CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
HOROR ROMANTIC: Dedemit Penunggu Batu Angker
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eeb1042c8393a55140486d1/horor-romantic-dedemit-penunggu-batu-angker

HOROR ROMANTIC: Dedemit Penunggu Batu Angker

HOROR ROMANTIC: Dedemit Penunggu Batu Angker
Sinar mentari pagi nampak cerah, udara segar terasa menyejukkan. Suasana hangat menyelimuti kediaman tempat tinggal Cindy Kumala Sari. Pohon-pohon yang rindang disekelilingnya turut menambah keasrian tempat tersebut.

Cindy bangun pagi-pagi sekali, kebetulan hari itu ia ada tugas kampus yang harus segera diselesaikan. Didepan pintu pagar terlihat Arvin sudah lama menunggu.

Keduanya adalah sepasang suami istri namun tinggal terpisah karena Cindy harus mengurus ibunya yang sedang sakit sementara Arvin bekerja paruh waktu diluar kota. Keduanya sama-sama menimba ilmu disalah satu perguruan tinggi di semarang.

Cindy bergegas menghampiri Arvin.

"Sayang ... kita berangkat sekarang aja yaa, supaya kita ngga terlambat ke kampus," ucap Cindy seraya menyapa Arvin.

"Iya sayang," balas Arvin.

Arvin pun kemudian memacu sepeda motornya dengan cepat menuju ke arah kampus.

Didalam ruang kelas, nampak Pak Handoko sudah menunggu mereka. Pak Handoko adalah dosen biologi dikampus tersebut. Arvin dan Cindy kebetulan sedang melakukan riset untuk skripsi mereka. Keduanya di tugaskan oleh Pak Handoko untuk mencari tanaman herbal langka dihutan.

Dirumah Cindy sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan mereka pergi besok.

"Kriing ... kriing ..." terdengar suara bunyi ponsel Cindy berdering.

"Sayang, sekarang aku udah ada diluar nih!" ucap Arvin.

"Oh iya sayang ... aku segera keluar yaa," jawab Cindy seraya bergegas pergi.

Sebelum berangkat mereka berpamitan dulu dengan kedua orang tua Cindy.

Hari itu mereka pun memulai perjalanannya menuju ke sebuah hutan yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota.

Hutan tersebut merupakan hutan mati dan hanya terdapat beberapa spesies tanaman saja yang bisa ditemukan ditempat seperti itu.

Hari terlihat mulai gelap ketika keduanya tiba dihutan.

"Sayang ... berhubung hari sudah gelap, malam ini kita tidur di sini aja yaa," ajak Arvin

"Iya sayang ..." jawab Cindy mengangguk.

Arvin bergegas memasang tenda untuk tempat mereka beristirahat malam itu.

Keesokan harinya, mereka pun mulai mencari keberadaan tanaman herbal bunga orchid tersebut.

Mereka terus dan terus saja berjalan menyusuri hutan belantara itu, hingga tanpa disadari arah langkah kaki keduanya semakin jauh memasuki hutan. Namun bunga herbal yang dicari itu tak kunjung mereka temukan.

Merasa lelah Arvin dan Cindy memutuskan untuk menghentikan pencarian. Mereka lantas beristirahat dibawah sebuah pohon besar yang daunnya sudah terlihat gundul.

Malam kembali tiba ... dua hari sudah Arvin dan Cindy berada didalam hutan kematian. Entah mengapa suasana malam itu begitu terasa berbeda.

Hawa dingin dengan hembusan angin yang sangat kencang disertai suara lolongan Anjing malam seakan menambah keangkeran hutan tersebut.

"Sayang ... aku takut sekali nih, kenapa malam ini begitu aneh yaa, suasananya tidak seperti malam kemaren?" ucap Cindy seraya memegang erat pergelangan tangan suaminya itu.

