CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee8a2b79775136ae7279f09/kumpulan-cerpen-berbagai-genre

Kumpulan Cerpen Berbagai Genre

Cerpen-Pulang

Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
Sumber : Pinterest

Rahman menghentikan mobilnya tepat di sebuah halaman rumah yang cukup luas. Mesin kendaraan roda empat miliknya berhenti, tapi lelaki berusia empat puluh tahunan itu tidak lekas beranjak dari kursi kemudi. Netranya menatap lurus ke depan beranda rumah bercat hijau toska. Ada keraguan dalam sudut hatinya, apakah kembali pulang adalah tindakan yang tepat.

Jika bukan karena anak-anak, tentu diurungkan niatnya ini. Kerinduan pada dua buah hati yang sudah menginjak usia dewasa, membuatnya nekat membawa diri ke sini.

Pria berpakaian necis itu mengembuskan napas. Ia melangkah keluar dengan ragu, apakah kedatangannya kali ini di sambut baik oleh sang istri.

Rahman berdiri tepat di depan pintu. Saat akan mengetuk, tiba-tiba seseorang telah membukanya dari dalam. Membuat pria itu sedikit mundur.

"Ayah?" ucap gadis berrambut lurus dengan alis bertaut."

Rahman sedikit kikuk, ada rasa tak enak dalam hati. Padahal, yang di hadapannya saat ini adalah putrinya sendiri.

"Reina ... boleh, Ayah masuk?" tanyanya meminta persetujuan.

"Masuk aja, Yah. Kenapa minta ijin dulu?" Sang putri berkata sembari membuka pintu lebar-lebar.

Rahman mengempaskan punggung ke sofa berwarna putih. Sorot matanya menatap hingga ke sudut ruangan. Tak banyak yang berubah setelah ia pergi. Hanya sesuatu yang berbeda di sebuah lemari kaca. Di sana, berdiri beberapa bingkai foto, tetapi ... tak ada lagi satu pun potret dirinya ikut meramaikan tempat itu. Ia menelan saliva, 'Sepertinya orang-orang di rumah ini benar-benar telah melupakanku,' batinnya pilu.

"Diminum dulu tehnya, Yah." Gadis berparas ayu itu meletakan segelas teh hangat di meja, disusul beberapa cemilan.

Ia ikut mengempaskan tubuh di seberang sang Ayah. Dengan perasaan yang ... entah. Ada amarah yang masih mengendap, tetapi rasa rindu kepada cinta pertamanya lebih mendominasi.

"I-ibu mu, di mana?" tanya Rahman ragu.

Reina mengembuskan napas sebelum menjawab, "Ibu pamit ke warung tadi."

Rahman hanya mengangguk.

"Randi, di mana?" Rahman bertanya keberadaan putra bungsunya.

"Biasa, main di luar. Besok pagi juga pulang, tapi sorenya pasti pergi lagi," jawab Reina dengan santai.

Jantung Rahman seketika berdegup kencang. Mendengar penuturan Reina tanpa rasa bersalah. Matanya membesar, puluhan tanya menari dalam benak.

"Kenapa kamu membiarkan dia sebebas itu?" Rahman bertanya dengan suara tinggi. Antara marah, kecewa, dan, sedih.

Reina terdiam, matanya menatap ke bawah meja. Ia tak berani angkat bicara.

Rahman mengusap wajah, menyesali apa yang telah terjadi pada keluarga ini. Selepas ia pergi, tak ada satu pun kabar yang ia dengar. Sebab istrinya benar-benar memberi sekat pada mereka.

"Mau apa datang ke sini?" Suara dari pintu masuk terdengar sengit.

Rahman dan Reina menoleh ke sumber suara. Di sana, berdiri seorang wanita berwajah masam.

"Aku ... hanya ingin pulang." Nyali Rahman seakan menciut, maka hanya kata itu yang meluncur dari bibirnya.

Tersenyum kecut, Melfa-sang istri-hanya menggeleng. Sedetik kemudian ia melangkah dan berdiri di hadapan Rahman, suaminya.

