CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Sports / Liga Mahasiswa ( Lima ) /
Nasib Pelajar Tidak Kelar-kelar Selama Pandemi Virus COVID-19 Menyebar
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eee15e59a972e2f6f160132/nasib-pelajar-tidak-kelar-kelar-selama--pandemi-virus-covid-19-menyebar

Nasib Mahasiswa Tidak Kelar-kelar Selama Pandemi Virus COVID-19 Menyebar

Nasib Pelajar Tidak Kelar-kelar Selama Pandemi Virus COVID-19 Menyebar(foto diambil dari nasib mahasiswa tingkat akhir saat pandemi covid-19 tirto.id)
Pandemi Koronavirus 2019-2020 atau dikenal sebagai pandemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya penyakit koronavirus 2019 diseluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi dikota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019 dan ditetapkan sebagai pendemi oleh organisasi kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020 hingga 23 April 2020.

Setelah ditetapkan sebagai pandemi global WHO selama lebih dari satu bulan lalu, wabah virus corona atau pandemi covid-19 masih terus menyebar. Beberapa kasus muncul sudah menginfeksi lebih dari dua (2) juta Manusia. Selama hampir empat (4) bulan sejak virus corona jenis baru terdeteksi di Wuhan, China, pada akhir 2019, berbagai istilah muncul soal pandemi ini.

Tidak jarang istilah-istilah yang digunakan ini dipahami secara berbeda sehingga berpengaruh terhadap implementasi langkah-langkah yang dilakukan. Beberapa istilah yang sering digunakan seperti pengujian massal, jumlah kasus, hingga angka kematian. Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi yang sangat berbeda. Disisi lain juga terdapat istilah-istilah muncul selama pandemi covid-19 yaitu didunia pendidikan.

Banyak kejadian yang terjadi didunia pendidikan terhadap para mahasiswa yang mengalami keresahan dalam perkuliahan sejak munculnya virus. Ini karena pelbagai hal yang dihadapi secara berbeda dengan cara kuliah mereka sebelumnya, yaitu saat tidak terjadi apa-apa. Perubahan pendidikan mereka semakin tidak dimengerti hingga metode perkuliahan harus diganti dengan cara daring (online) guna untuk memenuhi peraturan dari pemerintah agar supaya tidak semakin luas penyebaran virus corona tersebut dalam ranah pendidikan, mulai dari menjaga jarak satu sama lain, mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan mengganti pakaian saat melakukan aktivitas daari luar.

Dan ini masih dalam peraturan pemerintah yang mereka resahkan, disamping itu banyak sekali keresahan-keresahan yang mereka hadapi untuk memenuhi kebutuhannya dalam dunia pendidikan, termasuk yang mereka lakukan adalah bagaimana cara untuk bergabung dimedia masa dengan cara mencari alat yang berupa smartphone guna untuk memenuhi perkuliahan dari instsitute atau lembaga masing-masing sementara sebagian mereka banyak yang sulit untuk mendapatkannya karna faktor ekonomi yang mereka punya, setelah itu mereka harus mempunyai pulsa atau paketan karena perkuliahan tidak akan berjalan kalau tidak ada pulsa atau paketan tersebut.

Lagi-lagi ini membuat para mahasiswa semakin terbebani dalam hidupnya, alat-alat mahal yang bagi mereka sulit untuk dimiliki akhirnya terpaksa sebagian mereka harus mencari, walaupun harus berhutang kepada orang lain mereka tetap lakukan karena kalau tidak ada alat itu mereka tidak akan bisa kuliah atau bahkan ketinggalan dari yang lain. Belum lagi mereka harus memikirkan pulsa yang harus mereka punya selama pendidikan berlangsung, sangat membuat para mahasiswa tersudut jauh dari apa yang harus mereka pikirkan.

Ada beberapa contoh kasus nasib para mahasiswa salama pandemi covid-19 menyebar, diantaranya :

Nasib Pelajar Tidak Kelar-kelar Selama Pandemi Virus COVID-19 Menyebar
(gambar hasil screenshot artikel detik.com)

1. Ada enam mahasiswa asal sukabumi, Jawa Barat (JABAR), yang berkuliah di Universitas Mulawarman menghadapi kesulitan ekonomi ditengah pandemi corona (COVID-19). Keenamnya mencari nafkah di Samarinda, kalimantan timur (KALTIM), lantaran tidak ada kiriman uang dari orang tua.