"Kamu harus tenang sayang ... semuanya akan baik-baik aja kok, besok kita lanjutkan kembali yaa supaya kita bisa lekas pulang." jawab Arvin.

Lewat tengah malam suara lolongan Anjing semakin Cumiakan telinga. Suasana pun kian mencekam. Dari kejauhan terdengar samar-samar suara langkah kaki seperti diseret ... membuat bulu kuduk semakin merinding.

Arvin terjaga ... ia pun beranjak keluar dari bilik tenda untuk memastikan suara apa yang ia dengar barusan, namun ia tak menemukan adanya hal yang aneh disekelilingnya.

Malam berganti pagi, sinar mentari tampak cerah. Dihari ketiga ini Arvin dan Cindy akan melanjutkan kembali perjalanan mereka menyusuri hutan demi menemukan bunga herbal yang dicarinya itu.

Kali ini mereka terus berjalan semakin jauh menuju kedalam hutan. Selang dua jam pencarian mereka masih tidak menemukan tanda keberadaan tanaman herbal tersebut, sedari tadi mereka hanya memutar-mutar saja ditempat yang sama.

"Sayang ... Kita kok balik kesini lagi sih, perasaan kita udah jauh jalannya kok masih disini-sini aja?" tanya Cindy kebingungan.

"Oh iya ... sepertinya kita tersesat dihutan ini," jawab Arvin.

"Yaa udah, jangan takut aku akan selalu jaga kamu kok." ucap Arvin kembali, seraya menenangkan Cindy yang terlihat mulai gelisah.

Mereka terus saja berjalan berharap dapat secepatnya menemukan tanaman herbal tersebut. Namun selama diperjalanan mereka mendapati berbagai keanehan ...

Tiba-tiba ditengah hutan terdapat sebuah rawa yang airnya cukup dalam. Disamping rawa tersebut terlihat sebuah batu besar yang ditutupi oleh semak-semak belukar.

"Sayang ... kita istirahat sebentar yaa, aku kebelet pipis nih, kamu tunggu disini dulu jangan kemana-mana!" ucap Arvin memperingatkan Cindy.

Arvin beranjak pergi menuju ke arah rawa.

"Aahh ... lega sekali rasanya," ujar Arvin.

Tanpa Arvin sadari ia tidak sengaja buang hajat sembarangan, ia kencing diatas batu angker yang berada tepat disamping rawa tersebut.

"Sayang, kamu kok lama banget sih?" tanya Cindy.

"Aku perginya agak jauh sayang, itu ke dekat rawa sana!" Arvin menunjuk ke arah rawa.

"Oh ... lain kali kamu perginya jangan jauh-jauh yaa, aku takut nih ditinggal sendirian. Mana tempatnya angker gini lagi," tandas Cindy.

"Iya ... iya... lain kali aku ngga akan pergi jauh lagi kok!" jawab Arvin.

Keduanya melanjutkan kembali perjalanan dan terus saja menyusuri hutan kematian itu. Hingga sampailah mereka pada suatu tempat yang membentuk sebuah taman kecil.

Didalamnya dipenuhi dengan tanaman-tanaman langka. Mata keduanya begitu jeli dalam mencari tahu keberadaan bunga herbal tersebut. Dan pada akhirnya mereka pun menemukan tanaman itu.

"Sayang ... sayang ... coba lihat apa yang aku temukan, ini bunga orchid bukan?" ucap Cindy kegirangan seraya menunjukkan bunga dalam genggamannya itu.

"Iya benar sayang ... itu bunga orchid, akhirnya kita temukan juga yaa bunga ini," jawab Arvin.

"Baiklah, kita balik sekarang aja yaa nanti keburu malam." ujar Cindy.

"Oke ayo kita jalan," balas Arvin.

Setelah mengambil beberapa helai bunga orchid tersebut, mereka pun memutuskan untuk segera kembali.

