CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee36ccb337f931690510573/kisah-anak-remaja

Kisah Anak Remaja

Kisah Anak Remaja







Hai agan, sista. Gue gak tahu apakah ada yang membaca ini atau tidak yang jelas gue cuman mau nulis kumpulan cerpen semasa SMA. Ah, motivasi nulis ini mungkin karena rindu dengan masa-masa SMA. Dua tahu lalu gue pengen banget cepat-cepat lulus, tapi entah kenapa sekarang gue ingin kembali ke masa-masa itu. Baru gue sadari ternyata gue banyak banget ngebuang waktu semasa dulu, istilahnya gue gak nikmati masa muda gue, waktu gue habisin ngurung diri di rumah, kalau pun keluar bareng temen-temen itu karena mereka memaksa. Entahlah dulu gue mageran banget. Saat sekarang melihat beberapa foto semasa SMA, baru terasa rindunya.

Jadi, cerita ini hanya fiksi belaka, tapi mungkin ada juga beberapa kejadian yang pernah gue alami. Motivasi sesungguhnya gua mau mengenang masa-masa yang terlewat begitu saja. Semoga kalian betah mampir. Enggak ada jadwal pasti untuk update, yah. Sesuai munculnya ide ajah, sasaran tulisan ini untuk abg-lanjut usia. Bisa jadi, kan mau mengenang masa-masa indah yang menurut orang adalah sewaktu smp, sma. Kalau menurut gue, masa terindah adalah dari masa gue gak mengenal cinta sampai mengenal cinta monyet. Wkwkwkw.




RASA TAK SAMPAI


Judul : 12 Hari dalam Kenangan


Kata banyak orang kisah paling indah adalah masa-masa SMA, teman-teman sibuk merajut kenangan demi kenangan entah bersama sahabat, guru, gebetan atau kekasih. Aku sendiri tak pernah mempunyai kekasih.


Kekasih tak punya, tapi gebetan jelas memiliki. Aku tak tahu persis kapan rasa itu hadir, yang kutahu jika dia berada tak jauh dariku, jantungku meronta-ronta ingin melompat keluar, aneh bukan? Aneh bagiku, mengapa degupnya kian tak normal jika ada dia, sang pemikat hati.

Anggap saja aku ini bodoh, jelas-jelas dia tak menyukai diri ini, tapi tetap saja tak mau menghapus namanya di sanubari, bahkan dengan enteng namanya bertahta di relung terdalam.

°°°
Hari ini merupakan hari pertama USBN, perlahan, tapi pasti waktu bersamanya akan berlalu, kadang hati meringis pilu. Karena selama dua tahun bersama dalam kelas, tak pernah sedikit pun kami bertukar cerita, atau kata lainnya menjadi teman akrab. Aku tidak butuh ada ikatan di antara kami, hanya saja setidaknya dia bisa menganggapku sebagai temannya.

Entah, mengapa kursiku harus berdekatan dengannya. Kami duduk berdasarkan nomor peserta yang telah ditempel di meja masing-masing oleh pengawas. Aku duduk di pojok kiri dekat jendela bangku ke dua dari depan, dan yang paling depan adalah dia.

Sungguh tak bisa konsen jika begini, jantungku kembali bermasalah, tak mau diajak kompromi bisakah jangan terlalu kencang berdegup? Seolah dikejar anjing yang membuat ngos-ngosan.

Saat istirahat, teman yang sebagian berlomba-lomba menuju kantin untuk mengisi perut. Aku sendiri sedang malas keluar, jadi tak ikut bersama mereka.

Berapa menit berselang aku sadar pulpenku tak ada di atas meja, perasaan aku tak pernah sekalipun memindahkan tempatnya. Segera berdiri, berjongkok mencari di bawah kursi dan meja, tak juga kutemukan. Padahal sebentar lagi ujian kedua masuk.

"Cari apaan?"

Deg!

Bahkan mendengar suaranya pun mampu membuat debar di dalam hati semakin menggila. Ah, ternyata seperti ini rasanya menyukai lawan jenis.