Agus firman, salah satu dari enam mahasiswa tersebut, mengaku bertahan disamarinda karena tidak mau ketinggalan mata kuliah. Bersama lima rekannya yang lain, mereka memilih tetap berada di kontrakan di jalan pemuda 2, Samarinda.

”mahasiswa jabar sebenarnya ada 11 orang. Lima orang lainnya sudah pulang ke kampung halaman, tapi kami tidak,”kata agus saat di temui dikontrakannya kemaren, Jum’at (17/4/2020).

Sejak hijrah kuliah ke samarinda, agus bekerja sebagai pelayan sebuah restoran. Namun, karena pandemi virus COVID-19, restoran itu terpaksa tutup.  Sudah sebulan terakhir, agus dirumahkan. Tidak ada pemasukan, sementara untuk hidup, mereka membutuhkan biaya untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya.

“persediaan makanan kami mulai menipis. Harus diirit sebisa mungkin karena tidak ada pemasukan sama sekali”katanya.

Kebutuhan semakin banyak dari nasib agus dan lima teman yang lain karena sulitnya mencari uang untuk mendapatkan penghasilan sebagai kebutuhan hidupnya.

Nasib Pelajar Tidak Kelar-kelar Selama Pandemi Virus COVID-19 Menyebar
(gambar hasil screenshot dari artikel news.unimal.ac.id)
2. Selain itu, juga terjadi di Universitas Malikussaleh (Unimal) ternyata beberapa mahasiswa ikut meresahkan kehidupan dalam menempuh pendidikan kuliahnya karena bagi mereka dengan datangnya pandemi COVID-19 ini membuat mereka bosan kuliah, hal ini terungkap dalam curhatan mahasiswa daring, Jum’at (15/5/2020).

Banyak mahasiswa mulai mengeluhkan proses perkuliahan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.

“saya kebingungan apabila mendapat tugas dari dosen, karena semua dosen kasih tugas dan tugasnya itu sangat banyak, ada dosen yang kasih tugas menggambar, ada yang suruh meringkas atau meresume buku, dan ada juga dosen yang menyuruh kita membuat karangan sendiri,”keluh Muhammad abrar, Mahasiswa Teknik Sipil Unimal.

Tambahnya yang lebih membingungkan lagi, kadang-kadang tugas diberikan sudah melebihi kapasitas. “Belum siap tugas yang satu, saya sudah mendapatkan tugas yang lain, itu belum lagi tugas saya dirumah. Dirumah saya harus disiplin membagi waktu antara membuat atau mengerjakan tugas perkuliahan dan membantu pekerjaan orang tua dirumah karena untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lain,”tandasnya.

Berbeda dengan teman lainnya yang sulit akan signal diberbagai rumah sehingga membuat tugas selalu telat dan terkadang tidak jelas, ini membuat mereka semakin resah karena mau tidak mau mereka harus menunggu serta mengerjakan tugas meskipun selalu ketinggalan, belum lagi kuotanya yang selalu terkuras dan membuatnya mengisi ulang setiap minggu untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Kebijakan kampus melakukan tindak lanjut terhadap para mahasiswa untuk diberikan subsidi buat kuliah, dan mereka sebagian bersyukur karena sudah mendapatkan kuota gratis, dan juga ada sebagian yang kecewa karena subsidi dari kampus tidak terkirim-kirim akibatnya koneksi, persyaratan untuk bisa menerima kuota, serta alat yang mereka miliki tidak bisa melancarkan persyaratannya untuk mendapatkan kuota gratis dari pihak kampus.

Keresahan mereka tetap berlanjut hingga kini, keadaan memaksa yang mebuat mereka terpaksa hingga tidak bisa lari dari kenyataan yang mereka hadapi. Kebingungan semakin singkat mereka pikirkan, kebutuhan satu dan kebutuhan lainnya menjadi beban berat yang tidak terselesaikan. Nasib mereka semakin terjungkil dan keresahan semakin terpikir dalam dunia pendidikan yang sampai sekarang sulitnya tiada berakhir.

Diubah oleh dikygurau


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di