaga disitu, hanya sayup-sayup gw mendengar suara kegiatan berkebun di salah satu sisinya.

 

Gw merasa, ketika gw berada di tempat itu, ada Ara berdiri disamping gw, memeluk lengan gw seperti yang selalu dia lakukan semasa hidup. Gw seperti merasakan kehangatan dirinya disekitar gw, dan itu membuat gw merasa bahagia.

 

Barangkali dia memang hadir disamping gw, kata gw dalam hati.

 

Maksud kedatangan gw kesini kali ini tidak hanya berniat menengoknya, tapi gw juga ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Sesuatu hal yang gw yakini dia akan turut bahagia mendengarnya.

 

“Sayang, hari ini genap tujuh tahun lo pergi. Waktu yang cukup lama, gw rasa, untuk gw menyembuhkan kesedihan dan kekosongan hati gw sepeninggal lo.” kata gw pelan.

 

“Tapi gw tahu, kehidupan gw harus terus berjalan, demi semua orang yang gw sayangi. Gw yakin lo juga mengharapkan itu. Karena gw tahu, lo selalu mengharapkan yang terbaik bagi gw. Lo pun juga ga akan membiarkan gw terlarut dalam kesedihan, seperti yang gw rasakan selama beberapa tahun setelah kepergian lo.”

 

Gw menarik napas panjang.

 

“Karena itu, hari ini gw meminta izin lo, untuk gw bisa melangkah kembali, kemanapun menuju.” gw merasa mata gw menjadi panas, sepertinya air mata gw akan tertumpah.

 

“jika nanti akhirnya gw menemukan apa yang gw cari, gw percaya itupun berkat lo Cha, karena lo lah yang ikut menuntun langkah gw…”

 

“gw berjanji, kemanapun nantinya perjalanan gw akan berakhir, lo akan selalu ada di dalam hati gw. Siapapun nantinya yang akan gw temui di perjalanan gw, maupun di akhir perjalanan gw, akan gw ceritakan kisah tentang lo. Bahwa ada sosok lo di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan gw.”

 

Gw tersenyum.

 

“biarlah cerita tentang lo menjadi legenda di hidup gw kedepannya, Cha. Sampai nanti tiba waktunya gw kembali kepada-Nya, dan semoga gw bisa bertemu dengan lo di alam sana.”

 

“jika nanti Allah mengijinkan gw punya keturunan, akan gw ceritakan bahwa dia juga punya sesosok ibu, yang mungkin ga bisa dia temui di dunia ini, tapi akan senantiasa mendampinginya kemanapun dia melangkah.”

 

“gw tahu, Cha, ga ada gunanya gw menangis disini. Karena gw yakin, lo ga ada disini. Gw tahu lo selalu hidup, di setiap kenangan dan pikiran gw. Dan gw yakin, segala cinta dan doa yang gw miliki untuk lo, akan sampai kepada lo dengan cara yang hanya Allah yang tahu.”

 

Gw menarik napas panjang, membungkuk untuk mengelus pahatan nama Ara secara perlahan.

 

“gw pamit dulu ya, sampai ketemu lagi, Sayang….” tutup gw pelan.

 

Gw kemudian melangkah pergi, sambil sesekali menengok kembali ke arah pusara Ara yang berdiri dalam diam, dihiasi pohon rindang dan semilir angin. Gw bersyukur, bahwa rumah terakhir Ara dihiasi dengan indah. Gw akan selalu merindukan kembali kesini sampai tiba waktunya nanti tiba giliran gw yang dikunjungi oleh sanak famili.


Begitulah pembaca, gw memutuskan untuk kembali membuka hati gw bagi orang lain, bagi lingkungan lain. Karena gw menyadari, menjadi tua dalam kesendirian itu tidaklah menyenangkan. Biarlah gw bisa sedikit bermanfaat bagi dunia yang gw tinggali ini, setidaknya bagi keluarga kecil gw nantinya.

 

profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 6 lainnya memberi reputasi
welkom bek gann...
Al Fatihah buat neng acha 🙏
saya percaya dengan cinta abadi, harus nyata diiringi keikhlasan 🙏🙇
Naroh lapak dulu Lang, ditunggu lanjutannya...


emoticon-Jempol
bang gilang ku kembali di pejwan semangat bercerita yaemoticon-2 Jempol
Bagian Dua.

Perjalanan hidup gw sepeninggal Ara bisa dibilang tidak mudah. Tentu saja nggak bisa gw ceritakan semuanya disini. Namun setidaknya akan gw ceritakan beberapa hal yang berkesan serta menjadi momen-momen penting di hidup gw. Oleh karena itu, mungkin cerita gw di Kaskus kali ini nggak sepanjang Dunia Yang Sempurna, kisah gw sebelumnya.