"Pulang? Aku pikir kau sudah lupa dengan tempat ini," ucapnya dengan sorot tajam.

"Aku rindu kalian, makanya aku pulang. Apa sudah tak ada tempat untukku menginjakkan kaki di rumah sendiri?" Rahman berkata dengan penuh penekanan.

"Kau sudah tak punya hak untuk datang ke sini semenjak diam-diam menikahi wanita jalang itu."

"Jaga mulutmu! Apa dirimu jauh lebih sempurna? Sikapmu saat ini telah menunjukkan siapa kau sebenarnya!"

Melfa tertawa sembari mengambil tempat duduk di sebelah Reina. "Lihat, Rei? Bahkan Ayahmu ini mati-matian membela istri murahannya. Menjijikan."

Reina membisu, berada di posisi ini membuat jiwanya semakin kacau.

"Pergilah dari sini, tidak ada yang menginginkanmu datang kembali. Lagipula, apa kau tidak punya malu menampakkan diri di hadapanku?"

"Aku ke sini untuk bertemu Reina dan Randi. Tentulah mereka merindukan Ayahnya. Aku akan tetap di sini menunggu Randi pulang."

"Menunggu Randi? Aku menerka bahwa ia tak akan sudi pulang jika di rumah ini ada pengkhianat."

"Melfa!" Rahman bangkit, netranya menatap istri pertamanya dengan kilatan amarah. "Aku masih suamimu. Randi dan Reina juga akan tetap menjadi anakku. Aku sadar telah melakukan kesalahan. Aku sudah meminta maaf malam itu. Tidakkah cukup hukuman yang aku terima dengan berpisah berbulan-bulan dari kalian?"

Melfa hanya membisu, sorot matanya mengarah ke sembarang arah. Napasnya naik turun menahan emosi. Setetes bulir bening meluncur ke pipinya, tetapi secepat kilat ia mengusap dengan punggung tangan.

Reina terisak, bahunya berguncang. Hatinya hancur berkeping-keping.

Rahman kembali duduk, ia mengusap wajah, lalu mengembuskan napas. Frustasi.

Hening beberapa saat, hanya isakan kecil yang terdengar memilukan dari bibir Reina.

"Lebih baik aku pergi. Aku memang sudah tak mendapat tempat di sini," ujar Rahman sembari berdiri. Menatap sang putri sesaat lalu berkata, "Reina, Ayah pergi. Sampai jumpa lain waktu."

Semakin terisak, Reina tak menjawab. Ia menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan sambil menunduk.

"Ya, memang seharusnya kau tak kembali." Melfa bangkit, menuju pintu dan berdiri di sana.

Rahman mengayunkan kaki, saat sampai di depan pintu mobil, ia berhenti dan menatap rumah penuh kenangan itu untuk beberapa saat.

"Sampai jumpa di pengadilan," ucap Melfa dengan ekspresi datar, lalu menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara keras.

"Semuanya sudah berakhir," ucap pria itu lirih.


-Tamat-

Bandar Masilam, 16062020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rainydwi dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ismilaila
Halaman 1 dari 2

INDEKS LINK

profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ismilaila
Lihat 3 balasan

Cerpen-Sebuah Janji

Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
Sumber : Pinterest

Aku menatap nanar ke arah gawai yang kugenggam. Benda persegi itu menampilkan foto sepasang pengantin dengan ekspresi yang bahagia dari sebuah sosial media bernama Facebook.

Debar dalam dadaku berdentum hebat, menghadirkan gemetar pada tubuh yang saat ini tengah berbaring di ranjang.

Rasanya sulit dipercaya, ketika orang yang kucinta berada dalam pelukan orang lain. Amat mesra, dengan status sebagai istri sah. Melihat itu, seperti ada yang berdarah di dalam sini, sebuah daging berwarna merah tempat semua rasa bermuara.

Pandanganku tiba-tiba mengabur, kaca-kaca sialan ini menghalangi penglihatan. Satu persatu bulir bening jatuh, membuatku merasa menjadi pecundang paling menyedihkan.

