CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Lanjutan kyai sakti.part.69
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef4b1e0a727685a460abfaf/lanjutan-kyai-saktipart69

Lanjutan kyai sakti.part.69

di majlis sudah ramai tamu, biasa Aisyah lagi dikerubuti tamu.

“Pak kyai…. pak kyai baru bangun ya..” celoteh aisyah.

“Iya Aisyah… kok Aisyah sudah di sini.”

“Iya pak kyai soale di rumah sepi, ndak ada nyai ratu, nyai ratu sedang pergi.”

“Kemana perginya?”

“Ke laut.”

“Ke Dewi Lanjar?”

“Iya.”

“Kapan kembalinya?”

“Kembalinya nanti malam minggu kalau ada dzikir bersama.”

“Hm,,, masih seminggu lagi kalau begitu..” kataku sambil berlalu, mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dzuhur.

Di majlis masih ramai… sementara waktu sudah sore… Aisyah masih di kerubungi banyak orang, dan aku mendekat.

“Kyai… nyai ratu sudah kembali..”

“Lhoh kok cepat, katanya hari sabtu malam minggu.”

“Iya sudah kembali..”

“Kalau begitu suruh menghadap padaku.”

“Baik kyai..” sebentar nyai ratu sudah masuk ke tubuhnya mbak Sun, dan mulai mengucap salam,

“Ya kyai saya menghadap..” kata nyai dengan suara lembut.

“Katanya ratu dari tempat Dewi Lanjar, bagaimana hasilnya?”

“Iya kyai, saya sudah bicara banyak tentang kyai pada dia, dan dia memang sudah lama kenal sama kyai, kyai juga sudah pernah ke kerajaan dia.”

“Iya lalu apa dia mau masuk Islam.”

“Alhandulillah kyai, dia mau masuk Islam, dan minta ijin untuk menjadi murid kyai.”

“Ya boleh saja… kalau dia mau menerima syarat yang ku berikan.”

“Dia ada di rumah saya kyai, apa kyai berkehendak dia menghadap?”

“Boleh, suruh dia menghadap.”

Mbak sun mengejap sebentar pertanda sudah ganti jin yang masuk… tapi tetap diam, lalu terdengar Aisyah menceloteh. “Kyai, nyai Dewi tak mau bicara kalau ada orang banyak, beliau malu kyai…”

“Ooo ya sudah… ke sana saja..” kataku sambil ku ajak ke ruangan lain.

Kyai sakti.70

Kami duduk berhadapan….

“Bagaimana kabarnya nyai?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Maaf kyai… saya baru bisa sowan kesini.” jawab Dewi Lanjar halus.

“Ndak papa…. bagaimana nyai Dewi sudah masuk Islam?”

“Alhamdulillah sudah kyai.., sudah diIslamkan sama ratu.”

“Syukur alhamdulillah.”

“Apa masih ingat dengan saya..?”

“Masih kyai, kyai yang pernah ke tempat saya, waktu itu saya sambut dengan rakyat saya berjejer-jejer menyambut kyai.”

“Syukur kalau masih ingat.”

“Iya dulu kyai saya gandeng, saya ajak ke kerajaan saya… tapi kenapa kok sekarang saya takut sekali menghadap kyai, saya sungguh sungguh takut, saya silau sekali menatap wajah kyai, maaf saya kalau saya selalu menunduk, karena saya merasa panas dan perih kalau menatap kyai, padahal dulu kyai tidak seperti sekarang.” kata Dewi Lanjar sambil menunduk.

“Ah mungkin belum terbiasa saja, nanti juga kalau sudah terbiasa akan biasa, gak silau lagi.”

“Kalau kyai mengijinkan, saya ingin menjadi pengikut dan murid kyai..”

“Hm…. tapi saya ada syaratnya, apa nyai Dewi mau memenuhi syaratnya?”

“Saya akan berusaha taat dan tunduk pada yang kyai perintahkan.”

“Syarat saya….. nyai Dewi kan yang mengadakan pesugihan itu, orang pada minta pesugihan pada nyai Dewi, apa benar itu?”

“Iya kyai… itu memang saya.”

“Nah syarat saya, itu harus dihentikan.”

“Tapi kyai, saya sudah membayar orang-orang itu, sudah banyak keluar uang.”

“Nyai kalau hal yang haram ditinggalkan, maka Allah akan mengganti yang halal, seperti sedekah itu, sedekah itu seperti menanam pohon di surga, akarnya di surga, tapi pohon dan buahnya di dunia, siapa yang banyak menanam sedekah maka akan memanen yang banyak di dunia, di surga itu sudah tak butuh lagi panen, yang butuh panen itu di dunia, di surga nanti panennya yang jariyah, jatuhannya buah sedekah, yang tumbuh menumbuhkan pohon sedekah lagi, terus begitu tak akan berhenti, dan akan menjadi hutan sedekah.”

“Ya kyai saya paham..”

“Tapi kyai, saya…. saya sudah pernah punya perjanjian dengan nyai Roro Kidul, diperintahkan untuk mengembangkan pesugihan ini agar yang jadi tumbal bisa dijadikan bala tentara..”

“Segala bentuk perjanjian sesat, di kala sebelum Islam, itu tak berlaku lagi ketika seseorang telah menjadi muslim, misal orang sebelumnya mempunyai perjanjian dengan berhala, maka berhala harus ditinggalkan kala orang itu masuk Islam.”

“Tapi kyai, saya tak berani menyalahi nyai Roro Kidul.”

“Apa nyai Roro Kidul itu tinggi ilmunya?”

“Tidak kyai, beliau biasa-biasa saja..”

“Bagaimana jika diukur denganku ilmunya?”

“Masih tinggian kyai.”

“Nah nyai Dewi sudah menjadi muridku, maka sudah pasti saya melindungi, jika saya tak mampu, maka guru saya, jika tak mampu maka gurunya guru saya, terus sampai nabi SAW, sampai Allah, kurasa sesakti saktinya nyai Roro Kidul tak akan berani melawan Allah.”

“Iya kyai saya siap…. saya siap setia, dan berbakti kepada kyai.”

“Anak buah nyai ada berapa?”

“Ada 270 ribu kyai… yang 70 ribu sudah muslim, yang 200 ribu belum muslim kyai.”

“Nanti saja malam minggu ajak ke sini semua..”

“Iya kyai..”

Tiba-tiba aku merasakan jin jahat di belakangku.

“Ini yang di belakangku siapa nyai Dewi?” tanyaku pada Dewi Lanjar.

“Ada kuntilanak, dia mau mendekat kirimannya Askan. Mau mendekat tapi takut sama kyai.”

“Nyai Dewi bisa menangkapnya?”

“Saya ndak bisa kyai..”

“Aisyah saja bisa kok..”

“Iya kyai saya juga heran, kenapa Aisyah, baru beberapa hari saya tak ketemu dia, ketemu lagi kok dia malah sakti.”

“Nah itulah nyai… kalau mau belajar ilmu,”

“Coba nyai Dewi tangkap kunti itu, ku bantu energi.”

“Iya kyai..” dan Dewi Lanjar menangkap kunti itu dengan susah payah akhirnya bisa.

Setelah bicara panjang lebar, nyai Dewi mohon diri, sambil berjanji akan membawa semua pengikutnya untuk ikut dzikir sambil sebelumnya masuk Islam dulu.

——————————————————————————————-

Hari-hari tak ada cerita dan kisah tanpa canda tawa Aisyah, dalam dunia jin
rupanya tak biasa memberi nama pada sesosok jin, seperti Aisyah punya dua adik perempuan, keduanya juga tak diberi nama, maka agar mudah membantu, ku beri nama adiknya Aisyah bernama Aminah, dan adiknya lagi bernama Latifah, sehingga kalau aku mau memanggil siapa akan mudah, dalam dunia jin sebenarnya tak beda dengan dunia manusia, cuma jin itu kebanyakan sering meniru bentuk-bentuk manusia, untuk menunjukkan keberadaannya pada manusia, sebenarnya Aisyah dan saudaranya adalah berbentuk asli burung dara, sedang raja, berbentuk asli ular, ada juga yang berbentuk asli macan, elang, dan berbagai macam bentuk yang lain, tapi mereka cenderung merupakan bentuk manusia, seperti Aisyah berbentuk perempuan berjilbab biru, sedang Dewi Lanjar berbentuk perempuan berkerudung biru.

Berbicara banyak jadi ingat masa laluku saat masih suka meraga sukma, dan menaklukkan kyai Cempli yang dari desa sebelah.

“Aisyah….” panggilku.

“Iya kyai… ada perintah apa?”

“Aisyah kenal dengan kyai Cempli?”

“Iya kyai… tau, itu kyai edan..”

“Coba panggil kesini..”

Sebentar kemudian kyai Cempli sudah masuk ke tubuh Yaya yang ku jadikan mediator, tapi aneh, kenapa berlagak seperti mau menyerangku.

“Kamu kyai Cempli dari Secino Pakumbulan?” tanyaku.

“Iya…. ada apa memanggilku?”

“Masih ingat denganku?”

“Yah…” suaranya sambil menggereng-gereng.

“Hm…. kok kamu galak denganku? Apa tak tunduk lagi denganku.”

“Aku sudah tak tunduk lagi denganmu….”

“Ooo begitu rupanya… pantesan galak, apa mau membangkang denganku rupanya ya..?”

“Ya… aku sudah tak mau tunduk lagi denganmu..”

“Hm boleh,,, ayo serang aku, keluarkan semua ilmu yang kamu punya..”

Dia mulai menyerangku, mencoba menyerangku tapi mental… dan menjerit-jerit minta ampun, tapi kemudian berusaha menyerangku lagi, dan mental dan jatuh lagi begitu berulang-ulang.

“Bagaimana, diteruskan? kalau masih penasaran, ayo diserang lagi, sebelum giliranku yang menyerang.” kataku, dan dia berusaha menyerangku lagi, tapi terjatuh lagi.

“Nah sekarang giliranku yang menyerang…” kataku sambil meremasnya dari jarak jauh, dia langsung melintir, “Ingat lafatdz ini yang dulu ku gunakan untuk menaklukkanmu dulu..”

“Ya saya ingat, saya ingat, ampuuun…, ampuuun..” dia bergulingan, ketika bacakan ‘ya latif’. Karena memang dulu waktu aku menaklukkannya menggunakan ‘ya latif’.

Dia bergulingan, dan minta ampun, tapi ketika seranganku ku kendorkan, maka dia berusaha menyerangku lagi, begitu berulangkali, malah sudah ngaku mau masuk Islam, dan ku ajarkan dua kalimat sahadat, ee malah setelah selesai menirukan ajaran mengucap dua kalimat sahadat, dia mencoba menyerangku dari belakang. Karena ngeyelnya, ku ambil saja botol dan kyai Cempli ku masukkan dalam botol, kebetulan kok Aisyah juga sedang usil, jadi ku masukkan botol jadi satu sama kyai Cempli, tapi sebentar kemudian Raja menghadapku, dan meminta maaf atas kelakuan Aisyah, dan memintaku agar Aisyah dikeluarkan dari dalam botol, dan aku segera mengeluarkan dari botol, Alhamdulillah setelah itu Aisyah makin baik tingkah lakunya.

Dimana ternyata tak semua teman baik maksudnya, itu sudah jelas, makanya berteman juga harus pilih-pilih teman, salah memilih teman, bukan malah dapat teman, tapi malah menambah musuh, kenyataannya sekalipun kita baik sebaik apapun pada orang lain, juga belum tentu orang lain akan baik pada kita, kita diumpamakan senyum pada orang di jalan, belum tentu juga orang akan baik tanggapannya, bisa jadi kita dibilang “plengehen, kepedean, sawan, sok ganteng, cari perhatian dll..” sebenarnya pendapat orang pada kita, misal kita sudah berusaha baik, apa pendapat orang itu sebenarnya mewakili hati orang tersebut, kotoran manusia maka akan berbau kotoran manusia, kotoran kerbau juga akan berbau kotoran kerbau, kalau tak percaya, coba saja waktu pagi datangi kotoran kerbau yang masih keluar asap, ambil sedikit lalu dioleskan ke lubang hidung, nanti dirasakan bagaimana baunya, bahkan beda dengan kotorannya kucing, kalau masih tak percaya, setelah hidung diolesi, kotorannya kerbau, lalu pergi ke kamar mandi, cuci yang bersih hidungnya, usahakan sampai tak tercium sama sekali bau kotoran kerbau, lalu cari kotoran kucing, sama jejalkan ke hidung, nanti bagaimana baunya, pasti akan beda dengan kotoran kerbau.

Kalau masih belum percaya boleh diulang beberapa kali, sampai percaya. Bukan maksudku untuk menyuruh mempraktekkan, itu hanya perumpamaan saja, jadi hati yang busuk itu akan menimbulkan uap, sebagaimana kotoran itu, hati yang busuk itu tak bisa ditipu, di lisan akan menimbulkan aroma, tingkah laku, dan pembicaraan buruk, jadi keburukan hati itu tak bisa ditipu perwujudannya dalam pergaulan, dan gerak gerik seorang itu dipengaruhi hatinya sendiri.

Di mana saja, termasuk di facebook, kalau dipikir kadang juga tak masuk akal, bagaimana hubungannya, apa perlunya tingkah yang buruk itu mengganggu orang lain, kadang malah tak butuh satu alasan, seseorang tingkah lakunya jelek pada oang lain, jadi kalau dicari alasannya seringnya malah menemukan jalan buntu.

Daftar Blokku di fb termasuk banyak, dan amat banyak karena ternyata banyak sekali pesan yang masuk yang maksudnya apa juga saya gak tau, yang jelas selalu mengajak ribut, bahkan mengirim jin ke rumahku untuk menyerangku. Kalau dipikir-pikir apa juga untungnya mengirim jin untuk menyerangku, itu juga kan bayar dukun, tapi itulah kenyataannya.

Sekali lagi ku tekankan, ceritaku ini bukan untuk dipercaya, anggap saja hanya hayalanku saja, jika kok ada tempat kejadian atau nama yang kebetulan sama, ya nama juga dari A sampai dengan Z, jadi bisa saja sama, dan tak ada larangan nama orang itu sama dan bahkan wajah orang kok sama saja ndak ada larangan, jadi ini bukan untuk menjelek-jelekkan atau membongkar keburukan orang, ini hanya menulis apa yang menurutku ku alami. Anggap saja aku mengalami mimpi, dan di mimpiku ada orang yang kebetulan masuk dalam mimpiku, daripada nanti apa yang ku tulis jadi perdebatan. Jadi, jadikan saja bacaan ringan, yang bermanfaat silahkan diambil yang merugikan jangan ditiru, dan dijadikan contoh melakukan perbuatan yang sama, atau menjadi inspirasi untuk melakukan perbuatan yang sama.

Setelah magrib, padahal aku sudah ada janji pada anak buahnya Dewi Lanjar untuk mengislamkan mereka, tapi malah dari seseorang banyak sekali jin yang dikirimkan, sehingga aku sibuk menangani jin, dan jam perjanjian jadi mundur.

“Siapa?” tanyaku pada jin yang merasuk pada Yaya.

“Aku jin kiriman diperintahkan untuk menggagalkan dzikir malam ini,” jawab jin.

“Berapa temanmu?”

“Ada beberapa ribu.”

“Berapa?”

“Sepuluh ribu..”

“Wah sedikit sekali.”

“Sedikit bagaimana?”

“Ya kenapa tak mengirim yang lebih banyak lagi?”

“Nanti akan dikirim lebih banyak lagi.”

“Lalu kamu perintahan siapa?”

“Saya disuruh Sengkuni.”

“Sengkuni siapa?”

“Sengkuni temanmu, yang juga murid kyai Cilik.”

“Ah jangan ngarang kamu..”

“Saya tak ngarang…”

“Sengkuni itu tak bisa mengirim jin.”

“Dia menyuruh dukun, membayar dukun,”

“Bayar berapa?”

“Membayar 500 juta.”

“Wah makin ngarang lagi kamu,”

“Tidak aku tidak mengarang, memang benar seperti itu. Aku disuruh menghancurkanmu, hemmm, grrrr…..” dia mendengus.

“Coba dulu, pandang aku…., kuat gak?”

“Hm,,, panas…”

“Kamu siapa, kenapa panas sekali tubuhmu..”

“Ya aku kan yang akan kamu serang.”

“Ya kenapa panas sekali, ampuuun….”

“Coba masih ada yang berani melawan tidak..”

“Hm…. ada…”

“Coba saja suruh bergantian menatapku.” jin pun bergantian menatapku.

“Ampun kami tak berani.”

“Sekarang bagaimana, mau melawan atau mau tunduk padaku?”

“Ya kami tunduk, kami tunduuuk..”

“Kalian Islam bukan?”

“Kami kafir semua.”

“Mau ku Islamkan?”

“Mau, kami mau…”

Maka ku ajari mereka semua masuk Islam dengan membaca dua kalimah sahadat. Sementara anak buah Dewi Lanjar sudah menunggu, segera saja ku lakukan mediumisasi, kupakai dua orang, yang satu orang ku masuki Dewi Lanjar, dan satu orang lagi ku masuki panglimanya.

“Nyai Dewi..” panggilku.

“Iya kyai…”

“Ini semua prajuritnya ada berapa yang hadir?”

“Ada 270 ribu,”

“Tolong semua diperintahkan mengikuti saya melafadzkan dua kalimat syahadat.”

