CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / Heart to Heart /
Mengarungi Samudra Kehidupan | Cerpen
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eead56e68cc952855716ef4/mengarungi-samudra-kehidupan--cerpen

Mengarungi Samudra Kehidupan | Cerpen

Yusuf menghela napas. Tengkuknya terasa kaku. Ia baru saja pulang dari bekerja. Ada ribuan beban yang bertengger di bahunya. Ia bersandar pada sofa yang berada di ruang tengah. Berharap penatnya segera menguap. Namun, lelah itu tak kunjung hilang. Meski ia berusaha.
Di sekitar masih tampak sama seperti sebelum ia berangkat tadi pagi. Beling vas bunga berserakan di atas karpet kesayangan. Kipas angin hadiah pernikahan pun patah menjadi dua. Pintu lemari telah remuk oleh pukulan tangannya yang mengepal penuh emosi. Juga, sampah popok yang memenuhi lantai dapur.
Mengarungi Samudra Kehidupan | Cerpen
Ada yang berbeda dalam istananya sore itu, sebab Yusuf tak lagi menemukan sang permaisuri di sana. Ia tak menyangka, Sarah--istrinya--nekat pergi membawa bayinya yang masih berusia sembilan bulan, dengan mengendarai motor matic-nya sendiri. Padahal, Sarah pun tengah mengandung anak kedua Yusuf.
Kandungan Sarah kini memasuki usia dua puluh minggu. Mungkin hormon kehamilan yang membuatnya begitu sensitif. Atau Yusuf yang sudah tak lagi mampu membendung amarahnya setelah dua tahun pernikahan.
***
Siang hari di rumah orang tuanya, Sarah sedang meninabobokan sang bayi. Lalu, senyum hangat Yusuf tetiba melintas di benaknya. Sesungguhnya, ia sangat mencintai dan merindukan suaminya itu. Hanya saja, begitu banyak hal yang menyesakkan dadanya.
"Jadi, kapan Yusuf jemput kamu, Nak?" tanya sang ayah. Ia tahu bahwa masalah yang dihadapi oleh anaknya itu cukup berat. Namun, ia berusaha menyembunyikan kekhawatiran.
Sarah tersenyum sembari menggelengkan kepala. Entahlah. Ia sendiri pun tak tahu, apakah suaminya berniat akan menjemputnya. Pertengkaran kemarin adalah yang paling mengerikan dalam hidup Sarah. Sebab Yusuf tak lagi segan untuk main tangan.
"Di sini saja dulu, Nak. Kamu juga sedang hamil dan menyusui. Tidak boleh stress. Kamu harus makan yang teratur dan bergizi. Juga cukup istirahat." Perhatian sang ibu tak kurang sedikit pun. Berbeda jauh dengan sikap ibu mertua yang acuh tak acuh.
***
Sudah hampir sebulan Sarah di kampung halaman, tetapi belum juga ada tanda-tanda Yusuf akan datang. Hanya Uwais--anak pertama mereka--yang menjadi pelipur lara bagi Sarah, ketika ia kembali dirundung rindu pada suaminya. Ketampanan Yusuf terlukis jelas di wajah sang bayi. Hal itulah yang membuat Sarah tidak bisa berhenti memikirkannya.
Sementara di seberang sana, nyatanya Yusuf pun nelangsa. Ia juga begitu merindukan belahan jiwanya. Namun, ia gengsi. Harga dirinya begitu tinggi. Hingga tak ingin menghubungi Sarah lebih dulu. Ia hendak menguji, seberapa setianya Sarah pada imamnya itu.
Tanpa sadar air mata Yusuf mulai menganak sungai. Demi mengobati kerinduannya, ia meraih album foto pernikahan yang tersimpan rapi di dalam lemari. Kemudian, dipandanginya foto-foto itu satu per satu.