Pria sejati seharusnya tak menangis karena cinta, tetapi pria yang punya cinta dan ketulusan, bisa saja menangis jika hatinya terluka.

Aku mengembuskan napas, memberi ruang pada rongga dada yang terasa sangat menyesakkan. Ini sulit untuk kuterima, sebab yang menciptakan luka adalah orang yang aku cinta.

"Kenapa, Nai ...." keluhku sambil mengusap wajah yang basah.

Naima, gadis pujaan yang telah menemaniku selama tiga tahun terakhir memilih pria yang jauh lebih mapan dibanding aku yang hanya seorang kuli bangunan. Naima, wanitaku tak kuasa menolak perjodohan yang sudah direncanakan oleh orang tuanya.

Beribu kali aku meyakinkan dirinya, bahwa sepulang dari merantau aku akan lekas melamar kekasihku itu. Namun, tetap saja wanitaku memilih pinangan orang lain yang datang lebih dulu.

"Abang janji ndak akan lama di Jakarta. Nanti kalau tabungannya sudah cukup, Abang bakal pulang dan langsung melamar kamu." Aku berkata dengan bersungguh-sungguh. Di stasiun, Naima dan aku berpisah dengan saling mengikat janji.

"Jangan ingkar sama janjinya ya, Bang. Adek bakal nunggu kepulangan, Abang." Wanita berparas ayu itu berkata dengan mata berkaca-kaca.

Aku mengangguk, lalu mencium pucuk kepalanya dengan rasa cinta yang amat tulus. Menatap gadis pujaanku itu sekali lagi, lalu melangkah pergi sambil benar-benar memantapkan diri. Dari jauh, dapat kulihat tetes bening itu jatuh di pipinya yang merona.

Ia melambaikan tangan, mengiringi kepergianku untuk kembali memenuhi janji. Janji pada kekasih yang kini telah bersama pria lain.

Aku tersenyum getir, mengingat segala kenangan yang sempat menjadi penyemangat untuk bekerja lebih giat.

Beringsut bangkit, aku duduk di bibir ranjang. Netraku menatap sebuah kaleng bekas yang bertuliskan, 'tabungan untuk cintaku.'

Senyumku memudar, membaca tulisan di kaleng itu seperti sedang menelan segelas kopi hitam tanpa gula. Pahit.

'Apakah abang terlalu lama pergi, Nai?' tanyaku dalam hati.

Apakah terlalu lama? Aku rasa tidak. Bagiku, jika ingin memiliki modal yang lebih untuk meminang wanita, harus membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, jika aku memosisikan diri sebagai Naima, dua tahun memang terlalu lama untuk sekedar menunggu kepastian dari sebuah janji.

-Tamat-

Bandar Masilam, 18062020

profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ismilaila
Lihat 8 balasan

5 Creepypasta yang Bikin Merinding [1]

Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
Sumber : Pinterest


1. Jangan Takut

Kau terbangun dari tidur dengan mata terbelalak dan napas memburu. Bola matamu melirik ke kiri dan kanan, bulir keringat mengalir dari pucuk kepalamu.

Kau menatap penunjuk waktu di dinding, jarum pendeknya tertuju di angka dua. Satu tanganmu meraba tengkuk, detik berikutnya kau tarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh.

Desau angin menelusup masuk dari celah kamarmu yang pekat. Dalam senyap, selimut yang kau kenakan perlahan bergerak turun, membuat tubuhmu yang dibalut piyama itu terbuka sedikit demi sedikit.

Kau kembali terbangun, sorot matamu seperti sedang mencari sesuatu. Kau menunduk, melihat ke mana arah selimutmu jatuh.

Lalu bola matamu kembali membesar, bibir tipismu yang begetar itu terbuka lebar. Sesaat kemudian kau ambruk di ranjang.

Ahh, setakut itukah dirimu? Padahal, itu hanya tangan panjangku yang iseng menarik selimutmu hingga terjatuh. Sebab, dari atas lemari sini, aku senang memandangi raut ketakutanmu.

