CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Spiritual /
Pengertian Syareat Tarekat Hakikat Makrifat
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee835778d94d005af0f7b2f/pengertian-syareat-tarekat-hakikat-makrifat

Pengertian Syareat Tarekat Hakikat Makrifat

Pengertian Syareat Tarekat Hakikat Makrifat


Syareat itu teori lahir, tasawuf itu teori batin, menjalankan keduanya di namakan tarekat, dan tujuannya adalah hakekat,
mengetahui syareat, tasawuf, menjalankan tarekat sampai bertemu hakikat di namakan makrifat, dan mengajarkannya kembali itu di namakan mursyid.

jadi makrifat itu tau dengan jelas tujuan pencapaian, tau dengan mata lahir dan sesuatu yang bersifat lahir dan tau dengan basiroh mata batin sesuatu yang ghaib.

pencapaian itu tdk akan tercapai kecuali dengan izin Allah, tdk bisa manusia membuka yang ghaib di balik kesemua alam, dan tdk akan manusia itu mencapai itu kecuali Allah menghendaki. dan kehendak Allah itu hanya kepada yang di kehendakiNya, itu hak preogratif Allah. Allah tdk bisa di paksa menentukan kehendaknya.

orang yang di kehendaki Allah akan di bentuk untuk kuat menerima kehendakNya, orang yang akan di anugerahi Allah akan di beri kekuatanNya untuk menerima anugerahNya,

tandanya orang itu di kehendaki kuat menerima karuniaNya adalah di beri kekuatan menjalankan ketaatan padaNya dan di beri kekuatan terlepas dari ingkar padaNya.
tandanya orang itu di beri kekuatan taat dan kekuatan menjauhi maksiat adalah orang itu di beri kekuatan yakin atas ketentuanNya.


Biarkan segala sesuatu pada tempatnya, tapi juga pisahkan untuk mengurainya,

dalam segala sesuatu itu ada syareatnya, ada teori lahiriyahnya, ada teori batiniahnya atau ada ilmu tasawufnya, juga ada tarekatnya,

dalam syareat itu ada syareat dan tasawuf, dalam tasawuf juga ada syareat dan tasawufnya, juga ada fakta hakikatnya,

dalam hakikat ada syareat dan tasawufnya, dalam hakikat ada hakikat lagi di dalamnya, dan hakikatnya hakikat adalah cahaya dalam cahaya, cahaya di atas cahaya, nurun ala nurin, cahaya cahaya adalah Allah,

seseorang harus melewati jalan untuk mencapai jalan, seseorang harus melewati tujuan agar sampai tujuan yang di tuju, seseorang harus melewati hidayah demi hidayah untuk mencapai puncak segala hidayah,

seseorang harus melewati banyak persinggahan untuk mencapai persinggahan yang sejati, jangan tertipu oleh syaitan, yang membujukmu telah sampai, lalu kamu berhenti, sudah matipun kita masih menempuh persinggahan selanjutnya, dan menempuh perjalanan di alam ruh, dan setelah alam ruh kita menempuh lagi alam mahsar, siang ini adalah untuk menyiapkan bekal malam nanti, hari ini untuk besok, dan dunia untuk bekal akherat.

#Sang Kyai Guru Pencerah
profile-picture
profile-picture
youkok dan krx48 memberi reputasi
{ HUKUM SYARI'AT DAN HUKUM HAKIKAT ITU ANTARA DUNIA DAN AKHIRAT }

"...Pelajaran tentang PERBEDAAN antara Syari'at dan hakekat adalah
Syariat itu mengandalkan perbuatan tubuh / LAHIRIYAH,,
Sedang hakekat itu mengandalkan perbuatan hati / BATINIAH

Ketika 2 orang sama-sama DUDUK berjejer di dua buah kursi, secara syariatnya bisa dikatakan mereka sedang melakukan hal yang SAMA yaitu duduk-duduk,,Tetapi secara hakekatnya, mungkin saja si A sedang melantunkan DZIKIR di dalam hatinya sedang si B sedang menghayalkan PACARNYA,,Meski secara syariatnya keduanya melakukan hal yang SAMA tetapi hakekatnya mereka sedang melakukan hal yang BERBEDA..."

