CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef55a93f4d69515683ab9a1/30-menit-saja

30 MENIT SAJA

30 MENIT SAJArumahilalang.com

Oleh : Dety Moenadjat

"Rania, lekas selesaikan sarapanmu. Ibu tidak ingin kamu terlambat masuk sekolah. Sebisa mungkin pilih kursi paling depan. Kamu harus tahu, posisi duduk menentukan prestasi."

Pukul 05.30 WIB, suara Bu Yessi yang terdengar seperti perintah seorang komandan sudah memecah keheningan. Rania yang sedang menikmati sarapan terpaksa harus mempercepat laju sesendok nasi goreng agar sampai ke lambung dengan seteguk air putih.

Gadis kecil berusia tujuh tahun itu segera menjangkau tas punggung berwarna tosca dan setengah berlari mengimbangi langkah ibunya.

Sepintas, tidak ada yang berbeda dari Rania. Dia anak yang cerdas, tangkas dan ceria. Banyak teman senang bergaul karena sifat ramahnya.

Namun, tuntutan dari orang tua yang ingin Rania memiliki prestasi unggul dalam segala bidang membuat gadis bermata sayu ini kehilangan sebagian teman dan masa bermainnya. Rania harus mengikuti bimbel dan berbagai macam Les tambahan di luar jam sekolah.

Bagi Rania, kebanggaan seorang ibu adalah kebahagiaannya. Maka dari itu, tidak pernah ada kata penolakan atas jadwal belajar yang harus dilaksanakan setiap harinya.

Namun, sebagai anak biasa yang diciptakan Allah lengkap dengan fitrahnya, beberapa kali gadis berhijab ini harus menekan ego untuk dapat bermain bebas dengan teman-temannya.

***

"Rania, apa ada kesulitan di sekolah?"

Bu Yessi bertanya dengan nada serius sambil menatap mata Rania. Gadget di sampingnya baru saja berbunyi dan tertera pesan di WAG wali murid. Ada laporan dari wali kelas tentang pencapaian perkembangan siswa tiga bulan pertama.

"Gak ada, Bu," jawab Rania ragu-ragu.

"Kalau tidak ada kesulitan, seharusnya nilai kamu bisa lebih baik dari ini."

Bu Yessi menyodorkan gadget pada putrinya, di sana tertera nilai yang kurang memuaskan menurutnya.

"Mmm ... pelajarannya lumayan susah, Bu. Rania belum terlalu paham," dengan menyesal dia harus mengakui.

"Baik kalau begitu. Mulai besuk, kamu ikut bimbel. Ibu sudah carikan bimbel yang terbaik dan maaf, kamu tidak boleh main dulu sebelum bisa memperbaiki nilai."

Rania hanya bisa tertunduk, mengingat ibunya yang tidak bisa diganggu gugat jika sudah membuat keputusan.

***

"Raniiiaaa, main, yuk!"

Beberapa anak seusianya tengah berdiri di depan pagar, memanggilnya untuk bermain bersama. Rania yang baru saja menyelesaikan makan siang sepulang sekolah ingin sekali melepas penat dengan bermain dan bersenda gurau bersama sahabatnya.

Ibunya yang mendengar panggilan teman-teman Rania segera menghampiri.

"Bu, bolehkah Rania main? 30 menit saja."

"Nak, maaf. Tidak untuk hari ini. Ada jadwal bimbel satu jam lagi dan kamu harus bersiap-siap."

Ada rasa sesak di dada Rania. Lagi, dia harus menolak ajakan sahabat-sahabat. Dalam hatinya terus berharap, agar mereka tidak lelah dan jera untuk datang ke rumah.

Ekor matanya terus mengikuti langkah-langkah kecil para sahabat yang pulang hingga menghilang dibalik lorong.

***
Tiga bulan berlalu

"Nak, lihat ini!" teriak Bu Yessi sambil memperlihatkan raport semester ganjil, "nilaimu berkembang pesat. Selamat, Nak. Ibu bangga padamu."

Senyum terkembang di bibir Rania, melihat barisan simbol huruf A dan angka 1 di sebelah kata peringkat.

"Jadi, Rania sudah boleh main, ya Bu?"

"Menurut Ibu, ada baiknya juga kamu tidak bermain. Terbukti, kamu bisa lebih fokus belajar dan mendapat peringkat yang memuaskan."

"Tapi, Rania rindu teman-teman, Bu. Rania ingin bermain bersama mereka."

"Rania, di sekolah kamu 'kan sudah bertemu dan bermain dengan teman-teman. Ibu tidak ingin kamu terlalu asyik bermain hingga lupa waktu."

