CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jodoh yang Tertunda | Cerpen
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee964abb41d303a500cc290/jodoh-yang-tertunda--cerpen

Jodoh yang Tertunda | Cerpen

Belasan berkas pasien menumpuk di sudut meja kerja. Kuambil satu yang teratas, dan membacanya. Kaget saat melihat nama yang tertera. Mencoba untuk meyakinkan diri, bahwa data pasien itu salah. Tapi netra ini masih sehat, dan tidak ada yang salah. Masih ada waktu sejam, sebelum berakhir jam kerjaku.
Bambang Setyo Wijayanto. Tak salah, memang orang yang sangat kukenal, sangat paham kehidupannya. Apa iya? Jika paham dengan kehidupannya, mana mungkin kaget ada berkas numpuk di meja kerja atas nama dia. Kucoba untuk menghubunginya via VC.
Jodoh yang Tertunda | Cerpen
"Assalamualaikum. Pa kabar, Sayangku?"
Hmmm...mulai deh Mas Bambang. Kebiasaan dari kecil, selalu pakai kata "Sayangku" jika memanggilku.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabaraktuh. Mas, ini apa?"
Kuambil map berisi berkas data pribadi miliknya, dan memperlihatkan padanya. Dia tersenyum.
"Sengaja pengen ketemu kamu, Sayang. Bisa kan?"
Ini orang dari dulu selalu saja bercanda. Gak pernah serius. Kumonyongkan mulut. Persis ekspresi gadis mungil di stiker. Dia pun tergelak melihatnya.
"Wes njaprut neh, tak cium lho," ucapnya tanpa dosa.
"Cium aja kalau berani," tantangku.
"Tunggu di situ, aku datang."
Aku tertawa ngakak. Bagaimana mungkin bisa, ratusan kilo jarak yang memisahkan kami. Klik. Lho, dia matikan telponnya. Mungkin sinyal kurang bagus.
Kulanjutkan pekerjaan, membuat analisa pasien yang telah bertatap muka kemarin. Netra fokus pada layar komputer, hingga tak terasa jarum jam di dinding ruang kerjaku berdenting tanda usai sudah jam kerja.

Kunyalakan mesin mobil, dan berlalu dari klinik tempatku bertugas. Jalanan padat merayap. Beginilah suasana kota Semarang, saat jam pulang kerja. Ratusan kendaraan memenuhi jalan, menambah polusi dari hari ke hari. Lampu merah menyala di depan kantor Agraria. Kunyalakan musik, dan memilih album Keris Patih untuk menemani perjalanan.

Kusandarkan punggung, dan memejamkan mata. Menghayati setiap lirik yang terlontar dari suara emas Sammy Simorangkir. Netra fokus pada kemudi, dan jalan di depanku. Terhenyak saat melihat mobil Pajero Sport keluaran Mitsubishi di depan berplat DA, Banjarmasin.