"...Adalagi yang secara HAKEKATNYA melakukan hal yang SAMA tetapi secara SYARI'ATNYA melakukan hal yang BERBEDA,,
Ada si A yang duduk, ada si B yang sedng berdiri, secara syariatnya keduanya BEDA, tetapi secara hakekatnya keduanya sama-sama sedang melantunkan dzikir dalam HATINYA,,

DIDUNIA ini yang berlaku adalah hukum SYARI'AT sedangkan di akherat nanti yang berlaku adalah hukum HAKEKAT,,

Hukum hakekat itu jauh lebih KETAT dan keras Secara syariat misalnya asal sudah sholat yah sudah melaksanakan KEWAJIBAN,,
Tetapi secara hukum hakekat, sholat TIDAK KHUSYUK, mikir jualan laku apa gak, atau mikir UANG,HARTA dll itu sudah dianggap menyembah isi pikirannya itu ( DUNIA ), dan itu sudah dianggap TIDAK SAH dan dianggap SYIRIK KHOFI jadi hukum hakekat itu luar biasa BERATNYA..."

Oleh Gus Apud ( santri sang kyai)
profile-picture
krx48 memberi reputasi
Diubah oleh AddIgonjbg

PENJELASAN SEDERHANA TENTANG THOREQOH

Dari Kyai Nur Muhammad.
(Mursyid Thoreqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah wa Syatariyah)

Perjalanan ibadah (penghambaan diri pada Allah) itu tdk lepas dari sareat, hakikat, thoreqoh, ikhsan.

Sareat .................. itu isinya hukum islam.
Hakikat ................ itu isinya hukum iman.
Thoreqoh ............. itu menjalankan sareat dan haqiqat secara bersama sama, dan
Ikhsan .................. adalah arah yang di tuju, yaitu memperbagus ubudiyah atau pelayanan kita kepada Allah.
Makrifat ............ itu adalah pos pos yang di lewati,

Makrifat itu bahasa arab artinya mengetahui, jika orang telah melewati suatu daerah maka akan mengetahui daerah yang telah di lewati, walau tdk mengetahui secara keseluruhan.

Jadi menjalankan thoreqoh itu ya hanya menjalankan ibadah, tapi bukan hanya gerak laku, syarat rukunnya saja, tapi juga menjalankan hakikat atau batinnya ibadah.
Lahiriyahnya ibadah itu di namakan sareat, dan batiniahnya ibadah itu di namakan hakikat.

Berbicara dalam sareat dan hakikat, kalau sareat itu yg membawa rasul dan kalau hakikat itu yang membawa ajarannya adalah nabi. makanya dulu nabi musa as mau belajar ke nabi khaidir as, kalau dalam literatur pembelajarannya, kalau sareat itu wajib di ajarkn, tapi kalau hakikat itu tidak wajib di ajarkan, sebagaimana nabi itu menerima wahyu untuk dirinya sendiri, kalau rasul itu menerima wahyu untuk di sampaikan kepada orang lain.

Makanya kenapa dalam khazanah keilmuan itu hakikat bersifat tersembunyi pengajarannya dan sareat itu bersifat terbuka. karena iman itu adalah batin di dalam sanubari yang tersembunyi.
dan sareat itu semua perbuatan lahir yang kelihatan.

Jadi isi hakikat itu ya keimanan, ketaqwaan, sabar, ridho, ikhlas, amanah, tawakal, yakin dan semua prilaku ruhani. makanya jika sareat tanpa hakikat itu umpama badan tanpa ruh, jika hakikat tanpa sareat itu umpama ruh tanpa badan.

Sareat tanpa hakikat tak akan kemana mana, tak akan ke langit, tak akan berefek apa apa, sholat ribuan tahun dengan sareat tanpa hakikat ya tak merubah apa apa, karena sesuatu itu menimbulkan perubahan itu kalau sampai pada yang di tuju, kalau di tempat saja namanya tdk ada perubahan.

