CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Tulang Rusuk Tidak Pernah Salah Tempat | Cerpen
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eed6ee988b3cb16ce4ce7b2/tulang-rusuk-tidak-pernah-salah-tempat--cerpen

Tulang Rusuk Tidak Pernah Salah Tempat | Cerpen

Beberapa orang terlihat gaduh, berdiri di depan pintu. Salah satu dari mereka berulang-ulang menyebut nama 'Anisa', dua orang saling bergantian mengikuti, sedangkan yang satunya lagi berusaha mendobrak.
Ketika dobrakan yang keempat dilakukan, pintu terbuka. Terlihat Anisa sedang duduk di bawah shower dengan tangan memegang pisau. Untungnya belum terjadi apa-apa.
"Ya Allah, Anisa ... apa yang kamu lakukan, Nak?"
Seorang wanita paru baya menghampiri, mematikan keran, berlutut–memeluk anak gadisnya yang sedang menangis. Satu orang yang tadi membawakan handuk, membantu wanita paru baya itu memapah anaknya ke kamar.
Gadis itu bernama Anisa Safitri. Berumur dua puluh lima tahun. Keadaan dia saat ini sedang mengalami depresi karena pernikahannya gagal untuk ke tiga kalinya.
Pernikahan pertama gagal karena calon suami Anisa meninggal dunia karena kecelakaan. Padahal besoknya acara ijab kabul. Ia sudah merelakan yang namanya takdir tidak bisa dicegah ataupun ditunda.
Tulang Rusuk Tidak Pernah Salah Tempat | Cerpen
Pernikahan yang kedua gagal karena ibu dari calon suami Anisa mengalami sakit keras, lalu menundanya. Namun, sampai saat terlupakan tidak juga ada kabar darinya.
Pernikahan yang ketiga ini yang paling menguras emosional Anisa karena calon suaminya kabur, ketika acara sudah di depan mata. Bagaimana malunya dia saat ingin ijab kabul pengantin pria tidak datang.
"Ma ... salah nisa apa? kenapa seperti ini?" tanya Anisa pada Mamanya.
"Sabar, Nak. Mungkin nanti Allah memberikan yang terbaik buat, Nisa. Jadi, kamu gak boleh ngelakuin hal yang seperti tadi, ya!" jelas Mama Anisa.
Dua jam sebelumnya, sembilan puluh sembilan persen pernikahan sudah siap. Anisa mengenakan gaun kebaya sedang duduk menunggu kedatangan pengantin pria, termasuk penghulu dan tamu undangan yang menyaksikan. Satu jam berlalu, pria itu tak kunjung tiba.
Kabarnya pria tersebut kabur beserta keluarga. Entah motifnya apa yang jelas membuat pernikahan dibatalkan. Anisa terpukul lagi-lagi gagal. Ia pergi ke dalam rumah, mengambil pisau buah yang tergeletak di meja, lalu mengurung diri di kamar mandi.
Setelah Anisa tenang, mereka yang membantu, satu persatu pergi dari kamar, menyisakan Mama dan dirinya. Cairan bening masih mengalir, melewati pipi. Sesekali di hapus dengan tangannya ataupun tisu dari sang Mama.
Mama memanggil pengrias untuk membuka gaun kebaya serta atribut yang ada di seluruh tubuh Anisa. Setelah itu, ia mengganti pakaian biasa agar bisa istirahat dengan leluasa.
Keadaan di luar masih ramai. Sebagian tamu sudah pulang, sebagian lagi tetap berada di tempatnya. Kebanyakan dari mereka para tetangga yang membantu proses acara.
Anisa merebahkan tubuhnya di kasur dengan mata terpejam. Mamanya juga ikut berbaring di sebelah untuk menemani. Tubuh dia gemetar menahan tangisan.
"Menangislah yang banyak, Nak. Setelah itu, kembali ceria lagi," ucap Mama disela-sela pelukannya.
"Ma ... apa ini balasan untuk nisa?" tanya Anisa.
"Jangan bicara seperti itu. Allah sedang menguji kita dan mungkin Allah juga mempersiapkan imam yang lebih baik lagi buat kamu," bantah Mama menenangkan pikiran anaknya.
Anisa mengangguk, pikirannya menerawang kelima tahun yang lalu. Dimana dia masih berumur dua puluh tahun. Baru saja lulus dari perguruan tinggi dan sedang mencari pekerjaan.