“Iya kyai, semua menunggu kyai bimbing,”

Maka ku ajari semua melafadzkan dua kalimat sahadat, dan setelah membaca dua kalaimat syahadat semua ku perintahkan untuk mandi sebagai lepas dari kekafiran, masuk menjadi muslim. Semoga menjadi awal yang baik, dan kedepannya akan makin baik, juga akan disusul oleh jin di manapun berada.

Pas dzikir malam minggu legi berjalan lancar, dan tak ada kendala apa-apa, malah syaikh Ibrohim al-Magrobi berkenan hadir dalam majlis mengikuti dzikir, dia disertai anak perempuannya yang cantik…. sampai orang kampung yang dilewatinya terheran-heran dengan kecantikannya, aku tak sempat memperhatikan kehadirannya, karena sibuk memimpin dzikir.

Besoknya santet yang dikirim Sengkuni padaku makin aktif dan makin sering, bukan hanya padaku juga pada istri, anak, juga murid-muridku, mungkin kebenciannya makin menjadi-jadi, apalagi setelah banyak jinnya yang ku tangkap, dan akhirnya ketahuan kalau selama ini yang mengerjai kyai Cilik adalah dia, membayar dukun-dukun, aku gak tau apa juga motifnya, yang aku kadang timbul greget dan pengen marah, adalah ketika santet dikirim ke anak kecilku, yang baru kelas 3 SD, di kepalanya ditancepi beberapa paku, di matanya, di perutnya, bagaimana itu kalau anak orang lain, aku hanya bilang ke anakku, “Sabar ya nduk, yang sabar, ini cobaan Allah,” itu selalu ku katakan kalau anakku, meminta, “Abah ini di kepalaku ada 5 paku, ini di mataku ada pakunya, ini di perutku ada pakunya.” dan dia minta diambil, kadang aku berfikir sebenarnya Sengkuni itu manusia apa bukan….? kok dia seperti itu.

Hari senin menghadap ke kyai, sebenarnya kyai sudah seminggu memanggilku menghadap, tapi karena tanggung jawabku memimpin dzikir maka aku baru bisa menghadap hari senin. Nyai Ratu, Dewi Lanjar, dan Aisyah ikut menghadap disertai abdul jin yang takluk dari kirimannya Sengkuni, Aisyah sudah mahir mengobati, aku yakin kyai juga sedang dalam keadaan sakit sebagaimana denganku, jadi ku bawa Aisyah agar mengobati kyai, kyai itu sudah tingkatan disakiti orang maka harus menerima, jadi beliau pasti masih dalam keadaan sakit dan ku bayangkan beliau menahan sakit dari santet yang dideritanya.

Aku dan rombonganku naik mobil, dan rombongan ratu dan Dewi Lanjar naik kereta kencana terbang di angkasa, mengiringiku, kadang Aisyah ku panggil turun naik mobil, jika Aisyah turun naik mobil maka dalam mobil akan jadi ramai, dan hidup, apa saja dia tanyakan, tapi dengan gaya yang kocak, kalau dia manusia pastilah dia gadis yang periang.

Perjalanan yang panjang, serasa cepat, dan sampai di tempat kyai, Sengkuni ternyata ada, dia kalang kabut, karena melihatku hadir, dan dalam keadaan sehat, mungkin dikiranya aku sudah tergeletak tak berdaya, sebenarnya aku disantet juga tembus, bukan berarti tak apa-apa, tapi kadang santet masuk semua ku kibaskan, sehingga lepas semua, yang paling sulit di tenggorokanku ditancepi paku, kawat yang ditancapkan melingkar, dan benang yang dijahitkan ke dalam tenggorokan, juga besi tiang antena yang ditancapkan di tenggorokan, ya walau disantet ku ambil dan berulang disantet ku ambil, tetap saja akhirnya tubuhku ada bekas lukanya, luka lain mungkin tak seberapa, yang parah adalah luka di tenggorokanku, karena suaraku jadi tak ada sama sekali, seperti pita suara putus saja rasanya, jadi dari tenggorokan tak keluar suaranya, dan rasanya sakit sekali, padahal aku harus memimpin dzikir di mana-mana, ya memang dia tak ingin dzikir ku pimpin, tak tau apa maksudnya.

Sengkuni ke tempat sepi, ketika mengetahui kedatanganku, dia pergi ke tempat sepi untuk menelpon, dan sms dukun yang diperintah menyantetku, dan ketika aku menghadap kyai di dalam kamar, maka santet dikirim menyerang tenggorokanku, agar aku tak bisa bicara sama kyai, dan tanpa Sengkuni sadari waktu dia nelpon, sopirku ada di dekatnya, menurut sopirku, dia bicara suruh cepat dikerjai, karena dia di dalam kamar dan sebelum cerita ke kyai.

Sementara itu, aku di dalam kamar, kyai dalam keadaan tak berdaya, tubuhnya sakit, dan di tangan kanan kirinya ada kayunya (gaib maksudnya), dan di kepalanya ada beberapa paku, juga ada di matanya, di telinganya di tembus besi dari kanan ke kiri, sehingga kyai tak dengar kalau diajak bicara, Sengkuni itu murid kyai, cuma agar tak mendengar laporanku, apa ada murid tega menusuk telinga gurunya, kalau gak murid yang murtad, dan setan,

“Ini yang mengerjai Sengkuni… kyai…” kataku dengan mata berkaca kaca.

“Bukan, bukan Sengkuni yang mengerjai, cuma yang mengerjai setan yang berupa Sengkuni.” jawab kyai sambil menahan rasa sakit.

Aisyah segera ku transfer energi untuk mengambil segala macam santet yang bersarang di tubuh kyai, anehnya santetnya sama semua bentuknya dengan yang dikirim padaku, dan sama persis, menunjukkan dukun yang sama yang mengirim. Ketika aku dalam mentransfer energi untuk mengobati kyai, tiba-tiba berduyun-duyun jin dikirim menyerangku, dan menguasai Aisyah agar tak bisa mengobati kyai, ada 800 jin yang dikirim, maka aku ajak semua bertarung, dan tak sampai 5 menit Alhamdulillah semua takluk dan masuk Islam, lalu mengobati kyai ku lanjutkan.

“Kemaren di tenggorokanku juga ada benang jahitnya, ku keluarkan.” kata kyai, setelah dapat lancar bicara.

“Ya kyai, sama santetnya yang dikirim padaku..”

“Hehehe kok bisa begitu ya…” kata kyai, kurasa membayangkan kekejaman Sengkuni.

“Yang kirim Sengkuni kan kyai..”

“Bukan dia, tapi setan yang berupa Sengkuni, yang menyuruh tukang santet sebelah rumah, yang jadi RT itu, juga adiknya dari Surabaya, dan nyuruh orang Subang.”

“Lalu bagaimana baiknya kyai?”

“Sudah biarkan saja… jadikan ini gemblengan menempa diri, thoreqoh itu menggembleng lahir batin kita, bukan saja menggembleng secara lahiriyah tapi juga secara batiniah, seperti yang ku ajarkan padamu dulu di Cilegon, sudah nanti gembleng muridmu dengan cara begini agar cepat kemajuannya.”

“Iya kyai…”

Aku keluar kamar, Sengkuni menemuiku, dan dengan agak kikuk tak seperti biasanya, dia bertanya,

“Bagaimana kang, heheheh…. sudah ketemu dan bicara sama kyai?” tanyanya.

“Belum.” jawabku pura-pura, “kyai sedang sakit, jadi aku tak bisa bicara dengannya.” jawabku bohong, sengaja, agar dia tak rikuh.

Dia hanya bertanya itu dan pergi dengan wajah lega, setelah dzikir jamaah selesai, aku menghadap lagi pada kyai, dan lagi-lagi Sengkuni menelpon dukunnya, dan aku diberondong santet di leher lagi, agar tak bisa bicara. Padahal aku mau menghadapkan nyai dewi dan nyai ratu, untuk minta ijin menjadi murid thoreqoh, dan kyai mengijinkan, dan tak banyak bicara lagi, kami segera meminta diri, untuk pulang.

Sampai di Pekalongan, tak ada lagi hari damai, tiap hari aku diberondong santet tiada henti, dia membayar dukun beratus-ratus juta, dan dikirim jin setiap hari tanpa henti selalu dikirim, ada sampai 500 ribu jin, dan ngambilnya sembarangan, ada yang dari tepi laut, ada yang dari telaga, ada yang dari alas roban, ada pernah jin dari alas roban, yang dikirim dari sekian banyak jin.

“Ini to yang namanya kyai Nur?”

“Siapa kamu?” tanyaku pada jin yang merasuk pada mediatorku.

“Aku jin perintahannya Sengkuni, aku dari alas roban,”

“Apa kamu sudah tau denganku?”

“Sudah, walau aku sendiri diambil dari alas roban, di alas roban namamu sudah jadi bahan pembicaraan antar jin, bahkan ada muridmu jin tua yang menyebarkan ajakan untuk masuk Islam pada jin di alas roban,”

“Siapa dia?”

“Aku tak tau namanya, dia itu anak buahnya Dewi Lanjar.”

“Lalu apa keperluanmu? Apa mau melawanku?”

“Ah tidak, aku tak berani.”

“Lalu….?”

“Aku mau kembali saja..”

“Ya kalau begitu keluar sendiri, apa ku keluarkan?”

“Biar saja saya keluar sendiri.”

Maka ku biarkan dia keluar.

“Kyai, tolong kyai….” suara Aisyah ,”Saya lemas..”

“Kenapa Aisyah..”

“Jin yang baru keluar itu mencuri ilmu dan energiku.”

“Lhah kok bisa?”

“Gak tau kyai, ilmu pemberian kyai diambil dia semua.”

“Wah bahaya….”

“Bagaimana ini kyai…. tubuhku tak berdaya….”

Wah aku panik sekali, bagaimana ini…

Kyai sakti.part.71

Aisyah kelihatan lemah tak berdaya, wajahnya sayu dan tangannya terkulai, aku bingung juga harus berbuat apa, di saat kebingunganku dan tak tau apa yang harus ku lakukan, jadi ingat dipanggil kyai bareng mas Bangun, aku diberi ilmu menarik ilmu orang lain, cuma sayang aku pas dikasih kok ya ketiduran, gak tau ngantuk banget, malah aku dibangunkan mas Bangun, dan ditanya kyai, sudah hafal belum kuncinya, aku cuma jawab, “belum kyai.”

“Ya sudah nanti kapan-kapan lagi diulang,” kata kyai.

“Ya kyai.” terus terang aku tak mengerti kyai memberi ilmu itu, juga aku bukan orang yang kemaruk ilmu, jadi kurang memperhatikan kalau diberi ilmu.

Ya itu, akhirnya diberi ilmu, malah gak tau apa dan bagaimana ilmunya. Wes lah pasrah saja sama Allah.

“Mas, tadi hafal ilmunya?” tanyaku pada mas Bangun ketika diantar ke terminal Kampung Rambutan.

“Walah saya malah gak ngeh sama sekali je…” jawab mas Bangun.

“Waduh bagaimana to, la saya malah tertidur.”

“La terus bagaimana?”

“Lain kali kalau dikasih ilmu, siap-siap saja kita rekam.”

“Heheheh… saya dah minta ijin soal itu, soal merekam apa yang disampaikan kyai, tapi kyai gak membolehkan.” jawab mas Bangun menjelaskan bergaya intelek.

“Ya ngerekamnya gak usah bilang, la wong ngasihnya saja sekali langsung diminta hafal, bagaimana otak yang low kayak saya ini bisa nangkep. Harusnya sayang kalau ilmu itu terbuang percuma, sayang sekali, yang aneh kenapa saya kok ngantuk buanget, ngantuk pakai buanget, masak di depan kyai duduk sambil tiduran, sampai ngorok lagi, jan gak bermutu.”

“Sudahlah kita terima dengan ikhlas saja.”

“Ya nerimanya sih ikhlas, yang ngasih kan sremet juga kalau dikasih ilmu tingkat tinggi jadi tidur kayak diriku, tapi aneh memang kok gak ketahan mau tidur itu, yo wes lah, semoga saja manfaat.”

“Manfaat dari mana, wong ilmu saja ndak didapat, kok manfaat?”

“Ya manfaat yang memberi kan Allah, Allah itu tak membutuhkan sebab untuk memberi suatu kemanfaatan, dan tak butuh alasan untuk wujudnya manfaat, wes gak usah dipikir… besok saja kalau diberi kita rekam diam-diam, heheheh…”

“Yo wes lah aku manut wae.”

“Wah lagu lama… mau enaknya gak mau susahnya, hehehe…”

Akhirnya kami pisahan dan aku naik bus ke Cirebon, karena bis yang ke Pekalongan sudah tak ada.

Apa ilmu yang tak ku hafal do’a pembukanya itu akan bisa ku pakai, melihat keadaan Aisyah yang tak berdaya, sungguh aku kasihan sekali. Ku coba saja, tangan ku arahkan ke arah Alas Roban, tempat jin yang mencuri Aisyah pergi. Lalu ku tarik. Seperti menarik beras 1 kwintal, berat dan tanganku mengeras. Ku pegang, dan ku masukkan ke tubuhnya Aisyah lagi,

“Sudah pak kyai….” terdengar suara Aisyah yang ceria. “Tapi hanya separo.” dan kelihatan lemes lagi.

“Ya sudah tak papa, nanti kyai tambahi lagi…”

“Iya… iya… nanti ditambahi lagi ya kyai…” wajahnya sudah ceria lagi.

Kejadian demi kejadian, ku buat selalu pelajaran, dan semoga aku bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, dan atas kejadian ini, semoga makin mendewasakanku, mungkin ini cara Allah menggemblengku agar mampu menanggung tanggung jawab yang besar, entah juga tanggung jawab apa, aku hanya berusaha menjalaninya, sebagaimana jalannya air mengalir.

___________________________________________________

Aisyah sudah mulai ku latih menarik penyakit jarak jauh, dan Alhamdulillah perkembangannya lancar, dia seperti tanah subur yang akan tumbuh bila ditanami apa saja. Yang ku suka dia tak pernah menolak jika dimintai tolong apa saja, tak pernah minta imbalan apapun.

“Aisyah…. Aisyah apa gak ingin apa-apa?” tanyaku setelah mengobati beberapa orang, karena ku lihat dia kelihatan lelah.

“Gak kyai….”

“Bilang saja nanti ku beri apa maunya Aisyah.”

“Gak pengen apa-apa kok kyai, Aisyah hanya ingin membantu kyai, apa saja yang kyai perintahkan Aisyah siap, Aisyah siap mati untuk kyai….” katanya sambil bercanda.

“Apa Aisyah gak ingin makan apa gitu.”

“Aisyah hanya makan pasir saja kyai..”

“La apa enaknya pasir to? Apa gak makan nasi saja?”

“Ya kalau makan nasi Aisyah muntah… ya pasir yang dimakan baunya saja kyai, bukan pasirnya.”

“Ooo tak kira makan pasirnya sungguhan, sampai kyai lihatin terus pasir di depan rumah, dah berapa kurangnya, kok ku lihat gak kurang-kurang itu pasir, masih tetap saja utuh.”

“Ya yang dimakan baunya saja kyai, nanti pasir yang hitam itu akan agak berwarna keputihan.”

“Apa semua prajuritnya makan pasir?”

“Ya kyai…. kadang Aisyah juga makan kembang. Ratu makannya juga kembang.”

“Oooo rupanya begitu, la kembang, mau ku belikan kembang?”

“Ah tidak lah kyai, Aisyah nyari sendiri saja.”

“Benar tak mau ku belikan?”

“Tidak ah…”

“Aisyah sudah puasa kan, juga nyai ratu?”

“Sudah kyai, puasa 21 yang kyai berikan itu, cuma Aisyah tak pernah selesai dzikirnya, buanyaaak sekali, paling sampai bismillah, jadi ngutang deh, heheeh… Aisyah pegel duduknya, semuten. Tapi kalau ratu selesai dzikirnya, malah kalau raja pergi, ingin menyendiri mengamalkan amalan dari kyai, dia bertapa.”

“Besok tak belikan kembang ya? Sukanya kembang apa?”

“Ah gak usah lah kyai, kami sudah sangat bersyukur diangkat jadi murid sama kyai.”

“Kyai bukan memberikan karena pamrih, kyai memberikan untuk memberi makan orang yang berpuasa, karena memberi makan orang yang berpuasa itu mendapatkan pahalanya puasa orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala puasanya orang yang berpuasa, nah bagaimana?”

“Ya terserah kyai saja, kyai kan guru saya, gurunya ratu, gurunya Dewi, semua akan taat apa yang kyai ajarkan, kami tau kyai tau apa yang terbaik.”

Maka ku belikan kembang, untuk berbuka puasa, seminggu ku berikan 2 kali.

__________________________________________________

Sementara itu serangan dari Sengkuni makin meniadi-jadi saja, aku gerakkan murid dari internet untuk ikut andil dalam perang melawan kemungkaran, banyak sekali pengalaman yang mereka alami, memang itu juga perintah kyaiku, agar dijadikan alat menggembleng murid, sebenarnya momen saat seperti ini itu seperti momen merobohkan gunung dengan ledakan bom, kalau amaliyah biasa, puasa biasa itu seperti meruntuhkan gunung dengan cangkul, jadi siapa yang andil kemajuan ilmunya akan seperti roket, sebagaimana aku dulu ketika melawan 900 tukang santet, dan perkembangan ilmuku amat pesat sampai aku sendiri tak masuk akal, dan setengah tak percaya dengan kejadian demi kejadian setelahnya setelah melewati ujian berat.

