CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke XII Jalan Cerita 3
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef2d6b6977513100966a62f/penyewekan-pengasih-bagian-ke-xii-jalan-cerita-3

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke XII Jalan Cerita 3

             “Om Sustiastu meriki (kesini)”, aku melangkah menuju suara dari sebuah bangunan glebeg (lumbung beras) kuno yang ditutupi ayaman kre rotan, aku gulung kre itu naik seseorang dibaliknya tersenyum melihatku, begitu juga aku tersenum melihat kakek tua mengunyah sirih dimulutnya.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke XII Jalan Cerita 3
gambar ilustrasi bangunan glebeg atau bale jineng (gambar hanya ilustrasi tidak ada sangkut pautnya dengan cerita), dulu jaman Bali agraris fungsinya menyimpan gabah dan beras, jaman sekarang kebanyakan diambil estetikanya karena sudah ada Rice box.


            “Yeh saja ba panakne I ***** teke, (benar ternyata anaknya Si *****  datang) ”, suara tuanya mengingatkanku saat pernah kesini beberapa tahun yang lalu.

         “Iya Kaki (kaki dalam bahasa Bali artinya kakek, bukan ceker), ternyata masih ingat saya”, aku melihat sedikitpun tidak ada yang berubah dari teman bapakku ini, tetap vit meski sudah berumur diatas 80 tahun.

          “Silahkan duduk dulu, maaf tempatnya sempit”, aku mengangguk, meggulung kere diatas kepalaku, dan mempersialkan Mira duduk diatas bangunan pangung itu, pandanganya aneh tidak bisa menyembunyikan keraguan sesaat perlahan bersimpuh di atas tikar pandan.

           “Yeh ba ngajak kurenan jani mai (ternyata sudah bersama istri sekarang kesini)”, kakek memandangi Mira yang nampak semakin risih. “Bukan Ki, ini teman saya”, aku berusaha meluruskan kesalah pahaman ini.

            Dukun itu tersenyum, mengusap tembakau ke mulutnya kemudian meletakanya di sela bibir. “Kel nganten jak dua ne, (bakal menikah kalian berdua ini)”, dengan enteng dia berkata sambil memakai kacamata tebalnya seolah mengucapkan sesuatu tanpa berfikir panjang.

           Mira yang bersimpuh disebelahku menyiku lenganku, menunjukan ekspresi tidak senangnya, aku menyerahkan banten (sesajen) ke hadapan lelaki tua berkamben dan udeng hitam bertelanjang dada itu.

            “Kaki (kakek) sebenernya saya kesini ada yang ingin ditanyakan”, ucapku dengan sopan kepada kakek yang dengan santainya membuka Sokasi Bantenku (kotak anyaman bambu wadah sesajen) kemudian hanya mersepon manggut2 saja.

           “Ini teman saya merasa diikuti sesuatu Ki”, kakek itu menyalan dupa dengan korek kemudian menancapkannya tanpa mendengar ucapanku.

              “Apa bisa Kaki (kakek) memberi tau kami apa yangg terjadi sebenarnya”, Kaki Balian (kakek dukun) begitu aku memanggilnya mengambil ember kecil dari belakang punggungnya dan meludah kesana.

              Mira mamlingkan wajah jijik melihat hal itu, diletakanya kembali ember kebelakang punggungnya, dan diam menunduk memejamkan mata.

            Aku bengong melihat yang terjadi, sementara Mira sekarang terus mencubit lenganku, aku mliriknya, yang terus memasang wajah gusar.

               Kakek itu mendongakan kepala menatap Mira, Mira menunduk tidak berani beradu pandang, Kaki Balian kemudian mencabut dupa yang tertancap di ketupat dan menggenggamnya.

             “Kamu tau itu siapa?”, kakek dengan suara khasnya bertanya pada Mira yang menatapku kebingungan.

              “Siapa itu yang mana maksudnya?”, Mira berbisik padaku, aku juga bingung tidak bisa menjawab, Mira menatap sang dukun dan mengeleng.

             “Kamu dalam bahaya nak, dia diperintahkan untuk melenyapkan kamu”, kata Kaki Balian yang membuat Mira tersentak paham ‘Dia’ yang dimaksud itu siapa.

             “Kenapa?, alasanya apa?”, Mira berusaha memperjelas yang dimaksud oleh orang tua yang bersila dihadapannya

          “Dotne pang geg bajang kawekasan (ingin agar kamu lajang selamanya)”, kakek terlihat serius memandang Mira, aku melihat bulir air mata turun dari pipi Mira.

            “Apa masalahnya kalau tiang (saya) menikah?”, aku tidak tega harus melihat dia seperti ini lagi, tangisanya seperti cambuk yang memerintahkanku harus berusaha membuatnya tersenyum bahagia.