Setelah Ara pergi, kewajiban pekerjaan membuat gw merantau ke luar Jawa. Gw memutuskan untuk meninggalkan kantor lama tempat gw bekerja di Surabaya dua tahun setelah itu, dan mencoba peruntungan gw di sebuah perusahaan milik negara. Alhamdulillah gw diterima dan langsung menjalani rangkaian proses orientasi pekerjaan hingga akhirnya penempatan di Makassar, Sulawesi Selatan. Di awal-awal kepindahan gw tersebut nggak banyak yang bisa gw ceritakan. Gw lebih fokus beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan sekitar.

Penempatan gw di Makassar tersebut nggak sendirian, gw ditemani satu teman seangkatan, tapi berbeda asal pendaftaran. Gw dari Surabaya, dia dari Jakarta. Namanya Annisa, asalnya dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Annisa, atau biasa dipanggil Nisa, begitu dia memperkenalkan diri sewaktu rekrutmen, berusia lebih muda tiga tahun dari gw. Rupa-rupanya dia freshgraduate yang langsung mencoba peruntungannya di kesempatan pertama setelah lulus kuliah. Berbeda dengan gw, yang sempat bekerja di dua tempat yang berbeda.

Di hari-hari awal gw di kantor baru itu, gw ditempatkan sementara di mes milik kantor, sampai akhirnya gw menemukan kos-kosan yang menurut gw sangat bersih dan lengkap fasilitasnya. Di kantor tersebut, karena gw belum banyak mengenal orang-orangnya, jadilah gw hanya bercakap-cakap dengan beberapa orang di bagian gw. Kebetulan Annisa yang nggak satu bagian dengan gw, tapi ruangannya bersebelahan dengan ruang bagian gw, dan cuma dibatasi dengan sekat rendah.

“Kalo disini biasanya futsal setiap Jumat malam, Lang.” kata Dewa, salah satu senior gw di kantor itu. Dewa berumur setahun lebih muda dari gw, tapi karena dia duluan masuk di kantor ini, jadilah dia senior gw. “ikut aja, mainnya cuma buat have fun aja kok, ga serius-serius amat.” ajaknya.

“Kita serius cuma kalo pas ada uang taruhannya aja, atau main sama anak cabang lain.” timpal Fajri sambil tertawa, senior gw yang lain. Kalau Fajri ini lebih tua dari gw setahun.

“Oh oke siap, tapi gw pinjem sepatu futsalnya yak. Sepatu futsal gw yang lama udah ga tau kemana, terakhir kali gw pake waktu masih kuliah empat tahun lalu” gw meringis.

“Beres itu mah, banyak stoknya disini, asal kaki lo ga gede-gede amat.” ujar Dewa sambil duduk merenggangkan kaki di kursinya. Posisi duduk gw di samping Dewa, sementara Fajri di seberang gw dan Dewa meskipun agak jauh karena tertutup dus-dus berisi dokumen-dokumen.

“Mas Gil” sebuah suara terdengar dari belakang punggung. Gw pun menoleh. Gw melihat Annisa berdiri sambil berpegangan partisi pemisah bagian gw dengan bagiannya.

“makan siang dimana?” tanyanya sambil memandangi gw, Dewa dan Fajri.

Gw melihat jam, memang sudah hampir waktu makan siang. Gw menoleh ke Dewa dan Fajri, sambil mengangkat dagu, sebuah bahasa isyarat untuk pertanyaan “gimana?”.

Dasar iseng, mereka berdua langsung pura-pura nggak tahu. Dewa langsung pura-pura melihat laptopnya lagi, sementara Fajri ngeloyor begitu saja balik ke mejanya. Gw mendengus.

“Ga ada ide gw, Nis. Lo ada ide makan dimana? Gw mah ikut aja.” kata gw sambil merapikan kertas-kertas di hadapan gw ke sebuah map.

“paling di siomay atau bakso belakang sih” sahut Annisa pelan. Sepertinya dia juga heran melihat perubahan sikap Dewa dan Fajri.

“Boleh deh” jawab gw. Kemudian gw menoleh ke Dewa “gimana, ikut ke belakang ga?”

“Next time deh, gw kemaren abis makan kesitu” jawabnya sambil meringis ke gw dan Annisa.