Tapi di kejadian itu juga akan jadi penyaring, siapa yang akan terbentuk dengan bentuk yang diinginkan atau siapa yang akan tumbang dan berlalu menjadi murid yang laman berkembangnya, siapa yang pantas dijadikan paku bumi, dan siapa yang hanya jadi rumput, itu berlaku juga untuk murid kyaiku.

Aneh memang didikan seperti ini, kayak gak masuk akal, tapi kyaiku selalu menekankan, biar alam yang menyeleksi murid yang jadi dan yang hanya berlalu saja, dan muridku yang asli sini malah semua tak ada yang perduli sama sekali, hanya 80% yang jadi, yang lebih mengherankan malah ada murid kyai yang dulu kena santet saja sering ku bantu, ee kok sekarang malah ikut Sengkuni menyerangku, seringnya malah mengikat Aisyah dan seringnya berusaha agar majlisku tak ada pengunjungnya, memang banyak sekali yang akan jadi penghianat, dan akan jadi duri dalam daging, di-kiranya Allah tak tau, malah ada juga yang menuduhku tertipu dengan jin, mungkin tak pernah membaca Alqur’an atau bagaimana, apa tak pernah membaca surat jin, bagaimana nabi SAW mengislamkan jin, dan nabi adalah sebaik-baiknya suri tauladan, contoh yang harus kita tiru, bukan pendapat sendiri, aku tak henti berdoa pada Allah, jika ilmu yang ku berikan pada orang yang salah, ku minta dicabut dari orang itu dan dikembalikan pada lauhil mahfudz.

Alhamdulillah, Aisyah sudah bisa mengobati jarak jauh, kalau kyai guruku sakit maka ku perintah dia menarik sakitnya dari jarak jauh, dan juga kemarin pas ibu kyai kena santet juga ku minta mengobati jarak jauh, tapi hal itu makin membuat Sengkuni terbakar hatinya, sekarang yang dituju dan diarah adalah Aisyah, bagaimana menangkap Aisyah, aku sendiri tak bisa menjaganya selalu, PENGGEMBLENGAN ini yang dikatakan kyaiku sungguh sangat unik.

Dari pagi Aisyah mengobati, siang dia ikut istriku belanja, biasa dia ingin lebih tau banyak tentang manusia, jiwanya mungkin sangat haus akan dunia manusia, dia juga makin rajin melihat tivi, aneh jadinya kalau ada jin hafal iklan, dan hafal cerita sinetron, dia juga suka mengubah canel tv yang disukai. Jin yang dikirimkan padaku dan yang ku taklukkan mungkin keseluruhannya aku tak tau lagi berapa, tapi ada perkiraanku sampai 600 sampai 700 ribu lebih, pernah ku tanyakan Aisyah.

“Ada berapa banyak jin yang ada di sekitar rumahku?”

“Wah tak terhitung kyai, semua atap rumah sudah penuh, sampai atap rumah tetangga dan pohon-pohon, dan di jalan berjejer ada penuh sampai ke sawah yang berjarak 1 kilo meter, semua penuuuuh jin.”

“Tapi tak ada yang jahil kan.”

“Tak ada kyai… semua taat beribadah, kalau ada yang tak sholat ditegur sama ratu.”

Memang ku rasakan walau rumahku penuh jin, tapi hawanya adem, tak panas, atau terasa merinding, semua adem ayem. Memang ku sengaja semoga aku banyak bisa mengislamkan banyak jin, setiap ada kesempatan, atau laporan ada tempat angker ku tarik dan ku mediumisasi dari rumah. Seperti siang itu, ada yang cerita kalau ada sebuah pabrik yang angker, ku coba memediumisasi. Ku tarik jin dari rumah, dan ku masukkan ke mediator.

“Siapa?” tanyaku.

“Saya jin raja yang tinggal di pabrik, Assalamualaikum.”

“Waalaiku salam.”

“Kamu muslim.”

“Iya..”

“Apa semua yang tinggal di pabrik itu muslim?”

“Tidak semua, hanya anak buahku yang muslim kyai..”

“Kamu tau tentang diriku?”

“Ya kyai, saya tau, kalau boleh saya ingin mengabdi dan menjadi murid kyai.”

“Ada berapa temanmu?”

“Ada 20 ribu.”

“Yang masih kafir coba panggil menghadap padaku.”

“Ya kyai…” sebentar mediator diam dan bergerak lagi, bergaya ingin menyerangku,

“Apa mau menyerangku?”

“Hiya….”

“Coba diserang…” kataku pasrah diam saja.

“Ampuuuun…. saya nyerah…”

“Lhoh kenapa?”

“Ada yang menekanku.. aku menyerah, habis tenagaku, aku mau nakluk saja, aku sebenarnya dari Malaysia.”

“Kok jauh amat dari Malaysia?”

“Iya dikirim dari sana, orang yang punya pabrik bekerja sama dengan orang Malaysia dan aku dikirim untuk memantau pabrik ini,”

“Ooo begitu rupanya, lantas bagaimana mau menjadi pengikutku atau bagaimana?”

“Iya kalau boleh, saya mau dijadikan murid.”

“Ya sudah semua temannya diajak jadi muridku. Ikuti ku ajarkan membaca dua kalimat sahadat.” maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat. Kejadian hal seperti itu, hampir tiap hari terjadi, kadang ada jin dari jauh, berombongan, dan minta diIslamkan, lalu setelah masuk Islam ada yang tinggal, ingin ikut mengaji, ada juga yang datang setelah diIslamkan kemudian mereka pergi lagi, itu hampir tiap hari, kadang sehari sampai beberapa kali.

_________________________________________________

Kadang kita ikhlas membantu orang lain, bahkan tak meminta bayaran apa-apa sama sekali, kadang sudah menolong juga memberi makan juga memberi apa saja yang dibutuhkan si sakit, tapi balasannya malah sebaliknya, seperti ada orang yang kena santet, sudah berobat kemana-mana tak sembuh, dan dibawa kerumahku sembuh, keluarganya menjenguk, itu bukannya berterima kasih, ee malah menuduh aku yang menyantet, dan aku yang mengerjai, yang membuatnya sakit, agar aku bisa mengobatinya, heran juga, apa untungnya juga bagiku, kecuali aku menyuruhnya membayar, la ngobatinya saja gratis kok gak dipungut biaya serupiah pun, kok malah menuduhku katanya yang menyantet, atau wajar jika dituduh seperti itu jika aku mensyaratkan membayar sekian-sekian, la serupiah saja tak ku minta, lalu keuntunganku membuat orang sakit itu ada di mana? Anehnya lagi ngajak ribut, menuduhku sesat dan lain-kain, ealah kok orang ya macem-macem begitu, kadang kalau ketemu orang seperti itu jadi down mau menolong orang, udahlah masing-masing saja… Kadang sekilas lintas terbersit rasa seperti itu, namanya juga aku manusia biasa, tapi Allah seperti memperingatkanku, sudahlah anggap itu ujian, untuk makin mendekatkanku padaNya, jadikan ladang amal.

Ya memang harus berfikiran jernih, dan selalu menimbang, mengembalikan segala sesuatu pada Allah, Allah juga kan yang membolak balikkan hati manusia, hatinya buruk atau baik, Allah juga yang menjadikan, jika hati seseorang itu kemudian buruk padaku itu sebenarnya atas ijin Allah, dan jadi ujian padaku, atau seseorang itu melakukan keburukan padaku, itu Allah mengujiku, melatihku menanggung beban berat, agar aku terbiasa dengan beban berat, dan jika menanggung beban berat, aku tak merasa keberatan malah akan merasa ringan jika beban itu bobotnya di bawah beban yang biasa aku tanggung.

Yakin seyakin yakinnya saja kalau Allah pasti menolong, dan Allah maha mengetahui dan maha menolong pada orang yang bertawakal dan berserah diri padaNya.

Kita juga diberi kesempatan oleh Allah, kalau kita diserang terus menerus, maka kita boleh balas menyerang untuk membela agama, mati juga akan mati sahid, bersama Allah jangan ragu melangkah.

Tempaan yang ku terima memang saat cerita ini ku tulis, memang tiada sangat beruntun, aku juga cuma menjalani, apa maksud Allah, aku juga tak tau, yang penting aku selalu berusaha dalam koridor istiqomah memegang amanah dan amaliyah.

Tamu yang minta tolong silih berganti, sekalipun aku menghadapi permasalahan sendiri, tetap juga ku dahulukan permasalahan orang lain, kadang ngadepi tamu sambil mencabuti santet yang entah berupa paku, bambu, yang ditancapkan ke tubuhku.

Diubah oleh Gusyitno

Lanjutan.kyai sakti.71

Datang tamu dari MTS Walisongo, dulu tempat Aisyah mengganggu, bersama prajuritnya, katanya masih banyak kerasukan terjadi, sebenarnya kalau mereka tau, mereka tak akan minta bantuan dukun atau paranormal, yang memang menawarkan diri untuk menolong kerasukan itu, karena jin yang merasuk ke siswa itu adalah jin yang memang malah kirimannya dukun, kalau motif dan tujuan aslinya sendiri aku tak tau apa itu. Tapi kalau menurut pendapatku itu motifnya dukunnya pengen dapat pekerjaan agar dapat uang, atau namanya jadi tenar karena mengobati kerasukan itu, tak tau juga.

“Maaf pak kyai mengganggu…” kata dua orang guru MTS.

“Ada perlu apa bu?” tanyaku.

“Ini pak, kami mau minta solusi, sudah beberapa bulan ini anak didik kami mengalami kerasukan, jadi kami ingin minta solusi pada bapak, bagaimana baiknya?”

“Sejak kapan bu, ada terjadi kerasukan?”

“Sudah ada 3-4 bulan pak..”

“Sebentar ya bu….” ku tarik Aisyah ke mediator. “Ini dulu yang mengganggu anak didik ibu, ini jin yang dulu bertempat di jembatan yang di bangun itu.”

“Maksudnya pak, apa di dalam orang ini ada jinnya?”

“Iya bu guru… bu guru yang sebelah itu kalau mengajar lembut sekali, iya saya yang dulu mengganggu murid ibu, dulu saya bersama teman-teman saya yang tinggal di jembatan yang diperbaiki, karena waktu memperbaiki jembatannya tak minta ijin, jadi raja kami marah, dan membuat murid ibu kami rasuki, maaf ya bu, saya sekarang sudah jadi muridnya pak kyai.” kedua guru itu terbengong-bengong, gak tau paham apa tidak dengan apa yang diucapkan Aisyah, mungkin gak ngerti, apalagi ini soal gaib, sulit dicerna dengan logikanya orang yang masih memakai akal.

“Begini lo bu… jadi dulu saya mendengar kalau sekolah MTS itu banyak kerasukan, maka saya kemudian membantu dari sini, jinnya yang merasuki anak sekolah itu saya tarik, dan saya taklukkan,” kedua guru itu makin senyam senyum, mungkin gak paham atau bagaimana, atau kesengsem sama wajahku yang ganteng. Ealah memang susah menjelaskannya.

“Saya dulu itu yang menganggu murid bu guru, saya itu jin yang ada di tubuh ini bu..” jelas Aisyah lagi karena melihat kedua guru itu makin bingung.

“La kok bisa di dalam tubuh anak ini pak?” tanya salah satu guru.

“Ya kayak di tivi itu lo bu, di acara dua dunia, jadi jinnya dimasukan ke manusia, dimediumisasi.”

“Tapi ini sekarang masih banyak kerasukan kok pak..” kata bu guru satunya, sambil memperbaiki tempat duduknya, mungkin agak mulai paham.

“Ya kalau sekarang yang merasuki itu bukan dari kelompok saya bu.” jelas Aisyah lagi.

“La terus dari mana?” tanya bu guru

“Dari yang sengaja dibawa dukunnya..” jelas Aisyah.

“La kok bisa, kan mereka mau menolong.” kata bu guru heran.

“Begini saja bu… biar jinnya dari sekolahan ku tarik ke sini, ku mediumisasi, nanti bu guru tanya saja sendiri .” jelasku.

“Apa bisa?”

“Ya nanti dilihat saja…” ku tarik salah satu jin, dan ku masukkan ke dalam tubuh mediator. Dia menggereng-gereng mau menyerangku.

“Siapa ini?” tanyaku. Jin diam saja….

“Siapa? Kamu tak mau bicara?”

Dia menggeleng.

“Benar tak mau bicara?”

Dia tetep menggeleng.

“Baik kalau begitu, ku penggal saja…” kataku lantas mencabut pedang gaib, dan ku tempel ke lehernya.

“Iya… iya ampun jangan bunuh aku.. aku mau bicara.”

“Kamu kenapa, mengganggu di sekolah MTS, kenapa merasuki siswa?”

“Aku disuruh.”

“Disuruh siapa?”

Dia diam.

“Disuruh siapa?” ku ulangi pertanyaan. Tapi dia tetap diam, ku tempel saja pedang yang ku pegang ke lehernya, dia baru mengaku disuruh dua dukun yang biasa dimintai tolong mengeluarkan kerasukan di sekolah.

“Nah ibu tau sendiri kan..” kataku pada kedua guru.

Kedua guru itu masih setengah percaya setengah tidak. Lalu keduanya untuk meyakinkan diri mereka sendiri, menanyakan ini itu. Setelah keduanya ku rasa cukup bertanya, aku mengambil alih pembicaraan.

“Berapa temanmu yang disuruh mengganggu anak sekolah?” tanyaku pada jin.

“Ada 100 orang.”

“Seratus itu apa semua ada di sekolah?”

“Yang ada di sekolah 70, yang lain masih merasuk di tubuh siswa.”

“Apa kamu mau melawanku atau mau menakluk padaku?”

“Aku tak berani melawan… aku menakluk saja…,”

“Apa tak coba melawan dulu, daripada nanti penasaran.”

“Ampun aku tak berani.”

“Coba tanya yang 70 jin itu apa mau melawanku, atau mau takluk?”

“Memangnya kamu bisa menaklukan mereka?”

“Ingin lihat?” tanyaku.

“Hehehe… iya…” dia tersenyum meremehkanku, biasa jin itu seperti itu. Ku panjangkan pedang gaib yang ku pegang, dan sampai tembus langit, (yang baca cerita pasti heran, kok bisa?) yang ingin lihat cerita ini benar atau tidak lihat saja videonya di : https://www.facebook.com/kumpulane.vd.

Setelah pedang ku panjangkan, ku tebaskan ke jin yang ada di MTS, segera saja datang jin masuk lagi ke mediator.

“Siapa kamu menyiksa anak buahku?” tanya jin yang masuk.

“Ada apa? mau melawan?”

“Ya…. ” jawab dia sambil menggeram, dan mau mengeluarkan jurusnya. Pedang ku ganti dengan cambuk, dan segera jinnya ku cambuki, sampai minta ampun.

“Ampuuuun… ampuuun, saya menyerah.”

“Benar menyerah?”

“Coba lagi, cambukmu tak akan mempan.”

Ku lecutkan lagi cambuk dan ku tambah kekuatan, kembali dia menjerit minta ampun.

“Bagaimana?” tanyaku,

“Ya, ampuun, saya menyerah..”

“Bagaimana dengan temanmu di sana, apa mau menyerah semua?”

“Aku tak tau, aku cari selamat sendiri saja..”

“Ku lecutkan lagi cambukku,”

“Yaaa ya… semua ku ajak menyerah.”

“Ada berapa?”

“Ada 70.”

“Mau takluk padaku?”

“Ya kami mau..”

Segera ku ajari mengucap dua kalimat sahadat.

“Nah bagaimana bu, sudah lihat sendiri kan..”

“Iya pak….”

Aku tak tau apa mereka percaya atau tidak, yang penting aku sudah menunjukkan, mau mengatakan ini rekayasa atau bagaimana itu urusan mereka, saya juga tak diuntungkan atas apa yang ku lakukan, mereka berjanji akan membawa yang kerasukan ke rumahku, tapi saat tulisan ini ku tulis, yang kerasukan malah dibawa kerumah sakit akhirnya malah ribut di rumah sakit, menjerit jerit tak karuan.

Ya sudah biarkan saja…. lebih baik tak ku pikirkan, biar saja mungkin Allah mempunyai rencana lain, hanya Allah yang tau.

_________________________________________________

Urusanku bukan hanya Sengkuni, aku sendiri heran apa maunya dia, jika orangnya jujur sebenarnya ingin ku tanya langsung, apa maunya, tapi sayang dia bukan orang yang jujur, jadi jika ku tanya juga akan sia-sia, mungkin orang yang membaca tulisanku ini juga bertanya-tanya siapa sebenarnya Sengkuni itu, kalau ditanya secara pasti, aku sendiri tak kenal dengan jelas siapa dia, Sengkuni itu menjadi murid kyai, aku sendiri tak tau pasti kapan pertama kali, mungkin tahun 2006, atau 2007, aku tak tau pasti, sementara aku sendiri tahun 2006 sampai tahun 2010 sama sekali tak pernah berhubungan dengan kyai, karena aku bekerja di Saudi, dan aku sendiri tipe orang yang tak akan menghadap guru kalau tak dipanggil menghadap, sebagai tanda tawadukku pada guru, karena aku tau urusan guruku sudah banyak sekali, aku tak mau merecokinya, jadi aku tak akan menghadap kalau tak dipanggil kyai, di samping aku sangat takut berbuat kurang tata krama kalau ada di dekat kyai, yang penting bagiku ilmu dari kyai aku jalankan dengan istiqomah, bahkan aku orang yang tak pernah meminta ilmu sama sekali pada kyai, kalau dikasih ya saya terima, sebab bagiku kyai lebih tau, apa yang ku perlukan daripada diriku sendiri. Tapi walau aku tak minta, selalu saja kalau kyai memanggilku berarti akan memberikan ilmu. Satu ilmu diberi maka aku berusaha ku jalankan sampai ku dapatkan buah manisnya ilmu. Baru ilmu itu akan ku berikan kepada orang lain.

