CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Injil Bahasa Minang dan Gejala Inferiority Complex
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee6fa84facb9546f2416924/injil-bahasa-minang-dan-gejala-inferiority-complex

Injil Bahasa Minang dan Gejala Inferiority Complex

Oleh: Syafiq Hasyim*

Gubernur Sumatera Barat meminta aplikasi terjemahan Injil dalam bahasa Minangkabau dicabut dengan alasan-alasan yang dikemukakannya. Sebagai kitab suci kaum minoritas Kristen di Indonesia, terjemahan Injil di dalam bahasa Minang mungkin dianggap berbahaya, karena bisa mempengaruhi orang-orang yang membacanya untuk masuk Kristen.
Permintaan Gubernur Sumatera Barat di atas merupakan cerminan bagaimana pihak minoritas akan selalu menjadi sasaran tembak kelompok mayoritas dan menggunakan agama akan menjadi hal yang paling ampuh untuk menembak mereka.

Kenapa terjemahan Injil ditakuti, bukankah Injil juga merupakan kitab suci agama yang oleh konstitusi kita dijamin keberadaannya? Bahkan tidak hanya oleh konstitusi, namun di dalam ajaran Islam, sebagai agama mayoritas umat Islam, bahkan keberadaan Injil juga merupakan bagian yang harus diimani oleh seorang muslim. 
Seorang muslim, salah satu iman mereka adalah keharusan mempercayai kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah sebelum Alquran. 
Di sini Injil juga ada. Sebagai wacana publik menyatakan yang menjadi sasaran utama di balik terjemahan Injil dalam bahasa Minang ini adalah menghalau proses kristenisasi. Jika Minang yang diklaim sebagai wilayah yang paling islami sudah tertembus, maka daerah-daerah yang lain akan mudah ditaklukkan. Tapi, hal ini menunjukkan bahwa sebagai mayoritas, mereka tampaknya tidak percaya diri akan kemampuan terjemahan Alquran dalam menjaga iman mereka untuk tidak terkena sasaran terjemahan Injil di atas.
Sebagian kalangan yang lain menganggap bahwa Injil terjemahan ke dalam bahasa-bahasa lokal adalah bagian dari cara penyebaran Kristen. Argumen ini mungkin bisa masuk akal, namun hal ini juga terjadi pada proyek terjemahan kitab-kitab suci agama yang lain.
Terjemahan Alquran untuk bahasa-bahasa lokal di Afrika dan di negara-negara Amerika Latin, bahkan di Indonesia sendiri sebagai misal, juga tidak terlepas dari upaya untuk memperkenalkan Islam kepada kalangan non-muslim.

Seorang muslim, salah satu iman mereka adalah keharusan mempercayai kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah sebelum Alquran.

Dengan membaca terjemahan Alquran, mereka diharapkan mengenal dan akhirnya bisa masuk ke dalam Islam. Terjemahan Alquran dan maupun terjemahan kitab suci yang lain dianggap sebagai jalan dakwah, menarik orang luar ke dalam agama kita. Karenanya, saya melihat persoalan terjemahan Injil ke dalam bahasa Minang ini lebih mencerminkan ketidaksiapan mayoritas muslim menanggung dampak terjemahan tersebut di dalam kehidupan sosial, sebagaimana juga mungkin ketidaksiapan banyak kalangan di dunia akan terjemahan Alquran ke dalam bahasa mereka.

