CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eef5e1c5cf6c40ab3340f5b/menikah-tanpa-cinta

Menikah Tanpa Cinta Part 1

Menikah Tanpa Cinta

Seberapa banyak menolak, mereka tetap tak akan peduli pada perasaanku. Padahal, aku ingin menikah karena cinta, bukan karena perjodohan seperti ini. Ya, mau bagaimana lagi? Menangis pun percuma, aku hanya bisa pasrah.

Pertemuan keluarga diadakan sore ini, aku disuruh untuk berdandan yang rapi. Buat apa? Menarik perhatian si lelaki yang akan menjadi calon suamiku nanti? Ah, sungguh aku tak peduli.

Pikiranku hanya tertuju pada Mas Tio, kekasihku yang berjanji akan meminang jika sudah mapan nanti. Sayangnya, mapannya keduluan oleh kesiapan orang lain. Kesiapan? Entahlah, siapa yang dapat menjamin laki-laki yang akan meminangku itu sudah siap atau belum.

Bermodalkan kepasrahan, akhirnya aku melepas semua harapan.

"Sudah siap, Far?"

Aku kaget saat tiba-tiba ada yang menyapa.

"Ah, Ibu. Sejak kapan Ibu ada di belakangku?" Aku menatap sosok Ibu melalui cermin di hadapanku.

"Sudah sejak kamu melamun. Kalau sudah siap, segera keluar. Calonmu sudah datang." Ibu menepuk punggungku, lalu keluar.

Tak mengertikah mereka perasaanku? Semudah itukah mereka mengambil keputusan? Sementara, beban yang kutanggung dalam dada begitu menyesakkan.

Kupandangi pantulan wajah di cermin. Bibir pucat, mata bengkak. Penampilanku semenyedihkan ini. Lantas kenapa mereka abai terhadap hal ini? Hmmm, mau tak mau, semua sudah terjadi.

Aku memakai jilbab merah muda, senada dengan baju yang kukenakan. Kupoleskan sedikit riasan di wajah.

Setelah selesai dengan urusan berdandan, kuraih ponsel yang terletak di kasur. Kukirim pesan singkat pada Mas Tio.

[Mas, semua di antara kita sudah selesai. Hari ini, orang tuaku telah menerima pinangan laki-laki lain. Maafkan aku yang tidak bisa lagi bersamamu.]

Kuketikkan pesan itu dengan hati berduka. Air mata hendak terjatuh lagi, tapi kuseka sebelum itu terjadi.

"Farah! Kok lama banget sih keluarnya? Ayo cepetan!" Teriakan Ibu dari luar kamar membuatku terkejut.

Wanita satu itu, apakah akan selalu membuatku terkejut begini?

"Hmmm. Farah sudah siap. Tunggu."

Aku bangkit dari kursi rias, berjalan dengan langkah diseret. Demi apa pun, aku tidak menginginkan ini. Apakah aku boleh melarikan diri?

"Loh, Far. Cepet!" Ibu menegur sekali lagi.

Kupejamkan mata sejenak, mengambil napas panjang lalu mengembuskannya kasar.

"Ayo," kataku saat tiba di depan pintu. Kulihat, wajah Ibu menyiratkan kemarahan. Apa yang kulakukan barusan begitu salah? Ah, ini benar-benar bisa membuatku gila.

***
Aku dan Ibu berjalan berdampingan menuju ruang tamu, tempat semua orang berkumpul. Aku hanya bisa menunduk, tak berani menampakkan wajah yang begitu kacau ini kepada para tamu.

"Eh, ini calon pengantin perempuannya sudah datang," ucap salah satu tamu perempuan. Aku tak tahu rupa orang yang berbicara tersebut dan tak ingin tahu.

"Masya Allah, cantik." Tamu yang lain menimpali.

"Ayo, beri salam sama semuanya," ucap Ibu sembari menyikutku.

Aku menghela napas sejenak, lalu mengangkat wajah demi melihat para tamu yang tak aku inginkan kedatangannya. "Assalamualaikum. Nama saya Farah, Om, Tante ...." Kubuat nada bicara selembut mungkin.

"Nak Farah, sini duduk dekat mama." Seorang wanita bergincu merah cabai menunjuk kursi di sebelahnya, nemberi isyarat agar aku duduk di sana.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum ke arah wanita yang seumuran dengan ibuku itu. Entah senyum macam apa yang kusuguhkan, senyum manis atau kecut, lagi-lagi aku tak peduli.

Aku menghampiri wanita itu, lalu duduk di sebelahnya. Sementara, di samping kiriku ada laki-laki, usinya kira-kira sebaya denganku.

"Hallo, Farah."

Dia menyapa sembari menyunggingkan senyuman, aku hanya merespon dengan anggukan.

"Ini calonmu, Nak." Wanita yang tadi menunjuk ke arah laki-laki yang baru saja menyapaku. "Ini anak mama yang kedua."

Sekali lagi, hanya anggukan yang kuberikan sebagai jawaban. Aku bosan dengan acara ini, pikiranku sedari tadi hanya dipenuhi oleh Mas Tio.