END


2. Hanya Bermain

Bayi berusia dua bulan itu menangis tiada henti dalam gendongan Ibunya. Menjerit histeris dengan pandangan mata ke sembarang arah. Sang ibu kewalahan, ia berusaha menenangkan anaknya.

"Nangisnya udah dong, Sayang. Ibu ngantuk, Nak." Wanita berdaster itu berkata sambil sesekali menguap. Sedangkan bayinya tetap saja tak mau berhenti menangis.

Aku hanya mengamati dari sudut kamar ini, sambil terkekeh geli melihat temanku yang sedang terbang sambil mengajak anak itu bermain.

END


3. Sahabat

Aku dan Lili adalah sahabat sejak kecil. Lili adalah teman yang baik, dia selalu bersedia menemaniku kemana pun aku pergi. Keluarga Lili dan keluargaku adalah tetangga, maka tak heran jika aku sering bermain bersamanya.

Suatu hari aku dan Ibu berbincang tentang banyak hal, sampai suatu waktu, aku membicarakan tentang Lili.

"Oh iya? Kau masih mengingatnya? Umurmu baru empat tahun saat Lili meninggal."

END


4. Hanya Ingin Membantu

Nenekku selalu mengeluh dengan pandangannya yang sudah rabun. Kecerewetannya semakin bertambah, sering kali ia mengeluh tentang fungsi matanya yang mulai menurun.

Jengah, aku bosan mendengarkan keluh kesah yang meluncur dari bibir keriput itu.

"Lihat, untuk membedakan gelas dan piring saja aku tak bisa," ucapnya ketika kami sekeluarga sedang makan malam.

Ayah dan Ibu sangat sabar dan memaklumi sikap Nenek yang dirasa berlebihan. Sedangkan aku hanya memutar bola mata malas.

***

Aku sedang membersihkan tangan dan sebilah pisau yang berlumur cairan merah berbau amis di kamar mandi. Sedikit tersentak ketika telingaku menangkap jeritan amat keras dari ruang sebelah, kamar Nenek.

Di sana, Ibu, dan Ayah menangis dengan saling mendekap. Mereka berdua histeris melihat jasad Nenek tanpa bola mata berbaring di tempat tidur.

Ohh ... ayolah, aku hanya membantu wanita tukang mengeluh itu agar lebih tenang.

END


5. Pesan Terakhir

"Dion, jangan suka mengotori rumah dengan mainan tanah liatmu lagi ya!" Aku berkata dengan jagoan kecilku yang berusia empat tahun. Anak itu hanya membisu sambil menatap ke arah ku.

"Sierra ... jangan sisakan sayuran di piring makanmu lagi, kau bisa kekurangan protein!" ucapku pada gadis kecil berkucir kuda itu. Ia hanya menunduk. Takut mungkin.

"Oh iya, Pah. Lebih baik kamu tidak perlu capek-capek untuk mencuci baju sendiri, jika melakukan hal sepele itu saja kamu tak becus. Karena sepertinya, noda lipstik di kemejamu kemarin memang sulit dihilangkan." Terakhir, pesanku tertuju pada lelaki berwajah pucat yang sedang duduk di kursi rotan.

"Akhirnya ... selamat tinggal semua," kataku sambil menyerahkan diri ke polisi.

END

Bandar Masilam, 21062020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Anna471 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ismilaila
Lihat 6 balasan
Nenda ah. Keaknya seru nih. Emm mantab dik❤️
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Mgkin lebih tepatnya di SFTH aj gan..
Bgus jg cerpenya..smpai terbawa suasana..mungkin lirik lagu ini pas..

Ku akan pulang ketika sore datang...
Ku bawakan sebuah senyuman...
Kan kita jelang hangatnya hidup ini..
Habiskan malam bersamamu...

Tp endingnya berbeda..
Ditunggu cerpen selanjutnya y gan..
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan ismilaila memberi reputasi
Lihat 3 balasan

5 Creepypasta yang Bikin Merinding[2]

Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
Sumber : Pinterest


1. Menemani

Bocah laki-laki itu merengek pada sang Ibu agar tidur malamnya ditemani. Ibunya sempat menolak. Namun, anak itu tak henti merengek. Akhirnya sang Ibu mengalah dan menemani anaknya sampai terlelap.