Anisa gadis baik serta cantik itu, siapa yang tidak mengenalnya. Ia pintar, bergaul tanpa memandang status dan derajat. Ia juga ramah sama semua. Belum lagi dia royal pada orang tidak mampu.
Anisa mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan garmen. Ia ditempatkan di bagian keuangan sesuai dengan gelarnya. Pada awalnya belum bisa menyesuaikan. Namun, lama kelamaan semakin piawai.
Beberapa bulan berlalu, Anisa benar-benar menikmati pekerjaannya. Ia selalu berhasil menyocokan pengeluaran dengan pemasukan perusahaan. Bahkan ia dapat pujian dari direktur, saat menemukan sesuatu yang keluar dari jalurnya.
Saat itu, Anisa berselisih dengan bagian lain dari perusahaan karena mencurigai adanya jalur yang tidak sesuai dengan pembukuan. Ia berusaha berlaku sopan untuk tetap menghormati seniornya itu.
Akan tetapi, sikap senior Anisa itu membuat dia semakin kelihatan jika ada yang tidak beres. Selidik demi selidik, akhirnya terungkap. Memang orang itu melakukan sebuah kecurangan.
Beberapa hari setelah terungkap, Anisa tidak pernah lagi melihatnya. Mungkin karena sudah dikeluarkan dari perusahaan. Keadaan kembali tenang, ia melanjutkan pekerjaan utamanya.
Hari ini, Anisa sedikit datang terlambat, karena motor yang dikendarainya mogok. Ia langsung berjalan cepat ke ruangannya. Namun, saat membuka pintu langkahnya terhenti. Ia terkejut, melihat ada banyak orang di dalam, termasuk direktur.
"Kamu baru datang?" tanya direktur.
"Iya, Pak. Motor saya mogok, tapi tadi sempat kasih tahu bagian SDM," jelas Anisa.
Direktur mengangguk, lalu memperkenalkan dua orang asing kepada Anisa. Namanya Bagas dan Lutfi. Mereka akan menggantikan posisi senior yang dikeluarkan itu.
Setelah perkenalan itu, Anisa lebih sering berpapasan dengan Bagas. Tidak sengaja maupun disengaja datang ke bagiannya untuk menanyakan beberapa pekerjaan.
Bulan berganti bulan, hubungan Anisa dengan Bagas semakin dekat. Mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Mama Anisa juga mengetahui kedekatan anak gadisnya dengan lelaki tampan itu.
"Bagaimana jawabannya?" tanya Bagas ketika sampai depan rumah Anisa.
"Beri aku waktu lagi. Bisa?" Beberapa hari yang lalu, Bagas menyatakan perasaannya. Ia mengangguk, lalu menyuruh Anisa untuk masuk lebih dulu. Setelah itu, ia pergi.
Seminggu berlalu. Entah kenapa moment yang seharusnya diinginkan oleh Anisa malah menjadi tersingkirkan. Bagas beserta orang tuanya datang ke rumah untuk melamarnya. Namun, ditolak dengan alasan dia ingin mengejar impiannya dulu.
Memang benar, bertepatan dengan itu, Anisa diangkat menjadi supervisor di cabang Bandung. Dia sudah terlanjur menyanggupi persyaratan yang salah satunya untuk tidak menikah dulu selama satu tahun.
Setelah penolakan itu, hubungan Anisa dengan Bagas merenggang. Hanya saat berpapasan saja mereka saling menegur. Sampai pada hari–H tiba, dia berpamitan.
Waktu berlalu sangat cepat, tidak terasa satu tahun berlalu. Anisa balik ke perusahaan pusat dengan jabatan yang berbeda. Berharap bisa bertemu kembali dengan Bagas. Namun, sayang lelaki itu sudah keluar. Entah di mana keberadaannya.
🌷🌷🌷
Anisa terbangun dengan wajah sembab, dilihatnya sekeliling kamar. Berharap kejadian tadi pagi hanyalah mimpi. Namun, ia tersadar bahwa itu nyata karena dinding kamar masih dilapisi dengan tirai pengantin.
"Ya Allah," ucap Anisa sembari mengusap wajahnya pelan, "astaqfirullah halazim ...."
Menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. Anisa beranjak–keluar dari kamar, mencari Mama tercinta. Satu-satunya orang yang bisa menenangkan dirinya. Kalau saja Ayahnya masih ada di dunia, mungkin akan lebih selektif memilih lelaki baik.