Mas, apa yang sedang kamu lakukan? Sudahkah membaca pesanku? Jika sudah, kenapa tak menyusul untuk menghentikan acara pinangan ini? Aku membatin sembari menyeka air mata yang siap mengalir di pipi.

Haruskah jalan cintaku dan Mas Tio berakhir begitu tragis? Hubungan kami yang bertahun-tahun tak ada artinya, dikalahkan oleh pinangan yang tak seharusnya diterima.

Hanya karena tetangga yang mengatai aku perawan tua, Ayah dan Ibu menerima pinangan orang yang belum kuketahui asal usulnya. Katanya, laki-laki ini sudah mapan, rajin, dan tampan.

Hah, tampan? Untuk satu itu, aku rasa adalah sebuah kebohongan. Meski tampan itu relatif, tapi kuyakin kalian akan sependapat denganku bahwa laki-laki ini tak ada istimewanya dalam segi fisik.

Mapan? Rajin? Aku tak tahu hal itu adalah fakta atau sekadar kata. Ya, sudahlah. Jika orang tuaku berkata iya, aku bisa apa?

"Namaku Angga," ucapnya sembari mengulurkan tangan.

Aku tak menerima uluran tangannya. Kuletakkan kedua tangan di depan dada, lalu disusul senyum paksa sebagai balasan untuk sapaannya.

Dia menarik kembali tangannya, raut mukanya berubah. Mungkin dia kecewa. Sama, aku juga kecewa. Kecewa karena tidak ada yang mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Semuanya sibuk berbincang, ber-haha hihi.

"Nak Farah kerja apa?" Wanita yang sedari tadi menjuluki dirinya mama mencoba mengobrol denganku lagi.

"Ibu dan Ayah belum cerita? Saya seorang pengajar di salah satu lembaga kursus."

"Wah, ternyata calon mantu mama anak pintar."

Meski tiada yang salah dari ucapan wanita itu, entah mengapa aku tidak suka. Ucapannya yang lembut, seakan-akan hanya rekayasa belaka. Seperti dibuat-buat, tidak tulus.

"Kalau Angga, dia kapan hari bekerja di perusahaan besar."

Kapan hari? Lalu, sekarang? Apakah laki-laki di dekatku ini tidak punya pekerjaan? Lantas kenapa mereka berkata pada Ibu dan Ayah bahwa laki-laki ini sudah mapan?

Astaghfirullah, kebohongan macam apa ini? Akankah Ayah dan Ibu mendengar ucapan ibu dari laki-laki yang menjadi calonku ini?

Angga yang mapan atau keluarganya? Jika keluarganya yang mapan, apa bedanya dengan Mas Tio? Sungguh, semua ini membuatku pusing. Dada ini begitu sesak, otakku tak lagi sanggup berpikir.

"Farah kurang enak badan, Om, Tante. Hmmm, Angga ...." Aku membuat semua orang di ruang tamu melihat ke arahku. "Maaf, bolehkah Farah istirahat dulu?" tanyaku, tanpa peduli tatapan tajam Ibu.

Cukup, untuk hari ini cukup! Aku tidak ingin mendengar banyak pengakuan dari kebohongan. Biarkan aku istirahat sejenak, untuk besok, lagi-lagi hanya bisa kupasrahkan pada Yang Maha Kuasa.

***

INDEX


Part 2, Part 3, Part 4, Part 5
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sriwijayapuisis dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umiaziza
Halaman 1 dari 2
pengennya mewek aja.
emoticon-Mewek
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 2 balasan
kalo nikah terpaksa gitu apakah pernikahannya tetep sah di mata Tuhan?
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Lama lama juga cinta. Tinggal tunggu momentum saja.. Bisa klepek klepek banget kalo udah masuk waktunya. Lagian mas tio lu kelamaan.

Dunia itu punya batasan. Nunggu nggak ada deadline ya diembat orang..
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Diubah oleh avsel
Lihat 1 balasan
lanjutin aja udah... terima perjodohan yang tidak pernah berakhir ini...

selalu saja ada yang berkata, " emang jaman siti nurbaya dijodohin "
ente enak boy bilang gitu... coba ente diposisiku... pasti juga melakukan hal yang sama...

wkwkwkkwkk... malah curhat,,,

cerita bagus neh.,.. setia menunggu...
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan
next plis.. agaknya relate sm diriku.
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan
lanjutken.pejwan
profile-picture
profile-picture
vien26 dan umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan
sedih emoticon-Mewek
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Kumpulin jadi satu Sist biar rapi, Thread nya,
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rifada23 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bukan fiksi kan sisttt?

Lanjuttttt
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan
jadi pilih nikah atau ngga ni sis...? atau minta tempo untuk mengenal ?
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 2 balasan
duh sad😞
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Jejak Kak 😊

emoticon-Mewek
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 2 balasan
emang perlu ya nikah pake cinta ...
bukannya komitmen yang penting ...

balik lsgi definisi cinta itu apa
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan
jd pengen nikah di paksa
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ceritanya kok mencar mencar sist, jadiin satu aja
profile-picture
umiaziza memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Menikah Tanpa Cinta Part 2

Aku segera pergi ke kamar. Kuabaikan setiap tatapan tak mengenakkan. Biarkan saja mereka beranggapan aku tidak sopan.

