CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Ana Uhibbuka Fillah - 5. Pertemuan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eeb8a139a972e3ec22e0619/ana-uhibbuka-fillah---5-pertemuan

Ana Uhibbuka Fillah - 5. Pertemuan

5. Pertemuan

.

Kutatap langit-langit kamar. Ada gambaran wajah di sana. Wajah yang beberapa hari ini memenuhi ruang hatiku. Wajah tegas, yang terpancar kelembutan.

Ustadz, kudengar kau masih sendiri? Salahkah jika aku mengagumimu, lebih dari, seorang guru?

Masih ingat saat pertama kali aku melihatnya. Sorot mata yang menginterogasi, tapi mampu meluluhlantahkan pertahanan hati yang selama ini kujaga dengan rapi.

Kadang hati merasa bersalah pada Abah, sosok yang selama ini selalu kukagumi. Padahal, aku sudah berjanji padanya, untuk selalu menjaga hati ini, agar tidak berpaling darinya. Tapi apa daya, rasa ini muncul dengan tiba-tiba, tanpa sempat aku mencegahnya.

Maafkan Aisyah, Abah. Sudah berpaling hati dari Abah, mengagumi laki-laki yang belum menjadi mahromku.

Terdengar suara pintu terbuka, aku pun segera mengubah posisi menjadi duduk. Terlihat Mbak Salma menghampiri.

"Aisyah, dipanggil sama Ummi," ucapnya, setelah duduk di sampingku.

"Ummi Khaddijah?" tanyaku.

"Iya, memangnya siapa lagi? Di sini hanya beliau yang di panggil Ummi," terangnya.

"Ada apa ya, Mbak? Apa aku membuat kesalahan?" tanyaku, panik.

"Nggak tau, Isy. Kesana saja, nggak usah takut. Apa mau aku temani?" tawarnya.

"Memang Mbak Salma nggak sibuk?"

"Enggak, pekerjaan di rumah Abah Yai sudah selesai."

Ya, Mbak Salma adalah salah satu santri ndalem, yang ditugaskan membantu pekerjaan di rumah Abah Yai.

"Maaf ya, Mbak. Jadi merepotkan,"

"Nggak papa. Ayo!"

Saat kami hendak keluar dari asrama, tiba-tiba Dinda dan Fika menghampiri.

"Eh, kalian mau kemana?" tanya Dinda.

"Ke rumah Abah Yai," jawabku.

"Ikutan dong. Kali aja bisa cuci mata, ya nggak, Fik?"

"Hu'um, siapa tau bisa ketemu sama Gus Ilyas, yang gantengnya Maa Sya Allah ...," Fika menerawang sambil senyum-senyum.

"Heh, yang namanya cuci mata tuh pake air, bukan liatin laki-laki yang bukan mahromnya," cibir Salma.

"Atau kalau nggak bisa ketemu sama kang ndalemnya, Ustadz Farhan misalnya. Aaa ... udah nggak sabar nih," Dinda begitu antusias.

"Sekalian aja ketemu sama ustadz galak, biar kalian dimarahin baru tau rasa!" ujar Salma, sepertinya dia tidak suka dengan tingkah kedua temannya itu.

"Iihh ... ngeri," Dinda bergidik, "tapi, boleh juga ding. Ganteng juga dia, walaupun galak sih," imbuhnya.

"Dan, cool!" tambah Fika.

Sangkin penasaranya, aku ikutan nimbrung. "Emang, siapa ustadz galak yang kalian maksud?"

"Siapa lagi kalau bukan Ustadz Yusuf?" jawab ketiganya hampir bersamaan.

Ah, nggak galak juga, kok. Batinku menyahut.

Aku pun hanya menggangguk tanda mengerti, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan ketiga bidadari itu beradu mulut. Fokus pikiranku hanya satu, kenapa aku dipanggil oleh Ummi Khaddijah?

.

Rupanya Ummi Khaddijah hanya mengatakan kalau beliau ingin aku menjadi santri ndalem, seperti Mbak Salma. Membantu beberapa pekerjaan di rumah beliau. Dan tugasku berada di bagian dapur, membantu para pengurus santri lainnya menyiapkan makanan.

