CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Berita Luar Negeri /
Kaum Muda Mulai Berbagi Cara Hindari Kewajiban Berpuasa
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee45d9497751321ae43d09c/kaum-muda-mulai-berbagi-cara-hindari-kewajiban-berpuasa

Kaum Muda Mulai Berbagi Cara Hindari Kewajiban Berpuasa

Menyembunyikan camilan di balik bantal menjadi jurus teranyar kaum muda Tunisia menghindari kewajiban puasa di bulan Ramadan. Di media sosial mereka berbagi tips membatalkan puasa saat dikarantina bersama kedua orangtua.

Kaum Muda Mulai Berbagi Cara Hindari Kewajiban Berpuasa

Kesenjangan antargenerasi dalam menjalankan kewajiban agama di Tunisia mencapai level baru di tengah ruang gerak yang menyusut akibat karantina saat wabah corona. Kini kaum muda mencari cara kreatif mengelabui orangtua agar bisa menghindari kewajiban berpuasa. 
Tunisia termasuk negara Arab paling moderat. Menurut studi yang digalang sebuah jejaring penelitian di Universitas Princeton 2019 lalu, jumlah kaum muda yang menjauhkan diri dari agama bertambah pesat dalam beberapa tahun terakhir. 

Fenomena tersebut dirasa mencolok terutama saat Ramadan. Menyusul aturan karantina yang memaksa mereka mengurung diri di rumah bersama orangtua, sekelompok anak muda Tunisia membuka grup di Facebook buat berbagi tips menyembunyikan makanan selama siang hari. 
Saat ini grup bernama “Fater” atau kependekan dari fast-breaker itu sudah beranggotakan 12.000 pengguna Facebook. 

Ancaman “diusir“ dan dikucilkan 
“Bagaimana cara menyembunyikan makanan di siang hari dan makan tanpa ketahuan orangtua?” misalnya tanya seseorang di linimassa grup. Ragam jawaban bermunculan, mulai dari tips agar makan ketika mandi atau jika perempuan mengaku sedang haid. 

Zahra, seorang mahasiswi berusia 23 tahun, berkisah pernah menggunakan alasan serupa untuk membatalkan puasa. Hanya saja sang ibu tidak bisa dikelabui. “Saya bilang kepada ibu saya bukan lagi seorang muslim. Tapi dia berlaku seakan tidak pernah mendengar,” tuturnya.  

Sejak dua tahun terakhir Zahra tidak berpuasa. Dia menyadari status keagamaan ikut menentukan nasib individu di Tunisia. “Banyak yang takut diusir dari rumah,“ kata dia mengomentari sikap diam mereka yang sudah menanggalkan agama. “Tapi saya tidak takut.” 
“Jika saya mengaku tidak berpuasa kepada orangtua, mereka membayangkan saya melakukan hal yang sangat buruk.” 

Polisi tegakkan kewajiban berpuasa 
Konstitusi Tunisia yang berlaku pasca revolusi 2011 sebenarnya tidak melarang konsumsi makanan atau minuman di ruang publik selama bulan Ramadan. Meski demikian polisi tetap menangkapi warga yang kedapatan terang-terangan makan atau minum di luar saat puasa, dengan dakwaan melanggar aturan “kesopanan di ruang publik.” 

Maka rumahlah yang selama ini menjadi suaka bagi kaum muda buat menghindari puasa. Tapi aturan karantina di tengah wabah corona mengurung mereka bersama orang tua, dan sekaligus merenggut oase kebebasan terakhir itu. 


“Saya takut diusir dari keluarga jika saya mengaku kepada mereka,” kata Yasmine, mahasiswi berusia 19 tahun yang tidak lagi berpuasa sejak empat tahun terakhir.  

Warga Tunisia lain, Imen, meyakini adanya “kesenjangan antargenerasi,” terutama dalam menyikapi kewajiban berpuasa. Perempuan berusia 26 tahun itu biasaya selalu menghabiskan bulan Ramadan bersama orangtuanya di kota kecil di kawasan pesisir, Nabeul. 

Dia mengaku sebenarnya ingin memberitahu keluarga perihal pilihannya untuk tidak berpuasa. “Tapi semua orang sekarang ini sedang stress berat karena lockdown.” 
“Ibu saya akan merasa sakit hati. Ayah saya tahu, tapi kami memilih tidak membahasnya,” kisa Imen. 