Dalam kamar, aku hanya bisa menangis. Sebab, pesan singkatku ternyata dibalas oleh Mas Tio. Ya Allah, dada ini begitu sesak. Aku tak sanggup rasanya.

[Jika itu keputusanmu, aku bisa apa, Far? Doaku, semoga kamu selalu bahagia.]

Bagaimana aku bisa bahagia, Mas? Jika laki-laki yang akan kunikahi bukan kamu. Berdosakah aku jika saat ini berpikir untuk melarikan diri lalu menikah dengan Mas Tio tanpa restu?

Ah, tidak. Mas Tio tidak akan pernah setuju akan pemikiran gilaku ini. Aku sangat tahu laki-laki yang telah menemaniku selama empat tahun itu.

"Mas, aku harus bagaimana?" Kutatap ponsel yang berlatar foto Mas Tio dengan kepiluan. "Aku mencintaimu. Aku tidak ingin pernikahan ini," gumamku.

Beginikah hidup? Selalu mempermainkanku, padahal aku tak sedang ingin main-main. Entah, harus berapa banyak lagi air mata yang keluar karena permainan ini? Harus berapa besar luka yang membuat hati perih?

"Mas, bawa aku pergi."

"Farah!"

Tangisku terhenti saat Ibu datang dan marah tiba-tiba.

"Beginikah ibu mengajarimu? Di mana sopan santunmu? Mereka akan segera menjadi keluargamu, kamu bersikap seperti itu sama mereka. Apa kamu gak malu?" cerocosnya.

Selama ini, sosok Ibu selalu menghangatkanku. Namun, entah kenapa berubah saat ini. Biasanya, dia yang paling mengerti, tapi tidak lagi. Aku seperti hidup sendiri.

"Keluar sekarang, mereka mau pulang. Salim kek atau apa!"

"Aku gak mau, Bu. Aku gak suka keluarga itu."

"Halah, sudah. Kita selesaikan nanti. Ibu mau menemui tamu yang akan pulang." Ibu keluar dan menutup pintu dengan keras.

***

Meratapi diri adalah hal yang satu-satunya bisa kulakukan. Apa hal ini berguna? Tentu saja tidak. Namun, aku tak tahu cara bangkit saat ini. Bolehkah begini saja?

Hanya bayang Mas Tio yang bermain di pelupuk mata. Andai aku jadi menikah dengan laki-laki bernama Angga itu, bukankah ini adalah dosa besar? Ah, kepalaku serasa mau pecah memikirkan semua ini.

"Farah!"

Lagi-lagi Ibu membuatku terkejut karena datang tiba-tiba. Apakah itu sudah menjadi kebiasaannya sekarang? Biasanya, Ibu adalah sosok lembut. Jangankan marah, melotot saja hampir tidak pernah.

Kali ini, sorot mata menghangatkan itu telah menghilang. Tergantikan dengan tatapan tajam yang sarat akan kemarahan. Ibu, apa yang terjadi? Kenapa begini?

"Ibu gak habis pikir sama kamu, bagaimana bisa kamu bersikap begitu?" Ibu mengurut keningnya.

Apa Ibu sedang pusing? Sebandingkah dengan pusing yang kurasakan?

"Kalau ditanya, jawab, Far!" bentaknya.

Aku hanya bergeming. Mencoba mencari titik asal kenapa semua bisa begini. Ibu yang berubah dan perencanaan pernikahan yang tiba-tiba. Pasti ada sesuatu yang salah sebelumnya.

"Bu, kenapa begini?" Aku mencoba memberanikan diri untuk bicara. "Bu, biasanya Ibu tidak pernah membentak Farah."

"Ibu begini karena kamu sudah keterlaluan!"

"Keterlaluan yang bagaimana, Bu? Ibu tidak tau? Si Angga itu ternyata tidak bekerja. Mapan? Dari mana?" Aku tersenyum sinis.

"Halah. Kamu tau dari siapa? Sudah. Ibu sudah putuskan, pernikahanmu bulan depan. Lupakan tentang Tio, biar kamu gak nganggap Angga salah terus."

Semudah itu Ibu menyuruhku melupakan Mas Tio? Padahal, dia yang menjadi saksi betapa aku mencintai laki-laki pemilik senyum menawan itu.

"Aku gak bisa, Bu." Aku menolak dengan tegas. Sebab, rasa ini memang tak bisa dibohongi. "Aku tidak suka sama Angga."

"Sekarang kamu mikir, kamu udah umur berapa? 28 tahun, Far! Kamu mau terus-terusan dipanggil perawan tua?"

Ya, memang benar bahwa aku sering dipanggil perawan tua. Sebab, teman-teman seusiaku sudah menikah, bahkan sudah ada yang beranak dua. Namun, bukankah garis tangan setiap orang berbeda?

Pernikahanku hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Itu prinsipku. Lantas, haruskah kuserahkan seluruh hidup ini pada seorang Angga?

"Aku gak setuju sama pernikahan ini. Ibu kenapa maksa sih? Emang keluarga Angga janjiin apa sama Ibu? Harta?"

Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku. Rupanya, pertanyaanku membuat amarah Ibu semakin menjadi, terlihat dari wajahnya yang kini merah padam. Mendapatkan perlakuan itu hanya membuatku diam.