Karena pengajarannya hakikat itu tersembunyi, yaitu warosatul ambiya, warisannya para nabi, makanya pewarisnya juga tdk membutuhkan murid atau di perintahkan mengajarkan, tidak mencari murid atau pengikut, beda dg sareat, kalau sareat itu wajib di ajarkan kepada semua orang islam.

Makanya ilmu hakikat itu di ajarkan dari guru ke murid, teorinya, tdk bisa di cari di buku buku atau di sembarang tempat, kalau dalam thoreqoh 10 persen itu ilmu teori menjalankan amaliyah, dan yang 90 persennya ilham.

Karena di dalamnya ilham, maka proses pembelajarannya dg di sambungkan, disambungkan sanad silsilah keilmuan kepada guru-guru sebelumnya sampai ke rasulullah saw, sampai ke malaikat jibril as, sampai ke Allah ta'ala. Sambungan ini yang akan menjaga keilmuan atau ilham itu mengalir ke kita terlindung di bawah sambungan guru-guru lewat bai'at atau ikatan sumpah, ikatan sumpah inilah yang akan menjaga keilmuan itu murni tidak di susupi oleh iblis jin dan setan siluman. jadi ilmu terjaga sampai ke kita sebagai penerima ilmu itu.

Selama murid dalam ketaatan pada guru maka ilmu itu akan murni tidak di susupi iblis, tapi ketika murid itu telah tak taat lagi pada guru, maka keilmuan itu hampir di pastikan akan di susupi iblis.

Taat kepada guru itu bukan memandang jasad wadagnya guru, tapi memandang guru sebagai wasilah penyambung kepada guru sebelumnya sebelumnya dan sebelumnya terus sampai kepada rasulullah saw, sampai ke malaikat jibril as, sampai kepada Allah ta'ala.

Mentaati guru maka itu sama saja dg taat kepada semua guru silsilah dan kepada rasulullah dan kepada Allah, begitu juga sebaliknya tidak taat pada guru berarti tidak taat pada guru sebelumnya dan pada rasulullah saw dan pada Allah ta'la.

Makanya bagi seorang murid, jika tdk sanggup untuk taat pada guru, sebaiknya tdk usah belajar thoreqoh, ya tdk beda jika kita tidak sanggup taat bayar PLN, ya sebaiknya tidak usah mengambil PLN, cukup lampu ublik saja. kalau sudah berani mengajukan diri pasang PLN ya harus siap bayar bulanan. itu contoh mudahnya.

Menjalankan thoreqoh itu tdk beda dg kita pasang PLN, instalasi kabel, saklar, stop kontak, dan lampu di rumah kita itu umpama amaliyah entah itu dzikir, sholat dll, tdk bisa nyala atau listrik di pakai atau peralatan listrik di nyalakan tanpa adanya sambungan kepada PLN, walau semua instalasi kabel dan semua peralatan listrik sudah benar, selama belum di sambungkan kepada PLN, maka aliran listrik sebagai power yang menyalakan lampu dan menghidupkan peralatan listrik di rumah tak akan berfungsi walau saklarnya di ceklak-ceklek jutaan kali, tetap tak akan menyala selama belum ada sambungan PLN.

Nah Allah itu nurussamawati wal ardhi, Allah itu sumber cahaya langit dan bumi, artinya Allah-lah pemilik power langit dan bumi, jika tdk menyambung kepada Allah, maka segala instalasi ibadah tidak akan bisa ada powernya, kalau ingin ibadah kita ada powernya maka harus menyambung kepada Allah lewat sambungan yang tak putus dari para guru-guru silsilah sebagai penyambung kabel yang tak putus kepada rasulullah saw dari rasulullah saw kepada malaikat jibril, dari malaikat jibril kepada Allah ta'ala.