“Ya udah, gw kebelakang dulu ya” ucap gw sambil beranjak berdiri. Annisa mengangguk, berpamitan ke Dewa dan Fajri, sementara dibalas oleh mereka dengan lambaian tangan sambil tersenyum aneh.

Udara siang itu sangat panas, gw dan Annisa harus berlari-lari kecil menuju ke tempat yang dimaksud. Meskipun dekat, nggak ada tempat berteduh antara kantor dengan tempat makan itu. Untungnya siang itu belum terlalu ramai, jadi gw dan Annisa masih dapat tempat duduk. Setelah memesan untuk kami berdua, gw segera duduk sambil menyeruput teh botolan.

“Wah panas banget gila” keluh gw.

“Iya nih, beda yah sama panas di Jawa” Annisa mengiyakan omongan gw.

“Ga kebayang deh harus naik motor siang-siang gini” kata gw sambil mengipas-ngipas badan gw. Annisa hanya tertawa melihat kelakuan gw.

“Gimana, udah betah di kos yang baru, Nis?” tanya gw.

“Lumayan sih, masih adaptasi. Agak sepi juga kos-kosannya, nggak banyak orang kantoran yang ngekos disitu” Annisa menyeruput teh botolnya.

“yang disitu udah pada kerja semua ya?”

“rata-rata gitu sih.” jawabnya.

“kos khusus cewek kan?” tanya gw sambil tertawa.

“iya laah, mana ada kos-kosan campur disini” sungut Annisa sambil melemparkan segumpal tissue bekas ke gw.

“kos-kosan gw dulu campur” jawab gw tanpa melihat.

“asik dong?” sergahnya jahil.

“asik laaah….” balas gw nggak mau kalah.

“ck dasar cowok”

Gw hanya tertawa. Annisa jelas nggak tahu, bahwa kisah gw di kos-kosan yang lama itu adalah satu masa tak terlupakan di hidup gw sampai kapanpun. Gara-gara pembicaraan ini, gw jadi teringat Ara lagi. Sudah delapan tahun sejak gw mengenalnya, dan tiga tahun sejak kepergiannya, dan disinilah gw berada sekarang. Gw merasa sangat merindukannya.

“wey, ngelamun aja” Annisa sedikit menggebrak meja untuk menyadarkan gw yang rupa-rupanya terlalu lama tenggelam di lamunan. Gw langsung tersadar dan tertawa pelan.

“sorry hehehe” kata gw.

Untunglah nggak lama kemudian makanan pesanan kami sudah datang. Jadinya kita nggak perlu memperpanjang obrolan mengenai ini lagi, dan langsung berkonsentrasi ke makanan masing-masing.

Beberapa saat setelah jam pulang kantor, gw menengok ke arah bagian Annisa. Tampaknya kerjaannya masih banyak, sementara kerjaan gw bisa ditunda sampai besok pagi. Gw chat Annisa.

“Masih lama?”

“Lumayan, paling sejam-an lagi.”

“pulang sama siapa?” tanya gw.

“sendirian, paling ntar ada tebengan”

“bareng gw aja” ajak gw.

“lah gw masih agak lama, lo udah kelar?”

“udah”

“gapapa nunggu?”

“iyee gapapa, kan gw yang nawarin, gimana si”

“hehehe siaap, makasi yaa”

“nasgor ya?” kata gw bercanda.

“idih.”

Sekitar jam 8 malam, gw dan Annisa berboncengan pulang. Untungnya kos-kosan Annisa nggak begitu jauh dari kantor kami, paling hanya sekitar 2 kilometer, sementara kos gw agak lebih jauh. Kos-kosan Annisa tersebut tampak baru, dan terang.

“kayanya aman ya” kata gw sambil memperhatikan bangunan kos.

“Insya Allah aman sih.“ jawabnya sambil turun dari motor dan merapikan rambutnya. “jadi nasgor ga?” tanyanya sambil tertawa.

Gw balas tertawa. “ah enggak lah, becanda doang gw.”

Gw dan Annisa terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya gw bertanya lagi. “besok mau bareng ga? Mumpung searah nih gw.”

“ngerepotin lo nya ga nih?” pertanyaan klise keluar.

“yaelah sama gw kayak sama siapa aja, gw jemput jam 9 ya?”

“weeeey, telat dong ntar!” gerutunya. Gw cekikikan.

“iya iya, setengah 8 deh, pas lah sampe kantor jam 8 ntar.”

“okee sip, sampe ketemu besok ya.” katanya setuju.

Gw mengangguk. “gw pulang dulu ya?”

