CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rumah Mertua Adalah Rumah Kita | Cerpen
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef3f3358d9b176ec71d1b67/rumah-mertua-adalah-rumah-kita--cerpen

Rumah Mertua Adalah Rumah Kita | Cerpen

"Dek bersyukur kamu bisa kumpul sama bapak ibu meski (mertua), daripada di tanah rantau yang ga tentu hasilnya." Sevilla kakak iparku yang baru semalam tiba di rumah membuka percakapan. Rumah mertua. Ketika kami sedang menyiapkan sarapan. Aku sudah mengalah, hanya bertugas menjadi tangan panjangnya. Dia yang mengendalikan mau masak apa istilahnya dia chef dan aku pembantu umum.
Rumah Mertua Adalah Rumah Kita | Cerpen
"Ko begitu mbak? Bukannya sama saja ya, mandiri maupun kumpul orang tua memiliki dua sisi. Kesyukuran dan kadang kesabaran?" Aku berhenti memotong bawang putih sejenak. Memperhatikan lawan bicara. Aku berusaha menghormati siapapun lawan bicaraku. Dan sekuat tenaga mempertahankan kesopanan ketika perasaan terluka. Entah kenapa aku begitu mudah terluka.
"Kamu sih belum pernah merasakan ya jauh dari orangtua, jauh dari mertua. Ketika anak sakit, suami sakit. Ga ada beras, ga ada duit. Apa yang bakal kamu lakukan?" Makin nyolot deh kamu mbak. Ngeselin kata hatiku.
Sevilla cuma beda 3 tahun sama suamiku. Selama 2 tahun di rumah mertua baru pertama ketemu. Dia jarang pulang alias bang Toyib eh bukan ya. Dia udah berkeluarga, dan ikut migrasi ke Kalimantan.
Selama 2 tahun ini memang aku sudah panas mendengar nama Sevilla. Selalu saja kedua mertuaku menyebut-nyebut dan membangga-banggakan setiap kali ngobrol dengan tamu dan menyingung anak. Tak pernah sekalipun nama suamiku terdengar. Suami mah selow, tapi kenapa aku yang panas? Dasar aku panasan ya?
Aku njawab dong, "Mbak Sev. Mbak kan juga belum pernah merasakan kumpul sama mertua? Yang setiap pagi berisik . Setiap malam ribut ngomongin orang dan kamu cuma bisa diam dan mendengarkan? Kamu jauh dari bapak ibumu, saudara dan teman-teman akrabmu? Kamu menjadi orang asing di rumah barumu? Dirumah mertua yang ga fasilitated begini? Udah jelek, ambyar ga ada isinya? Apa betah? Sebisa mungkin aku tahan nada tinggi untuk keluar. Senyum dan sok tenang.
"Kamu ko jadi nyolot dan ngehina bapak ibuku gitu dek? Jadi selama ini kamu ga betah tinggal disini? Mentang-mentang rumah masih beralas tanah, ga ada iternit, kamar mandi diluar, dapur masih pakai kayu, masih nimba sumur? Betulkah? Tidak pernah kusangka." Ekspresinya menjijikkan, seolah dia paling bener.
"Yang nyolot siapa mbak? Aku cuma mempertahankan pendapat. Mbak belum pernah ya diskusi dan posisi beda pendapat? Mbak bisa aja punya pendapat A. Aku juga bisa aja kan punya pendapat sendiri. Emang kudu ya aku ikut pendapatmu?" Aku lanjutkan beberapa tugas yang belum selesai. Nimba air buat nyuci sayur, dan bikin bumbu uleg.
"Mentang-mentang kamu kuliah di U*M ya jadi berani sama yang lebih tua?" Mewek.
Nah kan, malah bawa-bawa instansi pendidikan. Mewek lagi. Haduh bakal panjang nih masalahnya.
***
Aku menikah dengan Barca, anak bungsu yang sudah memberikan syarat kepadaku bahwa aku harus ikut dengannya. Tanpa berpikir panjang aku pun mengiyakan. Barca teman seangkatan yang baru ku kenal lebih dalam setahun pasca kelulusan. Aku sudah bekerja di perusahaan multinasional di ibukota. Sedangkan Barca, melanjutkan pendidikan profesi sambil kerja serabutan di Jogja.
***
Suasana lebaran ketiga yang seharusnya penuh kehangatan jadi terasa mencekam. Perang dingin kupikir. Sevilla sejak hari itu mendiamkanku. Aku pun tak ambil pusing. Gara-gara dia juga tiket mudik kami hangus. Aku dan suami sudah merencanakan bakal lebaran di rumah ibuku di Jogja. Aku membeli tiket untuk keberangkatan H-7 lebaran. Tanpa permisi dan seenak jidatnya Sevilla mengabari bahwa dia akan pulang kampung untuk lebaran di sini. Suami dan mertua memohon agar aku membatalkan jadwal kepulanganku. Agar aku dan Sevilla dapat berjumpa, saling mengenal layaknya adek dan kakak. Baiklah aku mengalah.
"Mbak mau silaturahmi kemana hari ini?" Tanya Barca, suamiku kepada Sevilla di pagi yang sejuk.
"Aku mau jalan ya Bar. Motornya jangan dibawa. Kalau memang kalian mau keluar, pakai aja motor yang item." Nadanya sok mendikte, sangat ketus. Barangkali kekeselan kepadaku juga dia luapkan pada suamiku. Hampir saja aku yang menjawab, dengan cepat suamiku menenangkanku.
Di rumah mertua ada 2 motor. Hitam, adalah motor lawas yang hanya dipakai untuk ke ladang atau sawah. Merah, motor yang agak lebih bagus. Masih biasa diurus surat-suratnya setiap tahun.
Aku masih memiliki tabungan ketika masih kerja. Berniat untuk membeli motor untuk keperluanku sendiri atau suami, tetapi tidak diijinkan mertua. Boros katanya.
***
"Ma, yang sabar. Dia kan ga lama di sini. Jadi biarlah bersikap sesuka hatinya." Bisik-bisik suamiku mengajak bicara dalam kamar. Sebenarnya unfaedah, kamar dan ruang lainnya hanya tersekat anyaman bambu dan lembaran kain sebagai pintu. Sangat tipis yang memungkinkan bicara serendah apapun, bisa terdengar.
"Iya Pa. Mama patuh sama Papa, tapi tidak dengan wanita itu." Tungkasku kemudian sambil tiduran membelakangi suami.
***
Hampir setiap hari aku mengajak Barca untuk mengontrak rumah. Kontrakan sederhana atau kos-kosan pun tak apa. Asal aku bisa menjadi kepala dapur sendiri. Sebelum kakak iparku pulang, aku sering ada konflik dengan ibu mertua. Hampir stress keadaanku, bahkan aku pernah "minggat" dari rumah.
"Sabar ya Ma. Papa kan anak terakhir di keluarga ini. Sudah menjadi tradisi, anak terakhir harus kumpul dengan bapak ibunya dan melanjutkan keluarga dari rumah. Apa kata orang nantinya, jika kita keluar (ngontrak atau membangun rumah sendiri)", jawaban yang selalu diungkapkan suamiku.
"Apa yang akan kau lakukan jika sudah begini mbak? Sok kuat dan sok sabar? Bunuh diri atau bunuh mertuamu?" Malam hari tanpa sengaja kami berpapasan di ruang tengah. Aku hendak mengambil air minum di dapur. Aku coba ajak Sevilla ngobrol dari hati ke hati.

