CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
TERIMA IJABSAH SEBELUM IJAZAH | Cerpen
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee57b6b977513338567acc5/terima-ijabsah-sebelum-ijazah---cerpen

TERIMA IJABSAH SEBELUM IJAZAH | Cerpen

Degub kencang jantungku terasa kian berpacu setelah isi pesan panjang tentang niatku melayang terkirim ke kontak WA Kak Irin. Sengaja aku memilih kakak tertuaku itu untuk dimintai pendapat, karena dialah orang kepercayaan kedua orang tuaku.

Kugenggam ponsel dengan hati yang gundah. Kurasa, yang baru saja kulakukan itu sudah benar. Sebelum mengambil keputusan besar itu, memang penting sekali untuk terlebih dulu meminta pendapat dan saran darinya. Kak Irin adalah orang yang cukup dipercaya dan berpengaruh di keluargaku.
TERIMA IJABSAH SEBELUM IJAZAH | Cerpen
Terlepas dari alasan itu, aku sebenarnya juga sangat enggan menghubungi Papa dan Mama secara langsung. Ada rasa takut lancang sekaligus malu. Secara ... aku belum lulus, baru saja dua tahun menjalani masa kuliah. Posisiku sekarang sedang tinggal jauh dari keluarga. Aku berada di sebuah kota pelajar di luar pulau, tempat aku menuntut ilmu.

Meminta izin untuk menerima pinangan seorang lelaki sekarang ini, mungkin saja akan membuat mereka shock atau kecewa. Namun, hati sudah yakin dan kurasa harus secepatnya mengutarakan ini. Aku hanya ingin menjaga kehormatan diriku dan merasa harus meng-halal-kan segera hubungan jarak jauhku dengan seseorang yang sudah tiga tahun ini mengisi hati.
Cukup lama aku menunggu balasan, tapi sepertinya aku belum bisa menerima respon apapun dari Kak Irin malam ini. Pasti dia sudah tidur. Sesuai kebiasaannya, tidur setelah salat isya. Mungkin besok subuh baru dia akan membalas pesanku.

Keesokan harinya, kubuka WA messangerku dan benar saja, pesan balasan yang kunantikan itu sudah kuterima sejak subuh. Kubuka dengan dada yang berdebar. Penasaran.
[Wa'alaikumssalam. Ra, kakak sudah membaca pesan panjangmu semalam dengan seksama. Kakak mau kamu tanamkan satu hal, bahwa kamu memutuskan untuk menikah ini harus dengan niat lillahita'ala, tujuan surga Allah, dengan passport sebagai istri, & dia sebagai imam, partner, juga penuntun. InsyaAllah, kalo kalian berdua saling menjaga satu sama lain, semua bisa tercapai. 
TERIMA IJABSAH SEBELUM IJAZAH | Cerpen
Sebab, tujuan pernikahan sebenarnya itu surga Allah, bukan? dengan situasi dan kondisi yang seharusnya sakinah mawwadah warrahmah. Jadi, ibaratnya dunia ini hanya persinggahan sementara dan tujuan akhir akhirat. Maka, pernikahan kalian itu umpama transportasi dengan kenyamanan tertentu yg ditawarkan. Terkadang ... ada yang mengharapkan bus pariwisata full AC dengan fasilitas penuh kenyamanan dan orang yang duduk di sampingnya adalah orang terbaik, yang menyenangkan selama perjalanan. Namun, ternyata yang ada cuma bus bermesin tua dan payah dengan orang yang super rese' di samping. 

Bahkan, ada yang mengharap pernikahan itu seperti jet pribadi yang akan membawa ke surga dengan mudah, tapi ternyata ... cuma pesawat komersil biasa. Jadi ... kalo ingat lagi tujuan pernikahan yang sesungguhnya, mudah-mudahan kamu bisa tabah saat dihadapkan pada ketidaknyamanan. InsyaAllah, kamu sudah jauh lebih matang untuk memutuskn menikah. Nanti, akan coba Kakak diskusikan dengan Papa dan Mama. Sekarang, sambil menunggu keputusan, kamu mantapkan dulu dengan salat istikharah! oke?]

Aku menghela nafas panjang setelah mencerna kata demi kata di dalam pesan balasan Kak Irin. Pesan balasan kak Irin tak kalah panjang dari pesan yang kukirimkan padanya sebelumnya.
Jika kubaca lagi pesan balasan darinya, kurasa ia sudah setuju dan mengiyakan rencana dan niatku. Namun, hal itu masih akan disampaikannya kepada Papa dan Mama. Bagaimana tanggapan kedua orang tuaku nanti? Aku masih belum tahu. Aku akan tunggu kabar baiknya dari Kak Irin.

Sesuai nasehat kakak, aku melakukan salat istikharah, meminta petunjuk pada Allah. Apakah aku harus melanjutkan niat ini atau tidak.
Dalam istikharah-ku, aku meminta jika memang keputusan ini yang terbaik, lancarkanlah segala prosesnya. Namun, sebaliknya.

***
Butuh waktu tiga bulan untuk mempersiapkan acara pernikahanku. Setelah niatku disampaikan Kak Irin kepada Papa dan Mama, mereka menerima apapun keputusan yang aku ambil, asal diri ini benar-benar sudah siap dan paham dengan segala konsekuensi dari keputusan yang kupilih.

