CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Citizen Journalism /
Erick : Dana perawatan pasien corona 100 juta, untuk apa?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee34ce682d4950b356d716c/erick--dana-perawatan-pasien-corona-100-juta-untuk-apa

Erick : Dana perawatan pasien corona 100 juta, untuk apa?

Saat ini virus yang sedang menyebar diseluruh negeri khususnya di Indonesia, yaitu Corona Virus Disease (COVID-19) kian meningkat seiring berjalannya waktu. Virus yang berasal dari negeri Wuhan ini sedang menjarah manusia. Akibatnya semua orang terpaksa untuk melakukan semua kegiatan dari rumah dan menghindari keramaian atau social distancing.

Dilansir dari kompas.com berdasarkan data yang masuk hingga Rabu (10/6/2020) terdapat penambahan 1.241 kasus baru Covid-19. Penambahan tersebut menyebabkan jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia meningkat menjadi 34.316 sejak kasus pertama diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020.

Kondisi pandemi ini menjadi kabar buruk bagi warga Indonesia. Tentu saja hal tersebut menjadi sumber ketakutan bagi masyarakat terkait virus corona yang setiap harinya kian meningkat.
Beberapa waktu yang lalu tersebar berita bahwa seorang pasien meninggal karena penyakit yang diderita namun dinyatakan meninggal karena Covid-19. Dilansir dari terkini.id pada Selasa 9 juni 2020 viral sebuah video yang memperlihatkan puluhan warga menjemput paksa jenazah di Rumah Sakit (RS) Mekar Sari, Bekasi Timur, Jawa Barat lantaran sang pasien dinyatakan meninggal karena Covid-19. Berdasarkan unggahan narasi video disebutkan bahwa warga mengaku pasien tersebut sakit dan meninggal bukan karena Covid-19, dan sudah dicek di laboratorium. Namun saat pasien meninggal tiba-tiba pasien tersebut dikabarkan terkena virus corona. Media juga menjelaskan bahwa belum ada pernyataan resmi dari pihak RS Mekar Sari dan Polres Bekasi terkait insiden tersebut.

Tidak hanya itu, media lain juga mengabarkan kasus yang sama. Dilansir dari kabarjawatimur.com pengendara ojek online memadati kamar mayat RS dr. Soetomo, Surabaya, Minggu (7/6/2020) mereka mendapat kabar bahwa mayat rekannya yang meninggal karena insiden jambret tidak bisa keluar RS jika tidak dinyatakan meninggal karena terjangkit Covid-19. Media juga menjelaskan ketika mencoba mencari kebenaran dari kasus ini dengan menanyakan ke seorang petugas penjaga, mereka tidak bisa memberikan penjelasan.

Berita diatas tentu saja membuat masyarakat bertanya-tanya mengapa pihak rumah sakit melakukan hal tersebut? Ada apa dengan para dokter? Tentu saja yang menyatakan meninggalnya pasien adalah dokter bukan? Apakah dengan melakukan hal tersebut mereka mendapat keuntungan?
Keuntungan? Ya bisa saja. Karena pasien yang meninggal terjangkit Covid-19 baik itu pasien positif corona, pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang dalam pemantauan (ODP) membutuhkan banyak biaya, dan biaya tersebut datangnya dari pemerintah. Belum lagi biaya untuk tim medis, seperti alat pelindung diri (APD) dan semua alat-alat yang dibutuhkan seperti ventilator dan lain-lain. Dan biaya untuk pemakaman pasien yang meninggal karena terjangkit corona pun datangnya dari pemerintah. Tentu saja nominal yang dibutuhkan tidak sedikit, bahkan untuk satu orang pasien pun. Apalagi jika 100 pasien bahkan beribu-ribu pasien?

Dilansir dari kompas.tv Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengungkapkan perkiraan biaya perawatan untuk pasien yang terinfeksi virus corona, “Jika dilihat dari data-data yang ada, pasien yang terkena covid itu per orang bisa Rp 105 juta. Namun, jika ada penyakit tambahan bisa mencapai Rp 215 juta. Mahal sekali,” kata Erick Thohir dalam diskusi virtual pada Jumat (29/5/2020).

Erick tidak menjelaskan bagaimana rincian terkait dana tersebut. Apakah Rp 105 juta itu hanya biaya untuk pasien saja, ataukah termasuk biaya untuk pemakaman pasien apabila pasien meninggal dunia, serta ataukah sudah termasuk dalam biaya APD untuk para tim medis? Jika poin-poin tersebut berbeda dalam pembiayaannya, maka tentunya pemerintah juga akan mengeluarkan nominal yang sangat tinggi.

Jika pihak RS menerima 100 pasien terjangkit Covid-19 sementara biaya per pasien Rp 105 juta, maka RS menerima dana dari pemerintah sebanyak Rp 10 triliun 500 juta, belum lagi biaya tim medis dan pemakaman pasien. Itu apabila semua pasien positif corona. Namun, apabila hanya 50% yang terjangkit virus tersebut, dan sisanya seperti yang dikabarkan dua berita diatas? Maka untuk apa dana-dana yang tersisa itu? Untuk kepentingan pribadi? Untuk kepentingan rumah sakit? Apapun alasannya tindakan tersebut salah satu tindakan pemerasan terhadap pemerintah. Jika para dokter melakukan hal ini secara terus menerus tentu saja keuangan negara akan semakin menipis.

Padahal negara kita masih membutuhkan banyak biaya dalam bidang lain. Yaitu pengeluaran rutin pemerintah seperti, belanja pegawai (gaji, tunjangan, dll), belanja barang (membeli barang yang diperlukan oleh negara untuk penyelenggaraan pemerintah), bunga dan cicilan utang baik dari dalam maupun luar negeri, subsidi, dan berbagai pengeluaran yang bersifat departemen.

Jika memang pasien yang meninggal dan dinyatakan sebagai pasien yang terjangkit Covid-19 bertujuan untuk dimakamkan sesuai protokol Covid-19, karena dikhawatirkan jika pasien tersebut terjangkit virus corona dan jika dimakamkan secara normal dapat menyebabkan virus tersebut menyebar, mengapa pihak RS tidak dapat memberi penjalasan?

Selain merugikan pemerintah, tentu saja juga merugikan masyarakat. Mengapa? Karena baru beberapa berita yang muncul terkait kasus tersebut. Selebihnya yang tidak diketahui oleh masyarakat?, sedangkan jumlah kasus Covid-19 kian meningkat, otomatis hal tersebut memicu rasa takut pada masyarakat. Masyarakat menjadi lebih takut dari sebelumnya, mungkin saja dapat menyebabkan paranoid (ketakutan berlebihan).

Untuk itu, sebaiknya pihak RS memberikan penjelasan terkait tindakan mereka. Mengapa hal tersebut dilakukan, atas dasar apa mereka melakukan tindakan tersebut, dan apa tujuan mereka melakukan hal tersebut. Jika pihak RS menjelaskan kepada keluarga pasien dengan jelas dan rinci, maka tentunya tidak akan ada spekulasi-spekulasi terkait hal tersebut.
100
105000000
10000000000000

emoticon-Bingung (S)



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di