CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee95d05f4d6955dd322e191/tas-punggung-yukabid

Tas Punggung Yukabid




Tas Punggung Yukabid



Sepuluh tahun yang lalu aku pernah ke toko ini, bersama nenek dan adikku Yukabid, lama kami melihat-lihat harga tas yang ada di ruangan ini.

Jantungku hampir copot melihat harga yang tertempel dibalik merek tas pollo itu. Begitupun nenek, wajah keriputnya terlihat jelas menampakkan keterkejutan. Ingin sekali nenek memberikan hadiah pada cucu perempuan satu-satunya itu. Bukan karena naik kelas, apalagi rangking satu di sekolah, melainkan karena Yukabid telah hapal juz 30.

"Kalau, Yukabid sudah hapal juz 30. Nenek janji akan membelikan tas punggung seperti punya teman-temanmu," ucap nenek sambil membelai rambut panjang Yukabid.

Aku tahu, sebenarnya nenek tidak punya uang untuk membeli tas buat Yukabid, sebagai buruh cuci, upah yang diterima nenek hanya cukup buat makan. Kalau sudah begini aku jadi teringat mendiang Ayah dan Ibu. Mengapa mereka begitu cepat meninggalkan kami.

"Nek, Yuka pengen sekali punya tas punggung, tas Yuka sudah robek," rengek Yukabid.

"Coba, Mas Hafizh. Hafalan Yuka disimak. Mungkin ada yang keliru, nanti kalau sudah lengkap Juz 30, kita bareng-bareng pergi ke toko Haji Oemar untuk beli tas."

Yukabid langsung menghafal surat demi surat, hafalannya baru sampai surat Ad Dhuha, itu berarti masih ada cukup waktu buat nenek mengumpulkan uang.

Kuselimuti tubuh mungil itu, wajah putihnya mengingatkan pada ibu, wanita yang sudah mengikhlaskan nyawanya demi melahirkanmu. Suatu hari nanti kalau Mas, sudah bekerja, dan punya uang, apapun yang kamu minta, Mas akan berikan.

***

"Harga tas impian Yukabid, terlalu mahal, Fiz," bisik nenek lirih di telinga.

"Iya, Nek. Dua ratus lima puluh ribu, terus bagaimana? Lihat, Yukabid begitu gembira karena impiannya selama ini untuk memiliki tas punggung seperti teman-temannya akan terwujud."

Nenek mengusap peluh dan wajah tua itu dengan dua telapak tangannya yang mulai keriput. Aku tahu nenek bingung sekali karena nenek hanya membawa uang seratus ribu, itu pun untuk membeli makan siang dan malam nanti.

Nenek sudah tidak punya uang lagi, karena uang dari hasil mencuci sebagian sudah untuk membetulkan genteng yang bocor. Tapi, Yukabid buru-buru sudah hapal juz 30.

"Ada apa, Nek?"

Seorang gadis kecil yang umurnya hampir sama dengan Yukabid, bertanya dengan ramah pada nenek.

Hening, tak ada jawaban dari nenek.

"Nenek, mau beli tas ya?" tanyanya lagi sambil tersenyum, tampak lesung pipit menghiasi kedua pipinya.

"Tas ini terlalu mahal."

"Coba aku lihat."

Tas punggung itu sudah berpindah ke tangan gadis kecil itu, bibirnya menyunggingkan senyum, seraya berkata

"Nggak mahal nek, tas ini harganya cuma lima puluh ribu."

"Kamu salah lihat, ini dua ratus lima puluh ribu," kataku sambil menunjukkan lebel harga tas itu.

"Kakak, ini emang lima puluh ribu. Mungkin karyawan Abah keliru."

"Benarkah?" tanyaku sambil menimang-nimang tas punggung merek pollo itu.
Mungkinkah tas sebagus ini harganya lima puluh ribu?

"Di mana karyawan, Abahmu?"

"Lagi makan siang, aku disuruh nggantiin sementara, karena Ummi sama Abah sedang pergi."

Akhirnya jadi juga nenek membelikan tas punggung untuk Yukabid. Betapa senangnya adikku itu, menerima hadiah dari nenek, sebentar lagi dia akan melanjutkan sekolah tingat pertama.

***

Keesokan harinya, aku terkejut, ketika teman sebangku memakai tas sama persis seperti yang dipakai Yukabid, hanya warnanya saja yang berbeda. Penasaran akan harga tas punggung itu.

"Don, tas baru ya?"

"Iya, kemarin dibelikan sama, Mamah."

"Dimana?"

"Toko Haji Oemar."

"Adikku juga kemarin baru beli, murah ya harganya?"

"Murah, kamu bilang, Fiz? Dua ratus lima puluh ribu lho," kata Doni kemudian.

Deg! Ternyata benar dugaanku, gadis kecil itu telah berbohong.

***

Hari ini aku berdiri di toko Haji Oemar, untuk membayar kekurangan dari tas yang dulu pernah dibeli nenek.
Toko ini sedikit mengalami kemajuan, karyawanya pun lumayan banyak.

"Maaf, Mas. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang karyawan padaku.

"Iya, mbak. Aku mau bayar hutang."

"Hutang apa ya?"

"Hutang tas."

"Akh, Mas ini bercanda. Toko ini nggak pernah ada yang hutang. Orang-orang yang belanja di sini selalu cas, bayar langsung kok."

"Beneran, mbak saya emang pernah hutang tas di toko ini."

"Hutangnya sama siapa?" tanya karyawan itu menatap heran ke arahku.

"Sama siapa ya?"

"Lho, malah bertanya."

"Pokoknya saya mau bayar hutang, mbak."

"Wah jangan-jangan, Mas ini gendeng, ups!" kata karyawan itu sambil membekap mulut dengan dua tangannya.

Aku harus bisa menemukan gadis itu, dan membayar kekurangan uang tas punggung untuk Yukabid.

"Mbak Yuka, nih ada orang aneh. Dari tadi mau bayar hutang."

Yuka, siapa dia? Apakah dia anak pemilik toko ini? Kalau benar berarti dialah gadis kecil itu, yang selama ini aku cari.

"Masih ingat dengan aku?" tanyaku sok akrab.

"Maaf, siapa ya?" tanyanya asli bingung.

"Saya, Hafizh. Dulu pernah beli tas di sini tapi uangnya kurang."

"Anda ngaco, di sini kalau beli tas nggak ada yang ngutang."

"Ya, udah kalau tidak percaya, selamat tinggal."

Cerita pertamaku


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di