Dalam perjalanan pulang, keduanya melewati danau rawa dan batu angker. Namun kali ini area itu nampak berbeda. Suasananya begitu hening yang terdengar hanyalah kicauan burung hantu yang seakan-akan memperhatikan keberadaan mereka.

Cukup lama Arvin dan Cindy terjebak di tempat itu, hingga hari mulai terlihat gelap.

"Sayang ... malam ini kita tidur disini aja yaa, kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan ini lagi. Kamu lihat sendiri kan malam nampak semakin gelap," ujar Arvin.

"Baiklah, aku ikut apa kata kamu aja," jawab Cindy.

Arvin pun memasang tenda tempat mereka beristirahat malam itu.

"Aku lapar nih, kita bakar ikan yuuk ... sisa bekal ikan yang aku bawa dari rumah waktu itu kan masih ada," ajak Cindy.

"Bentar, aku mau cari beberapa potong kayu dulu untuk menyalakan apinya," ujar Arvin seraya beranjak pergi.

"Baiklah, tapi jangan lama-lama yaa, aku takut nih sendirian!" ucap Cindy.

"Iya ...," balas Arvin.

Arvin pun kembali masuk kedalam hutan. Ketika ia sedang asik mengumpulkan potongan-potongan ranting, sekelebat bayangan hitam menghampirinya. Arvin terkejut, ia merasakan bulu tekuknya berdiri. Arvin pun buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.

"Gimana sayang, udah dapat kayunya?" tanya Cindy penuh harap.

"I ... iya nih, udah ada rantingnya. Aku nyalakan dulu apinya." jawab Arvin terbata-bata. Ia tidak ingin istrinya itu tahu apa yang barusan ia lihat.

Cindy mengambil beberapa ekor ikan segar dari kotak bekalnya. Mereka pun membakar dan menyantapnya bersama-sama.

"Aku ngantuk banget nih, aku tidur duluan yaa," ujar Cindy.

"Iya, kamu tidur aja aku masih belum ngantuk. Aku akan berjaga-jaga dulu disini," jawab Arvin.

Arvin terlihat mengeluarkan bungkusan kecil dari balik sakunya yang berisi beberapa puntung rokok.

Saat asik merokok, Arvin mendengar suara bisikan yang memanggil-manggil namanya.

"Arvin .... Arvin ... kemarilah," suara lirih itu terdengar beberapa kali memanggil nama Arvin.

Arvin pun mencari asal suara tersebut, ia berjalan hingga ke tepi rawa. Diatas batu nampak sesosok perempuan berbaju merah sedang duduk membelai rambutnya yang panjang.

"Ka ... kamu ... siapa?" ucap Arvin terbata-bata.

Sosok perempuan berambut panjang berwajah seram dengan kuku-kukunya yang tajam itu pun membalikkan punggungnya ....

"Hiii ... hii ... hii ...," suara kikik tawa kuntilanak merah itu melengking memecah keheningan malam itu.

Sontak saja Arvin sangat terkejut melihat sosok wajah perempuan menyeramkan itu, ia lantas lari cumpang camping ketakutan.

Arvin buru-baru masuk kedalam tenda, ia menutup rapat semua pintu. Sesekali dari arah luar masih terdengar suara cakaran kuku panjang menggores kain penutup tenda.

Tepat tengah malam suara riuh seperti pasar terdengar jelas ditelinga Arvin, ia yang memang sedari tadi tetap terjaga karena masih terbayang-bayang wajah kuntilanak merah itu pun memberanikan diri untuk menengok keluar.

Hal yang sungguh diluar nalar manusia, tempat Arvin dan Cindy mendirikan tenda sekarang ternyata disekelilingnya dihuni oleh dedemit penunggu batu angker. Arvin pun kembali teringat ia pernah tidak sengaja kencing diatas batu ditepi rawa. Mungkin karena hal itu Arvin selalu diganggu oleh makhluk penunggu batu angker tersebut.