Annisa menggangguk. “hati-hati di jalan, makasih ya udah dianterin pulang”

Gw hanya mengacungkan jempol, dan kemudian segera beranjak dari situ sebelum semakin malam. Terdengar suara guntur dari kejauhan, sepertinya akan segera turun hujan. Gw pun semakin memacu motor dan sampai di kos-kosan gw sekitar 15 menit kemudian.

Setelah gw mandi dan sholat, gw beristirahat sambil membuka handphone. Ada satu chat WhatsApp yang belum gw buka, ternyata dari Annisa. Isinya sih simpel.

“jangan lupa makan ya lo mas”

Gw tersenyum sendiri membacanya tanpa membalas chat itu, dan kemudian perlahan-lahan mata gw semakin berat sebelum akhirnya terpejam dengan sendirinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 3 lainnya memberi reputasi
wah ijin mantau trit legend lanjutan nih
woww trit baru, mantau dulu gan
Bakal epic nih, lanjut om gilang
Bagian Tiga.

Terkadang di suatu waktu gw bertanya-tanya, kemanakah gw akan melangkah satu, dua hari, bulan bahkan tahun kedepan. Manusia memang boleh berencana, tapi Tuhanlah yang akan menentukan. Setiap langkah kita yang disertai dengan usaha dan doa hanyalah sarana untuk mencapai tujuan hidup kita. Tujuan yang telah ditentukan Tuhan untuk kita, jauh sebelum kita diciptakan.

Setahun yang lalu gw nggak membayangkan diri gw akan berlabuh disini, di kota ini. Hati, pikiran dan fisik gw masih gw prioritaskan untuk memperbaiki kepingan hati gw yang hancur sejak ditinggal Ara. Pun fisik dan pikiran gw yang lain, yang gw prioritaskan untuk tetap bertahan dan menjalani kewajiban gw hari demi hari. Beberapa kali gw pulang kampung, bertemu dengan orang tua dan keluarga, namun sepertinya gw harus menerima bahwa mimpi gw masih berserakan, tersebar di seluruh penjuru negeri. Gw bahagia untuk masih bisa pulang bertemu dengan orang tua dan keluarga, sangat bahagia. Tapi gw harus akui, bahwa ada sebagian dari hati gw yang masih memanggil untuk merantau.

Disini pun gw bertemu dengan banyak perantau seperti halnya diri gw, yang terdampar karena panggilan tugas. Sepertinya gw dan mereka saling berbagi semangat yang sama, saling menguatkan dikala rapuh.

“gw kangen rumah.” kata Dewa tiba-tiba di suatu sore setelah rapat harian yang membosankan.

“kapan terakhir kali pulang?” gw menanggapi sambil menggeser kursi menghadap ke arahnya.

“tiga bulan lalu” dia tertawa pelan, “lo kapan terakhir pulang, Lang?”

“setahun lalu” jawab gw datar.

“buset, bokap nyokap lo masih kenal ama lo tuh?” Dewa terkejut.

Gw tertawa. “Masih lah, untung belum dicoret dari KK nih gw. Belum diganti sama anak baru.” jawab gw asal.

Meskipun gw sudah pernah menikah, namun karena satu dan lain hal, gw belum sempat mengurus administrasi apapun terkait ini. Kala itu seluruh pikiran dan tenaga gw, tercurah hanya untuk Ara. Hingga pada akhirnya menjadi seperti ini. Dan gw rasa, belum perlu bagi gw untuk menceritakan bagian hidup gw yang ini ke Dewa.

“gw suka kepikiran, di tanah rantauan gini susah ya dapet pasangan. Ujung-ujungnya ya sama yang itu-itu aja. Entah temen kuliah, atau temen sekantor.” Dewa menghela napas sambil melipat tangan di belakang kepala.

“Sama temen kuliah ataupun temen sekantor, itu namanya tetep jodoh juga kan?”

“Iya sih…”

“Malah gw pikir, ada untungnya sama temen yang udah dikenal cukup lama. Artinya nggak banyak yang harus kita lakukan buat beradaptasi. Seenggaknya untuk beberapa hal.” kata gw.

“ya iya sih, tapi bosen ga sih ketemunya itu itu aja?” tanya Dewa sambil tertawa kecut.

“kalo lo menikah juga bakal ketemu yang itu-itu aja sampe lo meninggal bro…” jawab gw. “menikah itu indah kok, kalo lo ketemu orang yang tepat.”

“ya, kalo ketemu yang tepat….” keluhnya. “capek gw putus nyambung putus nyambung mulu”

“pacar lo anak mana? gw lupa”

Dewa menyebut salah satu bank milik negara.

