CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Sports / ... / Berita Olahraga /
'Blunder' Shin Tae Yong Tergoda PSSI.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eef62ff26377211b87e8a32/blunder-shin-tae-yong-tergoda-pssi

'Blunder' Shin Tae Yong Tergoda PSSI.

Jakarta, CNN Indonesia --

Shin Tae Yong belum menunjukkan kinerja menangani Timnas Indonesia di turnamen resmi dari senior hingga usia muda. Salah satu faktor utama karena pandemi virus corona (Covid-19) yang membuat agenda sepak bola vakum.

Tentu akan terasa aneh bagi PSSI jika akhirnya sampai memecat Shin Tae Yong. Apabila PSSI menggunakan alasan indisipliner lantaran Shin Tae Yong belum juga bersedia datang juga akan menjadi bumerang bagi PSSI.

Pelatih asal Korea Selatan itu bakal menggunakan alasan kuat grafik pandemi Covid-19 di Indonesia yang tak kunjung landai.

Meski demikian, Shin Tae Yong bukan tanpa kesalahan. Satu-satunya blunder pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu adalah tergoda PSSI untuk melatih Timnas Indonesia.

Entah dia belum sempat mempelajari rekam jejak buruk PSSI terhadap pelatih asing atau mengabaikannya. Tetap saja, Shin Tae Yong telanjur masuk dalam 'lingkaran setan PSSI'.

Satu hal yang seharusnya bisa dipelajari Shin Tae Yong bahwa masa bulan madu di Timnas Indonesia terlalu singkat. Setidaknya demikian yang dialami sejumlah pelatih asing sebelum Shin Tae Yong berstatus pelatih Timnas.

Sebut saja deretan nama seperti Peter Withe, Ivan Kolev, Alfred Riedl, Piter Huistra, Luis Manuel Blanco, hingga Luis Milla asal Spanyol.

Di antara mereka punya nama besar, bahkan sarat prestasi, setidaknya di Asia Tenggara. Niat hati mewujudkan mimpi indah di Merah Putih, yang terjadi malah mendapat perih.
Sebut saja Ivan Kolev yang memulai karier pelatih di Timnas Indonesia pada 2002. Kolev sempat membawa Garuda ke final Piala AFF (saat itu masih bernama Piala Tiger).

Timnas Indonesia kalah adu penalti dari Thailand di final. Kolev masih diberi kepercayaan untuk melatih Timnas di Piala Asia 2004. Indonesia satu grup dengan Qatar, Bahrain, dan tuan rumah China.
Merah Putih pun hanya mampu berkutat di fase grup. Selesai pula karier Kolev kala itu. Dia sempat kembali ditunjuk PSSI untuk tampil di Piala Asia 2007. Kala itu Indonesia menjadi tuan rumah.

Namun, Merah Putih gagal melaju ke fase gugur. Kontrak Kolev pun diputus setelah ajang itu.

Selanjutnya ada nama Peter Withe, sosok yang bisa dikatakan From Hero to Zero begitu menangani Timnas Indonesia. Dia pernah membawa Thailand dua edisi beruntun juara Piala AFF pada 2000 dan 2002.

Pelatih asal Inggris itu kemudian memulai peruntungan menangani Timnas Indonesia pada 2004 setelah hengkang pada 2003 dari Thailand.

Withe membuat gebrakan di awal-awal kariernya menukangi skuat Garuda. Dia lebih banyak memanggil para pemain muda kala itu.

Nama-nama pemain top saat itu seperti Bambang Pamungkas bahkan sempat tak masuk skuatnya. Dia juga yang berani merombak formasi andalan Merah Putih waktu itu dari 3-5-2 menjadi 4-4-2.

Keberadaan Withe ini pula yang membuat PSSI percaya diri bahwa peran mantan pemain timnas Inggris itu bakal jangka panjang untuk membangun fondasi Timnas yang lebih kuat.

Di AFF 2004, Withe hanya mampu membawa Timnas Indonesia nyaris juara. Skuat Garuda saat itu finis sebagai runner-up setelah kalah 2-5 dari Singapura di final
Prestasi Timnas Indonesia semakin jeblok di bawah Withe pada Piala AFF 2007. Saat itu skuat Merah Putih gagal lolos dari fase grup.

Kontrak Withe pun tak diperpanjang PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid kala itu. Alasannya, dia gagal membawa Indonesia juara Piala AFF.

Berikutnya Alfred Riedl yang pernah jadi korban konflik internal di tubuh PSSI.

Pada 2010, Riedl pernah membawa Timnas Indonesia ke final Piala AFF.

Kontraknya diputus paksa sebelum dua tahun karena PSSI di era Ketua Umum PSSI terpilih waktu itu, Djohar Arifin Husin, mengklaim kontrak Riedl tak di bawah PSSI.