Setelah memastikan buah hatinya tertidur pulas. Wanita itu bangkit secara perlahan, berjalan mengendap, lalu keluar kamar.

Bocah itu menggeliat dalam tidur. Seperti mencari peluk Ibunya yang tiba-tiba lenyap. Hampir menangis dengan netra terpejam, aku memutuskan untuk menggantikan posisi Ibunya. Merebahkan diri dan membiarkan rambut panjangku tergerai di lantai, memeluk anak itu sama seperti apa yang dilakukan Ibunya. Berhasil, anak itu berhenti menggeliat dan kembali tertidur.

END


2. Menu Istimewa

Istriku menelepon, menyuruhku untuk pulang lebih cepat. 'Aku sudah memasakkan makanan spesial untukmu, Mas.'

Seperti itu ucapannya beberapa menit lalu. Perasaanku menjadi bimbang, maksudnya ... ada apa dia tiba-tiba romantis begini?

Tak ingin ambil pusing, aku segera menyelesaikan pekerjaan. Membereskan barang-barang, lalu mengendarai kuda besiku menuju rumah.

"Tasya! Aku pulang!" Kataku seraya membuka pintu.

"Ehh. Sudah pulang, Mas? Sini aku bantu." Sikap wanita yang kunikahi sepuluh tahun itu amat manis. Dia juga tambah cantik dengan sapuan make up tipis. Namun, ada yang berbeda di bibir merahnya. Tasya, istriku itu tidak biasanya memakai lipstik terlalu tebal.

Tasya menuntunku ke meja makan. Mempersilakan aku untuk memilih ingin makan dengan lauk apa. Tapi semua yang tertata di meja olahan daging semua, sedangkan Tasya pasti tahu, aku adalah vegetarian.

"Cobalah dulu, Mas pasti suka." Ia mengambilkan sepotong daging rendang. Tasya memotong lebih kecil dan menyodorkannya padaku. Sedikit ragu, aku melahap daging tersebut. Namun, di luar dugaan rasa daging ini ternyata sangat lezat.

Aku makan dengan lahap, sampai habis beberapa potong.

"Mas suka, ya?"

Aku hanya mengangguk sambil mengambil beberapa potong lagi.

"Habiskan saja, Mas. Stok dagingnya masih banyak."

***

Tengah malam, perutku terasa melilit. Aku bangkit dari tidur dan menuju kamar mandi. Namun, ada sesuatu yang aneh di kloset. Sesuatu seperti rambut yang terjepit di penutupnya. Penasaran, aku menarik benda tersebut, rambut yang hitam panjang. Tutup kloset tersebut bergerak, seperti ada yang ingin ikut menyembul keluar ketika rambut itu ditarik.

Penasaran, aku membuka tutup kloset tersebut. Tubuhku hampir limbung ketika kulihat sebuah kepala keluar dari sana.

Oh tidak! Wajah itu mirip ... Shinta, kekasihku.

END


3. Koleksi(?)

Aku memiliki seorang teman, Emmely namanya. Sering kali ia menatap cincin emas yang kukenakan di jari manis. Katanya, "Cincin itu sangat cantik di jarimu."

Emmely sering kali menatapnya dengan pandangan takjub. Aku pernah melepas cincin itu dan memberikan padanya, tetapi dia menolak. Dia tak mau cincin itu dilepas dari jari manisku. Karena cincin itu memang lebih cocok dipasang di sana. Begitu alasannya.

Suatu hari Emmely mengajakku ke rumahnya. Ini pertama kalinya aku berkunjung. Duduk di ruang tamu, Emmely pamit ke dapur untuk membuatkan minum.

Penasaran dengan isi rumah Emmely, aku memilih berjalan-jalan dan melihat ke dalam rumah ini. Tidak terlalu besar, tapi lumayan.

Langkahku terhenti ketika sampai di depan pintu sebuah kamar. Di pintu itu menempel foto Emmely. Tidak salah lagi, ini kamar gadis itu.