Lima bulan berlalu, keadaan Anisa sudah membaik. Ia bertekat untuk tidak langsung percaya begitu saja dengan kebaikan orang. Apalagi seorang laki-laki. Sudah cukup tiga kali saja kegagalannya dalam pernikahan.
Saat ini, dia sedang berada di salah satu mall daerah Jakarta. Kata orang jalan-jalan sendirian, tidak mengasyikkan, tetapi bagi Anisa hal itu sangat menyenangkan. Dimana dia bisa leluasa ke sana-ke sini tanpa harus menunggu yang lainnya selesai berbelanja.
Satu jam tidak terasa Anisa berjalan mengelilingi satu lantai mall. Lelah terasa ia memutuskan untuk mengisi perutnya yang lapar. Memasuki sebuah rumah makan, mencari tempat duduk yang nyaman.
Setelah mendapatkan tempat duduk, Anisa memesan makanan untuk satu porsi. Selama menunggu, ia memandang ke luar jendela yang berada di sebelahnya.
"Anisa ... iya benar kamu Anisa." Suara seseorang mengusik kesendiriannya. Ia menoleh dengan sedikit terkejut.
"Ba–Bagas," panggil Anisa terbata.
Bagas mengangguk, lalu duduk di hadapan Anisa. "Kamu apa kabar?" tanyanya.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?"
Bagas menaikan bahunya. "Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja," ujarnya santai.
Makanan yang di pesan Anisa datang. Dia menawarkan menu yang ada di meja pada Bagas. Namun, ditolaknya karena tadi sebelum ke sini sudah makan.
"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Bagas menatap Anisa yang sedang makan.
"Aku sendiri." Anisa menatap Bagas sembari mengunyah.
"Hm ... gak sama pacar?" tanya Bagas lagi.
"Mana punya pacar." Anisa tersenyum. Mungkin, Bagas belum tahu kejadian yang terjadi lima tahun lalu. "Kalau kamu?"
Bagas menunjuk seorang anak kecil dan seorang wanita yang duduk tidak jauh dari tempatnya. "Sama mereka," ungkapnya.
Anisa tersenyum bersamaan dengan hatinya yang sakit. Namun, tidak apa-apa. Allah mengabulkan doanya untuk bertemu dengan Bagas. Niatnya hanya satu untuk meminta maaf atas penolakan waktu itu.
"Wah ... cantik seperti ibunya." Bagas mengangguk, sependapat dengan Anisa. "Kenapa gak disuruh gabung, nanti istri kamu salah paham," ucapnya lagi.
"Hm ... istri?" Bagas mengangkat sedikit kepalanya dengan bibir membentuk huruf O. "Wanita itu bukan istri aku, tapi sepupu aku. Kalau anak kecil itu anaknya. Mereka lagi liburan ke Jakarta dan minta aku untuk mengantarnya ke sini," jelas Bagas.
"Oh, maaf. Jadi salah sangka," ucap Anisa sembari tertawa.
Mereka berbicara sebentar sebelum Bagas pamit pulang. Untungnya sempat bertukar nomor ponsel jadi Anisa bisa memintanya kembali bertemu untuk meminta maaf.
Dua minggu berlalu. Komunikasi antara Anisa dan Bagas berjalan dengan lancar. Dia juga sempat meminta maaf melalui telepon sebelum melanjutkan cerita tentang dirinya selama lima tahun ini.
Bagas pun melakukan hal yang sama bercerita mengenai dirinya selama ini. Namun, sedikit berbeda. Ternyata dia masih menunggu Anisa menerima lamarannya.
Waktu itu, bukan Bagas mau melarikan diri, tetapi dia ingin memantapkan hidupnya. Setelah mapan, dia kembali menampakan dirinya dihadapan Anisa.
Semakin lama keduanya semakin dekat. Anisa pun sudah membuka hatinya kembali. Ia percaya pada Bagas. Lelaki itu dapat dipegang janjinya.
Seperti sekarang yang dilakukan Bagas dan orang tuanya. Mereka datang ke rumah bermaksud untuk melamar Anisa, dan tanpa ragu Anisa, Mama, beserta keluarga besarnya menyetujui. Pernikahan akan berlangsung tiga bulan kedepan.




GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di