CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Seorang Anak Korban Kehidupan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef573c5337f9314ed37641a/seorang-anak-korban-kehidupan

Seorang Anak Korban Kehidupan

  Namaku itu tidak penting, aku adalah seorang polisi, dan aku sering sekali bergabung dalam operasi penertiban. Ketika melakukan operasi penertiban, tidak jarang ada hal-hal unik yang terjadi, contohnya seperti seorang anak yang pernah kami amankan. Oh iya, kami hanya mengamankan untuk menasehatinya, bukan memenjarakannya.



   Anak itu berumur 13 tahun, badannya cukup kurus, dan tingginya sekitar 140Cm. Ketika mewawancarainya, aku rasanya ingin tertawa lepas. Namun, yang dia katakan itu sungguh menyindir. Aku tidak bisa membayangkan bahwa anak berumur 13 tahun sudah dapat memikirkan hal ini. Seperti ini kira-kira wawancara waktu itu.



   “Dik, ini sudah yang ketiga kalinya kakak amankan. Kenapa sih Adik mau mengamen bersama gelandangan lain? Adik itu berasal dari keluarga kaya, kan? Nanti ayahnya bisa marah, loh!” ucapku pada dia.


 

   “Iseng aja aku ikut mereka. Lagipula, seru main sama mereka,” ucapnya.



   “Ya, kalau Adik ngomongnya seperti itu mungkin masih bisa diterima. Namun, Adik itu melakukannya ketika jam sekolah, loh! Masih pakai seragam sekolah pula,” ucapku.



   Dia sebentar memalingkan wajah, lalu dia membalas ucapanku. “Denger ya, Kak. Bagiku, sekolah itu tidak penting.”



   “Kenapa Adik berpikir begitu?” tanyaku.



   “Ya, kita bisa jadi apapun yang kita mau. Jika kita mau jadi anjing. Maka, guk guk guk,” ucapnya sambil memperagakan anjing yang sedang menggonggong.



   “He, benarkah? Boleh kakak tanya lagi?” tanyaku.



   “Boleh,” jawabnya singkat.



   “Kenapa Adik tadi sedikit memalingkan wajah sebelum bicara? Apa ada hal lain yang Adik rasakan?” tanyaku.



   “He ... Enggak ada, kok,” ucapnya.



   Anak itu mulai terlihat agak mencurigakan. Entah mengapa, aku rasa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Aku mencoba mencari tahu dengan terus bertanya, tapi dia terus saja mencoba mengalihkan pembicaraan. Hal ini makin membuatku curiga. Aku terus bertanya hingga dia menyerah dan mengungkapkan perasaannya.



   “Baiklah, akan kuceritakan. Sekolah itu tidak penting dan belajar itu tidak penting. Jika iya, mengapa ketika menjelang ujian, yang selalu diingatkan adalah melunasi SPP. Sahabat baikku tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMP akibat hal itu. Aku marah kepada sekolah,” terangnya.


   “Apakah di salah satu gelandangan itu ada sahabat baik Adik?” tanyaku.



   “Iya, memangnya kenapa?” ucapnya.



   “Tidak ada apa-apa, Dik,” ucapku, “yang mana orangnya, Dik?”



   “Yang di sana itu,” ucapnya sambil menunjuk ke arah seorang anak.



   Setelah wawacara itu, aku mengajukan bantuan dana untuk teman anak itu ke pemerintah setempat. Ajuanku itu diterima dan teman dari anak itu dapat melanjutkan pendidikannya. Sejak itu, anak itu tidak pernah terlihat mengamen lagi.
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan KyoKusanagi97 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di