CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Rawannya Syarat Rapid Test Diganti Surat Keterangan Bebas Influenza
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee4b364af7e9360f03314fe/rawannya-syarat-rapid-test-diganti-surat-keterangan-bebas-influenza

Rawannya Syarat Rapid Test Diganti Surat Keterangan Bebas Influenza

Rawannya Syarat Rapid Test Diganti Surat Keterangan Bebas Influenza


tirto.id - Pada Sabtu (6/6/2020) lalu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menerbitkan Surat Edaran Nomor 7 tahun 2020 tentang Kriteria dan Persyaratan Perjalanan Orang dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease. Surat ini ditandatangani langsung oleh Ketua Gugus Letjen Doni Monardo.

Salah satu poin dalam peraturan tersebut adalah mengizinkan orang bepergian ke luar kota menggunakan transportasi darat, laut, dan udara jika memiliki surat rapid test atau PCR dengan hasil negatif atau non-reaktif. Jika tidak, itu bisa diganti surat bebas influenza.

"Menunjukkan surat keterangan bebas gejala seperti influenza (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh dokter rumah sakit/puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas tes PCR dan/atau rapid test," kutip poin F ayat 2 angka 3 surat edaran.

Ketua Pusat Kajian Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Bigwanto khawatir kebijakan terbaru ini berbuah petaka. Ia mengutip data gugus tugas yang menyebutkan 80 persen kasus positif COVID-19 di Indonesia sejauh ini berasal dari orang yang tidak memiliki gejala sama sekali. Mensyaratkan surat bebas influenza untuk berpergian, kata kepada reporter Tirto, Kamis (10/6/2020), sangat mungkin meloloskan orang-orang yang terinfeksi COVID-19.

Pada awal Maret lalu, atau ketika pandemi baru merebak, pemerintah Indonesia mengatakan oleh karena "COVID-19 itu juga influenza," maka "kita juga [harus] menyikapi seperti itu." Barangkali itu kenapa saat ini surat COVID-19 dapat diganti keterangan bebas influenza.

Sementara Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan COVID-19 dan influenza memang mirip dalam hal penularan, yaitu melalui droplet hidung dan mulut. Tapi di luar itu perbedaannya lebih banyak, salah satunya COVID-19 menyebabkan "penyakit yang lebih parah daripada influenza musiman."

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mengatakan COVID-19 bukan influenza. "Ini virus unik dengan karakteristik unik," katanya pada 3 Maret 2020.

Bigwanto, yang juga peneliti dari Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), mengatakan keputusan ini membuat "demand untuk mencari surat keterangan (influenza) tinggi." Jika informasi soal ketersediaan alat tes tidak ada, maka kemungkinan terburuknya adalah orang-orang akan datang langsung ke fasilitas kesehatan untuk mencari tahu, dan itu pada akhirnya "menambah risiko" penularan baik masyarakat atau petugas medis.

Dokter yang memeriksa gejala influenza menjadi lebih rentan COVID-19 sebab harus berkontak dengan pasien sementara alat perlindungan diri terbatas.

Rapid Test pun Tak Efektif

Hasil rapid test sebagai salah satu syarat berpergian juga sebetulnya tidak efektif betul mencegah menyebaran COVID-19. Contohnya ada beberapa.

Dua orang penumpang asal Jakarta terbang ke Sumatera Barat dengan dokumen lengkap--termasuk hasil rapid test yang non-reaktif. Begitu mendarat, otoritas bandara mengambil sampel swab seluruh penumpang. Tiga hari berselang, hasil tes keluar dan satu penumpang itu dinyatakan positif.

Tapi menurut Eksekutif General Manajer PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Minangkabau Yos Suwagiyono kasus ini "bukan berarti pihak bandara lalai." Sebaliknya, "ini bukti bahwa satgas bekerja dengan baik," katanya, Minggu (7/6/2020), sebagaimana dikutip dari Antara.

Kejadian serupa juga terjadi di Manado, Sulawesi Utara. Seorang penumpang berusia 27 tahun mendarat di Bandara Sam Ratulangi dari Jakarta pada Selasa (26/5/2020). Penumpang itu telah mengantongi hasil rapid test non-reaktif, tapi begitu dites ulang oleh otoritas bandara rupanya reaktif. Setelah menjalani tes PCR, penumpang itu dikonfirmasi mengidap COVID-19.

Juru bicara gugus tugas COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan kalau hasil tes cepat memang tidak 100 persen akurat, cukup banyak kasus 'fake negative'. Demikian pun dengan surat bebas influenza. Karenanya ia mengimbau kepada pemerintah daerah tujuan untuk melakukan pengawasan terhadap pendatang.

"Silakan daerah melakukan pengawasan orang yang baru datang," kata Yuri kepada reporter Tirto, Rabu (10/6/2020).


https://tirto.id/rawannya-syarat-rap...influenza-fGy2




Dagelan terus!!! rapid test aja gak bisa dipercaya, koq malah pake surat keterangan bebas influenza emoticon-Stick Out Tongue


mikir pake otak bong!!, Otak jangan disimpen di bo'ol emoticon-Tai


malu kan lo punya pemerintah model begini??? emoticon-Blue Guy Bata (L)





Rawannya Syarat Rapid Test Diganti Surat Keterangan Bebas Influenza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bgssusanto88 dan 3 lainnya memberi reputasi
surat keterangan masih perawan kapan ya?
ntar juga di revisi lagiemoticon-Big Grin
Lihat 1 balasan
Quote:


Ada kok kalau mau jadi istri tentara. emoticon-army
Lihat 1 balasan
surat yang kemarin saja keluar cukup bayar 75.000 apa lagi yg ini
Teruskan emoticon-Leh Uga
Kan Ada ketentuan ny. Bagi daerah yg puskesmas/faskesny tidak punya fasilitas cek rapid ato sebangsanya
Lihat 1 balasan
bagus lah kalau cuma keterangan bebas influenza.aja di bali salah satu 5 kota di indonesia harus pake swab.biaya 2.1 jt tiket 1.7....mau balik kerja sja susah.emoticon-Cape deeehh
kritikan yang baik
Lha wong ente test swab aja gk jaminan 100% bebas covid
Bs jd Waktu ente ngambil hasilnya di tengah jalan keltularan... emoticon-Big Grin
Risiko itu ada dlm setiap lini kehiupan bos...
Kl mau sempurna ya gk mungkin
Suka gak suka sih
profile-picture
MRPAIJO memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Trus klo d ksi tes hrs swab masyarakat mau biaya sndiri?
surat bebas flu Rp 10.000
surat rapid test Rp 300.000
surat PCR = Rp 2.500.000

anda bisa berpergian asal memiliki salah satu surat d atas

pilih mana?
Mendulang rupiah lagi neh
jd pgn tanya nih.. berhubung ane bkn dokter, jd gak paham ginian
misal Rapid Test gak efektif/tdk akurat, buat apa dong bayar mahal2? atau ini gk masuk ke bisnis ya? koreksi klo salah.
Dites sblm brngkat negatif covid stlah prjlnan dtes lgi pstif.kok bsa ya.bngung jdinya.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di