Dia kembali nenangani Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2016. Timnas Indonesia yang kala itu kembali dari sanksi FIFA kembali sukses ke final Piala AFF 2016. Namun, lagi-lagi Riedl didepak karena gagal memenuhi target juara.

Ada pula nama lain seperti Luis Manuel Blanco dan Pieter Huistra yang mengalami nasib buruk di sepak bola Indonesia. Nasibnya bahkan lebih nahas dibandingkan Withe, Kolev, dan Riedl.
Blanco misalnya, juga menjadi korban kencangnya pusaran konflik di PSSI. Dia diumumkan Ketu PSSI Djohar Arifin Husin sebagai pelatih timnas pada 7 Februari 2013. Pelatih asal Argentina itu menggantikan Nil Maizar di tengah konflik dualisme pengurus pusat PSSI.

Namun, penunjukan Blanco ditolak sejumlah anggota Exco PSSI karena Djohar dianggap membuat keputusan sepihak. Blanco sendiri tidak sempat melatih Timnas Indonesia.

Blanco pun didepak oleh La Nyalla Mattalitti yang saat itu menjadi Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI menggantikan Isran Noor. Kariernya pun hanya seumur jagung, bahkan belum sempat menangani Merah Putih di turnamen resmi. Blanco kemudian mengadu ke FIFA setelah merasa dizalimi PSSI.

Nasib serupa dialami Pieter Huistra. Dia resmi menangani Timnas Indonesia pada Mei 2015. Namun, PSSI yang terus-menerus dirundung konflik dibekukan oleh FIFA.

Mental pula karier pelatih asal Belanda itu sebelum menangani Timnas Indonesia di turnamen resmi. Padahal, dia baru saja beberapa bulan di Indonesia dan masih memetakan sepak bola tanah air.

Awalnya penunjukan Huistra diplot untuk membangun Timnas Indonesia dalam jangka panjang.

Nama besar lainnya yang mengalami nasib getir adalah Luis Milla. Namanya cukup besar karena pernah membawa timnas Spanyol juara Piala Eropa U-21 2011.

Milla dianggap pelatih yang tepat untuk membangun sepak bola Indonesia. Dia resmi menangani Timnas Indonesia pada 2017. Lagi-lagi PSSI di bawah Ketua Umum Edy Rahmayadi waktu itu menyebut untuk proyek jangka panjang di skuat Garuda.

Namun, kontraknya tak diperpanjang sebelum memasuki tahun kedua. Alasannya, gaji Milla terlalu tinggi dan dianggap gagal memenuhi target di Asian Games 2018. Ketika itu Indonesia dibebankan target ke semifinal sebagai tuan rumah.

Bukan tidak mungkin, Shin Tae Yong akan jadi korban selanjutnya karena 'tabiat' PSSI di bawah kepemimpinan Mochammad Iriawan tak kunjung berubah.
Sikap Shin Tae Yong juga tak elok 'bocor' ke media untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap PSSI. Namun, PSSI masih saja blunder dengan meladeni 'berbalas pantun' di media, bahkan di media resmi mereka sendiri!

Anehnya 'balas pantun' itu disampaikan Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri. Seperti diketahui, Indra juga disebut-sebut dalam keluh-kesah Shin Tae Yong yang mengklaim punya kesan buruk dengannya di Timnas Indonesia.

Sebagai Dirtek PSSI, Indra seharusnya cukup menyelesaikan permasalahan ini secara internal. Apalagi secara struktur, peran Dirtek untuk melakukan supervisi atau pengawasan juga kepada pelatih, selain memberi masukan.

Situasi semakin bertambah konyol dengan pembentukan Satgas Timnas Indonesia yang diketuai Syarif Bastaman. Dia bahkan sempat mengancam akan memecat Shin Tae Yong. Apa fungsi Satgas Timnas Indonesia jika secara struktur sudah ada Dirtek PSSI?

Polemik ini tak ubahnya serial Drama Korea yang kerap memancing emosi karena cerita yang semakin absurd!

Yang jelas meski berganti-ganti Ketua Umum, PSSI masih tak lepas dengan pola pikir prestasi instan ala makanan siap saji. 

PSSI seolah tak pernah kapok. Dinamika dan konflik yang tak pernah padam di dalam internal induk sepak bola nasional itu pula yang menjadi biang kerok.

Jangankan Shin Tae Yong, seandainya Joachim Loew yang membawa timnas Jerman juara Piala Dunia 2014 melatih Timnas Indonesia bisa bernasib sama dengan deretan pelatih asing lainnya di sini.

Sekali lagi, satu-satunya kesalahan Shin Tae Yong adalah keburu tergoda janji-janji PSSI. Bedanya adalah kini kita menyaksikan polemik Shin Tae Yong dan PSSI seperti dalam sebuah film Drama Korea.



CNN Indonesia: 'Blunder' Shin Tae Yong Tergoda PSSI.
https://www.cnnindonesia.com/olahrag...g-tergoda-pssi
pssi itu sejenis parasit yak?


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di