Aku memutar knop pintu, membukanya perlahan. Jantungku hampir saja copot ketika melihat susunan toples tersusun rapi di sebuah lemari kayu.

Toples-toples itu berisi anggota tubuh manusia. Seperti mata, telinga, dan jari. Di tiap toples, tertera sebuah nama dan anggota tubuh yang ada di dalamnya.

Aku menggeleng tak percaya, dentum dalam dadaku bergetar hebat, ketika netraku menangkap sebuah toples kosong di posisi paling ujung yang bertuliskan 'Jari Manis Zakia.' Itu ... namaku.

END


4. Rintihan Nenek

Nenek sering kali berteriak dan merintih karena sakit yang ia derita. Setiap malam, ketika orang-orang sedang terlelap menyelami mimpi, Nenek akan merintih sambil terisak.

"Perih ...." ucapnya yang membuat tidur malam menjadi terganggu.

Ayah dan Ibu akan sigap bangun ketika Nenek mengeluh sakit hingga membangunkan seisi rumah. Tak jarang, aku juga ikut bangun dan menuju kamar Nenek.

Di pembaringan, Nenek menggeliat sambil memegangi perutnya. "Sakit ...." ujarnya merintih lagi.

Ibu dan Ayah sibuk mengambilkan obat dan air minum. Sedangkan aku hanya membisu sambil terkantuk-kantuk di kamar yang beraroma balsam ini.

"Diminum dulu obatnya, Bu." Ibu datang sembari menyodorkan segelas air dan sebotol obat mag. Ya, Nenek memiliki riwayat penyakit mag akut. Sehingga, ketika sedang kumat, ia akan sangat kesakitan.

Beberapa menit setelah meminum obat, Nenek kembali tidur dan lebih tenang. Aku, Ayah, dan, Ibu kembali ke kamar.

***

Keesokannya, ketika malam telah larut dan senyap. Rintihan itu terdengar lagi, amat lirih. Tidak menjerit, atau mengeluh sakit.

Rintihan itu berganti menjadi rengekan, berasal dari kamar Nenek. Seperti malam-malam sebelumnya. Padahal, Nenek baru saja dimakamkan siang tadi.

END


5. Teman yang Baik

Gladis, temanku yang indigo itu sering kali mengeluh karena kelebihan yang ia punya. "Aku bukannya takut, aku hanya terkejut, kalau mereka itu muncul secara tiba-tiba," ucapnya suatu hari.

Aku hanya menanggapi dengan anggukan, tidak terlalu fokus karena sedang memikirkan sebuah rencana.

Keesokan paginya, aku tersenyum puas sembari menatap sebuah toples kaca yang di dalamnya terdapat bola mata Gladis. Ah ... aku memang teman yang baik.

END

Bandar Masilam, 21062020
profile-picture
amrulharahap memberi reputasi
Diubah oleh ismilaila
mampir GanSis. kalau suka, jangan lupa cendol dan komennya yaemoticon-2 Jempolemoticon-Peluk

Cerpen-Tak Lagi Sama

Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
Sumber : Pinterest

Hal terakhir yang kuingat tentang Ibu adalah, ketika ia pergi sambil menggenggam tangan Abang dan meninggalkan aku bersama Bapak.

Usiaku baru tujuh tahun kala itu, dan Abang berada dua tahun di atasku. Aku menatap mereka dengan pandangan mengabur, ingin ikut. Kulihat Abang sesekali menoleh, memandangku dengan wajah basah dan mata yang sembab.

"Ikut, Bu ...." Suaraku amat pelan, hampir tak terdengar.

Angkutan umum berhenti di hadapan Ibu. Ia menoleh, kedua matanya memerah, ada genangan di pelupuknya. "Jangan nakal ya, Fit," pesan Ibu sebelum melanjutkan langkah memasuki kendaraan tersebut.

Keduanya masuk, tanpa melambaikan tangan ke arahku. Aku terisak dengan dada terasa sesak. Lalu sebuah tangan kekar menggenggam erat jemariku, membawaku untuk segera meninggalkan tempat itu.