Jadi aku kenal Sengkuni tahun 2011, lupa aku kapan tepatnya, tapi selama tahun 2006 sampai 20011, ku rasakan perkembangan jamaah thoreqoh yang ku ikuti kok tak ada sama sekali, malah ku tau mengalami kemunduran, belum lagi kyai Cilik dalam keadaan sakit, aku dipanggil tiap dua minggu sekali, menghadap untuk mengobati beliau, beliau disantet juga diracun, heran juga, kenapa beliau disantet dari segala penjuru demikian rupa, dan waktu itu, aku sendiri baru kenal santet sampai menghadapi 900 tukang santet, hari-hari hanya menghadapi santet, di mana mana, di bus bahkan santet tetap memburu, tidur tak tenang, dan ketika aku diperintah kyai untuk memimpin dzikir, maka santet menyerangku di tenggorokan, sehingga suaraku habis, juga menusuk ke perutku sampai rasanya sakit minta ampun, pernah dulu di majlis Cilegon, aku merasakan sakit yang teramat sangat, di perut sampai sakitnya tak karuan, sampai aku tidur melintir-lintir menahan sakit, anehnya sakitnya mulai jika aku mau berangkat ke Cilegon, dan aku sama sekali tak mengira kalau itu sakit kena santet, ku kira hanya sakit batu ginjal biasa, malah waktu itu mas Bangun ku ajak menemaniku beli batugin, untuk mengobatiku, tapi tetap saja sakitku tak juga sembuh, rasanya mau mati saja, karena teramat sakitnya, dan baru diobati kyai baru sembuh, dan baru belakangan ku ketahui itu santet dari dukun yang dibayar Sengkuni.

Sebab hari-hari belakangan ini, ketika semua telah jelas, apa yang ku rasakan dulu, sekarang hampir tiap hari ku rasakan, cuma sekarang aku bisa menariknya, dan kadang Aisyah yang ku minta mengeluarkannya, sekarang juga kyai Cilik sering menghubungiku, juga kadang ku pantau dari jarak jauh, apa ada santet yang masuk ke tubuh kyai atau tidak, kalau ada ku tarik dari jarak jauh, kadang kyai menghubungiku lewat telepati dan minta santetnya ku keluarkan dari tubuh beliau, yah… memang keadaannya seperti ini, kasihan juga kalau kyai jauh dariku, beliau sering mengatakan tak ada murid yang bisa diandalkan, karena muridnya masih cenderung mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri, tak ada yang serius memperjuangkan thoreqoh, kebanyakan masih memikirkan bagaimana saya bisa hidup enak, dari doa kyai, ah entahlah, kadang malas kalau membahas para murid kyai, apalagi kalau yang dikehendaki kepentingan masing-masing, lebih baik ku putuskan memperbesar jamaah dengan caraku sendiri. Itu saja mereka bukannya membantu, malah kebanyakan menjelek-jelekkan di belakang, Seakan tak mau jamaah menjadi besar dan berkembang pesat.

Sepertinya aku sendirian, maka aku harus kuat sendirian, dan Allah hanya yang tak berhianat bila ku jadikan teman, memang aku seharusnya sendirian, sendirian berjuang, dan tak akan berhenti sebelum Allah menghentikanku, dan mencabut nyawaku.

Serangan dari Sengkuni, tak juga berhenti, dengan berbagai cara dia melakukan, yang lebih aneh lagi semua muridku yang ada di rumah, yang tinggalnya di daerahku, sama sekali tak ada sedikitpun perduli, malah menuduhku mengada-ada, ya ini menunjukkan hanya cobaanku, ujianku, dan ujian orang yang dikehendaki maju oleh Allah, maju memperjuangkan thoreqoh yang ku pimpin, dan yang mendukungku malah murid dari internet, makanya kenapa kyai Cilik mengacungkan jempol untuk mereka, walau dari internet yang tak bertemu langsung, ternyata Allah memilih mereka untuk berjuang bersamaku, dan mereka orang-orang yang dipilih dari berbagai kawasan, dan daerah, bukan orang yang asal-asalan, tapi memang orang yang dipilih Allah untuk berjuang bersamaku.

Waktu magrib, keadaan kenapa sepi, aku merasakan ada yang aneh, kenapa biasanya juga Aisyah hadir, ini kok gak ada, biasanya aku mengajari dia berbagai ilmu, dan ku suruh mempraktekkan, tapi ini kok tak muncul, aneh…. ku tarik Aisyah untuk ku masukkan ke mediator. Malah yang masuk latifah adiknya Aisyah,

“Kok Latifah ya….? mana mbak Aisyah…?” tanyaku.

“Huuu huuu….” Latifah menangis, Latifah itu umurnya sekitar 250 tahun, ya sekitar seumuran anak kelas 6 SD untuk seumuran manusia.

“Kenapa nduk, kok nangis?”

“Huuu… huuuu… ” dia malah nangis makin kencang.

Aku jadi kawatir terjadi apa-apa terhadap Aisyah, bagiku semua jin yang sudah masuk thoreqoh adalah keluargaku sendiri, itu ajaran kyai, jadi siapa saja yang sudah masuk thoreqoh adalah saudara kita, kita harus menyayanginya lebih dari menyayangi diri sendiri. Dan aku berusaha menerapkannya benar benar dalam kehidupanku. Apalagi Ratu sudah menitipkan Aisyah padaku, bagiku tanggung jawab, amanah itu akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah. Akan dipertanyakan nanti di pengadilannya Allah, jika kok aku tak bisa menjaganya, bagaimana aku menghadap Allah nanti.

“Nduk… ndak usah nangis, ada apa dengan mbak Aisyah?” tanyaku menghibur, “Ayo cerita sama kyai, kalau ada apa-apa, nanti kyai akan minta pada Allah untuk minta jalan kelurnya.”

“Huuuhuuu… kyai, mbak Aisyah… ditangkap sama jinnya Sengkuni, dia…. dia dimasukkan kerangkeng, sekarang dia disiksa…” jawab Latifah di sela tangisnya.

“Yang benar nduk?”

“Iya kyai… huuu..”

“Lalu dia dikerangkeng di mana?”

“Di Surabaya.. di rumahnya adiknya Sengkuni.”

Aku menarik nafas, bingung, bagaimana menolongnya? tengak tengok tak tau apa yang harus ku lakukan.

“La tadi bagaimana mbak Aisyah kok bisa ditangkap?”

“Huuu… tadi mbak Aisyah ikut bu nyai jalan-jalan, dia di atas, dan ada diikuti jinnya Sengkuni, dan akhirnya dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam kerangkeng, sekarang sedang disiksa… bagaimana ini kyai.. kasihan mbak Aisyah..”

Wah aku makin panik…

Ku kumpulkan saja jamaah yang ada di majlis ada beberapa orang untuk ku ajak dzikir bersama, dan menolong Aisyah yang sedang dipenjara.

Aku berdoa semoga Allah mengirimkan bala tentara malaikat untuk menolong Aisyah, dan mengembalikan Aisyah, suasana tegang, karena kami tak tau apa nanti hasilnya. Tapi ini juga menjadikanku makin teguh dan yakin untuk selalu berserah dan bertawakal pada Allah, yakin Akan pertolongan Allah.

Kyai sakti.72

Kami semua dalam kepanikan, karena Aisyah sudah seperti keluarga, aku sendiri yang tak paham 100% metode, cara, waktu, dan semuanya dari alam jin, yang tentu berbeda dengan alam manusia, padahal kalau bahas jin, harusnya logika kita membuat ukuran alam mereka, bukan lagi alam kita, sebagaimana kalau bahas malaikat, seharusnya logika kita harusnya dimasukkan ke alam mereka agar pembahasan itu tepat, sebagaimana juga orang mau goreng tempe, tau kan goreng tempe, orang mau goreng tempe itu harus logikanya masuk ke membuat adukan tepung dan ukuran air dan bagaimana menggoreng sehingga dihasilkan gorengan yang tepat, tak beda sebenarnya dengan hal yang lain apapun di dunia ini, jika mau melakukan sesuatu apapun akal kita harus masuk ke dalam bidang yang akan kita lakukan, jangan dicampur aduk, misal mau goreng tempe memakai resep cara nyangkul sawah, sudah pasti tak akan jadi, semoga paham dengan apa yang saya maksudkan.

Karena tak paham bagaimana dunia jin itu, ya setidaknya dari pengalaman demi pengalaman yang ku alami, sedikit banyak membuka cakrawala kepahaman baru saya dengan dunia jin, walau aku tau masih banyak lagi yang belum ku tau, dan masih banyak lagi yang ingin ku ketahui.

Murid ku ajak dzikir, dan aku berdoa, semoga Allah mengirim petir untuk menghancurkan kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan tak sampai sepuluh menit Aisyah sudah masuk ke tubuh Yaya, dan hati kami berbareng merasa ploong, lega, tapi Aisyah dalam keadaan lemah, dan kesakitan.

“Aduh pak kyai…. sakiit, saya dikurung, ini tubuh saya ditancapi bambu sampai tembus…”

Aku segera bertindak, walau sedang memimpin dzikir, aku segera menarik bambu yang menancap di tubuh Aisyah, dan ku tanya Aisyah ternyata sudah tak sakit lagi, cuma tubuhnya masih lemah, tapi tetap saja dia ngoceh.

“Pak kyai… pak kyai… saya ditangkap Sengkuni.” celoteh Aisyah.

“Bagaimana menangkapnya nduk?” tanyaku sambil terus memutar tasbih.

“Saya pas pulang menemani ibu belanja di pasar, saya terbang pulang dahulu, lalu ada beberapa rombongan jin, yang membawa jaring, dan kurungan, menangkap saya, saya jadi tak berdaya, dan saya ditangkap.”

“Lalu saya dibawa ke Surabaya, ke rumah adiknya, dan saya dikurung dalam kerangkeng, saya disiksa, tubuh saya ditusuk-tusuk pakai bambu dari perut tembus ke punggung.., rasanya sakiit sekali pak kyai…”

“Kok Aisyah bisa lepas bagaimana ceritanya..”

“Nyai ratu…” oceh Aiyah kebiasaan kalau diajak ngomong kemana perhatiannya kemana.

“Apa nduk.”

“Nyai ratu pak kyai… itu ikut dzikir sama prajurit semua, nyai ratu mengomeli saya, saya dilarang terbang-terbang lagi, disuruh di dekat pak kyai saja, biar tak ada yang menangkap.”

“Ya nduk, sebaiknya ndak terbang lagi untuk sementara, biar suasananya aman dulu, biar suasananya kondusif dulu, baru nanti terbang lagi.”

“Apa kondusif pak kyai?”

“Kondusif? apa ya kondusif…? ya itu kata yang dipakai orang-orang pinter itu untuk mengucapkan kata aman dan damai mungkin.” jawabku sekenanya saja.

“Wah berarti pak kyai pinter hayo…”

“Kok pinter.”

“La itu memakai kata kondusif?”

“La Aisyah kan baru saja juga mengucapkan kata kondusif, berarti juga pinter kan..”

“Iya ya pak kyai, Aisyah juga baru mengucapkan, berarti Aisyah juga pinter.”

“Wes lah nduk…. bagaimana kok Aisyah bisa lepas dari kurungan?”

“Itu kok pak kyai, saya juga tak tau..”

“Kok tak tau?”

“Ya tau-tau ada bola cahaya dari langit, menyambar kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan kerangkeng jadi hancur lebur jadi cair, juga jin yang menjaga semua terpental mati.”

“Ooo begitu ceritanya?”

“Ya pak kyai… dan saya terbang ke sini, karena pak kyai memanggil, padahal saya sudah bingung.”

“Bingung kenapa nduk?”

“Ya bingung lah pak kyai, kan Aisyah sedang dalam kerangkeng, dan pak kyai memanggil Aisyah, kan Aisyah tak bisa datang, nanti Aisyah jadi murid yang tak berbakti pada guru, jadi Aisyah sedih sekali, ee kok ada bola api yang menyambar kerangkeng Aisyah, sehingga Aisyah jadi bisa memenuhi panggilan kyai.”

“Ndak kok nduk, kyai tidak menyalahkan Aisyah, ini kyai lagi dzikir ini untuk menolong Aisyah dari kerangkeng Sengkuni.”

“Jadi yang menolong Aisyah itu kyai ya?”

“Tidak nduk, yang menolong Aisyah itu Allah taala, kyai hanya meminta pada Allah agar menolong Aisyah, dan Allah membebaskan Aisyah dengan mengirim cahaya malaikat itu.”

“Terimakasih ya Allah, Engkau telah menolong Aisyah.”

“Bagaimana lukamu nduk?”

“Sudah sembuh kyai, setelah kyai obati.”

“Itu juga pertolongan Allah nduk, kyai hanya berdoa supaya sakit Aisyah disembuhkan, musnah hilang.”

“Iya kyai.”

“Ingat Aisyah jangan terbang-terbang lagi.”

“Tapi Aisyah jadi tak bebas no kyai.”

“Ya kalau ditangkap lagi bagaimana, apa Aisyah mau?”

“Hiii ngeri, masak tubuh Aisyah ditusuk-tusuk, leher ditusuk sampai tembus, perut ditusuk sampai tembus.”

“Nah kan, apa Aisyah mau seperti itu lagi?”

“Ya gak mau lah kyai.”

Akhirnya malam itu kami lega dengan kejadian yang kami alami, dan bagiku ada pelajaran yang ku ambil manfaat.

_________________________________________________

Jam 8 pagi, karena dalam perut seperti ada yang mengganjal, jika dipakai bernafas, atau batuk terasa menusuk-nusuk, seperti sebuah bambu lancip, aku panggil Aisyah ingin ku tanya sebenarnya apa yang dalam perutku. Tapi ku panggil-panggil tak juga datang, ku tarik saja dengan daya penarik, ku masukkan ke tubuh Yaya. Malah yang masuk jin lain, dia menggereng-gereng.

“Siapa?” tanyaku.

“Hem.. grrrr..” jawab dia menggereng, biasa mungkin menggertak, jin selalu begitu, suka main gertak.

“Siapa?”

“He.. he.. he… kau mencari Aisyah muridmu?”

“Iya..”

“Muridmu sudah dibawa teman-temanku.”

“Kemana.”

“Terbang ke Surabaya,”

“Ke tempat Sengkuni?”

“Ya..”

“Apa maunya Sengkuni, kenapa selalu menggangguku, dan membawa Aisyah?”

“Hmmm… karena dia kau ajari mengobati.”

“Kan dia ku ajari menolong orang.”

“Tak boleh.”

“Kenapa tak boleh?”

“Ya tak boleh berbuat baik, tak boleh menolong orang, tak boleh mengobati.”

“Kenapa?”

“Nanti thoreqohmu terkenal, banyak pengikutnya.”

“Sekarang bawa Aisyah kembali,”

“Hahahahah… tak bisa, dia akan kami kurung, akan kami bunuh.”

“Suruh temanmu bawa kembali.”

“Tak bisa, hahaha…, bawa kembali sendiri kalau mampu.”

“Baik.” segera ku membaca doa minta sama Allah diberi pedangnya malaikat maut, padahal aku sendiri tak tau, apa malaikat maut punya pedang apa tidak, heheheh…, yang jelas aku membayangkan pedang di tanganku menembus langit, dan ku tebaskan pada jin yang membawa kabur Aisyah, dan….

“Ampuuun….” terdengar jin lain.

“Siapa?”

“Kami yang membawa Aisyah.”

“Sekarang dia di mana?”

“Sekarang dia di penjara di sangkar burung.”

Perlu diketahui, Aisyah itu berbentuk asli burung merpati berwarna putih.

“Ayo bebaskan.”

“Tak bisa…”

“Kenapa? Apa kamu tak takut denganku?”

“Ya kami semua takut.”

“Kenapa tak mau membebaskan?”

“Kami diancam.”

“Sama siapa?”

“Sama Sengkuni, kalau kami tak menangkap Aisyah dan membebaskannya, kami akan disiksa.”

“Takutan mana sama Sengkuni, apa denganku?”

“Takut denganmu.”

“Nah bebaskan, apa kamu ku penggal kepalamu?”

“Jangan, jangan, jangan kami dibunuh.”

“Nah sekarang bawa kesini.”

“Kami tak bisa membuka sangkar burungnya, karena dikunci dengan ilmu,”

“Ini pegang pedangku, dan tebas sangkar burungnya.” ku berikan pedangku padanya.

“Aduuh berat sekali.”

“Sudah tebas, sini ku bantu tenaga,”

Lalu dia melakukan gerakan menebas.

“Pak kyai… saya bebas..” suara Aisyah.

“Ampuun… kami ingin menjadi murid kyai.” terdengar suara jin yang tadi.

“Iya… kalian sudah Islam..?” tanyaku.

“Belum..”

“Ayo tirukan aku membaca dua kalimat sahadat.”