"Jangan kurang ajar ya, Far."

Aku belum pernah melihat Ibu seperti ini. Apakah wanita kesayanganku tengah kerasukan?

"Aku anakmu, Bu," lirihku.

"Untuk itu, ibu mau kamu nikah sama Angga. Kalau kamu masih merasa jadi anak ibu."

Kalimat Ibu membuat jantung seakan-akan berhenti berdetak. Bukan jawaban seperti itu yang aku harapan darinya.

"Demi apa, Bu?" Aku memandang Ibu dengan tatapan yang entah seperti apa.

"Demi masa depanmu. Biar kamu seneng."

Baiklah, jika Ibu yakin bahwa masa depanku akan bahagia dengan Angga, tiada pilihan lain selain menurut saja.
Aku mengembuskan napas kasar. Semua yang kugenggam, perlahan kulepas. Masa depan yang menjanjikan dengan Angga? Semoga keyakinan Ibu tak salah. Semoga laki-laki itu bertanggung jawab setelah memperistriku nanti.

"Baiklah, Bu. Saat ini, Farah tidak ingin diganggu. Tak ada gunanya berdebat seperti ini. Farah istirahat saja, ya."

Aku membaringkan lagi tubuh yang sudah tak bertenaga ini, berharap semoga saat terbangun nanti tak ada luka yang akan membuatku kalah. Semoga, saat aku bangun nanti, tak ada sesuatu yang akan berhasil membuatku menyerah.

Aku kuat menghadapi ini, tapi aku tak yakin bahwa akan ada bahagia yang akan singgah di hidupku nanti. Sisa harapan terakhir kini, semoga hidup Mas Tio selalu diberkahi dan dilimpahi kebahagiaan.

Inilah akhir cintaku dengan kekasih yang amat kusayangi. Namun, ini adalah awal bagiku dengan Angga, yang tak tahu akan berjalan bagaimana nanti.

***

Next?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi

Menikah Tanpa Cinta Part 3

Sebulan berlalu. Pernikahanku dan Angga benar-benar terjadi. Apa aku bahagia? Tentu saja tidak. Aku malah lebih mirip seperti pepatah. "Hidup segan, mati tak mau."

Semua orang bergembira. Berfoto ria, tertawa bersama mempelai pria. Sementara, aku? Hanya bisa tersenyum paksa.

Resepsi pernikahanku dengan Angga dimulai dari jam dua hingga jam empat sore. Tamu undangan kebanyakan berasal dari kenalannya, sedangkan kenalanku? Hanya ada dua sahabatku, Lina dan Sinta.

Dari itu semua, bukankah sudah terlihat bahwa aku tak cukup berarti. Lantas, kenapa pernikahan ini tetap terjadi?

***

Aku berdiam diri di kamar baru. Suasana yang sangat berbeda. Orang-orang di sini tak ada yang menyapa usai acara pernikahan. Aku seperti orang yang diasingkan.

Aku duduk di tepi ranjang, membelakangi arah pintu. Sebab, saat ini aku menangis. Aku tak ingin ada yang melihat sisi lemah ini.

"Kamu ngapain di situ? Di luar banyak saudaraku. Temui, kek."

Aku mengusap air mata yang membasahi pipi, lalu membalik badan. Menghadap ke laki-laki yang berbicara padaku barusan.

Aku harus memanggil laki-laki itu dengan sebutan apa sekarang? Mas? Sayang? Atau apa? Ah, masa bodoh. Aku hanya akan memanggilnya Angga.

"Baik, Ga. Sebentar lagi aku menyusul."

Angga pun segera menutup pintu kembali, tanpa sepatah kata dia pergi.

***

Aku bergabung di tengah orang-orang asing. Ada beberapa yang menyapa, ada beberapa pula yang abai. Sebenarnya, aku di sini sebagai apa? Peranku menjadi siapa? Bukankah aku sudah menjadi bagian dari mereka? Lantas, mengapa dapat perlakuan sedemikian rupa?

"Dek Farah, masih kerja setelah ini?" tanya seorang wanita. Usianya hampir sama seperti Ibu mertuaku. Mungkin dia adiknya, atau kakaknya. Lantas, aku harus panggil apa? Bude atau Bulik.

Astagah, keluarga ini tidak jelas. Seharusnya, sebulan sebelum pernikahan kemarin, aku diperkenalkan dengan seluruh keluarga agar tidak menjadi kikuk seperti ini.

"Saya tergantung Angga, Tante. Jika dia mengizinkan saya tetap kerja, ya saya kerja. Kalau tidak meng--"

"Apaan? Ya tetep kerja lah, lagian di rumah mau ngapain?" celetuk Angga.

Sungguh tidak punya etika. Belum juga selesai aku bicara, sudah dipotong begitu saja. Beginikah watak aslinya? Di depan Ayah dan Ibu, dia bersikap sangat manis.

"Ya, itu terserah kamu." Aku menjawab sinis.

"Eh, masa' pengantin baru udah marahan gitu? Nanti malam pertama loh." Wanita tadi menggoda.