Sudah dua tahun aku ikut Bapak dan tinggal di rumah Nenek. Selama itu pula aku tak pernah bertemu dengan Ibu dan Abang. Setiap kali aku mengajak Bapak untuk bertemu Ibu, ia selalu menolak dengan banyak alasan.

Suatu hari, sepulang sekolah. Aku melihat Bapak sedang berbicara dengan Nenek di ruang tamu. Aku tak sengaja mendengar percakapan keduanya ketika sedang melepas sepatu.

"Ibu sih, ya setuju saja. Asalkan dia itu bisa menerima dan menyayangi Fitri."

"Itu sudah pasti, Bu. Lagipula, Fitri nggak akan kesepian di sana. Ada dua anak Denna yang usianya cuma selisih satu dan tiga tahun. Laki-laki dan perempuan."

Aku tidak dapat mencerna apa yang dimaksud oleh obrolan dua orang dewasa tersebut.

Detik berikutnya kuayunkan kaki dan masuk ke rumah, lalu mengambil duduk di sebelah Nenek.

"Loh, Fitri dah pulang." Nenek menyambutku dengan senyuman di wajah keriputnya.

Aku membalas senyum Nenek sambil memeluk tubuh kurus itu.

"Minggu depan kita pindah rumah ya, Fit." Suara Bapak membuatku melepaskan pelukan Nenek.

"Nggak mau. Fitri mau di sini aja," kataku sambil menatap wajah Bapak.

"Fitri ikut Bapak saja. Nanti ketemu saudara baru," ucap Nenek.

"Juga Mama baru, Nak." Ayah menambahi.

Lagi, aku menggeleng. Aku cuma mau Ibu, tidak ingin sosok Ibu digantikan oleh orang lain.

"Nanti Fitri juga mau, Bu." Bapak berucap lalu bangkit berdiri. Menuju pintu dan mengendarai motornya.

"Bapak mau ke mana, Nek?" tanyaku sambil menoleh ke arah Nenek.

"Bapak mau balik kerja lagi. Sudah, ayo makan dulu."

***

Bapak membawaku ke sebuah rumah besar dengan cat berwarna putih bersih. Setelah berkali-kali membujukku untuk ikut, akhirnya aku mau dibawa ke sini untuk bertemu keluarga baru. Itu kata Bapak.

Seorang wanita berrambut cokelat menyambut kedatanganku dan Bapak. Wajahnya sangat berseri menyapa Bapak. Lalu dari dalam rumah keluar dua orang laki-laki dan perempuan yang usianya tak jauh beda denganku.

Orang-orang asing ini menatapku dengan wajah biasa saja. Tak ramah, juga tak menampakkan mimik tak suka. Aku digandeng Bapak untuk masuk ke dalam, setelah sebelumnya menyalami wanita yang harus kusebut Mama itu. Tak lupa menyalami kedua saudara tiriku, sambil saling menyebutkan nama. 'Kenny dan Amira.' Nama yang bagus.

Menginjak lantai yang mengkilap, dan menatap isi rumah yang mewah ini, membuat aku terpukau. Rumah ini sangat indah, juga luas.

"Makan dulu, Bang. Aku udah masak opor ayam spesial." Perempuan itu membawa Bapak, membuat genggaman tanganku terlepas.

Meja makan yang lebar, di atasnya tertata rapi aneka masakan yang menguarkan aroma lezat. Membuat cacing dalam perut langsung meronta.

"Aku mau makan, Ma."

"Aku juga, Ma."

Rengekan kedua bocah itu terdengar sangat manja. Terlebih Amira, dengan wajah cemberutnya ia menyantap makanannya. Mungkin kesal karena Mama menolak memberikan sambal padanya.

Sedangkan aku makan dalam diam, bahkan lebih dahulu menghabiskan. Namun, perut masih terasa lapar. Sepertinya Mama mengambilkan nasinya terlalu sedikit, atau karena menunya yang memang sangat lezat.

"Wah ... Fitri makannya dah habis," ucap Kenny dengan sedikit tertawa.

"Cepet banget, kelaperan ya?" cerca Amira dengan mata menyipit.

