CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Masih Masa Kecil, Tapi Di Ponorogo [Part I]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eea04f9349d0f47b6783141/masih-masa-kecil-tapi-di-ponorogo-part-i

(Kisah Misteri) Masih Masa Kecil, Tapi Di Ponorogo [Part I]

GIF



Cerita Lanjutan...
Sebelumnya, "Masa Kecil Di Surabaya"


Ane rasa pengalaman di rumah surabaya cukup segitu dulu gan, masih banyak sih tapi itu yg paling membekas sampai sekarang dan layak diceritakan.

Sebenarnya banyak bgt pengalaman horor disana, belum dr ibu ane tetangga2 ane, saudara2 ane yg nginep dirumah ane waktu itu tapi ya cerita2 sekilas nggak enak juga buat diceritakan dan dibaca karena emang sekilas doang.

Kayak contohnya enak2 ibu ane lg masak trs ada tamu, jalan ke pintu utama ngelewatin kamar belakang dari mata ekor keliat ada sesuatu di atas lemari begitu kepala ibu ane balik nongol buat ngintip ada mbak2 diatas lemari dengan posisi nungging senyum menyeringai ke arah ibu ane, teriak lah ibu ane sampe ngagetin tamu.

Pernah juga ada saudara ane dari ibu ane nginep dan tidur di kamar belakang, besok paginya udah pindah di kursi ruang tamu dan pas ditanya ayah ane bilang kalau semalam nggak bisa tidur di kamar belakang karena digangguin mulu. Dan lagi pernah ada kejadian jauh sebelum ibu ane hamil ane, kata ibu ane beliau pernah di pesan sama ayah ane kalau "pagar" yg bagus untuk rumah kalau menurut orang jawa adalah sholat maghrib di belakang pintu utama rumah kita.

Karena pintu rumah ane ada 2 bisa lewat ruang tamu bisa lewat garasi motor/jemuran tembusan ke dapur jadi kata ayah ane posisi yg pas buat sholat maghrib yaitu di didepan TV, kiblat di rumah Surabaya menghadap ke kaca belakang TV yg bisa keliatan ke arah jemuran.
Setelah salam ibu ane ngeliat 'seperti' ayah ane jalan dari arah depan ke arah dapur pake seragam kantor nya warna ijo yg biasa dipakai hari jum'at. Tapi ditungguin nggak nongol2 di dapur.

Kayak gitu2 contohnya, sekilas doang kan? Hehe. Karena belakangan emg kata ayah ane dulu sebelum rumah ane dibangun ada 1 kuburan bayi di situ tapi udh nggk terawat, batu nisan nya pun nggak ada, posisi nya persisi di pojokan kamar belakang. Jadi nggak kaget kalau pusat aktivitas mereka ya disitu.

Ok, ane lanjut aja ya ceritanya. Sesuai tulisan ane di prolog bahwa ane sempat pindah ke Ponorogo dan Ngawi yg bersifat sementara sebelum ke Madiun karena mengikuti ayah ane yg dipindah tugaskan di Ngawi. Semula ayah ane berencana biar ayah ane aja yg pindah dan seminggu sekali bakal pulang (ke Surabaya), tapi ibu ane nggak mau. Ya gila aja, ada ayah ane aja mereka masih nyolong2 gitu apalagi pawang nya pindah, bisa mati berdiri tiap malem ane dan ibu ane di teror.

Akhirnya ayah ane ngeboyong anak istrinya ikut pindah dan rumah ini pun dijual. Karena ayah ane baru pertama kali menginjakkan kaki di kota Ngawi jadi beliau belum ngerti bener sama seluk beluk ni kota, akhirnya anak istrinya 'dititipkan' sementara dirumah mertuanya di Ponorogo juga tapi beda desa dengan rumah ayah ane.

Lain dengan rumah ayah ane, rumah orang tua ibu ane agak mendingan karena kakek buyut ane adalah seorang Lurah, jadi emg agak terpandang di sekitar situ dan yg jelas tak perlu ke sungai kalau sekedar mau mandi dan BAB. Rumah nenek ane ini juga di gunung, sama dengan rumah ayah ane.

Karena rumah Lurah jadi agak mendingan dikit daripada yg lain karena emg menonjol dengan arsitektur rumah khas jawa pada umumnya dan lumayan besar.

Seperti biasa, ane bkl ceritain dulu latar belakangnya biar agan nggak bertanya2 di tengah2 cerita. Keluarga ibu ane adalah keluarga terpandang di sekitar pedesaan situ karena kakek nenek dua2nya (dari bapak & ibu) ibu ane merupakan orang terkaya di daerah situ.

Jadi dulu semacam ada perjodohan antara kakek & nenek ane karena sama2 orang kaya tapi beda desa. Tau kan gan Lurah2 zaman dulu beda sama Lurah2 zaman sekarang, Lurah zaman dulu nggak ada sistem vote/pilihan tapi mengandalkan Pulung/Wahyu (semacam cahaya biru dari langit dan akan jatuh ke rumah yg ditimpakan wahyu & amanat untuk menduduki posisi tertentu). Dan warga desa zaman dulu sangat percaya dengan itu tanpa meragukannya sedikitpun dengan masih mencoba sistem vote, enggak. Kalau Pulung itu masih bernaung tiap waktu pemilihan di incumbent maka otomatis masih jadi Lurah, tapi kalau udh pindah ya jabatan Lurah ya pindah, gitu doang simple kan? Hehe, nggak ngabisin kas desa buat pesta demokrasi.

Dan kakek buyut ane menerima Pulung sampai beliau meninggal. Baru setelah kakek buyut ane meninggal Pulung itu pindah ke rumah tetangga kakek buyut ane yg lokasi nya di belakang rumah kakek buyut ane.

Kakek buyut ane yg bernama Mbah Mangoen Wirjodihardjo dan Nenek buyut ane yg bernama Mbah Sringatoen adalah orang yg terkenal dengan ilmu kadigdaya'an-nya di masa itu. Beda dengan ayah ane yg menolak secara official menerima 'pasien', kakek & nenek buyut ane bersedia membantu orang tapi murni membantu ya, bukan menuntut harga di setiap hal yg diperbantukan alias GRATIS.

Sampe nenek ane pnh cerita kalau Jenderal Soedirman pernah mampir dan menginap dirumah kakek buyut ane ketika perang gerilya dengan belanda. Ada kejadian menarik saat itu, apa itu? Daripada bacot, langsung ke cerita ya gan..prolognya kepanjangan, hehe



Spoiler for Masih Masa Kecil, Tapi Di Ponorogo:


BERSAMBUNG . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alif.tiger.revo dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh anggarido
emoticon-2 Jempol
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di