Menurutnya meski warga Tunisia biasa bersikap toleran, “Ramadan adalah waktu yang istimewa, di mana orang bisa merasa punya hak untuk menghakimi orang lain.” 
“Kaum muda berpandangan lain dan media tidak merefleksikan hal itu,” imbuhnya. 


Surutnya tekanan sosial di bulan Ramadan  
Sebelum pecahnya wabah corona, restoran atau café di ibukota Tunis masih beroperasi meski menutupi jendela luar dengan lembaran koran. Bagi sebagian orang, tekanan sosial di bulan Ramadan perlahan mereda. 

“Ayah saya tahu saya membatalkan puasa. Tapi dia berpikiran terbuka dan hanya tertawa saja,” kisah Azer, 36 tahun. Dia mengaku sudah terbiasa menyantap makanan di hadapan teman kantor yang berpuasa dan merasa “tidak lagi dihakimi.“ 

Pendiri grup Fater di Facebook, Abdedlakrum Benadballah, mengamini klaim Azer, bahwa makan di siang hari selama Ramadan “tidak lagi terlalu dianggap tabu, dibandingkan dulu.“ 
Meski demikian kebanyakan mereka yang tidak berpuasa menahan diri “tidak makan di rumah untuk menghormati keluarga.“ 

“Agak sulit menjadi seorang hipokrit,“ kata Walid, pria berusia 40 tahun yang tinggal bersama orangtua. “Saya benci kepalsuan di masyarakat: mereka yang berhubungan seksual di luar nikah, mencuri dan meminum alkohol, lalu tiba-tiba menjadi sangat agamis selama 30 hari di bulan Ramadan”, pungkas pria warga Tunisa ini. 


https://www.dw.com/id/kaum-muda-tuni...sa/a-53497436


emoticon-Matabelo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bajier dan 3 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
terus?
profile-picture
fitriasarina memberi reputasi
Waduh, kok dipaksa puasa?
profile-picture
fitriasarina memberi reputasi
Ya cara terbaik pindah agama
Gitu aja kok pusing
emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bajier dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 13 balasan
Tunisia itu sebelah mananya estonia? emoticon-Cape d...
profile-picture
fitriasarina memberi reputasi
Diubah oleh hhendryz
emoticon-Ngakak membangkang = moderat ?
profile-picture
profile-picture
DoDoLanDoDoL dan fitriasarina memberi reputasi
astajim Tunisia menuju kemurtadan emoticon-Sorry
profile-picture
fitriasarina memberi reputasi
emoticon-Ngakak
profile-picture
fitriasarina memberi reputasi
mengikuti jejak kazakhtan
Jika dia rubah cdnya maka ... dia
biasak ae, namanya kaum abangan jugak itu. emoticon-Big Grin
profile-picture
victimaye memberi reputasi
alesannya sama kayak gua,da muak liat orang busuk tapi pas bulan puasa mendadak sok alim semua
profile-picture
bajier memberi reputasi
di jakarta saja saat bulan puasa masih ada warteg yang tetep rame
Diubah oleh kampret.strez
ribett dot com nyang ginian,,,
emoticon-Ngakak ada2 aja.
Puasa banyak manfaat...bagi fisik maupun mental...tp ya harus dilakukan dgn kesadaran sendiri...bukan akibat di suruh atau takut dihukum.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
amiruls.lee dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evil_cat
"menyadarkan orang tidur disiram pake air panas"
usia muda kan memang lagi nyari jati diri, sebagai orang tua yang keras kepada anak karena mereka juga sudah pernah muda dan mungkin mereka tidak mau apa yg mereka alami di masa muda terjadi pada anak anak mereka.
setiap manusia akan menemukan tujuannya, dan setidaknya orang tua mampu untuk membantu menemukannya.
Setahu saya sih tunisia itu memang cenderung lebih liberal di banding dengan negara tetangganya.

Bahkan di tunisia itu ada gerakan feminisme yang cukup besar.

Untuk LGBT sendiri secara hukum masih dilarang tetapi secara umum masih tolerable lah, dibanding negara2 arab lain kan kalo negara arab lain melambai dikit langsung di BUNUH di tempat.
20 tahun lagi, anak2 muda itu bakal jadi pemimpin negara
liat saja gmn kedepannya emoticon-Big Grin
Asstajim konser abu monyet al-kaskusiemoticon-Wakaka
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di