Mengarungi Samudra Kehidupan | Cerpen
Sarah sangat cantik dalam balutan baju bodo--pakaian adat wanita Bugis--berwarna hijau. Ia dirias sedemikian rupa, agar tetap bisa memakai jilbab dan cadar meski mengenakan baju adat. Ia hanya memperlihatkan wajahnya pada para tamu wanita. Begitu pula pada resepsinya tetap dibatasi oleh hijab, tirai pemisah antara tamu wanita dan pria. Saat itu, walimah syar'i merupakan hal yang masih asing bagi masyarakat di daerah.
Yusuf teringat lantunan nasyid Maher Zain kala itu. "Baarakallaahu lakumaa, wa baaraka 'alaikumaa, wa jama'a bainakumaa fii khaiir". Sebuah kalimat doa untuk sepasang pengantin, memohon karunia Allah agar keberkahan dan kebaikan menyelimuti keduanya.
Namun sayang, realita tak seindah drama Korea. Seketika ombak datang menerjang saat bahtera baru saja hendak berlayar. Ujian hadir menyapa rumah tangga Sarah dan Yusuf, tepat setelah akad terucap.
***
Dua tahun yang lalu.
"Gimana, Ra? Udah ada kepastian?" tanya Asiah pada Sarah. Ia turut penasaran dengan masalah yang dihadapi sahabatnya itu.
"Gak tahu, nih, Ci. Kalo sampe dua hari gak ada kabar, aku mundur aja, ya?" Sarah mulai gelisah. Ia galau. Proses ta'arufnya mandek sebab belum menemukan titik temu.
Pihak keluarga Sarah menginginkan uang panai' sebesar lima puluh juta, ditambah dengan mahar satu set emas. Menurut mereka, jumlah tersebut sudah sepadan dengan status Sarah yang berpendidikan tinggi dan telah memiliki pekerjaan.
Sedangkan pihak keluarga Yusuf hanya menyanggupi uang panai' sebesar empat puluh juta, dan sebuah cincin emas seberat tiga gram. Keluarga Yusuf memiliki latar belakang pendidikan agama yang baik, sehingga mereka berdalil bahwa sebaik-baik wanita adalah yang paling mudah maharnya.
Panai' adalah uang belanja yang dipergunakan untuk keperluan pesta pernikahan. Melihat harga bahan makanan yang cukup melambung tinggi, sedangkan resepsi yang akan digelar tidak mungkin hanya sekadar acara biasa. Apalagi hal tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat suku Bugis-Makassar.
Sementara pihak keluarga Sarah memiliki latar belakang agama yang biasa-biasa saja. Mereka lebih menjunjung tinggi pendidikan duniawi, juga masih mempertahankan beberapa aturan adat. Namun, adat yang dipegang sudah tidak begitu kental. Terlebih setelah Sarah dan kedua saudaranya berhijrah, sehingga mereka mendakwahkan perihal agama pada keluarganya. Sebab ada beberapa aturan adat yang menyalahi perintah Allah dalam hukum agama Islam, bahkan bisa terjatuh dalam perbuatan kesyirikan.
Mengarungi Samudra Kehidupan | Cerpen
Sarah dan Asiah masih sedang berbincang saat ponsel Sarah tiba-tiba berdering.
"Halo ... assalaamu 'alaikum. Ini Sarah, 'kan? Bagaimana kabarnya, Dek?" tanya Ummu Ahmad, penghubung antara Sarah dan Yusuf. Waktu itu mereka melangsungkan ta'aruf di rumah Ummu Ahmad.
"Wa 'alaikum salaam ... alhamdulillaah, baik, Umm," sahut Sarah dengan suara bergetar. Ia canggung, juga gundah. Khawatir akan mendengar berita buruk. Akan tetapi, ia segera berbaik sangka. Apapun yang terjadi, insyaAllah itulah yang terbaik.
"Kalau Ummu gimana kabarnya?" tanya Sarah lagi.