Lalu bagaimana kalau kita menyambung sendiri? dg mengirim fatekah wasilah kepada rasulullah saw? lagi saya contohkan dg PLN, bagaimana kalau kita menyambung sendiri? diam diam menyambung sendiri?
itu kalau tdk salah namanya mencuri listrik dan oleh negara akan di denda dan di kenai hukuman kurungan penjara, lo kan... kita kirim fatekhah itu sebagai syukur kita, kita bersyukur kepada mereka rasulullah saw, para nabi,malaikat, karena telah membawa hidayah iman islam kepada kita, bukan menyambung yang di maksud menyambung power itu. sebagai manusia itu kita harus berterima kasih kepada manusia lain maka kita baru di namakan syukur kepada Allah, jadi bukan menyambungkan power ibadah.

Tahukan PLN? itu kalau ada yang mau minta di sambungkan listrik, listrik pusat yang berwewenang memberi ijin, apa kita menyambung sendiri? ya benar yang memberi ijin itu manager listrik pusat, baru memberikan petugasnya untuk menyambungkan listrik, bukan dg kita diam-diam menyambung sendiri, bgt juga dalam thoreqoh jadi petugas itu menyambungkan sambungan atau silsilah thoreqoh itu atas ijin manager pemilik power legal yaitu Allah, jadi tidak petugas daerah yaitu guru thoreqoh dg keinginan diri sendiri, atau dg kita menyambung diam-diam, kalau sambungan diam-diam, atau menyambung tanpa ijin namanya sambungannya mungqotek atau terputus.

Setelah sambungan tersambung, baru kemudian instalasi atau pengamalan amaliyah di benarkan di usahakan supaya benar, agar tidak konslet, nyetrum, baru power ibadah akan ada, dan ibadah ada manfaatnya, ada manfaat yang bisa di ambil, bisa ibadah sampai pada Allah, ketika ibadah itu sudah ada manfaatnya maka ibadah itu baru bisa di pakai hal hal tertentu, di umpamakan listrik yang sudah menyambung ke PLN itu bisa di pakai muter tv, nyalakan kompor, pemanggang, kipas angin ngecas hp, nyalakan player dll yang banyak sekali, bgt juga ibadah itu jika sudah menyambung kepada Allah, maka akan banyak manfaat bisa di ambil.
Lokasinya dimana om. Pengen ngobrol2 aja kalo boleh...
Lihat 1 balasan
Salam rahayu,,,
Pencerahannya makjleb banget mas.
Pengen kenalan dengan mas,,tp sy non muslim,,boleh ga mas?
Lihat 1 balasan
Orang yang menempuh jalan ruhani, mendekatkan diri pada Allah, tak lepas dari urutan pencapaian
tingkatan, orang di ketahui maqom tingkatannya dari kesan yang di tumbulkan pada hati dan perbuatan.

orang itu ketika mengalami kejadian dan ketika mengambil kesimpulan, keputusan dan tindakan pada amaliyah yang di lakukan.

1. Tingkatan awam, atau sareat, atau masih bergantung pada dunia.

2. Tingkatan hakikat, permulaan orang menempuh jalan thoreqoh, atau orang yang bergantung pada amal akherat.

3. Tingakatan arif billah, atau makrifat, atau orang yang bertawakal dan hanya bergantung kepada Allah, tidak bergantung lagi pada amal dunia atau amal akherat.

4. Tingkatan orang yang istiqomah, ikhlas dan ridho, ikhlas ketika beramal, dan ridho ketika di beri apa saja oleh Allah, antara enak dan sakit tak merubah suasana hatinya melakukan istiqomah amal.
Ini tingkatan para nabi. Jika orang biasa di namakan warosatul ambiya'.

5. Tingkatan mursidin, orang yang sudah menempuh penempuhan proses, dari satu sampai 4, lalu sebagaimana rasulnya Allah, kembali kepada manusia untuk mendidik manusia menempuh jalan ruhani, apa saja yang di lakukan untuk mendidik orang lain, atau pewaris rasul, di namakan warosatul mursalin.

Kesan yang di timbulkan oleh kejadian, apa saja kejadian yang menimpa seseorang itu menjadi tolak ukur maqom kedudukan orang itu di sisi Allah, dan tingkat satu itu bukan berarti salah, tapi memang keadaan maqomnya memang masih di situ.