“Iya.”

Lalu dia ku ajari membaca dua kalimat sahadat, dan setelah itu ku suruh mandi sebagai tanda masuk Islam.

__________________________________________________

“Pak kyai… ada jin lagi yang membawa kerangkeng ingin menangkapku.”

“Wah bener-bener keterlaluan, ada di mana nduk?”

“Itu pak kyai ada di bawah pohon mangga.”

Segera ku bentuk bola api di tangan dan ku hantamkan ke arah jin.

“Wah meledak pak kyai.”

“Apanya yang meledak nduk?”

“Ya kerangkengnya pak kyai, tapi jinnya kabur..”

“Wah gak ketangkap.”

Saat itu aku belum paham, kalau jin kabur, aku tak bisa menangkapnya, seiring perkembangan waktu, dan sampai sekarang, setelah berjalannya waktu, ternyata jin langit, atau jin di mana saja bisa ku tarik dengan tanganku, subhanallah, maha besar ilmu dari Allah, benar memang semakin kita banyak tau, maka akan makin banyak yang belum kita tau, dan haus akan ilmu, makin tak terbendung, ingin terus nambah saja ilmu.

Apalagi akhir-akhir ini, makin banyak kejadian ku alami, beruntun dan serasa berat menanggungnya, makin aku sadar kalau itu semua adalah cara Allah menggemblengku untuk menjadi orang yang sanggup memegang amanah yang dibebankan ke pundakku, setelah tau itu, segala ujian itu malah serasa ringan, dan malah ketagihan ingin di-uji dan di-uji, jika mengingat anugerah yang diberikan padaku, maka segala ujian itu tak memberatkan sama sekali, pantesan guruku begitu senangnya menerima ujian, dan tak mau menolaknya sama sekali.

Yang ku rasakan manfaat dari ujian yang bertubi-tubi yang ku terima itu adalah, para guru besar, seperti syaikh Abdul Qodir Jailani RA, syaikh Nawawi, syaikh Abdul Karim Tanahara, dan ahli silsilah TQNS semua hadir ketika ada pengajian thoreqoh di rumahku, dan malaikat yang hadir berlapis-lapis, sampai tembus langit, berbaris, malah sering ketangkap kamera yang memotret, dan yang hadir dari dunia jin juga sampai memenuhi semua tempat, yang aneh malah yang dari manusia jarang ada yang ikut. Tetangga saja jarang ada yang ikut, ya biarkan saja.

Sebenarnya aku sendiri juga tak tau kalau mereka ikut, tauku diberi tau Aisyah, biasanya Aisyah akan memberitahu siapa saja yang hadir di pengajian,

“Kyai… wah Aisyah tak berani ikut di dalam majlis kyai.”

“Kenapa nduk?”

“Aisyah silau.”

“Silau kenapa nduk?”

“Di samping kanan kiri kyai, dari syaikh Abdul Qodir, syaikh Abdul Karim, syaikh Tolkhah, syaikh Nawawi, syaikh saya tak tau lagi kyai, banyak sekali semua hadir, dan yang sering hadir syaikh Magrobi dengan anaknya.”

“Siapa syaikh Maghrobi?”

“Itu kyai yang tinggal di Gresik.”

“Apa mereka dari bangsa jin?”

“Bukan kyai, mereka dari ruh, wah silau sekali kyai, belum lagi para malaikat yang hadir, sampai tembus langit tuju berbaris.”

“Apa bener nduk?"

“Ya benar lah kyai, masak Aisyah bohong, nanti masuk neraka, juga kuwalat kalau bohong sama guru, Aisyah siap diperintah kyai, Aisyah siap mati untuk kyai…”

Aku jadi terharu, mendengar ucapan Aisyah.

“Kyai…”

“Ada apa nduk?”

“Anu anaknya syaikh Magrobi, cuaaantiik sekali.”

“Cantik mana sama Aisyah?”

“Wah cantik dia kyai, pakaiannya hijau, kerudungnya hijau, wajahnya putih seperti susu, dan hidungnya mansuung.”

“Coba tanya dia, apa mau jadi istri kyai?”

Aisyah terdiam.

“Ah kyai… la bu nyai mau dikemanakan?”

“Ya kan boleh saja punya istri 2, 3, 4.”

“Iya deh Aisyah tanyakan.”

Sebentar dia diam….

“Kyai… dia katanya masih mau sama abinya… katanya kalau mau melamarnya, diminta minta sama abinya.”

“Iya deh nanti kyai minta sama abinya..”

“Dia malu kyai..”

“Ya biar… dia sendiri yang nyuruh kyai minta sama abinya.”

“Ee dia kabur, malu… heheheh… lucu.. manusia… heheheh…”

___________________________________________________

Pagi-pagi… habis hujan gerimis, serasa malas sekali mau tidur, padahal semalaman belum tidur , Aisyah memanggil.

“Kyai…”

“Ada apa nduk…” kataku.

“Ada yang mencari kyai…”

“Di mana?”

“Di sumur sana..”

“Mau apa, coba tanya nduk siapa dia, mau apa?”

“Dia bernama syaih Tolkhah dari Kalisapu Cirebon.”

“Syaikh Tolkhah, gurunya Syaikh Mubarok bin Nur Muhammad?”

“Iya kyai…”

“Mau apa dia di situ.”

“Dia bilang ingin memberi ilmu pada kyai..”

“Ooo… ya kyai siap.”

“Kyai…” panggil Aisyah, biasa dia kalau omong sambil matanya kesana kesini.

“Ada apa nduk.”

“Tadi syaikh Tolkhah mengisi sumur.”

“Mengisi dengan apa nduk.”

“Diisi karomah kyai, air sumurnya jadi bergolak.”

“Oo ya ndak papa… ini kyai sudah siap.”

“Iya syaikh Tolkhah sudah ada di belakang kyai.”

Ku rasakan tangan dingin, menempel di punggungku, dan aliran energi masuk ke tubuhku, tubuhku serasa panas. Dan pengisian selesai.

“Kyai , syaikh Tolkhah berpesan supaya ilmu yang diberikan dipakai berjuang di jalan Allah. Semua guru akan mendukung kyai di belakang.”

“Iya katakan pada syaikh Tolkhah, kalau kyai insaAllah siap lahir batin memperjuangkan dan insaAllah menjalankan amanah yang diberikan sekuatnya.”

“Iya kyai,,, syaikh Tolkhah akan kembali, kyai diminta mencium tangannya.”

Aku segera melakukan seperti mencium tangan, ya memang repot memang kalau mata batinku tertutup, karena tertutup oleh Saehuni.

__________________________________________________

Aku lagi makan siang.

“Kyai…. ada syaikh Abdul Qodir Jailani.”

“Mana?”

“Itu di belakang kyai… wah saya tak berani menatap kyai..”

“Kenapa?”

“Silau sekali.”

“Salam ta’dzim kyai, sampaikan pada syaikh Abdul Qodir RA,”

“Ya kyai, beliau menjawab salam dan tersenyum ke kyai.”

“Kyai dia memberi ilmu ke Aisyah dan ke kyai..”

“Ilmu apa nduk?”

“Ilmu untuk menarik jin dari jarak jauh, kalau jinnya fasik, kata beliau, suruh diremas saja, jadi bubuk, nanti jinnya akan mati.”

“Iya nduk kyai siap menjalankan.”

“Kyai, syaikh Abdul Qodir mau membuka mata batin kyai…”

“Iya kyai siap, dan sami’na wa ato’na.”

Serasa di dadaku ada yang bergerak, serasa dingin, beberapa menit berlalu.

“Kyai, syaikh Abdul Qodir mau pergi, kyai diminta mencium tangannya..”

“Kok aku belum terlihat jelas alam gaib?”

“Kata syaikh Abdul Qodir, nanti bisa dipakainya, 4 hari kemudian.”

“Oo yaa.. ya… katakan, kyai mengucapkan terimakasih.”

Aku segera melakukan seperti mencium tangan beliau yang mulia.

Hening…. aku dan Aisyah diam lalu Aisyah nyeletuk kembali.

“Kyai, ada yang datang… ah Aisyah pergi saja..”

“Kenapa kok pergi…?”

“Silau pak kyai…”

“Sudah di sini saja, siapa yang datang?”

“Bertiga kyai.”

“Siapa?”

“Ada Raden Rohmad Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri, sekarang mereka ada di depan kyai semua.”

Aku segera menyalami mereka bertiga.

“Ada apa nduk, tanya keperluan mereka.”

“Mereka mau memberi ilmu pada kyai, mereka mengatakan kyai untuk siap menerima ilmu.”

Aku segera siap, dan serasa aliran anergi bergulung-gulung memasuki tubuhku, dan beberpa menit kemudian, aliran energi menggumpal dalam tubuhku, berputar-putar.

“Kyai, kata Kanjeng Sunan Ampel, para Wali Songo, nitip salam pada kyai, agar kyai meneruskan perjuangan menegakkan kebenaran, dan bersikap tegas, dan yakin akan pertolongan Allah.”

“InsaAllah kyai siap.”

“Sudah mereka mau pamit.”

Aku dan Aisyah terdiam mengantar kepergian ketiga Wali Songo, tapi kemudian Aisyah ngomong lagi, tapi sambil menjauh dariku, sehingga aku tak jelas dengan pembicaraannya.

“Kenapa nduk?”

“Aisyah takut kyai..”

“Takut kenapa? Apa ada jin jahat?”

“Bukan kyai.. tapi yang hadir sekarang, silauuuu sekali, dan Aisyah takut sekali.”

“Yang datang bagaimana dia nduk?”

“Dia tinggi sekali, sampai kepalanya sampai atas..”

“Dari golongan jin?”

“Bukan kyai…”

“Lalu?”

“Dia nabi…”

“Nabi, nabi siapa?”

“Pakaiannya hijau tua, juga memakai surban besar hijau tua, dia mengatakan beliau nabi Khaidir.., beliau uluk salam kepada kyai.”

“Waalaikum salam. Tanyakan apa keperluan beliau?”

“Beliau ingin memberi ilmu ke kyai, tapi kata beliau, ini sekuatnya kyai saja menerima… nanti ditambah lagi, dan beliau menyuruh agar kyai siap.”

Aku segera siap, dan aliran panas dingin berpadu memenuhi punggungku, mengalir deras seperti banjir dalam seluruh tubuhku, dan pengisian selesai.

“Kyai, beliau berpesan agar ilmu yang diberikan dipakai seefektif mungkin, gunakan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan.”

“Insa Allah.”

“Beliau berpesan, dzikirnya kyai lebih diperbanyak lagi, agar ruhani kyai kuat menerima ilmu dari para wali dan nabi yang ingin menitipkan amalnya pada kyai.”

“InsaAllah…”

“Beliau mau pamit…, dan Aisyah diperintah untuk mendampingi kyai.”

“Ya…"

Aku segera melakukan salam takdzim kepada nabi Khaidir AS.

Lanjutan kyai sakti.72

Nyai Ratu, kakaknya Aisyah, sudah selesai puasa, dan ingin ku perintahkan untuk mendatangi Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan. Maksudku kalau mau, mau ku ajak masuk Islam, sebagaimana aku mengislamkan Dewi Lanjar.

Nyai Ratu sudah siap berangkat, tinggal menunggu perintah dariku.

Aku sedang berbicara dengan Aisyah, lalu cuci tangan ke dapur, kok aku merasa ada jin fasik yang datang, apa mungkin Nyai Roro Kidul, jin fasik dan jin yang baik itu beda, walau mata batinku tertutup, tapi ketajaman indra perasaku tak terpengaruh, jadi siapa yang datang, jin benar atau bukan tetap ku rasakan kehadirannya.

Jika itu jin fasik, maka akan serasa menebal amat tebal, bagian arah tubuh yang menghadap ke jin, tapi jika jinnya baik, muslim yang taat, maka hanya ada rasa tau kalau ada yang datang, tapi tak tau dan tak melihat siapa yang datang.

Kali ini yang ku rasakan, rasa tebal di kepala sangat tebal, perkiraanku adalah jin fasik, apa mungkin Nyai Roro Kidul.

Sementara Aisyah sudah memangil-manggil, kyai ada yang datang, dari laut selatan. Dan sudah masuk ke tubuh Aisyah.

“Siapa? Apa Nyai Roro Kidul?” tanyaku lumayan tegang.

Dia melihatkan matanya kesana kesini… meneliti seluruh rumahku.

“Ini rumah siapa?” suaranya seperti anak kecil.

“Ini rumahku..” jawabku.

“Kamu siapa?”

“Aku orang biasa, kamu sendiri siapa?”

“Aku anaknya Nyai Roro Kidul.”

“Kok datang ke sini?”

“Ya karena ada yang membicarakan ibuku, maka aku ingin tau siapa, ternyata ada di sini, dan aku terbawa sampai kesini.”

“Ibumu yang jadi ratu lautan selatan kan?” tanyaku.

“Iya… kenapa?”

“Agamanya apa?”

“Hindu… kenapa?”

“Apa dia mau masuk Islam?”

“Tak akan mau,”

“Kenapa?”

“Karena kami benci dengan orang Islam.”

“Benci bagaimana?”

“Orang Islam sering membuat kerusakan.”

“Kerusakan bagaimana?”

“Ya mereka sering merusak laut, sering meminta kekayaan.”

“Jangan menuduh apa yang dilakukan segelintir orang, lantas menuduh yang lain sama saja,”

“Ah kenyataannya begitu.”

“Ada pencuri yang dari kampung A, apa semua kampung A adalah pencuri?”

“Aku tak perduli, ibu selalu mengatakan padaku kalau orang Islam itu jahat.”

“Bisa kamu panggil ibumu kesini?”

“Bisa..”

Sebentar dengan hitungan seper sekian detik, Nyai Roro Kidul sudah datang dan masuk ke tubuh mediator.

“Ada apa kau memanggilku?”

“Aku ingin nyai mau masuk Islam,”

“Tak mau, aku tau kau siapa… hm… ya aku tau sekali kamu siapa… kamu murid kyai Cilik.”

“Setelah tau diriku, apa masih tak mau masuk Islam?”

“Hehehe… aku tak mau..”

“Apa mau coba adu kesaktian denganku.”

“Ya… kau akan ku hancurkan.” katanya dengan mendengus marah, dan mulai melakukan jurus menyerang.

Berbagai macam penggambaran Nyai Roro Kidul, momok yang sering ku baca di cerita-cerita sungguh amat menakutkan, juga banyak dibahas di tivi dan media lain, selalu berbau mistik dan serba menakutkan, itu membuatku ingin tau lebih banyak.

“Tunggu dulu, kenapa buru-buru menyerang?”

“Heee… eeh, apa lagi?”

“Apa sampean ini yang benar-benar menguasai samudera yang terkenal itu?” tanyaku berusaha tenang. Kayak orang lagi duduk jagong, menghabiskan cemilan jagung goreng.

“Hiya….” jawabnya sambil tangannya masih bersiap menyerang, dan yang kiri menekuk di dada. Gak tau jurus apa yang dipakai, tapi ku rasa hebat juga dia, biasanya jin jika bertatap muka denganku, saling menatap mata pasti tak kuat, tak tau juga apa yang di mataku, kata Aisyah sih mataku kalau memandang seringnya mengeluarkan percikan api, aku juga gak tau, kali saja Aisyah yang ngarang.

“Apa sampean bener-bener tak mau ku Islamkan?”

“Tak mau, saya sudah bersumpah untuk tak masuk Islam.”

“Sumpah sama siapa?”

“Dengan yang memberi ilmu padaku, ah tak usah banyak tanya…”

“Lo kan biar kita saling tau..”

“Pokoknya aku tak mau diIslamkan, orang Islam semua jahat, jelek perangainya.”

“Jelek bagaimana?”

“Mereka sering meminta padaku yang tidak-tidak, dan sikapnya hanya merusak samudra saja.”

“Lhoh kok begitu..?”

“Ya.”

“Berarti kata gampangnya nyai tak mau ku Islamkan?”

“Ya..”

“Jadi kita adu kekuatan.”

“Ya….”

Kami pun adu kekuatan, dan berkali-kali kami saling serang, kadang aku keluarkan cambuk api, ku serang bertubi-tubi, awal serangan dia tergetar, tapi ke dua ke tiga dia sudah mempan, ku ganti dengan pedang, juga pertama kali dia mampu ku lukai, tapi kedua kali dan ketiga dia kebal, berulang kali benturan energi, aku makin semangat, rasanya langka bisa bertarung dengan Ratu Kidul, sekalian nyoba ilmuku, yang sebenarnya aku juga gak tau, aku ini punya ilmu atau bukan, yang jelas keringetan juga, bertarung dengan berbagai ilmu ku ganti untuk menggempurnya, dan berulang kali dia jatuh terhantam pukulanku, jadinya kayak latihan saja, soale Nyai Roro Kidul tak pernah sampai jika menyerangku, selalu saja dapat ku gempur duluan, sampai dia ngos-ngosan, mungkin dipikirnya, kok ilmuku gak habis-habis, banyak banget koleksi ilmuku, padahal itu hanya hayalku saja, ilmu yang ku ciptakan di hayalku.

Dia terdiam, ngos-ngosan tak berdaya, lalu berusaha memperbaiki duduknya, dan menyembah padaku.

“Aku menyerah, dan takluk, dan siap mengabdi padamu.” katanya berubah lembut, tak seperti pertama kali datang.

“Aku ini tak butuh pengabdian, aku hanya ingin nyai masuk Islam, jadi mengabdi padaku mau, tapi kalau masuk Islam tak mau?”

