CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef3396865b24d34126d297c/tanpa-pendar

Tanpa Pendar

(Prosa)

1. Pendar 1

Meski cinta tidak lebih berarti dari desau layang-layang yang gemanya dipermainkan angin ke tempat-tempat jauh, namun aku menyanjung bukan sebatas kemarau musim. Puisi adalah bebait sutra, di mana namamu sesatu pendar bermakna kesuma. Sebagai terindah, bagian putus asa, sampai pupus percaya.

Pernah merayu hati untuk kembali asing, sempat menahan anak panah rindu yang akhirnya membunuhku. Diam-diam aku melupa rencana perihal esok di kehilangan, tawar.

Oh seandai ada kesanggupan menyelisihi senyummu, barangkali bisa bernapas lebih lega tanpa menghitung detik per detak. Kebebasan seperti impian di matamu tentu menyenangkan, senandung senja saga dengan awan tersebut matahari ... berwarna emas, berpendar-pendar.

Kenapa semesta hanya berjanji, enggan memberi!

Kenapa kesedihan menuntut usaha, layu terkata bahagia!

Dan hidupku sebagaimana kapas tertiup angin kesana kemari, hampa. Entah akan hempas di tanah seperti apa kelak.

Ponorogo, 24 Juni 2020
Tanpa Pendar


2. Pendar 2

Mengeringlah, apa-apa yang dulu menghujan sebagai tangis. Kisah sudah memilih jalan sendiri untuk terbebas dari nestapa, hati kembali percaya akan kesendirian pembawa kebaikan. Santun enggan melibat debat, pertimbangan selaras dengan langkah-langkah pasti. Tidak ada genggam, percaya, bahkan bujukan sutera.

Asatlah, segala nama melarung mantra diperbudak pengharapan. Pamrih adalah hiasan palsu bagi jiwa-jiwa ringkih, menyulam kebaikan demi dia atau mereka yang entah. Sedangkan manusia terus hidup dalam pengembaraan tanpa tepi, tanpa usai bernama angan-angan. Seribu satu pengetahuan perihal semesta, akan menjadi daun renta ketika diri takut mengurai satu demi satu.

Betapa bodohnya aku, sempat terpedaya perasaan lemah mengharap kasih seindah kemerlip karib purnama.

Sepertiga sore yang meganya menyaga hanyutkan mata, terasa lebih indah tanpa keluh pun resah. Pendar yang kusandar membawa kisah-kisah jauh entah kemana.

Dengan sepi yang semilir.

Ponorogo, 23 Juni 2020
Tanpa Pendar


3. Pernah

Kau deraian waktu yang menumbuhkan rasa ketika sampai pada ujung hampa. Pernah menjadi terdekat denganmu adalah keberuntungan, sebab tidak semua orang terpilih di posisiku. Ada debar mengarah panah, sadar atau tidak.

Lalu ingin menjadi prioritas bagimu. Merasa dibutuhkan, disanjung, mendengar keluh jelang mimpi. Pun pernah berharap lebih dari itu.

Kau tahu, hal paling mengesankan adalah bersenda di singkat senggang waktu. Mengurai gulungan rindu meski tanpa faedah. Di pertengahan aku acapkali menabur dedoa diam-diam. Memilihmu.

Itu "pernah" sebelum tetiba berjalan sendiri tanpa sebab pasti. Musnah apa yang kugadang bersemi, dengan segala logika benar dan dibenarkan. Mencintaimu mendebat debit rindu begitu menyakitkan, lalu berdalih sembuh sendiri memejam mata.

Seakan baik-baik saja, padahal runtuh langit sebelah timur, dari waktu ke waktu.

Iya ....

Pernah begitu sempurna di harimu, pernah pula ingin amnesia karenamu.

Ponorogo, 2 Mei 2019Tanpa Pendar
profile-picture
bukhorigan memberi reputasi
Diubah oleh syerrilelizhafa


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di