CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
PART 2. Jeritan Hati Riana, Sang Wanita Simpanan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee9c774f4ae2f315f7a3a01/part-2-jeritan-hati-riana-sang-wanita-simpanan

PART 2. Jeritan Hati Riana, Sang Wanita Simpanan

Part 1https://www.kaskus.co.id/post/5edde6...cb954b58510512

Part 2. Pembelaan Hati Sang Simpanan

Pagi itu tak seperti biasanya bagiku. Suara merdu burung burung yang bernyanyi menghiasi pagi tak terdengar seperti biasanya. Sinar mentari pagi yang indah berwarna kuning keemasan pun tak nampak dari dalam ruang kamar. Tak seperti biasanya. Biasanya sinar itu telah memasuki ruang kamarku melalui celah celah dinding kayu rumahku yang sudah reot ini. Pagi mendung dengan awan gelap menutupi langit biru di pagi hari itu. Tak seperti biasanya, sepertinya masih di musim kemarau tapi entah mengapa pagi itu sudah mendung saja. Belum lagi kabut pagi yang menutupi hawa pagi di desa tempat aku tinggal. Tidur dengan pulas dan nyaman menjadi kenikmatan bagi warga desa. Termasuk aku, aku masih tidur pulas dan menikmati dinginnya pagi.
"Jam berapa ini? pagi atau masih subuh ini?", batinku.
Bergegas kuraba dengan tangan kiriku mencari jam tangan yang biasanya kuletakkan disebelah kasur tempat tidurku. Jam tangan tua peninggalan almarhum ayah yang telah kupakai lebih dari sepuluh tahun lalu. Hp android bekas yang ku charge di meja juga membunyikan alarmnya. "krringgg... krriiingg.. krrriingg..". Alarm hp jam 6 pagi pun berbunyi.
"Astaga sudah jam 6 pagi, kenapa masih seperti jam 4 pagi..", kejutku. Sambil berkata akupun bergegas bangun dan melipat selimutku dan merapikan sedikit kain penutup kasur ku yang sudah usang karena lama tidak ganti. 
Segera aku berjalan dengan cepat menuju kamar mandi di bagian belakang rumah tuaku ini. Aku ambil ember kecil untuk menimba air di sumur. Aku masih memakai sumur sebagai sumber air di rumahku. Aku menimba air dan menyaringnya di ember yang berisi pasir dan kerikil agar air tanah dapat tersaring dan menjadi jernih. Sehingga bisa kupakai untuk kebutuhan sehari-hari. Sambil menyaring air sumur, aku ambil panci dan kuiisi dengan air yang telah tersaring. Aku berniat memasak air minum. Sambil kumempersiapkan diri untuk memasak air dan menyaring air untuk mandi pagi ini, kudengar ada suara jejak kaki seseorang berjalan didepan  rumahku. 
"tok.. tok.. tok.."
Tidak mengeluarkan suara hanya bunyi ketukan saja. "Siapa pagi pagi begini dateng ke rumah, coba kutengok", pikirku. Jarang sekali ada tamu datang ke rumahku. Apalagi di pagi hari yang dingin dan mendung ini. Memang kuakui, semenjak kejadian aku disidang oleh ibu mas Heru dan pak RT, aku menjadi hujatan warga. Tidak ada satupun warga mau berteman denganku. Mereka membenciku, karena aku dianggap perusak rumah tangga orang. Mereka menganggapku sebagai iblis yang tinggal dalam jasad wanita. Tetapi aku mencoba menjadi manusia yang normal dan mencoba menjalani hidupku layaknya tak terjadi masalah. Sambil berjalan dan merapikan pakaianku, aku coba lihat siapa yang datang pagi itu. Kulihat dari celah celah dinding kayu dekat pintu, ada seorang pria yang datang ke rumahku pagi itu. 
Pria dengan baju biru navy rapi, lengan panjang, dan celana warna cokelat muda dengan ikat pinggang rapi, tak lupa pula jam tangan warna hitam dan tas selempang warna cokelat tua. Pria berkacamata, tinggi, dan postur tubuh yang nampaknya tak asing bagiku. "Siapa ya, kok sepertinya mas Heru.. aduh pikiranku ini kenapa.. mas heru kan sudah tidak mencintaiku, dia membenciku semenjak sidang itu di rumah pak RT..", ungkapku dalam hati. Tapi rasa penasaran dan rindu dalam hati ini memang tidak bisa bohong. Langsung saja bergegas ku buka pintu rumahku. Benar saja, Mas Heru. Pria yang selama ini mendiamkanku karena sidang yang diadakan di rumah pak RT .
"eh,, mas Heru ada apa mas? kok pagi pagi begini, ibumu gak marah apa mas kok kesini..?", tanyaku sambil malu malu. 
Tidak bisa kubohongi, hatiku berbunga bunga dan amat sangat bahagia saat melihat sosok pria yang indah dimataku itu. Pria yang kuidamkan dan menjadi dambaan hatiku selama ini, dia ada didepan mataku. Kupikir dia sudah melupakanku, kupikir dia sudah membenciku, tetapi dia masih ingat dan datang ke rumah reyot ku ini. 
"oh tidak dek, mas cuma sebentar kok. Ini mas ada rejeki sedikit buat kamu beli bunga dan sedikit makanan untuk pengajian di rumah kamu, karena ini kan sudah 1 tahun ibundamu meninggal dunia kan dek. ini mas ada rejaki..", ucapnya sambil menyerahkan satu amplop berwarna cokelat itu.
"eh.. tapi mas.. kenapa tiba tiba begini, nanti kalau....."
belum selesai kubicara, mas Heru langsung pergi dan menyalakan motor gagahnya yang berwarna hitam dengan rangka warna merah. Nampak gagah dan aku tidak bisa berkata kata lagi. Aku teringat saat diboncengnya dan memeluknya di motor hitamnya itu saat belum ketahuan sama ibunya satu tahun lalu. 
"Alhamdullilah, ada rejeki untuk sembayangan ibu, coba ku lihat apa isi amplopnya", benakku. Kubuka amplop itu, dan terdapat uang 1 juta rupiah. Aku terpana saat menghitungnya, seperti mimpi. Uang satu juta ini mas Heru yang memberikan untukku, dan ia mengingat ibuku yang sudah meninggal. Ibu meninggal setelah kasus ku dan mas heru jadi permasalahan di tingkat RT. Beliau sakit dan akhirnya berpulang. Semenjak itulah aku hidup sendiri dengan hujatan hujatan yang tak ada hentinya. " Mas.. Mas. Kamu ini lho, tak kira kamu lupa sama aku.. ternyata kamu masih memperhatikan aku..", ujarku. Saat ku keluarkan uang dari amplop, ada selembar kertas putih yang hampir saja jatuh. "eh apa ini... surat atau apa nih..?", tanyaku dalam hati. Kuambil kertas itu dan kubuka, ternyata surat dari mas Heru. Begini isinya:

Dek Riana wanita ku..
Mas tahu kamu pasti merasa sedih dengan hujatan warga kepadamu. Mas juga tahu kamu pasti bertanya tanya kenapa mas mendiamkanmu dan menjauhimu satu tahun ini. Mas tidak membencimu, mas akan selalu mencintaimu. Maafkan mas karena telah melakukan hal bodoh sehingga hubungan kita diketahui. dan satu tahun ini mas menjalankan janji mas kepada orang tua mas untuk menjahuimu. Dan setahun sudah berlalu, ternyata warga masih saja membencimu. Jadi percuma saja aku menjauhimu. Tapi tolong, jaga hubungan kita dan rahasia kita ini.
mas tetap mencintaimu, wanita pujaanku.
Heru. 
0812384******

Seketika air mata menetes membasahi pipi. Kupikir semua akan berakhir setelah kejadian itu. Kupikir semua rasa dalam hatiku ini sia sia, dan semua nya hancur. Coba kalian bayangkan, pria cinta pertamamu dipisahkan darimu, dan setelah dia kembali kepadamu, dipisahkan kembali oleh orang banyak, aku dihujat habis-habisan, dibenci warga dan orangtua nya, dan yang lebih menyakitkan lagi, ibundaku pergi ke alam baka karena telah mengalami tekanan dari orangtua mas heru. Padahal jelas jelas kami ini sudah berhubungan lama. Apa mereka tidak melihat? Apa mereka buta? Aku dan mas Heru sudah bertahun tahun menjalin asmara. Apakah salah bila aku jatuh cinta dengan seseorang. Apakah cinta hanya untuk orang kaya saja, apa hanya untuk lulusan sarjana saja? Sedangkan aku, kuliah saja tidak lulus karena biaya tidak ada untuk membayar spp di semester 3. Hidup pas pasan dan untuk makan saja susah. Apa tidak boleh?
Tapi pagi ini, meski awan mendung dan kabut menutupi rumahku, ada secercah cahaya yang menyinariku pagi ini. Hujan badai atau hujan es sekalipun, aku tidak peduli. Karena ada cahaya kehangatan dari pria yang kuidamkan selama ini. Ternyata ada pria yang juga menahan rasa dan menyakiti diri nya saat tidak berbicara dengan ku. begitupun aku, aku sudah menahan rasa sakit ini. 
Jangan salahkan aku, jangan pula salahkan mas Heru. Cinta tidak ada yang salah. Setidaknya ada harapan baru dalam hidupku. Kuambil handphone android bekas yang hasil tabungan ku, yang kubeli dari teman warung beberapa bulan lalu dan kucicil 100 ribu tiap bulan. Meski memorinya kecil yang penting bisa whatsapp. Aku simpan nomor mas heru yang tertulis di surat itu, dan ku kirimkan pesan melalui whatsapp kepadanya.

"Mas Heru, terimakasih sudah mencintaiku dan menyanyangi serta memperhatikanku sampai saat ini. Bukan masalah uang mas, tapi senyuman dan sapaan dari mas buatku saja, aku sudah kebahagiaan bagiku. 
Aku baik baik saja mas, aku terlalu mencintaimu"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medi.guevera dan 5 lainnya memberi reputasi
mungkin ini isi hati pelakor ya... yang selalu disalahkan, selalu dibenci,padahal selalu ada alasan dibalik semua kejadian ini kan ya..
profile-picture
medi.guevera memberi reputasi
Cinta tidak pernah salah, orang nya yang salah...
Kasihan Rangga yang selalu salah... Wkwkwk..
Lihat 1 balasan
Cerita fiksi karangan2 parah emoticon-Cape d...
Lihat 16 balasan
gan kutil, pernah bilang dekat kota atlat,itu di daerah mrenjen ya

simpenan ceritanya keluarin semua gan..
Lihat 1 balasan
Wes.. iki....


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di