Saat aku hendak menggapai handle pintu, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam. Refleks aku membukanya.

Betapa terkejutnya, saat mendapati wajah seseorang yang beberapa ini selalu melintas di pikiran, berada tepat di hadapan, dengan tatapan yang ... entah.

Aku pun segera tersenyum, menghilangkan kecanggungan. Kemudian menunduk, menyembunyikan rasa panas yang kian menjalar di pipi.

"Kamu, Aisyah?" tanyanya, seperti mengingat-ingat.

"Iya, Ustadz. Maaf, saya harus segera pergi. Assalamu'alaikum," pamitku, setelah menjawab pertanyaannya. Aku pun segera berlalu, takut-takut kalau dia menyadari wajahku sudah semerah tomat.

"Wa'alaikumsalam," terdengar suaranya menjauh, seiring langkahku yang semakin menjauhinya.

Aku takut, kalau rasa ini makin menjadi. Membuatku semakin kehilangan kendali, dalam menjaga mata dan hati.

Aku pun segera mengajak Mbak Salma, Dinda dan juga Fika untuk kembali ke asrama. Selama perjalanan, aku menceritakan alasan kenapa aku di panggil oleh Ummi Khaddijah.

"Serius kamu di suruh jadi santri ndalem sama Ummi Khaddijah?" tanya Fika, tidak percaya.

"Iya, memangnya kenapa?" jawabku.

"Alasannya?" Kini Dinda yang bertanya.

"Ya, sederhana saja, biar Mbak Salma ada temennya," jawabku, melirik Mbak Salma yang berjalan di sampingku.

"Nggak ada yang lain?" tanya keduanya, diiringi tatapan curiga.

"Entahlah, yang beliau katakan hanya itu," terangku. Sementara dalam hati terus bertanya, sebenarnya apa alasan  beliau yang sesungguhnya? Sedangkan aku masih santri baru di sini.

.

Seusai shalat isya, aku melanjutkan membaca Al-Qur'an bersama dengan yang lainnya di masjid. Setelahnya, kami segera pulang ke asrama dan masuk ke kamar masing-masing.

Di ranjang ini, aku menatap ke luar jendela. Kebetulan jendela kamarku menghadap persis ke depan rumah Abah Yai.

Masih kuingat siang tadi, saat kulihat dirinya keluar dari rumah itu. Berjalan dengan tatapan sayu, entah apa yang tengah mengusik hatinya. Kurasakan ada yang bergetar di sini, menahan sesak yang kian menjalar menguasai hati.

Ingin aku menemuinya, sekedar bertanya ataupun menghibur. Tapi nyaliku tak sebesar itu, hingga harus kupendam kembali keinginan itu. Aku sadar, apalah arti diriku baginya. Mungkin hanya sekedar muridnya, atau mungkin, tidak berarti sama sekali.

Tiba-tiba pikiranku kembali melayang, mengingat kembali beberapa kalimat yang diucapkan oleh Ummi.

"Aisyah, apa kamu keberatan kalau Ummi memintamu membantu pekerjaan di sini?" tanya beliau dengan hati-hati.

"Tentu tidak, Ummi. Kata Ummah, mengabdi di rumah Abah Yai adalah suatu keberkahan, jika itu dilakukan dengan ikhlas," jawabku.

"Alhamdulillah, tidak salah aku memilihmu, Nak," ujar beliau sambil mengelus kepalaku di balik jilbab.

"Ternyata kau mengajari anakmu dengan sangat baik, Rahma. Sama seperti dirimu dulu," gumamnya lagi, hampir saja tidak terdengar, kalau aku tidak mendengarkan dengan jeli.

"Ummi mengatakan sesuatu?"

"Ah, tidak. Terima kasih ya, kamu mau menerima permintaan Ummi," ujarnya, mengalihkan pembicaraan.

Aku pun mengangguk, walau dalam hati masih tersimpan banyak pertanyaan.

***

Bersambung
Diubah oleh erisna3363


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di