              “Yang menjadi masalh bukan pernikahnya, tapi yang akan kamu nikahi nak”, Mira mengusap air mata mendenar ucapan itu , Kaki Balian (kakek dukun)  menarik nafas panjang menatap Mira dengan seksama.

               “Seken ye demen teken geg? (apa benar dia mencintai kamu nak?)”, Mira langsung menatap tajam bradu pandang sengit dengan kakek yang dulu merupakan guru spiritual bapakku.

              Matanya Mira menatap dengan air yang terus menetes, aku menjadi takut, menyadari pertanyaan itu sangat buruk ditanyakan kepada seseoarang yang sangat mencintai pacarnya bukan sekedar setengah mati tapi mati-matian mencintainya.

             “Anda jangan asal nomong pak, baru merasa punya kemampuan lebih, lalu seenaknya menebak, saya tidak bodoh asal mengiyakan saja, suapaya bisa cepet selesai kmudian bapak bisa mencari pasien lain lagi”, suara Mira yang pelan namun begitu mengerikan aku dengar,

            “Suba jelas iye seken demen teken tiang!! (sudah jelas dia mencintai saya!!)”, suara Mira membentak membuatku terkejut dan bengong sementara Kaki Balian tersenyum.

            “Hahahaha”, tawanya senang meski dikatai begitu pedas oleh Mira, “Maaf kalo begitu saya salah bertanya”, kakek tua itu mengusap dadanya yang kriput, “yen keto nymunin tiang metakon (kalo begitu ngulang saya bertanya)”, Mira kembali menatap tajam.

             “Seken reraman lan semetone ye demen teken geg? (apa benar orang tua dan kerabatnya dia menyukai kamu nak?)” sekarang Kaki Balian yang menatap tajam ke Mira, Mira yang saling beradu pandang memejamkan mata dan menunduk, tangnya perlahan menutupi wajanhnya.

              “Mesaut nake gek (jawab nak), dengkik tiang bin pok (bentak saya lagi sekali)”, Kaki Balian tersenyum melirik ke balik sela2 jari tangan Mira.

             “Huuhu..Huuu”, hanya suara tangis yanga ku dengar tidak ada jawaban yang terucap, aku memalinngkan wajah dari Mira menatap berkas cahaya yang menembus kere dari rotan, berusaha menahan kesedihan melihat orang yang selalu aku ingin buat tersenym malah menangis, aku merasa gagal membuatnya bahagia.

          “Kamu sayang keluargamu nak?”, kakek bertanya lagi, Mira masih terus menunduk menutupi wajahnya, “Mesaut nake! (jawab!)”, kakek terlihat senang membentak Mira memaksa membuatnya mengangguk.

              “Nah bo ye keto, ne Wahyu antenin (nah kalau begitu, ini nikahi Wahyu saja)”, Mira mengintip dari sela2 jarinya, aku bisa melihat matanya tajam menatap Kaki Balian yang tertawa senang.
**********

              “Bullshit kalau Mira akan percaya kata2 seperti itu!!”, Odik kembali nge-Gas Full seperti Start balap GP, aku jadi terkejut hampir saja keselek rokok yang aku gigit.

            “Aku tau betul Mira itu orangnya cerdas!, dia tidak bakal percaya bila hanya itu alasanya, apa kamu coba menipuku!”, Odik mencoba menendang kepala Wahyu yang bersimpuh, untung sempat ku tahan dan kebetulan kakinya kejokan (tak sampai) embuh (kurang) beberapa senti.

           Wahyu mendongak menatap Odik yang ngerebet (meronta) di pelukanku. “memang dia tidak percaya”, ucapnya singkat, membuat Odik diam menatapnya lupa dengan luapan emosinya tadi.
*****************

              “Omong kosong ucapan orang tua itu!”, “Plar!”  Mira memukul meja besi depan minimarket yang membuat beberapa pegawai menoleh kami yang duduk disana.

          “Maaf itu memang resikonya, seperti yang aku bilang waktu ini, belum tentu apa yang dikatakan orang pintar itu benar, saring2 saja dulu”, aku menenangkan Mira, agar dia tidak berbuat hal yang bisa membuatnya malu didepan orang banyak. Aku mencoba menawarinya air mineral dingin yang sengaja aku beli tadi, seridaknya bisa meredakan panas tengah hari ini tapi tidak pedulikan.

             Mira memalingkan wajah mebuang pandangan entah kemana, dia begitu kesal dengan ucapan kakek tadi, aku pun tidak menyangka Kaki Balian (kakek dukun) bakal ngomong ngacuh (ngasal) begitu, padahal dulu disaat bapak kesana dia begitu ramah dan sopan bahkan sabuk yang melingkar dipinganggku sekarang adalah pemberiannya.

