CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee95fee349d0f0a63004c60/terpidana-mati-yang-justru-terlihat-bahagia-ketika-akan-dieksekusi

Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi

Quote:


Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Joseph Arridy lahir pada tanggal 29 April 1915 di Pueblo, Colorado. Ayahnya yang bernama Henry dan ibunya yang bernama Mary, merupakan imigran yang datang dari Berosha, Syria, untuk mencari pekerjaan di Amerika. Kedua orangtua Arridy sama sekali tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris, namun ayahnya mengetahui jika sebuah pabrik baja terbesar di Pueblo saat itu, sedang membutuhkan karyawan.

Perkembangan Arridy sebagai seorang anak kecil dalam hal berbicara terbilang cukup lambat, dia hanya mampu berbicara dalam beberapa kata saja. Setelah satu tahun sempat mengenyam pendidikan di sekolah dasar, kepala sekolah di sekolah tersebut mengatakan pada orangtua Arridy bahwa sebaiknya dia tetap berada di rumah karena dia tidak dapat menerima pelajaran di sekolahnya.

Beberapa tahun kemudian setelah ayahnya kehilangan pekerjaannya, dan melalui bantuan seorang teman, Arridy dimasukkan ke State Home and Training School for Mental Defectives di Grand Junction, Colorado, hingga dia beranjak dewasa. Namun, tidak hanya di tempat dia tinggal, di sekolah barunya pun Arridy mengalami perlakuan yang buruk serta kerap dipukuli oleh teman sebayanya. Hingga dia memutuskan untuk meninggalkan sekolah dan melarikan diri dengan menaiki kereta api barang, dan perjalanannya berakhir disebuah stasiun kereta api di Cheyenne, Wyoming.

Pada tanggal 14 Agustus 1936, dua orang gadis yang berasal dari keluarga Drain, mengalami penyerangan ketika mereka sedang tidur di rumahnya di Pueblo, Colorado. Barbara Drain yang berumur 12 tahun dan kakak perempuannya yang bernama Dorothy Drain yang berumur 15 tahun, dipukul oleh orang yang tidak dikenal dengan menggunakan kapak. Dorothy yang sempat diperkosa sebelum dianiaya, langsung meninggal di tempat. Sedangkan Barbara mampu bertahan hidup.

Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Pada tanggal 14 Agustus 1936, Arridy ditangkap karena menggelandang dan terlihat berkeliaran di stasiun kereta api Cheyenne, Wyoming. Seorang County Sheriff yang bernama George Carroll, yang sempat mengetahui tentang beredarnya berita penyerangan terhadap dua orang gadis keluarga Drain, mulai melakukan interogasi terhadap Arridy. Ketika ditanya, Arridy mengaku bahwa dia melakukan perjalanan dari Pueblo, Colorado, dengan menggunakan kereta api. Dan ketika dia ditanya mengenai pembunuhan yang terjadi, dengan mudahnya Arridy mengakui bahwa dialah pelakunya.

Ketika George berusaha untuk mengkonfirmasi kebenaran hal tersebut dengan menghubungi Kepala Kepolisian Pueblo yang bernama Arthur Grady, dia justru menyebutkan bahwa mereka sudah menangkap pelaku yang sebenarnya yang bernama Frank Aguilar. Aguilar merupakan seorang buruh yang berasal dari Meksiko, yang sempat bekerja untuk keluarga Drain, namun kemudian dipecat sebelum dia melakukan penyerangan. Dan barang bukti kapak yang digunakan untuk melakukan penyerangan pun ditemukan di rumahnya. Namun, Carroll yang mendengar hal tersebut sempat mengatakan bahwa, Arridy mengakui berkali-kali bahwa dia berada di tempat kejadian dengan seorang pria yang bernama Frank.

Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Aguilar kemudian mengakui bahwa dia adalah pelaku yang sebenarnya, dan dia mengatakan bahwa dia belum pernah bertemu dengan Arridy sebelumnya. Aguilar didakwa atas pemerkosaan serta pembunuhan, dan dia dihukum dengan hukuman mati. Eksekusinya sendiri dilakukan pada tahun 1937.