Papa dan Mama hanya mengharapkan satu hal dariku yaitu, aku harus tetap menyelesaikan studiku, jangan sampai putus di tengah jalan, seperti Kak Irin dulu. Aku pun meyakinkan, nasibku dan Kak Irin pasti tidaklah sama. Aku akan berusaha agar aku tetap bisa survive menjalani masa studiku setelah menikah nanti.

SemuTERIMA IJABSAH SEBELUM IJAZAH | Cerpena sudah kudiskusikan sebelumnya dengan calon suamiku dan Alhamdulillah, Dia menyetujui itu. Rencananya, kami akan kembali ke kota ini setelah menikah. Dia akan menemaniku untuk menyelesaikan studiku di sini.

Pernikahanku pun berlangsung mewah dan meriah. Banyak kerabat dan keluarga yang terkejut dengan kabar pernikahanku, tak terkecuali teman-temanku di kampus. Memang, hanya teman dekatku yang kuberitahu sejak jauh-jauh hari sebelum hari pernikahan.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa aku menikah sebelum lulus kuliah? Terlebih saat acara pernikahanku harus digelar di kota asalku, yang mengharuskan aku untuk pulang. Aku memanfaatkan waktu libur semester untuk menggelar pesta pernikahanku.

Kami pun kembali ke kota rantau dua minggu paskah pernikahan. Aku benar-benar memulai perjuangan berumah tangga dari nol bersama suamiku. Hidup merantau setelah berkeluarga ternyata tidaklah mudah, terlebih ketika mengalami kehamilan satu bulan setelah menikah. Ujian awal pernikahan pun datang. Kami mulai kesulitan dalam hal ekonomi, sejalan dengan suamiku yang belum mendapatkan pekerjaan bermodalkan ijazah S1-nya.

Saat usia kehamilanku enam bulan, aku memutuskan cuti dan pulang ke kampung halaman. Aku ingin melahirkan anak pertama didampingi Ibu. Kepulanganku bertepatan dengan proses lamaran Kak Diva, salah satu kakak perempuanku. Aku bahagia bisa hadir di acara spesial keluargaku.
"Kak ... rencananya nanti acaranya gimana?" tanyaku pada Kak Diva.
"Acaranya seperti punyamu, Ra. Dua kali. Akad nikah dan pesta di rumah Mama dan Papa, malamnya resepsi, lalu sehari setelah itu acara ngunduh mantu di rumah Mas Daffa, suami Kak Diva," jawabnya sesaat setelah acara lamaran selesai. Acara akad nikahnya satu minggu lagi.
"Oh .... Aku boleh ngasih saran gak, Kak?" tanyaku hati-hati.
"Saran apa, Dek?" Kak Diva langsung menatapku serius.
"Itu, Kak ... kalau boleh gak usah terlalu meriah pestanya. Sekali pesta saja sudah cukup kok, Kak. Soalnya aku merasa pesta pernikahanku tujuh bulan lalu kesannya berlebihan, buang-buang duit, Kak. Padahal budget lima puluh juta untuk pesta itu bisa dipakai untuk hal lain setelah nikah, Kak. Sayang, habis cuma dalam waktu sehari tanpa sisa," ucapku.
"Memang sih, Dek, tapi kamu tahu sendiri, kan ... budaya orang-orang di kampung kita ini seperti apa. Lihat acara pesta nikahan orang gak mewah, pasti kena gosip macam-macam. Sudah hamil duluan lah, apa lah, bla bla bla." Kak Diva mencibir.
"Iya sih, Kak. Tapi Kakak pilih mana? Menyenangkan mereka dengan pesta mewah, tapi Kakak yang merana setelah nikah, atau berpesta sederhana saja, uang sisanya bisa pakai modal usaha, bangun rumah setelah nikah. Kakak setelah itu tenang," cetusku.
Kak Diva diam sejenak, mengangguk tanpa komentar.

TERIMA IJABSAH SEBELUM IJAZAH | Cerpen
Aku berharap saat itu Kak Diva mau mempertimbangkan saran yang kuberikan. Karena memang benar, budget pesta pernikahan itu bisa dialokasikan untuk modal usaha atau yang lainnya setelah menikah. Aku tak ingin kakakku menyesal seperti aku. Pesta meriah dan megah, tapi setelah itu kesulitan. Uangnya habis dalam waktu beberapa hari saja hanya untuk berpesta.
Seminggu kemudian, tepat di hari ke tujuh bulan Ramadan, Kak Diva menggelar acara akad nikah dan pesta pernikahan yang alakadarnya. Alhamdulillah, Kak Diva ternyata mengikuti saranku.


Benar saja, banyak yang mencibir dan memfitnah ini dan itu karena pestanya biasa saja. Namun, Kak Diva bersikap bodo amat. Setelah menikah, dia membangun rumah dan sebuah toko kelontong di depan rumahnya. Perekonomian mereka setelah menikah tak ada masalah. Aku ikut bahagia menyaksikan semuanya. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat orang terdekat bisa mengambil pelajaran dari apa yang kualami.


profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan nona212 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di