Teringat Mas Bambang, yang tadi sempat kutelpon. Iseng kupencet kontaknya. Tersambung.
"Apa, Sayang? Kangen ya, maaf tadi terputus. Ni lagi mobile."
" Gapapa, Mas. Ini juga lagi mobile, kebetulan mobil di depan berplat DA, jadi inget Mas deh."
"Mosok sih? Nomornya berapa?"
"DA 8418 AS."
"Kalau itu aku gimana, Sayang?"
"Impossible," jawabku tergelak.
"Coba pikir, andai aku masih di Banjarmasin, mosok ada berkas data atas namaku di meja kerjamu?"\
Jodoh yang Tertunda | Cerpen
Bagai tersengat lebah, aku diam. Benar juga ya, masak iya dikirim online?
"Mas gak sedang kerjain aku, kan?"
Terdengar suara tawa Mas Bambang dari seberang. Jadi makin penasaran. Lampu menyala hijau, kulanjutkan laju mobil membelah kepadatan jalan raya menuju kota atas. Mobil di depan sudah hilang, entah ke mana. Kuambil jalur kiri masuk jalan tol.
Saat memasuki gerbang tol Tembalang, gawai kembali berdering.
"Gimana, Mas?"
"Rumah masih di Kalimantan Raya?"
"Masih, Mas. Gimana?"
"Ya udah aku ikutin mobilmu aja, Sayang."
Ya Allah, jadi ini beneran Mas Bambang, bukan bercanda ternyata.
"Oke."
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
Saat mobil memasuki pos security tampak mobil Pajero sudah di belakang.
"Pak, itu sepupuku," laporku ke Pak Darto, chief security.
"Siap, Bos!"
Pak Darto memberi hormat, dan membuka pintu gerbang perumahan untuk kami. Kami? Aku masih gak yakin dengan pengendara mobil di belakangku.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga dengan bidadariku," ucap Mas Bambang setelah sampai di rumah.
Jodoh yang Tertunda | Cerpen
"Selalu deh, bikin kejutan. Seneng banget lihat adiknya jantungan," kataku sembari membuat teh manis kesukaannya.
"Anak-anak ke mana?"
"Ke rumah Mama. Selama liburan."
"Alhamdulillah, asyik dong bisa apelin Mamanya tanpa gangguan."
"Kupanggil security kalau Mas macam-macam. Ini tehnya diunjuk dulu."
"Masih ingat teh kesukaanku?"
"Teh hangat dengan dua sendok gula, dan sesendok air lemon."
"Tuh kan, emang pantas jadi nyonya Bambang," ucapnya terus menggoda.
"Sejak kapan di sini? Dalam rangka dinas?"
"Sudah hampir sebulan. Aku sudah pensiun, Sayang."
"Mosok sih, Mas. Rasanya baru kemarin lho jenengan pamit ke Banjarmasin."
"Hmmm...sudah tiga belas tahun silam. Saat aku pamit dirimu sedang berduka yang mendalam, hingga tak mau mengantarku ke bandara," jawabannya mengingatkanku pada peristiwa tiga belas tahun silam, kepergian suami menghadap penciptanya.
Tak terasa menetes air dari kedua sudut netraku. Mas Bambang mengambil tissu di meja tamu, dan mengusapkannya di pipiku.

"Maaf...aku tak bermaksud membuatmu menangis. Aku justru datang demi kebahagiaanmu," ucap Mas Bambang sembari mengecup keningku.
Cintanya masih membara, dan terlihat sangat tulus. Perbedaan usia kami yang terpaut sebelas tahun tak tampak. Mas Bambang terlihat masih segar, dan energik. Mungkin karena dia selalu ikhlas dengan jalan hidupnya. Kepergian istrinya delapan tahun silam tak membuatnya rapuh sepertiku.
Kecupan di kening membuatku sedikit melambungkan angan. Jujur, aku rindu belaian kasihnya. Kisah dua puluh lima tahun silam. Saat Mas Bambang ingin menyuntingku, menjadikan permaisuri dalam hidupnya. Namun semuanya sirna. Ayahandanya telah menjodohkan Mas Bambang dengan perempuan lain, putri dari koleganya karena hutang budi. Tak hanya aku yang kecewa, Mas Bambang pun teramat kecewa.
Mas Bambang sebetulnya tak ada hubungan darah sama sekali denganku. Kebetulan saja saat kecil kami bertetangga, deket banget seperti saudara. Kami berpisah saat Mas Bambang memutuskan kuliah di Malang, kebetulan Ayahnya pindah tugas ke Gresik. Meski begitu, hubungan kami terus terjalin.

"Masih adakah cinta untukku walau hanya untuk kau kenang...." Mas Bambang menyanyikan lirik lagu dari ADA BAND, band favorit kami.
Aku tak mampu menjawabnya. Entah rasa apa yang hadir saat ini di hati. Pipiku terasa panas, pasti merona merah karena malu. Mataku terasa hangat, penuh dengan air yang siap menetes jatuh ke pipi.

"Andai harus kehilanganmu kan kubawa hatimu ke dalam jiwaku...."
Tangisku pecah, tak lagi bisa kubendung air mata yang terus mengalir ke pipi. Mas Bambang pun tak kuasa menahan air mata yang telah menggenang di matanya yang teduh. Di rengkuhnya bahuku dalam pelukannya sembari mengusap lembut hijabku.




GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di