             “Aku tuh capek denger penjelasan gitu2 mulu!”, Mira melipat tangan bersandar di kursi besi, “Emang kalo ortu pacarku gak suka sama aku kenapa?, ada yang salah dari aku?!”, Mira menatapku pertanyaan itu sangat sulit untuk aku jawab, karena bagiku menikah bukan hanya menyatukan 2 insan dalam satu ikatan, tapi juga menyatukan 2 keluarga mereka. Tentunya aku tidak akan berani mengutarakan pendapatku.

            “Mekejang nak lingsir patuh gen! (semua orang2 tua sama saja!), gak neneku, gak kakek yang tadi, sama saja!!”, baru pertama kali aku lihat Mira semarah ini, semua orang disekitar yang berbelanja lewat berlalu namun curi pandang melihat kami yang seakan2 seperti pasangan yang bertengkar.

           “Sudah lah, mungkin orang tua beda presepsi”, aku mencoba membuatnya paham kalau memang orang2 tua itu agak kolot pemikirannya,

            "Oh ya?!,  beda?!”, sekarang Mira menatapku dengan salah satu alis naik, tatapan itu membuatku tidak bisa melanjutkan kata.

              Mira menjambak rambutnya sendiri, menahan rasa pusing yang mungkin dia rasakan akibat permasalahan ini, “aku udah kesel banget, dulu waktu Dadong (nenek) masih hidup, nenek nginep di RS dan aku yang menjaganya, dia pernah berkata..’
------------------

          “Luh yen mani puan luh nemu pekeweh (nak kalo besok2 kamu ada permasalahan), carilah pemuda bernama Wahyu anak dari saudaranya nenek, dia akan membantumu menyelesaikan segala masalah juga akan menghibur saat kamu bersedih, menemanimu baik suka maupun duka.”

        “Dong (nek), kenapa harus sama dia?, bukannya udah ada Wik Odik yang bisa bantuin Mira?,  kenapa nenek cemberut gitu?, nenek masih gak suka ya sama Wik Odik?”

          “Nenek bukannya tidak suka dengan dia, cuma..”

           “Nek, kita udah hidup di jaman modren, bukan jaman kerajaan lagi yang masih membahas tingkat derajat manusia, kita ini semua sama orang Bali nek”

          “Yen Mira mekeneh keto, patuh masi kin keneh Dadonge (kali Mira berfikir begitu, sama juga dengan pikiran nenek), tapi apakah keluarganya dia akan bepikiran sama dengan kita berdua?, Mira jegeg (cantik), pikir2lah selama ini kenapa hanya gus Odik yang sering melali (berkunjung) kesini, sementara Mira jarang sekali kesana?, bukannya adat kita itu Mira yang akan tinggal nanti dirumah laki2, bukan sebaliknya. Pikirkanlah baik2 jangan sampai menyesal dikemudian hari. Apapun pilihan cucuku tersayang, pasti nenek akan dukung.”

          “Kalau nenek mendukung pilihan Mira, pasti tidak akan berkata seperti ini sama Mira!”
-------------------

            Mira menarik nafas panjang, “Aku ingin membayar janjiku sama nenek dengan meminta bantuanmu saat aku ngalamin kesulitan kayak ginini”, Mira memalingkan wajahnya dari ku yang duduk bersekat meja bundar di sebelahnya.

             “Tapi selalu sama jawaban yang aku terima. Kamu akrab dengan neneku kan?”, Mira berkata tanpa memandangku, “iya”, jawabku singkat.

             “Dan kamu juga bilang kenal dengan orang pintar yang tadi?”, kembali aku mengangguk mengiyakan apa yang Mira ucapkan.

                Sekarang Mira menatapku dengan pandangan yang sangat berbeda dari biasanya membuatku tidak mengenalinya lagi sebagai seseorang yang ramah dan kelem.

                “Jujur”, dia memulai kata terpotong membuatku bertanya akan nada suaranya yang berbeda membuat tubuhku melemas.

                “Sebenarnya gimana cara kamu ngeyakinin nenek dan balian (dukun) itu supaya berbicara begitu?”, aku menatap Mira membuat kami beradu pandang, Mira dengan wajah seriusnya dan aku dengan wajah bingungku.

                “Maksud kamu?”, aku tidak mengerti dengan yang dia ucapkan.

                “Gimana cara kamu supaya membuat mereka nyuruh aku milih kamu?”, tersetak dan terkejut ketika aku paham dengan yang dia maksud.

                “Aku tidak pernah berfikiran seperti itu, aku tidak membuat set..”

                “Settingan?!”, Mira memotong kata2ku, dia menatapku dengan amarah yang memuncak memerahkan matanya.