"Alhamdulillaah, Dek. Maaf, ya, karena cukup lama tidak mengabari Sarah. Karena ada beberapa hal yang masih diperbincangkan juga di pihak keluarga Yusuf. Tapi, tadi pagi mereka menghubungi saya. InsyaAllah hari ini kakaknya Yusuf mau ketemu sama Sarah," tutur Ummu Ahmad. "Katanya untuk mempermantap, Dek," imbuhnya lagi.
"Iya, Ummu. InsyaAllah."
Perasaan Sarah saat itu menjadi tidak keruan. Masih ada beban dalam hati dan pikirannya. Namun, ia kembali berserah diri. Membiarkan Allah yang mengambil alih urusan dunianya. Ia hanya mampu bertawakkal, mengikuti alur skenario yang Allah tetapkan. Karena ia merasa sudah maksimal dalam berusaha.
***
"Aciiieee, yang udah mau nikaaah." Asiah terus menggoda Sarah yang sedari tadi hanya diam. Sarah tampak murung. Seperti ada yang mengganjal pikirannya.
"Kenapa lagi, Neng? Kusut amat mukanya. Harusnya seneng, dong! Entar lagi bakal jadi Nyonya Yusuf. Hihihi." Asiah mencoba mencairkan suasana.
"Hhhmmm ... gini, Ci. Orang tuaku bilang, setelah akad nanti belum boleh tinggal bareng suami dulu."
"Lho, kenapa? Setelah akad 'kan udah halal. Lagian kamu kalo udah sah jadi istri, artinya harus ikut suami, dong! Kamu wajib menaati dan melayani suami kamu nanti," protes Asiah yang turut emosi.
"Iya, yang kupahami juga gitu, Ci. Tapi kata orang tuaku, gak boleh. Karena belum resepsi. Nanti hamil katanya," ujar Sarah dengan ekspresi bingung. Di satu sisi, ia paham kewajiban seorang istri. Namun, di sisi lain ia pun tidak ingin membantah perintah orang tuanya.
"Etdah. Bukannya kita menikah emang buat hamil, ya? Ada-ada aja, deh. Emangnya resepsimu kapan?"
Mengarungi Samudra Kehidupan | Cerpen
"Orang tuaku bisanya gelar resepsi nanti setelah lebaran, Ci. Empat bulan lagi. Masih banyak yang perlu disiapkan. Gak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi orang tuaku 'kan masih sibuk ngajar. Mereka juga punya keluarga besar. Belum sebar undangan, dan sebagainya. Sedangkan keluarga Yusuf udah gak bisa menunda juga, karena Yusuf nikah kembar sama kakaknya. Jadi resepsinya barengan, tiga hari setelah akadku," jelas Sarah panjang lebar.
"Ya Allah. Ribet amat urusan kamu, Ra. Sabar, ya. Semoga diberi kemudahan. Aku cuma bisa bantu doa aja. Kalo orang tua udah angkat bicara, mah, aku juga gak bisa ngelawan. Hitung-hitung ini kesempatan terakhir kamu berbakti sama mereka. Sebelum kewajiban berbakti itu nantinya pindah kepada suamimu."
"Hu'um. Makasih, ya, Ci."
Sarah tersenyum getir. Nyatanya hidup memang penuh dengan ujian. Bagai samudra yang penuh gelombang.
***
Akad nikah telah berlangsung. Saat ini, Sarah dan Yusuf sudah berada di dalam kamar pengantin. Mereka sedang salat sunnah dua rakaat. Sarah mengikuti gerakan imamnya itu dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Hatinya merasa damai dan tenang.
Setelah salam, mereka berdua duduk berhadapan dengan lutut yang saling bertemu. Sarah meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim. Lalu, Yusuf mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri. Sarah tertunduk malu, dadanya berdebar hebat. Baru kali ini ia merasakan sentuhan lelaki selain ayahnya.