Mentari pagi mulai terbit, terik matahari menyengat kulit. Arvin dan Cindy bersiap untuk segera pergi meninggalkan hutan. Keduanya terus berjalan mencari jalan pulang. Namun hasilnya nihil, mereka masih saja terjebak didalam hutan angker tersebut.

Arvin dan Cindy terlihat begitu lelah karena sudah hampir seharian mereka menyusuri hutan.

"Ini pasti perbuatan para dedemit itu, makhluk penunggu batu angker. Mereka tidak ingin kita meninggalkan tempat ini," ucap Arvin.

"Lantas kita harus bagaimama, aku takut sekali," jawab Cindy seraya menangis.

"Tenanglah kamu jangan khawatir, kita pasti selamat keluar dari tempat ini." kata Arvin sembari menenangkan hati Cindy.

"Tapi aku tidak mau mati konyol ditempat ini, huu ..., huu ...," suara isak tangis Cindy semakin keras.

Arvin tiba-tiba teringat pesan dari almarhumah neneknya. Kala itu sebelum sang nenek meninggal, ia pernah dititipkan oleh neneknya sebuah benda yang harus selalu dibawa ke manapun ia pergi. Benda itu dapat digunakan sewaktu-waktu ketika dalam keadaan mendesak saja. Arvin pun mengambil bungkusan kecil dari sakunya. Ia lalu membuka bungkusan kecil berisi garam tersebut kemudian ia taburkan disekeliling tempat mereka berdiri seraya berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan.

Hal diluar logika manusia pun terjadi, jalan yang semula tertutup tiba-tiba terbuka lebar. Jalan setapak menuju pemukiman warga itu pun mulai terlihat. Keduanya akhirnya bisa keluar dari hutan dengan selamat.

Empat hari lamanya mereka terjebak didalam hutan, hal tersebut merupakan kejadian yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh Cindy, ia masih trauma jika harus mengingat kembali peristiwa itu.

Setahun setelah kejadian itu berlalu, Arvin dan Cindy sukses mempresentasikan karya ilmiah mereka. Keduanya berhasil menemukan obat herbal untuk kanker.

Mereka hidup rukun dan bahagia, apalagi sekarang Cindy diketahui tengah berbadan dua. Kabar gembira tersebut membuat keluarga itu semakin harmonis saja.

Mendekati hari persalinan, hal-hal mistis mulai terjadi kembali. Tepat pukul 01.00 dini hari Cindy selalu diteror oleh makhluk tak kasat mata. Ternyata ... dedemit penunggu batu angker masih mengikuti mereka hingga ke kota.

Demi keselamatan istri dan anaknya Arvin meminta bantuan kepada seorang Ustadz untuk mengusir setan tersebut kembali ke asalnya. Usaha yang dilakukan Arvin berhasil, istrinya tak pernah lagi diteror oleh makhluk tersebut.

Arvin dan Cindy beserta keluarganya pun menyambut bahagia kelahiran sang anak penerus masa depan yang juga ternyata memiliki indera keenam.

Sejatinya Kita sebagai manusia memang selalu ditakdirkan untuk hidup berdampingan dengan makhluk lain dan sudah sepantasnya lah kita harus meminta ijin atau permisi dulu sebelum melakukan segala sesuatu, sebab kita tidak pernah tahu barang kali saja kita sudah mengganggu kenyamanan tempat tinggal mereka.

TAMAT_

Pengarang Cerita;
- Ana Rasyid

Masih ada sambungannya yaa, kalau banyak yg baca dan like bakal lanjut ke season 2. Silahkan dikoment.Ditunggu kritik dan saranx yaa,soalnya masih amatiran ini nulisnya 🙏😊

Terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh SyaqirLangit
profile-picture
profile-picture
jaricerdas17 dan SyaqirLangit memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Next sis
profile-picture
SyaqirLangit memberi reputasi
Lihat 1 balasan
numpang deprok ya


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di