Aku berdiri, lalu beralih menatapnya. "Pulpenku," jawabku sok cuek. Beginilah aku cuek-cuek butuh kata orang.

"Memangnya kamu simpan di mana tadi?"

"Di sini." Aku menunjuk ke arah meja.

"Ah, bukan di situ kalik," katanya lagi.

"Beneran di situ!" suaraku agak meninggi. Kesal sekaligus senang luar biasa, tumben-tumbenan dia peduli dengan aktivitasku. Biasanya dia seolah menganggap tak ada gadis bernama Lalisa di dalam kelas. Entah alasan apa, perasaanku selalu berkata dia tak menyukaiku berada di kelas yang sama dengannya.

"Andaikan di situ pasti ada!" tukasnya tak mau kalah.

Tak sengaja mataku melirik ke saku bajunya dan .... Itu pulpenku.

Aku tertawa dan juga kesal. "Ih, Arnold!" pekikku dengan mata menatap sinis. Dia tertawa terbahak-bahak tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Apa!?" tanyanya sok tidak tahu.

"Pulpenku!" teriakku sembari menunjuk saku bajunya. Dia berdiri lalu memeriksa saku celana, dia seolah berpura-pura tak paham maksudku.

"Arnold!" panggilku kesal. Dia tertawa seolah menghindar.

"Cieee ... yang cinlok!" Lah, siapa lagi coba yang menjadi kompor. Ternyata itu Bastian membuat fokus teman-teman beralih kepada kami berdua dan sambil senyam, senyum menggoda. Rasanya wajahku memanas, serasa ingin demam.

"Oh ini, kok bisa ada di sini, sih?" Arnold kembali berbicara, tak pudar senyum di wajahnya. Bahagia mungkin mengerjaiku, tapi asli dia membuat ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam dada.

Rasanya tak ingin hari ini berlalu, aku ingin durasi hari ini lebih panjang dari biasanya, ingin berlama-lama tertawa bersama Arnold. Merupakan momen langkah Arnold membuatku tersenyum, biasanya dia hanya akan mencemoohku dengan kalimat-kalimat tajamnya.

°°°
Entah, kenapa sejak hari pertama USBN seolah Arnold mulai mengikis jarak di antara kita, biasanya dia begitu dingin tak peduli, kali ini beda. Hari Pertama hingga hari ini dia selalu membuatku tertawa bahagia dengan segala tingkah lakunya. Bahkan kami menjadi bahan pembicaraan se penjuru sekolah bahwa kami cinlok saat ujian.

Seperti hari ini, Arnold berulah lagi yang mampu membuatku tertawa. Bunga-bunga serasa mekar di sanubari.

"Arnold!" pekikku dengan kesal, ini sungguh kesal, tapi bagaimana bisa aku marah padanya. Dia cengengesan tanpa dosa.

"Sini-sini aku bantu, aku punya alat perekat." Dia berdiri lalu menuju dekat bangkuku. Aku menatapnya bingung.

"Pegang ... nanti aku bantu men-lakban kertasnya." Arnold mulai membuka lakban untuk merekatkan kertas yang ada nomor peserta ujianku yang dia sobek dari tempelan meja.

Aku menurut saja, memposisikan tangan menahan kertas itu, menantikan Arnold merekatkan lakban dan kertas dengan meja tersebut.

"Arnold!" Suaraku melengking di penjuru kelas. Tak kuhiraukan teman-teman yang mulai beralih fokus ke kami. Sungguh aku kesal, kenapa Arnold jadi semenyebalkan ini? Bagaimana tidak, dia men-lakban kertas beserta tanganku ke meja. Sementara dia ngakak sejadi-jadinya. Memegang perutnya karena tertawa tanpa henti. Satu hal yang kusadari baru kali ini Arnold tertawa lepas.


"Ciee pasangan baru, jangan romantis-romantisan di kelas dong, banyak orang." Suara Sisi seolah menggoda.