“Ya, aku tak bisa masuk Islam.”

“Kalau tak mau masuk Islam, ya sudah kita bertarung lagi.”

“Tidak, aku menyerah kalah… kamu sakti sekali.”

“Hehehe… aku tak sakti, aku biasa saja…”

“Tidak, selama ini tak ada yang bisa mengalahkanku, hanya kamu yang bisa mengalahkanku.”

“Itu kebetulan saja, bagaimana ini, tak mau masuk Islam?”

“Tidak, sekali tidak ya tidak.., aku tak mau masuk Islam.”

“Kalau begitu kamu mati saja… dan ku masukkan ke neraka, apa kamu tak takut.”

“He.. he… he.. silahkan kalau bisa membunuhku dan memasukkanku ke neraka.”

“Baik kamu yang minta.”

Segera saja ku berdoa, dan ku minta pada Allah diberi kekutannya malaikat maut ke tanganku, di tanganku serasa mulai memberat, tanda kekuatan malaikat maut sudah terkumpul di tangan, rasanya udara juga serasa pekat, dan padat, sepertinya tanganku mengeluarkan cahaya hitam menggidikkan, segera saja ku arahkan energi menyerang ke kepalanya, ku tangkap ruhnya, dan ku cabut, ya hanya hayal saja, jangan dikira ini serius, tapi efeknya nyata, ruh Nyai Roro Kidul lepas, dan serasa ada di tanganku, rasanya dingin, menggeliat, dan segera saja ku lempar ke neraka jahanam.

Suasana sunyi, mediator sadar, tapi segera kemasukan lagi.

“Siapa?”

“Aku suami Nyai Roro Kidul, dia telah kamu masukkan ke neraka,”

“Iya…”

“Kamu harus mengadu nyawa denganku.”

Dia langsung menyerangku, tanpa pikir panjang karena kekuatan malaikat maut masih terpegang di tanganku, maka segera saja ku tarik nyawanya dan ku lempar ke neraka.

Kembali suasana tenang, tapi kembali, datang jin lain yang masuk.

“Siapa?”

“Aku orang tuanya Nyai Roro Kidul.”

“Lalu mau apa?”

“Kau telah melemparkan nyai Roro Kidul ke neraka. Aku mau menuntut balas.”

“Silahkan…” kataku, dan siap-siap mencabut nyawanya, kalau dia menyerang, dan memang dia menyerang, aku tak mau banyak bahasan, juga bertarung dengan sia-sia, maka ku cabut nyawanya dan ku lempar ke neraka. Mediator kemasukan lagi,

“Kamu nakal, kenapa ayah ibuku, dimasukkan ke neraka?”

“Ooo kamu anaknya yang tadi?”

“Huuu… huuu,,, ya aku anaknya tadi…. huuu… aku sekarang sendirian, aku dengan siapa? Ayah ibu, kamu masukkan ke neraka, aku ikut.”

“Hah, kamu mau ikut? Mereka di sana disiksa..”

“Disiksa bagaimana?”

“Kamu ingin melihat?”

“Iya..”

Lalu ku buka penglihatannya…

“Ibu…. ayah… kasihan mereka dibakar, dicambuki, sampai hancur..”

“Bagaimana? Apa masih mau ikut?”

“Tidak…, tapi aku sendirian, aku tak punya ayah ibu.”

“Ya ayah ibumu akan dikeluarkan dari neraka, kalau mereka bertaubat, dan mau masuk agama Islam.”

“Kau jahat, orang Islam jahat.”

“Aku melakukan ini, agar ayah ibumu nanti bahagia, masuk surga, bagaimana kamu mengatakan aku jahat?”

“Pokoknya kamu jahat.”

“Bagaimana, kamu mau masuk Islam.”

“Tak mau, karena ayah ibuku mengatakan kalau orang Islam jahat.”

“He dengar, kamu masuk Islam, nanti berdoa pada Allah, agar ibumu, diberi hidayah sama Allah, agar mau masuk Islam, nanti beliau diambil dari neraka.”

“Apa bisa?”

“Ya bisa..”

“Kalau begitu saya mau masuk Islam.”

“Bener..”

Ku minta pada malaikat maut, melihat hatinya, jika hatinya mau masuk Islam, ku minta untuk tak dicabut nyawanya, tapi kalau tidak mau masuk Islam, ku pinta mencabut nyawanya.

Dan malaikat maut pun mencabut nyawanya, tanda kalau dia hanya pura-pura masuk Islam.

Setelah nyawa anak Nyai Roro Kidul dicabut dan dibawa ke neraka, maka silih berganti berdatangan prajurit Nyai Roro Kidul menyerangku. Aku sudah lelah, segala urusan ku serahkan pada malaikat maut yang melakukan perlawanan, sementara syaikh Abdul Karim di sebelah kananku dan kyai guruku di sebelah kiriku, dalam wujud sukma.

Alhamdulillah semua lancar, walau anak buah Nyai Roro Kidul, masih banyak yang mau menyerang, dari pada aku digempur duluan, maka ku kirim malaikat untuk menggempur kerajaan samudra.

Setelah sepersekian menit berlalu, aku berpikir, wah bisa jadi kerajaan sana tak ada pemimpinnya, bagaimana ini.

“Aisyah…”

“Ya kyai.., Aisyah takut, karena pak kyai menyeramkan, galak sekali.”

“Aisyah tau tidak dengan nyai Ratu Pantai Selatan.”

“Tau pak kyai, kenapa pak kyai…”

“Dia Islam kan?”

“Iya dia Islam pak kyai.”

“Ku panggilnya ya..”

“Ya kyai… terserah bagaimana kyai saja lah..”

Maka ku panggil nyai Ratu Pantai Selatan, dan tak sampai 1 menit dia sudah datang.

Lagak lagunya sangat halus, dia menghormat padaku dengan menaruh tangan di dada, dan wajah menunduk, serta mengucap salam.

“Ada perlu apa, pak kyai memanggil saya?”

“Kenal siapa saya.”

“Ya saya tau, siapa pak kyai.”

“Sampean sudah Islam kan?”

“Alhamdulillah sudah pak kyai, kenapa?”

“Dulu yang mengislamkanmu siapa?”

“Itu pak kyai, yang mengislamkanku, wali songo.”

“Sunan Kali Jaga?”

“Iya pak kyai.”

“Ini begini nyai ratu…., sekarang samudra selatan, kan tak ada yang menjadi ratu… nah nyai ini saya serahi menjadi raja di sana mau tidak?”

“Saya siap menjalankan.”

“Apa tak ingin jadi muridku?”

“Mau kyai, kalau kyai sudi mengangkat hamba menjadi murid, hamba akan sangat senang.”

“Baiklah, kalau begitu, ini ku beri cambuk untuk menjaga, menjadi ratu di laut,” dia ku suruh menerima cambuk yang ku berikan.

“Kyai saya mau mohon diri dulu, sekali lagi terima kasih telah mengangkatku menjadi murid kyai.”

“Nanti belajar cara dzikirnya, nanti minta ajar pada mbakyunya Aisyah.”

“Iya kyai, saya mohon diri dulu.” nyai ratu pun keluar.

Esoknya aku dikeroyok, dukunnya Sengkuni, dan anak buahnya Nyai Roro Kidul, pasukannya ada 1 juta jin. Bersama ruh manusia yang menyembah Nyai Roro Kidul. Aku jadi harus menghadapi 3 kelompok, yang ketiganya ingin menggencetku dengan serangan, serasa merinding, tapi aku harus tabah dan kuat, Alhamdulillah, guru silsilah dari mulai syaikh Abdul Qodir, sampai pada guruku, semua dalam keadaan siaga. Semua mendampingiku, 1 juta jin anak buahnya Nyai Roro Kidul sekaligus datang, masuk semua ke mediator.

Mereka menatapku semua, dengan tatapan mata benci dan dendam.

“Dari pasukannya Nyai Roro Kidul?” tanyaku simpel.

“Iya… kami akan menyerang semuanya.”

“Apa masih ada yang belum datang?”

“Ada.. para arwah dukun yang menyembah nyai, sekarang masih di atas.”

“Suruh sekalian masuk, sekalian mengeroyokku.” kataku.

Maka masuk ada sekitar 600 ruh para dukun yang menyembah Nyai Roro Kidul.

Suasana menjadi tegang, dan udara juga di sekitarku juga mulai memadat, aku sengaja ajak mediator mojok, agar serangan tak mengenai orang lain.

Kyai sakti.73

“Siapa ini?” tanyaku.

“Kami para dukun yang mengabdi pada nyai roro kidul.” jawab ruh para dukun.

“Dari mana saja?”

“Kami dari mana-mana, kami ada 600 orang.”

“Kalian berani melawan ini yang bersamaku?”

Mereka melihat pada yang di sampingku, ada syaikh Abdul Qodir Jailani RA, syaikh Nawawi, syaikh Abdul Karim, syaikh Tolkhah, dan kyai Cilik, dalam bentuk sukma, dan mereka silau, sambil menyembunyikan wajahnya.

“Aku tak berani, tapi kami berani melawanmu, apa kamu berani melawan kami semua?”

“Boleh, ayo aku dilawan.”

Para prajurit jin, sebanyak 1 juta dan para arwah dukun segera mempersiapkan diri menyerang, aku tak mau repot, segera ku panggil malaikat Malik penjaga neraka jahanam dan malaikat maut untuk membantuku, beratus-ratus juta yang datang, semua siap sedia (siapa saja boleh tak percaya dengan cerita ini, mungkin lebih baik kalau yang tak percaya, bisa memediumisasi jin, ke tubuh manusia, dan ditanyakan apa ceritaku soal melempar nyai Roro Kidul ke neraka dan apa yang ku tulis ini benar atau tidak, sebab aku sendiri juga tak melihat, hehehe..), mungkin akan timbul pertanyaan kok tau yang datang malaikat beratus juta, itu namanya pertanyaan bodoh, kan aku yang minta pada Allah, supaya didatangkan malaikat beratus juta malaikat, dan siapa saja boleh meminta pada Allah, semilyar malaikat juga boleh ndak ada yang melarang.

Para malaikat yang datang ku perintahkan untuk mencambuk pada pasukan jinnya nyai Roro Kidul dan ku suruh mencambuki para arwah dukun yang akan menyerangku, dan mediator pun menggeliat kesana kemari, aku tinggal duduk santai.

“Bagaimana… menyerah tidak?” tanyaku di antara geliat mereka karena kena cambukan.

“Hah, kau curang, siapa mereka?”

“Curang bagaimana, kalian satu pasukan, kan aku juga punya pasukan malaikat.”

“Kami tak akan menyerah.”

“Cabut nyawanya dan lempar ke neraka yang tak mau menyerah, dan mau masuk Islam.” kataku pada malaikat, dan semua segera diboyong ke neraka oleh malaikat Malik.

Pertarungan hanya sebentar hampir hanya sekitar 5 menit atau 10 menit, tapi belum lama berselang, datang lagi pasukan dari kirimannya Sengkuni, walau tak banyak hanya beberapa ribu jin, yang berupa kera, mereka semua tak bisa bicara. Hanya aa uu, aa uu, dan menggaruk-garuk, jin diambil dari tempat Situ di daerah Bandung, dan semua tak berani melawanku, ku suruh masuk Islam juga tak mau, maka daripada di belakang hari merepotkan, semuanya ku minta malaikat maut yang masih menunggu perintah, ku minta mencabut nyawanya.

_________________________________________________

Akhir-akhir ini kejadian yang ku alami, seperti roda kereta api yang berkejaran, susul menyusul, waktu serasa teramat cepat dan kejadian di dalamnya teramat banyak, seperti aku sendiri masuk ke dimensi waktu yang bukan manusia, cobaan beruntun, tindih menindih, dan kadang sepertinya aku ini amat sendirian, sangat sendiri, harus menghadapi sendirian, semua serasa menjauh dan meninggalkanku hanya bisa berharap pada Allah, jika Allah juga tak memperdulikanku, maka jadinya apa dengan diriku, aku seperti panglima tanpa tentara, tanpa senjata, tanpa apa-apa yang dijadikan kekuatan dalam berperang, hanya Allah dan Allah tempat bersandar, dikeroyok dari mana-mana, hm, rasanya tak mungkin akan menang, kecuali Allah menolongku, dan aku yakin Allah menolongku. Cuma pertolongannya bagaimana itu aku yang tak tau, tapi sekalipun tanpa pasukan dan tanpa senjata, aku akan terus maju ke medan laga, syukur tak apa-apa mati sahid, semua orang hidup juga akan mati, mati sebagai orang yang gugur di medan laga, selalu siap insaAllah.

Kembali lagi datang sisa-sisa pasukan nyai Roro Kidul, segera ku tangkap dan aku sudah tak mau banyak tarung-tarungan yang tak ada perlunya, ada seribu yang sedang melayang di udara, ku tangkap saja semua, dan ku masukkan botol, siapa tau ada yang ingin diberi oleh-oleh jin.

Sementara itu juga, serangan dari Sengkuni juga masih terus menggebu, lebih sering lagi kepada anak istriku, juga pada murid internetku yang ketahuan membantuku, ada murid internetku yang takut karena serangan itu ada yang tetap bertahan, memang iman sedang diuji, ketahanan sedang dipertaruhkan, maju terus atau berhenti, memang banyak juga yang memilih berhenti, jadi ingat kata guruku, “sama muridku atau muridmu, nanti akan disaring oleh waktu dan kejadian, orang-orang pilihan akan jadi orang pilihan, akan maju menjadi orang yang utama, yang gagal memang sebaiknya mundur dari sekarang, dari awal, daripada nanti hanya akan menjadi beban di perjalanan” terngiang selalu pesan itu.

Sengkuni itu, kyaiku juga selalu memanggilnya setan, walau beliau kadang menyebutnya dengan bercanda, tapi berulang kali, dan kadang dengan kata mendadak “SETAN SENGKUNI!!” seperti kata sumpahan, ya aku tak tau apa yang diucapkan beliau, itu dari dulu, saat beliau masih disantet, dan aku yang mengobati di sebelah beliau, beliau selalu menyumpahi Sengkuni, padahal orangnya tak ada, tak terpikir sama sekali apa maksudnya, padahal itu tahun 2011, baru sekarang aku pahami maksudnya, kyai disantet, yang nyantet Sengkuni, sementara Sengkuni itu tak ada, dan juga sering hadir di depan kyai, bagaimana perasaan orang yang tau jelas siapa yang nyantet, karena terbuka hijab penglihatannya, sementara yang nyantet itu selalu hadir di depannya, dengan pura-pura baik, kalau aku tak kemplang kepalanya, tapi kyai tetap tersenyum, bahkan selalu bersikap baik, seperti tak terjadi apa-apa, bahkan kalau aku mengatakan : ini yang berbuat Sengkuni kyai… kyai jawab, bukan, bukan Sengkuni, tapi setan yang berupa Sengkuni, seakan mau membuat perumpamaan, dengan kata yang membingungkan, kalau orang yang tak paham akan mengatakan yang melakukan adalah orang lain.

Kalau berhadapan dengan guruku, dan membahas sesuatu kadang beliau melarang yang jelas-jelas itu menurutku sangat menguntungkan, tapi malah beliau melarang, dan memang kemudian di akhirnya, ketahuan itu adalah hal yang merugikanku di suatu saat nanti, kita seperti berjalan ke depan dengan orang yang paham akan ada jalan begini dan begitu yang kita lewati, dan kita dituntun agar selamat sampai tujuan, disuruh belok kanan dan kiri, sementara tanpa penjelasan kenapa ke kanan kenapa kekiri? Jadi seringnya sangat membingungkan, paling baik adalah berlagak seperti orang tidur, dan menjadi penumpang yang yakin akan dibawa kemana oleh sopir, pasti sopir tak akan memasukkan kendaraan ke jurang, karena itu sama saja memasukkan diri sopirnya ke dalam jurang.

______________________________________________

“Kyai… ada yang mau menangkapku lagi kyai..” kata Aisyah di satu kesempatan, dan saat Sengkuni makin getol untuk menyerangku, biasanya di waktu-waktu akan ada dzikir di majlisku. Ku tarik saja jin yang mau menangkap Aisyah dan ku mediumisasi.

“Apa maksudmu mau menangkap Aisyah, apa maksudnya Sengkuni?” tanyaku pada jin yang sudah ku masukkan ke tubuh orang.

“Ya agar dia tak membantumu…” jawab jin dalam tubuh mediator.

“Aneh, aku tak dibantu dia juga tak apa-apa..”

“Tapi dia yang selalu membantumu, mengobati penyakit,”

“La apa urusannya dengan Sengkuni?”

“Dia benci, kamu mengobati orang.”

“Benci bagaimana? Aku kan menolong orang yang minta tolong.”

“Apa urusanmu menolong orang?”

“Ya menolong orang itu kan sifat orang muslim saling tolong menolong, mati saja tak akan berangkat ke kuburan menggali kuburan sendiri, tapi harus digalikan orang tanah, juga orang mati tak bisa berangkat ke kuburan sendiri, tapi harus dibawa dengan keranda… coba kalau gak ada yang membawa keranda, gak ada yang mau ngubur, kan membusuk dimakan belatung, dan baunya kemana-mana.”

“Aku tak perduli, pokoknya kamu dilarang menolong orang, dan aku diperintah menghalang-halangi.”