Aku tak tertarik dengan candaannya. Bicara tentang malam pertama dengan Angga, aku lebih tertarik untuk mencari cara agar bisa menghindarinya. Aku tahu itu berdosa, tapi jiwa akan tersiksa jika menjalankannya.

"Ga! Pokoknya mama pengen punya cucu cepet-cepet." Ibu mertuaku berbicara dengan raut wajah cerah. Nada bicaranya seperti ditekankan.

"Siap, Ma." Angga menyanggupi begitu entengnya.

Aku tak bisa mendengar percakapan ini lebih jauh. "Farah lelah sekali, Ma. Boleh Farah kembali ke kamar?"

"Ya, pergilah!"

Alih-alih Ibu mertuaku yang menjawab, malah Angga yang mewakilinya. Dengan cara tak sopan pula. Astaghfirullah, kuatkan hamba, Ya Allah.

***

Aku merasa bosan. Meski status telah berubah menjadi istri, tapi aku merasa seperti sendiri. Padahal ini hari pertama pernikahan, seharusnya masih hangat-hangatnya. Namun, ya bagaimana lagi? Memang tak ada cinta di hati ini.

Angga tertidur memunggungiku. Aku tak masalah. Bukankah tadi aku punya pemikiran untuk menghindari malam pertama? Ya, keinginan iyu terwujud.

Dalam keheningan malam, aku mengingat Mas Tio. Astaghfirullah, aku begitu merindukannya. Ingin sekali berteriak, memintanya membawaku ke mana saja.

"Mas Tio," lirihku sembari terisak.

"Apa? Kamu manggil nama siapa barusan? Tio?"

Ya Allah, ternyata Angga belum tertidur. Dia saat ini membalik badan dan menatap padaku tajam.

"A-aku. Hmmm." Diam lebih baik saat ini. Aku tak bisa berbohong. Memang itu kenyataannya.

"Kamu nyebut nama laki-laki lain pas udah nikah begini? Mau jadi perempuan macam apa kamu?" hardiknya.

Aku bergeming. Hanya air mata yang keluar. Ingin rasanya kukeluarkan segala sumpah serapah di hadapannya. Namun, tidak bisa.

"Hey! Jawab aku!" bentaknya.

Angga mencengkeram bahuku. Sakit rasanya, tapi aku tak mengeluh. Sementara, air mata semakin deras mengalir.

Aku melihat kilat amarah di mata Angga. Menakutkan. Aku ingin pulang. Mas Tio, tolong bawa aku pulang.

Mungkin kesal karena tak kujawab pertanyaannya. Dia saat ini sudah tepat berada di atasku. Kedua tangannya kini mencengkeram pergelangan tanganku.

"Kamu sudah menjadi istriku!" tegasnya. Lalu mencoba menciumku.

Aku berusaha memberontak. Aku tak sudi dijamah laki-laki kasar semacamnya. Tak mau! Sama sekali tak mau.

Namun, apa daya. Semakin aku memberontak, semakin kuat dia menindihku. Aku kehabisan tenaga, hingga pasrah saat dia melakukan apa saja.

Dia telah menanggalkan kata suci dari tubuhku. Ya, aku seperti ternoda, kotor. Harapan menyerahkan diri ini hanya pada Mas Tio seorang pun musnah.

Angga memeperlakukanku semaunya. Aku hanya bisa menangis. Hancur hatiku, rasa sakit memenuhi seluruh tubuh.

"Sudah kukatakan, kamu istriku." Dia melempar selimut ke arahku yang saat ini sudah tak sanggup berkata-kata.

Kamu hanya memperistri mayat hidup, Ga. Tidak ada cinta bagimu! Tubuh boleh kau jamah, tapi hati sama sekali tak bisa kau sentuh. Malah, kau membuatku semakin membencimu, Ga.

Aku membenci Angga sampai ke tulang-tulang! Caranya memperlakukan perempuan, haruskah seperti ini? Aku bukan hanya pemuas nafsunya, kan?

Aku menutup tubuh dengan selimut, lalu segera ke kamar mandi. Ingin kuhapus jejak-jejak tangannya di tubuhku, meski jejak luka di hati dan ingatan tak akan pernah dihapus dengan apa pun.

Aku muntah dalam kamar mandi, merasa jijik pada diri sendiri. Akankah mati bisa menjadi solusi terbaik?

***

Next?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi

Menikah Tanpa Cinta Part 4

Aku mencari benda apa saja yang bisa membuatku mati. Aku tidak sanggup jika harus begini. Merasa jijik terhadap diri sendiri adalah titik terendah yang pernah kualami.

Tidak ada benda tajam dalam ruangan kecil dan lembab ini. Apakah meminum sabun bisa membuat orang mati? Meski cukup ragu, tapi ingin kucoba cara itu. Saat hendak menenggak sabun cair, ketukan pintu membuatku berhenti melakukan aksi.

"Kamu ngapain sih, Far? Di kamar mandi lama banget. Ibumu barusan menelepon, katanya mau ke sini sebentar lagi. Mau ngantar barang yang kamu minta katanya. Udah malam gini mau bertamu. Gak sopan."

Tanganku gemetar saat kata 'Ibu' disebutkan. Astaghfirullah ... betapa lemah iman ini, Ya Rabb. Bagaimana aku bisa memikirkan mati? Saat seorang wanita dengan susah payah melahirkanku dan berjuang untuk kehidupanku.

