CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Bisnis /
EBT Menjadi Penunjang Rasio Elektrifikasi Nasional
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee0a5764601cf4c100c842f/ebt-menjadi-penunjang-rasio-elektrifikasi-nasional

EBT Menjadi Penunjang Rasio Elektrifikasi Nasional

Kendaualatan energi belum lengkap selama pengembangan pembangkit listrik Energi Baru dan Terbarukan (EBT) masih minim. Untuk mencukupi rasio elektrifikasi listrik nasional 100%, pengembangan pembangkit listrik EBT dirasa cukup menunjang.

Apalagi, bagi daerah-daerah di pedalaman yang sulit teraliri listrik. Oleh karena itu, dibutuhkan energi cadangan yakni EBT sesuai dengan kriteria alam daerah tersebut. Misalnya, seperti di Sumatera Selatan (Sumsel). Untuk daerah-daerah di pulau terluar, terpencil dan tertinggal, kebanyakan mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH).

Pembangkit jenis itu cukup hanya bisa dikembangkan dengan menggunakan arus air. Memang kendalanya, harga jual dari pembangkit listrik EBT masih mahal. Namun kelak, kendala harga itu ke depan bakal segera terurai.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyusun regulasi baru mengenai feed in tariff atau yang akan mengatur harga jual beli untuk setiap jenis pembangkit EBT. Di mana, penetapan harga akan menyesuaikan dengan biaya pembangkit yang ada.

EBT Menjadi Penunjang Rasio Elektrifikasi NasionalNah, mengacu catatan Kementerin ESDM, sampai dengan akhir tahun 2019 ini, optimalisasi bauran energi primer pembangkit listrik masih dikuasi oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau masih diangka 60,50%. Sementara pembagkit gas (PLTG) 23,11% dan pembangkit listrik EBT 12,36%. Pemerintah menargetkan bauran pembangkit EBT mencapai 24%.

Sampai akhir tahun 2019 kemarin, kapasitas pembangkit listrik hijau ini sudah menembus 10.157 Megawatt (MW). Pemerintah membidik sampai akhir tahun ini kapasitas terpasang pembangkit listrik ramah polusi ini mencapai 10.844 MW.

Salah satu perusahaan dalam negeri yang giat mengembangkan pembangkit ramah lingkungan ialah PT Pembangkitan Jawa Bali (PT PJB). Anak usaha PT PLN (Persero) ini terus menggalakkan penggunaan EBT

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama (Dirut) PT PJB, Iwan Agung Firstantra, PT PJB pada akhir tahun 2019 berhasil memproduksi listrik dari EBT sebanyak 1.250 MW atau setara 8,9% dari total kapasitas pembangkit terpasang miliknya sebanyak 14.000 MW.

PJB bahkan sudah melakukan uji coba co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton. Adapun uji coba ini menggantikan sebagian batubara dengan kayu atau wood palet. Sampaik akhir tahun 2019 perkembangan sejauh ini, uji coba secara bertahap sampai dengan volume 3% dari target 5%. 

Selain itu, PT PJB juga tengah melakukan kajian dan uji coba untuk PLTU tipe Circulating Fluidized Bed(CFB) di Sumatera. CFB ini bisa  melakukan co-firing sampai 30% dengan menggunakan cangkang kelapa sawit atau biomass lainnya. Adapun kapasitas di Sumatera 510 MW.

Dan penerapan EBT lainnya telah dilakukan di Pembangkit Listrik Tenaga Air Cirata (PLTA), berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 1 MW. Penerapan EBT ini dijadikan sebagai pusat studi.

Rencana PT PJB ke depan akan dibangun PLTS terapung di waduk Cirata. Jika PLTS terapung di Cirata itu sudah bisa produksi, nantinya akan digunakan ke seluruh dam yang ada di Indonesia.

Sementara itu, untuk meningkatkan produksi listrik di PLTA Cirata, PJB melakukan modifikasi cuaca untuk memaksimalkan curah hujan. Asal tahu saja, curah hujan menjadi sumber PLTA Cirata. Selain di Cirata, uji coba EBT juga tengah dilakukan di PLTA di Tulungagung. 
profile-picture
nona212 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di