“Ooo rupanya begitu, makanya kamu mau menangkap Aisyah dengan jaring yang kamu bawa dengan teman-temanmu itu?”

“Iya..”

“Ya kalau begitu memang kamu harus mati saja.”

“He he he.. apa kamu bisa membunuhku?”

“Kenapa tak bisa?”

“Alah ilmumu sekukuku..”

“Ya dengan ilmuku sekukuku, aku apa bisa atau tidak membunuhmu dilihat saja, kita buktikan saja.”

Ku keluarkan pedang gaib, dan ku ambil dari neraka jahanam, pedang yang dipakai anak buah malaikat Malik menyiksa di neraka jahanam, (orang yang memakai logika sebaiknya tak usah ikut baca, sebab yang kutulis ini daya hayal), setelah pedang kupegang dan kutusukkan ke perutnya, dia menjerit, dan ku tebaskan pada lehernya dia menjerit.

“Ampuuun, ampuun, tobat, aku menyerah.”

“Menyerah beneran?”

“Ya…. aku menyerah, aku mau masuk Islam dan menjadi pengikutmu.”

Ku panggil malaikat maut… untuk mencabut nyawanya jika jin ini bohong, dan tak mencabut nyawanya jika jin ini jujur dari hatinya mau masuk Islam. Tapi ternyata malaikat maut mencabut nyawanya, tapi sebelum mencabut nyawanya, ku minta malaikat maut mencabut nyawa jin sebanyak 450 ribu yang ada di tempat Sengkuni, dan dipersiapkan Sengkuni untuk menyerangku.

Jin itu tidak bisa dipercaya 100%, jadi kita jangan begitu saja melepaskan kepercayaan padanya.

Sebab beberapa hari yang lalu, Aisyah tertipu mentah-mentah karena aku percaya dengan jin kirimannya Sengkuni yang ku tangkap, dia ku beri nama Abdul, karena seakan berniat baik, dan seakan mau menjadi pengikutku, malah seakan mau bersaksi atas apa yang dilakukan Sengkuni, Abdul termasuk tampan, dan dia berbentuk elang, dengan keluarga Aisyah juga sangat baik, dengan Latifah adiknya Aisyah dia juga baik dan suka membantu dan mengajari Latifah yang masih belajar terbang, karena sikapnya yang baik itu, sampai Aisyah jatuh hati pada Abdul yang seakan berbudi pekerti baik, Aisyah pun pacaran dengan Abdul, dan dia meminta ijin padaku menikah dengan Abdul, dan hari pernikahan pun sudah dirancang, diumpamakan di alam manusia itu undangan sudah disebar.

Untungnya Allah maha adil, pernikahan masih seminggu lagi, hujan sangat deras, aneh, kenapa semua atap majlis bocor, dan majlis basah semua, heran juga aku, juga banyak genteng yang bergeser tak wajar, juga jalur air disumpal. Aku heran ketika hujan deras naik ke genteng, karena di atas jalur air disumpal pakai kertas semen yang disumpalkan kayak oleh manusia, kayaknya gak mungkin, sebab selama ini juga tak ada kebocoran, heran, aku turun.

“Aisyah siapa yang melakukan ini, yang menyumpal jalur air..?” tanyaku pada Aisyah, dan Aisyah menangis. ”Lihat semua majlis banjir seperti ini, ini kalau pas hujan lagi ada dzikir bersama bukannya jamaah akan buyar? kamu jangan menangis, siapa yang melakukan?”

“Huuu huuu, Abdul kyai… Abdul penghianat.” jawab Aisyah sambil menangis.

“Jadi dia yang melakukan menyumbat saluran, dan membuat genteng pada longsor ke bawah?”

“Iya kyai… ternyata dia hanya pura-pura baik, dan seakan baik sama Aisyah, padahal dia sebenarnya penghianat, ampun kyai, ampuni Aisyah…”

“Jadi dia selama ini pura-pura?”

“Iya kyai… dia setiap hari laporan pada Sengkuni kejadian di sini, sehingga Sengkuni tau keadaan di sini.” jelas Aisyah sambil menangis. “Dia menyumbat saluran itu atas perintahnya Sengkuni, agar kalau pas ada pengajian, pas ada hujan nanti pengajiannya bubar, karena bocor.”

“Sekarang dia di mana?”

“Sekarang dia terbang, menjauh dari sini.”

Aku sudah marah, ku minta pada Allah kekuatan malaikat maut di tanganku, dan Abdul langsung ku tarik nyawanya… dan ku lempar ke neraka jahanam.

“Ampuni Aisyah kyai, Aisyah menyusahkan kyai..”

“Sudah nduk tak papa, itu bukan salah Aisyah.”

Sepeninggal Abdul, Aisyah beberapa hari dirundung murung, mungkin patah hati. Aku coba menghiburnya, dengan memenuhi permintaannya, dia ingin kambing dari surga, maka ku mintakan pada Allah kambing dari surga ada 3 (ingat ini hanya hayalan saja, jadi jangan diartikan yang sesungguhnya). Dia agak terhibur, tapi serangan dari Sengkuni ada saja, kadang merantai tangan Aisyah, sehingga tangannya tak bisa untuk mengobati orang, heran juga apa maunya orang itu, karena sering aku tak bisa menjaga Aisyah, maka Aisyah lantas ku beri cambuknya malaikat pemecah mendung, malaikat Khamlatul Barqi, malaikat pembawa petir, dan ku berikan Aisyah ku perintahkan kalau ada jin yang akan menangkapnya supaya dipukul saja dengan cambuknya, dan alhamdulillah, pengalaman demi pengalaman di dunia jin itu membuatku menemukan berbagai solusi, yang awalnya tak tau, kemudian jadi tau, Aisyah setelah punya senjata cambuk juga lebih aman, dia selalu mencambuk jin kirimannya Sengkuni yang mau mendekat, dan ingin menangkapnya.

_________________________________________________

Kenapa kok aku urusannya jin mulu, atau santet, kadang ada yang bertanya seperti itu, sebenarnya kalau orang pemikirannya luas, tentu tak akan bertanya, tapi tak semua orang yang memahami apa kandungan atau kenapa bisa begitu, mungkin bisa ku berikan beberapa alternatif jawaban.

Seperti orang yang sakit gigi, ada gak orang yang bercita-cita sakit gigi? Kurasa tak ada, kecuali orang bodoh, yang bercita-cita sakit, walau cuma sakit gigi seumur hidup, orang yang waras akalnya akan berharap selalu sehat, lalu bagaimana kalau sakit gigi? Tentu yang diurusi ya gigi, bahkan dibawa ke dokter untuk dicabut paksa kalau gigi rewel, sakit terus.

Disantet, dikirimi jin, itu kan bukan kehendak saya, tapi kalau saya dikirimi santet ya jadi urusannya jadi ngurus santet, sebagaimana orang yang sakit gigi, tentu yang diurus sakit giginya, ya tak mungkin kalau orang sakit gigi malah yang dicabuti jari kakinya.

Jawaban kedua kenapa kok yang diurusi jin mulu, mungkin ada yang membaca bukan orang Islam, jadi biar ku jelaskan sedikit dalam kitab kami orang Islam, orang Islam itu diperintah untuk mengikuti nabinya, menjadikan nabinya sebagai suri tauladan, contoh segala perbuatan baik. Dan dalam surat alqur’an nabi memberi contoh bagaimana nabi mengislamkan sekumpulan jin, jadi kita kalau bisa juga meniru nabi, bukan hanya mengaku-aku ahli sunah, yang paling menjalankan sunnah nabi tapi hanya ngaku-ngaku.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1)

“(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami,” (QS. Al Jin: 2)

“Dan bahwasannya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (QS. Al Jin: 3)

“Dan bahwasannya: orang yang kurang akal dari kami sebelumnya selalu mengatakan (kata) yang melampaui batas terhadap Allah.” (QS. Al Jin: 4)

“Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.” (QS. Al Jin: 5)

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”(QS. Al Jin: 6)

Semoga kita bisa mengislamkan jin yang kafir, dan bisa mentauladani nabi Muhammad SAW, bukannya malah menyembah mereka, tapi mengajak mereka untuk melakukan kebaikan beramal sholeh, tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah. Jadi jin juga beribadah, sebagaimana manusia beribadah. Jin itu mendapat pahalanya sendiri, dan manusia itu mendapat pahalanya sendiri, tidak ada jin mencuri pahala manusia, atau sebaliknya, tak ada manusia mencuri pahala jin. Pahala itu akan hilang, dan diambil orang lain, kalau kita ghibah, membicarakan keburukan orang lain, keburukan itu boleh dibicarakan yang bukan ghibah, sebagaimana alqur’an memberi contoh, di dalamnya ada membicarakan Fir’aun, Namrud, orang munafik, orang kafir, orang bani siroil, dan alqur’an malah memberi contoh, boleh membicarakan mereka, karena keburukan mereka itu melampaui batas.

Kembali ke topik cerita,

Di MTS Wali Songo, ada kerasukan lagi, heran juga awalnya, karena yang awalnya mengganggu MTS adalah jin yang sekelompok dengan Aisyah, tapi kenapa kok sudah ku bersihkan masih saja ada kerasukan, setelah ku selidiki lewat terawang yang ku transfer pada Aisyah, ternyata itu ulah dukunnya sendiri yang punya kepentingan dengan mengirimi siswa jin yang merasuk, nanti dia akan tampil mengobati, dengan harapan, banyak yang tau, jadi kalau ada apa-apa akan minta bantuan padanya, jadi kata gampangnya IKLAN, memang ada-ada saja hal seperti itu, ku biarkan saja berlalu, karena itu urusan sekolah, kalau mereka berjodoh dan ada kemauan mau datang ke tempatku ya ku tolong, kalau tidak, ya biarkan saja..

Ternyata gurunya datang juga walau tak bawa muridnya yang kerasukan, hanya ingin konsultasi, dan ku beri arahan, kalau ingin mengobatkan yang kerasukan sebaiknya dibawa saja menghadapku, dan diiyakan, tapi untuk meyakinkan, ku tarik jin yang ditaruh di sekolahan sebanyak 75 jin, yang semua diperintah dukun untuk merasuki siswa. Para jin ku tanya setelah ku tarik 1 jin pemimpinnya.

“Kenapa kamu merasuki siswa?” tanyaku setelah jin ku masukkan ke siswa. Dia diam saja. Cuma menunduk tak berani menatapku.

“Kenapa diam saja, apa mulutmu dikunci?”

Dia manggut-manggut pertanda mulutnya dikunci agar tak buka suara. Lalu ku buka kunci yang mengunci mulut jin itu.

“Kenapa kamu merasuki siswa?” ku ulangi pertanyaanku.

“Saya disuruh..”

“Sama siapa?”

“Sama dukun yang memerintahkan kami..”

“Siapa?”

Dia diam.

“Tak mau ngaku… takut?”

“Ya…”

“Takut mana denganku?”

Dia mencoba menatapku tapi tak berani.

“Apa mencoba melawanku dulu, biar tau kadar ilmu.”

Dia segera siaga, mau menyerangku. Aku langsung mencabut pedang gaib, dan ku arahkan ke lehernya, dia minta ampun.

“Ampuuun aku mau masuk Islam…”

“Benar mau masuk Islam?”

“Ya…..”

“Siapa dukun yang memerintahmu?”

“Kami masing-masing diperintah sama dukun masing-masing, supaya merasuki siswa, ada yang karena dukunnya suka sama salah satu siswa, ada yang kepentingan agar perdukunannya laku..”

“Siapa saja nama dukunnya?”

Lalu jin itu menyebut satu persatu nama dukun yang memerintah jin agar masuk ke siswa, guru yang hadir gak percaya dengan apa yang didengarnya karena menurut mereka, para dukun itu malah yang selalu menolong kerasukan.

“Ah apa mungkin pak kyai, la mereka yang selalu menolong kalau ada kerasukan di sekolah kok.” kata bu guru yang bertubuh pendek gemuk.

“Ya percaya atau tidak itu urusan bu guru sendiri… saya hanya menunjukkan yang benar.”

“Ya setengah tak percaya lah pak, soalnya mereka baik semua.”

“Ada berapa temanmu?” tanyaku pada jin yang ada di dalam tubuh mediator.

Lanjutan kyai sakti.73

“Ada seratus…”

“Seratus ribu?”

“Tidak hanya seratus saja.”

“Coba panggil kesini semua..”

Dia diam dalam memanggil temannya.

“Mereka tak mau datang.”

“Kenapa…?”

“Ya tak mau datang..”

“Apa tak takut denganku?”

“Tidak.”

“Baik kalau begitu..”

Pedang di tanganku ku panjangkan sampai ke sekolah MTS yang berjarak 1 KM, dan ku tebas kepala jin yang ada.. tiba-tiba ada yang datang dan langsung masuk ke mediator.

“Siapa kau, kenapa menyerang semua temanku, kenapa menebas kepala mereka dengan pedang?”

“Aku orang biasa…”

“Hmmm heh..” dia menyerangku, segera pedang ku tebaskan ke tubuhnya, sehingga badannya terbelah, dan ku ulang-ulang…

“Ampun.. ampuun.”

“Mau terus menyerangku?”

Dia berusaha menyerang lagi, dan ku tebas sampai puluhan kali. Berulang-ulang seperti itu, maka sekalian ku bunuh.

Kembali yang muncul jin yang pertama masuk, “Sudah, Islamkan aku.” katanya.

“Ajak temanmu yang lain.”

“Ah perduli dengan temanku, yang penting aku selamat, aku cari selamat saja sendiri.”

“Ya kalau begitu kamu ku bunuh saja.”

“Ya… ya… aku akan memanggil temanku…” maka dia memanggil temannya.

“Bagaimana, apa ada yang mau melawanku?” tanyaku memastikan.

“Tidak, kami semua takluk dan minta diIslamkan.”

Lalu ku tuntun mereka semua masuk Islam, mengucapkan dua kalimat sahadat, setelah selesai, ku tanya.

“Ada berapa jin ini?”

“Ada 75 jin, jawab mereka..”

“Loh kok 75 jin? Yang 25 di mana, katanya ada 100 jin?”

“Yang 25 masih ada di dalam tubuhnya siswa, ikut pulang ke rumah siswa.”

“Ooo begitu… ya… ya.. sudah kalian keluar semua..”

“Baik kami mohon diri, dan kami minta maaf kalau kami mengganggu.”

“Ya sudah tak papa..” mereka segera keluar dari tubuh mediator.

Hari itu selesai dengan lancar, membereskan jin yang masuk pada siswa, semoga ini jadi pelajaran bagi siapa saja yang membaca kisah ini, jadi misal ada kerasukan masal itu bisa saja hanya permainan dukun, sebab hal seperti itu sangat mudah, tak perlu punya ilmu tinggi juga bisa melakukan, misal memakai batu akik yang punya power, atau memakai keris yang di dalamnya ada jinnya yang lebih kuat. Jadi memasukkan jin dalam pabrik atau sekolah, itu bisa direkayasa, dan amat mudah. Semoga ini bisa menjadi pelajaran.

Beberapa hari setelah kejadian di rumahku, ternyata masih ada kerasukan lagi, tapi kali ini ku dengar kabar dibawa kerumah sakit, ya jelas tak sembuh, ku biarkan saja, mungkin sekolah punya aturan sendiri, sampai akhirnya, karena tak sembuh dibawa lagi ke rumahku.dalam keadaan pingsan.

“Ini pak kyai ada kerasukan lagi.” kata mbak Sun yang kebagian memboncengkan siswi.

Segera ku ambil semua, ternyata di dalam ada ratusan jin, untung dengan perkembangan waktu, metode yang ku miliki untuk mengambil jin dari tubuh seseorang tak seperti dulu lagi, yang harus mengambilnya satu demi satu, sekarang sekali tarik 50, sampai 100 jin sekaligus juga bisa. Dan segera anaknya sadar.

Lalu anak yang kedua dan ketiga. Pertama ku mediumisasi, dan ketahuan dari kata jin yang masuk bahwa yang memasukkan masih dukun yang sama. Ketika pengobatan selesai, dukunnya ternyata mengirim jin, mungkin dianggepnya aku ini sekelasnya, sehingga dia begitu semangat menyerangku, sekali ku tarik jinnya yang dipakai menyerang, setelah 3 kali, maka semua jinnya yang dia simpan ku kirim malaikat maut, jinnya ada 600 ribu lebih, semua ke perintahkan malaikat mau mencabutnya dengan ijin Allah, maka semua jinnya mati, seharusnya seseorang itu mengaca diri, ee beberapa hari ke depan dia masih berusaha menyerang dengan mengambil jin dari beberapa tempat, awalnya ku biarkan paling jin yang berbentuk macan yang dia kirim ku tangkap dan ku remas menjadi tepung, tapi dia masih mengirim juga, maka ku cabut ilmunya, dan dia berhenti, kalau masih juga dengan ijin Allah, ku mintakan saja malaikat maut mencabut nyawanya, orang seperti itu tak akan kapok kalau tak masuk neraka.

Aku selalu memberi tempo, tak asal serang dan hancurkan, sebab dukun santet sekalipun juga punya keluarga, jadi tak asal bunuh, selalu memberi tenggang, dan memberi waktu buat dia untuk berfikir jernih, tapi kadang orang yang sudah dipengaruhi setan, akan membabi buta.

Segala permasalahan harus sebijak mungkin menyelesaikan, dan aku juga manusia biasa kadang juga marah jika orang yang sudah keterlaluan, melakukan kemungkaran sudah sangat terlalu, merusak banyak orang, ingat ini hanya cerita, jadi bacalah dengan santai. Jangan terlalu tegang terbawa alur ceritanya.