"Maafin mbak ya dek. Mbak yang salah. Mbak sering dapat curhatan temen-temen yang masih kumpul sama mertua. Banyak ngeluhnya juga." Rendah dan tulus kedengarannya. Aku mendekat.
"Sama-sama mbak. Aku bingung kalau seperti ini terus mbak. Aku berencana merenovasi rumah, tidak boleh. Aku mau bikin rumah sendiri, tidak boleh. Apa iya harus mendiami rumah ini hingga roboh?" Keluhku kemudian.
"Aku suka iri mbak. Sama mbak. Sama temen-temen. Sama saudara. Rumah udah bagus, perabot mumpuni. Aku ga ingin rumah mewah, hanya saja rumah yang lebih layak. Dulu, di rumah ibu aku sering mengeluh rumah kecil, ga punya ini itu. Padahal sudah lebih bagus dari ini. Barangkali memang teguran dari Tuhan. Dan aku cukup bersabar selama 2 tahun ini. Tahun depan jika masih tidak diijinkan memperbaiki rumah. Aku minta maaf, aku memilih mundur." Lanjutku panjang lebar.
Sevilla tampak berempati dengan keluhanku kali ini. Sesekali memandangi ruangan yang sedang kami tempati. Hanya ada 2 kursi plastik dan meja bambu yang tidak rapi.
"Mbak memilih merantau juga karena ini dek. Mbak jenuh dengan rumah seperti ini." Tampak kesedihan mendalam ketika bercerita. Bagaikan memutar waktu ke masa lalu ketika dia mendiami.
"Mbak sering diejek teman-teman dengan kondisi rumah ini. Maafkan mbak ya dek." Memelukku dengan tangisan yang tertahan.
"Mbak bakal bantu kamu buat bangun rumah sendiri." Imbuhnya.
"Kita lanjutkan besuk ya mbak, sudah malam."
***
Taraaaa. Rumah baruku sudah berdiri. Meski kecil dan sederhana. Bapak ibu mertua tetap kekeuh menempati rumahnya. Namun kita bersebelahan, aku membuka pintu lebar-lebar untuk mereka. Masakan, juga setiap hari aku sajikan di meja makan bambu itu. Alhamdulillah.


profile-picture
bukhorigan memberi reputasi
gua ga terlalu suka rumah mertua sih.
emoticon-Leh Uga

but nice story gan.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di