°°°

Dua belas hari itu akan selalu kukenang. Setelah USBN berakhir sifat Arnold kembali seperti semula, dingin dan tak memperdulikan keberadaanku. Sekarang kami benar-benar berpisah Arnold mengejar mimpinya di bawah langit Makassar, sementara aku di Kendari. Hanya ingin menyampaikan terimakasih untuk dua belas hari yang membuatku lupa akan 1083 hari luka yang kau berikan.



SAMPAI JUMPA DI TULISAN BERIKUTNYA


Sumber gambar : Pinteres
Edit By : Peri Qyud
profile-picture
profile-picture
noorman.arta.w dan bukhorigan memberi reputasi
Diubah oleh kakakperi

Cerpen Berikutnya

Gue gk nyangka ada juga yang baca. Wkwkwkw. Seneng dong, semoga agan dan sista terhibur dengan karya Peri yang menurut gue karya gue lumayan, lah. :v











RASA TAK SAMPAI

Judul : Memory 17 Agustus

Mustahil jika seseorang tak pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Karena cinta sendiri itu merupakan anugerah dari Tuhan. Kata sebagian orang anugerah terindah.

"Lagi jatuh cinta, yah?" goda mama sembari menowel jerawat yang ada di pipi kiri.
"Ihhh Mamah sakit tauk!" kataku kesal.

"Jatuh cinta boleh, tapi jangan salah jalan dengan mangatas namakan cinta," kata mamah. Mulai lagi 'kan, ceramahnya.

"Siapa yang jatuh cinta sih, Mam? " sangkalku.

"Usia lima belas tahun adalah masa panas-panasnya bagi anak ABG kayak kamu, Nimas." Kembali mama berkata dengan sok tahu.

Sepertinya memang benar kata mama. Aku jatuh cinta, yah. Pada seseorang. Ah terserahlah.

Selama beberapa bulan ini aku hanya menjadi seorang penguntit, selalu mengikutinya, melihat aktivitasnya, tanpa berani mengajaknya berbicara.

Fajar, cowok dengan lesung di pipi kirinya, mampu mempora-porandakkan hatiku. Ah, memikirkannya saja membuatku tergelitik, senyuman rasanya tak mau pudar dari wajah.

"Eh, Nimas kamu liat Amanda enggak?"

"Fajar."

"Iya, segitu amat natapnya."

Kamu tidak tahu sih, ada sesuatu yang aneh jika kamu berada di dekatku.

"Lagi di kantin, kenapa emangnya?"

"Biasa mau kencanlah!" Fajar pergi mungkin menyusul Amanda.

Kencan? Berarti mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih. Ah mengapa aku berasa sakit, yah? Cinta pertamaku tak seasik Sinetron di SCTV.

***

Saat sampai di rumah segera menghampiri mama yang tengah memasak. Memeluknya dari belakang. Mungkin kehangatan mama bisa menghangatkan hatiku yang sedang sakit.

"Lah, kenapa lagi sih bocah." Mamah bergeming membiarkan aku menumpahkan kesedihanku.

Setelah puas memeluk wanita yang melahirkanku ini, segera aku berlari menuju kamar malu bila air mataku keluar di hadapannya.

Kata banyak orang jatuh cinta adalah hal yang paling indah, tapi mengapa yang kurasakan malah sebaliknya. Iya, karena cintaku tak terbalas.

Hampir tiga hari aku tidak ke sekolah karena demam? Heran juga cuaca baik-baik saja, tapi mengapa aku mengalami demam tinggi seperti ini? Sudah takdir Tuhan. Ambil positifnya bisa jadi ini sebagai penggugur dosa.


***

Beberapa bulan aku mengubur dalam-dalam perasaanku kepada Fajar, tapi tidak berhasil terlebih mendengar kabar bahwa hubungan mereka kandas di tengah persimpangan. Seolah ada gairah untuk membuat Fajar berpaling padaku, tapi kuurungkan niatku segera berkaca, gadis secantik Amanda saja dicampakkan oleh Fajar bagaimana dengan gadis yang buruk sepertiku?