Setelah dikembalikan ke Pueblo, Colorado, Arridy kembali membuat pengakuan, memberikan beberapa versi yang berbeda tentang peristiwa pembunuhan yang terjadi, dan dengan fakta yang keliru yang dikatakan berulang-ulang. Pada awalnya dia mengaku bahwa dia menggunakan tongkat pemukul ketika melakukan penyerangan. Namun setelah pihak berwajib menemukan kapak yang sudah digunakan, Arridy kemudian mengaku bahwa dia juga menggunakan kapak.

Ketika kasus ini dibawa ke pengadilan, pengacara Arridy berusaha untuk mengajukan permohonan pembatalan dakwaan atas dalih penyakit jiwa untuk menyelamatkan nyawa Arridy. Namun Arridy tetap dianggap waras, walopun tiga orang psikiater dari tiga negara bagian yang berbeda, menyatakan bahwa dia mengalami keterbelakangan mental. Mereka juga mengatakan bahwa Arridy memiliki IQ 46 dan pemikiran seorang anak yang berumur enam tahun. Selain itu, mereka menganggap Arridy tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar ataupun salah, dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang berhubungan dengan kriminal.

Arridy tetap menerima dakwaan atas pengakuan palsu yang dia ungkapkan. Penelitian saat itu telah menunjukkan bahwa orang yang memiliki keterbatasan mental, cenderung lebih rentan terhadap paksaan ketika mereka menjalani interogasi, dan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk membuat pengakuan palsu. Ketika persidangan berlangsung, Barbara Drain sempat memberikan kesaksian bahwa Aguilar lah pelaku yang sebenarnya, bukan Arridy. Karena Barbara mengetahui persis ketika Aguilar bekerja untuk ayahnya.

Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Tanggal 6 Januari 1939 adalah hari terakhir untuk Arridy. Sebelum dieksekusi, dia sempat menerima kunjungan perpisahan dari ibunya, bibi, sepupu, dan saudara perempuannya yang berumur 14 tahun. Dan selama menunggu proses pelaksanaan eksekusi, Arridy sering bermain dengan mainan kereta apinya, yang diberikan oleh seorang sipir penjara yang bernama Roy Best. Best mengatakan bahwa Arridy adalah tahanan paling bahagia di penjara, dan dia juga sempat menjadi pendukung agar Arridy tidak dihukum mati. Bahkan, sebagai makanan terakhirnya, Arridy sempat meminta es krim.

Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan DieksekusiTerpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Arridy sempat ditanya mengenai eksekusi yang akan dijalaninya, dan dia terlihat kebingungan. Dan ketika dia ditanya mengenai ruang gas, dia hanya mengatakan bahwa dia tidak akan mati. Malam itu, Best dan pendeta penjara yang bernama Pastor Albert Schaller, menuntun Arridy menuju ruang gas. Menurut pengakuan Best saat itu, Arridy sempat merasa gugup ketika dia dibawa ke ruang gas, namun dia kemudian menggenggam tangannya. Dan disaat-saat terakhirnya, Arridy tampak tersenyum.

Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan DieksekusiTerpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan DieksekusiTerpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Kasus Arridy merupakan satu dari sekian banyak kasus yang mendapatkan perhatian untuk memastikan bahwa terdakwa menjalani interogasi dan pengakuan yang sesuai, serta hukuman yang adil. Selain itu, Mahkamah Agung Amerika memutuskan bahwa adalah hal yang dianggap tidak konstitusional untuk menerapkan hukuman mati bagi orang-orang terpidana yang mengalami gangguan secara mental. Sekelompok orang yang mendukung kasus ini membentuk sebuah organisasi nirlaba yang bernama Friends of Joe Arridy, untuk memberikan keadilan pada kasus tersebut dan memberikan batu nisan yang layak untuk makamnya.

Seorang pengacara yang bernama David A. Martinez memutuskan untuk ikut terlibat bersama dengan organisasi tersebut. Berbekal sebuah buku yang ditulis oleh Robert Parske yang mengisahkan kasus Arridy, arsip-arsip yang diberikan oleh organisasi Friends of Joe Arridy, serta penelitian yang dilakukannya sendiri, Martinez kemudian menyiapkan sebuah petisi setebal 400 halaman. Petisi tersebut ditujukan kepada Gubernur Bill Ritter, mantan pengacara distrik di Denver, untuk memohon pengampunan bagi Arridy. Dan berdasarkan bukti dan ulasan yang didapatnya, Gubernur Ritter memberi Arridy pengampunan secara penuh dan tanpa syarat pada tahun 2011, yang pada akhirnya mampu membersihkan nama Joseph Arridy.

Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan DieksekusiTerpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi


Sekian, dan terimakasih.

*

*

*


sumber 1
sumber 2
sumber 3






profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariebetadine dan 49 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh KS06
Halaman 1 dari 6
Quote:
profile-picture
profile-picture
memedruhimat dan jip.ajip memberi reputasi
Diubah oleh marywiguna13
Lihat 7 balasan
Mungkin dia bahagia drpd tersiksa hidup di dalam bui atau menatap masa tua yg menderita
profile-picture
profile-picture
radjevic dan juragan.goyang memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Kasian banget.. koq bisa2nya tetep dijatuhi hukuman...terbukti dia memiliki prilaku bocah umur 6thn dgn kberadan dia dipenjara...main kreta2 an..dan meminta es krim... sungguh terlambat amnesti yg diberikan emoticon-Mewek
profile-picture
profile-picture
badbironk dan ryuta19 memberi reputasi
Lihat 12 balasan
hikmah dari cerita ini jangan melakukan kebohongan yang sama secara berulang-ulang 😁
Lihat 3 balasan
Terpidana Mati Yang Justru Terlihat Bahagia Ketika Akan Dieksekusi
profile-picture
profile-picture
diki174 dan str901 memberi reputasi
inalillahi wainna ilaihi raji'un sekilas mirip mirip miracle in cell ya.. cuman mungkin itu yang terbaik buat beliau dan semoga karena ke pe'a an nya dia masuk surga..

saya minta semua penduduk disini mengheningkan cipta untuk arridy dan membaca alfatihah di dalam hati bersama sama, mengheningkan cipta dimulai...................................................................

selesai.............................................................

hormat kepada TS sayang yg senantiasa terus berbagi ilmu dan pengetahuan kepada kita semua tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih
profile-picture
profile-picture
pokeball dan anthraxxx memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Keterbelakangan mental ya. Mungkin sih, buktinya di penjara aja bahagia emoticon-Matabelo
profile-picture
str901 memberi reputasi
Lihat 4 balasan
kasian sih jadinya
main kereta sama ea krim sad banget yak
profile-picture
profile-picture
zelfrizk dan Richy211 memberi reputasi
Quote:


Quote:


Pake banget..
hmm.. dia seneng karena dia ga paham emoticon-Hammer2
Lihat 1 balasan
astaga 72 tahun baru dapat pengampunan btw jaman itu nggak ada semacam alat deteksi kebohongan atau obat kejujuran gitu?
profile-picture
diki174 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Wow,
aku cuman taunya GOL D ROGER aja
Lihat 1 balasan
kisah yang sangat tragis bagi anak terbelakangan mental immigrant yang miskin, kebrutalan dan ketidak adilan dunia yang membuat dia menyerah, jadi inget para napi di green miles, amnesti tanpa jalan keluar juga percuma, krn dibawa ke rumah sakit jiwapun dia ga masuk golongan sakit jiwa, hanya idiot
profile-picture
pokeball memberi reputasi
Diubah oleh anthraxxx
Lihat 5 balasan
Ane baca dari awal sampe akhir, dan tau gak ? Ane hampir ngeluarin air mata. Si arridy kasian banget, ane yakin sih dia masuk surga. Amin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pokeball dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
bego bener hakimnya, udah jelas tersangka asli ada.
dan nih orang cuma ngaku2 aja krn emang dia ada gangguan kejiwaan.
kenapa tetap diproses???? emoticon-fuck
Lihat 1 balasan
parah sih, coba aja di indon
pasti itu orang udah jadi salah satu duta dan gantian masuk TV talkshow
mirip filem miracle in cell emoticon-Frown

Mungkin karena emang udah pasrah kali ya tau tanggal matinya kapan
Lihat 2 balasan
Sad banget. Pernah baca cerita ini di FB dan masih nyess rasanya.
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di