CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
New Normal Bukan Berarti Kembali Seperti Biasa
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef2c553a2d19564ef2f5b2d/new-normal-bukan-berarti-kembali-seperti-biasa

New Normal Bukan Berarti Kembali Seperti Biasa

New Normal Bukan Berarti Kembali Seperti Biasa
Infeksi virus corona di dunia mencapai 9 juta kasus pada Senin (22/6/2020) kemarin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, penyebaran pandemi Covid-19 ini semakin cepat.

Rekor level kasus Covid-19 baru dalam harian disebabkan oleh fakta wabah memuncak di sejumlah negara besar pada saat yang sama.

Termasuk mencerminkan perubahan dalam aktivitas global virus corona, WHO menambahkan.

Ketua Kedaruratan WHO, Dr. Michael Ryan mengatakan, jumlah kasus corona meningkat karena pandemi berkembang pada saat yang sama di sejumlah negara.

Beberapa negara mengaitkan peningkatan kasus ini dengan lebih banyak pengujian, termasuk India dan AS.

Kendati demikian, pihaknya menolak penjelasan tersebut.

"Kami tidak percaya ini adalah fenomena pengujian," katanya, dikutip dari SCMP

Pihaknya mencatat, banyak negara mengalami peningkatan yang signifikan dalam penerimaan pasien dan kematian di rumah sakit.

Dimana keduanya tidak dapat dijelaskan dengan peningkatan pengujian.

"Jelas ada pergeseran virus sekarang sudah sangat matang," kata Ryan.

"Pandemi sekarang memuncak atau bergerak menuju puncak di sejumlah negara besar," tambahnya.

Dia menambahkan situasi itu "pasti mempercepat kasus" di sejumlah negara, termasuk AS dan lainnya di Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika.

WHO juga menyerukan peningkatan cepat dalam produksi steroid deksametason, yang terbukti memiliki potensi menyelamatkan nyawa bagi pasien Covid-19 yang sakit kritis.

Para peneliti yang dipimpin oleh tim dari Universitas Oxford memberikan deksametason kepada lebih dari 2.000 pasien Covid-19 yang sakit parah yang dirawat di rumah sakit.

Di antara mereka yang bisa bernapas hanya dengan bantuan ventilator, hal itu mengurangi kematian hingga 35 persen.

"Meskipun data masih awal, temuan baru-baru ini, steroid deksametason memiliki potensi menyelamatkan jiwa bagi pasien yang sakit kritis," kata ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi pers virtual di Jenewa, Senin kemarin.

"Tantangan selanjutnya adalah meningkatkan produksi dan mendistribusikan deksametason secara cepat dan merata di seluruh dunia."

"Dengan fokus pada tempat yang paling dibutuhkan," tambahnya.

Deksametason steroid dosis rendah telah ada di pasaran selama lebih dari 60 tahun dan biasanya berfungsi mengurangi peradangan.

WHO menekankan bahwa deksametason harus digunakan hanya untuk pasien dengan penyakit parah atau kritis, di bawah pengawasan klinis yang ketat.



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di