Aku hanya bungkam. Malu.

Kulirik Bapak, yang tak merespon sama sekali. Masih melanjutkan makan dengan lahap.

***

"Jadi, aku satu kamar sama Fitri, Ma?" protes Amira ketika Mama meminta anak itu untuk satu kamar denganku.

Mama mencoba membujuk Amira agar mau mengalah. Berulang kali, sampai akhirnya ia mau menyetujuinya.

Malam tiba, aku sibuk mengerjakan PR yang diberikan Bu Guru siang tadi. Kata Bapak, jarak dari sekolah dan rumah Mama tidak terlalu jauh, aku tak perlu pindah sekolah.

"Mamaa ... sini!"

"Maaaa!"

"Issh, Mama ke mana sihh!"

Aku tak fokus belajar, Amira tidak bisa tenang sejak tadi. Sosok Mama yang dipanggilnya juga tak kunjung datang.

"Ada apa sih, Ra ... Mama lagi ke kamar mandi tadi. Ada apa?" Mama datang seraya duduk di sebelah Amira.

"Lihat ni ... susah banget gamenya!" keluh gadis kecil itu sambil menunjukkan smartphone miliknya pada Mama.

Aku tak terlalu memperhatikan. PR ini jauh lebih penting daripada rengekan anak manja itu.

'Selesai' batinku. Setelah mengemasi buku-buku ke dalam tas, aku melangkah ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci kaki. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, Ibu yang mengajari.

Merebahkan tubuh di kasur empuk, berdoa, lalu meminta kepada Sang Kuasa agar aku bisa bertemu Ibu dan Abang di dalam mimpi. Aku merindukan mereka setiap hari.

Hampir terlelap, aku membalikkan tubuh ke seberang ranjang Amira. Tak sengaja melihat Mama dan Amira begitu dekat. Saling mendekap. Mama menyanyikan lagu nina bobo sambil menepuk pelan punggung Amira.

Mataku tiba-tiba memanas. Detik kemudian ada lelehan bening membasahi pipi. Aku ... teringat Ibu.

Setelah cukup lama memandangi adegan itu sambil mengulang kenangan bersama Ibu dalam bayangan, perlahan kesadaranku menghilang, andai Mama adalah Ibu, atau ... setidaknya kasih sayang Mama sama seperti Ibu, tentu saja aku tak akan sesedih ini.

Perlahan mataku menutup, membiarkan kenangan terulang dalam mimpi. Bersama Ibu, Bapak, dan, Abang. Seperti di dahulu.

-Tamat-

Bandar Masilam, 20062020


Kasus perceraian orang ketiga memang banyak terjadi di masyarakat
relate banget sama kehidupan nyata

Nice story Sist 😊
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Pernikahan emang bisa bubar gara-gara hadirnya orang ketiga
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Quote:


Thanks Sist😁

Quote:



Betul bgt sist. Perselingkuhan memang sulit dimaafkan
profile-picture
profile-picture
uliyatis dan WardahRos memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Anak-anaklah yang selalu jadi korba pada setiap perpisahan ortunnya.
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Ganjen sih jadi laki mo kimpoi dua kali, ngejar bahagia semu. Mengabaikan kebahagiaan yang lain, cih! Kesal
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Lanjuut
emoticon-Keep Posting Gan
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Yups. Perceraian memang selalu meninggalkan luka bagi anak-anak. Karena keegoisan orang tua, anak menjadi korban.
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
orang tua yang bertengkar, anak yang menjadi korban.
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ceritanya bagus saranku gali lagi konfliknya mungkin bisa dengan menambahkan cerita tokoh si pria dengan wanita idaman lainnya juga pertengkaran antar orangtua Reina sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerai maka ceritamu akan lebih mengena dan bikin greget yang baca. oke deh sob semangat ya.
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
matap, lanjutkan gan
cerita2 kek gini bisa buat inspirasi juga nih
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Wah sampai bawa-bawa pengadilan, ditunggu lanjutannya
profile-picture
ismilaila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
pernikahan yang langgeng itu impian...
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di