Sejurus kemudian, Sarah pun meminta maaf pada Yusuf. Sebab setelah jamuan nanti, mereka belum bisa bersama. Yusuf berusaha memahami. Meski dalam hatinya juga kurang bisa menerima.
Lalu, mereka berdua pun bangkit. Yusuf meraih tubuh sang istri dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Sarah merasa sangat bersalah. Ada bulir bening yang jatuh di sudut netranya. Ini adalah hari pertama ia menjadi seorang istri. Namun, justru belum bisa menikmati perannya.
Setelah jamuan makan siang, Yusuf pun kembali ke rumahnya yang berjarak lima jam perjalanan dari tempat tinggal Sarah. Ia pergi bersama rombongan keluarga, juga para undangan. Ia tak tahu, bahwa separuh hati Sarah pun turut bersamanya.
***
"Kapan mau ke rumah? Udah dicari sama Mama." Pesan WhattsApp dari Yusuf terpampang pada layar ponsel Sarah.
Dua pekan sudah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Selama itu pula Sarah bertahan untuk tetap menjaga amanah orang tuanya. Namun, nuraninya mulai bergejolak. Ia paham bahwa saat ini suamilah yang harus lebih ditaatinya. Ia mulai takut, Yusuf tidak akan rida dengan sikapnya. Sedangkan rida suami adalah rida Allah.
"Entar aku cari yang baru, lho!"
Deg!
Sarah terperanjat. Poligami adalah momok besar yang sangat ia hindari. Meski hal tersebut tidak boleh dibenci karena merupakan syari'at. Akan tetapi, hatinya belum siap. Ia tak 'kan sanggup jika harus menjalaninya.
"Iya, Kak. InsyaAllah segera. Kapan jemput?" Sarah pun luluh. Mulai detik itu juga, ia pasrah. Menyerahkan segala raga dan jiwanya untuk berbakti pada sang suami. Hanya demi rida Allah, agar dapat memasuki surga-Nya dari pintu mana saja yang ia sukai.
***
Mengarungi Samudra Kehidupan | Cerpen
Pada kenyataannya, pernikahan tidak selalu tentang bahagia. Kadang pula sedih menghampiri. Saat lapang ataupun sempit. Perjalanan seorang istri untuk meraih rida suami tidaklah mudah. Menjadi suami yang baik pun sama sulitnya.
Pernikahan mempertemukan dua insan yang berbeda. Tak ada pasangan yang serasi saat bertemu pertama kali. Semua butuh proses. Pembelajaran menuju kedewasaan. Belajar menerima kelebihan dan kekurangan. Belajar menghargai dan memahami satu sama lain. Juga, belajar menyampingkan ego masing-masing.
Nasihat ustaz pada khotbah pernikahannya itu kembali terngiang di telinga. Sarah menyadari bahwa dirinya terlalu terbawa emosi. Mungkin juga ia kurang mensyukuri. Sehingga satu saja kesalahan yang dilakukan Yusuf, seolah-olah menghapus segala kebaikannya selama ini.
Padahal Yusuf telah berusaha semampunya. Agar bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Namun, Yusuf pun sadar. Dirinya masih terlalu egois. Sehingga Sarah merasa tak nyaman, dan melakukan kewajibannya atas dasar keterpaksaan.
Lalu, keduanya berselimut penyesalan. Sebelum semua terlambat, Sarah dan Yusuf kembali mengintrospeksi diri. Kemudian, berusaha memperbaiki dan menjalin komunikasi. Sekali lagi, demi meraih rida Ilahi.
"Sayang, kapan jemput?" tanya Sarah pada sambungan telepon.
"InsyaAllah besok, ya, Sayang. Aku udah ambil cuti. Kita honeymoon lagi, yuk!" Tak sabar menunggu datangnya hari esok. Yusuf terharu. Ia sudah sangat rindu.


profile-picture
delia.adel memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di