CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eec77c97e3a720c456bb805/kemerlip-cinta

Kemerlip Cinta

1. Lelaki Syair

Masih tentang lelaki dengan sisa cinta, pemilik kalimat sutera yang di ikatkan pada saung angin. Aku mengerjap ketika beberapa kosa kata menyorot memaksa bertentang mata, seperti pernah dekat di masa bernama de javu. Entah kapan. Sebagian pun tidak terasa asing, melelahkan.

Suatu perjalanan lantas hapuskan batas, tidak dengan jarak. Ada sungkan menggelayut jenuh tiap-tiap singkat bertukar kalimat. Mungkin ia mengerti gugup begitu antusias cederai lugas yang berhati-hati mengejar bayangan, atau isyaratku ini terlalu bodoh mengelabuhi jemari peka itu. Oh, senyumnya lembut nan misteri, luwes lajukan detak yang kehilangan kendali.

Dia sepucuk sabit berwarna putih megah, aku tak mungkin menyentuh.

Dia angin musim kemarau pembawa syair berwarna air, aku tidak bisa membantah.

Tetapi sikap hangat itu perlahan menggamit perubahan, gingsir. Begitu baik supaya aku hentikan harapan-harapan gila, kembali berkaca di kebeningan nalar yang hening, harusnya. Kenapa justru sakit? Seperti kehilangan sesuatu yang tertatih kuperoleh.

Andai sekali ia sudi singgah lagi ....

Ponorogo, 19 Juni 2020
Kemerlip Cinta


2. Satu Waktu Yang Bicara

Satu pelabuhan waktu dekatkan ia sebagai semilir, di mana senda adalah kesejukan bertukar kata-kata. Berdua, berhamburan, lalu hilang terserap jejak pelukan kasunyatan. Tidak ada perdebatan bererti menuai usai, sebab luput tancapkan bunga padma penanda janji ketika itu.

Yang terjalin adalah pergantian siang menuju malam, sederhana enggan mengambil soalan pengukir pamit di titik keluh. Memangnya apa yang bisa diharap dari pemilik sunyi, bertubuh angin, bermahkota dedaun kehijauan ... kecuali persinggahan memeluk misteri untuk diri sendiri. Ia pun bagian dari semesta yang hanya sampai di kerjapan mata.

Meski alam selalu melangkah dari pasif, seribu satu cara jarak terjaga tetap menjauh. Cinta, rindu seperti gelembung berwarna pelangi penghanyut tawa bocah perempuan bermata biru. Aku bahkan tidak tertarik mengulur sapa.

Ia datang dari lautan radar yang jauh, aku mampir tersebab nalar yang jenuh. Untuk apa bersungguh?

Wahai peniup seruling di sisi utara, yang tembang asmaradahana terbawa semilir ke pucuk-pucuk kosa kata, usah bersorak perihal gingsir keteguhan hati. Bukan engkau pun ia melebih karib terpilih.

Ponorogo, 18 Juni 2020
[Kemerlip Cinta
Diubah oleh syerrilelizhafa


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di