Semoga saja permasalahan di sekolah MTS Walisongo segera selesai.

___________________________________________________

Ada kejadian lagi di sekolah Safi’i Akrom, karena sekolah banyak ditambah ruangnya, sehingga banyak bangunan yang harus dibangun, untuk menambah ruang sekolah yang masih kurang karena bertambahnya siswa. Sehingga dibutuhkan membuka lahan baru, dan harus memotong pohon, dan tanpa disadari di pohon itu ada sekerajaan jin. Tentu saja banyak siswa yang dirasuki.

Jadi perlu diingat, kita ini berdampingan dengan jin, walau dengan dimensi dan alam berbeda, tapi kita ini berdampingan, jadi bisa saja siapa saja, akan bisa dirasuki jin tanpa diri sendiri merasa, bisa siapa saja, belum lagi karena belajar keilmuan yang melenceng kita akan mudah dirasuki jin, yang jelas jin itu kalau selalu di dalam tubuh manusia jelas akan mengganggu manusia, karena mereka tak seharusnya di dalam tubuh manusia.

Anak perempuan yang dibawa ke rumahku ini juga kesehariannya biasa saja, tak ada yang aneh, juga secara tingkah laku juga tak aneh sama sekali, sama sebagaimana anak perempuan lain, namun ketika dibawa ke rumahku ternyata di dalam tubuhnya ada ribuan macan, yang pindahan dari sekolahnya. Semua macan mengamuk ketika akan ku keluarkan, dan berusaha menyerangku, lalu ku panggil pemimpinnya, yang datang malah ratunya, dan ketika adu kekuatan denganku dia menyerah dan mau masuk Islam, tapi rajanya dan anak buahnya tak mau masuk Islam, dan lebih memilih melawanku, maka aku dikeroyok ribuan macan, karena melayani mereka aku lelah sendiri, walau banyak jin yang mati, sempat juga aku kena cakar, akhirnya ku buat latihan muridku, dan menemukan metode-metode baru mengeluarkan jin, sampai akhirnya ratunya sendiri yang datang, dan mengeluarkan satu persatu anak buahnya dari tubuh anak yang kerasukan, setidaknya itu membantu tugasku.

Malah berlanjut pada ratu mau mengobati orang yang hadir di majlis, ya sedikit ada manfaatnya. Cuma sayang dia tak mau berkomunikasi, hanya diam saja. Sambil melakukan gerakan-gerakan mengobati orang. Aneh juga.

__________________________________________________

Setelah kerajaan Samudra laut selatan ku taklukkan, laut menjadi kosong, dan ku perintahkan Ratu pantai selatan memimpin, ku coba melihat Aisyah, aneh nyai Ratu pantai selatan tak ada di singgasana laut, maka ku panggil beliau. Sebentar sudah masuk ke tubuh mediator, dan mengucapkan salam, sambil tangannya ditaruh di dada menghormat.

“Ada apa kyai memanggil saya?”

“Nyai ratu, kok nyai tak terlihat duduk di singgasana samudra selatan, kenapa tetap di pantai selatan?”

“Ampun saya kyai, saya tak kuat duduk di singgasana laut selatan.”

“Kenapa?”

“Bagi saya amat berat kyai.”

“Ku beri kekuatan tambahan ya?”

“Iya kyai…”

Lalu ku salurkan energi ke tubuh nyai Ratu laut selatan.

“Bagaimana sekarang? Apa siap?”

“InsaAllah kyai, doakan saya mampu menjaga amanah ini.”

“Silahkan nyai Ratu berangkat ke laut selatan.”

Nyai Ratu pantai selatan segera pergi setelah mengucapkan salam dengan menghormat sebagaimana biasanya.

Setelah dua hari menaklukkan laut selatan, kok gunung merapi meletus, dengan letusan intensitas ringan, dan tanpa terjadinya tanda-tanda sebelumnya.

Aku tak perduli, dan tidak membaca berita kecuali setelah teman-teman memberitahu, aku juga tak menduga itu ada hubungannya dengan apa yang ku lakukan.

“Kyai…. ki Semar ayahnya Permono marah kyai…” kata Aisyah di waktu sore.

“Ki Semar siapa nduk?”

“Ki Semar itu ya ayahnya Permono, Permono itu penguasa gunung Merapi kyai, Permono itu yang menjadi kusir kereta kencananya nyai Roro Kidul kyai..” jelas Aisyah.

Wah baru tahu aku, memang aku sendiri tak perduli dengan siapa jadi penguasa mana, karena sama sekali tak ada urusannya.

“Ooo jadi gunung Merapi itu ada penguasanya to nduk?”

“Ya kyai… yang jadi penguasanya itu Permono, nah karena kyai melempar nyai Roro Kidul ke neraka, maka ki Semar marah, dan di bawah sekali di dalam merapi dia menggerakkan anak buahnya untuk membakar lahar dan meledakkan merapi.”

“Wah kok ada kejadian seperti itu, berarti Merapi itu sebenarnya bisa dikendalikan ledakannya?”

“Iya lah kyai, kan di dalam ada para jin yang bekerja membakar lahar, panas itu kan tidak bisa menyala kalau tidak ada yang menaruh sesuatu yang bisa menyala mencampurnya menjadi lahar yang panas, dengan komposisi yang pas, kyai kan tau sendiri, masak nasi kalau kurang air, nasinya tak akan matang, nyalakan kompor tanpa bahan bakar juga tak akan nyala apinya.”

“Oooo ya.. ya… jadi di dalamnya ada jinnya pada bekerja?”

“Iya kyai… banyak jin yang bekerja..”

“Wah jadi meletusnya merapi kemaren itu juga ada yang melakukannya?”

“Ya begitulah kyai…., sebenarnya gunung-gunung juga semua begitu, jika tidak dibakar di bawah juga tak akan meledak, dan hanya akan menjadi gunung yang dijadikan Allah sebagai paku bumi.”

“Wah makin banyak pengetahuanku, rasanya makin banyak yang belum ku ketahui, trus nyai Blorong itu… tuaan mana dan sakti mana dengan nyai Roro Kidul?”

“Ya saktian nyai Blorong lah kyai, kan nyai Roro Kidul itu yang menjadikan ratu di samudra selatan adalah nyai Blorong.” jelas Aisyah.

“Lhoh kok dalam cerita yang sering ku baca, kalau nyai Blorong itu anak angkat nyai Roro Kidul..?”

“Ah ya gak lah kyai, kan nyai Blorong itu lebih tua dari nyai Roro Kidul, nyai Roro Kidul itu yang mengangkat jadi ratu samudera ya nyai Blorong.”

“Wah bingung aku soal gaib begini.. lalu..”

“Lalu apa pak kyai?”

“Lalu nyai Blorong itu Islam bukan?"

“Nyai Blorong itu bukan Islam, dulu pernah menjadi Islam, tapi murtad, lalu dia menjadi sumber segala ilmu hitam, dan juga yang dijadikan memberikan pesugihan.”

“Ooo begitu..”

“Ya kyai…”

“Bagaimana kalau ku hancurkan nyai Blorong…? Apa ilmuku mampu.”

“Ya jelas nyai Blorong kalah kalau melawan kyai, tapi….”

“Tapi kenapa?”

“Tapi kyai apa siap dikeroyok semua dukun ilmu hitam seluruh Indonesia? Misal kyai mampu, bagaimana dengan anak istri kyai, bagaimana dengan Aisyah?”

“Ya… ya…., lalu bagaimana dengan ki Semar? Siapa dia?”

“Dia awalnya dari jin di atas angin, di planet lain kyai, yang turun ke sini, dan kemudian jadi menakluk pada nyai Ratu kidul, dan diserahi untuk menguasai gunung Merapi.”

“Ooo begitu rupanya…?”

“Menurut cerita itu nyai Roro Kidul itu nikah sama Senopati? Apa benar begitu?”

“Ah tidak kyai, itu hanya cerita yang dibuat-buat orang, ya tidaklah, kan kyai sendiri sudah melawan suami nyai Roro Kidul, bukan Senopati,”

“Kata cerita juga nyai Roro Kidul itu dari manusia, apa benar begitu?”

“Tidak kyai, dia dari bangsa jin.”

“Asli jin..”

“Asli… kan bentuk aslinya ular, cuma dia sering membuat bentuk sebagai perempuan cantik, kayak Aisyah sering menyerupai bentuk wanita cantik, tapi bentuk Aisyah adalah burung dara, atau Dewi Lanjar asli bentuknya ular, tapi sering menyerupai bentuk wanita cantik, itu kan hanya bentuk yang disukai kyai.”

“Wah makin bingung aku dengan soal gaib, ya sudahlah, memang namanya juga gaib..”

“Kyai… ada yang melarang Aisyah.”

“Melarang Aisyah untuk apa?"

“Untuk banyak bercerita soal dunia jin yang sesungguhnya pada kyai.”

“Siapa yang melarang nduk?” kadang risih juga memanggil Aisyah dengan panggilan nduk, padahal Aisyah itu sudah ada sebelum kakek nenekku ada, karena dia sudah berumur ratusan tahun, tapi kalau melihat lagak lagunya yang secara manusia berumur manusia 20an tahun, maka dengan sendirinya aku memanggil nduk, padahal umurnya sudah 300-400 tahunan. Makin aneh saja.

“Yang melarang tak tau pak kyai…”

“Oo ya, tadi ki Semar bagaimana?”

“Apa kyai mau menariknya?”

“Ya…”

“Silahkan kyai.”

Aku segera menarik ki Semar ku masukkan ke tubuh mediator.

“Apa ini ki Semar?”

“Ya…. hm…”

“Apa ki Semar yang membuat gunung Merapi meletus..?”

“Iya… hm kamu yang melempar nyai Roro ke neraka.”

“Iya aku yang melemparkan.”

“Hm..” ki Semar pasang kuda-kuda mau menyerangku.

“Aku lagi malas bertarung ki, kalau ki Semar memaksa, maka akan ku lempar ke neraka.” jelasku disertai ancaman, tapi ki Semar tetap menyerangku. Maka ku pegang kepalanya, dan ku tarik ruhnya ku lemparkan ke neraka. Permono pun datang tanpa bilang ba-bi-bu langsung menyerangku setelah masuk ke mediator, maka tanpa peringatan juga, ku tangkap dan ku lemparkan ke neraka.

“Sudah…” suara Aisyah.

“Sudah apa Aisyah?”

“Sudah wassalam semua… semua mati.., pak kyai kalau marah galak ya… Aisyah jadi takut, tubuh pak kyai diliputi cahaya dari neraka… hiiii takut, hawanya malaikat maut sama hawanya malaikat Malik penguasa neraka nyatu… hiii Aisyah takut sekali kyai… kalau kyai marah.”

“Kyai kan gak marah sama Aisyah..”

_________________________________________________

Makin hari, makin banyak jin dari segala penjuru yang datang ingin masuk Islam, ada yang datang sendiri-sendiri, ada yang datang bergerombol, ada serombongan sebanyak ratusan ribu jin, ada juga berombongan jin berbentuk kera putih, yang berombongan sebanyak ratusan ribu, mengakunya lewat menulis di kertas, mereka dari langit ke empat, ah tak tau juga, semuanya tak bisa bicara, hanya ha-hu-ha-hu…. setelah ku Islamkan, mereka ku suruh tinggal bersama Dewi Lanjar, yang memang sudah ku pesan sebelumnya kalau ada jin yang masuk Islam, akan ku kirim ke sana, karena tempatku sudah penuh.

Sementara itu Sengkuni makin gencar saja serangannya, karena menangkap Aisyah berulang kali gagal, maka dia memakai strategi lain, dia memakai jurus pelet jaran goyang, yang dipelet adalah mbaknya Yaya, yang biasa ku pakai mediumisasi Aisyah, mbaknya Yaya merasa rindu dan ingin bertemu Sengkuni, siang malam yang dibicarakan ingin ke tempatnya Sengkuni di Surabaya, dan ingin bersama Sengkuni, dan membawa Yaya, untuk diserahkan Sengkuni. Sama suaminya lalu dibawa ke rumahku.

“Ini bagaimana mas, ini istri saya mau terus ketemu Sengkuni.” kata kang Slamet.

“Ditempel saja kang, biar jinnya bangkit.” jelasku.

Maka kang Slamet segera menempel tubuhnya mbak Sun, agar jinnya bangkit.

“Ampuun panas.. ampun panas..” kata jin dalam tubuhnya mbak Sun.

“Siapa, dari mana, dan perintahan siapa?”

Si jin diam, dan tak bicara.

“Aisyah..”

“Iya pak kyai..”

“Ayo Aisyah melatih cambuk api yang kyai berikan pada Aisyah. Cambuk jin itu yang ada di tubuhnya mbak Sun.”

“Iya kyai..”

Aisyah segera mengeluarkan cambuk sesuai kunci mengeluarkan cambuk api yang ku ajarkan, dan mulai mencambuk jin yang ada di tubuh mbak Sun.

“Aduuh ampuuun…. panas… panaass…! Iya iya aku mengaku. Aku jangan dicambuk lagi.”

“Jawab pertanyaanku tadi.”

“Aku diperintah Sengkuni.”

“Siapa dukunnya?”

“Dukunnya adiknya sendiri, yang ada di Surabaya, yang tinggalnya dekat tugu.”

“Diperintah apa?”

“Diperintah mempengaruhi perempuan ini, agar mau membawa adiknya menghadapnya, nanti mau dibunuh, agar tak bisa membantumu.”

“Kamu dari mana?”

“Aku dari Alas Roban… aku saudaranya jin yang mencuri ilmunya Aisyah itu.”

“Ha jadi kamu saudaranya dia..?”

“Ya…”

“Di mana sekarang saudaramu? Coba panggil ke sini.”

“Saudara saya sedang sakit kyai, dia ada di Alas Roban..”

“Panggil kesini..”

“Hm… panggil kesini, sakit juga panggil kesini.”

“Ya.. akan saya panggil.”

Sebentar kemudian jin yang dipanggil datang.

“Kamu yang mencuri ilmunya Aisyah dulu,”

“Iya, ampun kyai.”

“Hm, aku akan cabut nyawamu, atas kelancanganmu mengambil ilmu aisyah.”

“Ampun kyai.”

Aku lalu berdoa pada Allah agar nyawa jin ini dicabut…. dan alhamdulillah Allah mengabulkan, dan nyawa jin itu pun tercabut dan dilempar ke neraka. Kembali yang muncul jin yang tadi dikirim Sengkuni.

“Ampun kyai saya jangan dimatikan.”

“Dengan ilmu apa Sengkuni mengirimmu?”

“Dengan ilmu jarang goyang, ilmu pelet..”

“Apa dia bisa ilmu pelet?”

“Tidak kyai, dia membayar dukun, dan menyuruh adiknya.”

“Memang adiknya bisa?”

"Sengkuni itu mencari ilmu sebanyaknya di Banten, dan yang disuruh mengamalkan adiknya, dia juga banyak meminta ilmu pada kyai Cilik lalu diberikan pada adiknya untuk diamalkan, cuma kemudian diamalkan dengan cara sesat.”

“Bagaimana kamu keluar sendiri?”

“Ya saya mau keluar sendiri, tapi saya ingin diIslamkan sama kyai..”

“Baik tirukan saya membaca dua kalimat sahadat. Ada berapa temanmu di dalam yang disuruh Sengkuni?”

“Ada tiga kyai..”

“Apa semua mau masuk Islam?”

“Ya kyai.”

“Suruh semua menirukan ucapanku.”

Maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat.

___________________________________________________

Ingat cerita yang ku tulis tanpa pakem cerita, atau mengekor pada cerita siapa saja, ku tulis hanya sekedar pengalaman, bisa saja benar, dan juga bisa saja salah, jadi apa yang terjadi pada cerita ini bisa saja tak sama dengan cerita siapa saja, karena bukan meniru, atau mengekor pada cerita siapa saja atau cerita yang sudah menjadi mitos. Ini hanya kejadian yang ku alami, yang lantas ku tulis menjadi satu kisah, malah cenderung yang ku anggap kok terlalu di luar nalar, aku memilihnya tak ku tulis saja, daripada nantinya menjadi polemik, karena ketidak percayaan orang dan menjadi perdebatan panjang, apa yang ku tulis ini yang ku anggap masih dalam kepatutan untuk dikisahkan, jadi masih banyak yang belum dan tak ku tulis, yang akan menjadi konsumsi pribadiku, semoga apa yang ku tulis ini bisa membawa manfaat, dan yang membaca tak bosan dengan tulisan-tulisanku. Dan maaf jika ada salah kata dan tulisan selama ini, yang mungkin bahasa yang ku pakai tanpa adanya aturan bahasa yang benar, dan cenderung ku tulis dengan tulisan apa adanya. Karena juga tulisan ini ku tulis di saat-saat waktu luangku. Jadi kadang ceritanya gak nyambung antara satu yang lainnya, endingnya tak jelas, sebab bukan kisah yang dengan memakai sutradara, ini hanya kejadian keseharian, tak ada yang hebat, karena setiap orang pasti juga punya kisah hariannya, asal orang itu hidup, pasti tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, pasti punya kisah, mungkin kisahnya lebih dasyad dariku…. dan kisahku ini masih berlanjut…
profile-picture
nomorelies memberi reputasi
Lanjutan kyai sakti.part.69


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di