Yang memberikan maqom kedudukan itu Allah, dan Allah juga yang memberikan tanda kesan pada suasana hati seseorang itu.

Orang yang ketikan beramal, dan dia memperbagus amal lahiriyahnya, apa apa yang terlihat di perbagus, ketika bicara di depan orang lain di perbagus kata kata dan pakaiannya, juga ketika melakukan sesuatu masih memakai sareat, teori, dan ketika menemukan kebuntuan teorinya maka di cari teori lain.

Misal ketika mengobati umpama di suntik dengan obat biru tak sembuh, maka di coba obat yang merah, tak sembuh di coba obat kuning, dan ketika sembuh dia menyangka bahwa obat kuning itu ampuh, bisa menyembuhkan, atau ketika mengobati dia memakai ramuan A, tak sembuh, di coba ramuan B, kok sembuh, maka ramuan B di sangka bisa menyembuhkan.

Maka orang itu masih tingkatan sareat.

Artinya masih memandang segala sesuatu itu bersifat teori dunia.

Misal menyelesaikan sesuatu dengan rajah, wifik, asma, tak mempan pakai asma lain, atau pakai rajah lain, dan ketika berefek, dia menyangka bahwa rajah yang ini ampuh,

Atau orang yang melakukan suatu amalan dzikir atau hizib, atau bacaan tertentu, lalu dia menemukan efek dan menganggap dzikir yang di baca itu bagus, tapi ketika tidak efek maka di anggap dzikirnya ndak bagus, jadi masih menganggap bahwa dzikir atau amaliyah lahiriyah itu bisa mempunyai power, kekuatan, sehingga di jadikannya sandaran,

Namanya orang ini masih bersandar pada amaliyah lahiriyah, atau di namakan orang sareat.

Atau ketika di timpa sesuatu dia menyangka bahwa amaliyahnya ada yang kurang pas, atau karena sebab salah melakukan sesuatu, sehingga menimbukan kejadian yang tak di inginkan, kurang syarate, tak benar teorinya.

Orang yang bergantung pada amaliyah lahir ini akan mudah lari dari Allah, dan bisa jatuh pada pengingkaran terhadap Allah,

Karena dalam pemikirannya masih memandang kebendaan, menyangka bahwa benda benda itu punya kekuatan dan power, benda benda di dunia itu punya khasiat, bahkan sesuatu pekerjaan yang di lakukan dengan cara tertentu, dengan perhitungan bintang, dg hari berbeda, itu punya sawab, atau melakukan sesuatu dengan menghadap arah timur barat, utara selatan itu bisa menimbulkan kekuatan yang berbeda.

Orang yang bergantung pada sareat ini, sangat mudah di bujuk oleh iblis, untuk ingkar kepada Allah, karena percaya pada benda benda,

Orang sareat itu hanya memetik buah amal di dunia, misal sakit lalu sembuh, maka sakitnya itu hanya membuatnya berhati hati, misal sakitnya kena duri, maka dia akan menjauhi duri, misal sakitnya itu batuk setelah sembuh dia berhati hati makan krupuk, tidak ada dalam hatinya terlintas bahwa sakit itu ada teguran karena kesalahan dosa,

Artinya sakit itu dari Allah, dan juga ada kalanya ujian, ada juga anugerah, dia hanya berpikir bahwa sakit itu misal batuk, itu karena dia kena virus atau karena kebanyakan makan yang di goreng, sakit gula di anggap karena banyak makan manis manis.

Suasana dan pandangan, pendapat dan kesimpulan itu dengan sendirinya akan muncul, karena memang kedudukan orang itu di maqom sareat, atau orang yang masih menggantungkan sebab dunia ini, menjadi sebab terjadinya sesuatu, dan menyelesaikannya tentu dengan teori dunia.

Dan kesimpulan serta tindakan yang di lakukannya itu menunjukkan derajad maqomnya di sisi Allah, dan Allah yang menunjukkan maqom orang itu, di mata orang lain.

Diubah oleh AddIgonjbg


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di