“mana penempatannya jauh lagi.” imbuhnya. “LDR nggak gampang loh.”

Gw hanya tersenyum. Dewa nggak tahu, bahwa gw juga sudah pernah mengalami hal yang sama. Bahkan bukan LDR dengan pacar, tapi dengan istri. Tapi ya sudahlah, gw nggak ingin merusak momen curhatnya dengan kisah masa lalu gw yang memang gw nggak ingin ceritakan.

Malam itu lagi-lagi gw menemani Annisa yang sedang lembur. Porsi pekerjaan di bagiannya memang berbeda dengan di bagian gw yang sedikit lebih ringan. Kadang-kadang gw jatuh kasihan padanya, saat fisiknya terkuras untuk pekerjaan, dan mengabaikan kehidupan pribadinya.

“gw beliin makanan ya?” tawar gw yang iba melihatnya belum beranjak dari kursi padahal jam sudah menunjukkan cukup larut.

“ga usah yang jauh-jauh, seadanya aja” jawabnya mengiyakan.

“gw cek kedepan dulu yak, siapa tau ada tukang nasi goreng biasanya” gw beranjak berdiri.

Annisa tampak membuka-buka tasnya, mencari dompetnya. Melihat itu buru-buru gw mencegahnya. “udah pake duit gw dulu, gampanglah.” kata gw sambil berjalan menjauh.

“jangan lama-lama” sahutnya. Gw pun menoleh.

“kenapa?” tanya gw.

“serem sendirian”

Gw hanya tertawa dan ngeloyor keluar. Nggak berapa lama gw kembali dengan membawa makanan.

“Dapet nasgornya?” tanyanya.

Gw mengacungkan bungkusan kecil. “dapet nih, untung pas gw keluar, abangnya baru dateng. Rejeki anak sholehah.” kata gw.

“Rejeki anak lembur” ralatnya sambil tertawa.

Kamipun makan dengan lahap, karena memang sebenarnya kami sudah sangat lapar. Jam menunjukkan semakin malam, dan gw mulai menguap. Gw lihat Annisa juga beberapa kali menguap dan merenggangkan otot-otot yang kaku.

“pulang dulu aja yuk, istirahat. Kasihan badan lo, udah capek itu.” gw memberikan saran.

Annisa melihat jam tangannya. “Bentar lagi deh, 10 menit lagi.” janjinya.

Ternyata Annisa menepati janjinya. 10 menit kemudian dia sudah mematikan komputernya, dan bersiap-siap untuk pulang. Sementara gw kembali ke meja gw untuk mengambil tas dan barang-barang gw yang memang belum gw bereskan dari tadi. Gw yang duluan beres, kemudian menyusul Annisa ke mejanya.

“muka lo ngantuk amat mas” katanya geli sambil melihat wajah gw.

Gw tertawa lemas. “iya lah, udah jam segini. Ngantuk gw dari pagi belum istirahat.”

“tau gitu lo ga usah nemenin gw, jadi nggak enak kan gw jadinya…”

“udah ga usah bawel….” kata gw pelan, sementara Annisa hanya tertawa mendengar jawaban gw.

Kemudian gw dan Annisa pun beranjak pulang. Sepanjang perjalanan pulang itu seingat gw nggak banyak yang dibicarakan, bahkan bisa dikatakan kita nggak ngobrol karena memang sudah sangat lelah. Nggak lama kemudian akhirnya kami sampai di kos Annisa seperti biasa. Dia pun turun, melepaskan helm dan merapikan rambutnya seperti yang biasanya selalu dia lakukan ketika sampai di kos.

“makasih ya mas, udah ditemenin lembur, dianterin pulang pula…” dia tersenyum.

Gw mengangguk sambil tertawa tanpa suara. “kalo gw cuma nemenin lembur tanpa anterin pulang mah namanya gw laki-laki ga bertanggung jawab….” jawab gw setengah bercanda.

Annisa hanya tertawa mendengar jawaban gw. “Hati-hati pulangnya mas, langsung istirahat ya nanti.” katanya pada akhirnya.

Gw memberikan gesture menghormat. “Siap boss…” jawab gw. “Gw balik dulu yak, Nis. Lo juga istirahat ya. Assalamu’alaikum.” gw menutup pembicaraan.

“Wa’alaikumsalam” jawabnya.

Gw pun melambaikan tangan dan perlahan memacu motor gw. Dari agak kejauhan, melalui kaca spion gw melihat Annisa masih menunggu di depan kosnya sambil memandangi motor gw, sebelum akhirnya pandangan gw dan dia sama-sama berakhir karena belokan jalan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 2 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di