Aku tak harus membuat Ayah dan Ibu bersedih hanya karena seorang Angga, bukan? Orang asing yang baru-baru ini menyusup dan merenggut segala kebahagiaanku itu tak pantas merenggut hidupku juga, bukan?

Namun, bagaimana aku harus mengatasi pedih ini? Hidup sebagai istri Angga dalam waktu yang cukup lama, akankah aku bisa?

"Far! Kamu mandi apa ngapain sih? Kalau diomongin tuh nyaut!" bentak Angga dari luar.

Aku tetap diam. Sabun yang tadi hendak kutenggak, kulepas begitu saja, hingga terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara keras.

"Far! Kamu ngapain sih? Kamu gak apa-apa, kan?"

Pertanyaan itu, menunjukkan seolah-olah dia peduli padaku. Peduli apa dia? Sementara tahunya hanya menyakiti hati dan tubuhku.

"Far, jawab! Atau aku buka pintu ini paksa."

Aku melihat ke diriku yang sedang tak memakai apa-apa, jika sampai Angga masuk ke sini dengan paksa. Ah, aku tak bisa membayangkannya.

"Iya," jawabku singkat.

"Orang dari tadi panik, kamu cuma jawab iya?"

Apa lagi maunya? Bukankah yang terpenting aku sudah menjawab? Malas sekali rasanya menanggapi setiap ucapan Angga.

"Jadi istri kok ngeselin, untung Mama yang nyuruh aku nikah sama kamu. Kalau bukan, ogah aku!"

Aku menyalakan kran wastafel agar Angga tidak mendengarku menangis. Pantaskah dia berkata seperti itu padaku? Tidak bisakah dia mencoba mengerti apa yang terjadi?

Suaranya tidak terdengar lagi setelah pintu dipukulnya cukup keras. Dasar laki-laki tidak waras! Siapa juga yang mau menikah dengannya? Jika bukan memikirkan rida orang tua, aku tidak akan pernah sudi. Lebih baik aku kimpoi lari dengan Mas Tio.

Aku mengguyur tubuh dengan air dingin, berharap panas di hati ini turut mereda. Aku menangis sepuas-puasnya, meski besok mungkin akan kuulangi lagi tangisan seperti ini. Mungkin juga, kamar mandi ini akan menjadi tempat berkeluh kesah.

Usai mandi, aku membuka pintu perlahan. Mengintip ke luar. Berharap bahwa Angga tidak ada dalam kamar. Namun ternyata ... sial!

Dia melihat ke arahku yang hanya terbalut selimut yang tadi kupakai ke kamar mandi. Dia tersenyum. Apa maunya laki-laki itu? Rencana jahat apa yang ada dalam otaknya?

"Far, udah mandinya?" tanyanya ramah.

Aku hanya mengangguk. Bagiku, meski dia bersikap baik bagaimanapun juga, dia tetap terlihat seperti laki-laki brengsek menurutku. Brengsek!

Dia yang semula duduk di ranjang, kini bangkit dan berjalan mendekatiku. Seluruh darah dalam tubuh ini rasanya berdesir. Ingin rasanya melarikan diri, tapi itu bukan sesuatu yang bisa kulakukan sesuka hati.

"Kamu makin cantik kalau habis mandi, Far."

Dia menyentuh daguku, tapi aku melengos.

"Ish, muka jutek aja cantik, apalagi kalau senyum," ucapnya lagi.

"Maaf, Ga. Aku mau pakai baju dulu." Aku berusaha menjauh darinya.

Namun, tubuh ini tiba-tiba ditarik dalam dekapannya. Gila! Laki-laki ini sudah gila. Tadi dia berkata tidak sudi menikah denganku? Bolehkah aku tertawa?

Ya, tidak menginginkan pernikahan ini. Dia hanya ingin tubuhku. Begitukah keseimpulannya? Benar, kan? Lalu, mamanya menikahkan aku dengan Angga hanya agar anaknya ini punya mainan di ranjang? Cih!

Aku memegangi selimut yang menutup tubuhku dengan kuat.

"Kok gitu sih sama suami sendiri?"

Angga membelai kepalaku lembut. Namun, aku tahu bahwa perlakuan itu tidak tulus. Ucapannya yang tadi dia katakan, aku masih mengingatnya jelas.

"Maaf, Ga. Aku mau siap-siap. Katanya Ibu mau ke sini, kan?"

Aku memberanikan diri untuk melihat wajah Angga. Mata kami bertemu, tapi tak ada getaran cinta sama sekali, yang ada aku merasa mual karena mengingat kejadian  tadi.

"Iya, ibumu mau ke sini malam-malam begini. Mau ngapain coba? Gak penting."

"Aku minta Ibu mengantarkan laptop, soalnya tadi disuruh bikin desain brosur sama atasan. Besok harus selesai."

"Oh, jadi kamu mau kerja malam ini? Boleh, deh."

Aku tersenyum sinis ke arahnya. Jika menyangkut pekerjaan, semudah itu dia mengizinkan? Bahkan dia berbicara dengan senyum mengembang. Astaghfirullah. Entah ini hanya pikiranku yang selalu negatif atau apa, tapi yang pasti aku tak akan pernah menyukai Angga.