                “Aku gak tau apa rencana kamu?, dari awal aku dah curiga niatmu itu!, aku bukan orang bodoh yang bakal bisa kemakan dengan semua kebetulan yang aku alami tentang kamu!”, aku gugup, gadis yang aku anggap polos kini berbicara seperti ini.

                “Kalo kamu ingin bersaing dapetin aku fine!, tapi gak gini caranya!”, aku ngos-ngosan mendengar ucapan yang membuat aku merasakan rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan bahkan tidak sesakit ketika aku ditinggalkan orang tuaku.

                “Kenapa kamu tega sekali??”, aku mengeleng menatap Mira, “Udah cukup Yu!, aku gak bisa kemakan ke-sok kalem-an mu itu”, Mira masih tetap memandang tajam padaku.

                “Aku gak peduli entah dukun mana yang kamu cari!, kamu gak bakal bisa nge dapetin aku!”, air mata perlahan mengalir di pipinya, “lebih baik aku mati daripada hidup tanpa Odik”,

             “Kreeng!!”, kusi itu bergeser ketika dia berdiri berjalan memalingkan wajah “grungg!!” mortor itu melsat berlalu meningalkanku yang termenung  bersandar di kursi memutar kotak rokok dengan jari.

               “Bli maaf sudah jam 11 toko mau tutup”, penjaga terdengar mengusirku yang dari tadi duduk memutar kotak rokok tanpa bergerak tanpa bersuara. Tubuhku sudah tidak memiliki nyawanya lagi, mengingat kejadian tadi laksana seperti mimpi terburuk dalam hidupku, ingin rasanya aku menapar puipku sendiri agar terbagun dari semua ilusi ini, aku sadar semua ini nyata, aku hanya oarang bodoh, terbius dengan semua khayalan ku dengannya, yang ternyata hanya menjadi ujung tombak yang menusuk diriku sendiri.

                 Aku beranjak menuju motorku yang terparkir, lungsuran (persembahan sesaji) yang tadi masih menggantung di motorku, kemarin semua tersa berbeda ketika subuh aku baru selesai menata sesajen yang aku buat sendiri ini,

                Sebelum memejamkan mata aku berdoa supaya bisa makan lungsuran ini bersamanya  dan bekata padaku “enak banget, kamu piter banget masak”, disertai senyman manisnya. Tapi kenyataanya  beda 180 derajat.

             Sokasi  beranyamkan bambu itu aku letakan begitu saja di Glebeg rumah, tidak peduli entah ayam atau kucing memakannya, tanpa menganti pakain adatku, aku tumbang terlungkup menutup wajahku dengan bantal.

Mira : sejujurnya aku dah nge-manfaatin kamu.

Mira : aku kira kamu bakal bantu

Mira : tapi gak ada gunanya sama sekali

Mira : setidaknya aku dah tepatin janji sama neneku

Mira : kamu gak usah baper lagi

Mira : lupain aja semuanya

Mira : bye...

                  Chat panjang berjubel maraton masuk ke ponselu, aku baca pelan dan seksama bukan sebagai rangkaian hurup tapi sebagai sosok Mira yang langsung mengucapkannya dihadapanku dalam  baringan. Bagiku sekarang ia berbaring tepat dimana mantelnya aku letakan diatas rak dibawah sinar lampu dengan marah memakiku.

                “Kenapa kamu berfikiran begitu?”, aku tidak habis pikir dia akan menuduhku seperti itu, padahal berani demi apapun aku tidak pernah melakukan hal itu, bahkan aku tidak pernah tau Dadong (nenek) nya ataupun Kaki Balian (kakek dukun) bakalan mengucapkan itu.

                Selama ini, berhari2 aku sudah sangan bahagia bisa merasakan dekat dengannya, aku merasa hidupku jauh lebih bersemangat, meski tau bahwa dia bukanlah miliku, tapi setidaknya apakah aku salah?, semua bantuanku itu yang aku berikan tulus padanya dianggap tidak berguna, benar kata ibuku, tidak boleh menggangu milik orang lain, kebahagiannku yang sesaat harus terkerna balasan karma yang menyakitkan dan akan aku kenang selama hidupku.

                Segera aku screen shot catnya sebelum DP-nya berubah kosong tak bergambar, kemudian aku jadikan Walpaper ponsel, sebagai pengingat, bahwa “Dina ne jani Wahyu kena cecangkit! (hari ini Wahyu kena tipu)”, bantal guling segera membekap wajahku sendiri “WAAAAA!!!!” meredam teriakan frustasi dan emosi yang tidak bisa aku tahan.

               Bersambung................
profile-picture
profile-picture
mastercasino88 dan 666lucifer89 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di