CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef0f29bf4d695080f0f73b2/part-3

Part 3

Part 3

Sebelumnya
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a7232a005a8ae


Sebulan berlalu. Pernikahanku dan Angga benar-benar terjadi. Apa aku bahagia? Tentu saja tidak. Aku malah lebih mirip seperti pepatah. "Hidup segan, mati tak mau."

Semua orang bergembira. Berfoto ria, tertawa bersama mempelai pria. Sementara, aku? Hanya bisa tersenyum paksa.

Resepsi pernikahanku dengan Angga dimulai dari jam dua hingga jam empat sore. Tamu undangan kebanyakan berasal dari kenalannya, sedangkan kenalanku? Hanya ada dua sahabatku, Lina dan Sinta.

Dari itu semua, bukankah sudah terlihat bahwa aku tak cukup berarti. Lantas, kenapa pernikahan ini tetap terjadi?

***

Aku berdiam diri di kamar baru. Suasana yang sangat berbeda. Orang-orang di sini tak ada yang menyapa usai acara pernikahan. Aku seperti orang yang diasingkan.

Aku duduk di tepi ranjang, membelakangi arah pintu. Sebab, saat ini aku menangis. Aku tak ingin ada yang melihat sisi lemah ini.

"Kamu ngapain di situ? Di luar banyak saudaraku. Temui, kek."

Aku mengusap air mata yang membasahi pipi, lalu membalik badan. Menghadap ke laki-laki yang berbicara padaku barusan.

Aku harus memanggil laki-laki itu dengan sebutan apa sekarang? Mas? Sayang? Atau apa? Ah, masa bodoh. Aku hanya akan memanggilnya Angga.

"Baik, Ga. Sebentar lagi aku menyusul."

Angga pun segera menutup pintu kembali, tanpa sepatah kata dia pergi.

***

Aku bergabung di tengah orang-orang asing. Ada beberapa yang menyapa, ada beberapa pula yang abai. Sebenarnya, aku di sini sebagai apa? Peranku menjadi siapa? Bukankah aku sudah menjadi bagian dari mereka? Lantas, mengapa dapat perlakuan sedemikian rupa?

"Dek Farah, masih kerja setelah ini?" tanya seorang wanita. Usianya hampir sama seperti Ibu mertuaku. Mungkin dia adiknya, atau kakaknya. Lantas, aku harus panggil apa? Bude atau Bulik.

Astagah, keluarga ini tidak jelas. Seharusnya, sebulan sebelum pernikahan kemarin, aku diperkenalkan dengan seluruh keluarga agar tidak menjadi kikuk seperti ini.

"Saya tergantung Angga, Tante. Jika dia mengizinkan saya tetap kerja, ya saya kerja. Kalau tidak meng--"

"Apaan? Ya tetep kerja lah, lagian di rumah mau ngapain?" celetuk Angga.

Sungguh tidak punya etika. Belum juga selesai aku bicara, sudah dipotong begitu saja. Beginikah watak aslinya? Di depan Ayah dan Ibu, dia bersikap sangat manis.

"Ya, itu terserah kamu." Aku menjawab sinis.

"Eh, masa' pengantin baru udah marahan gitu? Nanti malam pertama loh." Wanita tadi menggoda.

Aku tak tertarik dengan candaannya. Bicara tentang malam pertama dengan Angga, aku lebih tertarik untuk mencari cara agar bisa menghindarinya. Aku tahu itu berdosa, tapi jiwa akan tersiksa jika menjalankannya.

"Ga! Pokoknya mama pengen punya cucu cepet-cepet." Ibu mertuaku berbicara dengan raut wajah cerah. Nada bicaranya seperti ditekankan.

"Siap, Ma." Angga menyanggupi begitu entengnya.

Aku tak bisa mendengar percakapan ini lebih jauh. "Farah lelah sekali, Ma. Boleh Farah kembali ke kamar?"

"Ya, pergilah!"

Alih-alih Ibu mertuaku yang menjawab, malah Angga yang mewakilinya. Dengan cara tak sopan pula. Astaghfirullah, kuatkan hamba, Ya Allah.