"Permisi, kalau gitu kamu bisa keluar dulu, kan? Aku mau ganti baju."

"Kan bisa ganti di kamar mandi?"

"Ya, jika ada kamu di sini, aku kesusahan untuk mencari baju."

"Memangnya, kenapa aku harus keluar? Aku sudah melihat seluruhnya darimu. Bukan hanya melihat, tapi ...."

"Hentikan!" Air mata ini lagi-lagi luruh saat mengingat kejadian menjijikkan itu. "Jangan lanjutkan lagi, Ga."

"Kenapa kamu menangis?"

Kenapa? Aku tertawa karena pertanyaan itu. Dia benar-benar tidak tahu aku kenapa? Aku sakit, sakit di hati, sakit fisik juga. Siapa penyebabnya? Dia tidak sadar? Laki-laki gila!

"Keluar saja! Aku tidak ingin banyak berdebat," ucapku sinis.

***

Next?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi

Menikah Tanpa Cinta Part 5

Ibu akan datang. Aku harus bersikap baik-baik saja, bukan? Agar tidak memberinya beban. Agar ia juga tidak menyesal karena salah memilihkanku pasangan.

Kupoleskan bedak cukup tebal di area lingkar mata, agar bulatan hitam di sana tidak terlalu kelihatan.

"Far! Cepetan, ibu kamu sudah datang."

'Ibu kamu', cukup nyeri di dada. Apakah Angga belum menerima ibuku sebagai ibunya juga? Ah, lupakanlah.

"Bentar!"

Aku segera bangkit, sudah terlalu rindu pada Ayah dan Ibu. Padahal, belum sampai sehari aku tinggal di rumah ini. Rumah? Apakah benar ini rumah? Bukannya lebih mirip neraka?

Aku berjalan gegas menuju ruang tamu. Ayah dan Ibu duduk dengan begitu tenang, tak ada yang menemuinya selain Angga. Apa Mama dan Papa sudah tidur? Kenapa tidak keluar untuk sekadar menyapa dan menyuguhkan teh hangat pada orang tuaku?

Kuseka air mata. Miris rasanya. Bagaimana bisa orang tuaku juga diperlakukan seperti itu? Jika aku saja, tidak apa. Namun, jika sudah menyangkut orang tua, bukankah sangat keterlaluan?

"Ayah, Ibu ...." Aku menyapa mereka dengan senyum hangat. Kupeluk tubuh Ibu erat. Farah rindu, Bu. Farah ingin pulang.

Usai memeluk Ibu, aku beranjak untuk masuk lagi.

"Mau ke mana lagi, toh?" tanya Ibu sembari menarik tanganku.

"Mau buatin teh Ayah dan Ibu."

"Gak usah."

Ibu menarikku untuk duduk di sebelahnya. Mau tidak mau, aku menuruti Ibu.

"Laptopnya mana?" Aku celingak-celinguk mencari laptop yang kuminta.

Ayah menepuk jidatnya. "Astaghfirullah, Ayah tinggal di mobil. Bentar, Ayah ambil."

"Biar Farah aja, Yah. Ayah duduk anteng aja."

Ibu mencegahku untuk berdiri. Lalu mendekapku sekali lagi. "Ibu kangen loh, biarin Ayah saja yang ambil. Kamu di sini saja sama Ibu."

Aku mengangguk, menyetujui permintaan Ibu. Sebab, aku juga rindu.

"Far, kamu kan pengantin baru. Masa' disuruh ngerjain tugas. Atasan kamu apa ndak paham?"

Aku tertawa karena pertanyaan Ibu. Jadi, selama ini Ibu belum tahu karakter atasanku. Jika dia mau sesuatu, dia harus mendapatkannya, tidak peduli ada berapa orang yang akan disusahkan olehnya.

"Lah, malah ketawa," protes Ibu.

"Biarin lah, Bu. Namanya juga kerja ke orang, harus nurut," jawabku singkat.

"Maka dari itu, Bu. Padahal aku ingin berduaan saja dengan Farah, Bu." Angga ikut bicara.

Berdua denganku? Hah? Tidak salah? Bukankah dia tadi berkata bahwa bagus bagiku jika aku bekerja?

Aku tersenyum, meski hati ini ingin mengumpatnya. Dasar laki-laki pembohong! Sikapnya sok manis di depan Ayah dan Ibu. Padahal ....

"Iya, Ibu pengen cepet punya cucu, loh."

Aku melihat mata Ibu berbinar, ucapannya penuh semangat saat menyebut kata 'cucu'.

"Tenang, Bu. Tadi Angga sudah ...."

Aku segera memukul bahu Angga. Kejadian tadi, itu adalah aib menurutku. Dia melakukannya tanpa cinta, sedangkan aku tak berdaya untuk melawan.

Masih terasa bagaimana sakit tubuh dan hatiku karena perlakuannya. Benar bahwa dia berhak atas diriku, tapi caranya yang kasar. Ah, entahlah ....

"Kenapa, Sayang? Kamu malu?" tanya Angga.