Secara teologis, sebagai mayoritas, umat Islam di Indonesia sebenarnya tidak usah mempersoalkan terjemahan Injil ke dalam bahasa apa pun di negeri ini, termasuk ke dalam bahasa Minang di atas. Secara teologis, toh Islam tidak melarang penterjemahan kitab suci ke dalam bahasa apa saja, termasuk ke dalam bahasa Arab.
Injil orang-orang Kristen Koptik di Mesir misalnya, memakai bahasa Arab dan tidak ada perintah dari otoritas Islam di Mesir untuk mencabut terjemahan Injil di atas.
Hal yang menarik lagi dalam catatan sejarah kita, bahwa kitab suci umat Kristen berbahasa Arab sudah ada sejak Islam belum diturunkan. Di negara-negara Arab pra-Islam, kaum Nasrani Arab melafalkan Injil dalam bahasa Arab dalam liturgi mereka. Pada masa ini belum ada terjemahan, namun Injil dilafalkan secara oral di dalam bahasa Arab.
Hal ini juga menjadi dimengerti jika polemik dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, hanya bisa terjadi dalam konteks di mana Injil sudah ada di dalam bahasa Arab. Pengetahuan Nabi Muhammad tentang kitab suci agama lain itu, selain bersumber dari wahyu, pasti bersumber dari penuturan kitab-kitab suci yang sudah diturunkan atau dituturkan di dalam bahasa Arab.
Sayang sekali diskursus seperti ini tidak banyak terdengar di ruang publik kita. Tentang agama-agama atau tentang kitab suci mereka dipenuhi rasa saling curiga. Jika situasinya seperti ini, hampir dipastikan kaum minoritas yang menjadi sasaran utama dari semua tindakan ini.
Berpijak dari peristiwa permintaan Gubernur Sumatera Barat untuk mencabut aplikasi Injil dalam bahasa Minang di atas, mulai sekarang kita semua harus memperhatikan untuk menyebarkan informasi keagamaan yang adil dan terbuka, serta mencari sisi positif dari semua pihak.
Misalnya, di dalam konteks masalah kita ini, terjemahan Injil dan juga kitab-kitab suci yang lainnya dalam bahasa apa pun, selain itu memang mengandung unsur dakwah, namun terjemahan Injil tersebut juga untuk melayani umat mereka yang beribadah.
Sebagai umat Islam, mungkin kita bisa bias karena mengapa ibadah harus memakai bahasa yang bukan asli dari bahasa kitab sucinya, sebagaimana umat Islam harus menggunakan bahasa asli Alquran di dalam liturgi Islam.
Kaum Kristen memang dibolehkan memakai bahasa terjemahan Injil untuk kebutuhan liturgi mereka. Mengapa harus dalam bahasa suku tertentu, yang mana suku tersebut tidak banyak yang beragama Kristen?
Pertanyaan berikutnya. Sekali lagi kita harus memutar logika kita. Berapapun jumlah kaum Kristen dari Suku Minang atau suku lainnya, selama mereka Kristen, mereka berhak mendapatkan buku terjemahan kitab suci mereka, terutama untuk keperluan ibadah atau liturgi mereka, atau keperluan pengetahuan yang lain.
Persoalan terjemahan Injil di dalam bahasa Minang ini harus kita tanggapi bersama dan kita cari jalan keluar secara bersama-sama juga, agar hal ini tidak merembet ke mana-mana.
Sebagai bangsa yang besar dan terhormat, saya kira kita harus mengakhiri sikap dan tindakan untuk terus memojokkan kaum minoritas yang memang sudah terpojok. Mereka juga warga negara dan memiliki hak yang setara dengan warga negara lainnya.
Sebagai catatan, masalah terjemahan Injil ke dalam bahasa Minang itu lebih menunjukkan gejala inferiority complex, kelompok mayoritas yang terus merasa terancam dengan kelompok minoritas. Marilah sebagai kelompok mayoritas, kita menebarkan sikap dan tindakan yang melindungi kelompok minoritas. 
*Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), MA dari Leiden University, Belanda. Ph.D dari Freie University, Jerman.

https://www.tagar.id/injil-bahasa-mi...iority-complex

Inferiority complex bray

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bgssusanto88 dan 13 lainnya memberi reputasi
Quote:


masih butuh tanggapi bersama ?

kalau negara ini berlandaskan hukum, uud 1945, pancasila dll
maka zero tolerance untuk orang orang yang melarang larang injil pake bahasa minang.