***

Aku merasa bosan. Meski status telah berubah menjadi istri, tapi aku merasa seperti sendiri. Padahal ini hari pertama pernikahan, seharusnya masih hangat-hangatnya. Namun, ya bagaimana lagi? Memang tak ada cinta di hati ini.

Angga tertidur memunggungiku. Aku tak masalah. Bukankah tadi aku punya pemikiran untuk menghindari malam pertama? Ya, keinginan iyu terwujud.

Dalam keheningan malam, aku mengingat Mas Tio. Astaghfirullah, aku begitu merindukannya. Ingin sekali berteriak, memintanya membawaku ke mana saja.

"Mas Tio," lirihku sembari terisak.

"Apa? Kamu manggil nama siapa barusan? Tio?"

Ya Allah, ternyata Angga belum tertidur. Dia saat ini membalik badan dan menatap padaku tajam.

"A-aku. Hmmm." Diam lebih baik saat ini. Aku tak bisa berbohong. Memang itu kenyataannya.

"Kamu nyebut nama laki-laki lain pas udah nikah begini? Mau jadi perempuan macam apa kamu?" hardiknya.

Aku bergeming. Hanya air mata yang keluar. Ingin rasanya kukeluarkan segala sumpah serapah di hadapannya. Namun, tidak bisa.

"Hey! Jawab aku!" bentaknya.

Angga mencengkeram bahuku. Sakit rasanya, tapi aku tak mengeluh. Sementara, air mata semakin deras mengalir.

Aku melihat kilat amarah di mata Angga. Menakutkan. Aku ingin pulang. Mas Tio, tolong bawa aku pulang.

Mungkin kesal karena tak kujawab pertanyaannya. Dia saat ini sudah tepat berada di atasku. Kedua tangannya kini mencengkeram pergelangan tanganku.

"Kamu sudah menjadi istriku!" tegasnya. Lalu mencoba menciumku.

Aku berusaha memberontak. Aku tak sudi dijamah laki-laki kasar semacamnya. Tak mau! Sama sekali tak mau.

Namun, apa daya. Semakin aku memberontak, semakin kuat dia menindihku. Aku kehabisan tenaga, hingga pasrah saat dia melakukan apa saja.

Dia telah menanggalkan kata suci dari tubuhku. Ya, aku seperti ternoda, kotor. Harapan menyerahkan diri ini hanya pada Mas Tio seorang pun musnah.

Angga memeperlakukanku semaunya. Aku hanya bisa menangis. Hancur hatiku, rasa sakit memenuhi seluruh tubuh.

"Sudah kukatakan, kamu istriku." Dia melempar selimut ke arahku yang saat ini sudah tak sanggup berkata-kata.

Kamu hanya memperistri mayat hidup, Ga. Tidak ada cinta bagimu! Tubuh boleh kau jamah, tapi hati sama sekali tak bisa kau sentuh. Malah, kau membuatku semakin membencimu, Ga.

Aku membenci Angga sampai ke tulang-tulang! Caranya memperlakukan perempuan, haruskah seperti ini? Aku bukan hanya pemuas nafsunya, kan?

Aku menutup tubuh dengan selimut, lalu segera ke kamar mandi. Ingin kuhapus jejak-jejak tangannya di tubuhku, meski jejak luka di hati dan ingatan tak akan pernah dihapus dengan apa pun.

Aku muntah dalam kamar mandi, merasa jijik pada diri sendiri. Akankah mati bisa menjadi solusi terbaik?

***

Next?
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27682870376e41
profile-picture
profile-picture
profile-picture
opikrahman73 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umiaziza
kok sangat terasa sekali cerita ini... lelaki kok ada seperti itu ya... parah...
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 2 balasan
wow ceritanya menarik sekali nih.. menunggu episode berikutnya niih
jadi ikutan sedih baca ceritanya gan, semoga segera diberikan jalan keluar yang terbaik untuk pasangan suami istri ini yaa. Tetap berdoa karena Tuhan maha membolak balikkan hati manusia emoticon-Sorry
akh kesel gue baca cerita orang.. kapan gue bisa share cerita gue


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di