Sayang, katanya? Bolehkah aku tertawa? Sungguh sikap yang berbanding terbalik dengan sikap yang tadi, saat hanya berdua denganku. Bisakah aku memanggilnya 'Brengsek'?

"Orang nikah kan udah biasa begituan," ucap Angga lagi.

Tak bisakah dia diam saja? Setiap kali dia bicara, aku akan fokus pada bibirnya yang sudah menciumku paksa tadi. Aku sungguh membencinya.

"Farah masih malu-malu, Bu."

Aku ingin menyumpal mulut Angga yang sedari tadi tak bisa diam. Apa pentingnya bicara hal seperti itu? Toh, aku tidak malu-malu, tapi muak.

"Ga, udah, deh. Berhenti," tegurku.

"Kamu masih manggil Angga, Nduk? Ndak manggil dengan panggilan kesayangan?"

Ibu mengernyit, menunjukkan bahwa dia sangat tidak suka jika aku memanggil Angga tetap dengan sebutan itu. Mau bagaimana lagi? Memanggilnya dengan nama saja sudah untung.

"Padahal, aku memanggilnya dengan sebutan sayang, Bu." Angga menimpali.

"Tara, Ayah datang ...." Ayah berlari kecil, dengan sebungkus makanan di tangan kirinya dan laptop di tangan kanannya.

"Ayah kok lama bener sih?" Ibu merengut pada Ayah. Ah, pasangan itu masih tetap romantis dengan caranya yang unik. "Ibu nungguin Ayah loh, kangen."

Aku dan Ayah tertawa karena ulah Ibu.

"Ini, barusan dari toko. Beli cemilan, buat ngobrol-ngobrol." Ayah meletakkan bungkusan itu ke meja.

"Ish, Ayah. Ngobrol-ngobrol apaan? Kita harus pulang. Biar Farah cepet nyelesain tugas dan langsung istirahat sama Angga." Ibu mencubit pinggang Ayah, kulihat laki-laki itu sedikit meringis.

Andai pernikahanku semanis mereka. Ah, tidak. Ini baru sehari, bukan? Siapa tahu Angga berubah di kemudian hari? Lalu, dia berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Ya, semoga saja Angga berubah.

"Ibu sama Ayah nginep aja, ya. Udah malem gini," usulku.

Kedua orang itu menggeleng serempak. Kompak sekali mereka. "Kita pulang saja, takut mengganggu pengantin baru." Ayah bicara dan tersenyum.

Aku tidak diperlakukan sebagai pengantin baru di sini. Aku tetaplah menjadi Farah yang asing bagi mereka. Tidak ada sapaan ramah, pun tidak ada perlakuan lembut dari seorang yang kusebut suami.

Jika aku menceritakan semua yang ada dalam hati dan pikiranku, bagaimana tanggapan Ayah dan Ibu? Akankah mereka tetap memaksa untuk aku tetap tinggal di sini?

Hmmm .... Sudahlah, sepertinya aku banyak berandai-andai hari ini.

"Ayah dan Ibu pulang sekarang, ya. Itu cemilannya buat kamu aja. Buat nemenin kerjamu," ujar Ibu sembari berdiri. Ia menggamit lengan Ayah yang seolah-olah tak ingin pulang. "Ayo, Yah."

"Ayah pulang dulu, ya, Nak."

Aku mencium tangan Ayah cukup lama. Tak terasa, air mata ini luruh. Ayah membawaku dalam dekapannya. Sungguh hangat.

Jika ada laki-laki di dunia ini yang tak akan pernah menyakitiku, kupercaya bahwa dia hanyalah Ayah seorang.

Ayah, putrimu ingin pulang.

***
Next?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 3 lainnya memberi reputasi
pernah gk sih lo semua mikir semua cwo itu bajingan/brengsek, nah ini si cw mutusin cwonya buat nikah sm org lain, tp knp gk ada umpatan atau cap buruk si cwe krn udh ninggalin nikah demi "status",
yayaya gw paham nikah mo pake cinta atau eek jg pasti bakal ngEUE jg kan?? haha yg kata org bilang nikah krn di jodohin lama2 jg numbuh benih cinta..

tp pernah gk sih lo liat sudut pandang si "Tio" gmn perasaaannya? 4thn hubungan itu bkn hal yg sebentar demi meninggalkan "status", dan banyak laki2 yg terlahir dr keluarga biasa2 aja yg ia sbg laki2 harus bekerja banting stir buat nabung dan bisa nikah krn bonyoknya bkn org kaya.. dan itu butuh waktu men... nah sbg cwe knp gk bisa ngerti gtuuu dan keluarganya apalagi.. sorry ni ya harus ngegas dr cerita ini membuktikan yg brengsek itu gk cuma laki(cwe jg beserta keluarganya yg mementingkan gengsi eek)

sorry nihh gw jd curhat..krn gw sbg cwo yg lahir dr kelurga yg super B aja(kismin), yg tiap bulannya musti setor ke nyokap buat keluarga, dan gk punya modal buat kimpoi merasa sakit hati..

mau gelud silahkan gw serlok antara JKT - Bogor gw availebel, sumpah gw kebawa emosi.. yuk lah yg gk sependapat gelud..!!
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan umiaziza memberi reputasi
Lihat 8 balasan
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di