"Di sekolah 'kan tidak ada boneka, sepeda dan lompat tali, Bu. Rania mau main itu dengan teman-teman. Boleh ya, Bu. 30 menit saja."

"Rania, kamu sudah saatnya fokus, Nak. Ibu rasa, sudah cukup untuk bermain di sekolah saja."

Kembali Rania menelan pahit atas fitrahnya sebagai seorang anak yang dirampas. Namun, tetap saja dia tidak kuasa berbuat apa-apa.

***

Bertahun-tahun Rania kecil hidup dengan pujian, sanjungan dan rasa bangga dari orang-orang terdekatnya, tetapi di sisi lain, Rania tetaplah seorang anak yang membutuhkan waktu bermain untuk membentuk pribadi dan karakternya yang tanpa sadar telah direnggut oleh orang tuanya.

Hari-hari dilalui gadis yang kini beranjak remaja dengan belajar dan belajar. prestasi di berbagai bidang telah dia raih, piala berbaris rapi dalam almari kaca, membuat bangga dan iri setiap mata yang memandangnya.

Suara gadget Bu Yessi memecah angan yang sedang dirancang untuk putri tersayang.

"Ya, saya sendiri," Bu Yessi menjawab suara di seberang.

"Apa?! Baik, saya segera ke sana."

Dengan langkah terburu-buru, wanita paruh baya itu segera keluar dan secepat kilat mengendarai mobil silvernya.

"Dokter, apa yang terjadi dengan putri saya?"

"Anak Ibu mengalami ensefalitis reseptor NMDA parah dan harus segera dilakukan penanganan serius."

Sungguh, Bu Yessi tidak menyangka sebelumnya, Rania yang aktif dan berprestasi di berbagai bidang ternyata menyembunyikan sakit yang bersarang di dalam otaknya. Radang otak stadium lanjut.

Bagai badan dicambuk besi, Bu Yessi sangat terpukul dengan kondisi putri tercintanya. Berbagai kenangan tentang Rania mendadak bermunculan. Tentang berbagai macam bimbel dan les yang harus diikuti, tentang nilai yang harus dikejar putrinya demi rasa bangga, tentang piala yang berhasil diraih Rania dan saat ini telah mempercantik dinding kaca, tentang teman-teman Rania yang datang mengajak bermain, tentang permintaan putrinya untuk dapat bermain, tentang 30 menit yang sudah disitanya. Saat ini, hanya sesal yang berkecamuk di dalam dada.

"Ibu ...," suara Rania membuat wanita paruh baya ini segera menyeka tetes demi tetes bening yang mulai deras di pipinya.

"Ya, Sayang. Ibu di sini."

Bu Yessi menggenggam jemari putrinya yang saat ini tengah lemah tak berdaya.

"Rania minta maaf, Ibu, karena tidak menyelesaikan sekolah hari ini, tapi Rania janji, besuk akan berangkat lebih pagi untuk menyalin pelajaran yang tertinggal."

"Tidak, Nak. Rania ... ibu minta maaf. Tidak seharusnya ibu memforsir waktu untuk belajar. Ibu lupa, bahwa Rania butuh bermain dengan teman-teman. Sayang, kuat ya. Ibu janji, tidak hanya 30 menit, Kamu bisa bermain dengan teman-teman sesuka hati. Ibu mohon, sembuh ya, Sayang. Nanti, Kamu bisa bermain sepeda, boneka atau lompat tali."

"Rania sudah tidak ingin bermain itu, Bu. Rania sudah besar sekarang."

"Baik, tidak apa-apa. Rania bisa bermain ke rumah teman-teman, atau di akhir pekan ajak sahabatmu untuk menginap di rumah."

"Rania tidak punya sahabat, Bu. Rania sudah senang jika bisa membuat Ibu bahagia."

Tetes bening terlihat jatuh di pipi kanan gadis remaja itu, senyum tipis mengembang di bibir pucatnya, sesaat kemudian mata gadis manis itu terpejam dan tidak lagi pernah terbuka. Selamanya.

Tangis duka mengiringi kepergian Rania, berapapun banyak waktu yang dijanjikan oleh Bu Yessi saat ini, tidak akan dapat mengganti 30 menit yang dulu telah dirampasnya.


- Selesai -

Terima kasih kunjungannya


Jangan lupa cendolnya GanSist emoticon-Cendol Gan

Rate emoticon-Rate 5 Star

Koment emoticon-Sundul Up

Share dan subscribe emoticon-Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh detyry
pageone
Kisah keluarga
Silakan kritik dan sarannya, berilah komentar yang baik dan sopan.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di