***

Meskipun lelah karena habis upacara 17 Agustus, tetap saja malamnya aku keluar menuju lapangan memang setiap 17 Agustus desaku selalu mengadakan Malam Ramah Tamah.

Lapangan merdeka akan menjadi begitu ramai, ada beberapa penampilan yang mampu menyejukkan mata, dan juga penerimaan piala bagi pemenang dari berbagai perlombaan selama awal Agustus.

Setengah sebelas malam, mama menelepon menyuruh untuk segera pulang. Ternyata beliau lagi kerepotan.

"Nim, kamu berani ndak keluar larut gini buat beli es batu? Soalnya ikan-ikan akan rusak." Mama bekerja sebagai suplay ikan ke daerah-daerah yang jauh dari pesisir.

"Iya, Mam."
Segera aku menunggangi motor biruku untuk keliling kampung. Mungkin masih ada yang buka jam segini. Namun, nihil sudah empat rumah yang kudatangi semuanya tutup.

Aku berhenti sejenak melihat deker yang dipenuhi pemuda-pemuda, bisa jadi mereka sedang minum-minum. Berbahaya, tapi hanya jalan itu menuju rumah. Baiklah aku memberanikan diri melewati mereka dengan cepat.

"Nimas!"

Otomatis aku memberhentikan motor, ah bodoh! Mengapa berhenti. Seorang pemuda penghampiri.

"Fajar?" Aku tak menyangka di antara pemuda itu ada Fajar.

"Iyah, bisa minta tolong enggak? Antar aku pulang. Aku lelah jalan." Bulan yang bersinar malam ini membuatku leluasa melihat wajah memelas Fajar. Lucu.

"Jangan, Nim. Nanti kamu diapa-apain lagi!" Ridwan berteriak sembari terkekeh.

Aku menimbang-nimbang, aku juga merasa takut bisa jadi perkataan Ridwan benar, tapi tidak mungkin Fajar seperti itu. Akhirnya aku mengangguk.

"Eh! Jangan duduk seperti itu," kataku menghentikan Fajar.

"Eh sory, lupa kamu kan cewek." Fajar terkekeh lalu mengubah posisi duduknya menjadi menyamping. Sebelum melajukan motor aku mengklakson, mereka semua adalah teman sekolahku, hanya saja berbeda kelas.

Suasana canggung meliputi, ah sial! Kenapa jantungku berdentum keras di dalam, ada rasa bahagia juga bisa bersama Fajar. Sengaja laju motor kuperlambat, rasanya ingin menghentikan waktu sejenak.

"Kenapa jam segini keluar, enggak takut?" Akhirnya Fajar memulai obrolan.

"Hemm, lagi cari es batu, tapi semuanya tutup."

"Hemm, rumah tanteku kamu sudah ke sana?"

"Aku enggak sampai di sana, jauh mana sudah larut." Ungkapku menjelaskan.

"Putar balik motornya, jam segini tanteku belum tidur."

"Tapi kan, jauh di kampung sebelah, Jar."

"Ada aku, tidak usah takut. Es itu penting 'kan?"

Benar juga kata Fajar, terlebih ikan mama ada beberapa gabus di rumah, akhirnya aku menuruti perkataan Fajar menuju rumah tantenya. Memang tante Fajar adalah langganan tetap mama.

Beruntung tante Fajar belum tidur, sempat kaget juga beliau melihat aku dan Fajar datang bersama. Bahkan sempat menggoda, beliau tidak mengetahui bahwa aku dan Fajar saling kenal.


17 Agustus ini akan selalu kukenang terkait kebersamaanku dengan Fajar. Walaupun dia tak tahu, ada baiknya perasaan disimpan sendiri. Jangan menodahi cinta dengan jalan yang salah. Jika berjodoh kelak akan bertemu di pelaminan. Sekarang aku hanya akan fokus pada sekolah, nikmati saja cinta diam-diam ini.






SAMPAI JUMPA DI CERPEN BERIKUTNYA
Diubah oleh kakakperi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di