gak ada lagi mencari jalan keluar , tanggapi bersama
karena itu sudah jelas didalam uud 1945 kita
profile-picture
profile-picture
profile-picture
reasius dan 6 lainnya memberi reputasi
Kaum mayoritas rasa minoritas, itu baru wahid.
Anak emas Kemenag yang paling tersakiti, ini juga wahid emoticon-Big Grin.
Mualaf dipuji, murtad dipersekusi, ini baru the best emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cupilonlen dan 6 lainnya memberi reputasi
emang inferior emoticon-Big Grin
yg punya playstore dan appstore kan kafir emoticon-Big Grin
dari dulu cuma bisa bacod2 minta2 ngemis2 protes2 emoticon-Big Grin
pelariannya dari dunia nyata akhirnya cuma bisa ngayal orgy bidadari emoticon-Wakaka:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaiserwalzer dan 7 lainnya memberi reputasi
sebagai provinsi dengan gay terbanyak hal ini menunjukkan kemunduran terparah juga emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
madjoeki dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Ngejelasin panjang lebar pake bahasa/ilmu njlimet kayak gitu, padahal cukup jelasin : "kan yg ngomong org PKS", DIJAMIN SMUA ORG UDAH NGERTI KOK.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Proloque dan 3 lainnya memberi reputasi
Isu ga populer buat kadrun...

Buka trid ini juga ogah...

Kalo ngomongin komunis, PKI jago bener...

Ini sama dalam konteks yg berbeda...

emoticon-Big Grin


profile-picture
profile-picture
profile-picture
pheeroni dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Masa Orba doloe ada framming, PKI sbg atheis serta melarang orang beribadah.
nah kalok kes gini masuk PKI jugak ndak om?


emoticon-Ngakak emoticon-Ultah
profile-picture
Jeffraid memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Sumbar, kekuasaan jatuh ke tangan partai yang ntu ya jadi gitu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hantumasam dan 2 lainnya memberi reputasi
Pelarangan aplikasi Injil bahasa minang merupakan cerminan anti Agama dan contoh kebangkitan PKI, pelanggaran HAM, anti demokrasi, bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Dan kedok kebangkitan komunis syariah berkedok ormas Islam, wajib hukumnya diperangi emoticon-Marah
profile-picture
Jeffraid memberi reputasi
Diubah oleh NeroMAHOheart
minangkabau itu suku.
orang minangkabau itu islam (minang kawe gak termasuk).
bahasa orang minangkabau itu bahasa minang.
injil bahasa minang berarti injil untuk minang kawe.

udah gitu aja kok repot lapor lapor segala

😊😂😂
suka2 propinsinya ajalah

aceh / jogja / papua aja di usik2 pada berkoar.

emoticon-Leh Uga
ceonya aja inferior kompleks kok

bawa" owner fiktif, ngaku kalau dibisikin biar jd ceo

padahal tiap ke gep bisa bikin aturan baru dr owner


kegep ewe office girl? tinggal bilang kalo owner memperbolehkan hanya untuk ceo

pokoknya ceo paling disayang
profile-picture
NeroMAHOheart memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Padahal sholat 5x sehari, tiap azan pake toa plus disiarin di tv. Eh begitu liat salib dan denger ada Injil di terjemahin bahasa minang langsung goyah iman nya.
profile-picture
Victorim memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Narasinya seolah-olah yg nolak mayoritas umat islam Indo emoticon-Cape d... pdhl kan yg nolak org Minang doang..
Saya muslim org banjar kalo ada injil bahasa banjar juga sah-sah aja, tdk permslhkan.

Iman mereka cetek kali ya liat salib aja mungkin kegemeteran emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Victorim dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh hantumasam
Mungkin saja mmg ada IC, kebanyakan org Minang yg ane kenal punya nama yg malah kebarat2an misalnya Alvaro, Carles, Brian emoticon-Big Grin

Atau bisa jg itu simbol pemberontakan generasi Minang yg lebih muda
Lihat 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di